Home » 2018 » March » 26 » Amanat PJM Presiden Soekarno di Hadapan Para Anggota Golongan Karya Nasional di Istana Bogor, 1 1 Desember 1965 (Malam)
12:37 PM
Amanat PJM Presiden Soekarno di Hadapan Para Anggota Golongan Karya Nasional di Istana Bogor, 1 1 Desember 1965 (Malam)

Saudara-saudara sekalian,

Barangkali Saudara-saudara melihat saya masuk ruangan ini dengan muka marah. Memang, marah! Masak pantas kamu orang yang dipersilakan datang di sini jam 7, kan kamu orang minta supaya ini malam datang di sini, menyuruh Presiden satu jam menunggu! Tadi saya memakai perkataan inlander kamu orang sekalian!

Ya, rapat baru setengah enam habis.

Go to hell dengan setengah enam!

Inikah Golongan Karya? Inikah yang dinamakan katanya menjunjung tinggi, patuh kepada Kepala Negara, Presiden. Saya marah, Saudara-saudara!

Kalau Saudara-saudara meladeni revolusi cara begini, nou, tidak akan revolusi itu bisa selesai. Jangan mengeluarkan alasan kepada saya, ya sidang baru setengah enam habis. Kalau sidang akan memakan waktu begitu banyaknya, mulai pagi-pagi betul! Jam berapa mulai sidang?

Mulailah jam lima pagi! Inlanders!

Saya bekerja mati-matian tanpa berhenti. Ya, mati-matian tanpa berhenti saya bekerja! Kamu orang enak-enak membuang waktu. Terus terang, saya marah!

Saudara-saudara, dan memang di waktu-waktu yang belakangan ini saya terus marah-marah kepada segala pihak dan golongan. Oleh karena apa? Oleh karena omong kosong jikalau orang mengatakan, ya kami semuanya untuk revolusi. Omong kosong! Sebenarnya bukan untuk revolusi, dan menepati, menaati segala hukum-hukum revolusi, tetapi berbuat segala sesuatu yang merugikan kepada revolusi.

Saya di muka MPRS, di muka Kabinet, di muka Pancatunggal, di mana-mana saya berkata bahwa saya ini di waktu yang akhir-akhir ini, yang selalu dikatakan taat kepda Bung Karno, berdiri bulat di belakang Bung Karno, menjalankan segala apa yang dikomandokan oleh Bung Karno, tetapi saya merasa diri saya ini kadang-kadang seperti dikentuti. Ya, saya ulangi, malahan saya pernah berkata, dua kali saya berkata, malahan memakai bahasa asing, Saudara-saudara, als jullie mij nog lust, behoudt mij. Als jullie mij niet meer lust, trap mij eruit! [1] Malahan saya tidak perlu di-trap eruit, saya akan mengundurkan diri sendiri. Sebab apa? Kebanyakan daripada pemimpin-pemimpin kita itu cuma di lidah dan di bibir saja: mengabdi kepada revolusi, mengabdi kepada revolusi, mengabdi kepada revolusi, tetapi menyimpang daripada revolusi.

Saya dijadikan Pemimpin Besar Revolusi bukan kehendak saya sendiri. MPRS yang menetapkan saya menjadi Pemimpin Besar Revolusi. MPRS menetapkan saya menjadi Presiden Seumur Hidup, jadi bukan kehendak saya sendiri. Dan saya, Saudara-saudara, saya mempelajari revolusi-revolusi, dan saya berikhtiar untuk memimpin revolusi menurut garis-garis revolusi yang sebenarnya.

Di kalangan karyawan banyak yang dengan kata saja: ya, mengikuti segala ajaran-ajaran dari Bung Karno. Petanono atimu dewe (selidiki hatimu sendiri), telaah engkau punya hati sendiri, apa betul Saudarasaudara menjalankan segala ajaran Bung Karno? Apakah betul Saudarasaudara menjalankan Panca Azimat daripada revolusi ? Pancasila? Inggih Pancasila. Nasakom? Ya, Nasakom. Tapi banyak yang sebenarnya tidak menjalankan Nasakom. Ya, terutama sekali di waktu yang akhir-akhir ini, Saudara-saudara. Trisakti, demikian pula dengan Berdikari, demikian pula dengan ajaranku yang Iain-lain.

Pancasila, tadi disebukan oleh Djuhartono, Garuda Pancasila. Apakah tidak benar kalau saya berkata bahwa di waktu yang akhir-akhir ini, Pancasila dipergunakan sebagai satu barang an sich. Aku Pancasila! Maksudnya apa orangyang berkata demikian itu? Aku antikomunis. Nah, Ginting kok manggut-manggut. Ya apa tidak? Perkataan dipakai untuk sebetulnya men-demonstreer anti kepada Kom. Padahal Pancasila itu sebetulnya tidak anti-Kom. Kom dalam arti ideologi sosial untuk mendatangkan di sini suatu masyarakat yang sosialistis. Kalau dikatakan, ya aku Pancasila, tetapi dalam hatinya anti-Nasakom, Komnya ini, Pancasila juga dipakai untuk mengatakan aku Pancasila, tetapi aku anti-Nas. Aku Pancasila tetapi aku anti-A. Ya apa tidak? Pancasila adalah pemersatu, adalah satu ideologi yang mencakup segala. Dan aku sendiri berkata, aku ini apa? Aku Pancasila. Aku apa? Aku perasan daripada Nasakom. Aku adalah Nasionalis, aku adalah A, aku adalah sosialis, kataku. Tetapi banyak orang memakai Pancasila itu sebagai satu hal yang anti. Ya apa tidak Emma?

Ayo, terus terang ya! Anti-Gestapu lain! Kom, Kom, Kom, saya katakan, sebagai ideologi untuk mendatangkan di sini satu masyarakat yang adil dan makmur. Saya tidak mengatakan anti-Gestapu, saya sendiri menghukum kepada Gestapu. Saya sendiri memerintahkan diadakannya Mahkamah Militer Luar Biasa. Tetapi saya melihat bahwa perkataan Pancasila itu sekarang dipakai untuk itu. Pancasila, Pancasila. Pancasila, Pancasila, tetapi sebenarnya anti kepada bagian Kom daripada Nasakom. Pancasila, Pancasila, Pancasila. Lha kalau begitu Iha mbok ya anti kepada Nas-nya juga. Pancasila, Pancasila, Pancasila, kalau begitu juga anti kepada A-nya juga. Tidak!

Saudara-saudara, ik laat me niet bedonderen. Saya tahu, saya tahu terhadap kepada orang-orang yang menjalankan Gestapu, artinya perbuatan pada tanggal 1 Oktober itu. Sebetulnya bukan 30 September! 1 Oktober pagi, jam 4 pagi. Ha, itu saya sendiri mengatakan itu salah, harus dihukum. Sayalah yang memerintahkan untuk diadakan Hakim Militer, Militaire Rechtbank Luar Biasa untuk menghukum mereka itu. Tetapi sebagai ideologi Kom, what is in a word, ideologi sosialisme, ideologi untuk mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur, yang progresif revolusioner, itu yang saya maksudkan.

Sekarang perkataan progresifrevolusioner pun dipakai sebagai macam barang dagangan. Tapi saya tegaskan selalu, progresif revolusioner bukan hanya revolusioner saja. Apa artinya progresif? Progresif yaitu merombak yang sekarang, maju kepada satu tarafyang lebih maju. Itu yang dinamakan kiri. Kalau cuma revolusioner saja, saya tempo hari berkata, Hitler adalah revolusioner. Dia merombak sama sekali, dia menghantam de oude orde. Dia malahan menangkap orang puluhan ribu dimasukkan di dalam concentratie kamp. Dia mengedrel orang ratusan, ribuan. Dia membawa orang-orang Yahudi puluhan ribu, bukan saja di dalam concentratie kamp, tetapi di dalam gaskamer, dibunuh dengan gas. Dia dus orang revolusioner, tetapi dia bukan progresif revolusioner. Dia adalah malahan retrogresif revolusioner. Retrogresif artinya membawa ke belakang, bukan memajukan.

Nah ini karyawan-karyawan, Saudara-saudara karyawan. Kenapa dinamakan karyawan? Terutama ialah mereka itu pekerja, kerja, kerja, kerja. Kerja apa? Terutama sekali pekerja untuk mengadakan masyarakat yang baru, satu masyarakat yang progresif. Saudara adalah karyawan, Saudara adalah karyawan, Saudara adalah karyawan, Saudara adalah karyawan. Untuk apa, kerja apa? Kerja di bidang pekerjaan Saudara masing-masing. Membangun satu masyarakat baru yang progresif, yaitu kiri. Karena itu aku menegaskan hal ini, Saudara-saudara.

Pendek, kalau Saudara mengaku atau menamakan dirimu anak Bung Karno, saya tidak mau punya anak yang tidak kiri. Ya, saya tidak mau punya anak yang tidak kiri, kalau yang cuma mulutnya saja progresif revolusioner, tetapi di dalam hatinya sebetulnya kanan.

Tempo hari saya berkata, banyak orang yang mengatakan revolusioner, revolusioner, progresif revolusioner, tapi bukan hanya anti-landreform, misalnya manghalang-halangi berjalannya landreform. Ini nyata ini, bukan kiri ini, kanan, kanan, kanan! Sebab, landreform adalah satu syarat untuk masyarakat sosialis. Landreform adalah syarat mutlak untuk mendirikan satu masyarakat yang adil dan makmur. Tidakkah banyak, Saudra-saudara, golongan-golongan di kalangan kita ini yang anti-landreform, bukan saja, tetapi malahan menghalang-halangi landreform. Jadi meskipun berteriak, aku progresif revolusioner, aku progresif revolusioner, aku progresif revolusioner, tapi jikalau anti-landreform, go to hell dengan engkau punya perkataan progresif revolusioner.

Ini yang saya kehendaki daripada seluruh masyarakat Indonesia supaya mengerti, mengerti, mengerti revolusi kita ini, revolusi apa? Yaitu revolusi yang dengan perkataan, aku katakan kiri. Trisakti, Saudara-saudara, adalah kiri. Berdaulat di lapangan politik, itu adalah kiri. Berdikari di lapangan ekonomi, itulah kiri. Berkepribadian di lapangan kebudayaan, itu adalah kiri. Dan Berdikari di lapangan ekonomi adalah syarat mutlak bagi sosialisme.

Wah, di kalangan karyawan, di kalangan Front Nasional, he saya menyatakan, aku anti-atheist, aku anti-atheist, aku anti-atheist, aku anti-atheist. Di dalam hatinya ya benci kepada marxisme, katanya karena marxisme adalah atheisme. Kok lantas ada perkataan di dalam surat kabar itu, kalau tidak salah kemarin atau ini hari muncul lagi: marxisme religius. Lo, Imam Pratiknjo, apa itu marxisme religius, dat bestaat niet. ltu perkataan sebetulnya timbul daripada hati yang benci kepada marxisme. Tetapi oleh karena ya Presiden ini marxis, dus ya saya setuju kepada marxisme. Maar yang religieus. Lo, lo, lo, kip zonder kop ini, Saudara-saudara. Ya, kip zonder kop, ayam tanpa kepala.

Nah, saya menghendaki agar supaya rakyat Indonesia itu janganlah ayam tanpa kepala, apalagi dari Front Nasional, yang Front Nasional itu saya adakan justru untuk membuat seluruh rakyat Indonesia itu menjadi ayam jantan yang mempunyai kepala, agar supaya revolusi kita itu bisa berjalan betul di atas hukum-hukum revolusi menuju kepada tujuan revolusi 17 Agustus 1945.

Front Nasional kalau ikut-ikut, saya sudah marah tempo hari kepada Djuhartono, kalau ikut-ikut Front Nasional kepada membakar, membakar semangat gontok-gontokan satu sama Iain, saya bubarkan Front Nasional itu! Ya, saya bubarkan Front Nasional, tidak peduli, Saudarasaudara! Saya di dalam waktu sekarang ini merasa diperintahkan oleh seluruh rakyat Indonesia untuk menyelamatkan bangsa Indonesia ini. Dan siapa yang mencoba untuk meretakkan bangsa Indonesia ini, berhadapan dengan Soekarno. Siapa yang menang, tidak tahu. Tetapi jelas akan berhadapan dengan Soekarno. 40 tahun daripada saya punya hidup ini saya dedicate kepada bangsaku, dedicate kepada persatuan bangsaku. Oleh karena hanya dengan persatuan bangsa, kita bisa mencapai apa yang dicita-citakan oleh rakyat jelata, rakyat jembel ini, yaitu apa yang dinamakan Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

Sampai-sampai saya menggali ajaran-ajaran dari pemimpin-pemimpin Iain. Sampai-sampai saya citeer, baik Gibbon maupun Arnold Toynbee yang berkata, a great civilisation never goes down unless it destroys itself from within. Jadi kalau Saudara ikut destroy our nation from within, Saudara-saudara adalah pengkhianat bangsa. Ya, kalau Saudara-saudara ikut-ikut merobek-robek bangsa Indonesia itu, dadanya bangsa Indonesia Saudara sobek-sobek dengan menganjur-anjurkan gontok-gontokan, panas-panasan, Saudara sebetulnya pengkhianat bangsa! Saudara boleh berkata, ya aku anti-Gestapu! Ya, aku juga anti-Gestapu, aku juga memerintahkan agar supaya orang-orang menjalankan Gestapu dihukum. Tetapi, wacht even, kalau ada orang dengan antinya Gestapu itu juga merobek-robek dadanya bangsa Indonesia, dia akan berhadap-hadapan dengan saya. Tuhan yang akan memberi bantuan kepada saya, insya Allah Swt. Gemampang, Saudara-saudara! Kamu orang itu buat apa di sini, buat apa? Ya, kamu karyawan-karyawan buat apa? Aku bertanya lagi, buat apa engkau? Buat apa engkau? Buat bangsa dan negara.

Kenapa engkau kadang-kadang, saya tidak mengatakan engkau, benar engkau, tetapi kenapa kadang-kadang nama berbakti tapi memecah-mecah bangsa. Nama berbakti kepada negara, tetapi merugikan kepada negara. Kenapa?

Ya, kami anti-Gestapu!

Ya, Gestapu kan lain. Emma Puradiredja, itu kan lain! Malah saya di dalam pidato saya di hadapan Kabinet Pleno pernah saya mengatakan, menguraikan kepada tuan-tuan dan nyonya-nyonya pemimpin, bahwa perbuatan Gestapu adalah satu, ditinjau dari segi marxisme, eine kinderkrankheit des komunismus, kinderkrankheit des komunismus. Yang sudah terjadi pula di Soviet Uni, zamannya Lenin. Zaman-zaman Lenin itu ada orang-orang mengira, ho, sosialisme tidak bisa dijalankan kalau dijalankan dengan cara begini ini. Sosialisme hanyalah bisa dijalankan kalau kita potong lehernya orang-orang yang tidak mengikuti sosialisme. Lantas pemuda-pemuda Soviet Uni ini menembak mati beberapa jenderal, seperti di sini ini, I Oktober. Ada orang yang membakar rumahnya orang-orang yang bekasnya kapitalis. Lenin terus bangun, hukum perbuatan yang demikian ini. Malahan Lenin mengatakan ini adalah kinderkrankheit, anak kecil yang tidak mengerti kepada revolusi.

Demikian pula, Saudara-saudara, kataku tempo hari itu, Darul Islam, itu pun kinderkrankheit des Islamismus. Orang mengatakan, mengira masyarakat Islam itu tidak bisa diadakan dengan bicara seperti sekarang ini. Masyarakat Islam harus dijalankan dengan orang-orang, hh, yang bukan Islam harus dibunuh! Hukum-hukum Alquran ini harus dipaksakan! Dikatakan malahan oleh Kartosuwirjo, harus semacam satu total war terhadap orang-orang yang tidak menjalankan hukum Alquran itu. Saya sendiri melihat foto-foto, Saudara-saudara, bagaimana Kartosuwirjo dekat Bandung, laki-laki, perempuan-perempuan, anak-anak, bayi-bayi dibunuh sama sekali. Itu, katanya, ini caranya kita mengadakan masyarakat Islam.

Nah, persis apa yang dikerjakan oleh orang-orang Gestapu pada tanggal 1 Okober yang lalu. Tetapi sebagai ideologi, Saudara-saudara, ideologi yang saya gariskan sebagai ideologi, untuk mengadakan satu ideologi itu adalah satu inherentie, inherentie artinya, satu hal yang termasuk dalam Revolusi Indonesia, satu objektivitas daripada Revolusi Indonesia. Suprobo, saya panggil dia selalu Suprobo, apakah engkau bisa membayangkan revolusi itu tanpa Nas? Tanpa A? Tanpa apa yang saya namakan Kom? Tidak bisa. Tidak bisa. Sebab, ketiga-tiganya ini adalah hasil daripada apa yang saya katakan di dalam pidato saya tempo hari inspiratie van de geschiedenis, inspiratie van de masyarakat.

Saya kasih keterangan lebih dahulu tadinya, ini keterangannya. Inspirasi itu apa? Kalau engkau sudah mencipta, wah aku dapat inspirasi, atau engkau dapat inspirasi. Aku dapat inspirasi untuk membuat ini. Padahal kalau engkau pakai otakmu sendiri sebetulnya tidak sampai kepada, hhh, aku akan menciptakan hal itu. Karena itu dikatakan inspirasi.

Kukatakan inspirasi adalah de scheppende ontmoeting tussen het bewuste en het onderbewuste in de mens. Mens itu, manusia itu mempunyai dua hal. He anak kecil, mengerti apa tidak? Kalau tidak mengerti bilang saja sama Pak Djuhartono nanti.

Manusia itu mempunyai dua hal; alam pikiran yang sadar, otak bekerja itu, bewust, sadar. Ada juga alam pikiran yang sebetulnya kita tidak rasakan. Itu onbewust, bawah sadar, onderbewust. Misalnya ya, misalnya, saya sendiri sering, sering, sering, ada satu soal, saya pikirkan, pikirkan, pikirkan, sampai jauh malam, pikrkan, aktif dengan otak saya, bagaimana memecahkannya? Tidak bisa. Saya tidak bisa memecahkannya. Ternyata bewust saya tidak bisa memecahkan. Kemudian saya tidur. Pada waktu saya tidur itu, bewust tidur, saya punya bawah sadar, onderbewustzijn saya ini bekerja terus, bekerja terus, memikir. Pagi saya bangun, gregah! Kata orang Jawa, bangun, sadar, ee, jawaban pemecahan itu sudah ada pada saya. Jadi nyata ini saya bisa mendapatkan pemecahan daripada soal yang sulit itu pada waktu saya tidur, yaitu dijalankan, dikerjakan oleh onderbewustzijn saya ini.

Nah, manusia itu begitu, ada yang bewust, ada yang onderbewust yang tidak kita rasakan. Kalau dua hal yang berpikir ini, yang bewust dan yang onderbewust ini bertemu secara membangun, secara scheppen, secara mencipta, itulah yang dinamakan inspirasi. De scheppende ontmoeting tussen het bewuste en het onderbewuste van de mens. Nah, itu mengenai manusia.

Lantas aku memberi keterangan mengenai revolusi. Revolusi itu apa, wong revolusi itu bukan bikinan manusia. Bukan bikinanku. Aku tidak merasa membuat Revolusi Indonesia ini, aku malahan merasa sebagai perasan daripada Revolusi Indonesia ini. Malahan aku kadang-kadang merasa seperti didorong-dorong oleh sesuatu hal gaib yang bernama Revolusi Indonesia. Revolusi Indonesia bukan buatanku, bukan buatan Hatta, kataku, bukan buatan siapa pun. Dan revolusi itu apa? Lantas saya berkata, revolusi adalah inspirasi daripada masyarakat. Malahan bukan saja yang berarti kecil-kecilan, razende inspiratie—razen yaitu bergelora, menggeledek, mengguntur. ltulah razende inspiratie, razende inspiratie daripada masyarakat.

Memang nyata ini, bukan bewust tok. Apakah Marhaen yang tidak bisa membaca dan menulis mengetahui? oo, harus Berdikari. oo harus mengadakan aturan ini. oo, harus mengadakan simbol yang berupa Garuda Pancasila. oo, harus, tidak, tidak, tidak! Marhaen bewust tidak tahu apa-apa! Mereka ya memang orang yang, katakanlah bodoh. En toh dia adalah satu tenaga yang beslissendfundamenteel di dalam revolusi ini. Oleh karena apa? Oleh karena revolusi adalah inspirasi dalam kalbunya seluruh rakyat Indonesia. Dan inspirasi adalah, kukatakan tadi, de scheppende ontmoeting van het bewuste en het onderbewuste.

Oleh karena itu maka saya berkata, revolusi sebetulnya leidt zichzelf, memimpin dirinya sendiri. Saya dinamakan Pemimpin Besar Revolusi, itu kan sebutan, tetapi revolusi sebetulnya memimpin diri sendiri.

Bahasa asingnya the revolution leads itself. Emma jangan mengira engkau bisa memimpin revolusi. Aku pun jangan mengira, sudah, aku sebetulnya memimpin revolusi. Aku tadi kan berkata, aku malahan kadang-kadang merasa di-surung-surung oleh revolusi. Aku tidak bisa memimpin revolusi. Engkau tidak bisa, engkau tidak bisa, engkau tidak bisa, engkau tidak bisa. Djuhartono, meskipun engkau Brigjen, tidak bisa! Kita oleh karena itu harus jalan di atas rel yang ditentukan oleh revolusi itu. Katakanlah dalam bahasa Jawa, tut wuri handayani. Tut wuri artinya, tut mburi, ngetut dari belakang, mengikuti dari belakang, Handayani yaitu memberi, mendayani, memengaruhi. Kalau revolusi kita nabrak, itu ee dibetulkan sedikit. Kalau revolusi itu nabrak, itu dibetulkan sedikit. Tut wuri handayani.

Ada seorang pemimpin revolusi yang berkata, sesudah kejadian-kejadian hebat di dalam revolusi itu yang perlu di-dayani itu, dia berkata, one can teach the leaders, orang bisa mengajar pemimpin-pemimpinnya. One can teach the masses as well, orang bisa mengajar rakyat. But one cannot teach the revolution anything. One can teach the leaders, one can teach the masses as well, we cannot teach the revolution something. Oleh karena revolusi mempunyai jiwa sendiri. Oleh karena revolusi adalah sebetulnya inspirasi daripada rakyat. De scheppende ontmoeting van het bewuste in de rakyat, en het onderbewuste.

Rakyat jelata itu tidak tahu apa-apa, tidak tahu hukum, dan cuma, hh, tidak senang ini, tanah airku ini kok dijajah oleh Belanda. Tidak bisa berbuat segala apa yang kita mau, karena ada Belanda. Ha, timbul nasionalisme di dalam kalangan rakyat itu, menghendaki agar supaya Indonesia menjadi satu negara yang merdeka.

Ada di dalam kalangan rakyat jelata yang bodoh itu semuanya— saya bilang rakyat jelata itu boleh dikatakan tidak mempunyai mulut, karena itu aku menyebutkan diriku sendiri penyambung lidah daripada rakyat jelata—rakyat jelata berkata, ah tidak enak ini, kok kita tidak bisa menjalankan agama kita sebagai diperintahkan oleh agama kita sendiri. Islam tidak bisa berjalan menurut ajaran-ajaran Islam. Kristen Katolik tidak bisa berjalan menurut ajaran-ajaran Kristen Katolik. Protestan tidak bisa berjalan menurut ajaran-ajaran Protestan. Onderbewust ingin, ingin kepada satu masyarakat yang berdasarkan kepada agama. Nah, timbullah apa yang saya namakan A. Nas sudah, A sudah.

Nah, begitu pula di dalam kalangan rakyat jelata yang selalu lapar, yang selalu harus makan sedikit sekali, bahkan kurang daripada cukup. Masak manusia biasa itu memerlukan paling sedikit katakanlah 2500 calorie satu hari, kok ia, si miskin itu, hanya dapat 1000 calorie satu hari. Mestinya rumahnya itu kalau ada angin jangan dia keanginan, kalau ada hujan jangan dia basah kuyup, kok rumahnya itu rumah gubuk. Mestinya istrinya itu kalau anaknya itu lapar bisa terus memberi air susu kepada sang anak, kok ini tidak bisa memberi air susu, oleh karena istrinya sendiri itu kekurangan makan. Mestinya ia ingin si anak itu, anaknya bisa membaca dan menulis, kok ini tidak. Hanya anak-anaknya ndoro-ndoro saja yang bisa membaca dan menulis.

Apakah kita heran jikalau di dalam masyarakat yang demikian itu lantas timbul keinginan, onderbewust pula timbul keinginan untuk satu masyarakat yang cukup makan, cukup sandang, cukup perumahan, cukup pendidikan, cukup segala-galanya. Yaitu satu keinginan kepada satu masyarakat yang adil dan makmur. Wah, timbullah apa yang saya namakan ideologi Kom-kah, ideologi Sos-kah, ideologi marxis-kah. Pendek satu ideologi yang menghendaki masyarakat yang adil dan makmur tanpa exploitation de 'l homme par l' homme. Jadi ini adalah satu objectivitas.

Lha kok ada orang-orang yang tidak mau menerima atau mengakui adanya ini, ke-Kom-an di dalam masyarakat kita, lantas pakai alasan Gestapu. Nothing to do with this Gestapu, Saudara-saudara. Sebelum ada Gestapu sudah ada ini perasaan yang demikian ini. Dan saya kata, sesudah Gestapu, tahun muka, tahun muka, tahun muka, tetap akan ada ideologi yang menghendaki satu masyarakat yang adil dan makmur. Katakanlah itu komunis, katakanlah itu marxis, katakanlah itu sosialis, katakanlah itu apa saja, tetapi ini ideologi ini tetap. Dan ideologi ini ada tetap bersemayam di dalam dada dan pikirannya sebagian besar daripada rakyat Indonesia. Karena itu siapa yang tidak mau menerima Nasakom, dia sebetulnya, die snapt niets van de Indonesische revolutie, tidak mengerti Revolusi Indonesia ini. Jangan bawa-bawa Gestapu, Saudara-saudara. Lantas membawa-bawa Gestapu dengan hendak menghukum Gestapu ini, memecah belah bangsa Indonesia ini! Orang yang Front Nasional ada yang ikut-ikut di dalam hal ini.

Padahal aku berkata, pokok daripada segala pokok ialah bangsa Indonesia yang bersatu. Pokok daripada segala pokok. Apakah ada negara Republik Indonesia kalau tidak ada bangsa Indonesia yang bersatu? Tadi, Saudara itu yang duduk di sana itu mengabdi kepada bangsa dan negara. Apa ada negara Republik Indonesia kalau tidak ada bangsa Indonesia ini bersatu? Tidak ada. Apakah ada Angkatan Darat, kalau tidak ada bangsa Indonesia ini bersatu. Siapa yang membuat Angkatan Darat ini? Bangsa Indonesia. Angkatan Udara ini? Bangsa Indonesia. Angkatan Laut ini ? Bangsa Indonesia. Angkatan Kepolisian Negara ini? Bangsa Indonesia. Apakah ada pemerintah Republik Indonesia yang sekarang ini Presidennya namanya Soekarno, lain hari saya tidak tahu, kalau tidak ada bangsa Indonesia ini. Bangsa Indonesia ini yang telah mengadakan negara. Negara ini yang mengadakan pemerintah. Ya, sekarang ini kita mau menyelamatkan, katakanlah Angkatan Darat. Lha, bangsa Indonesia dipecah-belah. Padahal bangsa Indonesia ini pokok daripada segala pokok, Emma Puradiredja! Pokok daripada sekalian pokok!

Inilah maksud saya kalau saya berkata, mula-mula saya berkata, kita mau membunuh tikus yang memakan kue di dalam rumah kita, janganlah bakar rumah kita itu! Tangkap tikus itu, tikus yang makan kue. Ada orang, ya, Pak, ini bukan makan kue, de kwestie, tikus ini nggerogoti tiangtiang rumah kita. Maksudnya, itu PKI nggerogoti tiang-tiang rumah kita. Lha mbok misalnya benar tikus itu nggerogoti tiang-tiang rumah kita, tangkaplah tikus itu! Bunuhlah tikus itu, tetapi jangan bakar rumah ini. Apa dengan membakar rumah itu tikus menjadi mati? Membakar rumah! Bahasa Belandanya apa? Bahasa Belandanya het kind met het vuile bakwater weggouien. Ada tempat pemandian anak kecil. Anak kecil dicuci di dalam semacam ember, air ember ini menjadi kotor, harus dibuang. Bukan airnya yang dibuang, tetapi ya, sama sekali, si embernya, si airnya, si baby-nya dibuang. Het kind met het vuile bakwater Ya engkau senyum, tapi keadaan memang begitu, Saudara-saudara, sekarang.

Nah, sekarang karyawan, saya ulangi lagi, karyawan itu karyawan apa, bekerja buat apa? Buat menyelenggarakan revolusi kita ini. Ya revolusi kita ini hukum-hukumnya apa? Jangan lepas daripada hukum-hukum ini. Ya, revolusi ini mau mengadakan apa? Jangan lepas daripada apa yang hendak diadakan oleh revolusi ini kalau engkau memang mengatakan bahwa Bung Karno engkau punya Bapak. Tadi dikatakan oleh Djuhartono, anak-anak Bapak. Kalau engkau memang mengakui sebagai Pemimpin Besar Revolusi, ikuti aku. Jangan menyimpang sedikit pun,

jangan njegal kepadaku, jangan pura-pura, ya ikut taat kepada Presiden Soekarno, tetapi sebetulnya njegal! Menyerahkan persoalan ini kepada Bapak Presiden Soekarno, tapi tidak menyerahkan. Menyerahkan sudah, sumongo, kami menunggu, sumonggo. Paling-paling memberi advies, tapi sumonggo, monggo. Tapi ada orang-orang yang sebetulnya atau golongan-golongan yang tidak monggo-mot., tidak. Saya di-dictee, didesak. Kami menyerahkan hal ini kepada Presiden Soekarno, tetapi Presiden Soekarno didesak-desak, kata orangJawa di-pletet-pletet-kan. Zo moet 't, zo moet 't, zo moet 't, beginilah, beginilah, beginilah harusnya, Pak Presiden harusnya begini! Fait accompli-kan Presiden itu. Lo katanya menyerahkan kepada Presiden Soekarno, tetapi saya di-dictreer, tetapi saya didesak, tetapi saya di-pletet-pletet-kan!

Saudara-saudara, saya tidak mau di-dictreer. Saya malahan berkata, als jullie mij nog lust, peganglah saya, tetaplah. Als jullie mij niet meer lust, artinya tidak suka lagi kepada saya, tidak membenarkan kepada saya, trap mij eruit. Malahan tidak perlu trap eruit, bilang saja, Bung, wij lusten U niet meer, oo terima kasih, saya akan mengundurkan diri, Saudara-saudara. Kepada karyawan saya sekali lagi berkata, kalau memang betul kamu orang mengakui atau menamakan dirimu anak Bung Karno, taati Bung Karno, ikuti Bung Karno di dalam segala halnya. Jangan di dalam mulut berkata A, tetapi dalam perbuatan sebenarnya bewust atau onbewust menjegal. Jikalau demikian, Saudara-saudara, maka saya merasa gembira, bahwa saya punya anak-anak seperti kamu orang.

Dan lagi, Saudara-saudra, tetap saya marah bahwa Saudara-saudara adalah Inlanders! Revolusi kita itu adalah satu gerak cepat, satu gerak cepat. Dan saya sendiri, Saudara-saudara, kadang-kadang tidak tidur. Saya kerja terus, kerja terus, kerja terus, lha kok Saudara-saudara enakenak! Nou zeg, die Bung Karno kan wachten. Kalau berkata, Bung Karno kan wachten, masih tidak jadi apa. Nou zeg, Presiden kan wachten. Masya Allah Presiden kan wachten, Presiden boleh menunggu! Ini anggapan apa, Saudara-saudara? Maka saya marah kepada Saudara-saudara!

Perhatikan amanat saya ini. Terima kasih.

Views: 64 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Nasionalisme, Bung Karno, Gestok, Pidato Bung Karno, Revolusi Indonesia, Nasakom | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar