Home » 2016 » April » 19 » ERA MANUSIA MEMPERTUMPAHKAN DARAH
3:33 PM
ERA MANUSIA MEMPERTUMPAHKAN DARAH

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."   (QS.2:30)

Meskipun manusia pada kodratnya diciptakan oleh Tuhan sebagai umat yang satu, dan secara fitrahnya adalah mahluk yang berkasih sayang, namun di dalam diri setiap manusia juga terdapat hawa nafsu yang membuat manusia amat berpotensi menjadi perusak yang hebat. Tidak aneh karenanya jika sejak mula-mula penciptaan manusia, malaikat sudah mengajukan keberatannya atas rencana Allah tersebut. Malaikat melihat bahwa tabiat buruk manusia yang egois dan serakah hanya akan membuat manusia menjadi orang-orang yang mempertumpahkan darah dan menimbulkan kerusakan di muka bumi. Meski tidak sepenuhnya benar, tapi apa yang menjadi kekhawatiran para malaikat ini pun sebenarnya tidaklah sepenuhnya salah. Karena di kemudian waktu, sebagaimana telah kita saksikan, dari zaman ke zaman manusia telah begitu amat banyak menumpahkan darah dan berbuat kerusakan di muka bumi. Tidak terhitung banyaknya kerusakan baik di darat maupun di laut yang telah dibuat oleh umat manusia dan tidak terhitung pula banyaknya manusia yang mati dan ditumpahkan darahnya oleh sesama manusia itu sendiri. Perang telah menjadi mesin pertumpahan darah yang amat hebat dan telah menjadi budaya bertahan hidupnya umat manusia yang berlangsung sangat lama di sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Nyaris tidak pernah kita temukan satu bagian di sepanjang waktu perjalanan sejarah peradaban umat manusia yang abstain dari peperangan.

Namun tentu saja, jangkauan pengelihatan malaikat tidaklah sejauh jangkauan pengelihatan Allah yang tidak mememiliki batasan. Ada hal yang Allah melihat dan mengetahuinya sementara malaikat tidak dapat melihat dan mengetahuinya. Karenanya berkatalah Allah untuk menjawab kekhawatiran para malaikat: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Allah mengetahui dengan pasti bahwa meskipun umat manusia ini pada tabiatnya adalah cenderung menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muka bumi, namun Allah juga mengetahui dengan pasti bahwa umat manusia pada fitrahnya menyukai perdamaian dan persaudaraan. Hanya saja memang untuk sampai kepada kesejatiannya itu; untuk sampai kepada fitrah kemanusiaannya itu, umat manusia membutuhkan sebuah proses pembelajaran yang panjang. Dan di sepanjang masa inilah Allah mengutus para nabi dan rasul untuk mengkawal dan menggembalakan umat manusia sebelum pada akhirnya melalui pengalaman-pengalamannya sendiri umat manusia akan sampai kepada kedewasaannya. Dari zaman ke zaman Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menjaga dan meminimalisir kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh umat manusia akibat dari tabiat kebinatangannya yang masih dominan.

Perang yang berlangsung di sepanjang sejarah peradaban umat manusia sesungguhnya muncul sebagai akibat dari tabiat kebinatangan manusia yang masih mendominasi. Budaya perang sejatinya bukanlah bagian dari kemanusiaannya manusia. Sejatinya manusia itu adalah hidup bersatu, bersaudara, saling menjaga, saling menguatkan dan saling menolong satu sama lain. Manusia tidaklah diciptakan oleh Allah untuk saling membunuh, saling menyakiti ataupun saling mencurangi. Namun demikian memang dapat kita katakan bahwa budaya perang merupakan bagian dari proses pembelajaran yang harus dijalani umat manusia untuk dapat menemukan kesejatiannya itu. Menemukan kemanusiaannya itu. Menemukan firtah penciptaannya itu. Kerenanya itu jugalah kedatangan agama dan para nabi pun yang sesungguhnya adalah membawa kemanusiaan, tidaklah serta merta menerapkan kemanusiaan itu secara murni dan total. Nilai-nilai kemanusiaan yang ditetapkan dan diharuskan oleh agama dan para nabi di setiap zamannya adalah sebatas kesanggupan umat di zaman tersebut untuk memikulnya.

Dilihat dari sudut pandang agama dan kemanusiaan, perang sebenarnya adalah nyata-nyata merupakan hal yang amat bertentangan dengan ajaran kemanusiaan dan agama. Tapi sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa di setiap zamannya, agama-agama pun tetap mengakomodir perang sebagai bagian dari agama itu sendiri. Bahkan di era paling akhir dari kedatangan agama; di zaman Islam dan Nabi Muhamad, perangpun masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari agama. Fakta yang dimikian ini tentu bukanlah karena agama mengajarkan pembunuhan manusia atas manusia, melainkan hal itu haruslah kita pahami sebagai keterpaksaan agama lantaran ketidakmungkinan bagi agama di masa itu untuk menghapuskan perang secara total. Karena perang di masa itu masih merupakan sebuah budaya yang mendarah daging dalam peradaban umat manusia. Hal yang mungkin untuk dilakukan oleh agama pada masa itu hanyalah meminimalisir dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh budaya perang itu. Manusia pada masa itu masih sulit untuk menerima dan bertoleransi atas perbedaan. Perbedaan masihlah amat dengan mudah menjadi sumber dan alasan untuk bermusuhan. Konsep persatuan yang dapat diterima dan dapat berjalan di masa itu masihlah konsep persatuan dalam keseragaman. Untuk mempersatukan, manusia harus melakukan penyeragaman terhadap manusia yang lain, golongan yang lain atau bangsa yang lain. Hal ini membuat umat manusia hidup dalam perpecah-belahan, hidup bergolong-golongan yang setiap golongan itu memandang golongan lainnya sebagai musuh mereka. Perang-memerangi, kalah-mengalahkan dan takluk menaklukan pun menjadi hal yang tidak terhindari di sepanjang sejarah peradaban umat manusia.

Nabi Muhamad sendiri pada zamannya sebenarnya telah mencita-citakan dan mengupayakan sebuah bentuk peradaban baru yang diharapkan dapat menghapuskan budaya perang dari peradaban umat manusia. Di tahun ke 2 hijriah Nabi Muhamad membentuk cikal bakal tatanan yang mengusung konsep persatuan dalam keberagaman. Sebuah bentuk persatuan yang belum dikenal di zaman-zaman sebelumnya. Di Madinah, di tahun ke 2 hijriah tersebut Nabi Muhamad membuat suatu konstitusi yang merangkul berbagai golongan yang berbeda; muhajirin, anshar, suku-suku Yahudi, golongan Nasrani dan suku-suku Arab badui yang kesemuanya dirangkul menjadi satu kesatuan ummah oleh konstitusi yang dikenal dengan sebutan Piagam Madinah. Mereka yang berbeda-beda tersebut dipersatuakan dan dipersaudarakan sebagai satu ummah serta dijamin hak-hak mereka secara adil. Inilah cikal bakal peradaban baru umat manusia. Sebuah peradaban yang mempersatukan dan mempersaudarakan manusia dengan segala perbedaannya. Sebuah peradaban yang amat berpotensi untuk menghapuskan perang dan menghapuskan pertumpahan darah yang telah dilakukan umat manusia di sepanjang sejarah peradabannya. Namun sayangnya tatanan yang penuh toleransi dan amat menjunjung tinggi perdamaian tersebut tidak dapat ditumbuh-kembangkan pada masa itu dan tidak dapat berlangsung lama. Pelanggaran dan pengingkaran yang terus berulang atas perjanjian dalam Piagam Madinah oleh orang-orang Yahudi dan musyrikin Madinah telah membuat Allah menurunkan sebuah surat yang dengannya secara otomatis menjadi batal-lah Piagam Madinah tersebut. Surat At-taubah yang diturunkan Allah di tahun 9 hijriah merubah arah perjalanan Islam dan merubah arah perjalanan peradaban umat manusia. Peradaban Islam dan peradaban umat manusia yang semula hendak dibangun di atas dasar persamaan hak atas golongan-golongan yang berbeda-beda sebagaimana ketentuan Piagam Madinah yang membebaskan non-muslim dari keharusan membayar jizyah dan merangkul semua golongan yang berbeda tersebut dalam satu kesatuan ummah, menjadi batal dengan turunnya surat At-Taubah tersebut. Dan sejak itu, peradaban Islam pun mau tidak mau, karena keadaan zaman yang tidak memungkinkan bagi persatuan dalam keberagaman, akhirnya terpaksa harus kembali mengikuti pola persatuan dalam penyeragaman. Islam mau tidak mau harus membangun peradaban melalui jalan perang dan penaklukan. Orang-orang di luar Islam harus ditundukkan di bawah tatanan dan pemerintahan Islam dan diharuskan bagi mereka membayar jizyah sebagai jaminan bagi keamanan mereka. Hal itu terus berlangsung hingga ke zaman khilafah rasyidin dan terus berlanjut ke zaman kerajaan-kerjaan Islam. Dan sampai di sini kita masih belum melihat tergenapinya pernyataan Allah yang menyanggah kekhawatiran para malaikat akan kecenderungan manusia menumpahkan darah. Tradisi perang-memerangi dan takluk menaklukan masih terus berlangsung melintasi zaman. 

Category: Nasionalisme dan Agama | Views: 370 | Added by: edys | Tags: Kebangsaan, Agama | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar