Home » 2017 » June » 22 » KEJADIAN BANGSA INDONESIA
0:45 AM
KEJADIAN BANGSA INDONESIA

1. Terdapat 4 fase penting dalam kejadian bangsa Indonesia yang harus kita pahami dengan baik. Yaitu: terbentuknya BANGSA Indonesia, tercapaianya KEMERDEKAAN Indonesia, berdirinya NEGARA Indonesia dan terformulasikannya NASIONALISME Indonesia.

2. Pentingnya memahami 4 fase penting dalam kejadian bangsa Indonesia ini adalah agar kita mengetahui dengan benar nilai-nilai dan prinsip-prinsip apa yang sebenarnya menjadi landasan terbentuknya bangsa, yang menjadi spirit perjuangan bangsa, yang menjadi acuan dalam membentuk dan mendirikan Negara Indonesia ini serta agar kita mengetahui dengan benar arah dan tujuan dari pada bangsa Indonesia itu.

3. Bagi kita putera-puteri dan generasi penerus bangsa, memahami dengan sebaik-baiknya sejarah Indonesia itu adalah sebuah keharusan. Karena pemahaman yang benar akan sejarah bangsa Indonesia akan sangat berpengaruh kepada bentuk sikap dan karakter kita sebagai anak bangsa serta berpengaruh kepada daya dan bentuk sumbangsih kita bagi bangsa ini. Pemahaman sejarah yang baik akan membentuk kepribadian yang selaras dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai luhur babanga.

4. Pesan Bung Karno untuk “jangan sekali-kali melupakan sejarah” (Jas Merah) mengandung isarat penting. Karena di dalam sejarah itu terdapat pelajaran, kebenaran dan petunjuk yang akan menjadi rahmat. Terlebih dari itu di dalam sejarah juga terkandung kehendak yang harus diikuti. Karenanya jika kita berjalan tanpa memahami sejarah atau dengan pengabaian kepada sejarah atau dalam pemahaman sejarah yang keliru, hal ini akan membuat kita berjalan dengan sikap dan arah yang keliru serta akan membuat kita jatuh ke dalam kesalahan yang tidak perlu.

5. Hal yang juga harus kita pahami mengenai sejarah adalah bahwa pelajaran, kebenaran dan petunjuk yang terdapat di dalam sejarah adalah pelajaran, kebenaran dan petunjuk yang sudah teruji. Sejarah berisi sekumpulan kisah perbuatan manusia di masa lalu yang telah terhakimi oleh alam.

6. Eratnya hubungan antara pemahaman sejarah Indonesia yang baik dan benar dengan ketepatan arah dan gerak perjalanan bangsa di hari ini dan masa yang akan datang, membuat kita mengerti kenapa salah satu cara yang dilakukan bangsa-bangsa penjajah untuk menguasai bangsa jajahannya adalah mengaburkan dan merusak sejarah bangsa tersebut.

7. Karenanya adalah sebuah keharusan bagi kita untuk dapat menghadirkan sebuah pemahaman akan sejarah bangsa ini dengan sebaik dan setepat mungkin. Sejarah itu harus lurus, harus jujur dan harus benar. Di dalam sejarah yang lurus, jujur dan benar itulah mutiara-mutiara kebijaksanaan dan kebenaran tersimpan dengan sebaik-baiknya.

8. Menjadi satu bangsa yang beraneka warna adalah realitas bangsa Indonesia yang tidak bisa ditolak. Keadaan geografis bangsa kita yang terdiri dari ribuan pulau serta memiliki tanah air yang penuh daya tarik; subur, asri dan kaya akan sumber daya alam telah menjadi sebab terbentuknya kita melalui sentuhan sang waktu menjadi satu bangsa yang paling beragam di atas bumi ini.

9. Keadaan geografis kita yang terdiri lebih dari 17000 pulau telah membentuk kita menjadi satu bangsa yang memiliki lebih dari 1300 suku, lebih dari 740 bahasa dan lebih dari 20 agama lokal. Dan tanah air kita yang subur, asri dan kaya akan sumber daya alam ini telah menarik banyak bangsa dari berbagai belahan dunia untuk datang ke negeri ini. Kedatangan berbagai bangsa ke negeri ini membuat kita menjadi satu bangsa yang bukan saja beragam sukunya melainkan juga menjadi bangsa yang multi ras dan etnis serta membentuk kita menjadi bangsa yang beragam aliran berpikirnya. Bahkan 6 agama besar yang menjadi agama mayor penduduk negeri ini adalah pengaruh yang datang dari bangsa-bangsa lain.

10. Bung Karno menjelaskan keberagaman bangsa Indonesia ini dengan menyebut bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beraneka warna adat istiadatnya, beraneka warna cara berpikirnya, beraneka warna cara mencari hidupnya dan beraneka warna agamanya.

11. Bung Karno juga menegaskan bahwa bangsa Indonesia yang beraneka warna ini, yang berdiam di atas puluhan ribu pulau antara Sabang dan Merauke ini, haruslah dapat dipersatukan jika bangsa Indonesia ini ingin tergabung dalam satu negara yang kuat.

12. Keberagaman bangsa Indonesia yang penuh warna ini menghadirkan dua potensi besar yang harus dapat disikapi dengan bijak. Keberagaman ini tentu dapat menjadi berkah yang luar biasa bagi bangsa Indonesia jika kita dapat mempersatukannya; tapi ia juga dapat menjadi sumber malapetaka bagi bangsa jika kita bercerai berai karenanya.

13. Keberagaman tersebut tentu membuat bangsa ini kaya sekali akan nilai-nilai dan kearifan yang dengannya dapat membuat kita menjadi satu bangsa yang sangat bijaksana dan berpotensi besar mencapai peradaban yang tinggi. Namun di sisi yang lain keberagaman tersebut juga membuat bangsa kita ini mempunyai banyak sekali hal yang dapat menjadi pemicu lahirnya konflik dan pertikaian. Di sinilah dibutuhkan sebuah formula yang tepat untuk dapat mempersatukan dan menjaga keutuhan bangsa yang beraneka warna ini.

14. Bangsa ini pernah mengalami satu masa panjang, kurang lebih 1.500 tahun lamanya, dimana kita hidup sebagai satu bangsa yang terpecah belah di zaman kerajaan-kerajaan. Takluk-menaklukan dan perang-memerangi adalah kisah lumrah yang menjadi warna dominan kehidupan kita di zaman kerajaan-kerajaan itu.

15. Tercatat sedikitnya terdapat 800 kerajaan lebih yang pernah berdiri di Nusantara sepanjang zaman kerajaan-kerajaan tersebut. Dan masalah terbesar kita pada zaman itu adalah ketidak-mampuan kita untuk menghadirkan satu konsepsi yang betul-betul dapat mempersatukan dengan damai kerjaan-kerajaan yang mendiami tanah Nusantara ini.

16. Bung Karno pernah mengatakan bahwa sebelum Indonesia merdeka kita pernah mengalami 2 kali nationale staat. Yaitu di era kerajaan Sriwijaya dan di era kerajaan Majapahit. Dan sebagaimana kita ketahui melalui sejarah, lahirnya kedua nationale staat ini sama-sama diawali dengan sebuah sumpah.

17. Sejarah mencatat berdirinya nationale staat kerajaan Sriwijaya yang bertahan kurang lebih 600 tahun lamanya diawali dengan sebuah sumpah yang dikenal dengan nama Sumpah Bukit Siguntang. Ini adalah sumpah tiga orang pemuka suku untuk saling setia mendukung siapapun yang menjadi raja selama raja tersebut berpihak kepada rakyat.

18. Sejarah juga mencatat berdirinya nationale staat kerajaan Majapahit yang bertahan lebih dari 200 tahun lamanya juga diawali dengan sebuah sumpah yang dikenal dengan nama Sumpah Palapa. Ini adalah sumpah dari seorang patih yang bernama Gajah Mada yang bersumpah untuk berpuasa dari kesenangan dunia sampai ia dapat berhasil menyatukan Nusantara.

19. Sumpah Palapa adalah sumpah yang terinspirasi dari Kitab Sutasoma karya Empu Tantular yang dalam salah satu baitnya tertulis: “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Yang beragam itu yang tunggal itu, tidaklah ada kebenaran yang mendua. Bait inilah yang melahirkan kesadaran sang patih untuk menyatukan Nusantara yang saat itu dihuni oleh dua keyakinan besar Hindu dan Budha. Sang patih menyadari bahwa sejatinya kebenaran itu satu adanya meski ia tampil dalam bentuk dan rupa yang berbeda.

20. Sayangnya satu-satunya cara yang terlihat oleh Patih Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara pada masa itu adalah melalui kekuatan militer. Melalui penaklukan. Dan hal ini tentu wajar-wajar saja karena memang di masa itu belumlah dikenal prinsip kemerdekaan. Manusia masih tergelam dalam budaya saling takluk menaklukan yang sudah diwarisi dari zaman ke zaman.

21. Sekalipun Gajah Mada dapat dikatakan berhasil menyatukan Nusantara, namun tidaklah penyatuan itu dapat bertahan lama. Selepas wafatnya sang patih Majapahit itu, konflik berkepanjangan, pemberontakan dan serangan dari kerjaan luar akhirnya membuat Majapahit kembali tercerai berai, runtuh dan akhirnya hilang ditelan bumi.

22. Dalam konteks sebagai proses berkelanjutan dari jalannya sejarah tentu kita tidak bisa sebut zaman kerajaan-kerajaan itu jelek dan buruk. Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari rangkaian proses panjang pembentukan peradaban bangsa Indonesia yang mengandung hikmah dan pelajaran padanya. Hal-hal tersebut memanglah harus kita alami dan lewati. Kini tinggalah kita mengambil pelajaran berharga dari pada sejarah itu dan kemudian memutuskan jalan apa yang terbaik buat kita di hari ini.

23. Bung Karno mengatakan bahwa “kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya”. Dan untuk mewujudkan maksud itu tentulah dibutuhkan sebuah konsepsi yang benar-benar kuat. Yang kokoh mengakar ke dalam buminya Indonesia agar dapat menopang kehidupan berbangsa dan bernegara Indonsia ini buat selama-lamanya.

24. Setelah melewati masa 1.500 tahun hidup sebagai satu bangsa yang berpecah belah di zaman kerajaan-kerajaan, masuklah kita ke zaman penjajahan yang menelan waktu 350 tahun lamanya dimana kita harus mengalami nasib sebagai bangsa terjajah selama itu.

25. Renaissance yang membawa Eropa kepada abad pencerahan setelah berabad-abad lamanya tenggelam dalam masa kegelapan membuat bangsa-bangsa barat ini mengalami kemajuan yang melampui bangsa-bangsa lainnya pada masa itu. Kemajuan bangsa-bangsa barat inilah yang kemudian melahirkan apa yang kita kenal dengan imperialisme barat.

26. Imperialisme barat yang menyebar luas ke berbagai belahan dunia sampai juga cengkaramannya itu di bumi Indonesia ini di abad ke 16. Perlahan tapi pasti kuku imperialisme pun menancap kuat di bumi Indonesia ini. Mulai dari bangsa Portugis, berlanjut dengan VOC dan kemudian dilanjutkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda sampai dengan 350 tahun lamanya kita harus mengalami hidup sebagai bangsa jajahan.

27. Seiring dengan masuknya bangsa-bangsa penjajah ke negeri kita, fokus perhatian kitapun berubah. Kita yang semula disibukan dalam gaya hidup bergolong-golongan yang melahirkan budaya takluk-menaklukan di sepanjang zaman kerajaan-kerjaan, kini harus disibukan oleh urusan memerangi dan mengusir penjajah dari tanah Nusantara.

28. Meski tentu kita mengutuk penjajahan dalam segala bentuknya, tapi tidaklah juga kita menampikan bahwa penderitaan panjang nan hebat yang harus dialami oleh bangsa ini tentulah juga membawa hikmah dan rahmat tersendiri bagi bangsa Indonesia. Penjajahan panjang itulah yang telah menempa kita menjadi sebuah bangsa yang memahami dan meyakini dengan sebaik-baiknya bahwa kemerdekaan itu haruslah menjadi hak segala bangsa.

29. Keyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa inilah yang telah melahirkan perjuangan tanpa henti dan tanpa kenal lelah untuk menjadi satu bangsa yang merdeka. Dan bahkan kita meyakini betul bahwa kehendak untuk menjadi bangsa yang merdeka itu adalah sebuah kehendak luhur yang dirahmati Tuhan Yang Maha Esa.

30. Prinsip kemerdekaan ini pula yang kemudian membawa kita kepada momen terbentuknya bangsa Indonesia. Prinsip inilah yang kemudian menjadi dasar nilai bagi lahirnya sebuah konsep persatuan yang amat dasyat, yaitu persatuan dalam keberagaman. Yang darinya itulah lahir Sumpah Pemuda. Sebuah sumpah yang menjadi cikal bakal terebentuknya nationale staat yang ke tiga. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cita-citakan menjadi negara bagi bangsa Indonesia buat selama-lamanya.

31. Berbeda dengan Sumpah Bukit Siguntang yang adalah sumpah tiga pemuka suku; berbeda pula dengan Sumpah Palapa yang adalah sumpah pribadi seorang patih, Sumpah Pemuda ini adalah sumpahnya sebuah bangsa. Sumpah Pemuda ini adalah sumpah yang lahir dari kesadaran penuh untuk bersatu dan bersaudara sebagai satu bangsa meski ada banyak sekali perbedaan di dalamnya.

32. Kehendak untuk sama-sama merdeka dan kesadaran bahwa kemerdekaan itu adalah milik semua telah membuat segala bentuk perbedaan menjadi tidak berarti lagi. Nilai kemerdekaan yang menjadi nilai bersama dan yang menempatkan setiap orang, setiap golongan dan setiap bangsa sama dan setara untuk merdeka telah meruntuhkan sekat-sekat egoisme golongan yang menjadi sebab keterpisahan dan permusuhan.

33. Lahirnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 di Kongres Pemuda 2 adalah momen terbentuknya bangsa yang merupakan fase 1 dari 4 fase penting dalam kejadian bangsa Indonesia.

34. Dinyatakannya momen Kongres Pemuda 2 ini sebagai momen terbentuknya bangsa Indonesia adalah karena pada momen inilah kita mememiliki satu ikatan bersama, satu ideologi dan cita-cita bersama serta memiliki satu identitas bersama.

35. Di kongres pemuda dua inilah dilahirkan tiga hal penting yang menjadi aspek penentu terbentuknya sebuah bangsa. Yaitu: Sumpah Pemuda, Lagu Indonesia Raya dan Sang Dwi Warna Merah Putih.

36. Sumpah Pemuda dimana diikrarkan di dalamnya tekad kita untuk menjadi satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia adalah sumpah yang menjadi pengikat jiwa bangsa Indonesia yang semula tercerai berai menjadi saling terhubung dalam semangat satu kesatuan bangsa.

37. Lagu Indonesia Raya yang untuk pertama kalinya diperdengarkan dan diperkenalkan di Kongres Pemuda 2 pada waktu itu adalah wawasan akan ideologi kebangsaan kita mula-mula yang kehadirannya menjadi pembentuk cara pandang kita akan keindonesiaan kita. Cara pandang kita tentang tanah air, tentang tanah tumpah darah, tentang bangsa dan kebangsaan, juga tentang negeri kita dan cita-cita kita untuk menjadi satu bangsa yang merdeka.

38. Di tetapkannya Sang Dwi Warna Merah Putih sebagai identitas bersama bangsa Indonesia telah menyatukan spirit perjuangan kita ke arah yang satu dan sama. Untuk dan demi Indonesia. Sang Dwi Warna menghadirkan sebuah identitas yang dapat dilihat dan disentuh yang keberadaannya akan senantiasa menjadi pengingat kita akan kesatuan tanah air dan bangsa yang harus hormati, cintai, perjuangankan dan bela.

39. Satu hal yang dapat kita katakan dengan yakin tentang Sumpah Pemuda ini adalah bahwa pastilah sprit yang mendasari dari pada lahirnya Sumpah Pemuda ini adalah spirit Bhinneka Tunggal Ika. Spirit persatuan dalam keberagaman yang diilhami oleh prinsip saling menghormati kemerdekaan. Saat Sumpah Pemuda ini diikrarkan, kita sadar betul bahwa kita yang mengikrar diri untuk menjadi satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia adalah orang-orang yang berbeda-beda suku, agama dan golongannya.

40. Lahirnya Sumpah Pemuda ini harus terus menjadi patokan kita dalam mengenali prinsip dan nilai yang melatar-belakangi terbentuknya bangsa Indonesia ini. Sehingga seberapa jauh pun bangsa ini berjalan nantinya kita tetap harus berpegang bahwa sejak awal terbentuknya bangsa ini adalah karena kita ingin hidup dalam keutuhan dan kebersamaan sebagai satu kesatuan bangsa sekalipun kita berbeda-beda adanya.

41. Sumpah Pemuda ini membawa arti dan dampak besar bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaannya. Dititik inilah kekuatan perjuangan yang selama ini tercerai berai disatukan dalam gerak dan arah bersama. Dasyatnya penyatuan kekuatan perjuangan yang dilahirkan oleh Sumpah Pemuda inilah yang 17 tahun kemudian membawa Indonesia pada kemerdekaannya setelah sebelumnya telah berjuang berabad-abad lamanya.

42. Dapat dikatakan sebenarnya berlangsung begitu lamanya penjajahan atas negeri ini bukan lantaran bangsa penjajah itu lebih kuat dan lebih hebat dari kita. Bukan! Sebab utama berlangsung begitu lamanya penjajahan atas negeri kita adalah karena kita yang terlalu lama menyadari dasyatnya kekuatan kita sendiri dan terlalu lama terlena dalam perpecahan. Bayangkan bangsa Indonesia yang kala itu berpenduduk 60 juta jiwa banyaknya dapat dijajah begitu lama oleh bangsa Belanda yang kala itu hanya berpenduduk kurang lebih 4 juta jiwa saja.

43. Pelajaran tentang dasyatnya kekuatan persatuan dan lemahnya perpecahan itu adalah hal yang tidak boleh luput untuk selama-lamanya dari ingatan bangsa Indonesia. Pesatuan dan kesatuan telah nyata-nyata menjadi kunci utama bagi kita untuk mencapai dan mewujudkan segala apa yang kita cita-citakan sebagai sebuah bangsa.

44. Di alam nyata kita dapat menyaksikan bagaimana kawanan kerbau yang menyadari kekuatannya serta mau menyatukan kekuatan dan keberanian mereka, mereka dapat mengusir kawanan singa yang buas. Dan ketika bangsa Indonesia yang saat itu dihuni oleh 60 juta jiwa sudah bersatu padu, maka sebenarnya kekuatan Belanda di Indonesia pada waktu pun tidaklah ada apa-apanya.

45. Ketidak-akuran bangsa-bangsa imperialis yang saling berebut dominasi kekuasaan dunia membuat situasi politik dunia terus memanas yang ditandai dengan meletusnya perang dunia ke-2 pada tahun 1939. Perang dunia ke-2 membelah kekuatan bangsa-bangsa ke dalam dua belahan besar. Blok Poros dan Blok Sekutu. Di Blok Poros terdapat tiga kekuatan besar Jerman, Italia dan Jepang bersama dengan negara-negara pendukungnya. Sementara itu di Blok Sekutu terdapat empat kekuatan besar Inggris, Amerika Serikat, Uni Soviet dan Tiongkok bersama dengan negara-negara lainnya termasuk salah satunya adalah Belanda.

46. Selain untuk memperebutkan dominasi kekuasaan atas dunia ini, hal pokok lainnya yang juga menjadi sebab terjadi perang dunia ke-2 ini adalah adanya pertentangan tiga paham besar; Fasisme, Demokrasi dan Komunisme yang dianut oleh masing-masing bangsa Imperialis tersebut. Dimana untuk memastikan dominasi mereka atas dunia ini, tiap-tiap pihak tentu berkepentingan untuk menyebarkan paham mereka masing-masing.

47. Situasi politik dunia yang memanas akibat perang dunia ke-2 itu membawa keuntungan tersendiri bagi bangsa-bangsa terjajah seperti Indonesia untuk memuluskan cita-cita perjuangannya menjadi bangsa yang merdeka.

48. Dampak langsung yang menguntungkan posisi Indonesia adalah ketika di tahun 1940 Jerman menyerang negara-negara Eropa. Selain Denmark, Norwegia dan Belgia, Belanda yang saat itu sedang berkuasa atas Indonesia pun tidak luput dari serangan Jerman. Dan akibat serangan tersebut, Belanda mengalami kerusakan hebat. Rotterdam salah satu kota besar di Belanda hancur lebur berantakan.

49. Kehancuran hebat yang dialami oleh Belanda dan kekacauan yang ditimbulkan serangan Jerman atas negeri itu bahkan membuat Ratu Belanda bersama pimpinan teras Pemerintahan Belanda harus mengungsi ke London. Keadaan yang demikian itu membuat Belanda mau tidak mau harus menarik pasukannya dari Indonesia demi untuk mempertahankan negerinya.

50. Sementara itu, Jepang yang sedang dalam upaya mewujudkan ambisinya untuk menguasai sumber daya alam di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia sangat diuntungkan dengan lemahnya posisi Belanda di Indonesia. Di tahun 1942 masuklah Jepang ke Indonesia dan dalam tempo kurang dari tiga bulan Jepang telah berhasil mengalahkan Belanda dan membuat Belanda harus menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Penjajahan atas Indonesia pun dengan ini secara otomatis diambil alih oleh Jepang.

51. Seiring dengan makin terdesak dan terpukulnya Jepang dalam Perang Asia Timur Raya sejak kekalahan beruntun yang dialaminya, akhirnya di tahun 1944 Jepang pun menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Hal ini dilakukan Jepang untuk menarik simpati dan menjadikan Indonesia sebagai aliansi yang akan membantu Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya.

52. Janji kemerdekaan dari Jepang tersebut tentu membawa harapan baru bagi bangsa Indonesia. Dan meski janji tersebut telah berhembus sejak 7 sepetember 1944, namun baru pada 1 Maret 1945 janji tersebut menjadi dekat dengan kenyataan dengan dibentuknya BPUPKI oleh Pemerintah Pendudukan Bala Tentara Jepang.

53. BPUPKI dibentuk untuk mengadakan pemeriksaan dasar tentang hal-hal yang penting, rancangan-rancangan dan penyelidikan-penyelidikan yang berhubungan dengan usaha mendirikan Negara Indonesia Merdeka. Yang kesemuanya harus dilakukan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

54. Sidang pertama BPUPKI yang berlangsung selama 3 hari dari tanggal 29 Mei - 1 Juni 1945, secara khusus membahas prihal dasar negara. Dimana pada sidang pertama ini dasar-dasar yang dikemukakan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, yang oleh Bung Karno dinamai Pancasila, mendapatkan sambutan secara aklamasi oleh seluruh anggota BPUPKI. Hal ini karena lima prinsip dasar yang disampaikan Bung Karno itu dipandang dapat mengitegrasikan seluruh pandangan anggota BPUPKI lainnya secara utuh dan disampaikan oleh dengan retorika yang memiliki dasar yang kuat.

55. Pada masa reses yang berlangsung selama 5 minggu dari tanggal 2 Juni - 9 Juli 1945, para anggota BPUPKI tetap bekerja untuk menyusun Pembukaan UUD dan Rancangan UUD. Dimana Rancangan UUD dirumuskan oleh 7 orang anggota dan Rancangan Pembukaan UUD dirumuskan oleh Panitia 9. Penitia 9 yang terdiri dari Bung Karno, Bung Hatta dan 7 orang lainnya inilah yang merumuskan apa yang kemudian dikenal dengan Piagam Jakarta.

56. Dapat dikatakan bahwa disepanjang sidang BPUPKI ini, sangatlah diwarnai dengan upaya-upaya singkronisasi pendapat dan konsepsi antara pihak Islam dan Pihak Kebangsaan. Namun dapatlah kita berbangga kepada para pendiri bangsa yang telah dengan begitu lapang dan terbuka mengatasi segala perbedaan dan mencapai singkronisasi. Kita amat bersyukur karena proses pembentukan bangsa dan negara ini benar-benar dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hikmat dan kebijaksanaan yang tinggi.

57. Adapun sidang kedua yang berlangsung selama 8 hari dari tanggal 10 Juli - 17 Juli 1945, diisi dengan pamatangan dan pemantapan apa-apa yang sudah dirumuskan dalam Rancangan Pembukaan UUD dan Rancangan UUD. Dan tiga masalah yang paling subtansial pada sidang kedua ini adalah mengenai masalah anak kalimat “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang terdapat pada alinea keempat Rancangan Pembukaan UUD, kemudian tentang bentuk negara dan tentang wilayah negara.

58. Tentang anak kalimat “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Dalam sidang kedua ini muncul usulan dari dua orang anggota, yaitu Ki Bagoes Hadikoesoemo termasuk dari Ki Sanusi dari golongan Islam yang mengusulkan agar kata-kata “bagi pemeluk-pemeluknya” dalam anak kalimat tersebut dihilangkan saja. Alasan Ki Bagoes mengusulkan hal itu agar tidak terdapat di dalam UUD itu satu aturan yang mendua; dimana hanya berlaku bagi sebagian golongan dan tidak bagi yang lain.

59. Usulan Ki Bagoes untuk menghapus kata-kata “bagi pemeluk-pemeluknya” dari kalimat “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” ditolak oleh ketua BPUPKI Dr. Rajiman Wedyoningrat dan oleh Bung Karno sebagai ketua Perancang UUD. Alasan ditolaknya usulan tersebut, sebagaimana yang dikemukakan Bung Karno dalam sidang adalah lantaran hal tersebut sudah merupakan hasil kompromis yang yang bulat antara pihak Islam dan Pihak Kebangsaan.

60. Perlu diketahui juga bahwa sebenarnya sebelum kata-kata “bagi pemeluk-pemeluknya” itu disepakati Panitia 9 pada tanggal 22 Juni 1945, kata-kata tersebut berbunyi “bagi umat Allah SWT”. Dan setelah terjadinya singkronisasi pendapat antara pihak Islam dan pihak Kebangsaan, telah tercapai sebuah kompromis yang menyepakati kata-kata “bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi sebagaimana yang tertera dalam anak kalimat “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

61. Adapun mengenai bentuk negara terdapat dua usulan yang dikemukakan para anggota disepanjang sidang BPUPKI ini. Yaitu bentuk Republik dan bentuk Kerajaan. Dapat dikatakan selama pembahasan tentang ini, pandangan bahwa bentuk negara republik adalah bentuk yang paling tepat dan sejalan dengan nilai-nilai, budaya, realita dan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia adalah pandangan yang mendominasi sidang dan menghadirkan dasar-dasar yang kuat. Sehingga tidak mengherankan ketika dilakukanlah pemungutan suara, dari 64 suara yang ada, usulan Republik mendapat 55 suara, Kerajaan 6 suara, lain-lain 2 dan blangko 1. Maka menjadi bulatlah bentuk negara Indonesia adalah Republik.

62. Selain itu, mengenai bentuk negara ini, di dalam sidang BPUPKI juga dibahas tentang apakah Negara Republik Indonesia yang akan dibentuk ini adalah negara kesatuan (uni) atau negara serikat (federasi). Dalam hal ini, meskipun kedua usulan tersebut cukup mewarnai sidang, namun tidaklah sulit untuk mencapai kata sepakat tentang ini. Di dalam sidang kedua tanggal 15 Juli 1945 diputuskan sebagaimana termuat dalam rancangan UUUD Bab 1. Pasal 1. Ayat 1. Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Disepakati oleh seluruh anggota sidang.

63. Sementara itu tentang penetapan luas wilayah negara Indonesia, meski kemudian diputuskan untuk tidak dimasukkan ke dalam rancangan UUUD, namun termasuk salah satu bahasan yang subtansial di dalam sidang. Terdapat 3 usulan tentang ini, yaitu: pertama, luas wilayah Indonesia adalah Hindia Belanda dahulu. Kedua, Hindia Belanda ditambah dengan Malaya, tapi dikurangi Paupua. Ketiga, Hindia Belanda ditambah dengan Malaya, Borneo Utara, Portugis Timur dan Papua seluruhnya termasuk pulau-pulau disekilingnya. Dan setelah melalui pemungutan suara hasilnya ialah 19 untuk usulan pertama, 6 untuk usulan kedua dan 39 untuk usulan ketiga.

64. Satu hal yang perlu kita ketahui tentang BPUPKI ini, bahwa BPUPKI hanya meliputi perwakilan dari Jawa dan Sumatera dan tidak termasuk Kalimantan serta kepulauan Timur lainnya. Hal ini dikarenakan kekuasaan Jepang atas Indonesia pada waktu itu terbagi dalam dua garis komando. Indonesia bagian barat dikuasai oleh angkatan darat Jepang dan Indonesia bagian Timur dikuasi oleh angkatan laut Jepang. Hal ini penting untuk kita ketahui untuk dapat memahami kenapa kemudian di sidang PPKI, dimana dalam PPKI ini telah meliputi perwakilan Indonesia bagian Barat dan Timur, terjadi satu perubahan esensial dalam Pembukaan UUD.

65. Pada 6 Agustus 1945 terjadi satu peristiwa yang membawa perpengaruh besar dalam proses bangsa Indonesia menuju kemerdekaannya. Peristiwa tersebut adalah dijatuhinya bom atom di Hirosima oleh Sekutu. Peristiwa yang menyebabkan kota Hirosima hancur luluh lantah dan menelan korban 292.325 jiwa bayaknya ini, membuat Jepang merasa harus menyegerakan kemerdekaan atas Indonesia.

66. Satu hari setelah peristiwa Hirosima itu, pada tanggal 7 Agustus 1945 dibentuklah PPKI. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ini menandai semakin dekatnya kemerdekaan Indonesia itu. Namun berbeda dengan BPUPKI yang kala itu baru meliputi perwakilan Indonesia bagian barat, PPKI ini telah mencakup perwakilan Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur. Dan dapat kita duga kuat dimana utusan-utusan dari Indonesia Timur yang baru bergabung pada tanggal 7 Agustus itu, barulah benar-benar mengetahui isi dari hasil sidang BPUPKI secara utuh saat mereka telah hadir di Jakarta waktu itu.

67. 9 Agustus 1945 kembali Jepang dijatuhi bom Atom. Kali ini kota Nagasaki yang dibuat hancur berantakan oleh bom atom Sekutu ini yang mengakibatkan sejumlah 165.409 jiwa korban tewas. Dan peristiwa ini tentu membuat posisi Jepang dalam perang Asia Timur Raya semakin tersudut.

68. Peristiwa bom atom di Hirosima dan Nagasaki ini benar-benar membuat Jepang belajar banyak tentang kerusakan dan kerugian akibat peperangan. Inilah yang dikemudian hari membuat Jepang meninggalkan jalan imperialisme dan memilih untuk fokus membangun negerinya sendiri serta membangun hubungan yang berkeadilan dengan bangsa-bangsa lain. Jadilah Jepang sebagai satu bangsa yang anti jalan perang dan menjunjung tinggi perdamaian sebagimana yang kita kenal hari ini.

69. Inilah isi pasal 9 dari konstitusi Jepang yang membentuk Jepang menjadi bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian: “Bercita-cita tulus untuk perdamaian internasional berdasarkan keadilan dan ketertiban, rakyat Jepang selamanya meninggalkan perang sebagai hak kedaulatan bangsa dan pengancaman atau penggunaan kekerasan sebagai cara menyelesaikan perselisihan internasional”. Meski pasal ini dipengaruhi juga tekanan Sekutu yang bermaksud melemahkan militer Jepang pada saat itu, namun pengaruh pelajaran yang dipetik Jepang atas kehancuran negerinya akibat peperangan sangatlah besar dalam hal ini.

70. Bom Atom Hirosima dan Nagasaki juga mengajarkan banyak hal kepada umat manusia. Betapa adalah sebuah kegilaan menyaksikan kenyataan dari perang yang telah membawa sekelompok manusia membantai manusia lainnya dan menewaskan lebih dari 450.000 nyawa di Hirosima dan Nagasaki hanya dalam sekejap mata.

71. Bom Atom Hirosima dan Nagasaki haruslah juga menjadi sebuah isyarat bagi umat manusia betapa telah sampai waktunya bagi umat manusia untuk menghentikan segala bentuk imperialisme dan peperangan secara total. Betapa zaman telah membawa umat manusia sampai pada tingkat kemampuan yang dasyat untuk menciptakan teknologi yang sangat berpotensi menghancurkan peradaban umat-manusia dan alam ini dengan sehancur-hancurnya.

72. Pada Tanggal 12 Agustus, Bung Karno, Bung Hatta dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat datang menemui Marsekal Terauci di Dalat, Saigon, Vietnam untuk membicarakan prihal kapan dan dengan cara apa proklamasi Indonesia akan dilakukan. Dan dalam pertemuan itu, Terauci menyampaikan bahwa pada dasarnya kapanpun Indonesia siap, Indonesia boleh menyatakan kemerdekaan. Namun demikian, Jepang menginginkan kemerdekaan itu dinyatakan pada 24 Agustus 1945.

73. Setelah melalui peperangan panjang dan setelah segala kekuatan dikerahkan Jepang untuk menghadapi Sekutu, akhirnya pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang pun harus bertekuk lutut dan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Kehancuran Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945 adalah faktor kuat yang membuat Jepang merasa tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan peperangan.

74. Meski pada mulanya kita menaruh harapan besar kepada Jepang untuk dapat mewujudkan kemerdekaan Indonesia, karena pada saat itu memang itulah satu-satunya pilihan terbaik yang kita punya, namun rupanya Tuhan berkehendak lain. Kenyataan telah menyerahnya Jepang kepada Sekutu membuat kita tidak mungkin lagi berharap kemerdekaan dari Jepang.

75. Menyerahnya Jepang kepada Sekutu yang membawa konsekuensi tersendiri dimana dengan itu Jepang harus menyerahkan Indonesia kepada Sekutu. Hal inilah yang kemudian membuat bangsa Indonesia harus bersegera memproklamirkan kemerdekaannya sebelum semua itu terjadi.

76. Satu bahaya akibat menyerahnya Jepang kepada Sekutu yang telah disadari oleh para pendiri bangsa dapat kita tangkap dari pernyataan Bung Hatta pada tanggal 15 Agustus 1945 berikut ini: “Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini”.

77. Untungnya penyerahan Indonesia kepada Sekutu tidaklah dilakukan dengan segera. Berbagai kendala yang bersifat tehnis, sebagaimana kita pahami melalui sejarah, membuat penyerahan tersebut baru akan bisa dilaksanakan di bulan September 1945. Dengan itu maka terjadilah apa yang disebut dengan vaccum of power atau kekosongan kekuasaan atas Indonesia. Inilah kesempatan emas bagi Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaannya sendiri.

78. Beberapa hal harus berubah dengan berubahnya format menuju kemerdekaan Indonesia yang semula direncanakan akan kita terima dari Jepang menjadi harus dilakukan sendiri oleh bangsa Indonesia tanpa Jepang.

79. Meski sebelumnya oleh BPUPKI telah dipersiapkan sebuah naskah Deklarasi Kemerdekaan, namun berubahnya arah kemerdekaan Indonesia itu membuat naskah Deklarasi Kemerdekaan tersebut tidak dapat digunakan sebagai alat untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Ada beberapa hal tentunya yang melandasi tidak digunakannya naskah Deklarasi Kemerdekaan BPUPKI sebagai alat untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia.

80. Pertama, Deklarasi Kemerdekaan yang disusun BPUPKI tentulah disusun dalam format kemerdekaan sebagai pemberian Jepang; yang tentu saja mengandung ikatan dan konsekuensi sendiri terhadap Jepang. Hal itu bisa kita lihat sebagaimana tertera pada alinea 6 yang bunyinya sebagai berikut:“Dengan mengakui dan menghargai tinggi keutamaan niat dan tujuan Dai Nipoon Teikoku dengan Perang Asia Timur Raya itu, maka tiap-tiap bangsa dalam lingkungan Asia Timur Raya atas dasar pembelaan bersama, wajiblah menyumbangkan sepenuhnya tenaganya dengan tekad yang sebulat-bulatnya, kepada perjuangan bersama itu, sebagai jaminan yang seteguh-teguhnya untuk keselamatan kemerdekaannya masing-masing.”

81. Kedua, Istilah Deklarasi Kemerdekaan sendiri tidak tepat jika pakai untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia yang memang pada waktu itu dinyatakan langsung oleh bangsa Indonesia tanpa dukungan dari bangsa manapun. Dalam keadaan yang demikian itu, istilah yang tepat untuk pernyataan kemerdekaan Indonesia adalah Proklamasi Kemerdekaan. Karena ini adalah sebuah klaim tunggal dari bangsa Indonesia itu sendiri atas bangsa dan tanah airnya.

82. Ketiga, jika Deklarasi Kemerdekaan yang adalah hasil dari pada BPUPKI, sebuah badan bentukan Jepang itu digunakan untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia tentulah akan membawa kesan yang kuat bahwa kemerdekaan Indonesia adalah pemberian dari Jepang. Untuk menghindari ini bahkan PPKI sendiri yang memang dibentuk dan mempunyai mandat untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, ditolak oleh para pejuang dari golongan muda pada waktu itu jika dipakai sebagai badan untuk menyusun Proklamasi Kemerdekaan. Karena dipandang PPKI juga adalah badan bentukan Jepang.

83. Memang telah terjadi perdebatan serius antara para pejuang dari golongan tua dan golongan muda tentang perkara apakah kemerdekaan ini akan dilakukan sendiri tanpa Jepang, atau tetap mengikuti rencana sebelumnya yaitu menunggu Jepang memenuhi janjinya mengukuhkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus 1945. Namun pada akhirnya bulatlah disepakati kalau Indonesia harus merdeka sendiri tanpa bantuan Jepang.

84. Konsekuensi langsung dari pilihan bangsa Indonesia untuk merdeka sendiri tanpa Jepang adalah: bangsa Indonesia harus benar-benar siap dengan revolusi mempertahankan kemerdekaan tersebut. Dan hal ini sudah dipahami betul oleh para pejuang dan pendiri bangsa yang segera mempersiapkan segala sesuatunya guna menghadapi Belanda yang sedang bersiap-siap datang kembali untuk menjadi tuan atas negeri ini.

85. Setelah melalui proses konsolidasi yang diwarnai dengan berbagai peristiwa sejak tanggal 15 Agustus 1945, akhirnya tercapailah sebuah kesepakatan dari para pejuang dan para pendiri bangsa untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

86. Momen yang paling dinanti-nanti berabad-abad lamanya itupun akhirnya terjadi. Dibacakanlah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada pukul 10:00 tanggal 17 Agustus 1945 di rumah kediaman Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur No.56, Jakarta Pusat.

87. Berikut ini adalah kalimat penutup yang disampaikan Bung Karno selepas usai pembacaan Proklamasi itu: “Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia – merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!

88. Momen tercapainya Kemerdekaan Indonesia ini adalah fase ke 2 dari 4 fase penting kejadian bangsa Indonesia. Dengan itu kini menjadilah bangsa Indonesia sebagai satu bangsa yang merdeka.

.....selanjutnya>>>

Category: Sejarah Indonesia | Views: 307 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Kemerdekaan, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Sejarah Indonesia, Kejadian Bangsa Indonesia, Pancasila, Sumpah Pemuda, UUD'45 | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar