Home » 2015 » October » 29 » Piagam Madinah dan Pancasila
2:46 PM
Piagam Madinah dan Pancasila

Melalui Piagam Madinah inilah kita dapat melihat dan mengenal wajah dan jiwa Islam yang cinta damai dan toleran itu. Islam yang rahmatan lil'alamin itu. Islam yang senantiasa mengedepankan persatuan dan persaudaraan itu. Islam yang yang menjunjung tinggi keadilan dan memperlakukan setiap orang setara dihadapan hukum itu. Islam yang menjaga si miskin, melindungi yang lemah dan membela mereka yang teraniaya itu. Islam yang selalu siap untuk hidup berdampingan secara harmonis dan berkeadilan sosial dengan segala kelompok yang berbeda-beda itu.

Dan melalui Piagama Madinah ini pula kita dapat melihat betapa selarasnya cita-cita dan semangat Piagam Madinah ini dengan cita-cita dan semangat-nya konstitusi Bangsa Indonesia yang hendak mewujudkan kehidupan ber-BHINEKA TUNGGAL IKA melalui PANCASILA yang menjungjung tinggi KEMERDEKAAN, PERDAMAIAN ABADI dan KEADILAN SOSIAL.

Piagam Madinah ini adalah contoh dari bagaimana syariat Islam itu diimplementasikan dan ditegak dalam kehidupan.
-----------------------------------------------------------------------------------

PIAGAM MADINAH

Mukaddimah

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah Piagam tertulis dari Nabi Muhammad SAW. Di kalangan orang orang beriman dan memeluk Islam (yang berasal dari Quraisy dan Yasrib), dan orang-orang yang mengikuti mereka, mempersatukan diri dan berjuang bersama mereka.

Pembentukan Ummat (Negara)

Pasal 1
Sesungguhnya mereka (kaum Muhajirin dari Makkah, kaum Anshar dari Madinah dan kaum yang menggabungkan diri dengan mereka dalam wilayah Madinah) satu bangsa-negara (ummat), bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia.

Hak Asasi Setiap Golongan

Pasal 2
Kaum Muhajirin dari Quraisy tetap mempunyai hak asli mereka, saling tanggung menanggung, membayar dan menerima uang tebusan darah (diyat) karena suatu pembunuhan dengan cara yang baik dan adil diantara orang-orang beriman.

Pasal 3
Bani Auf tetap berpegang atas hak hak asli mereka, dan tanggung menanggung membayar uang tebusan (diyat) diantara mereka karena suatu pembunuhan. Dan setiap keluarga (tho’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.

Pasal 4
Bani Sa’idah tetap berpegang atas hak hak asli mereka, dan tanggung menanggung membayar uang tebusan (diyat) diantara mereka karena suatu pembunuhan. Dan setiap keluarga (tho’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.

Pasal 5
Bani Al-Hars tetap berpegang atas hak hak asli mereka, dan tanggung menanggung membayar uang tebusan (diyat) diantara mereka karena suatu pembunuhan. Dan setiap keluarga (tho’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.

Pasal 6
Bani Jusyam tetap berpegang atas hak hak asli mereka, dan tanggung menanggung membayar uang tebusan (diyat) diantara mereka karena suatu pembunuhan. Dan setiap keluarga (tho’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.

Pasal 7
Bani An-Najjar tetap berpegang atas hak hak asli mereka, dan tanggung menanggung membayar uang tebusan (diyat) diantara mereka karena suatu pembunuhan. Dan setiap keluarga (tho’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.

Pasal 8
Bani ‘Amr bin ‘Awf tetap berpegang atas hak hak asli mereka, dan tanggung menanggung membayar uang tebusan (diyat) diantara mereka karena suatu pembunuhan. Dan setiap keluarga (tho’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.

Pasal 9
Bani Al-Nabit tetap berpegang atas hak hak asli mereka, dan tanggung menanggung membayar uang tebusan (diyat) diantara mereka karena suatu pembunuhan. Dan setiap keluarga (tho’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.

Pasal 10
Bani Al-Aws tetap berpegang atas hak hak asli mereka, dan tanggung menanggung membayar uang tebusan (diyat) diantara mereka karena suatu pembunuhan. Dan setiap keluarga (tho’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.

Persatuan Orang-orang Beriman

Pasal 11
Sesungguhnya orang-orang beriman tidak akan melalaikan tanggung jawabnya untuk memberi sumbangan bagi orang-orang berhutang, karena membayar uang tebusan darah dengan secara baik dan adil dikalangan orang-orang beriman.

Pasal 12
Tidak seorangpun dari orang-orang beriman dibolehkan membuat persekutuan dengan teman sekutu dari orang yang beriman lainya, tanpa persetujuan lebih dahulu dari padanya.

Pasal 13
A. Setiap orang-orang yang beriman yang bertaqwa harus menentang setiap orang yang berbuat kesalahan, melanggar ketertiban, penipuan, permusuhan atau pengacauan di kalangan masyarakat orang-orang beriman.
B. Kebulatan persatuan mereka terhadap orang2 yang bersalah merupakan tangan yang satu, walaupun terhadap anak-anak mereka.

Pasal 14
A. Tidak diperkenankan seseorang yang beriman membunuh seorang beriman lainnya karena lantaran seorang yang tidak beriman.
B. Tidak pula diperkenankan seorang yang beriman membantu seorang yang kafir untuk melawan seorang beriman lainnya.

Pasal 15
A. Jaminan Allah adalah satu dan merata, melindungi nasib orang-orang yang lemah.
B. Segenap orang-orang yang beriman harus jamin menjamin dan setia kawan sesama mereka dari pada gangguan manusia lainnya.

Persatuan Segenap Warga Negara

Pasal 16
Bahwa sesungguhnya kaum-bangsa Yahudi yang setia kepada Negara, berhak mendapatkan bantuan dan perlindungan, tidak boleh dikurangi haknya dan tidak boleh di asingkan dari pergaulan umum.

Pasal 17
A. Perdamaian dari orang-orang beriman adalah satu.
B. Tidak diperkenankan segolongan orang-orang yang beriman membuat perjanjian tanpa ikut sertanya segolongan lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Tuhan, kecuali atas dasar persamaan dan adil diantara mereka.

Pasal 18
Setiap penyerangan yang dilakukan terhadap kita, merupakan tantangan terhadap semuanya yang harus memperkuat persatuan antara segenap golongan.

Pasal 19
A. Setiap orang-orang yang beriman harus memberikan pembelaan atas tiap-tiap darah yang tertumpah di jalan Allah.
B. Setiap orang beriman yang bertaqwa harus berteguh hati atas jalan yang baik dan kuat.

Pasal 20
A. Perlidungan yang diberikan oleh seorang yang tidak beriman (musyrik) terhadap harta dan jiwa seorang musuh Quraisy, tidaklah diakui.
B. Campur tangan apapun tidaklah diijinkan atas kerugian seorang beriman.

Pasal 21
A. Barang siapa yang membunuh akan seorang yang beriman dengan cukup bukti atas perbuatannya harus dihukum bunuh atasnya, kecuali (keluarga yang berhak) dari si terbunuh bersedia dan rela menerima ganti kerugian (diyat).
B. Segenap warga yang beriman harus bulat bersatu mengutuk perbuatan itu, dan tidak diijinkan selain dari pada menghukum kejahatan itu.

Pasal 22
A. Tidak dibenarkan setiap orang yang mengakui piagam ini dan percaya kepada Allah dan hari akhir, akan membantu orang-orang yang salah dan memberikan tempat kediaman baginya.
B. Siapa yang memberikan tempat tinggal bagi penghianat Negara atau orang-orang yang salah, akan mendapatkan kutukan dan kemurkaan Tuhan di hari kiamat nanti, dan tidak diterima segala pengakuan dan kesaksiannya.

Pasal 23
Apabila timbul perbedaan pendapat diantara kamu dalam suatu soal, maka kembalikanlah penyelesaiannya kepada hukum Tuhan dan keputusan Nabi Muhammad SAW.

Golongan Minoritas

Pasal 24
Warga Negara dari golongan Yahudi memikul bersama sama dengan kaum beriman selama Negara dalam peperangan.

Pasal 25
A. Kaum Yahudi dari suku ‘Auf adalah satu bangsa-negara dengan warga Negara beriman.
B. Kaum Yahudi bebas memeluk agama mereka, sebagai kaum Muslimin bebas memeluk agama mereka.
C. Kebebasan ini berlaku juga terhadap pengikut-pengikut/sekutu-sekutu mereka, dan diri mereka sendiri.
D. Kecuali kalau ada yang mengacau dan berbuat kejahatan, maka ganjaran dari perbuatannya itu menimpa diri orang yang bersangkutan dan keluarganya.

Pasal 26
Kaum Yahudi Bani Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi bani ‘Auf.

Pasal 27
Kaum Yahudi Bani Harts diperlakukan sama seperti Yahudi bani ‘Auf.

Pasal 28
Kaum Yahudi Bani Sa’idah diperlakukan sama seperti Yahudi bani ‘Auf.

Pasal 29
Kaum Yahudi Bani Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi bani ‘Auf.

Pasal 30
Kaum Yahudi Bani Al’Aws diperlakukan sama seperti Yahudi bani ‘Auf.

Pasal 31
Kaum Yahudi Bani Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi bani ‘Auf.

Pasal 32
Kaum Yahudi Bani Jafnah dari Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi bani ‘Auf.

Pasal 33
Kaum Yahudi Bani Syutaibah diperlakukan sama seperti Yahudi bani ‘Auf.

Pasal 34
Suku-suku Sa’labah diperlakukan sama seperti mereka (Bani Sa’labah).

Pasal 35
Segala pegawai-pegawai dan kerabat kaum Yahudi, diperlakukan sama seperti kaum Yahudi lainnya.

Tugas Warga Negara

Pasal 36
A. Tidak seorangpun diperbolehkan bertindak keluar, tanpa ijinnya Muhammad SAW.
B. Seorang warga Negara dapat membalaskan kejahatan luka yang dilakukan orang kepadanya.
C. Siapa yang berbuat kejahatan, maka ganjaran kejahatan itu menimpa dirinya dan keluarganya, kecuali untuk membela diri.
D. Allah melindungi akan orang-orang yang setia pada piagam ini.

Pasal 37
A. Kaum Yahudi memikul biaya Negara sebagaimana halnya kaum Muslimin memikul biaya Negara.
B. Diantara segenap warga Negara (kaum Yahudi-Muslim), terjalin pembelaan untuk menentang setiap musuh Negara yang memerangi setiap peserta dari piagam ini.
C. Diantara mereka harus terdapat saling nasehat menasehati dan berbuat kebajikan dan menjauhi segala dosa.
D. Seorang warga Negara tidaklah dianggap bersalah, karena kesalahan yang dibuat sahabat atau sekutunya.
E. Pertolongan, pembelaan, dan bantuan harus diberikan kepada orang atau golongan yang teraniaya.

Pasal 38
Warga Negara kaum Yahudi memikul biaya bersama-sama warga Negara yang beriman, selama peperangan masih terjadi.

Melindungi Negara

Pasal 39
Sesungguhnya kota Yasrib (Madinah): Ibu Kota Negara, tidak boleh dilanggar kehormatannya oleh setiap peserta piagam ini.

Pasal 40
Segala tetangga yang berdampingan rumah, harus diperlakukan sebagai diri sendiri, tidak boleh diganggu ketentramannya, dan tidak diperlakukan salah.

Pasal 41
Tidak seorangpun tetangga wanita boleh diganggu ketentraman atau kehormatannya, melainkan setiap kunjungan harus dengan ijin suaminya.

Pimpinan Negara

Pasal 42
A. Tidak boleh terjadi suatu peristiwa diantara peserta piagam ini atau terjadi pertengkaran, melainkan segera dilaporkan dan diserahkan penyelesaiannya menurut hukum Tuhan dan kebijaksanaan utusanNYA : Muhammad SAW.
B. Allah berpegang teguh kepada piagam ini dan orang-orang yang setia padanya.

Pasal 43
Sesungguhnya musuh (kaum Quraisy) tidak boleh dilindungi, begitu juga segala orang yang membantu mereka.

Pasal 44
Di kalangan warga Negara sudah terikat janji pertahanan bersama untuk menentang setiap agresor yang menyergap Kota Yasrib (Madinah)

Politik Perdamaian

Pasal 45
A. Apabila mereka diajak kepada perdamaian dan membuat perjanjian damai, mereka tetap sedia untuk berdamai dan membuat perjanjian damai.
B. Setiap kali ajakan perdamaian seperti demikian, sesungguhnya kaum yang beriman harus melakukannya, kecuali terhadap orang atau Negara yang menunjukan permusuhan terhadap agama.
C. Kewajiban atas warga Negara mengambil bahagian dari pihak mereka untuk perdamaian itu.

Pasal 46
A. Dan sesungguhnya kaum Yahudi dari Aws dan segala sekutu dan simpatisan mereka, mempunyai kewajiban yang sama dengan segala peserta piagam untuk kebaikan (Perdamaian) itu.
B. Sesungguhnya kebaikan (perdamaian) dapat menghilangkan segala kesalahan.

Penutup
Pasal 47
A. Setiap warga Negara yang berusaha, segala usahanya adalah atas dirinya.
B. Sesungguhnya Allah menyertai akan segala peserta piagam ini, yang menjalankannya dengan jujur dan sebaik baiknya.
C. Sesungguhnya tidaklah boleh piagam ini dipergunakan untuk melindungi orang-orang yang dholim dan bersalah.
D. Sesungguhnya mulai saat ini, orang-orang yang bepergian (keluar) adalah aman.
E. Dan orang yang menetap adalah aman pula, kecuali orang-rang yang dholim dan berbuat salah.
F. Sesungguhnya Allah melindungi orang (warga Negara) yang baik dan bersikap taqwa (waspada).
G. Dan akhirnya, Muhammad adalah utusan Allah, semoga Allah mencurahkan sholawat dan kesejahteraan atasnya.

Category: Nasionalisme dan Agama | Views: 850 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Pancasila, Piagam Madinah | Rating: 1.5/2
Total comments: 0
avatar