Home » 2015 » November » 13 » PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA I - Page 2/2
1:30 PM
PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA I - Page 2/2

Dus, saudara-saudara, jelas, gerakan India adalah satu gerak­an yang sebenarnya daripada kaum pertengahan dan kaum bor­juasi yang timbul dengan mempergunakan rakyat jelata. Ada baiknya saya di sini menerangkan kepada saudara hal kenapa gerakan India itu tidak mempergunakan kekerasan? Memang saudara-saudara, situasinya lain daripada kita. Kita mempergu­nakan kekerasan, mengadakan physical revolution, karena kita pada bulan Agustus menghadapi imperialisme yang hendak kem­bali, dan pada waktu itu ada kesempatan baik sekali untuk meram­pas senjata dari tangan Jepang. Bahkan di waktu pendudukan Jepang, dan tidak boleh saudara-saudara lupakan, kita tiga sete­ngah tahun mendapat mendapat kesempatan baik untuk melatih kita punya diri mempergunakan senjata. Di India tidak. Kesem­patan yang sedemikian itu tidak ada, bahkan sekali lagi Gandhi keluar dengan ia punya falsafah, yang bukan saja menentang devils-work yang berupa mesin, berupa segala hal yang modern, tetapi juga menentang penggunaan kekerasan. Ia punya falsafah ialah apa yang dinamakan Ahimsya, tidak boleh mempergunakan kekerasan dan bikin saja kekerasan pisik. Bahkan mempergunakan kekerasan batin juga tidak boleh. Jangan menyakiti hati orang lain, begitu pula jangan menyakiti badan orang lain. Ahimsya! Yang di dalam pemunculan bidang politiknya, berupa gerakan Satyagraha, ekonomis bikin barang sendiri, jangan beli barang Inggris, ekono­mis. Bidang politik-nya, yang keluar daripada falsafah Ahimsya ini, ialah Satyagraha. Satyagraha artinya setia kepada kebenaran. Bagaimana setia kepada kebenaran? Tidak mau ikut atau mem­bantu kepada yang salah. Tidak mau ikut tidak mau membantu kepada yang salah, dus, di dalam bidang politiknya jangan kerjasama dengan pihak Inggris, sebab pihak Inggris itu salah.

Dus, non cooperation. Lha ini perkataan yang termasyhur, non cooperation. Jangan kerjasama dengan pihak yang salah. Mau jadi ambtenar Inggris keluarlah, letakkan kau punya jabatan. Dan kalau engkau tetap jadi ambtenar Inggris, engkau ikut juga punya ke­salahan. Jangan menjadi hakim di kehakiman Inggris, jangan menjadi guru di sekolahan Inggris, jangan menjadi anggota dari sesuatu dewan yang dibikin oleh Inggris. Satyagraha dan sekali­kali jangan memperguna-kan kekerasan, membandellah, ham­balela. Membandel, jangan ikut, jangan mau dan jikalau kau ditangkap, ya sudah. Biarlah, masuk di dalam penjara, biarlah, jangan melawan. Dipukuli polisi-polisi di sana itu, pada zaman itu sama dengan polisi Belanda di sini, mem-punyai pentung, yang namanya lathi, meskipun engkau punya kepala hampir pecah kena pukulan lathi, jangan membantah, membandellah, hambalela. Beribu-ribu, berpuluh-puluh ribu, pada satu saat, 76.000 kaum gerakan Satyagraha ini dimasukkan di dalam penjara. Itu adalah bidang politiknya, non cooperation. Bidang ekonomisnya, swa­desi.

Nah, begitulah asal mulanya gerakan India, oleh karena meng­hadapi handels-imperialisme. Kita bagaimana? Kita sekarang mu­lai menguraikan kita sendiri. Persatuan daripada tiap golongan, sedang di India kaum pertengahan dan kaum borjuis yang merasa mendapat saingan dan pukulan hebat daripada impor handels­imperialisme, yang menentang kepada handels- imperialisme Ing­gris ini, dengan mempergunakan rakyat India agar rakyat India tidak mau membeli barang-barang bikinan Inggris, swadesi, satya­graha, memang akhirnya berhasil. Pihak imperialisme Inggris kewalahan dan pada tahun 1947, India diberi kemerdekaan yang mempunyai Dominion-Status dan di dalam tahun 1950 tanggal 26 Januari oleh rakyat India Dominion Status ini diganti dengan Republik India, tetapi masih di dalam Commonwealth. Indonesia bagaimana? Indonesia tidak menghadapi hanya handels-imperial­isme. Apa sebabnya? Sebabnya ialah negeri Belanda adalah satu negeri yang miskin, yang kekurangan basis grondstoffen. Saudara­ saudara tahu sejarah daripada imperialisme Belanda di Indonesia. Mula-mula, dan kalau saudara membaca “Indonesia Menggugat”, mula-mula orang Belanda itu datang di sini sekadar untuk membeli barang-barang seperti cengkeh, pala, beli ini beli itu, hasil-hasil pertanian di sini. Kalau ditinjau sejarah yang lebih tua, begini: dulu, di abad XV, XVI, orang Eropa sudah mengenal cengkeh, pala, sutera bikinan Tiongkok dan sebagainya. Tetapi barang­barang ini pala, cengkeh, sutera bikinan Tiongkok ada juga cat merah dan lain-lain sebagainya, didatangkan ke Eropa ini tidak seperti sekarang. Jalannya dulu ialah barang-barang dari Indone­sia, pala, cengkeh, barang-barang dari India, barang-barang dari Tiongkok dan lain-lain sebagainya, semuanya boleh dikatakan dikumpulkan di Tiongkok lebih dulu. Dari Tiongkok lalu melalui ialan jalan karavan, kafilah-kafilah, melalui Sentral Asia, Asia Tengah, padang pasir Gobi, muncul di Midden Oosten, Middle East, yaitu di Libanon. Dari situ di bawa ke kota di sebelah laut Adriatic, Venesia. Dari kota Venesia diambil oleh perahu-perahu, kapal-kapal pedagang dari Inggris, dari Belanda, dari negeri­negeri lain-lain, dus, pada waktu itu, Venesia adalah satu kota transito. Barang-barang dari Tiongkok melalui Sentral Asia, pergi ke Libanon ke Venesia, dari Venesia disebarkan ke Eropa Barat. Pada waktu itulah Venesia naik dia punya kedudukan. Pada waktu itu Istana-istana di Venesia yang indah, yang sampai sekarang menjadi kekaguman orang, dibuat. Kalau saudara datang ke Ve­nesia sekarang, saudara melihat Istana dari marmer, itu buatan zaman itu. Gereja San Marco buatan dari zaman itu. Istana Togen, buatan dari zaman itu. Abad XIV, XV, XVI, dan belakangan ini tukang mengambil cengkeh, pala dan lain-lainnya itu, mempunyai hasrat untuk mencari sendiri jalan pengambilan barang-barang ini. Lantas dikirimlah orang-orang untuk mencari jalan. Saudara tahu sejarah Vasco de Gama, Bartolomeus Diaz, sejarahnya Cornelis de Houtman dan lain-lain itu, mereka itu mencari jalan ke tempat cengkeh, pala, merica, sutera ini. Mencarinya jalan ada yang ke Barat terus dan dia terdampar di Amerika yaitu Columbus, dan dia bertepuk dada, merasa menemukan Amerika. Padahal tidak. Lebih dulu daripada Columbus ialah Amerigo Vesvucci yang mene­mukan Amerika, – kalau boleh memakai perkataan menemukan, – sebagian ke Barat, sebagian dari negeri Belanda dan Spanyol, mengelilingi Tanjung Harapan, ujung paling selatan dari Afrika, masuk Lautan Hindia, ketemulah tempat-tempat merica dan cengkeh itu. Nah, dus, bisa ketemu jalan ini, saudara-saudara, – belum ada terusan Suez, – datanglah apa yang di dalam kitab saya, saya namakan imperialisme Belanda kuna.

Dus, sekadar mengambil bahan-bahan ini tadi, mengambil cengkeh, merica, pala dan lain-lain sebagainya, dibawa ke Eropa, melewati Tanjung Harapan, dibawa ke Eropa, dijual di Eropa dengan banyak laba. Di situ negeri Belanda mulai naik, sehingga pada abad XVII negeri Belanda mengalami abad keemasan. Orang Belanda sendiri menamakan abad XVII itu de gouden eeuw. Yaitu laba daripada pengambilan sini, pulang dijual, berangkat lagi, pulang, jual. Nah, uang laba ini, saudara-saudara, sebetulnya bertumpuk-tumpuk. Dibawa kemana uang laba ini? Apakah op potten, dicelengi terus, di negeri Belanda? Tidak. Terutama sekali kelihatan di Inggeris kapitalisme timbul, di Jerman kapitalisme timbul, uang ini dibawa ke Indonesia kembali, dan ditanamkan di Indonesia. Inilah asal mula daripada imperialisme Belanda mo­dern di Indonesia. Uang ditanamkan di Indonesia dalam pelbagai obyek. Ada yang dijadikan pabrik gula, ada yang kebun-kebun teh, ada yang kebun-kebun karet, ada yang dijadikan tempat pertam­bangan dan sebagainya. Dus, imperialisme modern di Indonesia adalah imperialisme penanaman uang. Di dalam ilmu ekonomi uang yang demikian ini dinamakan finanz kapital. Dus imperial­isme Belanda di Indonesia adalah imperialismenya finanz kapital. Indonesia oleh imperialisme finanz kapital ini dijadikan tempat pengambilan basis grondstoffen untuk kapitalisme di negeri Be­landa. Uang ditanamkan di sini, misalnya di dalam kebun karet atau dalam kebun kelapa sawit dan sebagainya. Ini kelapa sawit atau karet, ini menjadi basis grondstoffen. Misalnya minyak kelapa sawit dibawa ke negeri Belanda, minyak ini menjadi salah satu basis grondstof untuk pabrik sabun dan lain-lain sebagainya. Hasil daripada produksi ini dengan bahan kelapa sawit, dibawa lagi ke Indonesia, dijual di Indonesia. Jadi akhirnya menjadi tempat pengambilan bahan-bahan untuk kapitalisme di negeri Belanda, juga menjadi tempat-tempat penjualan produksi di negeri Belanda itu. Tetapi yang paling mendalam di dalam peri-kehidupan kita, ialah terutama sekali penanaman modal. Di sini dibangunkan perkebunan, industri-industri tetapi semuanya perkebunan-perke­bunan dan industri-industri imperialisme, dengan uang ini tadi, finanz kapital. Nah, agar supaya perkebun-an atau industri-industri itu tadi bisa berjalan dengan sebaik-baiknya, harus dipenuhi be­berapa hal yang berbeda sekali daripada syarat-syarat berkem­bangnya handels-imperialisme.

Handels-imperialisme, saya ulangi lagi, bisa berkembang­biak kalau rakyatnya mempunyai koopwil dan koopkracht. Han­dels-imperialisme dengan sendirinya mampus, kalau rakyatnya tidak bisa dan tidak mau beli. Tetapi finanz kapital mempunyai eisen lain. Mau menanamkan modal di sini, dijadikan onderne­ming. Onderneming pegunungankah atau onderneming di tanah datarkah. Mau tanam tembakau di daerah Yogyakarta atau Solo. Mau tanam tebu di lembah sungai Berantas misalnya. Bagaimana bisa tanam tebu di lembah sungai Berantas? Atau bisa tanam tem­bakau di lembah Bengawan Solo? Sekitar Solo dan Yogyakarta dan sebagainya.) harus menyewa tanah, sebab tanah milik daripada rakyat. Agar supaya sewa tanah ini dimungkinkan, diadakannya ordonansi yang dinamakan grondhuurordonnantie, pada perte­ngahan abad ke-19, yang memberi kesempatan kepada pengusaha asing menyewa tanah daripada rakyat untuk ditanami tebu, untuk ditanami tembakau, untuk ditanami apapun, agar supaya laba bisa tinggi, sewa tanahnya jangan mahal. Agar supaya sewa tanah tidak mahal, levensstandaard daripada rakyat ditekan, handels-imperi­alisme malahan agak menaikkan levens-standaard, artinya dipiara, koopwil en koopkracht. Finanz kapital imperialisme malahan menekan supaya sewa tanah tidak terlalu tinggi. Sewa tanah itu ditentukan oleh levensstandaard, standar hidup daripada rakyat. Rakyat yang standar hidupnya rendah akan sudah senang menerima sewa yang murah. Kecuali sewa tanah, finanz kapital yang menanamkan modalnya di sini itu memerlukan kaum buruh. Juga kaum buruh ini harus kaum buruh yang upahnya rendah. Kalau kaum buruh itu upahnya tinggi, labanya kurang bagi kaum imperialis.

Dus, diusahakan dengan segala macam agar supaya kaum buruh upahnya rendah. Sampai kita pernah mengalami satu waktu, upah kaum buruh 8 sen, satu orang sehari. Dihitung-hitung hidup­nya rakyat Indonesia bahkan pernah segobang seorang sehari. Tetapi upah buruh pernah di suatu tempat itu 8 sen sehari, 12 sen seorang sehari. Paling-paling 25 sen seorang sehari. Minimum­loon, rakyat Indonesia dijadikan minimum-leidster, ini istilah dari­pada seorang Belanda sendiri, daripada orang yang selalu saya sitir yaitu Dr. Uwender, yang mengata-kan bahwa rakyat Indonesia itu adalah minimum-leidster, segalanya itu minimum, kebutuhan-kebutuhannya ya minimum, kebutuhan makanannya minimum, pakaian minimum, segala-nya minimum, upahnyapun minimum sehingga konklusinya ialah yang sering saya katakan rakyat Indo­nesia adalah een volk van koelies en een koelie onder de natie. Inilah efek dan usaha daripada finanz kapital imperialis. Jangan diajarkan kepada rakyat kebutuhan-kebutuhan yang bukan-bukan. Sekolah-sekolah jangan lekas-lekas diberi, paling-paling sekolah yang sudah paling minimum. Di India tidak, kata saya tadi, pada tahun 1865 kalau tidak salah, Universitas yang pertama dibuka. Kita, saudara-saudara, sampai permulaan abad sekarang ini, tidak mengenal akan universitas. Sekolahnya sekolah rendah semuanya, sekolah menengah hanya untuk orang Belanda sendiri atau putera­putera daripada pegawai Indonesia. Dan sistemnya nyata, sistem membikin kita menjadi kaum buruh. Saya pernah duduk di dalam sekolah rendah.

Permulaan abad sekarang ini, padahal waktu itu sudah tahun 1915, sebagai murid daripada sekolah rendah itu saya masih diajar ilmu ukur dengan meetketting, rante ukur itu, kita murid-murid harus bisa mengukur halaman, mengukur sebidang tanah, tak lain tak bukan agar supaya nanti bisa menjadi mandor ukur. Jadi standar hidup direndahkan sekali, saudara-saudara. Bahkan demikian jauhnya usaha merendahkan levenstandaard kita ini, sehingga dulu, kelas pertengahan kita dan kelas borjuasi dulu sama sekali akhirnya juga padam. Dulu misalnya kita membikin bahan pakaian kita sendiri.

Saudara kalau baca di dalam kitab-kitab yang ditulis oleh komisi minderwelvaarkomisi atau kitab yang ditulis oleh Kroe­vaart, saudara masih bisa membaca bahwa di dalam abad ke-18, kita ini masih selfsupporting di dalam lapangan tekstil. Ya bukan tekstil mesin, tetapi tekstil tenunan. Sebagaimana saudara lihat di pulau-pulau Indonesia Timur sekarang, masih ada di sana selfsup­porting barang tenun sendiri, misalnya di Sumba, di pulau Kisan dan lain-lain. Itu masih selfsupporting, tetapi sebagai tadi saya katakan sebagian daripada laba finanz kapital ini, dijadikan indus­tri di negeri Belanda antara lain industri tenun Twente, oleh industri tenun ini saudara-saudara, matilah sama sekali mindden­stand kita yang tadinya bisa membuat tekstil. Jadi meskipun di satu pihak finanz kapital ini merendahkan standar hidup rakyat, oleh karena memang demikianlah eisen daripada finanz kapital tetapi sebaliknya handels kapital Belanda yang datang di sini membawa tekstil daripada Twente mematikan kelas pertengahan kita dan kelas borjuis. Bisa mematikan oleh karena impor yang dibawa ke sini adalah impor yang amat murah sekali tidak sebagai impor Inggris di India. Impor di India itu mengenali kwaliteiten, ada kualitet yang hebat-hebat, sebagaimana sampai sekarang saudara mengetahui wol daripada Inggris kualitet tinggi, untuk menjual barang kualitet tinggi ini memerlukan koopwil dan koopkrahct daripada rakyat. Impor tekstil dari negeri Belanda ke sini bukanlah tekstil kualitet tinggi bukan tekstil untuk kaum wanita yang berupa bembergzijde, bukan kain wol yang hebat-hebat seperti bikinan Leincheser. Tidak! Impor kebanyakannya berupa blaco, kain mori, paling-paling kain hitam, kain merah, cita-cita yang murah. Saya mengalami saudara-saudara, dulu kain cita yang saya pakai enam sen satu elo.

Dulu ukurannya itu elo, 70 cm. Jadi laage kwaliteiten, dan itu tidak memerlukan satu bangsa yang levensstandaard-nya harus dinaikkan. Cukup dengan satu bangsa yang levens-standaard-nya memenuhi eisen daripada finanz kapital imperialisme itu. Se­hingga saudara-saudara, akhirnya kita ini menjadi satu bangsa kelas kecil. Kita tidak mempunyai orang-orang yang kaya, seperti di India. Di India mempunyai Burla, mempunyai Tata, mempunyai famili Nehru, Mothilal Nehru, bapaknya Jawaharlal Nehru itu bukan main dia milyunernya, – orang bilang, – dia cucikan dia setrikakan baju-bajunya itu di London. Tidak mau cucian di Ala­habat, meskipun dia diam di Alahabat. Pakaian kotor-kotor dikirim ke London, cuci di London, disetrika di London. Orang kaya di Indonesia tidak ada, semuanya kelas kecil.

Pegawai, kelas kecil, tidak ada pegawai tinggi. Paling-paling yang paling tinggi vaitu Bupati atau Adipati. Tetapi yang lain-lain ialah klerk-klerk, paling-paling opseter-opseter. Dalam tentara KNIL, berapa orang yang jadi kapten? Tidak ada. Satu orang atau dua orang Mayor. Yang lain itu paling-paling sersan. Pendek segala hal yang besar ialah Belanda, yang kecil-kecil Indonesia sampai kepada rakyat jelatanya merupakan minimum leidster. Kaum buruh ada yang mendapat 8 sen sehari, tani ya tani kecil, tidak ada tani besar. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus mempunyai grootbezit, tidak, tetapi saya hanya mengatakan bah­wa rakyat Indonesia itu hanyalah rakyat kecil.

Berhubung dengan itu saudara-saudara, maka aksi untuk meruntuhkan imperialisme itu haruslah terdiri dari gabungan se­muanya yang kecil ini. Di India bisa dipergunakan kekuatan dari kaum borjuis dan middenstand. Di Amerika kekuatan dari borjuis dan middenstand, yang bisa mengadakan satu Angkatan Perang. Saudara tahu bagaimana di Amerika permulaan revolusi itu? Yaitu di waktu beberapa orang pedagang teh melemparkan tehnya di dalam laut oleh karena impor teh harus membayar pajak. Itulah meletusnya revolusi di Amerika, ialah membuang teh di dalam laut, yang dimulai oleh kaum pengusaha. Di India gerakan nasional bertulang punggung kepada kaum borjuasi nasional. Kita tidak. Kita tidak mempunyai borjuasi nasional. Sudah tidak mem­punyai. Dulu di dalam abad ke-16, 17, 18 kita mempunyai borjuasi nasional yang bisa selfsupporting di atas lapangan tekstil misal­nya, tetapi di dalam abad ke-20 akhir 19 tidak ada kelas borjuasi nasional ini.

Dus gerakan melawan imperialisme itu adalah gerakan dari­pada segala golongan yang kecil. Sifatnya sudah lain, saudara­saudara. Di sana borjuasi nasional yang menunggangi rakyat jelata, di Indonesia tidak bisa berjalan yang demikian itu. Di Indonesia gerakan nasionalnya ialah gerakan daripada rakyat jelata tok. di dalam segala macam. Ambtenar-ambtenar kecil duduk di dalamnya. Dari pihak pengusaha-pengusaha ada duduk di dalamnya, tapi kecil. Semuanya kecil. Gerakan Sarikat Islam misalnya, Sarikat Dagang Islam yang diadakan mula-mula oleh Kiai Samanhudi, di dalam tahun 1910 begitu setelah Budi Utomo, yah, Sarikat Dagang Islam ya pedagang-pedagang yang kecil bukan pedagang-pedagang seperti Tata, seperti Birla, seperti Neh­ru. Bapaknya Nehru itu bukan pedagang tetapi advokat besar yang mempunyai andil di dalam beberapa perusahaan. Sarikat Dagang Islarn pun, saudara-saudara, gerakan daripada pedagang kecil bahkan yang kemudian diubah menjadi Sarikat Islam yang bukan saja pedagang yang masuk di dalamnya tetapi tani kecil, buruh kecil, semuanya yang kecil masuk di dalamnya. Ini yang menjadi kekuatan kita, siap di seluruh Indonesia, golongan kecil, ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya daripada pihak pedagang, ya nelayan, ya kusir, ya tukang bengkel, ya semuanya, kita himpun kekuatannya. Dus, kita perlukan bagi menangnya gerakan kita satu hikmat persatuan. Kita menghadapi soal ini, saudara-saudara, bagai-mana bisa menumbangkan imperialisme. Yah, kita harus bisa bersatu, mempersatukan tenaganya yang kecil ini, ya tenaganya kaum buruh, ya tenaganya kaum tani, tenaga kaum buruh untuk meng­hadapi industri-industri daripada finanz-kapital itu, tenaga-tenaga kaum tani kita butuhkan untuk menentang perkebunan-perkebun­an baik di tanah datar maupun di pegunungan, kita butuh- kan segenap tenaga daripada rakyat Indonesia.

Pada satu waktu saya sampai kepada satu saat yang saya memerlukan satu nama umum bagi sernua yang kecil-kecil ini. Ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya nelayan dan lain-lainnya ini, se­muanya tidak ada yang besar, melainkan kecil-kecil semua-nya, lantas saya beri nama kepada semuanya ini Marhaen. Tidak bisa disebutkan proletar, kataku. Sebab apa yang dinama-kan proletar? Barangkali saudara-saudara sudah mendengar uraian ini, tetapi baiklah sava uraikan sekali lagi. Apa yang dinamakan proletar? Pak, proletar itu kaum buruh. Tidak jelas! Marilah kita tanya kepada Karl Marx sendiri, dia yang mengadakan perkataan, terkenalnya perkataan proletar, menurut Marx proletar adalah orang yang menjualkan tenaganya kepada orang lain dengan tidak ikut memiliki alat produksi, ini defenisi Marx. Proletar adalah orang yang menjualkan tenaganya kepada orang lain dengan tidak memiliki alat produksi. Sekadar menjual tenaga tok. Tidak ikut memiliki alat produksi. Apa alat produksi? Kereta api adalah alat produksi. Bahkan gergaji, palu dan lain-lain sebagainya adalah alat-alat produksi. Jikalau engkau menjualkan tenagamu di dalam sesuatu perusahaan tetapi engkau tidak ikut memiliki alat pro­duksi, tidak ikut memiliki pabrik, tidak ikut memiliki mesin, tidak ikut memiliki martil-martil, palu-palu, gergaji-gergaji di dalam pabrik itu, kamu cuma menjual tenagamu saja, engkau adalah proletar. Dan ini definisi mengenai semua yang menjual tenaga. Kaum intelektuil pun, insinyur yang menjualkan tenaganya kepada satu perusahaan besar, perusahaan Philips, Unilever apapun, engkau hanya menjual tenagamu sebagai insinyur, dengan tidak ikut memiliki pabrik Unilever, atau pabrik Krupp, engkau adalah proletar, tetapi namanya intelektuil proletar, proletar intelektuil. Padahal, ya rumah, gedung, rumah yang didiami, engkau pergi ke pekerjaan dengan mobil yang mengkilap, engkau adalah insinyur, engkau adalah doktor, engkau adalah ahli kimia, oto yang mengkilap, tidak miskin, tetapi yang engkau jual hanya tenagamu, pikiranmu, tidak ikut memiliki alat produksi, engkau adalah prole­tar.

Dus, si insinyur proletar, si doktor ilmu kimia yang bekerja kepada Bayer misalnya, proletar, cuma ya intelektuil proletar. Saya memerlukan satu istilah buat ini, si kecil-kecil semuanya itu tadi. Buruh kecil ya proletar, dia masuk di dalam golongan yang saya carikan istilah tani kecil yang perlu juga istilah bagi si tani kecil ini tetapi si tani kecil ini bukan proletar. sebab ia punya alat produksi milik sendiri, si nelayan kecil masuk di dalam golongan yang saya carikan istilah tetapi dia bukan proletar, alat produksi milik dia sendiri. Si tukang gerobak kecil, gaji, ya tidak punya gaji, gerobaknya dia punya sendiri, kudanya yang kurus itu dia punya sendiri. Lha ini namamya apa, saya carikan pada suatu ketika, untuk semua rakyat Indonesia yang kecil-kecil ini, Ceriteranya ialah pada suatu hari saya berjalan di sebelah selatan kota Ban­dung, kalau saudara mau tahu desanya, nama desanya Cigereleng. Di Cigereleng saya berjalan jalan di sawah. Pada waktu itu saya memimpin Partai, saya jalan jalan di sana, saya melihat seorang laki-laki sedang menggarap sebidang tanah. Saya tanya: bung, ini tanah siapa?

Gaduh abdi. Pacul ini siapa punya, Gaduh abdi, artinya gaduh abdi itu, saya punya. Gubuk ini siapa punya? Gaduh abdi. Engkau kalau sudah tanam padi ini, hasil padi ini untuk siapa? Buat abdi. Wah engkau kaya? Tidak. Miskin. Maklum cuma begini, dan mes­kipun tanah punya saya sendiri, pacul saya punya sendiri, hasil­nyapun saya punya sendiri, tetapi saya miskin, paling miskin. Coba lihat gubuk itu sudah reyot. Orang ini bukan proletar. Mis­kin, tetapi proletar, sebab alat produksi milik dia sendiri. Sebalik­nya sebagai tadi saya katakan meski-pun mobil mengkilat kalau alat produksi tidak dimilikinya dan dia cuma menjual tenaganya saja, adalah proletar. Orang ini bukan proletar, tetapi miskin, seperti 95% daripada rakyat Indonesia adalah miskin. Saya tanya kepadanya: nama bung siapa? Marhaen, jawab dia. Timbul ilham, kalau begitu semua rakyat Indonesia yang miskin ini saya namakan Marhaen, ya, yang proletar ya yang bukan proletar, ya yang buruh, ya yang tani, ya yang nelayan, ya tukang gerobak, ya yang pegawai, pendeknya yang kecil-kecil ini semua, Marhaen.

Ini bahan kita untuk digerakkan bersama untuk menum­bangkan imperialis, tidak memiliki borjuasi nasional, tidak memiliki tenaga Angkatan Perang seperti sekarang.

Dulu tidak ada Angkatan Perang kita, revolusi Amcrika segera setelah Thomas Jefferson, Thomas Paine, George Washington dan Paul Rellier mengatakan: hayo kita melepas-kan diri dari Inggris, terus dibentuknya Angkatan Perang bahkan George Washington menjadi Panglima Besar daripada Angkatan Perang yang kemudian dipilih menjadi Presiden.

Kita tidak mempunyai Angkatan Perang, kita tidak mempu­nyai borjuasi nasional, kita harus dan mutlak harus hanya bisa mempergunakan tenaga daripada rakyat jelata sebagai satu ver­zamelnaam yang saya namakan Marhaen, dus, sejak daripada mulanya atau lebih tegas sejak fase revolusioner, daripada gerakan nasional kita, kita harus bisa memegang panji persatuan. Sejak daripada fase revolusioner, jangan kira, tadi sudah saya peringat­kan bukan, perkataan revolusioner jangan dihubung-hubungkan dengan kekerasan senjata. Sejak dari fase revolusioner, jikalau saya boleh mempergunakan istilah yang saya ucapkan pada pidato 20 Mei, sejak angkatan penegas yang dengan tegas berkata: Indo­nesia merdeka, itulah satu umgestaltung von grundauf, sejak dari­pada fase itu kita meng-hadapi persoalan mempersatukan semua revolutionnaire krachten, semua tenaga-tenaga revolusioner, yaitu tenaga-tenaga dari segenap Marhaen, Marhaen di dalam arti, se­bagai tadi saya katakan ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya tukang gerobak, ya tukang nelayan, ya tukang pedagang, semua rakyat Indonesia yang 95% Marhaen.

Jadi alat kita hanyalah persatuan, jikalau kita tidak berdiri di atas dasar ini, mungkin gerakan kita tidak berhasil. Di Sovyet Uni lain saudara-saudara, di sana ada kelas kapitalis, kelas proletar dan tani, bersama-sama proletar dan tani ini menumbangkan kelas kapitalis. Kita terdiri daripada macam-macam golongan tetapi kecil semuanya, ini harus kita gabung, yaitu menentang imperial­isme yang pada hakekatnya ialah finanz-kapital imperialisme, tetapi saudara-saudara. untuk mempersatukan segenap golongan­golongan Marhaen ini, yang terdiri dari elemen buruh, elemen tani. elemen pedagang, elemen tukang gerobak, elemen nelayan dan sebagainya itu, kita tentu menghadapi beberapa persoalan. Per­soalan kepentingan daripada golongan, persoalan rasa daerah, kepentingan rasa agama, kepentingan lain-lain. Karena itu sejak mulanya di dalam ide mempersatukan marhaen sudah dimasukkan terutama sekali elemen keaslian Indonesia ialah gotong royong. Gotong royong yang memang salah satu sendi daripada masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu, dan dianjurkan kepada semua golongan ini bahwa kita hanyalah bisa menumbangkan imperialisme itu kalau kita bersatu dan berdiri di atas dasar revolu­sioner. Diterangkan kepada kaum marhaen terutama sekali kepada kaum marhaen yang menjadi anggota partai saya, sebab kaum marhaen ini di mana-mana, saya bicara secara wetenschappelijk, jangan mengira Bung Karno memakai perkataan marhaen itu karena mengingat PNI dahulu, tidak.

Saya tadi ‘kan berkata, marhaen itu meliputi semua, dus, di dalam partai-partai yang sekarang ini dinamakan PKI ya ada Marhaen, di dalam partai Masyumi ya ada Marhaen, di dalam partai Nahdlatul ‘Ulama ya ada Marhaen, di dalam Gerwani ya ada Marhaen, Marhaen di dalam arti rakyat Indonesia dari segala golongan yang kecil itu tadi, yang tidak bisa diberikan nama kepadanya proletar.

Saya mencari satu istilah baru untuk menggambarkan kekecilan daripada rakyat Indonesia ini, meskipun jumlahnya jutaan tetapi ekonominya kecil, saya carikan satu perkataan, satu istilah yaitu istilah Marhaen. Di dalam arti yang demikian itu, saya pakai perkataan marhaen itu tidak dengan ingatan kepada sesuatu partai. Marhaen daripada semua golongan ini harus dipersatu­padukan, karena itu sejak daripada semula Angkatan penegas berkata: harus berdiri di platform revolusioner. Apa yang di­namakan revolusioner, revohsioner di dalam arti umgestaltung von grund auf, perubahan radikal revolusioner di dalam arti cukup dengan kehendak zaman yang cepat revolusioner di dalam arti menentang kepada imperialisme. Semua golongan yang ikut aliran zaman yang cepat semua golongan yang hendak menumbangkan imperialisme, semua golongan itu adalah revolusioner. Ya dari buruh, ya dari tani, ya dari golongan apapun.

Dus istilah revolusioner saudara-saudara, jangan saudara campurkan kepada, misalnya revolusioner harus proletar, atau revolusioner harus orang yang berdiri di atas taraf, di atas platform demokrasi formil, atau revolusioner harus orang sosialis. Sosialis di dalam arti, bukan PSI, tetapi di dalam arti menghendaki masya­rakat sama rata sama rasa tanpa kapital-isme. Jangan dihubungkan dengan tiga hal ini. Revolusioner tidak harus hanya orang proletar saja, tidak harus hanya orang sosialis saja, tidak harus hanya orang yang berdiri di atas dasar demokrasi formil. Revolusioner adalah tiap-tiap orang yang menentang imperialisme, revolusioner adalah dus tiap-tiap orang yang mengikuti kehendaknya zaman yang cepat. Misalnya kalau saudara-saudara berkata: tidak, revolusioner harus proletar. Tidak klop, saudara-saudara, sebab ada juga go­longan-golongan proletar yang tidak revolusioner, misalnya gerakan kaun buruh di Inggris yang telah saya ceriterakan, gerakan kaum buruh di Inggris yang terdiri dari proletar-proletar, saudara­saudara.

Sejak daripada pemimpinnya entah yang namanya Mac Donald, sebutlah pemimpin Labourparty Inggris Atlee, sampai kepada anggotanya, taxi driver, atau machineworker atau dock­worker, semuanya proletar. Atlee dahulu kaum proletar, Mac Donald adalah kaum buruh pertambangan batubara, proletar. Be­gitu pula anggota-anggotanya, semuanya proletar tetapi sama sekali tidak revolusioner, sebab misalnya menentang kepada ke­merdekaan penuh daripada bangsa-bangsa, menentang kepada gerakan anti kolonialisme 100%, menentang kepada memberi kemerdekaan penuh pada India. Atlee memberi kemerdekaan kepada India, kalau boleh dipakai perkataan memberi, sebab kemerdekaan India adalah hasil keringat rakyat India sendiri, di dalam bentuk dominion status, belakangan kataku tadi wet 1947 dominion status, tahun 1950 oleh perjuangan rakyat India sendiri, dirubah menjadi Republik masih di dalam gabungan common­wealth. Dus proletar Inggris saudara-saudara, tidak revolusioner, dus tidak klop bahwa perkataan revolusioner harus proletar. Demikian pula saudara-saudara akan berkata: revo-lusioner itu harus sosialis, di dalam arti tadi masyarakat sama rasa sama rata tanpa kapitalisme. Tidak klop lagi. Misalnya gerakan dari rakyat Mesir, revolusioner yang sekarang memun-cak kepada gerakan di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser, revolusioner tetapi mereka tidak terdiri dari kaum sosialis.

Bahkan aku pernah membaca satu uraian yang menamakan gerakan Amanullah Khan dari Afganistan itu revolusioner, Amanullah Khan adalah seorang raja Afganistan yang di dalam tahun 1926 mencoba menumbangkan imperialisme Inggris. Tetapi gagal. Amanullah Khan sama sekali bukan proletar, sama sekali bukan sosialis, bahkan namanya Khan, kalau bahasa Indonesia Khan itu barangkali Raden Mas Panji Ario. Amanullah Khan di dalam tulisan ini yang ditulis oleh seorang pemimpin besar revolusi. Dus tidak klop kalau kita berkata: revolusioner harus sosialis. Demikian pula tidak klop kalau dikatakan revolusioner harus orang yang berdiri di atas platform demokrasi formil. Apa demokrasi formil itu? Demokrasi yang menghendaki parlemen, pungut suara, stem-steman itulah yang dinamakan formele de­mocratie. Dengan cara Parlemen yang begini, jangan berkata bahwa orang revolusioner hanyalah orang yang berdiri di atas platform parlemen-parlemenan, pungutan suara, demokrasi for­mil, tidak. Seperti Amanullah Khan itu tadi, yang bukan seorang demokrat formil, dia bahkan orang Khan, orang raja yeng me­merintah tidak dengan parlemen tetapi toh oleh seorang penulis revolusioner ini dinamakan revolusioner. Nah ini saudara, masuk­kan di dalam gerakan rakyat, bahwa semua harus revolusioner, artinya semuanya harus menentang imperialisme, sebab siapa menentang imperialisme, buruhkah, tanikah, pegawaikah, orang dari golongan agamakah, sosialis-kah, proletarkah, demokrasi for­milkah, bukan proletarkah, bukan sosialiskah, bukan demokrasi formilkah, siapa yang menentang imperialisme ada-lah revolu­sioner. Ini adalah satu slogan mempersatu daripada segenap kaum kecil Indonesia yang tadi kuterangkan.

Dus, gerakan rakyat Indonesia ialah yang akhirnya bisa ber­hasil menggerakkan 17 Agustus 1945, sebagai yang sudah saya gambarkan pada pidato 20 Mei, demikian pula sejak 17 Agustus 1945 sampai pengakuan kedaulatan tahun 1950 ternyata satu gerakan persatuan.

Berlainan sekali dengan gerakan India yang pada hakekat-nya ialah gerakan kaum pertengahan dan borjuis menunggangi kaum proletar, berlainan sekali dengan gerakan revolusi Perancis, ber­lainan dengan gerakan revolusi Amerika. Kita adalah satu gerakan dari seluruh rakyat dengan dasar persatuan dan revolusioner. Nah, saudara-saudara mengerti sekarang background daripada paham­paham ini, dengan background inilah saudara-saudara dicarikan kemudian formulering sebagai weltanschauung agar supaya kita dapat meletakkan negara yang akan kita proklamirkan pada tang­gal 17 Agustus 1945 itu di atasnya, yaitu Pancasila, Pancasila kecuali satu weltanschauung adalah alat pemersatu, dan siapa tidak mengerti perlunya persatuan, siapa tidak mengerti bahwa kita hanyalah dapat merdeka dan berdiri tegak merdeka, jikalau kita bersatu, siapa yang tidak mengerti itu, tidak akan mengerti Pancasila.

Kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini, saudara-saudara, membuktikan sejeias-jelasnya bahwa jikalau tidak di atas dasar Pancasila kita terpecah belah, membuktikan dengan jelas bahwa hanya Pancasilalah yang dapat tetap mengutuhkan Negara kita, tetap dapat menyelamatkan Negara kita. Oleh karena itu saya harap saudara-saudara nanti kalau saya sudah menguraikan Pan­casila ini selalu ingat kepada background yang pada malam ini saya berikan kepada saudara-saudara, bahwa kita membutuhkan persatuan dan bahwa Pancasila adalah kecuali satu weltan­schauung adalah satu alat pemersatu daripada rakyat Indonesia yang aneka warna ini.

Sekarang saudara-saudara telah pukul 10 lebih 3 menit, saya kira sudah cukuplah sebagai inleiding. Insya Allah dua pekan lagi akan saya mulai mengupas Pancasila, sila per sila.

Sekian.

Category: Pidato Bung Karno | Views: 521 | Added by: edys | Tags: Bung Karno, Kursus Pancasila | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar