Home » 2015 » November » 18 » APA SEBAB NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN PANCASILA? - 1/2
2:26 PM
APA SEBAB NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN PANCASILA? - 1/2

Amanat PJM Presiden Soekarno pada tanggal 24 September 1955 di Surabaya

Saudara-saudaraku sekalian,

Saya adalah orang Islam, dan saya adalah keluarga Negara Republik Indonesia.

Sebagai orang Islam saya menyampaikan salam Islam kepada saudara-saudara sekalian “assalamu’alaikum wr. wb!”

Sebagai warga negara Republik Indonesia saya menyampai­kan kepada saudara-saudara sekalian, baik yang beragama Islam, baik yang beragama Hindu – Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara-saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional “merdeka!”

Tahukah saudara-saudara arti perkataan “salam” sebagai bagian daripada perkataan assalamu’alaikum wr. wb? Salam arti-nya damai, sejahtera. Jikalau kita menyebutkan assalamu” alaikum wr. wb, berarti damai dan sejahteralah sampai kepadamu. Dan moga-moga rakhmat dan berkat Allah jatuh kepadamu. Salam berarti damai, sejahtera. Maka oleh karena itu saya minta kepada kita sekalian untuk merenungkan benar-benar akan arti perkataan “assalamu’ alaikum”.

Salam – damai – sejahtera! Marilah kita bangsa Indonesia terutama sekalian yang ber­agama Islam hidup damai dan sejahtera satu sama lain. Jangan kita bertengkar terlalu-lalu sampai membahayakan persatuan bangsa. Bahkan jangan kita sebagai gerombolan-gerombolan yang menye­butkan assalamu’-alaikum, akan tetapi membakar rumah-rumah rakyat.

Salam – damai! Damai – sejahtera! Rukun – bersatu! Terutama sekali di dalam revolusi nasional kita yang belum selesai ini.

Dan sebagai warga negara merdeka saya tadi memekikkan pekik “merdeka” bersama-sama dengan kamu. Kamu yang ber­agama Islam, kamu yang beragama Kristen, – kamu yang ber­agama Syiwa Budha, Hindu – Bali atau agama lain. Pekik merdeka adalah pekik yang membuat rakyat Indonesia itu, walau­pun jumlahnya 80 juta, menjadi bersatu tekad, memenuhi sum­pahnya “Sekali merdeka, tetap merdeka!”

Pekik merdeka, saudara-saudara adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imperialisme, – dengan tiada ikatan penjajahan sedikitpun. Maka oleh karena itu saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional yang belum selesai, jangan 1 upa kepada pekik merdeka! Tiap-tiap kali kita berj umpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka!”

Tatkala aku mengadakan perjalanan ke Tanah Suci beberapa pekan yang lalu, aku telah diminta oleh khalayak Indonesia di kota Singapura untuk mengadakan amanat terhadap kepada mereka. Ketahuilah, bahwa di Singapura itu berpuluh-puluh ribu orang Indonesia berdiam. Mereka bergembira, bahwa Presiden Repu­blik-nya lewat di Singapura. Mereka mcnyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia itu dengan gegap-gernpita, dan minta kepada Presiden Republik Indonesia Umtuk memberikan amanat kepadanya. Di dalam amanat itu beberapa kali dipekikkan pekik kepadamu salam “assalamu’alaikum!” Sebagai warga negara Re­publik Indonesia aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara-saudara aku pulang dari Bali, – beristirahat beberapa hari di sana. Diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada ini malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanat, terutama sekali yang mengenai hal “apa sebab Negara Republik Indonesia berdasarkan kepada Pancasila?” Dan mem­berikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas? Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan Bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara-saudaraku dan anak­anakku sekalian, maka Bapak minta kepada pimpinan agar supaya saudara-saudara diberi izin lebih dekat. Sebab saudara-saudara tahu isi hati Bapak ini, isi hati Presiden, isi hati Bung Karno, – kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari perta­paannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara-saudara, Insya Allah saya kabulkan. Dan dengarkan benar, aku berpidato di sini bukan sekadar sebagai Soekarno. Bukan sekadar sebagai Bung Karno. Bukan sekadar sebagai Pak Karno. – Aku berpidato di sini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta untuk memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebab­nya negara Republik Indonesia didasarkan atas Pancasila?

Dan diminta memberi penjelasan akan Panca Dharma, sebagai yang telah kuanjurkan dengan resmi pula di dalam pidato Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus yang lalu. Dan pcrmintaan itu, Insya Allah kukabulkan pula sebagai Presiden Republik lndonesiau justru oleh karena pada saat sekarang ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia, maka dengan gembira dan senang hati saya memenuhi permintaan wltuk memberi penjelasan “merdeka”.

Apa lacur? Sesudah Bapak meneruskan perjalanan ke Bang­kok, ke Rangoon, ke New Delhi, Karachi, ke Bagdad, ke Mesir, ke Negara Saudi Arabia. – sesudah Bapak meninggalkan kota Singapura, geger pers imperialisme Singapura, saudara­saudara. Mereka berkata: “Presiden Sukarno kurang ajar”. Presi­den Sukarno menjalankan ill-behaviour katanya. I11-behaviour itu artinya tidak tahu kesopanan. Apa sebab pers imperialisme mengatakan Bapak menjalankan ill-behaviour, kurang ajar? Kata mereka, toh tahu Singapura ini bukan negeri merdeka? Toh tahu, bahwa di sini masih di dalam kekuasaan asing, kok memekikkan pekik “merdeka”?

Tatkala Bapak kembali dari Tanah Suci, singgah lagi di Singapura, – Bapak dikeroyok oleh korenponden-koresponden dan wartawan-wartawan. Mereka menanyakan kepada Bapak: “Tahukah PJM Presiden, bahwa tatkala PJM Presiden meninggal­kan kota Singapura di dalam perjalanan ke Mesir dan Tanah Suci, PJM dituduh “kurang ajar, kurang sopan, ill-behaviour, oleh karena PJM memekikkan pekik merdeka dan mengajarkan kepada bangsa Indonesia di sini memekikkan pekik merdeka? “Apa jawab Paduka Yang Mulia atas tuduhan itu?”

Bapak menjawab: “Jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, warga negara Republik Indonesia, berjumpa dengan warga negara Republik Indonesia, – pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia, selalu me­mekikkan pekik “merdeka”! Jangankan di sorga, di dalarn neraka­pun!”

Nah saudara-saudara dan anak-anakku sekalian. ja­ngan lupa akan pekik merdeka itu. Gcgap-gempitakan tiap-tiap kali pekik merdeka itu. Apalagi sebagai Bapak katakan tadi dalam fase revolusi nasional kita yang belum selesai. Dus kuulangi lagi, sebagai manusia yang beragama Islam aku menyampaikan kepadamu salam “assalamu’alaikum!” Sebagai warga negara Republik Indonesia aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara-saudara aku pulang dari Bali, – beristirahat beberapa hari di sana. Diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada ini malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanat, terutama sekali yang mengenai hal “apa sebab Negara Republik Indonesia berdasarkan kepada Pancasila?” Dan mem­berikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas? Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan Bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara-saudaraku dan anak­anakku sekalian, maka Bapak minta kepada pimpinan agar supaya saudara-saudara diberi izin lebih dekat. Sebab saudara-saudara tahu isi hati Bapak ini, isi hati Presiden, isi hati Bung Karno, – kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari perta­paannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara-saudara, Insya Allah saya kabulkan. Dan de­ngarkan benar, aku berpidato di sini bukan sekadar sebagai Soekarno. Bukan sekadar sebagai Bung Karno. Bukan sekadar sebagai Pak Karno. – Aku berpidato di sini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta untuk memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebab­nya negara Republik Indonesia didasarkan atas Pancasila?

Dan diminta memberi penjelasan akan Panca Dharma, seba­gai yang telah kuanjurkan dengan resmi pula di dalam pidato Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus vang lalu. Dan permintaan itu. Insya Allah kukabulkan pula sebagai Presiden Republik Indonesia, justru oleh karena pada saat sekarang ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia, maka dengan gembira dan senang hati saya memenuhi permintaan untuk memberi penjelasan tentang Pancasila.

Apa sebab? Tak lain dan tak bukan ialah oleh karena aku ini Presiden Republik Indonesia disumpah atas Undang-Undang Dasar kita. Saya tadi berkata, bahwa saya memenuhi perminta-an Kongres Rakyat Jawa Timur dengan penuh kesenangan hati, ialah oleh karena saya ini sebagai Presiden Republik disumpah atas dasar Undang-Undang Dasar kita. Disumpah harus setia kepada Undang-Undang Dasar kita. Di dalam Undang-Undang Dasar kita, dicantumkan satu Mukaddimah, kata pendahuluan. Dan di dalam kata pendahuluan itu dengan tegas disebutkan Pancasila. “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan Indonesia yang bulat, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”. Malahan bukan satu kali ini Pancasila itu disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar kita. Sejak kita di dalam tahun 1945 telah berkemas-kemas untuk menjadi satu bangsa yang merdeka, sejak itu kita telah mengalami empat kali naskah.

Sebelum mengadakan Proklamasi 17 Agustus, sudah ada satu naskah. Kemudian pada 17 Agustus satu naskah lagi. Kemudian tatkala RIS dibentuk satu naskah lagi. Kemudian sesudah itu tatkala kita kembali kepada zaman Republik Indonesia Kesatuan satu naskah lagi. Empat kali naskah saudara-saudara. Dan di dalam keempat naskah itu dengan tegas disebutkan Pancasila.

Pertarna tatkala kita di dalam zaman Jepang, kita telah berke­mas-kemas di dalam tahun 1945 itu untuk menjadi bangsa yang merdeka. Pada waktu itu telah disusunlah satu naskah yang di­narnakan “Charter Jakarta”. Di dalam Jakarta Charter itu telah disebutkan dengan tegas lima azas yang hendak kita pakai sebagai pegangan untuk negara vang akan datang. “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rak­yat, Keadilan Sosial”.

Demikian pula tatkala kita telah memproklamirkan kemer­dekaan kita pada 17 Agustus 1945, dengan tegas pula keesokan harinya saudara-saudara kukatakan Undang-Undang Dasar yang kita pakai ini, yaitu Undang-Undang Dasar yang kita rencanakan pada waktu caman.lepang di bawah ancaman bayonet Jepang, kita rencanakan satu Undang-Undang Dasar daripada Negara Repu­blik Indonesia yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan di dalam Undang-Undang Dasar itu dengan tegas dikatakan Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebang­saan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.

Tatkala berhubung dengan jalannya politik, Negara republik Indonesia Serikat dibentuk (RIS), pada waktu itu dibuatlah Un­dang-Undang Dasar RIS. Dan di dalam Mukaddimah Undang-Un­dang Dasar RIS ini disebutkan lagi dengan tegas Pancasila.

Kita tidak senang akan federal-federalan. Segenap rakyat memprotes akan adanya susunan federal ini. Delapan bulan susun­an federal ini. Delapan bulan susunan RIS berdiri – hancur lebur RIS, berdirilah Negara Republik Indonesia Indonesia Kesatuan. Dan Undang-tlndang Dasar yang dipakai RIS ini diubah lagi menjadi Undang-Undang Dasar Sementara daripada Negara Re­publik Indonesia Kesatuan. Tetapi tidak diubah isi Mukaddimah yang mengandung Pancasila.

Jadi dengan tegas saudara-saudara, – jelas! Empat kali di dalam sepuluh tahun ini kita melewati empat naskah. Tiap-tiap naskah menyebutkan Pancasila. Dan tatkala aku dengan karunia Allah s.w.t. dinobatkan menjadi Presiden, aku disumpah. Dan isi sumpah itu antara lain ialah setia kepada Undang-Undang Dasar. Maka oleh karena itulah saudara-saudara, rasa sebagai kewajiban jikalau diminta oleh sesuatu grolongan akan keterangan tentang Pancasila. – mcmcnuhi pcrmintaan itu. Dan pada ini malam dengan mengucap suka-syukur ke hadirat Allah s.w.t. aku berdiri di hadapan saudara-saudara. Berhadap-hadapan muka dengan kaurn buruh, dengan pegawai. rakyat jelata, dengan pihak Angkatan Laut Republik Indonesia dan pihak Tentara, dengan pihak Mobrig, pihak Polisi, Pihak Perintis, dengan Pemuda, de­ngan Pemudi, – berdiri di hadapan saudara-saudara dan anak­anak sekalian, yang telah datang membanjiri lapangan yang besar ini Iaksana air hujan, – aku mengucap banyak terima kasih kepadamu. Dan Insya Allah saudara-saudara aku akan terangkan kepadamu tentang apa sebab Negara Republik didasarkan atas dasar Pancasila.

Saudara-saudara,

Ada yang berkata Pancasila ini hanya sementara!

Yah jikalau diambil di dalam arti itu, memang Pancasila adalah sementara. Tetapi bukan saja Pancasila adalah sementara, bahkan misalnya ketentuan di dalam Undang-Undang Dasar kita, bahwa Sang Merah Putih, bendera kita, – itupun sementara! Segala Undang-Undang Dasar kita sekarang ini adalah sementara.

Tidakkah tadi telah kukatakan, bahwa Undang-Undang Dasar yang kita pakai sekarang ini, malahan disebutkan Undang-Undang Dasar Sementara daripada Negara Republik Indonesia? Apa sebab sementara? Yah oleh karena akhirnya nanti yang akan menentukan segala sesuatu ialah konstituante. Maka itu Saudara­saudara kita akan mengadakan pernilihan umurn 2 kali. Pertama pada tanggal 29 September nanti, Insya Allah s.w.t. untuk memilih DPR.

Kemudian pada tanggal 15 Desember untuk memilih Konsti­tuantcadalah Badan Pembentuk Undang-Undang Dasar. t Jndanu­Undang Dasar yang tetap. Konstituante adalah pembentuk konstitusi. Konstitusi berarti Undang-Undang Dasar. Undang-Un­dang Dasar tetap bagi Negara Republik Indonesia, vang sampai sekarang ini segala-galanya masih sementara. Tetapi saudara-saudara, jikalau ditanya kepadaku “apa yang berisi kalbu Bapak ini akan permohonan kepada Allah s.w.t.?”

Terus terang aku berkata, jikalau saudara-saudara mem­belah dada Bung Karno ini, permohonanku kepada Allah s.w.t. ialah saudara-saudara bisa membaca di dalam dada Bung Karno memohon kepada Allah s.w.t. supaya Negara Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila.

Yah benar, bahwa segala sesuatunya adalah sementara. Tetapi aku berkata, bahwa Sang Merah Putih adalah sementara, adalah bendera Republik Indonesia-pun sementara. Dan jikalau nanti konstituante bersidang, Insya Allah s.w.t. saudara-saudara­ku, siang dan malam Bapak akan memohon kepada Allah s.w.t. agar supaya konstituante tetap menetapkan Bendera Sang Merah Putih sebagai bendera Negara republik Indonesia.

Aku minta kepadamu sekalian, janganlah memperdebatkan Sang Merah Putih ini. Jangan ada satu pihak yang mengusulkan warna lain sebagai bendera Republik Indonesia.

Tahukah saudara-saudara, bahwa warna Merah Putih ini bukan buatan Republik Indonesia? Bukan buatan kita dari zaman pergerakan nasional. Apa lagi bukan buatan Bung Karno, bukan buatan Bung Hatta! Enam ribu tahun sudah kita mengenal akan warna Merah Putih ini. Bukan seribu tahun. bukan dua ribu tahun. bukaii tiga ribu tahun, bukan empat ribu tahun, bukan lima ribu tahun! – Enam ribu tahun kita telah mengenal warna Merah Putih!

Tatkala di sini belum ada agama Kristen, belum ada agama Islanl, belum ada agama Hindu, bangsa Indonesia telah meng­agungkan warna Merah Putih. Pada waktu itu kita belum mengenai Tuhan dalam cara mcngcnal sebagai sckarang ini. Pada waktu itu vang kita sembah adalah Matahari daii Bulan. Pada waktu itu kita hanya mengira, bahwa yang memberi hidup itu Mataharai.

Siang Matahari – malam Bulan. Matahari merah – Bulan putih. Pada waktu itu kita telah mengagungkan warna Merah Putih. Kemudian bertambah kecer­dasan kita. Kita lebih dalam menyelami akan hidup di dalam alam ini.

Kita memperhatikan segala sesuatu di dalam alam ini dan kita melihat – O, alam ini ada yang hidup bergerak, ada yang tidak bergerak. Ada manusia dan binatang, makhluk-makhluk yang bergerak. Ada tumbuh-tumbuhan yang tidak bisa bergerak. “Manusia dan binatang itu darahnya merah. Tumbuh-tumbuhan darahnya putih”. Getih – Getah.

Coba dengarkan hampir sama dua perkataan ini: Getih – Getah.

Cuma i diganti dengan a Dulu kita mengagungkan Matahari dan Bulan yang di dalarn alam Hindu dinamakan Surya Candra. Kemudian kita mengagungkan Getih-Getah. Merah-Putih. Saudara-saudara, itu adalah fase kedua.

Fase ketiga, manusia mengerti akan kejadian manusia.

Mengerti, bahwa kejadian manusia ini adalah daripada perhubungan laki dan perempuan, perempuan dan laki. Orang mengerti perempuan adalah merah, laki adalah putih.

Dan itulah sebabnya maka kita turun-temurun mengagung-kan Merah Putih. Apa yang dinamakan “gula-kelapa”, meng-agungkan bubur bang putih. Itulah sebabnya maka kita kemudian tatkala kita, mempunyai Negara-Negara setelah mempunyai kerajaan-kera­jaan, memakai warna Merah Putih itu sebagai bendera Negara. Tatkala kita mempunyai kerajaan Singosari, Merah Putih telah berkibar terus dirampas oleh imperialisme asing. Tetapi di dalam dada kita tetap hidup kecintaan kepada Merah Putih.

Dan tatkala kita mengadakan pcrgcrakan nasional sejak tahun 1908, dengan lahirnya Budi Utomo dan diikuti oleh Serikat Islam, oleh NIP (National lndische Party), oleh ISDP, oleh PKI. oleh Sarikat Rakyat, oleh PPPK, oleh PBI, oleh Parindra, dan lain-lain, maka rakyat Indonesia tetap mencintai Merah Putih sebagai warna benderanya.

Uan tatkala kita pada tanggal 17 Agustus 1945 memprokla­mirkan kemerdekaan itu dengan resmi kita menyatakan Sang Merah Putih adalah bendera kemerdekaan kita.

Itu semua jika dikatakan sementara, yaaah sementara! Sebab konstituante belum bersidang. Konstituante mau merubah warna ini??? Lho, kalau menurut haknya, boleh saja. Sebab konstituante itu adalah kekuasaan kita yang tertinggi. Penyusun, pembentuk Konstitusi. Jadi kalau konstituante misalnya hendak menentukan warna Bendera Republik Indonesia bukan Merah – Putih – yaah mau dikatakan apa?

Tetapi Bapak berkata, Bapak memohon kepada Allah s.w.t. agar supaya warna merah-putih tetap menjadi warna Bendera Negara Republik Indonesia.

Kembali kepada Pancasila. Jika dikatakan sementara, yaaaaaa  sementara!

Lagi-lagi Bapak ini berkata Allah s.w.t., Allah s.w.t. – Dan Bapakpun bersyukur ke hadirat Allah s.w.t., bahwa cita-cita Bapak yang sudah bertahun-tahun untuk naik Haji dikabulkan oleh Allah s.w.t. Lagi-lagi Allah s.w.t.

Saudara-saudara, jikalau aku meninggal dunia nanti – ini hanya Tuhan yang mengetahui, dan tidak bisa dielakkan semua orang – jikalau ditanya oleh Malaikat: “Hai Soekarno, tatkala engkau hidup di dunia, engkau telah mengerjakan beberapa pekerjaan. Pekerjaan apa yang paling engkau cintai? Pekerjaan apa yang paling engkau kagumi? Pekerjaan apa yang engkau paling ucapkan syukur kepada Allah s.w.t.?”

Moga-moga saudara-saudara aku bisa menjawab. -ya   bisa menjawab demikian atau tidaknya itupun tergantung dari pada Allah s.w.t.: “Tatkala aku hidup di dunia ini, aku telah ikut membentuk Negara republik Indonesia. Aku telah ikut memben­tuk satu wadah bagi masyarakat Indonesia”.

Sebagai sering kukatakan saudara-saudara, negara adalah wadah. Jikalau diberi karunia oleh Allah s.w.t. mengerjakan pe­kerjaan satu ini saja, Allahu’akbar – aku akan berterima kasih setinggi langit. Yaitu untuk pekerjaan ini saja, ikut membentuk wadah. Wadahnya, wadahnya saja yang bernama Negara ini. Di dalam wadah ini adalah masyarakat. Wadah yang dinamakan negara ini adalah wadah untuk masyarakat.

Membentuk wadah adalah lebih mudah daripada mem-bentuk masyarakat.

Membentuk wadah adalah bisa dijalankan di dalam satu hari sebenarnya, – wadah yang bernama Negara itu.

Tidakkah saudara-saudara dari sejarah dunia kadang-kadang mendengar, bahwa oleh suatu konferensi kecil sekonyong-ko­nyong diputuskan dibentuk Negara ini, dibentuk Negara itu. Mi­salnya dahulu sesudah peperangan dunia yang pertama, tidakkah Negara Cekoslovakia sekadar dengan coretan pena dari suatu konferensi kecil. Membentuk negara gampang! Dulu di sini juga pernah dibentuk Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, hanya dengan decreet Van Mook saudara-saudara! Tetapi coba membentuk masyarakat, susah!

Membentuk masyarakat, kita harus bekerja siang dan malam, bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, kadang-kadang berwindu­windu, berabad-abad. Masyarakat apapun tidak gampang diben­tuknya. Itu meminta pekerjaan kita terus-menerus. Baik masya­rakat Islam, maupun masyarakat Kristen, maupun masyarakat Sosialis. Bukan bisa dibentuk dengan satu dekret saudara-saudara, dengan satu tulisan. dengan satu unjau napas manusia. Memhen­tuk masyarakat makan waktu! Yah aku bermohon kepada Tuhan, dibolehkanlah hendaknya ikut membentuk masyarakat pula.

Masyarakat di dalam wadah itu. Tetapi aku telah syukur seribu syukur kepada Tuhan, jikalau aku nanti bisa menjawab kepada Malaikat itu, bahwa hidupku di dunia ini ialah antara lain-lain telah ikut membentuk wadah ini saja. Membentuk wadah yang bernama Negara dan wadah ini buat satu masyarakat yang besar. Walaupun rapat ini lebih daripada satu juta manusia saudara-saudara, wadah itu bukan kok cuma buat satu juta manusia ini saja. Tidak! Wadah yang bernama Negara, Negara yang bernama Republik Indonesia itu adalah wadah untuk masyarakat Indonesia yang 80 juta, dari Sabang sampai ke Merauke! Dan masyarakat Indonesia ini adalah beraneka agama, beraneka adat-istiadat, beraneka suku. Bertahun­tahun aku ikut memikirkan ini. Nanti jikalau Allah s.w.t. memberi­kan kemerdekaan kepada kita, – dulu berpikiran yang demikian­lah Bapak, -jikalau Negara Republik Indonesiatelah bisa berdiri, negara ini agar supaya selamat, agar bisa menjadi wadah bagi segenap rakyat Indonesia yang 80 juta, Negara harus didasarkan apa?

Tatkala aku masih berumur 25 tahun, aku telah memikirkan hal ini. Tatkala aku aktif di dalam pergerakan, aku lebih-lebih lagi memikirkan hal ini. Tatkala di dalam zaman Jepang, tetapi oleh karena tekad kita sendiri, usaha kita sendiri, pembantingan tulang sendiri, korbanan kita sendiri, – tatkala fajar telah menyingsing, lebih-lebih lagi kupikirkan hal ini. Wadah ini hendaknya jangan retak. Wadah ini hendaknya utuh sekuat-kuatnya. Wadah untuk segenap rakyat Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke yang beraneka agama, beraneka suku beraneka adat-istiadat.

Sekarang aku menjadi Presiden Republik Indonesia adalah karunia Tuhan. Aku tidak menyesal, bahwa aku dulu bertahun-ta­hun memikirkan hal ini. Dan aku tidak menyesal. bahwa aku telah memformulir Pancasila. Apa sebab? Barangkali lebih daripada siapapun di Indonesia ini, aku mengetahui akan keanekaaan bangsa Indonesia ini. Sebagai Presiden Republik Indonesia aku berkesempatan sering-sering untuk melawat ke daerah-daerah. Sering-sering aku naik kapal udara. Malahan jikalau di dalam kapal udara aku sering-sering, katakanlah main gila dengan pilot. Pilot terbang tinggi, aku tanya kepadanya:

“Saudara pilot, berapa tinggi?”

“12.000 kaki Paduka Yang Mulia”.

“Kurang tinggi, naikkan lagi”.

” 13.000 kaki”.

“Hahaa kurang tinggi Bung!”. “14.000 kaki”.

“Kurang tinggi!”.

” 15.000 kaki”.

“Kurang tinggi!”.

“16.000 kaki!”.

“Kurang tinggi!”.

“17.000 kaki!”

“Kurang tinggi!”.

“Sudah tidak bisa lagi. Paduka Yang Mulia. Kapal udara kita sudah mencapai plafon”.

Plafon itu ialah tempat yang setinggi-tingginya bagi kapal udara itu. Aku terbang dari Barat ke Timur, dari Timur ke Barat. Dari Utara ke Selatan, dari Selatan ke Utara. Aku melihat tanah air kita. Allahu’akbar, cantiknya bukan main! Dan bukan saja cantik, sehingga benarlah apa yang diucapkan oleh Multatuli di dalam kitab “Max Havelaar”, bahwa Indonesia ini adalah demikian cantiknya, sehingga ia sebutkan “Insulinde de zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd”. Indonesia yang laksana ikat pinggang terbuat daripada zamrud berlilit-lilit seke­liling khatulistiwa! Indahnva demikian. Ya memang saudara-saudara. jikalau engkau terbang 17.000 kaki di angkasa dan melihat ke bawah. kelihatan betul-betul Indonesia ini adalah sebagai ikat pinggang yang terbuat daripada zamrud, melilit mengelilingi khatulistiwa. Berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu­ ribu pulau saudara melihat. Dan tiap-tiap pulau itu berwarna­warna. Ada yang hijau kehijauan, ada yang kuning kekuningan. Indah permai tanah air kita ini saudara-saudara. Lebih daripada 3000 pulau. Bahkan kalau dihitung dengan yang kecil-kecil, – 10.000 pulau-pulau.

Terbanglah kapal udaraku datang di daerah Aceh. Rakyat Aceh menyambut kedatangan Presiden, rakyat beragama Islam. Terbang lagi kapal udaraku, turun di Siborong-borong daerah Batak. Rakyat Batak menyambut dengan gegap-gempita keda­tangan Presiden Republik Indonesia, – agamanya Kristen.

Terbang lagi saudara-saudara dekat Sibolga, – agama Kris­ten. Terbang lagi ke Selatan ke Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan, – agama Islam. Demikianlah pula di Jawa. Kebanyakan beragama Islam, di sana Kristen, sini Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Banjarmasin, – kebanyakan Islam. Tetapi di Banjar­masin itu aku berjumpa utusan-utusan dari suku Dayak saudara­saudara. Malahan di Samarinda aku berjumpa dengan utusan­utusan, bahkan rakyat Dayak yang 9 hari 9 malam turun dari gunung-gunung untuk menjumpai Presiden Republik Indonesia. Mereka tidak beragama Islam, tetapi beragama agamanya sendiri.

Category: Pidato Bung Karno | Views: 1820 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Bung Karno, Pancasila | Rating: 2.7/3
Total comments: 0
avatar