Home » 2017 » March » 25 » KONGRES PEMUDA II: AWAL TERBENTUKNYA BANGSA INDONESIA
4:37 PM
KONGRES PEMUDA II: AWAL TERBENTUKNYA BANGSA INDONESIA

Kongres Pemuda II yang berlangsung pada tanggal 27-28 Oktober 1928 haruslah dapat kita sadari dan tempatkan sebagai sebuah momen besar dan amat peting artinya bagi bangsa Indonesia. Dimana Kongres Pemuda II yang biasa kita peringati sebagai hari Sumpah Pemuda ini, dapat kita katakan merupakan titik awal dari terbentuknya bangsa Indonesia. Di sinilah embrio bangsa Indonesia terbentuk; dimana pada momen ini bangsa Indonesia yang diwakili oleh para pemuda dan pemudi dari berbagai daerah, dengan kemaun dan kesadarannya sendiri mengikat sumpah bersama menjadi satu kesatuan bangsa.

Perasaan sebagai satu bangsa memanglah sudah disadari oleh kita orang-orang yang mendiami gugusan kepulauan nusantara ini sejak lama. Orang-orang nusantara sudah saling beinteraksi antar daerah dan pulau satu sama lain sedari dulu. Mereka merasa meskipun mereka berada di kepulauan yang terpisah satu sama lain, namun mereka menyadari bahwa mereka mendiami sebuah gugusan besar kepulauan yang sama. Bahkan sebagaimana yang kita tahu di abad 14, di era kerajaan Majapahit, Gajah Mada seorang patih di kerajaan Majapahit tersebut pernah pula menyatakan sebuah sumpah untuk menyatukan seluruh kepulauan nusantara ini.

Sumpah yang dikenal sebagai Sumpah Palapa ini dapatlah kita katakan telah berhasil memberi semangat yang besar dan membawa keberhasilan kepada sang patih untuk menyatukan kepulauan nusantara pada waktu itu. Namun demikian sebagaimana kita tahu, persatuan yang berhasil dibentuk di kepulauan nusantara di masa itu adalah persatuan yang rapuh. Hal ini karena persatuan yang terbentuk bukanlah didasari oleh kesadaran dan kemaun kita sendiri melainkan karena penaklukan. Nusantara disatukan oleh kehebatan militer Majapahit kala itu. Dan sebagaimana kita tahu juga, akhirnya nusantara pun kembali harus tercerai berai.

Berbeda dengan Sumpah Palapa yang adalah sumpah pribadi seorang patih untuk menyatukan nusantara, Sumpah Pemuda yang dibuahkan dari Kongres Pemuda II ini adalah sumpah bersamanya bangsa Indonesia. Ini adalah sumpah yang lahir dari sebuah kesadaran yang kuat akan dan keinginan yang kuat untuk menjadi kesatuan bangsa. Sumpah pemuda ini adalah sebuah ikatan persatuan dan persaudaraan yang terlahir dari keinsafan para pemuda-pemudi Indonesia dari berbagai daerah di nusantara akan keharusan mereka menjadi satu bangsa.

Satu hal yang amat penting untuk kita pahami tentang sumpah pemuda ini, betapa sebenarnya disadari atau tidak oleh kita, kesadaran kita akan bhinneka tunggal ika telah tertanam kuat di dalam diri kita sejak lama. Dapat kita katakan dengan yakin bahwa tidak akan mungkin dapat tercetus sumpah pemuda itu jika saja tidak ada kesadaran yang cukup kuat akan bhinneka tunggal ika di dalam diri para pemuda-pemudi Indonesia waktu itu. Ketika sumpah pemuda ini dicetuskan, tentu mereka sadar betul bahwa sumpah yang akan mereka ikrarkan bersama untuk bertanah air, berbangsa dan berbahasa yang satu, Indonesia, adalah sumpah persatuan dari orang-orang yang beraneka ragam. Mereka tahu betul bahwa bangsa ini punya begitu banyak perbedaan. Perbedaan suku, perbedaan etnis, perbedaan tradisi dan juga perbedaan agama dan keyakinan. Sumpah Pemuda ini menjadi sebuah bukti nyata bahwa sejak dulu kita benar-benar telah sanggup untuk tidak menjadikan segala perbedaan yang kita punya sebagai penghalang kita untuk bersatu dan bersaudara sebagai satu kesatuan bangsa.

Benarlah jika kita sebuat momen Kongres Pemuda II ini sebagai momen yang sangat istimewa dalam perjalanan bangsa. Di titik inilah bangsa Indonesia terbentuk. Inilah embrionya bangsa Indonesia. Disinilah bangsa Indonesia yang kala itu masih tercerai berai, untuk pertama kalinya diikat jiwa mereka dalam sebuah kesadaran yang tertuang menjadi sebuah sumpah bersama. Sumpah Pemuda. Momen ini benar-benar telah menghadirkan api semangat yang hebat. Spirit dari sumpah pemuda ini, semangat persatuan dan persaudaraan sebangsa ini, telah sanggup menghantarkan kita kepada perjuangan yang bulat dan memiliki arah yang jelas serta akhirnya membawa kita pada kemerdekaan yang kita cita-citakan 17 tahun kemudian.

Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa kolonisasi yang dilakukan Belanda atas negeri kita ini telah menjadi pemicu mengkristalnya kesadaran kita sebagai satu bangsa. Keberhasilan Belanda menguasai keseluruhan gugusan kepulauan dari Sabang sampai Merauke negeri ini, yang kemudian diberi nama Hindia Belanda telah secara langsung mempertegas wawasan akan kesatuan wilayah kita. Kesatuan wilayah Hindia Belanda ini pula yang kemudian menjadi dasar makna satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda. Ketika kita bersumpah bertanah air yang satu, bangsa yang satu dan bahasa yang satu, tentulah sumpah yang kita maksud tersebut adalah meliputi keseluruhan wilayah negeri ini yang terdiri dari ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke itu. Tidak ada satu wilayah pun dari Hindia Belanda itu yang ditinggalkan. Karenanya ketika kita berjuang untuk mencapai kemerdekaan, arah dari perjuangan kemerdekaan kita itu adalah untuk keseluruhan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Dan ketika kemudian kita berhasil memproklamasikan kemerdekaan kita pada tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan kita itupun adalah kemerdekaannya seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Catatan penting bagi kita yang hidup dimasa ini tentang Sumpah Pemuda ini adalah betapa kita ini adalah anak-anak dari manusia-manusia hebat yang memiliki ketinggian budi dan akal. Bahwa kita adalah generasi yang terlahir dari generasi besar yang telah sanggup memutus rantai-ratai belenggu yang memisahkan kita karena perbedaan suku, ras dan agama. Karenanya janganlah ada di masa kita ini, kondisi dimana kita masih direcoki dengan hal-hal yang membuat kita tercerai berai karena segala perbedaan yang kita punya. Sudah semestinyalah kita mewarisi kesadaran tinggi akan bhinneka tunggal ika dan dengan ihlas hati menerima keseluruhan manusia yang mendiami kesatuan wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke sebagai saudara-saudara kita sebangsa, apapun suku, ras, golongan dan agamanya.

 

Selain lahirnya Sumpah Pemuda yang membawa spirit persatuan yang sangat luar biasa bagi bangsa Indonesia, di Kongres Pemuda II ini diperkenalkan pula untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya oleh WR. Supratman sang komposer dari lagu Indonesia Raya tersebut. Lagu Indonesia Raya ini juga mempunyai peran yang sangat penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Lagu Indonesia Raya hadir untuk menanamkan sebuah mindset atau cara pandang dan menghadirkan sebuah visi atau cita-cita akan keindonesiaan kita. Lagu Indonesia Raya hadiri untuk merubah dan menggeser cara pandang sempit kita yang bersifat kesukuan, kedaerahan dan golonganisme menjadi berpikir kesatuan, kebangsaan dan nasionalisme.

Dari sejarah kita tahu bahwa terdapat rentang waktu yang sangat panjang dalam serjarah perjalanan bangsa kita, dimana kita hidup tercerai berai dan bergolong-golongan. Dimana kita hidup bermusuh-musuhan dan bahkan saling memerangi dan saling menaklukan satu sama lain. Hal itu terjadi tentu saja karena cara pandang sempit kita akan siapa kita. Untuk itulah lagu Indonesia Raya hadir untuk menegaskan akan keindonesiaan kita. Lagu Indonesia Raya hendak menanamkan mindset bahwa yang kita sebut tanah air, yang kita sebut tanah tumpah darah itu bukanlah hanya sebatas petak tanah dimana kita dilahirkan saja, tapi tanah air kita dan tanah tumpah darah yang harus kita bela dan perjuangkan itu adalah meliputi keseluruhan wilayah dari Sabang sampai Merauke.

Tidak boleh orang-orang Jawa berpikir bahwa tanah air dan tanah tumpah darah itu hanyalah sebatas tanah Jawa saja. Tidak boleh orang-orang Sunda berpikir bahwa tanah air dan tanah tumpah darah itu hanyalah sebatas tanah Sunda saja. Demikian juga dengan orang-orang Aceh, Padang, Batak, Ambon, Bugis, Dayak, Papua dan yang lainnya tidaklah boleh berpikir bahwa tanah air dan tanah tumpah darah itu hanyalah sebatas tanah dimana ia berdiri bersama suku dan golongannya itu. Melalui lagu Indonesia Raya ini kita diharuskan untuk berpikir bahwa tanah air dan tanah tumpah darah kita itu adalah kesatuan utuh gugusan kepulauan Indonesia yang terdiri dari lebih 17.000 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Tanah Jawa adalah tanah air dan tanah tumpah darah kita, tanah Sumatera juga adalah tanah air dan tanah tumpah darah kita, tanah Kalimantan, tanah Sulawesi, tanah Maluku, tanah Nusa Tenggara, tanah Papua dan seluruh tanah dalam gugusan kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu adalah tanah air dan tanah tumpah darah kita semua. Karenanya di wilayah atau di atas petak tanah manapun terjadi penjajahan, maka itu adalah penjajahan atas Indonesia. Di wilayah atau di atas petak tanah manapun terjadi penindasan, itu adalah penindasan atas Indonesia.

Wawasan utuh akan keindonesiaan inilah yang hendak ditanamkan oleh lagu Indonesia Raya. Harus benar cara pandang kita tentang tanah air, tentang tanah tumpah darah, tentang bangsa, tentang negeri dan juga tentang kebangsaan kita. Kita harus berpikir bulat utuh. Kita harus berpikir kesatuan dan keseluruhan. Kita harus benar-benar berwawasan dan berakidah Indonesia. Kita menghormati dan mengakomodir semua tradisi, budaya dan keyakinan di negeri kita ini secara utuh. Merangkainya menjadi sebuah ideologi kebangsaan Indonesia. Tidak ada satupun suku, tradisi dan agama yang kita singkirkan atau rendahkan. Semua diramu dan dirajut menurut hikmah dan kebijaksanaan yang kita punya menjadi nilai-nilai dan cara hidup yang membawa warna utuh akan keindonesiaan kita.

Kesadaran akan keutuhan dan kesatuan mutlak yang bulat inilah yang melahirkan Pancasila di tengah-tengah kita sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Pancasila hadir karena kita sadar betul bahwa kemerdekaan yang kita capai itu bukanlah kemerdekaan untuk satu golongan saja, melainkan kemerdekaannya seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Kemerdekaan semua buat semua. Pancasila hadir agar kita benar-benar menjadi Indonesia yang utuh. Indonesia yang bulat mutlak. Indonesia yang tidak meninggalkan satu golonganpun. Indonesia yang seluruh warna dan rupa tentangnya terajut dan terbingkai indah dalam keindonesiaan.

Itulah Indonesia Raya yang kita cita-citakan. Itulah Indonesia Raya yang hendak kita bentuk dan bangun. Itulah Indonesia Raya yang kita doakan dan kita perjuangkan untuk menjadi Indonesia yang merdeka, Indonesia yang bersatu, Indonesia yang beradulat dan Indonesia yang adil dan makmur. Mindset seperti inilah yang hendak dibangun dan tumbuhkembangkan melalui lagu Indonesia Raya ini. Agar kita tahu siapa Indonesia, dan mau kemana Indonesia. Dan agar rasa bangga dan cinta kita untuk Indonesia utuh adanya dan tak terbagi.

Tentu spirit lagu Indonesia Raya ini haruslah pula terpahami dan tertanam dengan baik di dalam dada kita yang hidup di hari ini. Spirit ini adalah kekuatan kita. Semangat keutuhan dan kesatuan ini adalah syarat bagi kita untuk mewujudkan segala cita dan harapan kita akan Indonesia. Kita harus benar-benar menerima dan mencitai Indonesia secara total dan utuh dengan segala keragamannya sebagaimana kita menerima dan mencintai diri kita sendiri secara total dan utuh. Adalah takdir kita untuk menjadi sebuah bangsa yang beragam dan adalah dharma kita untuk menjadi kesatuan bangsa yang utuh tunggal dalam kebhinekaan kita itu.

 

Yang juga tidak kalah pentingnya dari momen Kongres Pemuda II ini adalah, ditetapkannya sang dwi warna merah putih menjadi simbol keindonesiaan kita. Bendera merah putih ini hadir agar kita mempunyi sebuah identitas simbolik yang bisa kita lihat dan sentuh. Kita meletakan keindonesiaan kita kedalam simbol tersebut yang dengannya ia menjadi sakral bagi kita. Ketika kita menggangkat tangan kita untuk menghormatinya, kita tahu persis bahwa kita bukan sedang menghormati sehelai kain dengan dua warna itu, melainkan kita sedang melakukan penghormatan kepada keindonesiaan kita. Kita sedang menghormati nilai-nilai dan keyakinan bangsa kita. Kita sedang menghormati ibu pertiwi dan tanah tumpah darah kita.

Dijadikannya merah dan putih sebagai simbol akan keindonesiaan kita selain mempunyai nilai-nilai historis riligius dan historis budaya, juga memiliki makna filosofis yang kuat. Yang secara sederhana merah melambangkang keberanian dan putih melambangkan kesucian. Inilah karakteristik Indonesia. Kita adalah bangsa pemberani. Kita adalah bangsa pejuang. Kita adalah bangsa yang penuh semangat dan optimistik. Namun kita juga adalah bangsa yang bebudi luhur. Bangsa yang menjunjung tinggi kebenaran. Bangsa yang tunduk kepada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Kita adalah bangsa yang senantiasa mendasarkan segala urusan dan tindakannya di atas dasar keadilan dan kebenaran. Dengan simbol merah putih itu kita meletakan standar karakteristik untuk Indonesia: “Kita adalah bangsa yang berani dalam perbuatan karena kita suci dalam niat”.

Dan dari semua itu, meski tentu saja di momen Kongres Pemuda II ini keindonesiaan kita masihlah jauh dari kata sempurna, namun kita benar-benar dapat melihat betapa Kongres Pemuda II ini telah meletakan dasar-dasar yang sempurna bagi keindonesiaan kita. Di atas dasar-dasar inilah kita kemudian merajut keindonesiaan kita serta bejuang mewujudkan cita-cita kita dengan arah yang jelas. Kongres Pemuda II benar-benar telah meletakan nilai dan memberi arah yang jelas bagi perjalan bangsa kita. Dan tentu saja momen ini dapat terus menjadi alat mengingat dan menjadi patokan arah bagi perjalanan bangsa kita di masa ini dan masa-masa yang akan datang.


Catatan:

Kongres Pemoeda diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :

Abdul Muthalib Sangadji
Purnama Wulan
Abdul Rachman
Raden Soeharto
Abu Hanifah
Raden Soekamso
Adnan Kapau Gani
Ramelan
Amir (Dienaren van Indie)
Saerun (Keng Po)
Anta Permana
Sahardjo
Anwari
Sarbini
Arnold Manonutu
Sarmidi Mangunsarkoro
Assaat
Sartono
Bahder Djohan
S.M. Kartosoewirjo
Dali
Setiawan
Darsa
Sigit (Indonesische Studieclub)
Dien Pantouw
Siti Sundari
Djuanda
Sjahpuddin Latif
Dr.Pijper
Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
Emma Puradiredja
Soejono Djoenoed Poeponegoro
Halim
R.M. Djoko Marsaid
Hamami
Soekamto
Jo Tumbuhan
Soekmono
Joesoepadi
Soekowati (Volksraad)
Jos Masdani
Soemanang
Kadir
Soemarto
Karto Menggolo
Soenario (PAPI & INPO)
Kasman Singodimedjo
Soerjadi
Koentjoro Poerbopranoto
Soewadji Prawirohardjo
Martakusuma
Soewirjo
Masmoen Rasid
Soeworo
Mohammad Ali Hanafiah
Suhara
Mohammad Nazif
Sujono (Volksraad)
Mohammad Roem
Sulaeman
Mohammad Tabrani
Suwarni
Mohammad Tamzil
Tjahija
Muhidin (Pasundan)
Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
Mukarno
Wilopo
Muwardi
Wage Rudolf Soepratman
Nona Tumbel

Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong.

Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau
Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
yaitu :
a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien kwie

Category: Garis Waktu Indonesia | Views: 180 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Kongres Pemuda II, Sumpah Pemuda, Merah Putih, Indonesia Raya, Sejarah Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar