Home » 2018 » October » 14 » Kenapa Rasulullah Menolak Menjadi Raja?
11:10 AM
Kenapa Rasulullah Menolak Menjadi Raja?

“Malaikat Jibril duduk di samping Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, kemudian ia menengadahkan mukanya ke langit. Tiba-tiba ada seorang malaikat yang turun. Malaikat Jibril berkata, "Malaikat ini belum pernah turun sejak diciptakan kecuali saat ini". Ketika malaikat tersebut turun, ia berkata, "Wahai Muhammad! Aku diutus kepadamu oleh Rabb-mu. Apakah Engkau ingin dijadikan sebagai seorang RAJA sekaligus NABI atau seorang HAMBA sekaligus RASUL?" Malaikat Jibril berkata, "Merendahlah kepada Rabb-mu, wahai Muhammad!" Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, "Sebagai seorang HAMBA dan RASUL.""

H
adist tersebut diatas membawa pesan sekaligus petunjuk yang penting buat kita hari ini. Peristiwa yang diceritakan dalam hadist tersebut adalah peristiwa di luar biasanya.

Dikatakan bahwa malaikat yang turun membawa tawaran kepada Nabi Muhammad untuk menjadi RAJA tersebut belum pernah turun sebelumnya sejak ia diciptakan. Artinya tawaran yang seperti ini adalah tawaran yang baru pertama kalinya terjadi. Belum pernah datang kepada Nabi-nabi sebelumnya tawaran yang seperti ini. Kita tahu banyak dari Nabi-nabi sebelumnya yang berharap dan bahkan meminta kepada Allah untuk diberikan KERAJAAN yang besar. Jadi, dapat kita katakan bahwa tawaran Allah melalui malaikat-Nya kepada Nabi Muhammad ini menjadi tanda bahwa bentuk tatanan KERAJAAN itu sebenarnya bentuk tatanan yang SEMENTARA.

Penolakan Nabi Muhammad untuk menjadi RAJA ini dapat kita pahami sebagai penanda telah masuknya era kedewasaan umat manusia. Pola tatanan KERAJAAN dimana BANYAK MANUSIA harus bergantung kepada SATU ORANG MANUSIA, tidak lagi menjadi pilihan yang tepat di era kedewasaan umat manusia ini. Itulah juga alasan kenapa Nabi Muhammad disebut sebagai penutup para Nabi. Artinya para Nabi yang misi kedatangannya adalah memang untuk menghantarkan umat manusia pada titik kedewasaanya itu telah selesai dituntaskan.

Dan ketika umat manusia telah sampai kepada kedewasaannya; ketika umat manusia telah sampai pada kemampuan mengenali hikmat/kebijaksanaan, maka telah masuk waktunya dimana kedaulatan dapat diletakan kepada RAKYAT dan tidak lagi kepada seorang RAJA. Sebab sebenarnya esensi dari pada mengakui Allah sebagai RAJA MANUSIA adalah terletak pada keharusan manusia untuk hidup dalam hukum-Nya. Hidup menurut hikmat kebijaksanaan yang ditetapkan-Nya. Dan telah berakhirnya era KEBANIAN ini menempatkan manusia pada keharusan untuk dapat menetapkan HUKUM PERADABANNYA sendiri menurut hikmat kebijaksanaan yang telah diajarkan para Nabi dan orang-orang suci melalaui Kitab-kitab yang diwariskan kepada meraka.

HUKUM PERADABAN yang dirumuskan menurut hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan/perwakilan itulah yang kemudian menjadi pegangan, pedoman dan hukum bersama. Yang dengannya siapapun yang kemudian diangkat untuk menjadi PEMIMPIN dia tidak lagi mengabil posisi SEBAGAI RAJA yang mendiktekan HUKUM PERADABAN melaikan sebagai HAMBA atau PELAYANAN atau MANDATARIS yang melaksanakan HUKUM yang telah ditetapkan dan digariskan itu.

Pilihan Nabi Muhammad untuk menjadi seorang HAMBA ketimbang menjadi RAJA adalah pilihan yang membalikkan zaman. Dan dapat kita simpulkan bahwa Nabi Muhammad sebagai Nabi penghujung zaman adalah nabi yang berada di era TRANSISI dari zaman KE-RAJA-AN ke zaman KE-HAMBA-AN atau KE-RAKYAT-AN. Karenanya tidak aneh ketika Nabi Muhammad mebangun NEGARA MADINAH, ia tidak mengangkat dirinya sebagai RAJA. Dan bahkan kita tahu PIAGAM MADINAH sebagai Undang-Undang Dasar dari Negara Madinah tersebut, bukanlah UUD yang didiktekan Nabi Muhammad kepada masyarakat Madinah, melainkan UUD yang ditetapkan secara musyawarah dengan melibatkan pembesar-pembesar Madinah yang bahkan tidak semuanya orang-orang Islam.

NEGARA MADINAH pada masa PIAGAM MADINAH dapat kita katakan sebagai BENTUK AWAL (versi alpha) dari NEGARA KEBANGSAAN yang berbentuk KESATUAN dan bersifat KERAKYATAN. Kita dapat sebut sebagai NEGARA KEBANGSAAN adalah karena kita tahu PIAGAM MADINAH (UUD Madinah) adalah hukum yang mengakomodir keseluruhan unsur baik tradisi suku-suku dan agama-agama yang ada di MADINAH pada waktu itu. Piagam Madinah tidak MENGHAPUS peradaban yang sudah terbentuk melainkan mengakomodir dan menselaraskannya saja dengan NILAI-NILAI LUHUR yang FITRATI.

Kita sebut mempunyai bentuk KESATUAN karena kita tahu bahwa NEGARA MADINAH yang di dalamnya terdiri dari beragam golongan itu: Muhajirin, Anshar, suku-suku Yahudi dan juga suku-suku Arab Badui serta juga terdiri dari beragam agama itu: Islam, Yahudi, Nasrani dan bahkan ada juga terdapat penganut agama Pagan di dalamnya itu disebut oleh Nabi Muhammad sebagai UMMAT YANG SATU.

Kita sebut mempunyai sifat KERAKYATAN karena kita tahu PIAGAM MADINAH adalah UUD yang dibuat dan ditetapkan dalam permusyawaratan/perwakilan menurut hikmat kebijaksaan. Nabi Muhammad tidak membuat ketetapan itu sendiri secara otoriter. Bahkan dalam prakteknya, ketika bani Quraizah melakukan penghiatan besar atas Piagam Madinah dalam perang Al-Ahzab, penghakiman atas pengkhiatan itu diserahkan Nabi Muhamad kepada Bani Aus sesuai dengan permintaan dari bani Quraizah sendiri. Dan bahkan hukuman yang dijatuhkan kepada bani Quraizah pada saat itu pun adalah hukuman menurut Taurat sesuai dengan agama dari bani Quraizah.

Hadist ini menjadi semakin menarik untuk dicermati ketika kita tahu bahwa rupanya Yesus (Nabi Isa) pun meninggalkan sebuah tanda akan datangnya era KERAKYATAN ini. Di dalam Yohanes 13: 5-7 ada dikatakan:

"Kemudian, Ia menuangkan air ke sebuah baskom dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya serta mengeringkan kaki mereka dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya. Lalu, Ia sampai kepada Simon Petrus dan ia berkata kepada Yesus, "Tuhan, Engkau membasuh kakiku? Yesus menjawab dan berkata kepadanya, "Apa yang Aku lakukan, kamu tidak memahaminya sekarang, tetapi kelak kamu akan mengerti."

Sebagaimana Yesus katakan, memang apa yang dilakukannya itu tidak akan dapat dimengerti pada masa itu; bahkan dapat kita pastikan tidak juga akan dapat dipahami di masa Petrus itu sendiri. Apa yang dilakukan Yesus itu memanglah lebih ditujukan sebagai sebuah tanda akan datangnya suatu peradaban KERAKYATAN kelak; dimana RAKYAT adalah pemegang kedaulatan tertinggi. Pada masa itu seorang pemimpin bukanlah lagi seorang RAJA melaikan seorang MANDATARIS RAKYAT yang menjalankan roda pemerintahannya menurut KONSTITUSI yang ditetapkan oleh rakyat menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Dari dulu sebenarnya inti dari pada kepemimpinan itu memang berorientasi kepada RAKYAT. Adapun bentuk KERAJAAN atau kah KERAKYATAN yang terbaik, itu sangat tergantung pada zaman dan kondisi umat manusia itu sendiri. Di zaman yang lalu, dimana umumnya rakyat masih bodoh dan lemah dalam hikmat kebijaksanaan, tentu saja RAKYAT memang harus sepenuhnya didikte oleh seorang yang cerdas dan kuat dalam hikmat kebijaksanaan. Karena itu bentuk KERAJAAN dimana seorang RAJA memegang kedaulatan absolut adalah pilihan terbaik masa itu.

Namun tentu saja bentuk KERAJAAN ini bukanlah sebaik-baiknya bentuk. Karena potensi penyelewengan (SEORANG) RAJA ketika di tangannya diletakan kekuasaan absolut sangatlah besar. Adapun bentuk KERAKYATAN dimana kedaulatan tertinggi berada di tangat RAKYAT, inilah sebaik-baiknya bentuk. Hanya saja bentuk KERAKYATAN ini memang hanya bisa dijalankan ketika umat manusia telah sampai pada titik kedewasaan tertentu. Dan dari ARUS SEJARAH peradaban kita melihat bahwa kita telah masuk pada zaman KERAKYATAN itu.

Category: Nasionalisme dan Agama | Views: 168 | Added by: PuteraGaruda | Tags: NKRI, Kerajaan, Kerakyatan, Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar