[ New messages · Members · Forum rules · Search · RSS ]
Page 1 of 11
Forum » Nasionalisme (Kebangsaan) Indonesia » Politik Indonesia » Mengapa saya tidak memilih haryadi suyuti (hs)? (Selama memimpin Kota Yogyakarta 5 tahun terakhir, kinerja ..)
Mengapa saya tidak memilih haryadi suyuti (hs)?
7744e0pg8rDate: Thursday, 2017-02-09, 3:50 PM | Message # 1
Group: Users
Messages: 4
Awards: 0
Reputation: 0
Status: Offline
1. Selama memimpin Kota Yogyakarta 5 tahun terakhir, kinerja HS tidak memuaskan publik. Hasil survei menunjukkan ±62% warga Kota Yogyakarta menyatakan tidak puas atas kinerja HS. (Survei Indopolling Network Research yang dilakukan bulan September 2016)

2. Sudah menjadi rahasia umum jika HS bukanlah pemimpin yang dekat dengan rakyat sehingga kebijakan yang diambil juga tidak berpihak untuk kepentingan rakyat. Ketidakhadiran HS di tengah rakyat sering dikritisi masyarakat termasuk oleh kalangan seniman dengan mengadakan “Festival Seni Mencari Haryadi”. (http://www.harianjogja.com/baca/201...an-bikin-festival-seni-mencari-haryadi-450499)

3. Kebijakan HS yang tidak berpihak ke rakyat dibuktikan dengan maraknya pembangunan hotel, apartemen dan mall di Kota Yogyakarta tanpa mempertimbangkan dampak-dampak negatifnya termasuk ketersediaan air tanah yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan air warga Kota Yogyakarta. Akibatnya banyak wilayah yang mengalami fenomena sumur kering yang memicu keprihatinan banyak pihak termasuk akademisi dan aktivis lingkungan hidup yang menyerukan gerakan “Jogja Asat”. (http://jogja.tribunnews.com/2014/10/03/warga-kritik-pemkot-lewat-aksi-jogja-asat)

4. Menanggapi gerakan “Jogja Asat” akibat tidak terkendalinya pembangunan hotel, apartemen dan mall di Kota Yogyakarta, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X merasa “ditipu” oleh HS sebagai Walikota Yogyakarta yang terus memberi ijin pembangunan hotel baru. Kalau Gubernur DIY yang juga Sultan Yogyakarta saja “ditipu” apalagi kita yang rakyat biasa. (http://www.aktual.com/sultan-hb-x-merasa-ditipu-perizinan-hotel-di-yogyakarta-melonjak/)

5. Menghadapi kritik keras dari Ngarsa Dalem dan masyarakat tentang perijinan pembangunan hotel baru yang bejibun (ada sekitar 104 ijin baru selama HS menjabat), HS bukannya bertanggung jawab secara “gentle” tetapi malah menyalahkan aparatur dibawahnya dengan menyebut dirinya tidak pernah teken ijin pembangunan hotel baru. Tetapi HS lupa bahwa semua kebijakan pemerintahan di Kota Yogyakarta sepenuhnya adalah tanggung jawabnya, bukan yang lain. (Harian Tribun Jogja 12 Oktober 2016 Hal. 1, judul “Wali Kota Sebut Tak Pernah Teken”)

6. Tentu kita melihat telah banyak berdiri Toko Modern Berjejaring (TMB) di Kota Yogyakarta, bahkan berdiri di dekat pasar tradisional. Hal itu menjadi bukti bahwa HS tidak berpihak kepada usaha-usaha ekonomi rakyat dan bahkan menciptakan persaingan yang tidak sehat antara TMB dengan pasar tradisional. Banyak berdirinya TMB ternyata juga tidak dibarengi dengan penegakan regulasi karena faktanya banyak TMB yang perijinannya tidak lengkap tetapi tetap dapat beroperasional. Ada apa? (http://jogja.tribunnews.com/2017/01...memperpanjang-izin-ho-dan-enam-tak-punya-iutm)

7. Ditengah kekosongan regulasi yang mengatur tentang menara mikrosel, ada ratusan menara mikrosel yang telah berdiri dengan angkuhnya, bahkan banyak yang berdiri di trotoar, taman dan lahan milik Pemerintah Kota Yogyakarta. Sementara pendapatan daerah dengan berdirinya menara-menara mikrosel tersebut tidak ada sama sekali. Anehnya HS seperti tidak memiliki keberanian untuk menindak tegas dengan menertibkan menara-menara mikrosel tersebut termasuk yang ada di lahan-lahan milik Pemerintah Kota Yogyakarta. Padahal dari tahun 2012, sudah banyak pihak yang menyarankan agar HS segera menerbitkan regulasi agar menara-menara mikrosel memiliki payung hukum, mengatur tempatnya dan ada kontribusi untuk memperkuat PAD. Namun sampai habis masa jabatannya, HS tidak pernah mengindahkan saran tersebut. Akhirnya menara-menara tersebut berdiri secara liar tanpa keterlibatan pemerintah. (http://www.koran-sindo.com/news.php?r=5&n=103&date=2016-07-30)

8. Carut marutnya regulasi di Kota Yogyakarta terkait perijinan pembangunan hotel baru, TMB dan menara mikrosel menunjukkan bahwa HS membuka peluang untuk terjadinya tidak pidana korupsi. Aroma korupsi terkait perijinan tersebut pernah disampaikan oleh Busyro Muqoddas mantan komisioner KPK dalam sebuah pembekalan untuk anggota DPRD di Jogja. (http://www.radarjogja.co.id/kpk-cium-aroma-di-balik-izin-hotel/#

)

9. HS menghapus program ramah lingkungan “Sego Segawe” di lingkungan Kantor Pemerintah Kota Yogyakarta. Padahal program tersebut bertujuan untuk mengurangi emisi gas buang dari kendaraan bermotor guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mendorong masyarakat untuk menggunakan alat transpotasi sepeda dan kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di Kota Yogyakarta. Protes masyarakat dan kalangan muda atas kebijakan HS tersebut dituangkan dalam berbagai media seni baik video, musik dan mural dengan tema “Ra Masalah Har”. ()

Dengan mencermati fakta-fakta tersebut diatas, maka saya memutuskan untuk TIDAK MEMILIH Haryadi Suyuti atau pasangan calon nomor 2 dalam Pilkada Kota Yogyakarta
 
Forum » Nasionalisme (Kebangsaan) Indonesia » Politik Indonesia » Mengapa saya tidak memilih haryadi suyuti (hs)? (Selama memimpin Kota Yogyakarta 5 tahun terakhir, kinerja ..)
Page 1 of 11
Search: