Home » 2017 » December » 22 » AGAMA ITU AKHLAK YANG MULIA
1:53 PM
AGAMA ITU AKHLAK YANG MULIA

Sebuah Hadist yang diriwatkan oleh al-Targhib wa al-Tarhib [3:405] berikut ini sangat penting untuk membawa kita pada pengertian bahwa tujuan dari beragama itu adalah untuk mencapai akhlak yang baik: Seorang lelaki menemui Rasulullah saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”. Rasulullah saw menjawab, “Akhlak yang baik”. Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”. Nabi saw menjawab, “Akhlak yang baik”. Kemudian ia menghampiri Nabi saw dari sebelah kiri dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”. Dia bersabda, “Akhlak yang baik”. Kemudian ia mendatanginya dari sebelah kirinya dan bertanya, “Apakah agama itu?”. Rasulullah saw menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik”.

Hadist tersebut di atas membawa pesan yang tegas dan jelas yang dengannya kita dapat meletakan dengan yakin bahwa ukuran telah beragama dengan baiknya seseorang adalah terletak pada seberapa baik akhlak yang terbentuk pada dirinya. Akhlak haruslah kita jadikan ukuran yang paling nyata bagi keimanan seseorang terhadap nilai-nilai agamanya. Sebab seperti layaknya pohon yang baik yang dapat kita lihat dari batang dan buahnya, demikian juga halnya dengan kebenaran seseorang. Jadi meskipun iman seseorang itu layaknya akar pohon yang tidak dapat kita lihat keadaannya, tapi dapatlah tetap kita menjadi yakin bahwa ketika batang dan buahnya baik, pastilah pohon itu memiliki akar yang baik. Karena itu tidaklah perlu kita menghakimi seseorang dari apa keyakinan yang dianutnya tapi ukur dan nilailah seseorang dari akhlak dan perbuatannya.

Tidak sedikit kita menyaksikan orang-orang yang mengaku beragama namun tidak mengerti apa sebenarnya tujuan dari pada beragama itu. Agama sering kali hanya menjadi sesuatu untuk dibangga-banggakan saja. Dan bahkan terlalu sering kita menyaksikan dimana agama justru menjadi sumber perselisiahan dan permusuhan diantara manusia. Karena itulah menjadi sangat penting bagi kita memahami bahwa penentu terwujudnya kedamaian dan kemakmuran bagi kehidupan di atas bumi ini adalah akhlak dari pada manusia itu sendiri. Agama hadir hanyalah untuk menjadi jalan bagi terwujudnya manusia-manusia yang berakhlak baik itu. Jangan sampai kita salah melihat mana tujuan dan mana yang hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Adalah kekeliruan besar jika kita menempatkan agama sebagai tujuan; padahal pembentukan akhlak itulah tujuan dan agama hanyalah alat untuk mencapai maksud itu.

Dari sabda Rasulullah SAW yang berbunyi: “Sesungguhnya (satu-satunya alasan) aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Kita dapat menyimpulkan dengan kuat akan betapa penting dan utamanya pembentukan akhlak manusia itu. Bahkan dari itu dapat kita mengerti bahwa setinggi-tingginya tujuan dan maksud kedatangan Nabi Muhammad adalah untuk menyempurnakan akhlak dari pada manusia itu. Menjadi begitu penting dan utamanya pembentukan akhlak manusia ini adalah karena hanya ketika telah terbentuk manusia-manusia yang berakhlak mulia sajalah Al-Islam akan menjadi nyata. Ketidakberadaan manusia-manusia yang berakhlak mulia adalah sama halnya dengan ketidakberadaan islam itu sendiri.

Kita tahu bahwa tujuan akhir dari Islam itu sendiri adalah terbentuknya sebuah tatanan berkehidupan yang damai, aman, selamat dan sejahtera. Dan dengan pasti dapat kita katakan bahwa sebuah tatanan berkehidupan yang damai, aman dan sejehatera itu hanyalah dapat diwujudkan dengan jalan membentuk akhlak manusia. Dengan akhlak yang baik itulah maka akan terjadi sebuah interaksi yang humanis dan beradab antar sesama manusia. Sebuah interaksi yang dilandasi ajaran kasih sayang. Interaksi yang berkeadilan. Interaksi yang sesuai dengan nama-Nya. Karena itu haruslah kita juga mengerti bahwa bahkan segala perangkat dalam Islam seperti ritual-ritual dan segala peraturannya itu sesungguhnya ada dalam rangka memastikan pembentukan akhlak manusia itu.

Tegaknya ajaran Allah; tegaknya ajaran kasih sayang; tegaknya perikemanusiaan dan perikeadilan adalah bentuk nyata dari hadirnya Tuhan dalam kehidupan umat manusia. Sebab ketika perikemanusiaan dan perikeadilan itu telah tegak; ketika yang lemah dilindungi, ketika yang miskin dipelihara, ketika yang teranaiaya dibela, ketika yang baik dimuliakan dan ketika yang jahat dihakimi dengan adil, maka ketika itulah kita akan menyaksikan Allah hadir menjadi pengatur, penjaga dan penguasa bagi kehidupan umat manusia. Ketika itulah Allah menjadi Tuhan yang hidup. Menjadi Tuhan yang senantiasa hadir mengurus mahluknya.

Adalah penting bagi kita untuk juga mengerti bahwa akhlak yang baik adalah fitrah yang tertanam dalam diri setiap manusia tanpa terkecuali. Setiap manusia siapapun dia dan apapun agama yang dianutnya, berpotensi untuk menjadi manusia yang berakhlak baik karena nilai-nilai kebaikan itu adalah nilai yang tertanam di dalam diri setiap orang sejak kelahirannya. Kedatangan para nabi, kitab suci dan juga keberadaan agama sebenarnya hadir untuk menjadi pengingat dan jalan yang membimbing manusia agar hidup sepenuhnya dalam nilai-nilai kebaikan yang universal itu. Hidup di dalam kemanusiaannya itu.

Kepastian adanya nilai-nilai kebaikan yang universal di dalam diri setiap manusia mengharuskan kita untuk tidak mengukur dan menghakimi seseorang dari latar belakang dan agama yang dianutnya. Ukuran terbaik untuk menilai seseorang adalah tentu dari akhlak dan keberamanfaatanya. Karenanya tidak mengherankan jika kita mendapati seseorang yang bukan Islam tapi dapat juga menjalani hidupnya dengan nilai-nilai Islam. Hal ini karena nilai-nilai Islam; nilai-nilai kejujuran, keadilan, persaudaran, kesetiaan dan kasih sayang adalah merupakan nilai-nilai yang universal yang tertanam di dalam kalbu setiap manusia. Di atas dasar nilai perikemanusiaan dan perikeadilan yang ditujukan seseorang dalam prilaku hidupnya itulah kita mengukur dan menilai kebenaran dan kemulian seseorang. Bukankah adalah pasti setiap manusia itu sama di mata Allah dan satu-satunya yang membedakan hanya ketakwaannya saja? Perhatikanlah dua hadist berikut ini: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya” (HR Thabrani dari Ibnu Umar). “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni)

Maka perbedaan agama haruslah tidak boleh lagi menjadi masalah yang membuat kita berselisih dan bermusuhan. Hendaklah kita berfokus kepada membangun interaksi yang adil dan beradab diantara kita tanpa memandang apa agama dan kepercayaan kita masing-masing. Sebab selama keadilan menjadi ukuran bersama kita dalam berinteraksi satu sama lain, tentulah tidak ada satupun dari kita yang akan dirugikan. Hendaklah juga kita berhenti sepenuhnya dari ujaran saling mengkafirkan satu sama lain. Karena yang sebenar-benarnya kafir itu bukanlah siapa-siapa yang tidak seagama dengan kita melainkan mereka yang tidak dapat berlaku adil kepada sesama manusia dan tidak hidup secara beradab. Mereka itulah orang-orang yang ingkar kepada nilai-nilai kebaikan atau nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan nilai dan ukuran universal dari Tuhan Semesta Alam.

Satu hal yang sangat aneh dan mengherankan adalah ketika kita melihat segolongan orang yang memandang bahwa kebenaran hanyalah milik mereka saja. Seolah-olah kebenaran itu dibuat dan diturunkan secara khusus hanya untuk golongan mereka saja dan tidak untuk manusia yang lain. Mereka lupa bahwa setiap manusia tanpa terkecuali diciptakan oleh Tuhan yang sama dan telah ditiupkan kebenaran yang sama padanya. Mereka juga lupa bahwa sesungguhnya pada seisi langit dan bumi ini bertebaran padanya ayat-ayat Allah yang dapat disaksikan oleh setiap manusia. Dalam QS. 45 ayat 3 Allah berfirman: “Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda untuk orang-orang yang percaya.” Yang darinya itu menjadi memungkinkan bagi setiap manusia apapun agamanya untuk menemukan kebenaran dan menjalani kehidupan ini dengan benar.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. Yang dari itu maka sebaik-baiknya persatuan dan persaudaraan adalah persatuan dan persaudaraan yang tidak dibatasi oleh identitas suku, agama atau pun golongan. Persatuan dan persaudaraan yang sebaik-baiknya adalah persaudaraan atas dan dalam nama kemanusiaan. Kita boleh saja berbeda suku, agama, ras dan golongan tapi pastilah kita akan satu dan sama di dalam kemanusiaan. Ingatlah bahwa kita semua adalah anak-anak dari keturunan yang sama Adam dan Hawa dan diciptakan oleh Tuhan yang sama Tuhan Semesta Alam.

Category: Islam Kebangsaan | Views: 42 | Added by: GitaMerdeka | Tags: islam, Agama, Islam dan Kebangsaan, Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar