Home » 2015 » July » 27 » Surat Al Maun (Barang Berguna)
8:09 AM
Surat Al Maun (Barang Berguna)

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

Surat Al-Maun ini merupakan salah satu surat yang mengandung penjelasan yang amat penting, karena apa yang hendak disampaikan melalui surat Al-Maun ini adalah hal yang tergolong amat serius. Melalui surat inilah disampaikan kepada manusia tentang definisi dari mendustakan agama. Yang tentunya perkara mendustakan agama itu bukanlah perkara kecil. Ini adalah perkara yang amat-amat besar. Karena sesungguhnya mendustakan agama itu adalah sama saja nilainya dengan tidak beragama.

Dengan memahami pesan-pesan yang disampaikan melalui surat Al-Maun ini, kita akan dapat melihat dengan lebih jernih hakekat dari beragama itu sendiri. Kita akan dapat melihat dengan lebih terang apa yang sesungguhnya menjadi hal pokok dan utama dalam beragama. Pada ayat 1 surat Al-Maun ini diajukan sebuah pertanyaan amat penting kepada kita: “Tahukan kamu (orang) yang mendustakan agama?” Ayat ini hendak menarik perhatian kita untuk sebaik-baiknya memikirkan dan menengok kembali ke diri kita masing-masing, adakah kita telah benar-benar memahami esensi dari beragama itu dan adakah kita telah mengerti bila manakah seseorang dapat disebut telah mendustakan agama?

 

2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,

Di ayat 2 surat Al-Maun inilah dijelaskan salah satu bentuk dari mendustakan agama itu. Yang mana salah satu hal yang dapat menjadi sebuah sebab seseorang dipandang telah mendustakan agama adalah menghardik anak yatim. Jika menghardik anak yatim itu dipandang sebagai sebuah tindakan yang mendustai agama, itu artinya perkara bagaimana kita bersikap terhadap anak yatim ini adalah termasuk perkara besar dan penting di dalam agama. Nah melalui ayat ini dapatlah kita menarik sebuah kesimpulan bahwa maksud utama kehadiran agama sesungguhnya adalah untuk mengatur cara kita umat manusia berurusan satu dengan yang lainnya. Mengatur bagaimana cara kita bersikap dan memperlakukan orang lain. Dan dari ayat tersebut dapat dengan jelas kita tangkap tentang apa yang dikehendaki agama. Agama menghendaki agar kita berlaku adil, berkasih sayang serta agama melarang keras kita untuk berlaku zalim kepada sesama manusia sekalipun orang tersebut adalah orang yang lemah ataupun rendah. Anak yatim yang dimaksud di sini tentu tidaklah terbatas atau berarti hanya orang yang tidak memiliki orang tua saja, melainkan adalah setiap orang yang lemah, yang tidak mempunyai pelindung serta rentan dan mudah untuk dihardik dan dizalimi. Terhadap orang-orang yang lemah ini, yang tidak mempunyai pelindung ini, yang mudah saja untuk dihardik dan dizalimi ini, agama melarang dengan sangat amat keras untuk berlaku tidak adil kepada mereka. Dan tindakan yang merendahkan dan zalim terhadap mereka itu adalah sebuah tidakan yang pandang mendustai agama.

 

3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Senada dengan ayat sebelumnya, ayat 3 surat Al-Maun ini semakin menegaskan pandangan kita tentang hakekat dari agama yang sesungguhnya. Melalui ayat ini jelas sekali buat kita sekarang bahwa inti sari dari agama itu adalah sebuah tata cara hidup yang hadir untuk mengatur agar kesejahteraan dapat menyentuh setiap orang secara merata dan agar setiap orang saling menolong dan menopang satu sama lain. Jelas sekali terlihat bahwa agama itu tumbuh dan berdiri di atas paham bahwa manusia adalah satu kesatuan umat yang hanya dapat mencapai damai sejahteranya ketika mereka saling jaga dan saling pelihara sebagai saudara. Egoisme dan keserakahan hanya akan menggiring umat manusia ke dalam kesengsaraan dan penderitaan. Dalam kehidupan ini tentunya akan selalu saja ada orang-orang yang tidak lebih beruntung dari yang lainnya. Akan ada saja orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Namun sesungguhnya kemiskinan tersebut bukanlah sebuah hal yang sukar untuk diatasi mana kala mereka yang lebih beruntung; mereka yang berkecukupan itu bersedia untuk menyisikan sebahagiaan rezekinya untuk mereka yang kurang beruntung. Kehidupan akan berjalan seimbang dan baik ketika terbentuk sebuah sistem dimana mereka yang kaya bersedia untuk memberi makan bagi mereka yang miskin. Jadi benarlah bahwa memberi makan orang-orang miskin ini adalah merupakan hal yang mempunyai kedudukan amat penting dalam agama. Dan karenanya itulah mengapa ketika seseorang tidak ikut serta melakukan dan menganjurkan hal ini ia dapat disebut telah mendustai agama.

 

4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

Memang terasa agak aneh sambungan ayat 4 surat Al-maun ini dengan ayat-ayat sebelumnya. Dimana ketika membacanya bisa jadi kita merasa seakan-akan apa yang dibahas dalam ayat ini keluar dari topik bahasan ayat-ayat sebelumnya walaupun sesungguhnya tidak demikian. Melalui ayat ini sebenarnya akan semakin diperkuat lagi pemahaman kita tentang sejatinya agama itu. Kita tahu bahwa dalam agama itu ada dua jenis ibadah. Ibadah ritual dan ibadah sosial. Ibadah ritual dan ibadah sosial sebenarnya dapatlah kita katakan dua hal yang saling melengkapi dan saling menopang. Ibadah ritual seperti sholat misalnya, sebenarnya adalah alat dan sarana kita menanamkan nilai-nilai kebaikan ke dalam diri kita serta mengasah rasa kemanusiaan kita. Sholat bukanlah untuk kepentingan Allah karena Allah sesungguhnya tidak membutuhkan puja dan puji dari kita. Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji dan Dia tidak membutuhkan sesuatu apapun dari manusia. Karenanya ketika kita beribadah kepada-Nya; ketika kita memuja-Nya melalui shalat kita, itu sekali lagi bukanlah untuk kepentingan Allah. Harus kita pahami betul bahwa tujuan dari itu adalah untuk menempa pikiran dan perasaan kita agar kita memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan dapat menjadi menusia yang mempunyai manfaat yang baik bagi manusia lainnya. Jadi adalah sebuah kekeliruan yang besar jika ketika kita sholat, kita melakukannya dengan alasan karena menginginkan surga atau karena takut neraka semata dan tanpa sedikitpun maksud untuk mentraning diri kita menjadi manusia yang lebih baik melaluinya. Nah, orang-orang yang seperti inilah yang shalat mereka itu cenderung menjadi sebuah aktifitas yang dan sama sekali tidak memberi nutrisi kepada jiwa mereka. Dan jika demikian adanya maka mereka adalah termasuk orang-orang yang celaka dalam shalatnya.

 

5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

Ayat ini adalah sebuah penjelasan bagi ayat sebelumnya. Dijelaskan melalui ayat ini bahwa mereka yang celaka dalam shalatnya itu adalah mereka yang lalai dari shalatnya itu. Dan sebagaimana telah dijelaskan di atas, akan menjadi celaka kita jika shalat yang kita lakukan hanyalah menjadi sebuah aktifitas kosong belaka. Oleh karenanya itu adalah sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa praktek beragama yang sesungguhnya bukanlah sebatas pada ritual-ritual. Praktek agama yang sesunguhnya adalah dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Ritual adalah alat untuk melatih kita menjadi manusia yang lebih baik agar dalam kehidupan sosial bermasyarakat, kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Jika kegiatan ibadah yang kita lakukan hanyalah berhenti pada ritual-ritual saja, maka menjadi tidak bergunalah ritual-ritual itu. Jadi jalankanlah ritual-ritual keagamaan kita dengan sebaik-baiknya dalam kesadaran bahwa pelaksanaan ritual yang kita lakukan adalah untuk kepentingan diri kita sendiri dan bukan untuk kepentingan Allah. Asalah melalui ritual-ritual tersebut rasa belas kasih yang kita miliki dan rasa kemanusiaan yang kita punya. Hormatilah anak yatim dan cintailah orang miskin serta berlaku adilah kepada setiap manusia yang dengan itu maka ibadah kita, shalat kita, menjadi genap dan utuh. Dimana nilai-nilai kebaikan di dalam shalat dan ibadah kita terimplementasikan dengan baik dalam praktek kehidupan sosial bermasyarakat kita. Janganlah sekali-kali kita termasuk orang-orang yang celaka dalam shalatnya.

 

6. orang-orang yang berbuat riya,

Ayat ini juga masih merupakan sambungan penjelasan dari ayat 4 tentang orang-orang yang celaka dalam shalatnya. Dimana ditambahkan melalui ayat ini bahwa orang-orang yang celaka dalam shalatnya itu bukan saja orang-orang yang lalai dari shalatnya akan tetapi termasuk juga orang yang berbuat riya. Orang-orang yang berbuat riya ini adalah orang-orang yang salah kaprah dalam menjalani kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang hidup dalam kepalsuan dan hanya mementingkan kulit serta hal-hal luarannya saja ketimbang mementingkan yang isi atau hal-hal yang hakekat. Jika ia shalat, shalatnya pun hanya menjadi ritual-ritual kosong tanpa arti. Jika ia beribadah, ibadahnya pun hanya untuk menyenangkan egonya saja dan untuk mencari pengakuan dari orang lain. Jika ia berbuat baik kepada orang lain, berbuat baiknya pun tidaklah tulus karena Allah melainkan disertai maksud-maksud dan tujuan tertentu. Orang-orang yang seperti ini adalah juga termasuk orang-orang yang celaka dalam shalatnya. Celaka dalam segala apa yang diperbuatnya. Orang yang seperti ini sama sekali tidaklah memahami hakekat dari agama. Mereka belumlah dapat melihat bahwa agama adalah jalan bagi setiap orang untuk mencapai Cinta dan Keridhaan Allah dengan jalan berbuat baik kepada sesama manusia. Tidaklah akan pernah seseorang dapat mencapai Cinta dan Keridhaan-Nya tanpa melalui berbuat baik kepada sesama manusia, dan tidak akan pernah dipandang baik perbuatan baik seseorang jika apa yang dilakukan itu bukan karena untuk Cinta dan Keridhaan Allah semata.

 

7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Melalui ayat terakhir dari surat Al-Maun ini dilengkapilah keterangan dengan penjelasan bahwa ketika seseorang bersikap enggan untuk menolong dengan barang yang berguna; enggan untuk turut serta berkontribusi dengan sesuatu yang bermanfaat yang dimilikinya, maka ia termasuk orang-orang yang celaka dalam shalatnya. Tentu telah jelas nyata buat kita dalam penjelasan-penjelasan di atas bahwa sesungguhnya agama menghendaki agar kita menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Agama menghendaki kita untuk turut serta berkontribusi dalam pelayanan kepada sesama manusia. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Thabrani ada dikatakan bahwa “sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain” dan apa yang disampaikan oleh hadist tersebut sangatlah selaras sekali dengan apa yang dijelaskan oleh surat Al-Maun ini. Itulah sebenarnya inti sari dari beragama itu. Itu sebenarnya tujuan pokok kita beragama itu. Menjadi orang yang bermanfaat buat orang lain. Karenanya, jika jiwa kita masih terbelenggu oleh sikap enggan untuk menolong dengan hal-hal yang berguna, sesungguhnya kita masilah termasuk orang-orang yang mendustai agama. Dan jika demikian, akan menjadi percumalah segala shalat dan ritual-ritual yang kita lakukan karenanya.

Category: Nasionalisme dan Agama | Views: 926 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Agama, kemanusiaan | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar