Home » 2016 » February » 22 » AJARAN ISLAM ITU STATIS DAN SYARIAT ISLAM ITU DINAMIS
11:25 AM
AJARAN ISLAM ITU STATIS DAN SYARIAT ISLAM ITU DINAMIS

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.  (QS.7:34)

Penting bagi kita untuk dapat memahami dengan baik bahwa ajaran Islam dan syariat Islam itu adalah dua hal yang berbeda. Ajaran Islam itu bersifat kekal adanya karena ia memanglah merupakan prinsip-prinsip universal yang bersifat mutlak dan tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Sementara itu syariat Islam adalah hal yang bersifat fana, dinamis serta mempunyai batas waktu adanya. Syariat Islam itu adalah tata cara dan aturan-aturan untuk mengimplementasikan ajaran Islam di dalam berkehidupan. Dan bagaimana ajaran Islam itu diimplementasikan sangatlah amat bergantung kepada kondisi dan keadaan zaman. Jika kita umpamakan, ajaran Islam itu adalah seumpama dengan ruh sementara syariat Islam itu seumpama dengan badan kita. Sebagai ruh, sesungguhnya kita adalah mahluk yang abadi. Kita adalah mahluk yang akan hidup selamanya dan tidak akan pernah mati. Namun sebagai badan, kita tentulah mempunyai batasan waktu. Badan kita ini pada akhirnya akan menua, rusak dan kemudian lenyap menghilang ditelan bumi. Kenyataan yang demikian itu tentu adalah hal yang harus kita terima dan tidak bisa kita tolak. Karena itu adalah sunnahtullah. Dan sebagai para pewaris ajaran Islam tentu sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menjaga, memperjuangkan dan mempertahankan tegak dan berlakunya ajaran Islam tersebut. Namun di sisi yang lain kita juga tidak boleh bersikap kaku terhadap syariat. Kita harus senantiasa iqra. Senatiasa membaca perubahan keadaan zaman agar kita dapat melakukan singkronisasi atau penyelarasan syariat Islam tersebut dengan kondisi dan keadaan zaman itu sendiri. 

Kita mengetahui dengan pasti bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang sudah ada bahkan semenjak zaman Adam. Kita juga mengetahui bahwa ada begitu banyak Nabi dan Rasul yang telah diutus dari zaman ke zaman yang kesemua para nabi dan rasul tersebut sesungguhnya membawa ajaran yang sama dan serupa. Namun sebagaimana yang kita pahami bersama, bahwa meskipun mereka semua membawa ajaran yang sama dan serupa, akan tetapi syariat yang mereka berlakukan di setiap zamannya adalah berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini tentu bukanlah karena ajaran dan syariat Islam yang dibawa oleh nabi dan rasul sebelumnya belumlah sempurna sehingga harus disempurna lagi oleh nabi yang datang setelahnya, melainkan hal ini adalah karena memang kondisi dan keadaan zaman yang dihadapi oleh para nabi tersebut memanglah berbeda satu sama lainnya. Bahkan jika kita tengok kembali ke zaman yang paling mula-mula; zaman Adam dan Hawa, kita mendapati ajaran mengesakan Allah sudah pun ada di sana. Kita juga akan mendapati ajaran untuk berkasih sayang, saling berlaku adil serta ajaran persaudaraan dan kesetiaan sudahlah menjadi ajaran yang mendasari kehidupan mereka pada waktu itu. Akan tetapi, meski demikian, cara ajaran-ajaran tersebut diimplementasikan di zaman itu amat masih sangatlah sederhana adanya. Dan tentu amatlah jauh perbedaan dan perbandingannya dengan syariat yang kita kenal di zaman Muhamad. Dan bahkan ada banyak hal yang bisa kita sebut bertententangan dengan aturan dan syariat di zaman Muhamad. Di zaman Adam, pernikahan sedarah seperti kakak adik adalah hal yang halal sementara di zaman Muhamad hal ini nyata-nyata haram. Kenapa demikian? Karena tentu di zaman itu jika pernikahan sedarah diharamkan, tentu mereka tidak akan dapat melanjutkan keturanan. Di zaman Adam, hukum qisash seperti mata ganti mata, gigi ganti gigi dan nyawa ganti nyawa juga tidaklah diberlakukan. Ketika Khabil membunuh Habil, tidaklah lantas berarti Khabil harus dihukum bunuh juga sebagaimana keharusan di zaman Muhamad.  Kenapa demikian? Ini pun lagi-lagi karena keharusan mereka untuk memastikan keberlangsungan. Di zaman Adam, cara mereka berkurban dijalankan dengan cara membakar hasil pertanian atau ternak mereka, membiarkan asapnya membumbung terbang ke angkasa sebagai bentuk penghormatan mereka kepada Allah yang telah memberi mereka kehidupan. Apakah hal yang demikian itu keliru? Tentu tidak! Karena saat itu kepada siapa korban itu harus mereka berikan? Jumlah manusia belumlah banyak pada masa itu. Dan jika kurban tersebut itu mereka makan sendiri, tentu itu bukanlah berkurban namanya. Jadi melalui itu kita dapat melihat bahwa sekalipun prinsip-prinsip ajarannya adalah sama dan serupa, namun kondisi dan keadaan zaman membuat cara ajaran tersebut diimplementasikan menjadi amatlah sangat berbeda adanya.

Untuk dapat memahami lebih jauh lagi prihal kedudukan syariat Islam dan kedinamisannya itu, perlu kita tengok pengadaian berikut ini: mari kita bayangkan jika seandainya bumi ini dihantam sebuah bencana super dahsyat. Dashyatnya bencana tersebut sampai-sampai hanya menyisakan dua anak manusia yang mampu bertahan hidup. Seorang pria dan seorang wanita yang sama-sama beragama Islam. Dalam keadaan yang demikian itu seperti apakah betuk syariat Islam yang harus mereka jalankan? Dan dalam keadaan yang demikian itu bagaimanakah cara bagi mereka untuk dapat menjalankan Islam secara kaffah? Dapat kita pastikan bahwa akan ada banyak sekali bagian dari syariat Islam dan Qur’an yang terpaksa, mau tidak mau, tidak dapat mereka jalankan atau akan dan harus mereka langgar. Dapat kita pastikan cara terbaik bagi mereka untuk tetap dapat bertahan hidup dan terus melanjutkan generasi umat manusia, mereka harus meniru syariat di zaman Adam. Dan meskipun seperti demikian itu adanya, namun tentu hal tersebut tidaklah berarti mereka akan disebut sebagai orang-orang yang telah mendustai Islam atau disebut sebagai orang-orang yang telah mengingkari Qur’an. Mereka tetaplah akan dapat disebut sebagai seorang muslim dan mereka tetaplah dapat disebut telah menjalankan Islam secara kaffah selama mereka menjalankan kehidupan mereka di atas dasar-dasar ajaran Islam. Selama mereka tetap mengesakan Allah, tetap berdiri di atas ajaran kasih sayang, menjalankan keadilan, membangun persaudaraan dan kesetiaan. 

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.   (QS.22:67)

Prihal kedinamisan syariat Islam tentu haruslah sudah dapat kita pandang sebagai realita yang tidak bisa dibantah. Ketika nabi Muhamad datang menegakan ajaran Islam, pada masa itu Islam sesungguhnya bukanlah sebuah ajaran baru dan bahkan syariat Islam pun sudah ada. Nabi Musa, Daud dan Isa telah datang sebelum itu membawa ajaran Islam lengkap dengan seperangkat peraturan dan syariatnya. Ketika nabi Muhamad datang, sesungguhnya beliau sama sekali tidak merubah dasar-dasar ajaran yang telah dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Beliau datang hanya untuk merestorasi implementasi ajaran yang telah menyimpang dan merakit kembali sebuah bentuk syariat yang yang lebih kompetibel dengan keadaan dan kondisi di zaman itu. Hal itu harus dilakukan karena syariat hanya akan dapat memberi dampak yang positif dan optimal jika syariat tersebut selaras dengan ajaran dan kompetibel dengan kondisi dan keadaan zaman. Dan setiap umat atau setiap zaman tentulah mempunyai syariatnya tersendiri. Sebagus apapun syariat dari satu umat di satu zaman tertentu tidaklah berarti akan bagus juga adanya untuk umat di zaman yang berbeda.

Tujuan keberadaan suatu syariat tentulah sangat terkait dengan bagaimana mewujudkan kedamaian, harmoni dan kesejahteraan umat di masa itu. Dan setiap zaman mensyaratkan dan menghadirkan tuntutan yang berbeda untuk terwujudnya kedamain, harmoni dan kersejahteraan tersebut. Ketika suatu syariat telah berhasil terbentuk dengan sempurna dan telah berhasil menjadi suatu syariat yang membawa kedamaian, harmoni dan kesejahteraan di suatu zaman, dalam perjalanannya melintasi waktu yang panjang tentulah pada akhirnya akan ada bagian-bagian tertentu dari syariat tersebut yang akan mengalami benturan dan harus mendapatkan penyesuaian dengan kondisi dan keadaan-keadaan baru yang dihadirkan oleh perubahan zaman. Hal yang demikian itu tidaklah boleh menjadi sesuatu yang aneh dan mengherankan bagi kita. Bahkan Al-qur’an sendiri membuka diri dan memberi ruang untuk terjadinya perubahan dan penyesuaian tersebut.  

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?   (QS.2:106)

Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.  (QS.16:101)

Category: Nasionalisme dan Agama | Views: 1391 | Added by: GitaMerdeka | Tags: indonesia, Bangsa, Agama | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar