Home » 2017 » July » 17 » ISLAM DI ZAMAN ADAM
3:08 PM
ISLAM DI ZAMAN ADAM

Mari kita perhatikan ayat ke 38 dari surat Al-Baqarah berikut ini: Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." Dari ayat tersebut sekiranya kita menjadi tahu dan mengerti bahwa ketika Adam turun ke bumi tidaklah ia membawa sebuah agama yang sudah jadi.

Dan bahkan jika kita juga memperhatikan ayat pertama Qur’an yang diwahyukan kepada Muhammad SAW, yang berbunyi: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”, kita mendapati pesan yang senada dengan perintah Allah kepada Adam tersebut. Dari kedua ayat tersebut kita dapat mengerti bahwa sesungguhnya agama adalah juga merupakan sebuah cipta manusia. Hanya saja tentunya cipta tersebut bukanlah cipta biasa. cipta tersebut adalah cipta yang sepenuhnya didasarkan kepada serta selaras sejalan dengan ajaran dan kehendak Allah Tuhan alam semesta.

Lalu dengan cara bagaimanakah Adam membangun Islam? Adam membangun Islam dengan jalan membaca pentujuk Allah yang bertebaran di alam dan juga pada diri manusia itu sendiri. Pernah suatu waktu ketika Khabil frustasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap mayat adiknya. Kemudian ia mendapati seekor gagak menggali lubang untuk menguburkan bangkai sesamanya yang mati. Cara inilah yang kemudian diikuti Khabil untuk mengurus jasad adiknya yang telah mati itu.

Sejak awal penciptaannya, Adam dan tentunya demikian juga dengan kita semua, telah dibekali Allah dengan instrumen yang amat berharga sebagai bekal untuk menata kehidupan yang diridhoi Tuhan semesta alam. Adam telah dibekali akal dan hati yang denganya ia mampu membaca qalam-qalam Allah yang bertebaran di langit dan dibumi serta menemukan cara apa yang benar-benar Allah kehendaki untuk menjadi cara hidup yang membawa selamat dan diberkati.

Islam itu sendiri mempunyai arti selamat, damai, aman, sejahtera dan berserah diri. Dengan kata lain, inti dari pada membangun Islam itu sebenarnya adalah mewujudkan sebuah tatanan berkehidupan yang membawa selamat, damai, aman dan sejahtera dengan cara berserah diri kepada ketentuan dan ketetapan Allah Tuhan semesta alam. Karenanya tidaklah menjadi suatu yang mengherankan jika kita mendapati Islam diimplementasikan secara berbeda dari zaman ke zaman karena tentu saja kondisi dan karakteristik di masing-masing zaman adalah berbeda adanya.

Jika kita mencermati adanya syariat pernikahan sedarah di zaman Adam, sangat mungkin kita merasa heran karena kita tahu hal itu adalah sesuatu yang amat dilarang dalam syariat Islam yang kita kenal sekarang. Namun jika kita cermati dengan teliti kita pun akan mengerti bahwa keadaan di zaman Adam itu sendirilah yang mengharuskan pernikahan sendarah diberlakukan.

Berlakunya syariat pernikahan sedarah di zaman Adam dapat kita katakan dengan pasti sebagai cara terbaik untuk mencapai selamat di zaman itu. Dapat kita bayangkan apa jadinya jika di zaman Adam itu, pernikahan sedarah menjadi suatu yang dilarang. Tentu saja jika demikian tidak akan ada lagi manusia yang tersisa selepas zaman itu. Jadi inilah Islam itu. Islam benar-benar bukan agama yang hadir untuk menyusahkan. Islam justru hadir untuk memastikan manusia mencapai hidup selamat, damai, aman dan sejahtera.

Syariat hadir sebagai jalan atau alat untuk mencapai Islam. Setiap syariat yang membawa kepada Islam adalah syariat Islam namanya. Jadi apakah pernikahan sedarah pada zaman Adam adalah syariat Islam? Iya, itu adalah syariat yang membawa kepada Islam di zamannya tapi syariat tersebut tidak lagi dapat kita sebut sebagai syariat Islam di zaman ini kerana tentu saja syariat tersebut tidak lagi dapat membawa kita kepada Islam.

Dapatkah kita juga membayangkan apa jadinya jika ketika Khabil didapati telah membunuh Habil adiknya, kemudian Adam memberlakukan hukum qishash dan menghukum mati Khabil? Tentu saja ia bukan pilihan terbaik yang membawa keselamatan kepada bani Adam pada masa itu. Jika pilihan itu diambil Adam, tentu akan sangat beresiko kepada keberlangsungan umat manusia di zaman itu. Jadi semua kembali lagi kepada pilihan terbaik yang dapat membawa kepada Islam.

Bahkan jika kita melihat bagaimana cara berkurban yang dilakukan di zaman Adam, sangat mungkin kita akan menilainya sebagai sebuah kebodohan. Mempersembahkan kurban dengan cara dibakar dan membiarkan asapnya mengepul ke langit dan abunya menyatu dengan bumi, tentu saja sebuah cara mubazir dan bodoh jika kita menilainya dari sudut pandang kita di zaman ini. Tapi tahukan kita bahwa itulah cara terbaik yang bernilai Islam di masa itu?

Esensi kurban memanglah melepaskan hak milik kita dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Jadi pilihan untuk membagi-bagi kurban persembahan tentu saja tidak bisa terjadi karena saat itu yang ada hanya keluarga Adam itu sendiri. Dimanakah letak berkurbannya jika kurban persebahan tersebut dimakan oleh keluarga sendiri? Pilihan untuk memberikan kurban tersebut kepada hewan-hewan juga tentu bukan pilihan tepat dan bahkan tidak layak untuk sebuah kurban persembahan. Jadi apa yang dilakukan oleh keluarga Adam untuk melaksanakan kurban memanglah merupakan cara terbaik dan adalah cara yang membawa kepada Islam di zaman itu.

Meski Adam harus merakit sendiri tata cara hidupnya, namun tentu saja semua itu tidak boleh dilakukan dengan sesuka hati. Ada hukum dan ukuran yang harus dipatuhi dan dipenuhi. Hukum dan ukuran tersebut adalah Islam. Islam adalah kehendak Allah atas manusia. Allah menghendaki manusia hidup dalam keadaan aman, damai, selamat dan sejahtera. Tata cara yang dapat melahirkan semua itulah yang disebut dengan Al-Islam itu. Apapun tata cara yang membawa manusia pada keadaan yang sebaliknya, itulah tata cara yang keluar dari Al-Islam itu. Karena itulah ada dikatakan tidak ada agama yang dirihoi Allah selain dari Islam.

Apakah pada waktu itu Adam menyebut cara hidupnya sebagai Al-Islam? Sangat mungkin tidak. Tapi hal itu tidaklah penting karena Islam bukan persoalan sebutan. Subtansi dari Islam adalah jalan keselamatan. Maka ketika Adam membangun sebuah cara hidup yang membawanya kepada keselamatan, keamanan, kedamaian dan kesejahteraan, maka ia telah hidup di dalam Islam.

Dasar dan sumber dari pada Islam itu sendiri sesungguhnya telah Allah tanamkan ke dalam hati setiap manusia. Perikemanusiaan dan perikeadilan itulah sebuah ukuran dasar yang Allah letakan dalam dada manusia untuk menjadi standar hukum bagi kehidupannya. Karenanya tidak mengherankan jika meski wahyu Tuhan belumlah datang, keluarga Adam dapat mengerti bahwa membunuh adalah sebuah tindak kejahatan yang dibenci Tuhan.

Apakah syariat Islam di zaman Adam adalah syariat yang sempurna? Ya, dapat disebut sempurna untuk masanya. Tapi tentu saja sangat jauh dari sempurna untuk kita yang hidup di masa ini. Semoga dengan ini kita mengerti bahwa Islam bukanlah barang mati yang tetap saja begitu buat selama-lamanya. Islam sungguh dinamis adanya dan terus akan bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

Kajian ini menjadi penting agar kita tidak menjadi seorang pengikut buta dari sebuah agama dan hanya mengikuti saja sebuah risalah tanpa tahu apa maksud dan maknanya. Akal dan hati yang telah Allah beri tentu saja harus kita gunakan untuk mengkaji jalan seperti apa yang benar-benar Allah kehendaki untuk kita di zaman ini.

Tentu adalah bijak jika kita mau meneliti ke dalam hati untuk mengetahui apakah segala apa yang kita jalani hari ini benar-benar sesuatu yang kita yakini karena kita mengerti atau hanyalah sesuatu yang kita warisi dan ikuti saja tanpa kita peduli apakah ini yang benar-benar Allah kehendaki.

Bukankah jika kita mencermati, nyasir pasti setiap kita hanyalah pelaku-pelaku agama yang mengikuti saja apa yang diwariskan orang tua kepada kita? Dan bukankah juga jika kita cermati, bila saja kita terlahir dari orang tua yang bukan Islam, dapat dikatakan nyaris pasti saat ini mungkin kita pun bukan salah seorang pemeluk Islam? Tentu saja tidak salah jika kita mengikuti apa-apa yang diwarisi orang tua dan nenek moyang kepada kita. Yang salah adalah jika kita mengikuti saja semua tanpa mengerti baik buruknya dan tanpa paham apakah ini selaras sejalan dengan kehendak Tuhan.

Category: Islam Kebangsaan | Views: 121 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: islam, Islam Kebangsaan, Kebangsaan, Agama, Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar