Home » 2017 » July » 5 » Prolog
4:23 PM
Prolog

“Islam yang kita catut dari kalam Ilahi dan sunnah bukan apinya, bukan nyalanya, tapi abunya, debunya... Ach, yaa asapnya, abunya yang berupa celak mata dan surban, abunya yang bisanya cuma baca fatihah dan tahlil, bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung zaman satu ke ujung zaman yang lain”   (Soekarno 1940)
 

Jika ada dikatakan bahwa Islam adalah agama sejati dan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, ya tentu saja kita percaya akan hal itu. Islam memanglah agama yang kekal yang apinya akan terus menyala dan menyala dari ujung zaman ke ujung zaman. Hanya saja yang jadi masalah adalah banyak dari kita yang sering keliru dalam memahami sejatinya Islam.

Sering kali kita hanya mengenal bagian-bagian luarnya saja dari Islam itu. Kita tidak jarang luput memperhatikan bahwa Islam sesungguhnya hadir untuk mewujudkan damai, bahwa Islam adalah agama kasih sayang, bahwa Islam amat menjunjung tinggi perikemanusiaan dan perikeadilan dan bahwa Islam datang untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Kepada api Islam yang membawa terang dan damai itulah kita sering kali abai. Keenganan kita untuk membaca dan meneliti menggunakan akal dan hati sering kali membawa kita kepada pemahaman yang dangkal tentang Islam itu sendiri.

Memahami Islam dengan baik dan benar sangatlah penting artinya bagi kita yang hidup di zaman yang berbeda dari zaman ketika Islam datang mula-mula. Dan dengan kondisi dimana umat Islam hadir sebagai umat mayoritas di negeri Indonesia ini, tentu saja kegagalan kita untuk memahami Islam secara baik dan benar dapat membawa bencana besar bagi keutuhan dan kelangsungan bangsa. Persatuan dan kesatuan bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan umat Islam untuk bergandengan tangan dan kesiapannya untuk menjadi saudara sebangsa dengan umat-umat agama lainnya di dalam kesetaraan atas nama kemanusiaan.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan”. Kata-kata ini sesunguhnya mengandung isyarat bahwa tidak ada satu alasan pun bagi manusia untuk tidak menjadi saudara. Karena toh setiap manusia adalah ciptaan dari Tuhan yang sama yang ditiupkan dalam jiwanya rasa kemanusiaan yang sama.

Dalam sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia hingga hari ini, kita mendapati banyak sekali kisah perselisihan dan perbedaan pandangan antara golongan Islam dan golongan Kebangsaan. Hal ini tentu menimbulkan tanya pada diri banyak orang. Apakah memang sebenarnya paham Islam itu bertentangan dengan paham kebangsaan? Ataukah semua itu hanyalah pertanda dari kedangkalan kita yang belum dapat memahami bahwa paham kebangsaan sebenarnya adalah jalan terbaik untuk menjelmakan terang cahaya Islam di zaman baru ini?

Kinilah waktunya bagi kita untuk secara bersama-sama dengan segenap hati bersungguh-sungguh mengkaji dan meneliti hubungan kodrati atara Islam dan kebangsaan. Agar dengan itu kemudian kita dapat melihat betapa sesungguhnya ajaran Islam dan ajaran kebangsaan itu adalah dua hal yang selaras dan sejalan.

Tercapainya singkronisasi dan harmoni antara Islam dan kebangsaan tentu saja menjadi sebuah perkara besar bagi kita agar tidaklah perselisihan antara golongan Islam dan golongan kebangsaan yang telah berlangsung di sepajang perjalanan bangsa ini terus berlajut dan berkepanjangan. Karena jika singkronisasi dan harmoni tersebut tidak juga dapat terjadi, maka bangsa ini tidak akan pernah juga dapat sampai pada tergenapinya cita-cita berbangsa dan bernegaranya secara sempurna.

Untuk dapat melihat dan memahami bahwa Islam dan kebangsaan sesungguhnya selaras dan sejalan adanya, memang kita perlu untuk menelaah melintasi zaman demi zaman dalam peradaban umat manusia dan tidak hanya membatasi telaah kita pada satu dua era saja. Kita perlu melihat bagaimana Islam berjalan sejak zaman Adam dan bertransformasi lagi dan lagi di setiap zamannya untuk mencapai singkronisasi dengan zaman dimana ia hadir dan berdiri.

Perlu juga kita mengkaji bagaimana para nabi hadir membangun Islam yang secara rupa mungkin akan nampak berbeda-beda adanya, akan tetapi kita tahu dengan pasti bahwa ajaran Islam yang dibawa para nabi dari zaman ke zaman itu adalah satu dan sama. Di sinilah kita perlu untuk teliti mencermati agar kita tidak terjebak dalam ketidak-kekalan rupa Islam dan agar kita dapat dengan tepat melihat dan menemukan esensi Islam yang bersifat abadi dan fitrati.

Untuk dapat memahami esensi Islam yang bersifat abadi dan kodrati sering kali bahkan kita pun dituntut untuk tidak membatasi diri dan bersedia pula mengkaji agama-agama lain yang ada di atas bumi ini. Karena toh tentu saja atas kehendak Allah jua agama-agama lainnya itu lahir dan tetap ada sampai dengan saat ini. Kemauan atau bahkan kalau boleh dibilang keberanian kita untuk mengkaji agama lain di luar Islam akan sangat berpengaruh pada keberhasilan kita untuk menemukan esensi dari Islam itu sendiri.

Dan jika kita berbicara tentang ahlak Islam tentu saja acuan ideal kita untuk memahami penjelmaan sejati dari ahlak Islam secara personal adalah ahlak dari pada Rasulullah Muhammad SAW. Dengan itu menjadi mudah saja bagi kita untuk menilai siapa orang-orang yang benar-benar menjalankan Islam dengan benar dan siapa yang sebenarnya hanya berkedokan Islam untuk mencari tenar.

Sangat disayangkan tentunya ketika hari ini kita banyak menyaksikan orang-orang yang mengenakan gelar-gelar keislaman yang sakral di mata umat namun justru menunjukkan perilaku yang tidak sejalan dengan akhlak Islam itu sendiri. Seakan mereka tidak pernah tahu seperti apa Rasulullah memberi tauladan. Mereka inilah orang-orang yang amat rentan menjerumuskan umat yang tidak mengenal sejatinya Islam.

Mengenal sejatinya Islam dan memahami dengan baik ahlak nabi akan sangat membantu kita untuk mengerti seperti apa implementasi Islam yang hakiki dalam realitas kehidupan hari ini. Hal ini juga dapat menjaga kita dari tertipu oleh bualan-bualan kepalsuan orang-orang yang memakai gelar-gelar dan atribut-atribut Islam hanya untuk memuluskan agenda dan kepentingan kelompok atau pribadinya sendiri saja.

Satu kajian yang juga tidak boleh kita lewatkan untuk dapat mengerti hubungan erat antara paham Islam dan paham Kebangsaan adalah Piagam Madinah. Piagam Madinah dapat kita katakan salah satu peninggalan Islam dan peninggalan Muhammad yang sangat penting dan sentral bagi kita untuk dapat memahami bagaimana bentuk ideal implementasi Islam Rahmatan Lil alamin itu. Dari Piagam Madinah inilah kita dapat melihat bagaimana Islam dan Kebangsaan berpadu.

Dan bahwa rupanya jika kita perhatikan, wujud tatanan Islam sebagai pengejawantahan dari ajaran-ajaran Islam pun terus berganti dan berubah di sepanjang peradabannya. Tatatan Islam pernah terejawantah dalam wujud tatanan sebuah keluarga semisal di zaman Adam, pernah terejawantah dalam wujud tatanan suku seperti di zaman Musa dan bahkan pernah juga terejawantah dalam wujud tatanan negara bangsa sebagaimana kita dapati dalam tatanan Madinah di masa Rasulullah.

Apakah Adam, Musa, Daud dan Muhammad juga adalah seorang khalifah? Ya, mereka semua juga adalah seorang khalifah. Apakah tatanan Islam yang dibangun Adam, Musa, Daud dan Muhammad juga adalah sebuah khilafah? Ya, tatanan Islam yang mereka bangun itu juga merupakan sebuah khilafah. Maka hendaklah mereka yang bersikeras hendak mendirikan khilafah benar-benar memastikan diri memahami apa makna dari khalifah dan khilafah itu.

Isu lainnya yang juga penting untuk kita perhatikan adalah kesalahankaprahan pemaknaan istilah ‘iman’ dan ‘kafir’. Penggunaan kedua istilah yang berasal dari serapan bahasa Arab ini sering kali digunakan secara keliru dan rancu. Tentu akan lebih mudah bagi kita untuk menangkap makna dari iman dan kafir jika menggunakan bahasa asli kita sendiri. Percaya dan ingkar adalah istilah yang rupanya mempunyai rasa bahasa yang tidak menjebak kita kepada mengkafirkan orang cuma lantaran lebel agamanya.

Category: Islam Kebangsaan | Views: 118 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam Kebangsaan, islam, Kebangsaan, Nasionalisme, Agama | Rating: 1.0/1
Total comments: 0
avatar