Home » 2015 » November » 14 » PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA I - Page 1/2
1:03 PM
PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA I - Page 1/2

Kursus Presiden Soekarno Tentang Pancasila di Istana Negara, Tanggal 26 Mei 1958.

Saudara-saudara, 
Saya diminta untuk memberi kursus mengenai Pancasila. Dan sebagai dikatakan oleh saudara Pamuraharjo tadi, kursus tak dapat selesai dalarn satu uraian. Karena itu, akan diadakan kursus Pan­casila ini beberapa kali, dan malam ini akan saya mulai dengan memberikan kepada saudara-saudara satu kursus pendahuluan, inleiding. Jadi pada malam ini belum saya kupas sila-sila daripada Pancasila itu. Belum saya kupas Ketuhanan Yang Maha Esa. Belum saya kupas Perikemanusiaan. Belum saya kupas Kebang­saan. Belum saya kupas Kedaulatan Rakyat. Belum saya kupas Keadilan Sosial. Melainkan saya akan memberi kata pembukaan lebih dahulu. Saudara mengerti dan mengetahui, bahwa Pancasila adalah saya anggap sebagai Dasar daripada negara Republik in­donesia. Atau dengan bahasa Jerman: satu weltanschauung di atas mana kita meletakkan Negara Republik Indonesia itu. Tetapi kecuali Pancasila adalah satu weltanschauung, satu dasar falsafah, Pancasila adalah satu alat mempersatu, yang saya yakin seyakin­yakinnya Bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke ha­nyalah dapat bersatu-padu di atas dasar Pancasila itu. Dan bukan saja alat mempersatu untuk di atasnya kita letakkan Negara Re­publik Indonesia, tetapi juga pada hakekatnya satu alat memper­satu dalam perjuangan kita melenyapkan segala penyakit­-penyakit yang telah kita lawan berpuluh-puluh tahun yaitu pe­nyakit terutama sekali, Imperialisme. Perjuangan sesuatu bangsa, perjuangan melawan Imperialisme, perjuangan mencapai kemer­dekaan, perjuangan sesuatu bangsa yang membawa corak sendiri­sendiri. Tidak ada dua bangsa yang cara berjuangnya sama. Tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang sendiri, mempunyai karakteristik sendiri. Oleh karena pada hakekatnya bangsa sebagai individu mernpunyai kepribadian sendiri. Kepribadian yang ter­wujud dalam pelbagai hal, dalam kebudayaannya, dalam pereko­nomiannya, dalam wataknya, dan lain-lain sebagainya.

Tadi saya katakan, bahwa tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang sendiri, mempunyai sifat-sifat perjuangan sendiri. Coba saudara-saudara bandingkan, misalnya caranya bangsa Amerika dulu memerdekakan negerinya daripada kolonialisme Inggris, dengan caranya bangsa India memerdekakan dirinya daripada kolonialisme Inggris. Dengan caranya bangsa Indonesia memer­dekakan dirinya dari kolonialisme Belanda. Atau dengan caranya rakyat Rusia menggugurkan Kapitalisme. Jikalau saudara-saudara bandingkan caranya rakyat atau bangsa-bangsa atau golongan­golongan ini berjuang, saudara-saudara akan melihat perbedaan­-perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ditentukan oleh keadaan-­keadaan obyektif. Dus bukan perbedaan-perbedaan bikinan se­seorang pemimpin. Tidak! Tetapi perbedaan-perbedaan karena sebab-sebab obyektif yang berbeda. Saya akan kemukakan perbe­daan-perbedaan itu sebagai contoh, menguraikan kepada saudara­-saudara beberapa perbedaan antara cara berjuangnya orang Amerika melawan kolonial-isme Inggris, cara berjuangnya rakyat India melawan kolonial-isme Inggris, cara berjuangnya rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda, cara berjuangnya Rusia menggugurkan kapitalisme. Dari uraian ini nanti saudara-saudara akan mengerti perlunya, sekali lagi perlunya bagi kita persatuan itu. Dari uraian ini saudara-saudara akan mendapat pengertian bahwa perjuang-an bangsa Indonesia hanyalah dapat berhasil, ji­kalau seluruh rakyat Indonesia masuk di dalam satu kancah per­juangan.

Perjuangan bangsa Indonesia, saudara-saudara, yang sudah kita alami berpuluh-puluh tahun ini, berbeda daripada misalnya perjuangan rakyat India. Oleh karena imperialisme yang kita tentang adalah pula lain daripada imperialisme yang ditentang oleh bangsa India. Imperialisme itu bermacam-macam, mem-punyai corak-corak sendiri, sifat-sifat sendiri, terutama sekali pada waktu ia lahir. Pada saat sesuatu imperialisme lahir, pada saat sesuatu imperialisme tumbuh, imperialisme itu membawa corak sendiri. Tergantung daripada ibunya. Dan ibu imperial-isme ialah Kapital­isme. Sebagaimana anak bayi manusia pada waktu lahirnya telah membawa sifat watak sendiri, tergantung daripada sifat watak orang tuanya maka demikian pula imperialisme pada waktu la­hirnya membawa corak watak sendiri tergantung daripada in­duknya, yaitu Kapitalisme.

Nanti di dalam pertumbuhannya, dalam bahasa asingnya: di dalam uitgroei, sifat dan watak imperialisme-imperialisme itu lantas mendekati satu sama lain, bahkan kadang-kadang men-jadi satu konglomerat daripada imperialisme-imperialisme yang tak mudah lagi kita bisa membedakan sifat wataknya satu daripada yang lain. Kalau kita melihat perjuangan rakyat atau lebih tegas, orang Amerika, menentang kolonialisme Inggris sehingga akhir­nya bisa mengadakan declaration of indepen-dence sebagai yang saya ucapkan di dalam pidato 20 Mei yang lalu, pada tahun 1776, dan kita selidiki siapa yang sebenarnya berjuang, saudara akan melihat bahwa terutama sekali kaum atasan yang berjuang. Revolusi Amerika bukan revolusi rakyat. Tetapi revolusi daripada kaum atasan di bawah pimpinan Thomas Jefferson, Thomas Paine, George Washington dan lain-lain. Revolusi mereka berhasil mem­bentuk satu tentara yang tentara ini bertempur dengan tentara Inggris di Amerika dan yang akhirnya dapat mengalahkan tentara Inggris itu, sehingga tentara Amerika ini bisa menang. Dus revolu­si Amerika terhadap kepada kolonialisme Inggris, adalah satu revolusi yang tidak meliputi seluruh rakyat. Bagaimana revolusi India? Saya memakai perkataan revolusi di dalam arti yang luas. Jangan mengira bahwa revolusi adalah selalu disertai dengan peng-gunaan senjata, dalam arti yang luas revolusi adalah satu perubahan yang hebat sekali. Cepat. Di dalam pidato pembelaan diri saya, tatkala saya diperiksa di muka hakim Hindia Belanda, saya telah mensitir ucapan seorang profesor yang termasyhur bahwa revolusi adalah eine umgestaltung von grundauf, artinya perubahan dari bawah sama sekali. Di dalam arti itu saya memakai perkataan revolusi India terhadap kepada kolonialisme Inggris. Revolusi India ini dilakukan oleh siapa? Pada hakekatnya revolusi India dilakukan oleh satu kelas middenstand dan bordjuasi India. Kelas menengah dan kelas borjuis India. Dengan mempergunakan tenaga daripada rakyat. Berbeda dengan Amerika, Amerika boleh dikatakan revolusinya tidak mempergunakan seluruh tenaga rak­yat, tetapi sekadar satu kelas, kelasnya George Washington, kelas­nya Thomas Jefferson, kelasnya Thomas Paine, kelasnya Paul Rellier dan lain-lain sebagainya, yang berhasil membentuk tentara dan tentara ini bertempur dengan tentara Inggris. Revolusi India adalah revolusi daripada kaum pertengahan, middenstand dan borjuasi, dengan memperguna-kan tenaga daripada rakyat. Nanti akan saya jelaskan lebih luas. Revolusi Indonesia dan di sinipun saya pakai perkataan revolusi itu dalam arti yang seluas-luasnya, dus, jangan hanya berpikir dalam istilah 17 Agustus ’45, tetapi berpikirlah dalam istilah sebagai yang saya uraikan dalam pidato 20 Mei yang lalu, istilah gerakan nasional seluruhnya, revolusi Indonesia adalah revolusi seluruh rakyat. Maka revolusi Indonesia bisa berhasil, – ini nanti saya terangkan, – ialah oleh karena revolusi Indonesia, revolusi seluruh rakyat. Ya kelas buruh, ya kelas tani, ya kelas borjuis kecil, ya kelas pertengahan kecil, ya kelas ambtenaren-bond, ya kelas pemuda-pemuda seluruh rakyat. Berbeda dengan di India, rakyat ikut sebagai kuda tunggangan. Saya tadi berkata: India revolusinya ialah revolusi daripada kaum per-tengahan dan kaum borjuis yang naik. dengan mempergunakan atau menunggangi rakyat jelata.

Satu contoh lain daripada revolusi demikian ini ialah revolusi Perancis, revolusi Perancis yang mulai meledak pada tahun 1789, mulai meledaknya, tetapi dalam persiapannya terutama sekali persiapan pikiran, sudah lebih dahulu daripada tahun 1789, revolusi Perancis ini juga satu revolusi daripada kelas borjuis, kelas pertengahan yang tadinya tidak mendapat alam, karena alam perusahaan di dalam tangannya kaum feodal, kaum gereja, tetapi yang sekarang merebut alam yaitu kelas pertengahan dan kelas borjuis, merebut alam dari tangannya kaum feodal dan kaum gereja dengan mempergunakan tenaga rakyat jelata. Seperti pada hakekatnya revolusi India. Revolusi Indonesia kataku adalah revolusi daripada seluruh rakyat.

Revolusi Sovyet, saya lebih setuju memakai perkataan revolusi Sovyet dan janganlah memakai perkataan revolusi Rusia, sebab tatkala saya di Sovyet Uni saya mengucapkan Sovyet Rusia, saya diprotes oleh orang-orang yang berasal misalnya daripada Usbekistan dari Giorgia, mereka memprotes, kami bukan Rusia, kami dari selatan bukan bangsa Rusia. Kami ini orang Usbekistan. Kami orang Giorgia. Jadi negara kami namanya bukan Sovyet Rusia, sebab Sovyet Rusia cuma lor, utara saja. Negara kami yang besar yang terdiri dari sekian banyak Republik-republik Sosialis, negara kami ini adalah Sovyet Uni. Bukan Sovyet Rusia. Saya, dus, lebih senang memakai perkataan Sovyet Uni. Nah revolusi Sovyet, bukan revolusi Rusia, tetapi revolusi Sovyet adalah revolusi daripada kelas proletar dan tani menggugurkan kapital­isme.

Dus di dalam revolusi Sovyet ini apa yang dinamakan bor­djuasi bukan saya tidak ikut, malahan menjadi objek penggem­puran. Dari beberapa contoh ini, saudara-saudara merasakan dan melihat perbedaan-perbedaan. Saya tadi berkata bahwa tiap-tiap revolusi membawa sifat dan watak sendiri yang ditentukan oleh keadaan-keadaan objektif. Objektif imperial-ismenya, objektif in­duk daripada imperialisme itu, juga objektif keadaan daripada rakyat yang berrevolusi.

Jadi sifat corak sesuatu revolusi ditentukan oleh keadaan objektif daripada apa yang dihantam oleh revolusi dan daripada apa yang menghantam. Keadaan yang dihantam, yaitu imperial­isme, itu berbeda-beda saudara-saudara, membawa corak-corak sendiri dan corak-corak ini ditentukan oleh induknya, kataku tadi. Kalau kita melihat imperialisme-imperialisme di dunia ini dan sebagai tadi saya katakan, terutama sekali saya melihat, pada waktu ia lahir, bukan terutama sekali pada waktu sedang uitgroei, pada waktu ia lahir, tegas dan jelas ada perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan, saya ulangi, daripada induk-induknya pula. Kapitalisme-kapitalisme, saudara-saudara, mempunyai corak ob­jektif tergantung daripada keadaan-keadaan bahan-bahan bagi kapitalisme itu. Sesuatu negeri misalnya, saudara-saudara, yang penuh dengan bahan-bahan untuk kapitalisme, terutama bahan-ba­han yang dinamakan bahan-bahan dasar, basis grondstoffen, se­suatu negeri yang banyak basis grondstoffen, kapitalisme misal­nya berbeda dengan sesuatu negeri yang kekurangan basis grond­stoffen. Ada negeri yang kekurangan basis grondstoffen en toh mempunyai kapitalisme yang basis grondstoffennya itu, yah ter­utama sekali, ambil dari negeri lain, beli dari negeri lain. Negeri yang demikian itu mempunyai Kapitalisme lain daripada negeri yang basis grondstoffennya banyak. Amerika, saudara-saudara, Inggris, negeri Belanda, Spanyol dan lain-lain negara adalah be­berapa negara yang mempunyai kapitalisme, dan oleh karena-nya menjalankan imperialisme. Saya ambil contoh Amerika, Inggris, negeri Belanda, Spayol, sebagai klassieke voorbeelden oleh con­toh-contoh klasiek daripada kolonialisme dan imperial-isme. Amerika dulu mempunyai koloni, Inggris mempunyai koloni­koloni, malahan Inggris mempunyai empire yang di situ matahari tak pernah terbenam karena luasnya empirenya, di mana matahari terbenam lantas terbit lagi. Di sana terbenam, sudah terbit lagi di sini. Negeri Belanda mempunyai koloni, Spanyol dulu banyak koloninya, sekarang tinggal beberapa restan. Masing-masing kok mempunyai sifat corak sendiri-sendiri. Apa sebabnya? Sebabnya ialah sebagai saya katakan, induknya, kapitalismenya, mempunyai corak sifat-sifat sendiri-sendiri, dan apa sebab induknya mempu­nyai corak sifat sendiri ini? Oleh karena negerinya mempunyai sifat corak sendiri-sendiri terutama sekali mengenai bahan-bahan grondstoffen untuk kapitalisme itu. Amerika adalah satu negeri yang mempunyai banyak basis grondstoffen, satu negeri yang boleh dikatakan lengkap dengan segala hal. Apa toh basis grond­stoffen kapitalisme itu? Yah, terutama sekali biji besi, arang batu, metal-metal logam-logam lain, dan lain sebagainya. Itu adalah basis grondstof bagi kapitalisme. Amerika adalah satu negeri yang penuh dengan basis grondstoffen. Inggris demikian pula, tetapi lebih kurang dari Amerika. Arang batu punya, biji besi punya tetapi takk begitu banyak, sehingga banyak membeli biii besi dari Ruhr. Bahkan pada tahun ‘ 14 -‘ 18, ada peperangan besar yang dinamakan peperangan dunia pertama, tak lain tak bukan ialah rebutan biji besi Ruhr, Ruhr-gebied. Negeri Belanda adalah satu negeri yang basis grondstoffennya lebih kurang lagi. Biji besi tak ada, harus beli dari Ruhr-gebied, arang batu yang sedikit di Lim­burg, Spanyol adalah satu negeri yang basis grondstoffennya juga sedikit sekali. Biji besi tidak ada, arang batu tidak ada, sedikit sekali.

Karena basis grondstoffen Amerika berbeda banyaknya dari­pada basis grondstoffen Inggris, Belanda, Spanyol, maka kapital­isme di empat negeri ini berbeda-beda. Karakteristiknya boleh dikatakan kapitalisme Amerika, saya ulangi lagi, saya meninjau pada lahirnya imperialisme, tidak di dalam uitgroei-nya yang sekarang ini. sekarang ini sudah kita menghadapi imperialisme internasional yang roman mukanya boleh dikata-kan hampir sama semua. Tetapi pada permulaannya imperial-isme lahir, dilahirkan oleh kapitalisme Amerika yang lebih kaya basis grondstoffen daripada imperialisme Inggris yang dilahir-kan oleh kapitalisme Inggris yang kurang sedikit basis grondstoffen; imperialisme Be­landa dilahirkan oleh kapitalisme Belanda yang kurang lagi basis grondstoffen, imperialisme Spanyol dilahirkan oleh kapitalisme Spanyol yang sama sekali miskin grondstoffennya. Kalau saya bandingkan empat kapital-isme ini, empat kapitalisme dengan im­perialisme, maka berhubung dengan perbedaan banyaknya grond­stoffen itu, boleh saya katakan Amerika adalah kapitalisme royal. Inggeris kapitalisme setengah royal. Belanda kapitalisme setengah kikir. Spanyol kapitalisme kikir. Imperialisme, ialah anak daripada kapitalisme itu, tabiatnya ya lain-lain. Yang anak daripada kapi­talisme royal tabiatnya liberal. Liberal imperialisme.

Sekali lagi saya peringatkan, ialah pada saat lahirnya liberal imperialisme. Yang dianakkan oleh kapitalisme setengah royal, ialah Inggris, adalah imperialisme semi liberal. Semi artinya sete­ngah. Yang diperanakkan oleh kapitalisme setengah kikir, adalah imperialisme semi ortodoks. Yang dilahirkan oleh kapitalisme kikir adalah imperialisme ortodoks. Dus, pada mulanya imperial­isme Amerika adalah imperialisme liberal. Imperialisme Inggris adalah imperialisme semi liberal, imperial-isme Belanda adalah imperialisme semi ortodoks, imperialisme Spanyol adalah impe­rialis ortodoks. Di dalam segala tindak-tanduknya saudara melihat perbedaannya. Imperialisme yang liberal terhadap kepada rakyat yang dikolonisir, luas dada, liberal, ini boleh, itu boleh, lapang dada. Yang ortodoks sangat menindas kepada rakyat yang dikolo­nisir. Yang semi liberal, setengah menindas setengah lapang dada. Yang semi ortodoks adalah setengah ya kasih jalan sedikit-sedikit, untuk boleh berpikir, boleh ini boleh itu. Tetapipun menindas.

Apa sebab saudara-saudara? Kok imperialisme Inggris semi liberal? Imperialisme Belanda semi ortodoks, imperialisme Amerika liberal? Imperialisme Spanyol ortodoks? Sebabnya, saya buat perbandingan sekarang, supaya lebih terang bagi saudara­saudara, ialah imperialisme Inggris di India dan imperialisme Belanda di Indonesia. Nanti saudara mengerti: O, Bung Karno itu ke situlah maunya. Mau menerangkan kepada saudara-saudara bahwa reaksi kepada imperialisme Belanda ini tak boleh lain daripada seluruh rakyat bersatu padu, yang nantinya sampai men­jadi dasar uraian Pancasila. Imperialisme Inggris di India, – sudah saya tidak bicarakan imperialisme Amerika di Filipina, saudara­saudara sudah tahu, memang tadinya itu liberal sekali. Tatkala Filipina jatuh di dalam tangan imperialisme Amerika, lekas mereka buka sekolah ini, buka sekolah itu, buka ini buka itu, kesan pada rakyat Filipina laksana: bolehlah bolehlah, sehingga di dalam tempo 1904 sampai 1947, kurang daripada 50 tahun, Filipina boleh menjadi satu bangsa yang merdeka tetapi ya dengan beberapa injeksi-injeksi dari Amerika. Sebaliknya kita melihat di India sampai ada perjuangan rakyat yang hebat, di Indonesia pun ada perjuangan yang hebat.

Di Filipina dulu ada perjuangan rakyat Filipina yang hebat menentang imperialisme Spanyol yang ortodoks itu tadi. Imperi­alisme Spanyol itu sama dengan imperialisme Portugis sekarang yang di Timor, wah ortodoks-nya bukan main. Di pulau Timor itu, misalnya, salah sedikit, masuk penjara dengan rantai dibelenggu, sampai sekarang. Coba kalau saudara datang di bagian Timor, di Atamboa yang hanya beberapa kilometer dari daerah kolonisasi Portugis. Saudara mendengar keluhan rakyat di sana, bukan main caranya rakyat ditindas, tidak diberi banyak sekolahan, cuma beberapa sekolah. Main penjara, main penjara. Persis seperti im­perialisme Spanyol di Filipina dahulu itu, ortodoks. Saudara mengetahui sejarah daripada pemimpin-pemimpin Filipina yang termasyhur! Itu semuanya pemimpin-pemimpin Filipina yang me­nentang Spanyol. Namanya Dr. Rizal, misalnya, yang ditembak zonder banyak proses oleh orang Spanyol. Namanya harum di ingatan kita. Dia adalah pemimpin-pemimpin besar rakyat Filipina menentang imperial-isme Spanyol yang ortodoks. Saudara mende­ngar nama pemim-pin Apollomario Mabini, juga pemimpin Fili­pina menen-tang imperialisme Spanyol. Saudara mendengar nama Aquinaldo, juga Aquinaldo adalah pemimpin Filipina menen-tang imperialisme Spanyol. Memang perjuangan rakyat Filipina me­nentang imperialisme, di waktu imperialisme Spanyol Ortodoks. Sebaliknya, rakyat Filipina yang berjuang terhadap imperialisme Amerika tidak sehebat perjuangan yang telah dilakukan di bawah pimpinan Rizal, atau Aquinaldo, atau Mabini. Sebabnya ialah perbedaan antara sifat corak imperial-isme ini.

Sekarang saya mau jelaskan kepada saudara-saudara lebih jelas, imperialisme Inggris di India, imperialisme Belanda di In­donesia. Saya tadi telah berkata kepada saudara, bahwa Inggris adalah negeri yang basis grondstoffennya boleh dikatakan agak cukup. Biji besi ada, batu bara ada, keperluan-keperluan untuk membangunkan kapitalisme ada. Boleh dikatakan Inggris bisa membangunkan kapitalisme tanpa bantuan basis grondstoffen negeri lain. Karena itu pagi-pagi, saudara-saudara, kapitalisme Inggris sudah berkembang biak. Pagi-pagi kapitalisme Inggris sudah memproduksi barang-barang hasil produksi yang banyak sekali. Pagi-pagi kapitalisme Inggris itu sudah menderita overpro­ductie. Di negeri Inggris sendiri saudara melihat pagi-pagi reaksi kaum buruh terhadap kepada kapitalisme Inggris itu meledak. Gerakan kaum buruh yang paling dulu ialah justru di Inggris. Oleh karena memang kapitalisme di Inggris pagi-pagi sudah tumbuh. Penindasan kaum buruh mendirikan bulu roma kita. Anak-anak kecil umur 8, 9 tahun sudah dikerjakan 13, 14 jam. Gerakan kaum buruh dimulailah di Inggris, bukan gerakan kaum buruh revolu­sioner, tetapi gerakan kaum buruh yang dipimpin oleh Robert Owen, dipimpin kemudian oleh orang-orang seperti Kale Hardy, Sidney Webb, Beatrice Webb. Dan kemudian gerakan ini bertum­buh menjadi labour party di dalam bidang politiknya. Gerakan kaum buruh di Inggris pagi-pagi telah bangkit sebagai reaksi terhadap kepada kapitalisme Inggris yang pagi-pagi sudah tumbuh itu tadi. Bahkan kapitalisme Inggris ini pagi-pagi sudah menderita penyakit overproductie.

Terlalu banyak produksi yang tidak bisa dijual di Inggris sendiri. Tiap made in England, dulu sangat termasyhur, made in England. Belakangan baru timbul made in Germania, belakangan timbul lagi made in Japan, made in England, made in Germania. Semuanya itu kemudian menjadi asal sebab dari peperangan dunia yang pertama. Saingannya begitu hebat sampai meledak menjadi peperangan. Tapi pagi-pagi sudah kita melihat made in England. Produksi yang banyak sekali dan yang tidak bisa dijual habis di tanah Inggris. Made in England kita bisa baca di segala barang­barang terutama sekali barang-barang terbuat dari besi, martil made in England, gunting made in England, pisau made in Eng­land, mesin penjahit made in England, yah segala barang-barang made in England. Demikian pula barang-barang hasil tenun, saudara-saudara mengetahui sendiri bahwa mesin uap dan mesin tenun mula-mula di Inggrislah didapatkan orang. Sebagai pemun­culan daripada aktivitet•kapitalisme itu, mesin uap, mesin pintal, mesin tenun, made in Inggris semuanya. Hasil daripada pemin­talan dan penenunan ini menjadi barang-barang yang terbaik, seperti barang-barang wol, mengalami juga overproductie. Tak bisa habis dijual di Inggris, dicarikan pasar di luar Inggris, sampai sekarang saudara-saudara mengetahui bahwa wol Inggris paling jempol. Nah, kapitalisme di situ saudara-saudara pagi-pagi subur, tetapi pagi-pagi pula menghadapi persoalan over-productie, pagi­pagi dus terpaksa mencari pasaran untuk over- productie itu di luar negeri. Dan ini yang bernama imperialisme. Imperialisme dalam arti yang modern. Dus, barang-barang ini dibawa ke negeri orang lain untuk dijual di negeri orang lain itu, terutama sekali dibawa ke India.

Nah, sekarang yang penting yang saudara harus pegang betul­ betul, dus, imperialisme Inggris yang datang ke India seperti diketahui, rakyat India 300, pada waktu itu belum 300, tapi 230 juta, toh sudah menjadi pasar yang hebat. 230 juta manusia yang harus membeli overproductie ini. Dus, imperial-isme Inggris ke India itu terutama sekali adalah imperialisme dagang. Handels-im­perialisme. Membawa barang ke India untuk dijual di India. Nah agar supaya rakyat India, saudara-saudara, membeli barang­barang overproductie ini yang berupa gunting, berupa pisau, berupa sepeda, berupa mesin jahit, berupa bahan pakaian, agar supaya rakyat India ini bisa membeli, suka membeli, ingin mem­beli, maka politik daripada imperialisme Inggris di India itu adalah politik yang lain daripada imperialisme Belanda di Indonesia.

Agar supaya sesuatu bangsa, rakyat suka membeli, koopwil dan koopkracht bangsa itu tidak boleh dimatikan sama sekali. Kemauan membeli dan kemampuan membeli. Rakyat India dibuat, dijadikan satu bangsa tidak mati kutunya sama sekali, sebab kalau mati kutunya sama sekali tidak bisa membeli. Karena itulah imperialisme Inggris di India pagi-pagi sudah mengadakan sekolahan, bahkan pagi-pagi telah mengadakan University. Saudara-saudara dapat membaca di dalam kitab sejarah India, bahwa waktu kita di sini belum mendengar nama sekolah tinggi dan nama university, di India, Inggris sudah buka beberapa uni­versity. Koopkracht dan Koopwil daripada rakyat India tidak dimatikan sama sekali, tetapi saudara-saudara, India adalah satu bangsa yang telah mempunyai satu kelas pertengahan dan kelas borjuis yang hendak tumbuh. Kelas pertengahan dan kelas borjuis yang hendak tumbuh ditimpa oleh barang-barang hasil daripada overproductie Inggris. Padahal kelas pertengahan dan kelas bor­juis India ini ingin mencari laba, membikin uang, cari uang dari­pada penjualan barang-barang bikinan kelas pertengahan dan kelas borjuis India sendiri. Jadi yang paling merasa mendapat saingan dari handels-imperialisme Inggris itu, ialah justru kelas pertengahan dan kelas borjuis, yang opkomend dari India ini. Oleh karena itu gerakan menentang imperialisme Inggris ini, mula-mula terutama sekali keluarnya dari kelas inilah. Yang kemudian mem­bentuk di India itu Indian National Conggress tahun 1885. Pemimpin-pemimpinnya ialah kaum kapital. Saya tidak bicara tentang Gandhi, itu belakangan, tetapi pemimpin-pemimpin India yang mula-mula itu, ya semuanya kapitalis-kapitalis. Semuanya pengusaha-pengusaha. Orang-orang kaya dari gerakan ini dibantu oleh milyuner-milyuner, misalnya Tata. Tata yaitu satu pengusaha milyuner, membantu keras kepada gerakan ini, oleh karena Tata­pun merasa mendapat saingan hebat daripada produksi besi dari Inggris. Tata ialah pengusaha besi. Pabriknya besar di Jamsith­poor. Dia membikin barang besi, membikin gunting, membikin pisau, membikin meja dari besi, bikin ini bikin itu. Lhoo ini impor dari Inggris, terutama sekali dari Birmingham. Wah, dus Tata ya sangat merasa mendapat saingan. Tata membantu kepada gerakan ini. Begitu pula milyuner Birla, membantu keras kepada gerakan ini, bahkan Birla itu sahabat karib daripada Mahatma Gandhi. Bahkan Mahatma Gandhi ini ditembak orang di rumahnya Birla. Saya tadi menceriterakan bahwa gerakan daripada kaum perte­ngahan dan borjuis India ini menunggangi rakyat India. Coba saudara-saudara lihat, semboyan daripada gerakan di sana itu, terutama sekali apa? Semboyan ekonomisnya, ialah Swadesi. Yah, tentu gerakan swadesi itu mempunyai harga-harga moril yang tinggi sekali bagi bangsa.

Ya, tentu gerakan Swadesi itu adalah baik bagi bangsa. Sebab dianjurkan kepada bangsa untuk membuat sendiri keperluan hidupnya. Swa artinya sendiri, desi dari perkataan desa; desa yaitu negeri sendiri. Swadesi artinya dari desa sendiri, dari negeri sendiri. Sebagai slogan memang baik sekali. Tetapi tidak baiknya gerakan Swadesi ini ialah ia punya kekolotan. Artinya kekolotan, tidak mau kepada kemodernan. Memang keadaan rakyat India yang hendak dipergunakan oleh kaum pertengahan dan kaum bordjuasi ini tidak bisa diajak kepada kemodernan, tidak bisa menggerakkan rakyat berpuluh-puluh, beratus-ratus milyun: ayo kita bersama-sama mengada-kan pabrik modern. Ayo kita ber­sama-sama mengadakan listrik. Tidak! Tidak bisa usaha men­gadakan pabrik modern, mengadakan listrik, mengadakan kereta api, mengadakan kapal udara, segala modern. Hanya bisa oleh sekelompok orang yang banyak uang, yaitu kapitalisten atau oleh organisasi negara. tetapi mengajak rakyat jelata untuk modern­isme, tidak bisa.

Nah, inilah salah satu cacat daripada gerakan Swadesi. Oleh karena gerakan swadesi itu di bawah pimpinan Mahatma Gandhi yang tidak mau kepada kemodernan. Bahkan Gandhi memberi kepada rakyat satu falsafah anti mesin. Dikatakan bahwa mesin itu bikinan setan. Ya, ini perkataan Gandhi, devilswork. Gandhi tidak mau kepada mesin, sebab dia melihat mesin di Eropa Barat men­jadi alat penindasan manusia. Memang dipergunakan oleh kapi­talisten di Eropa Barat sebagai alat penindasan. Maka oleh karena itu Iantas Gandhi berkata: jangan pakai mesin, mesin adalah devilswork. Buatan Setan. Dia anti kepada segala kemodernan. Ia punya cita-cita adalah satu cita-cita sosial yang kolot. Gandhi tidak mempunyai politik ideologi, tidak punya cita-cita politik yang jelas. Kalau ditanya kepada Gandhi: Gandhi ji, apakah cita-cita politik daripada tuan? Apakah Republik, apakah monarki, apakah Negara Kesatuan, apakah Federalisme? Gandhi tidak bisa men­jelaskan dengan tegas. Paling-paling ia menjawab: Swa radj, Swa artinya sendiri, radj artinya raja, pemerintah. Swa radj artinya pemerintah sendiri. Paling-paling itu, kita mesti mengejar swa radj, swa radj. Cita-cita politiknya tidak tegas. entah Republik entah monarki, entah Negara Kesatuan, entah negara Federal entah dominan status, tidak tegas. Swa radj, segala swa radj, sebaliknya ia mempunyai cita-cita sosial. Jadi cita-cita kemasyarakatan. Dan apa yang ia cita-citakan yaitu satu masyarakat yang di situ tidak ada penindasan, yang di situ tidak ada pengisapan, tetapi juga yang di situ tidak ada mesin-mesin, tidak ada pabrik-pabrik. Ia punya cita-cita sosial yaitu manusia dengan manusia hidup tenteram, rukun, tiap-tiap orang mempunyai sebidang tanah kecil, tanam makanan rakyatnya sendiri, tanam pohon kapasnya sendiri, memintal ia punya benang sendiri, menenun sendiri. Tidak perlu lokomotif, tidak perlu ini itu. Rakyat harus hidup dalam satu suasana tenteram.

Nah, ini yang saya namakan kolotnya gerakan swadesi. Tetapi pada hakekatnya gerakan swadesi ini adalah satu penentangan terhadap kepada imperialisme, sebab di dalam praktiknya gerakan swadesi bukan sekadar positif dari segi positifnya menanam kapas sendiri, memintal benang, menenun sendiri. Tidak! Tetapi juga mempunyai bidang negatifnya, yaitu tidak mau membeli barang bikinan Inggris. Yang dinamakan boycot action. Tidak boleh rakyat ter-utama sekali anggota-anggota dari Indian National Conggress membeli barang-barang buatan Inggris. Bahkan ekses­nya barang-barang buatan Inggris kadang-kadang diserbu, dibawa ke luar, ditumpuk, ditimbun, dibakar. Seperti yang terjadi di Chouri Chora. Dengan gerakan swadesi ini maka handels imperi­alisme Inggris menjadi lumpuh. Karena seluruh rakyat tidak mau membeli barang-barang buatan Inggris itu, padahal doel daripada handels imperialisme Inggris ialah agar supaya rakyat India mem­beli barang-barangnya. Ditentang oleh gerakan swadesi, diboikot barang-barang Inggris, dan rakyat India mengadakan gerakan swadesi positif, membikin barang sendiri. Tetapi di dalam bidang kaum pertengahan dan kaum borjuasinya ia memakai mesin-mesin pula. Saudara-saudara kalau datang di Bombay misalnya, sekarang, di Calcuta, saudara akan melihat pabrik-pabrik tenun yang hebat. Tata yang begitu membantu dengan uang kepada gerakan Gandhi, ia adalah industriil besi yang besarnya hanya dikalahkan oleh industriil Jepang Yawata Kaisha.

Category: Pidato Bung Karno | Views: 928 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Bung Karno, Kursus Pancasila | Rating: 1.5/2
Total comments: 0
avatar