Home » 2018 » October » 4 » TUGU PETIR: PROKLAMASI ITU LAKSANA PETIR
6:18 PM
TUGU PETIR: PROKLAMASI ITU LAKSANA PETIR

Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu kami para pengurus RKP berkesempatan berkunjung ke Tugu Proklamasi dan berbincang-bincang dengan Mas Kirasave Agung salah satu pengurus di sana. Banyak hal-hal menarik yang kami dapatkan dari kunjungan kami ke sana.

Selain dapat mengenal lebih dalam lagi tentang sosok Bung Karno, kunjungan langsung ke tempat paling bersejarah bagi bangsa Indonesia ini, juga membawa kami ke suasana alam berpikir para pejuang dan pendiri bangsa masa lalu khususnya ke alam berpikirnya Bung Karno sendiri.

Selepas kunjungan ke Tugu Proklamasi yang juga dikenal dengan sebutan Tugu Petir itu, ada satu pertanyaan yang masih menggelitik di pikiran saya sampai hari ini. Pertanyaan tentang apa alasan Bung Karno menggunakan ornamen petir sebagai simbol dari pada Proklamasi tersebut?
 

Tugu Petir yang dibangun oleh Bung Karno pada tahun 1961 ini bisa dibilang sederhana. Ia hanya berupa pilar berbentuk bulat setinggi 17 meter yang dibagian atasnya terdapat ornamen berbentuk Petir dan pada bagian pilar tertulis: "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta".
 

Tugu Petir ini memang dibangun untuk menjadi pengingat peristiwa besar Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945. Karena itulah tugu ini didirikan persis di titik berdirinya mikrofon saat Bung Karno membacanya teks proklamasi tersebut.

Nah, sebagaimana saya katakan di atas, jadi pada tulisan ini saya mencoba untuk memahami lebih jauh mengenai alasan Bung Karno menggunakan ornamen petir sebagai simbol bagi Proklamasi 17 Agustus 1945 itu. Namun pengertian-pengertian yang saya tulisan berikut ini tentu bukanlah tafsiran tentang maksud Bung Karno memakai simbol itu melainkan hanyalah wawasan yang saya dapatkan dari upaya untuk memahaminya.


DALAM KITAB SUCI
Pertama, di dalam Al-Quran saya mendapati penjelasan bahwa Allah mendatangkan petir kepada manusia untuk menimbulkan harapan sekaligus juga menimbulkan ketakutan (QS:13:12). Dimana kita tentu sepakat bahwa memang di satu sisi kehadiran petir ini menjadi pertanda yang membawa harapan bagi manusia akan turunya hujan. Dan di satu sisi yang lain, petir juga menghadirkan rasa takut kepada manusia kalau-kalau terkena sambarannya.

Jika kita perhatikan, Proklamasi pun kedatangannya membawa kedua sisi itu. Dimana di satu sisi ia membawa harapan besar akan datangnya satu era perdamaian abadi dan persaudaraan umat manusia yang dengan itu akan membawa umat manusia pada keadilan dan kesejahteraan sosial. Karena Proklamasi datang membawa satu maklumat penting: "Kemerdekaan ia hak segala bangsa".

Nah, di sisi yang lain, Proklamasi ini juga membawa ancaman yang menakutkan bagi para imperialis dan kolonialis karena Proklamasi ini juga hadir membawa satu maklumat untuk menghapuskan penjajahan dari atas dunia. Proklamasi tidak akan mentolerir segala macam bentuk penjajahan di atas dunia ini dan memandangnya sebagai sebuah tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan berperikeadilan.
 

Kedua, sementara itu di dalam Bible (Ayub 37:2-3) (BIMK) ada dikatakan: "Dengarlah suara Allah, hai kamu semua; dengarlah guruh yang keluar dari mulut-Nya. Ke seluruh langit, dilepaskannya kilat-Nya; dikirim-Nya petir-Nya ke ujung-ujung dunia."

Sedikit berbeda dengan pernyataan QS: 13:13 yang menjelaskan: "Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya."

Benang merah dari kedua pernyataan pernyataan tersebut di atas yang jika kaitkan dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, dapat kita katakan bahwa Proklamasi itu adalah pernyataan yang terkadung di dalamnya maklumat Tuhan semesta alam. Proklamasi yang hadir membawa ajaran KEMERDEKAAN, membawa maklumat PENGHAPUSAN PENJAJAHAN atau PERBUDAKAN dari atas dunia, membawa standar nilai PERIKEMANUSIAAN dan PERIKEADILAN sekaligus juga membawa kepada kita dasar-dasar bagi ketertiban dunia: KEMERDEKAAN PERDAMAIAN ABADI dan KEADILAN SOSIAL. Kesemuanya itu tentu sangatlah selaras dengan apa yang Tuhan kehendaki untuk umat manusia.

Meski Proklamasi 17 Agustus 1945 datang untuk mewujudkan damai bagi bumi ini, namun bersama denganya juga ia membawa hantaman bagi kelompok dan golongan yang tidak menghedaki perdamaian di atas dunia ini. Bagi kelompok imperialis dan kolonialis yang menggantungkan hidup mereka dari menjajah dan mengeksploitasi sesama manusia, apa yang dibawa oleh Proklamasi ini adalah sebuah hantaman keras yang akan membuat mereka tergeletak dan roboh.
 

DALAM SAINS
Pertama, proses terjadinya petir mempunyai kemiripan dengan proses datangnya Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dimana petir terbentuk dari interakasi awan yang bergerak terus menerus hingga awan akan terbagi dalam dua kumpulan besar positif dan negatif, dan kemudian muncullah petir sebagai proses pembuangan muatan negatif (elektron) agar terjadinya kesetimbangan alam.

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagaimana yang kita ketahui bukanlah hanya sekedar sebuah pernyataan tentang kemerdekaan Bangsa Indonesia. Proklamasi 17 Agustus 1945 juga terkandung padanya pernyataan kemerdekaan seluruh bangsa-bangsa di dunia. Hal itu terlihat jelas dalam Deklarasi Kemerdekaan yang adalah satu kesatuan dengan Proklamasi Kemerdekaan itu sendiri yang di dalamnya terkandung pernyataan: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Dan jika kita perhatikan latar belakang kedatangannya, Proklamasi datang dalam rangkaian proses benturan interaksi bangsa-bangsa yang tenggelam dalam budaya imperialisme dan kolonialisme yang membuat dunia terbagi dalam dua kumpulan besar: bangsa-bangsa penjajah dan bangsa-bangsa ter-jajah. Ketidaksetimbangan alam hidup umat manusia pada masa itu yang diliputi oleh besarnya muatan negatif imperialisme dan kolonialisme, memunculkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai sebuah reaksi pembuangan muatan negatif penjajahan agar tatanan perikehidupan umat manusia dapat mencapai kesetimbangannya.
 

Kedua, keberadaan petir sangat bermanfaat bagi pembentukan lapisan ozon. Lapisan ozon sebagaimana yang kita tahu mempunyai peran penting untuk melindungi kita dari radiasi UV yang berbahaya bagi kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. Dan petir mempunyai peran yang amat besar bagi pembentukan lapisan ozon tersebut lantaran petir adalah pemicu terjadinya reaksi kimia yang merubah O2 (oksigen) menjadi O3 (ozon).

Proklamasi pun kita pahami mempunyai peran serupa. Dimana kehadiran Proklamasi 17 Agustus 1945 ini juga membawa pengaruh besar terhadap pembentukan tatanan hukum dunia. Prinsip dan ajaran Kemerdekaan yang dibawa oleh Proklamasi akan mendorong tatanan hukum dunia kepada bentuk-bentuk yang dapat menjamin perlindungan atas hak setiap bangsa dan setiap manusia untuk merdeka. Yang dengannya itu umat manusia akan terlindungi dari segala bentuk paham dan budaya yang menimbulkan perbudakan dan eksploitasi manusia atas manusia bangsa atas bangsa.
 

Ketiga, petir datang untuk menyuburkan bumi. Nitrogen adalah unsur yang vital bagi kesuburan tanah. Dan komposisi terbesar nitrogen ada pada atmosfer yaitu sebesar 78%. Disinilah petir mempunyai peran penting untuk menghantar nitrogen ke bumi baik secara langsung terbawa oleh sambarannya ataupun melalui reaksi kimia yang membuat nitrogen terikat dan terbawa oleh air hujan. Jadi keberadaan petir membuat tanah terpupuki secara alami dan menjadikannya subur.

Lalu bagaimana kaitannya dengan Proklamasi? kita tahu bahwa sejatinya umat manusia hidup dalam kelimpahan dan kemakmuran. Bumi yang kita tinggali ini memiliki potensi berlimpah ruah untuk memastikan kemakmuran seluruh umat manusia di atasnya. Jadi, ketika bumi ini seakan akan tidak mendatangkan kemakmuran pada umat manusia, hal itu sebenarnya hanya lantaran sebab tindakan-tindakan jahil umat manusia itu sendiri. Kebodohan manusia yang larut dalam budaya pecah-belah, jajah menjajah dan takluk menaklukkan alih-alih mendatangkan kemakmuran bagi umat manusia justru penderitaan hebatlah yang harus manusia rasakan. Proklamasi kemerdekaan datang untuk merubah perilaku manusia yang kontra produktif atas bumi ini menjadi sebuah tindakan yang produktif dan mendatangkan kemakmuran bagi peradaban umat manusia itu sendiri.
 

Keempat, petir datang untuk membunuh bakteri dan kuman. Kandungan kuman dan bakteri yang terdapat di udara tentu sangatlah besar. Dan sambaran petir dengan daya listrik rata-rata sebesar 20.000 amper serta mempunyai kekuatan memanaskan udara pada titik sambarnya hingga 25.000 derajat celcius merupakan proses pembersihan udara dari kuman dan bakteri yang menjadi sumber penyakit bagi manusia. Karena itulah kita umumnya merasakan udara yang segar dan bersih selepas hujan.

Kedatangan Proklamasi juga mempunyai daya rubah yang besar terhadap iklim perikehidupan umat manusia. Suasana alam imperialisme dan kolonialisme yang mencekam manusia dalam rasa takut dan penderitaan dibersihkan oleh hadirnya Proklamasi Kemerdekaan yang dengan ajaranya itu membersihkan pikiran-pikiran negatif saling eksploitasi manusia atas manusia bangsa atas bangsa, dan menghadirkan iklim DUNIA BARU yang segar yang berpijak di atas keluhuran. Dimana manusia dapat hidup sebagaimana fitrah penciptaannya. Hidup dengan saling menghormati kemerdekaan satu sama lain serta saling melayani dan saling menguntungkan.


DALAM AMSAL
Pertama, di dalam mitologi, petir dilambangkan sebagai kedaulatan langit. Petir digambarkan sebagai senjata dewa dari para dewa atau Tuhan dari segala Tuhan. Ada Zeus dalam mitologi Yunani, Jupiter dalam mitologi Romawi dan Dewa Indra dalam mitologi Nusantara. Petir inilah yang menjadi senjata bagi dewa para dewa tersebut untuk menegakkan keadilan dan memastikan supremasi hukum atau kehendak langit agar terwujudnya kedaulatan di atas bumi.

Proklamasi dapat juga kita terjemahkan serupa itu. Apa yang dibawa oleh proklamasi sesungguhnya adalah kedaulatan langit atau kehendak ilahiah. Proklamasi inilah yang akan menjadi alat atau senjata Tuhan untuk memastikan supremasi hukum langit terbentuk dalam kedaulatan bumi ini. Proklamasi hadir untuk memastikan tegaknya dasar-dasar kedaulatan umat manusia: KEMERDEKAAN, PERDAMAIAN ABADI dan KEADILAN SOSIAL.
 

Kedua, petir umum dipakai sebagai simbol dari energi. Contoh terdekatnya adalah lambang yang digunakan oleh PLN. PLN menjadikan petir sebagai simbol energi listrik dan kita tahu listrik adalah energi paling vital bagi peradaban umat manusia hari ini. Kita tidak bisa bayangkan apa jadinya peradaban kita jika tanpa listrik. Listriklah yang menggerakkan setiap sektor kehidupan kita hari ini. Dan petir adalah kekuatan listrik alam yang amat besar.

Proklamasi juga seibarat dengan itu, Proklamasi adalah energi yang menghidupkan. Ajaran kemerdekaan merupakan energi yang menghidupkan jiwa luhur manusia untuk menggerakkan peradabannya ke tingkat yang paling fitrati.

Selain dari pada semua itu, menurut pendapat Rudy Novial selaku Pengelola Kawasan Monas yang saya kutip dari Tribunnewsa.com: "kenapa dinamakan (tugu) petir? Karena kejadian kemerdekaan Indonesia berlangsung sangat cepat dan mendadak. Jadi diibaratkan seperti petir yang cepat dan menggelegar," katanya.

Ya, memang petir ini sebuah kejadian alam yang luar biasa seperti halnya Proklamasi 17 Agustus 1945. Selain energi besar yang dibawanya, kecepatan, dentuman suara dan juga cahaya terang yang dihasilkan petir semua berada pada level yang mengundang decak kagum kita.

Category: Nasionalisme Indonesia | Views: 41 | Added by: PuteraGaruda | Tags: Nasionalisme Indonesia, Bung Karno, Kemerdekaan, Proklamasi, Tugu Petir, Nasionalisme | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar