Home » 2015 » November » 16 » TIDAK ADA KONTRA REVOLUSI BISA BERTAHAN
2:41 PM
TIDAK ADA KONTRA REVOLUSI BISA BERTAHAN

 

Amanat Presiden Soekarno Pada Rapat Pancasila di Bandung Tanggal 16 Maret 1958

Saudara-saudara

Baru sekarang sesudah saya datang kembali dari luar negeri, saya berjumpa lagi dengan saudara-saudara Rakyat Bandung dan sekitarnya. Saya mengucap terima kasih kepada saudara-saudara sekalian bahwa saudara-saudara telah datang di sini berbondong­bondong dengan jumlah lebih dari 1 juta manusia untuk bersama­sama menyatakan isi hati saudara-saudara. Isi hati bersatu padu sebagai satu Bangsa yang cinta pada kemerdekaan. Isi hati bersatu padu setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan saya amat bergembira pula pada ini hari, datang di Bandung bersama-sama dengan Ibu Rasuna Said yang oleh pemimpin rapat dengan tepat telah dikatakan Srikandi Indonesia. Saudara-saudara, tahukah engkau sekalian bahwa Ibu Rasuna Said telah berpuluh-puluh tahun lamanya berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, berjuang untuk utuhnya negara, yang kita proklamirkan 17 Agustus 1945. Bahkan waktu beliau masih muda, beliau telah berjuang sekuat­kuat tenaga untuk mernerdekakan tanah air kita. Beliau adalah pernimpin wanita Indonesia yang pertama yang dijebloskan oleh imperialis asing ke dalam penjara. Saya bergembira ini hari datang di Bandung bersama-sama dengan beliau. Bergembira oleh karena dengan adanya beliau di Bandung ini, ternyata sebagai tadi dinya­takan oleh beliau bahwa apa yang telah diperbuat oleh Achmad IIusein c.s., oleh Sjafruddin Prawiranegara c.s. sama sekali pada hakekatnya bukan kehendak daripada rakyat Minangkabau, tetapi hanyalah perbuatan petualang-petualang belaka.

Saudara-saudara, Ibu Rasuna Said tadi berkata bahwa beliau tiap-tiap kali beliau meninggalkan Tanjung Priuk untuk pergi ke luar negeri, beliau adalah dipandang oleh orang sebagai orang Indonesia. Benar ucapan Ibu Rasuna Said itu. Uemikian pula sava, saudara-saudara, yang berulang-ulang pula meninggalkan tanah air “menjajah desa hamilang kori”, datang ke mana-mana, tiap-tiap kali saya di luar negeri, bukan saja orang luar negeri memandang kepada saya sebagai orang Indonesia, tetapi j ustru di luar negeri itulah saudara-saudara, saya merasa diri saya orang Indonesia yang benar-benar cinta kepada Indonesia, dan malahan saya bisa berkata kepada saudara-saudara, tiap-tiap kali saya melihat ben­dera Sang Merah Putih berkibar, bukan saja di Washington, tetapi juga di Moskow, di London, di Paris, di Cairo, di New Delhi, di Peking dan tempat-tempat yang lain-lain, hati saya lebih besar daripada gunung Malabar yang ada di Selatan kita ini, saudara­saudara.

Saya sudah melihat tiga-per-empat daripada dunia. Melihat Amerika Serikat, melihat Kanada, melihat Switserland, melihat Jermania, melihat Italia, melihat Austria, melihat Sovyet Unie, melihat Mongolia, melihat RRC., melihat Jepang, melihat Viet­nam, melihat Philipina, melihat Thailand, melihat Burma, melihat India, melihat Selandia, melihat Pakistan, melihat Mesir, melihat Libanon, melihat Siria, melihat negara-negara lain, negeri-negeri lain, dan tanah air orang lain. Tetapi dengan bangga dan tegas saya bisa berkata: tidak ada satu negeri di dunia ini yang secantik, semolek, sekaya Indonesia. Oleh karena itu, maka tiap-tiap kali saya di luar negeri, makin cintalah saya kepada Indonesia. Apalagi jikalau saya duduk di kapal terbang, terbang di angkasa, menengok ke bawah, misalnya di daerah-daerah padang pasir, baik daripada Sentral Asia maupun di tempat yang lain-lain, rindu pada tanah air, melihat negeri orang lain: pasir, batu, pasir, batu, pasir, batu. Ingatlah saya kepada tanah air saya. Hijau, molek, cantik, kata orang Jawa: ijo royo-royo kadia penganten anyar. Cinta kepada tanah air. Maka oleh karena itu. saya vang juga sebagai Saudara Rasuna Said tadi katakan. juga orang Islam, sayapun merasa nasional di dalam arti saya sehebat-hebatnya.

Tentang perjalanan ke tanah-tanah orang lain. belakangan ini saya mengadakan perjalanan ke negeri Asia dan Afrika. Dulu saya mengadakan perjalanan ke Amerika, dan dunia yang dinamakan dunia barat. Saya hendak ceritera kepada saudara-saudara, bahwa pada satu hari saya diminta untuk memberi jawaban atas beberapa pertanyaan yang diajukan kepada saya oleh pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi Amerika. Diadakan satu rapat kecil, wakil-wakil pemuda dan wakil-wakil pemudi berkumpul di situ. Saya diun­dang di dalam rapat itu dan mereka mengajukan pertanyaan-per­tanyaan dan pertanyaan-pertanyaan itu harus saya jawab di dalam rapat yang saya hadiri. Dipotret, difilm, disiarkan dengan radio dan diadakan televisi pula. Rapat yang demikian ini, tanya jawab dengan pemuda dan pemudi adalah satu bagian daripada siaran televisi yang bernama “Youth want to know” – pemuda dan pemudi ingin tahu. Saya diundang untuk hadir di dalam rapat “Youth want to know” itu, dan saya datang.

Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada saya adalah sebagai berikut: -baik sekali saudara-saudara ketahui -ditanya­kan kepada saya: “Presiden Soekarno, kenapa Presiden Soekarno mengadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945?” Sekali lagi: “Kenapa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu Excellentie adakan pada tanggal 17 Agustus 1945?” Yaitu beberapa hari sesudah Jepang menekuk lutut di dalam peperangan dunia yang kedua. Artinya pertanyaan ini, saudara­saudara, ialah apa sebab Proklamasi Kemerdekaan itu tidak diu­capkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, pada tahun 1940, atau tahun 19′ )0 atau tahun 1929, kenapa 17 Agustus 1945. Saya merasa, ini adalah satu pertanyaan untuk memancing satu pengakuan. Sebab katanya, Kemerdekaan Indonesia ini pemberian dari Jepang. Ba­hwa tatkala Jepang telah menekuk lutut, kemerdekaan ini diberi­kan kepada bangsa Indonesia.

Saya kira inilah maksud daripada pertanyaan itu. Dan saya beri pcnjelasan yang tegas: kami, kataku, mengadakan Proklamasi Kernerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh karena pada waktu itu imperialisme sedang lemah. retak, hancur lebur. Inilah sebabnya kami mengadakan Proklamasi itu tidak pada tahun 1940, pada waktu imperialisme sedang kuat sentosa, pun tidak pada tahun 1930 pada waktu imperialisme sedang kuat. Maka itu kita mengadakan proklarnasi pada saat imperialisme lemah, pada saat imperial-isme tiada bertenaga. Nah, sesudah peperangan dunia yang kedua Belanda berantakan, imperialisme Belanda hancur lebur, Jepang lemah pula, oleh karena telah men­dapat pukulan. Saat itulah saat yang terbaik untuk mengadakan proklamasi.

Ini adalah siasat politik yang hebat sekali, saudara-saudara, dan memang kita bicarakan terlebih dahulu dengan pemimpin­pemimpin, bahkan di dalam tahun 1929 telah saya katakan, tahun 1929 tatkala saya masih menjadi penduduk Bandung, pada waktu itu, di dalam tahun 1929 saya berkata: Awas, imperialisme! Awas, jikalau nanti pecah perang pasifik, jikalau nanti pecah perang dunia yang kedua, jikalau nanti Lautan Teduh merah dengan darah manusia, jikalau nanti tanah-tanah di sekeliling Lautan Teduh menyala-nyala dengan api peperangan, pada saat itulah Indonesia menjadi merdeka. Ini saya ucapkan dalam tahun 1929. Dan kawan­kawan saya dari Bandung mengetahui bahwa justru karena ucapan inilah, saya ditangkap, dimasukkan ke dalam kandang.

Saudara-saudara, memang siasat politik harus dernikian. Ji­kalau hendak mengadakan proklamasi kemerdekaan, carilah saat yang imperialisme itu lemah berantakan. Ini terjadi dalam tahun 1945. Tegasnya, bulan Agustus 1945. Tetapi kecuali daripada itu, saudara-saudara, lama sebelum itu telah menjadi pemikiran kami, pemimpin-pemimpin. bahwa jikalau kami hendak memprokla­mirkan satu negara merdeka, lebih dahulu harus dipcnuhi beberapa syarat wntuk negara. 1’idak bisa, kita mengadakan proklamasi itu meskipun imperialisme berantakan. Tidak bisa kita mengadakan satu negara jika tidak sudah dipenuhi syarat-syarat untuk negara. Apa syarat untuk negara, saudara-saudara? Syaratnya adalah tiga. Negara, pertama syaratnya ialah harus mempunyai wilayah. Wilayah yang tegas dapat ditaruh di atas kaart. Bisa dipetakan. Wilayah yang di dalam bahasa asing dinamakan territoor. Dan cita-cita kami, sebagai bangsa Indonesia, cita-cita kita, juga bukan suatu negara sembarangan, saudara-saudara, tetapi suatu negara yang besar, yang kuat, sentosa, modern, up to date, dan satu negara yang bisa mendatangkan kebahagiaan kepada rakyat. Satu negara yang bisa di dalamnya diisikan satu masyarakat yang adil dan makmur. Bukan satu negara kapitalis. Bukan satu negara kemis­kinan. Bukan satu negara yang rakyatnya tidak bisa makan dengan cukup. Bukan satu negara yang rakyatnya tidak hidup dengan bahagia. Tetapi satu negara besar dan masyarakat adil dan makmur di dalamnya.

Ini kami pikirkan mengenai wilayah itu tadi. Dan kami, pemimpin-pemimpin, sampai kepada satu kesimpulan, bahwa ji­kalau kita ingin mempunyai satu negara yang di dalamnya satu masyarakat yang adil dan makmur, haruslah negara itu berwilayah seluruh Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Apa artinya saudara-saudara? Tidak bisa kita mengadakan satu negara yang bisa memberi masyarakat adil dan makmur jikalau wilayahnya tidak dari Sabang sampai ke Merauke. Artinya, misalnya negara Jawa sendiri, umpamanya, tidak bisa menyelenggarakan satu masyarakat yang adil dan makmur. Demikian pula Sumatera um­pamanya berdiri sendiri sebagai negara, tidak bisa menyeleng­garakan satu masyarakat yang adil dan makmur. Kalimantan tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Sulawesi tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Bali tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Sumbawa tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Priangan tidak bisa men­jadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Madura tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakat­nya. Hanya negara yang berwilayah dari Sabang sampai ke Meraukelah bisa menyelenggarakan masyarakat yang adil dan rnakmur, oleh karena daerah-daerah ini daerah Jawa, daerah Su­matera, daerah Kalimantan, daerah Sulawesi, daerah Bali, Lom­bok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, yaitu kepulauan Sunda Kecil yang dulu dinamakan demikian, sekarang dinamakan Nusa Tenggara, daerah Halmahera, daerah Maluku Tengah, Ambon, Saparua, Nusa Laut, daerah Irian Barat dan lain-lain sebagainya harus isi-mengisi satu sarna lain. Jikalau sesuatu daerah berdiri sendiri, saudara-saudara, tak mungkin menyelenggara-kan masya­rakat yang adil dan makmur itu.

Nah, jadi ditinjau oleh pemimpin-pemimpin kita: bisakah kita nanti mengadakan satu negara besar, modern, up to date, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke? Kami pikir, kami tinjau, dan jawab kami: Ya! Kami dapat, kita dapat mengadakan negara yang demikian itu, berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke. Ialah oleh karena di dalam sejarah Indonesia, dahulu kitapun pernah mempunyai negara yang demikian itu, malahan wilayahnya lebih besar daripada apa yang dinamakan Hindia Belanda. Pernah pula mempunyai negara lain, yaitu Sriwijaya, yang wi layahnya hampir sama dengan apa yang dinamakan Hindia Belanda. Jadi menurut sejarah, negara yang berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke, bisa diadakan. Demikian pula, saudara-saudara, sejarah pergerakan Indonesia menunjukkan ba­hwa daerah-daerah ini memang makin lama makin kembali ke dalam rasa persatuan Indonesia. Jadi tentang hal persoalan yang pertama, vaitu apakah bisa diadakan satu wilayah. satu territoor bagi negara, jawahnya ialah tegas: ya, kita bisa mengadakan wilavah atau territoor itu.

Syarat yang kedua daripada sesuatu negara, saudara-saudara, ialah bahwa di atas territoor itu harus ada rakyatnya. Kalau tidak ada rakyatnya tidak bisa menjadi negara. Coba umpamanya saudara mengadakan satu proklamasi di padang pasir, hendak mengadakan negara di padang pasir, walaupun wilayahnya ada, yaitu padang pasir, tetapi tidak ada rakyat di atasnya, saudara­saudara, tidak mungkin menjadi satu negara. Dan bukan rakyat sembarang rakyat, tetapi rakyat yang merasa dirinya bersatu padu, rakyat yang merasa dirinya telah menjadi satu bangsa, bukan dua, bukan tiga, bukan empat, satu bangsa. Inipun diselidiki oleh kami, pemimpin-pemimpin, dipikir, di-tinjau, bahkan di dalam tahun 1945, saudara-saudara, dikumpul-kan pemimpin-pemimpin, ber­sama meninjau soal ini dan ternyata: rakyat Indonesia yang ter­serak di pulau-pulau Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, yang berdiam di atas 3.000 pulau, – jumlah pulau di Indonesia lebih dari 10.000, saudara-saudara, – tetapi rakyat yang berdiam di atas 3.000 pulau, rakyat Indonesia yang berpuluh-puluh juta ini, walaupun diam terserak-serak atas 3.000 pulau, sehingga sebagai tempo hari saya katakan, pernah seorang wartawan berkata bahwa Indonesia adalah the most broken up nation in the world, satu negeri, satu bangsa yang paling terserak-serak rakyatnya saudara­saudara. Meskipun rakyat Indonesia berdiam di atas 3.000 pulau, ternyatalah bahwa Indonesia telah mempunyai rasa satu bangsa. Bahkan pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh pemuda-pemudi kita diikrarkan rasa ini, sebagai ikrar pemuda yang termasyhur: satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. Dengan keyakinan inilah saudara-saudara, maka pertanyaan yang kedua dijawab oleh kami: Ya! kami telah menjadi satu bangsa.

Syarat ketiga bagi negara ialah apakah bisa diadakan Peme­rintah Pusat apa tidak? Pernerintah Pusat vang satu. Bukan dua. bukan tiga. bukan empat. Jawab kamipun: bisa diadakan Peme­rintah Pusat yang satu. ‘I’atkala kami berkumpul, pemimpin­pemimpin dari seluruh Indonesia, di dalam bulan Agustus saudara­saudara. sebelum mengadakan proklamasi, spesial soal ini ditinjau antara kita dengan kita. Dapatkah kita memenuhi syarat ketiga daripada sesuatu negara? Yaitu adanya satu Peinerintah Pusat. Dan jawab daripada sidang itu ialah: dapat Indonesia mengadakan satu Pemerintah Pusat. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, saudara-saudara, atau lebih tegas, pada tanggal 16 Agustus, pemimpin-pemimpin yang berkumpul di Jakarta itu, semuanya berkeyakinan, tiga syarat daripada negara bisa dipenuhi, territoor ya, bangsa ya, Pemerintah Pusat ya. Maka pada malam 16 malam 17 ditandatanganilah Proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan pada tanggal 17 Agustus 1945 dibacakan di muka umum: -Kami Bangsa Indonesia sejak saat sekarang ini merdeka, mendirikan satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nah, saudara-saudara, tiga syarat ini berjalan, territoor, wilayah Republik Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Hanya sebagian daripada territoor ini, saudara-saudara, sekarang diduduki oleh Belanda. Belum dikembalikan oleh Belanda kepada kita. Maka oleh karena itu saya selalu berkata kepada rakyat Indonesia, janganlah berkata, mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik, tetapi katakanlah mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, sebab Irian Barat sudah masuk di dalam wilayah Republik. Irian Barat sudah masuk di dalam territoor Republik. Sudah saya terangkan kepadamu sekalian di dalam rapat raksasa yang lalu, saudara-saudara, bahwa di dalam Undang-Undang Dasar kita ditulis dengan tegas, bahwa wilayah Republik Indonesia ialah: Indonesia. Dan apa yang di­namakan Indonesia? Yang dinamakan Indonesia ialah Tanah Air Indonesia yang terserak kepulauannya dari Sabang sampai ke Merauke. Dus Irian Barat masuk di dalam wilayah Republik. Yang bclum ialah kekuasaan Republik dikembalikan oleh Bclanda kepada kita. Uan saya tahu tekad saudara-saudara, taliu tekad pemuda dan pemudi, tahu tekad prajurit-prajurit, tahu tekad bin­tara-bintara, tahu tekad perwira-perwira, tahu tekadmu hai rakyat jelata, tahu tekadnya bapak Marhaen, tahu tekadnya bapak Ma­droi, tahu tekadnya seluruh rakyat Indonesia, ialah: berjuang terus agar supaya Irian Barat masuk ke dalam wilayah kekuasaan Re­publik.

Saudara-saudara, territoor sudah ada. Bangsa sudah ada. Pemerintah Pusat sudah berfungsi, saudara-saudara, sejak 17 Agus­tus 1945 hingga kini. Tetapi apa yang terjadi, apa yang terjadi? Achmad Husein c.s., Sjafruddin Prawiranegara c.s., justru melang­gar semuanya ini, saudara-saudara. Mereka mengadakan Peme­rintah lain, melanggar syarat yang nomor tiga ini tadi, ialah bahwa Republik Indonesia berwujud satu negara. Saudara-saudara hanya mengenal satu Pemerintah Pusat. Dus, jikalau mereka meng­adakan satu pemerintah pusat lain, sebenarnya mereka itu meng­khianati Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan bukan saja mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945, saudara-saudara, mengkhianati kepadamu, hai Marhaen, mengkhianati kepadamu hai pemuda dan pemudi, mengkhianati kepada pahlawan­pahlawan kita yang telah gugur, mengkhianati kepada perjuangan rakyat Indonesia yang sudah berpuluh-puluh tahun. Mengkhianati kepada jiwa Indonesia sendiri. Khianat perbuatan ini, saudara­saudara. Maka oleh karena itu segenap rakyat Indonesia, – saya yakin, -semuanya akan menghukum perbuatan Achmad Husein dan Sjafruddin Prawiranegara c.s. itu.

Tetapi, sebagai dikatakan oleh ibu Rasuna Said tadi, kami, kita penuh dengan kepercayaan, penuh, asal rakyat jelata, sekali lagi saya ulangi, asal rakyat jelata setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945. Meskipun ada petualang-petualang, seratus, seribu, sepuluh ribu saudara-saudara. mereka akan lenvap dari rnuka bumi ini olch tcnaga daripada rakyat jelata itu. Rakyat jelata kckuatan Republik. rakyat jelata kekuatan negara. rakyat jelata sandaran daripada cita-cita. Saudara-saudara, rakyat inilah modal kita. Rak­yat jelata yang ingin bebas merdeka. Rakyat jelata yang dengan tenaganya kita rnengadakan proklamasi dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 itu. Apa, saudara-saudara, se­benarnya yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945? Kataku di tempat lain. pada tanggal 17 Agustus 1945, kita tidak hanya memproklamirkan Negara, tidak, bukan hanya memproklamirkan negara, kataku. Pada tanggal 17 Agustus 1945 itu kita juga mem­proklamirkan kepribadian kita. Kepribadian Indonesia. Apa kepribadian Indonesia, kataku, di lain tempat. Dan jawabku ialah: pertama, cinta merdeka. Cinta merdeka, tidak mau dijadikan budak orang lain. Tetapi juga menghormati kemerdekaan orang lain. Cinta kepada kemerdekaan, tetapi juga menghormati kemer­dekaan orang lain. Ingin bersahabat dengan semua manusia di dunia ini, ingin bersahabat dengan semua bangsa di dunia ini. Ingin bersahabat dengan semua negara di dunia ini. Saya berkata di lain tempat, saudara-saudara, bahwa kepribadian bangsa Indonesia terjelma di dalam dasar Pancasila.

Tadi diuraikan oleh Ibu Rasuna Said, memang Pancasila ini adalah pengutaraan daripada jiwa Indonesia. Aku ini, saudara­saudara, pernah diberi titel doktor, oleh karena katanya, aku ini adalah pembuat Pancasila. Aku menjawab, aku bukan pembuat Pancasila. Pancasila terbenam di dalam jiwanya Bangsa Indonesia. Apa yang kuperbuat hanyalah menggali lagi mutiara lima dari bwni Indonesia itu, dan mutiara lima ini aku persembahkan kepada bangsa Indonesia yang berupa lima dasar daripada Pancasila.

Aku diberi titel doktor mau aku terima, tetapi janganlah berkata bahwa aku ini adalah pembuat daripada Pancasila. Aku menggali kembali lima kebenaran daripada bangsa Indonesia itu, satu: Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai tadi telah diuraikan panjang lebar oleh Ibu Rasuna said. Dua: Kebangsaan Indonesia yang bulat, yang kita ini bukan orang Cigereleng, bangsa Cige­releng, bangsa Sukajati, bangsa Bandung, bangsa Periyangan, bangsa Jawa. Tidak! Kita ini adalah Bangsa Indonesia seluruhnya, satu Bangsa sebagai diucapkan oleh pemuda-pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Ketiga, dasar Pancasila: Perikemanusiaan. Menjehnanya di dalam politik sekarang ini, sebagai satu politik behas dan aktif, satu politik ingin bersahabat dengan semua baiigsa, balikan aktif berikhtiar agar sernua bangsa di dunia ini bersatu, jangan menjadi dua blok sebagai yang sekarang, ancam­mengancam satu sama lain, laksana dua raksasa yang telah mengintai di cakrawala, yang nanti pada satu hari akan menerkam satu sama lain, membakar seluruh manusia di dunia ini menjadi hangus.

Yah, saudara-saudara, bangsa Indonesia tidak mau ikut salah satu blok. Tidak mau ikut blok itu, tidak mau ikut blok ini. Bangsa Indonesia ingin menjadi sahabat dari sernua manusia. Dan bangsa Indonesia berikhtiar agar supaya semua manusia di dunia ini, 2.600 juta manusia di dunia ini, bersatu padu di dalam satu rasa perikemanusiaan. Dasar dari Pancasila yang ketiga: kita men­jalankan politik bebas. Di luar negeri ada yang mengatakan ini politik netral, katanya. Saya tolak perkataan netral. Kita bangsa Indonesia tidak netral. Kita menjalankan politik bebas. Gamal Nasser dari Mesir berkata: Bung Karno menyebutkan politiknya politik bebas. Kami dari Mesir menyebutkan politik kami ini politik of non-alignment. Artinya politik tidak mau mengikatkan diri ke dalam salah satu blok. Pada hakekatnya sama. Cara Mesir mengatakan ialah non alignment policy, cara Indonesia menyebut­nya ialah politik bebas. Tetapi aktif, aktif berikhtiar agar semua nianusia dipersahabatkan satu sama lain. Kami menolak perkataan netral. Kami tidak netral. Apa arti netral? Netral itu artinya: diam. Iiii politik iietral. Kita tidak netral. Kita aktif. Apalagi terhadap kcpada kolonialisme, kita tidak mau netral. Yah, kita mcngan­jurkan supaya antara dua blok ini adalah hidup berdamping-dam­pingan satu sama lain. Yah sudahlah. kalau sudah terlanjur menjadi blok-blokan, sini satu blok, situ satu blok. Tapi dua blok ini bisa hidup berdamping-dampingan satu sama lain.

llalam bahasa Inggerisnya: co-existence, malahan dikatakan peaceful co-existence. Hidup berdamping-dampingan satu sama lain dalam suasana perdamaian. Peaceful co-existence. Dan ini ternyata bisa, mungkin, bukan saja mungkin, bisa. Yaitu kalau sudah terlanjur blok-blokan, ya sudahlah, satu blok sini, satu blok situ, tapi dalam suasana perdamaian, tidak cakar-cakaran satu sama lain, tidak bertempur satu sama lain. Ini ternyata bisa. Sudah berpuluh-puluh tahun, sejak pecahnya perang dunia kedua, dua blok ini, saudara-saudara, ada dan bisa hidup berdamping-dam­pingan satu sama lain. Tetapi di antara kolonialisme dan bangsa­bangsa yang dikolonisir, antara penjajah-penjajah dan rakyat­rakyat yang terjajah tidak bisa hidup berdamping-dampingan satu sama lain. Antara kolonial-isme dan rakyat-rakyat yang dikolonisir tidak bisa ada co-existence. Tidak! Apa sebabnya? Saya terangkan di lain tempat, oleh karena yang menjajah yaitu si kolonialis, tangannya masuk kantongnya rakyat yang dikolonisir. Kalau blok dengan blok tidak, saudara-saudara. Seperti di antara dua blok itu ada gang. Tetapi di antara kolonialis dan rakyat yang dikolonisir tidak ada gang itu, saudara-saudara. Ialah oleh karena tangannya si kolonialis masuk di dalam kantongnya rakyat yang dikolonisir. Maka oleh karena itu Bangsa Indonesiaberkata: Tidak! Kami tidak netral. Terutama sekali terhadap kepada kolonialisme. Kami tidak netral. Tidak! Kami berjuang terus, melawan kolonialisme. Kami berjuang terus melawan penjajahan. Bukan saja penjajahan di dalam negeri, tetapi penjajahan di luar negeripun kami berjuang kepadanya. Malahan kami tempo hari memanggil 29 negara­negara dan Bangsa-Bangsa Asia Afi-ika. berkumpul di kota molek Bandung ini. mengadakan konferensi Asia Afrika. Dan konferensi Asia Afrika itu telah menghukum kolonialisme dan segala bentuk dan tindakannya. hlilah tekad Bangsa Indonesia. saudara-saudara. Sebagai hasil daripada dasar ketiga daripada pancasila: Perikema­nusiaan.

Dasar kita keempat: Kedaulatan Rakyat. Ya memang kita ini, saudara-saudara, ingin menjalankan demokrasi, dan memang dasar kita ini ialah demokrasi. Sebagai dikatakan oleh Ibu Rasuna Said tadi, kita ini bangsa menjalankan demokrasi. Sudah mempu­nyai DPR hasil pemilihan umum, sudah mempunyai Konstituante dengan pemilihan umum. Kalau sesuatu golongan daripada bangsa Indonesia, tegasnya kalau Sjafruddin tidak senang dengan Peme­rintah sekarang ini, kalau Achmad Husein tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Simbolon tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Sumitro tidak senang dengan Pe­merintah sekarang ini, kalau Dahlan Dj ambek tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, gerakkanlah DPR, Parlemen itu, supaya mengadakan mosi tidak percaya kepada Pemerintah sekarang ini, supaya menjatuhkan Pemerintah sekarang ini. Ini jalan yang de­mokratis, saudara-saudara, melalui Parlemen. Tetapi mereka tidak melalui Parlemen. Mereka mengadakan ultimatum, mereka meng­adakan proklamasi PRRI. Ini adalah peng-khianatan! Pengkhi­anatan daripada Proklamasi! Bahkan aku berkata, pengkhianatan kepada jiwa Indonesia yang demokratis! Pengkhianatan kepada Marhaen, kepada rakyat jelata, kepada pemuda yang telah bertem­pur mati-matian unluk mengadakan negara demokratis ini, saudara-saudara. Ibu Rasuna Said berkata: PRRI bukan pemerin­tah revolusioner Republik Indonesia, tetapi pemerintah reaksioner Republik Indonesia. Sebenarnya lebih daripada reaksioner. Ini bukan reaksioner saja, ini adalah kontra-revolusioner!

Yah, di dalam tiap-tiap revolusi ada kontra-revolusi. Kita mengalami kontra-revolusi beberapa kali. revolusi Sovyet meng­alami kontra-revolusi beberapa kali. revolusi RRC meng-alami kontra-revolusi. revolusi Perancis mengalami kontra-revolusi. Revolusi Mesir mengalami kontra-revolusi, saudara-saudara. Tiap-tiap revolusi mengalami kontra-revolusi. Tetapi jikalau rcvolusi itu benar-benar revolusi, artinya benar-benar tindakan daripada rakyat jelata yang ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan-jutaan. Jikalau revolusi itu benar-benar massal, saudara­saudara. Tidak ada satu kontra-revolusi bisa bertahan. Tidak ada. Maka oleh karena itu saya berkata, jikalau rakyat Indonesia ini seluruhnya, rakyat jelata setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945, kontra-revolusi akan lenyap dari muka bumi ini. Dan kita akan menghadapi zaman yang gilang-gemilang. Kita, saudara­saudara, bangsa di dalam revolusi yang berjalan terus, yang seba­gai kukatakan, for a fighting nation there is no journey’s end, buat bangsa yang berjuang tidak ada yang dinamakan berhenti. Tidak! Kita berjalan terus.

Yah, kita sekarang mengalami kontra-revolusi. Kita berjalan terus. Dan Insya’allah s.w.t., dengan semangat rakyat jelata seba­gai yang saya lihat di Bandung sekarang ini, Insya’allah kita akan mencapai apa yang hendak kita capai. Kita hendak capai satu Negara Republik Indonesia dengan di dalamnya satu masyarakat yang adil dan makmur yang memberi kebahagiaan kepada seluruh rakyat Indonesia yang 82.000.000 ini. Kita menjalankan politik bebas.

Aku di luar negeri, 40 hari lamanya, melihat dengan mata kepala sendiri, saudara-saudara, Sumual c.s. itu sakunya penuh dengan uang. Nah inilah katanya barter, barter katanya. Dijual kopra dari Minahasa itu untuk rakyat Minahasa. Omong kosong! Uang dari hasil penjualan kopra ini masuk dalam kantongnya petualang-petualang itu, saudara-saudara. Dan saya membaca sendiri di dalam surat kabar, petualang-petualang itu tiap-tiap sore pergi. per`gi ke tempat-tempat kesenangan, nightclubs, traktir mereka, bclikan mobil mereka. Kantong mereka penuh dengan uang saudara-saudara. Dan aku melihat sendiri, saudara-saudara. bahwa ada petualang-petualang asing menunggangi mereka itu. Malah ketika aku menjalankan perjalanan ke India, ke Mesir, ke Yugoslavia, ke Ceylon, ke Pakistan, ke Burma, ke tempat-tempat lain, aku mendapat pengertian, diberi mengerti oleh beberapa kawan-kawan, bahwa ada petualang-petualang asing yang sudah tidak senang lagi dengan apa yang dinamakan oleh mereka netral­isme kita, -saya tadi berkata, politik kita dinamakan politik netral – kita ini dikatakan menjalankan politik netralisme, policy of neutralism – dikatakan oleh mereka itu, saudara-saudara, yaitu kawan-kawan kita itu, sekarang ini sudah ada golongan petualang­petualang asing yang tidak senang lagi dengan politik netral kita. Dulu mereka itu senang, cukup senang, kalau Indonesia netral. Cukup senang kalau India netral. Cukup senang kalau Burma netral. Cukup senang kalau Mesir netral. Cukup senang kalau Siria netral. Cukup senang kalau Langka netral. Asal tidak ikut blok itu. tetapi sekarang timbul petualang-petualang yang sudah tidak senang lagi kepada netralisme kita. Mereka hendak menyeret kita, memasukkan kita, atau sebagian daripada kita ke dalam salah satu blok.

Oleh karena itu, di dalam amanat saya pada tanggal 21 Februari, tatkala saya menerima kembali jabatan Presiden dari ta­ngannya Bapak Sartono, saya berkata: perbuatan Akhrnad Husein c.s. ini, adalah satu penyelewengan daripada Proklamasi dan bukan saja itu, tetapi adalah anasir-anasir asing, usaha-usaha asing mau memasukkan Indonesia atau sebagian daripada Indonesia itu ke dalarn salah satu blok. Dan ini aku lihat dengan mata kepala sendiri, saudara-saudara, tatkala aku di luar negeri, bagaimana Surnual, bagaimana Pantouw, bagaimana Walandouw dan konco­-konconya itu ditunggangi sama sekali oleh petualang-petualang ini. Dibesar-besarkan hatinva. dihasut-hasut. bahkan diberi apa­-apa, saudara-saudara. Tentang hal Sumual. ketika aku di Tokio. dia sudah ada di Tokio. Aku lihat dengan jelas dengan bukti, dia di Tokio itu bukan sekadar untuk mengadakan kampanye hasutan terhadap Republik, hasutan terhadap Pernerintah Pusat di Jakarta, hasutan terhadap Presiden Sukarno. Bukan saja itu, di Tokio ia mengadakan kontak dengan seorang petualang Jepang – jangan salah mengerti – petualang Jepang, – pada umumnya rakyat Jepang, saudara-saudara, ramah-tamah, cinta kepada Republik Indonesia, – tetapi di dalam tiap-tiap bangsa ada petualng-petu­alangnya, tiap-tiap bangsa. Lha ini petualang Jepang kontak de­ngan Sumual. Sumual dengan petualang Jepang ini mengadakan pembicaraan, perundingan. Sumual hendak membeli senjata, dibayarnya dengan kopra barter. Senjata ini untuk apa? Untuk menggempur Republik, saudara-saudara!

Apa terjadi? Bicara sudah matang, di dalam bahasa asing tempo hari saya katakan, pembicaraan ini sudah in kannen en kruiken. Tinggal lagi ditandatangani kontraknya ini, sekian ribu senjata, saya bayar dengan sekian ribu karung kopra. Sudah ham­pir ditandatangani, ada petualang dari bangsa lain berkata kepada Sumual “buat apa beli senjata dari Jepang, Jepang itu jauh dari Indonesia. Kamu bisa dapat senjata dari satu tempat yang lebih dekat dari Indonesia. Batalkan engkau punya perjanjian dengan .lepang ini. Ambillah senjata yang dari kami, dekat dari Indonesia”. Sumual, saudara-saudara, lantas batalkan perundingannya dengan pihak petualang Jepang ini. Apa terjadi? Petualang Jepang ini menjadi marah, surat-suratnya diberikan kepada orang Jepang lain, dengan permintaan supaya diteruskan kepada Presiden Soekarno. Nah, kawan Jepang ini memberikan sernua surat Su­mual itu kepada Presiden Soekarno, sehingga terbukti hitam di atas putih, saudara-saudara. Bukan saja satu surat, beberapa surat dengan fotokopi-fotokopinya sama sekali, bahwa Sumual di Tokio hendak membel i senjata untuk menggempur Republik. tetapi ganti dengan usaha mcndapat senjata dari tempat yang lebih dckat daripada Indonesia untuk menggempur Republik.

Coba, pengkhianatan atau tidak ini, saudara-saudara. Maka oleh karena itu saya tadi berkata: kita berjalan terus, berjalan terus. Asal rakyat Indonesia bersatu padu, asal rakyat jelata Indonesia bersatu padu, biar mereka mengadakan usaha yang demikian itu, saudara-saudara, akhirnya toh Insya’allah s.w.t. digiling mereka itu oleh rakyat jelata, oleh karena memang rakyat jelatalah tenaga daripada revolusi.

Kita ini, saudara-saudara, di dalam cobaan. Tetapi sebagai berulang-ulang saya katakan, yang sudah diulangi oleh Ibu Rasuna Said tadi, kalau kita, saudara-saudara, tetap kompak, tetap bersatu padu, kita Insya’allah kuat menghadapi segala cobaan. Dan me­mang cita-cita kita, saudara-saudara, belum tercapai. Bukan saja memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, tetapi juga mengadakan pembangunan demikian rupa, sehingga terselenggaralah satu masyarakat yang adil dan makmur sebagai yang dicita-citakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Yah, kita mengetahui, kami daripada pihak Pemerintah mengetahui bahwa cita-cita sosial kita, masyarakat adil dan mak­mur itu belum tercapai. Tetapi janganlah kita lupa saudara­saudara, bahwa masyarakat adil dan makmur hanyalah bisa diselenggarakan oleh satu bangsa yang kompak dengan satu Pemerintah Pusat yang kuat. Jangan kira, saudara-saudara, bahwa masyarakat adil dan makmur itu bisa diselenggarakan, kalau kita selalu terpecah belah, kalau kita antara partai dengan partai selalu bertempur, jikalau kita di dalam masa merdeka yang 12 tahun ini, melalui 17 kali Kabinet, tiap kali ganti kabinet. Tak mungkin masyarakat adil dan makmur bisa diselenggarakan dengan keadaan yang demikian itu. Maka oleh karena itu saya, saudara­saudara, minta kepada semua partai-partai untuk bersatu padu. Kita menghadapi zaman yang sulit dan zaman vang sulit ini hanya bisa kita atasi kalau kita bcrsatu padu. kalau kita berdiri bulat di helakang Pemerintah yang sekarang ini. Kalau nanti, saudara­saudara, kita sudah mengatasi kesulitan-kesulitan ini, pembangun­an bisa betjalan dengan sehebat-hebatnya, agar supaya cita-cita sosial kita tercapai, agar supaya engkau bisa hidup dalam suasana yang engkau cita-citakan: perumahan layak, makan cukup, san­dang cukup, anak-anak bersekolah, pendek rakyat Indonesia, saudara-saudara, menjadi satu rakyat yang benar hidup di dalam kesejahteraan dan kemakmuran. Janganlah sampai kita mengalami sebagai yang sekarang ini, sebagai dikatakan oleh Ibu Rasunah Said. Malu kita, saudara-saudara, kalau di luar negeri digambarkan Indonesia terpecah-belah, Indonesia lemah, Indonesia cakar­cakaran satu sama lain, bahkan di kalangan bangsa Indonesia ada pengkhianat-pengkhianat, petualang-petualang. Aku di luar negeri, saudara-saudara, merasa terharu benar-benar, dan sebagai kukatakan di dalam pidato 16 Februari yang lalu, tatkala aku baru turun dari kapal udara, aku telah berkata: Semua bangsa yang kukunjungi ikut-ikut mendoa agar supaya Indonesia lekas kuat, lekas kompak, lekas bersatu padu, lekas mempunyai Pemerintah Pusat yang tenaganya bisa menyeleng-garakan rakyat bekerja keras untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Tetapi tidak cukup dengan doanya kawan-kawan. Tidak cukup dengan doanya Nehru, tidak cukup dengan doanya Gamal Nasser. Tidak cukup dengan doanya Tito, dengan doanya Kuatly, dengan doanya Bandara­naike, dengan doanya U Nu, dengan doanya pemimpin-pemimpin di luar negeri. Tidak cukup! Kita sendiri, saudara-saudara, harus menyingsingkan lengan baju kita. Di sini saya selalu mensitir firman Allah s.w.t.: Tuhan Allah tidak merubah nasib sesuatu bangsa, kalau bangsa itu sendiri tidak merubah nasibnya. Seperti didoakan oleh Nehru seribu kali satu hari, seperti didoakan oleh Gamal Nasser seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Soukrv el Kuatly dari Siria seribu kali satu hari, nieskipun di­doakan oleh Marsekal Tito seribu kali sehari, meskipun didoakan olell Bandaranaike dari Kolombo seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh U Nu dari Rangoon seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Presiden Eisenhower seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Worosilov seribu kali satu hari, saudara-saudara, agar supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, kalau bangsa Indonesia sendiri tidak menyelenggarakan, berikhtiar, mernbanting tulang, mengulurkan tenaganya, memeras keringat­nya, agar menjadi bangsa yang kuat, bangsa Indonsia tidak bisa menjadi bangsa yang kuat.

Inilah amanat saya kepada saudara-saudara.

Mari, hai, rakyat Indonesia, mari hai rakyat Bandung, kita bekerja terus, berjalan terus, dengan dasar Proklamasi 17 Agustus 1945, Proklamasi keramat dan kita tidak mengakui proklamasi lain daripada proklamasi yang satu ini, Proklamasi 17 Agustus 1945.

Sekian.

Category: Pidato Bung Karno | Views: 1025 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Pidato Bung Karno, Pancasila | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar