Home » 2015 » November » 17 » APA SEBAB NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN PANCASILA? 2/2
2:37 PM
APA SEBAB NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN PANCASILA? 2/2

Aku ber-ibu orang Bali. Ida Ayu Nyoman Rai nama Ibuku. Malahaii aku jikalau beristirahat di Tampaksiring, desa kecil di Bali, rakyat Bali menyebutkan aku, kecuali Bung Karno, Pak Karno – menyebutkan Ida Bagus Made Karno. Aku melihat masyarakat Bali yang dua juta manusia itu beragama Hindu – Bali. Di Singaraja ada masyarakat Islam sedikit. Di Denpasar ada masyarakat Islam sedikit. Terbang lagi kapal udaraku ke Sumbawa – Islam. Terbang kapal udaraku ke Sumbawa – Kristen Pro­tcstan. Tcrhang kapal udaraku ke Florcs -pulau di mana aku dulu diinternir. – rakyat Flores kenal akaii Bung Karno, Bung Karno kenal akaii rakyat Flores – sebagian besar rakyat Flores itu beragama Rooms Katholik (Kristen). Terbang lagi kapal udaraku ke Timor – sebagian besar rakyatnya Protestan Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Ambon – Kristen. Sekitar Ambon itu adalah masyarakat kristen. Terbang lagi ke Utara ke Ternate – Islam di Ternate. Dari Ternate trbang ke Manado, Minahasa sekelingnya, – Kristen, ke Selatan Makasar – Islam. Di Tengah Sulawesi, Toraja – sebagian besar Kristen, sebagian belum ber­agama.

Benar apa tidak perkataanku, saudara-saudara, bahwa bangsa Indonesia adalah beraneka agama? Demikian pula aku berkata, bahwa bangsa Indonesia ini beraneka adat-istiadat, beraneka suku pula. Beraneka suku, beraneka agarna, beraneka adat-istiadat. Ini yang menjadi pikiran Bapak berpuluh-puluh tahun.

Sebelum kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, aku ingin bernama-sama dengan pe­juang-pejuang lain membentuk satu wadah. Wadah yang bernama Negara. Wadah untuk masyarakat, bagi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat!

Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka-aneka itu dan yang masyarakat Indonesia mau duduk pula di dalamnya, yang diterima oleh saudara-saudara yang ber­agama Islam, yang beragama Kristen Katolik, yang beragama Kristen Protestan, yang beragama Hindu-Bali, dan oleh saudara­saudara yang beragama lain, – yang bisa diterima oleh saudara­saudara yang adat-istiadatnya begitu, dan yang bisa diterima sekalian saudara.

Aku tidak mencipta Pancasila saudara-saudara. Sebab sesuatu dasar negara ciptaan tidak akan tahan lama. Ini adalah satu ajaran yang dari mula-nulanya kupegang teguh. Jikalau engkau hendak mengadakan dasar untuk sesuatu negara, dasar untuk sesuatu wadah – jangan bikin sendiri, jangan anggit sendiri, jangan karang sendiri. Selamilah sedalam-dalamnya lautan daripada sejarah! Gali sedalam-dalamnya bumi daripada sejarah!

Aku melihat masyarakat Indonesia, sejarah rakyat Indonesia. Dan aku menggali lima mutiara yang terbenam di dalamnya, yang tadinya lima mutiara itu cernerlang tetapi oleh karena penjajahan asing yang 350 tahun lamanya, terbenam kembali di dalam bumi bangsa Indonesia ini.

Aku oleh sekolah Tinggi Universitas Gajah Mada di-anugerahi titel Doktor Honoris (titel Doktor kehormatan) dalam ilmu keta­tanegaraan. Tatkala promotor Prof. Mr. Notonegoro mengucapkan pidatonya pada upacara pemberian titel Doktor Honoris Causa, pada waktu itu beliau berkata: “Saudara Soekarno, kami meng­hadiahkan kepada saudara titel kehormatan Doktor Honoris Causa dalam ilmu ketatanegaraan, oleh karena saudara pencipta Pan­casila”.

Di dalam jawaban itu aku berkata: “Dengan terharu aku menerima titel Doktor Honoris Causa yang dihadiahkan kepadaku oleh Universitas Gajah Mada, tetapi aku tolak dengan tegas ucapan Profesor Notonegoro, bahwa aku adalah pencipta Pancasila”.

Aku bukan pencipta Pancasila. Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanya menggali Pancasila daripada burninya bangsa Indonesia. Pancasila terbenam di dalarn bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya, -aku gali kembali dan aku sembahkan Pancasila ini di atas persada bangsa Indonesia kem­bali.

Tidak benar saudara-saudara, bahwa kita sebelum ada Bung Karno, sebelum ada Republik Indonesia – sebenarnya telah mengenal akan – Pancasila? Tidakkah benar kita dari dahulu mula, telah mengenal Tuhan. – hidup di dalam alarn Ketuhanan Yang Maha Esa? Kita dahulu pernah mengUu-aikan hal ini panjang lebar. Bukan anggitan baru. bukan -karangan baru. Tetapi sudah sejak dari dahulu mula bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang cinta kepada Ketuhanan. Yah kemudian Ketuhanannya itu disempurnakan oleh agarna-agarna. Disempurnakan oleh Agama Islam, – disempurnakan oleh agama Kristen. Tetapi dari dahulu mula kita memang adalah satu bangsa yang berketuhanan. Demikian pula, tidakkah benar bahwa kita ini dari dahulu mula telah cinta kepada Tanah Air dan Bangsa? IJidup di dalam alam kebangsaan? Dan bukan saja kebangsaan kecil, tetapi kebangsaan Indonesia. Hai engkau pemuda-pemuda, pernah engkau mendengar nama kerajaan Mataram? Kerajaan Mataram yang membuat candi-candi Prambanan, candi Borobudur? Kerajaan Mataram ke-2 di waktu itu di bawah pimpinan Sultan Agung Hanjokrokusurno? Tahukah saudara-saudara akan arti perkataan Mataram? Jikalau tidak tahu, maka aku akan berkata kepadamu “Mataram berarti Ibu”. Masih ada perkmaan perkataan Mataram itu misalnya perkataan Mutter di dalam bahasa Jerman – Ibu. Mother dalam bahasa Inggeris – Ibu. Moeder dalam bahasa Belanda – Ibu. Mater dalam bahasa Latin – Ibu. Mataram berarti Ibu.

Demikian kita cinta kepada Bangsa dan Tanah air dari zaman dulu mula, sehingga negeri kita, negara kita, kita putuskan Mataram.

Rasa kebangsaan, bukan rasa baru bagi kita. Mungkinkah kita mempunyai kerajaan seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dahulu, jikalau kita tidak mempunyai rasa kebangsa-an yang berk­obar-kobar di dalam dada kita?

Yaah kata pemimpin besar yang bernama Gajah Mada, Sang Maha Patih Ihino Gajah Mada. Benar kita mempunyai pemimpin besar itu. Benar pemimpin besar itu telah bersumpah satu kali “tidak akan makan kclapa. jikalau bclum scgcnap kepu­lauan Indonesia tergabung di dalam satu negara yang besar”. Benar kita mempunyai pemimpin yang besar itu. Tetapi apakah pemimpin inikah yang sebenarnya pencipta daripada kesatuan ke­rajaan Majapahit? Tidak!

Pernimpin besar sekadar adalah sambungan lidah daripada rasanya rakyat jelata. Tidak ada satu orang pemimpin besar, walaupun besarnya bagaimanapun juga, – bisa lnembentuk satu negara yang sebesar Majapahit ialah satu negara yang besar, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke, – Bahkan sampai ke daerah Philipina sekarang.

Katakanlah Bung Karno pemimpin besar atau pemimpin kecil – pernimpin gurem atau pemimpin yang bagaimanapun, – Tetapi jikalau ada orang yang berkata: “Bung Karno yang meng­adakan negara Republik Indonesia”. Tidak benar! ! ! Janganpun satu Soekarno sepuluh Soekarno, seratus Soekarno, seribu Soekarno – tidak akan bisa membentuk negara Republik Indonesia, jikalau segenap rakyat jelata Republik Indonesia tidak ber­juang mati-matian!”

Kemerdekaan adalah hasil daripada perjuangan segenap rak­yat. Maka itu pula menjadi pikiran Bapak, Negara Republik Indo­nesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, – tetapi milik kita semua dari Sabang sampai ke Merauke! Perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini dijalan-kan oleh semua bangsa Indonesia.

Aku melihat di dalam daerah-daerah yang kukunjungi, di manapwn aku datang, aku melihat Taman-taman Pahlawan. Bukan saja di bagian-bagian yang beragama Islam, tetapi juga di bagian­bagian yang beragama Kristen. Aku melihat Taman-taman Pahlawan di mana-mana. Di sini di Surabaya, pada tanggal 10 November tahun 1945 -siapa yang berjuang di sini?

Segenap pemuda-pemudi. kiai. kawli buruh. kaum tani, segenap rakyat Surabaya berjuang dengan tiada perbedaan agama, adat-istiadat. oulongan atau suku.

Rasa kebangsaan kita sudah dari sejak zaman dahulu.. demi­kian pula rasa perikemanusiaan. Kita bangsa Indonesia adalah satu-satunya bangsa di dalam sejarah dunia ini satu-satunya bangsa yang tidak pernah menjajah bangsa lain adalah bangsa Indonesia. Aku tentang orang-orang ahli sejarah yang bisa mem­buktikan bahwa bangsa Indonesia pernah menjajah kepada bangsa lain.

Apa sebab? Oleh karena bangsa Indonesia berdiri di atas dasar perikemanusiaan sejak dari zaman dahulu. Dari zaman Hindu, kita sudah mengenal perikemanusiaan. Disempurnakan lagi rasa perikemanusiaan itu dengan agama-agama yang kemudian.

Di dalam zaman Hindu kita telah mengenal ucapan: “Tat­tvamasi”. Apa artinya Tattvamasi? Tat tvam asi berarti “Aku adalah dia, dia adalah aku”. Dia pakai, aku ikut pakai. Dia senang, aku ikut senang. Aku senang, dia ikut senang. Aku sakit, dia ikut sakit. Tattvamasi – perikemanusiaan.

Kemudian datanglah di sini agama Islam, mengajarkan kepada perikemanusiaan pula. Malah lebih sempurna. Diajarkan kepada kita akan ajaran-ajaran fardhu kifayah, kewajiban-kewa­jiban yang dipikulkan kepada seluruh masyarakat. Misalnya ji­kalau ada orang mati di kampungmu, dan kalau orang mati itu tidak terkubur, – siapa yang dianggap berdosa, siapa yang dikatakan berdosa, siapa yang akan mendapat siksaan daripada dosa itu? Bukan sekadar kerabat famili daripada sang mati itu. Tidak! Segenap masyarakat di situ ikut tanggung jawab.

Demikian pula bagi agama Kristen. Tidakkah di dalam agama Kristen itu kita diajarkan cinta kepada Tuhan, lebih daripada segala sesuatu dan cinta kepada sesama manusia, sama dengan cinta kepada diri kita sendiri? “Hebs U naasten lief gelijk U zelve. God boven alles”. Jadi rasa kemanusiaan, bukan barang baru bagi kita.

Demikianlah pula rasa kedaulatan rakyat. Apa sebab per­gerakan Nasional Indonesia laksana api mencetus dan meledak-kan segenap rasa kebangsaan Indonesia? Oleh karena pergerak-an nasional Indonesia itu berdiri di atas dasar kedaulatan rakyat. Engkau ikut berjuang! Dari dahulu mula kita gandrung kepada kedaulatan rakyat. Apa sebab engkau ikut berjuang? Oleh karena engkau merasa memperjuangkan dasar kedaulatan rakyat.

Bangsa Indonesia dari dahulu mula telah mengenal kedaulat­an rakyat, hidup di dalam alam kedaulatan rakyat. Demokrasi bukan barang baru bagi kita. Demikian pula cita-cita keadilan sosial. – bukan cita-cita baru bagi kita. Jangan kira, bahwa cita-cita keadilan sosial itu buatan Bung Karno, Bung Hatta, atau komunis, atau kaum serikat rakyat, kaum sosialis. Tidak!

Dari dahulu mula bangsa Indonesia ini cinta kepada keadilan sosial. Kalau zaman dahulu, kalau ada pemberontakan, – saudara-saudara berhadapan dengan pemerintah Belanda, – sem­boyannya selalu “Ratu Adil” Ratu adil para marta. Sama rata, sama rasa. Adil, adil, itulah yang menjadi gandrungnya jiwa bangsa Indonesia. Bukan saja di dalam alam pergerakan sekarang atau di dalam pergerakan alam nasional tetapi dari dulu mula. Maka oleh karena itulah aku berkata, baik Ketuhanan Yang Maha Esa mau­pun Kebangsaan, maupun Perikemanusia-an, maupun Kedaulatan Rakyat, maupun Keadilan Sosial, bukan aku yang mencip­takan. Aku sekadar menggali sila-sila itu. Dan sila-sila ini aku persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia untuk dipakai sebagai dasar daripada wadah yang berisi masyarakat yang bera­neka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat. Inilah saudara­saudara, maka di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyousakai di dalarn zaman Jepang, pertengah-an tahun 1945 telah diadakan satu sidang daripada pemimpin-pemimpin Indonesia, dan di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai itu dibicarakan hal-hal ini.

Pertama apakah negara yang akan datang itu harus berdasar satu falsafah ataukah tidak? Semua berkata “harus berdasarkan satu falsafah”. Harus memakai dasar. Sebab kita melihat di dalam sejarah Dunia ini banyak sekali negara-negara yang tidak berdasar, lantas berbuat jahat, oleh karena tidak mempunyai ancer-ancer hidup bagi rakyatnya.

Kita melihat negara-negara yang besar. Tetapi oleh karena tidak mempunyai ancer-ancer hidup, tidak mempunyai dasar hidup dengan sedih kita melihat bahwa negara-negara itu berbuat sesuatu yang sebenarnya melanggar kepada kedaulatan dan perikemanusiaan.

Di dalam sidang Dokuritzu Zunbi Tyousakai itu memutus-kan akan memberi dasar kepada negara. Akhirnya saya mem-persem­bahkan Pancasila. Dan syukur Alhamdulillah sidang meneri­manya. Dan tatkala kita memproklamirkan kemerdekaan­kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dasar ini yang dipakai. Dan aku berkata oleh karena dasar ini – segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke menyambut-nya proklamasi itu dengan gegap-gempita. Disambut oleh kaum alim ulama, disambut oleh kaum buruh, disambut oleh kaum tani, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Aceh, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Minangkabau, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Flores, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Kalimantan, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Bali, disambut oleh segenap rakyat Indonesia.

Aku baru pulang dari Bali – tahukah penyambutan rakyat Bali yang beragama Hindu Bali itu terhadap kepada proklamasi kemerdekaan Indonesia? Rakyat Bali, hidup di dalam alam per­juangan yang hebat. Ada satu tempat kecil di Bali, misalnya namanva Tabanan. Yah kalau dibandingkan dengan di sini

Tabanan itu barangkali hanya sebesar      Waru, atau sebesar Tulangan, sebesar Prambon. Di Tabanan itu saja di dalam tahun 1951 diresmikan satu Taman Pahlawan, vang di dalam Taman Pahlawan itu 680 jenazah.

Demikian pula di ternpat yang lain-lain. Memang rakyat Bali menyambut proklamasi ini dengan gegap-gempita. Agamanya adalah Hindu – Bali. Tetapi mereka menyambut proklamasi ini ialah oleh karena proklamasi ini didasarkan kepada Pancasila. Pendek kata tatkala usul saya kepada Dokuritzu Zunbi Tyousakai itu diterima oleh sidang dan kemudian dipakai sebagai dasar negara Republik Indonesia, tak putus-putus aku mengucapkan syukur kepada Tuhan. Inilah dasar yang menjamin keutuhan bangsa kita yang beraneka agama, yang beraneka adat-istiadat, yang beraneka suku.

Maka oleh karena itu, jikalau dikatakan Pancasila adalah sementara? Ya Konstituante nanti yang akan menentukan. Tetapi aku memohon kepada Tuhan agar supaya Negara Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila!

Aku hidup gandrung dalam suasana persatuan. Aku masuk di dalam gelanggang perjuangan, tatkala aku berumur 18 tahun. Dulu sebelum 18 tahun tidak boleh masuk partai politik. Umur 18 tahun aku kintil (ikut) Rama Tjokroaminoto. Ikut berjuang. Sejak dari­pada itu tetap aku gandrung kepada persatuan, sekali lagi per­satuan. Perkataan gandrung ini keluar dari mulutku dari tahun 1918 sampai sekarang. 37 tahun lamanya aku gandrung persatuan. Memang aku gandrung persatuan. Oleh karena aku mengetahui, bahwa hanya persatuanlah bisa mencapai kemer­dekaan. Hanya persatuan bisa menetapkan kemerdekaan. Hanya persatuan inilah yang bisa membawa kita kepada cita-cita kita sekalian!

Di dalam kongres Rakyat Indonesia kuanjurkan persatuan ini. Di dalam Kongres Partai Nasional Indonesia di Randwlg, 10 bulan yang lalu – kuanjurkan pcrsatuan ini. Oleh karcna aku mclihat gejala-gejala perpecahan makin lama makin meningkat, makin lama makin menampak. Bersatulah kembali saudara-saudara, ber­satulah rakyat Indonesia – bersatu kembali di dalam persatuan nasional revolusioner yang sebulat-bulatnya. Sebab kita duduk di dalam alam revolusi nasional. Kalau kita mengadakan persatuan yang bukan persatuan nasional revolusioner tidak bisa kita menyelesaikan revolusi nasional kita itu. Aku hidup di dalam alam persatuan ini, aku gandrung kepada persatuan ini, – maka oleh karena itulah, jikalau aku sekarang sebagai Presiden Republik Indonesia berbicara di hadapan saudara-saudara, resmi sebagai Presiden Republik Indonesia yang membentangkan kepada saudara-saudara dasar negara, yang akan sumpah di atasnya seba­gai Presiden.

Di samping itu aku bergembira hati diberi kesempatan oleh Allah s.w.t. sebagai warga negara biasa membicarakan hal dasar­dasar negara ini.

Di dalam pidato 17 Agustus 1955 aku menganjurkan pula Panca Dharma. Apa inti dari Panca Dharma? Tak lain dan tak bukan ialah inti itu keluar daripada j iwa Pancasila. Tidakkah Panca Dharma lima? Pertama – persatuan. Kedua – yang merusak persatuan yaitu yang mengacau-ngacau keamanan ini harus kita lenyapkan. Nomor tiga – pembangunan, pembangun-an, pemba­ngunan! Keempat – Irian Barat. Kelima – pemilihan umum. Pernilihan umum pada intinya ialah persatuan. Segenap bangsa Indonesia yang 80 juta ini, yang sudah dewasa 43 juta, -diminta mengeluarkan suaranya dengan cara bebas -dalam alam suasana persaudaraan. Mari kita sekarang dengan tenang dalam suasana persaudaraan bangsa mengemukakan suara kita. Jiwa daripada pemilihan umum adalah persatuan!

Pembangunan juga tidak bisa selesai zonder persatuan. Dapatkah engkau membangun ekonomi Indonesia dengan tidak pcrsatuan? Tahukah engkau bahwa Indonesia ini ekonomi yang sebenarnya satu Unit. satu kesatuan yang besar. – yang jikalau satu daerah dikeluarkan – kocar-kacir ekonomi kita itu. Dan kita menyusun satu ekonomi yang bukan ekonorni kolonial, ekonomi imperialis? Tidak! Di dalam Undang-Undang Dasar kita sebutkan dengan tegas bukan ekonomi untuk membikin gendutnya perutnya satu dua orang. Tetapi ekonomi yang membikin sejahteranya segenap rakyat. Inilah dasar, inti jiwa daripada Undang-Undang Dasar kita, meskipun Undang-Undang Dasar yang dinamakan sementara.

Satu ekonomi nasional yang menjamin semua bangsa Indo­nesia, hidup sejahtera, layak, makmur. Bukan ekonomi yang mem­bikin gendut orang satu tetapi ekonomi sama rata sama rasa.

Satu ekonomi yang mengandung jaminan kehidupan yang baik buat semua, di dalam suasana kesatuan dan persatuan.

Pengacau keamanan bahwa itu memecah kepada persatuan merugikan kepada rakyat – perlukan masih kuuraikan? Tidak!

Irian Barat. Sebab apa saudara-saudara menuntut Irian Barat? Mungkin saudara beragama Islam? Di sana rakyatnya bukan Islam lho! Kenapa saudara menuntut Irian Barat supaya masuk di dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia? Saudara beragama Islam mereka tidak beragama Islam! Saudara akan menjawab: “Aku menuntut Irian Barat kembali ke dalam wilayah Republik Indone­sia oleh karena Irian Barat adalah sebagian daripada tanah air Indonesia, oleh karena suku Irian Barat adalah sebagian daripada bangsa Indonesia seluruhnya.

Lho kenapa saudara menuntut Irian Barat kembali kepada kekuasaan Republik?

Saudara akan menjawab: “Aku menuntut Irian Barat kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia oleh karena bangsa kita adalah satu dari Sabang sampai ke Merauke”.

Jadi dasarnva ialah persatuan bangsa. Maka oleh karena itu. -aku sckali lagi mcnganjurkan kcpada segenap rakyat Indonesia, terutama sekali di hadapan pemilihan umum ini. – ingat kepada persatuan. Ingat kepada persatuan! Bangsa Indonesia adalah selalu kukatakan bukan bangsa yang kecil jumlahnya 80 juta. Lebih besar daripada bangsa yang lain-lainnya.

Aku telah, alhamdulillah, melawat ke Mesir, ke Arabia, ke In­dia, ke Karachi, ke Pakistan, ke Sailan, ke Rangoon dan seba­gainya, kecual1 ke Eropa dan Amerika, – aku melihat bangsa kita potensinya hebat-hebat. Tidak ada satu tanah air daripada sesuatu bangsa yang lebih hebat daripada tanah air Indonesia.

Tidak ada satu bangsa yang lebih – seragam, sebenarnya jikalau mau, – daripada bangsa Indonesia. Tidak ada satu tanah air yang lebih indah daripada bangsa Indonesia. Jumlahnyapun tidak sedikit 80 juta. Lebih daripada bangsa yang lain!

Yaah kita kalah dengan Amerika Serikat jumlah bangsa kita ini. Kalah dengan USSR (Sovyet Unie) jumlahnya bangsa kita ini. Kalah dengan Tiongkok jumlah bangsa kita. Kalah dengan India jumlah bangsa kita. Tetapi di samping yang empat ini saudara-saudara, tidak ada lagi yang mengalahkan kita. Ada yang memadai kita jumlah rakyatnya yaitu Jepang tetapi yang lain-lain, sernuanya kurang daripada kita.

Mesir yang Bapak tempo hari kunjungi dan yang Bapak melihat semangatnya meluap-luap, berapa jumlah mereka? Mereka yang Bapak melihat mereka membangun. Membuat dam­dam yang besar, membuat jalan-jalan yang besar. – Jumlah mereka berapa? Yang mereka membangun pula Tentara, Tentara yang hebat. Yang mereka membangun angkatan Udara yang aku melihat pesawat-pesawat udara yang terbang di angkasa saudara­saudara, – berapa jumlah rakyat Saudi Arabia? 6 juta – kita 80 juta!

Aku datang di Bangkok, disambut oleh P.M. Phibul Song­oram. Tahukah engkau rakyat Thailand jumlahnya? 20 juta. kita – 80 juta. Kita bangsa yang 80 juta bukan bangsa yang kecil. kalau kita bersatu kataku berkali-kali, – jikalau kita 80 juta bersatu padu di dalam kesatuan nasional revolusioner. tidak ada satu cita-cita yang tidak terlaksana oleh kita.

Sekian sajalah, amanat Bapak.

Category: Pidato Bung Karno | Views: 1324 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Pidato Bung Karno, Pancasila | Rating: 2.3/3
Total comments: 0
avatar