Home » 2017 » July » 12 » TETAP TERBANGLAH RAJAWALI
1:59 PM
TETAP TERBANGLAH RAJAWALI

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1955 DI JAKARTA

Saudara-saudara!

Pidato ini saya susun dalam tiga bagian. Bagian yang mengenai masa yang lampau. Bagian yang mengenai masa sekarang. Dan bagian yang mengenai masa datang.

Dengarkanlah!

Hari ini adalah hari ulang tahun kesepuluh sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pada hari ini bangsa Indonesia seluruhnya, di manapun ia berada, di dalam dan di luar negeri, merayakan hari yang benar-benar bersejarah. Selayaknyalah pada ulang tahun yang kesepuluh ini, apabila kita mengadakan upacara dan perayaan yang agak istimewa, sebab Proklamasi Kemerdekaan adalah satu peristiwa-bersejarah yang maha-hebat, dan sepuluh tahun adalah satu jumlah pula yang istimewa.

Sepuluh tahun! Sepuluh tahun pengorbanan, sepuluh tahun penderitaan, sepuluh tahun pe-merasan tenaga, sepuluh tahun idealisme yang gilang-gemilang, sepuluh tahun kecemerlangan!

Marilah kita mengenangkan dengan penuh khidmat dan keinsyafan betapa besar karunia Tuhan yang Maha-Esa kepada kita Bangsa Indonesia!

Ya, sepuluh tahun! Sepuluh tahun berlayarnya bahtera Indonesia mengarungi Samudra Dahsyat, dengan mengalami segenap naik turunnya gelombang Samudra Dahsyat itu, kadang-kadang dibanting ke bawah laksana hendak kelebu sama sekali, kadang-kadang dibanting ke atas kepuncak-puncaknya gelombang itu, sehingga rasanya hampir-hampir tepeganglah bintang-bintang yang berada di langit!

Ya, sepuluh tahun pembantingan-tulang dan cobaan-cobaan, tetapi tidak sepuluh menit keputus-asaan, tidak sepuluh detik kepatahan semangat! Jikalau pada hari ini Malaikat menanya: “Di manakah Garuda Indonesia yang sepuluh tahun yang lalu pada tanggal 17 Agustus 1945 mulai terbang menempuh angkasa yang penuh mendung dan taufan dan geledek itu?”, – maka bintang-bintang di langit akan menyawab: “Garuda Indonesia tidak mau turun, Garuda Indonesia masih tetap terbang di angkasa”.

Garuda Indonesia memang berbuat benar, ia tidak berbuat salah. Apa sebab bangsa Indonesia memaklumkan kemerdekaannya? Oleh karena kemerdekaan adalah hak-azasi bagi tiap-tiap bangsa, dan dari hasrat azasi bagi tiap-tiap bangsa akan kemerdekaan dan kehidupan yang sejahteralah, maka bangsa Indonesia, yang mengalami pahit getirnya penjajahan asing selama 3½ abad dan 3½ tahun, memaklumkan kemerdekaannya pada hari sepuluh tahun yang lalu. Mungkin ada perbuatan-perbuatan bangsa Indonesia yang boleh dinamakan salah, tetapi memaklumkan kemerdekaan, memelihara kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan sampai tetes-darah yang penghabisan dan sampai akhir-zaman sekalipun, – itu bukan perbuatan yang salah. Itu adalah satu hak, dan satu kewajiban!

Pada 17 Agustus 1945 kita rebut kembali hak-azasi kita yang telah sekian lamanya disembunyikan orang. Dan sekali bendungan terpecah, – gegap-gempitalah air-bengawannya Revolusi dan Pembangunan Revolusi berjalan, laksana air-bah yang mengalir-menggelombang, mengalir-menggelombang dengan cara yang maha-dahsyat. Langkah pertama pada 17 Agustus ’45 itu tidak mandek, ia dilanjutkan dan sekali lagi dilanjutkan, untuk melaksanakan cita-cita luhur, yakni masyarakat yang adil dan makmur dan berkebudayaan tinggi, yang pelaksanaannya menghendaki pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berdasarkan Pancasila.

Dengan bentuk Negara dan dasar Negara yang demikian itulah, – bentuk Negara Kesatuan, dan dasar Pancasila -, maka bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya dengan penuh keyakinan, bahwa cita-cita yang mulia tadi terjamin akan dapat tercapai.

Kemerdekaan Nasional dengan dasar Pancasila adalah jembatan emas, yang membawa Rakyat Indonesia kepada kemakmuran, kemuliaan, kebahagiaan jasmaniah, rokhaniah.

Dalam mengejar terlaksananya cita-cita itu, maka tak lama sesudah Proklamasi itu mulailah perjoangan hebat bergolak untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah tercapai itu terhadap imperialisme Belanda yang hendak berkuasa kembali, dan untuk mendapatkan pula pengakuan internasional terhadap hasil Gerakan Nasional Indonesia yang berupa Republik Indonesia itu.

Hebat benar perjoangan itu! Bom meledak, rumah terbakar, darah mengalir, diplomasi di luar dan di dalam pun dijalankan, – sungguh, siapa yang belum tahu apa yang dinamakan Revolusi – maka apa yang kita alami itulah Revolusi! Sebagai hari kemarin kita ingat kembali perjoangan yang maha-dahsyat itu melalui api-api-dahananya pertempuran, dan gelombang-gelombangnya perdebatan dalam perundingnn-perundingan diplomatik. Sebagai hari kemarin kita ingat kembali pemindahan Pemerintahan Republik Indonesia dari Jakarta ke Jogyakarta pada malam gelap gulita 3 – 4 Januari 1946. Sebagai hari kemarin kita ingat kembali caranya Pcmerintah memimpin Negara melalui naik-turunnya pertempuran dan melalui perjanjian-perjanjian Linggajati dan Renville, yang kedua-duanya didurhakai oleh Belanda. Sebagai hari kemarin kita ingat kembali tindakan Belanda menggunakan bom dan meriam untuk menentang hak-azasi bangsa Indonesia dengan melakukan aksi-militernya yang ke I dan aksi-militernya yang ke II, diangkutnya pemimpin-pemimpin Republik Indonesia sebagai tawanan ke Prapat dan ke Bangka.

Tetapi telah sering kukatakan: “Seribu dewa dari kayangan tidak dapat menghancurkan kemerdekaan sesuatu bangsa, jikalau bangsa itu hatinya telah berkobar-kobar dengan api-kemerdekaan”!

Sejarah telah membuktikan, bahwa tenaga Rakyat Indonesia sejak penyerbuan Jogya itu bukannya gentar atau mundur, melainkan makin meluas, makin menghebat, makin menyala-nyala, menegakkan Republik Indonesia dan merebahkan mercu-mercu kekuasaan kolonialisme Belanda, sehingga berakhirlah babak pertempuran-dengan-senjata itu dengan pengembalian Pemerintahan Republik Indonesia yang diakui kedaulatannya dalam Konperensi Meja Bundar pada akhir tahun 1949. Pada akhir itu juga, – dua hari kemudian pada pengakuan kedaulatan – kembalilah Pemerintah Republik Indonesia dengan segala kehormatan ke kota Proklamasi. Bergemalah suara segala patriot di dunia yang berkata: di sana, di antara Sabang dan Merauke, berdiamlah satu bangsa herois yang berani memproklamirkan kemerdekaannya dan mem-pertahankan kemerdekaannya. Bernaunglah kembali hampir seluruh wilayah Republik Indonesia di bawah kibarannya Sang Saka Merah Putih. Bergeraklah sejak saat itu, mula-mula pelahan-lahan tetapi makin lama makin pesat, mesin pembangunan di dalam negeri. Bergeraklah pula usaha ke dunia internasional, untuk mendapatkan pengakuan para bangsa dan untuk ikut-serta membentuk masyarakat dunia. Dan dalam bulan September 1950 Republik Indonesia telah diakuilah sebagai anggauta penuh daripada Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tahun 1950 adalah tahun, dalam mana buat pertama kali kata Pembangunan digema-gemakan. “Bangunlah, bangunlah lagi, hai Bangsa Indonesia, bangunlah lagi untuk membangun!”, demikianlah seruan yang digunturkan di mana-mana.

“Bangunlah lagi untuk membangun!” Membangun di dalam negeri, untuk memperkuat Negara yang belum sempurna ini, dan untuk menyusun satu Masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur; membangun di luar negeri, untuk ikut-serta menyusun satu Masyarakat-Dunia yang memberi keselamatan kepada seluruh kemanusiaan!

Dan sekarang, saudara-saudara, hampir lima tahun kemudian, sekarang pada hari mulia 17 Agustus 1955 ini, saya dapat mengatakan, bahwa pembangunan raksasa itu, meskipun masih jauh daripada memuaskan, menunjukkan garis-naik dengan langkah yang pasti.

Pembangunan dalam menghasilkan kemajuan-kemajuan dalam pelbagai lapangan, – ingat misalnya pesatnya pemberantasan buta huruf dan bertambahnya produksi makanan rakyat -, pembangunan di lapangan internasional menghasilkan hubungan baik dengan berpuluh-puluh negara, dan perjanjian-perjanjian dengan Mesir, Syria, Afghanistan, Pakistan, India, Burma, Thailand, Philipina, dan memuncak dalam penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika yang mengumpulkan 29 Negara. Di bawah bayangan Konferensi Asia-Afrika itulah Republik Indonesia telah menyumbang menghilangkan sebagian daripada ketegangan-ketegangan internasional, dan dapatlah kini meneruskan rintisan menuju ke arah saling-pengertian dunia dan perdamaian dunia.

Demikianlah, saudara-saudara, gambaran keadaan kita, kalau kita membuka kembali lembaran-lembaran gambar 1945-1955. Demikianlah sejarah kita secara tolehan ke belakang secara cepat. Marilah kita sekarang menoleh keadaan pada waktu sekarang.

Kita harus memberanikan diri melihat kenyataan-kenyataan yang berlangsung dalam masyarakat dan Negara kita di bawah pelupuk mata kita sendiri. Adakah kenyataan-kenyataan itu memuaskan? Jikalau aku mendengar pertanyaan ini, dan harus memberi jawaban kepada pertanyaan itu, maka dengan jelaslah tampak nyata kepada mataku, bahwa kita ini masih hidup di atas unggun-keruntuhan zaman penjajahan yang lampau, di atas tumpukan ruine-ruine benteng kolonialisme di segala lapangan. Tetapi ah, dapatkah keadaan bersifat lain daripada demikian? Apa arti lima luhun dalam sejarahnya keruntuhan kolonialisme, lima tahun dalam sejarahnya “Downfall of a world wide political-social system”? Apa arti sepuluh tahun dalam sejarahnya satu perobahan maha-besar yang merobah samasekali roman-muka seluruh muka-bumi, sebagai perobahan alam imperialisme yang bercakrawarti ratusan tahun lamanya, ke satu alam yang bersih samasekali daripada imperialisme itu?

Dengan terpatahnya tulang-punggung kolonialisme itu, maka sisa-sisa kolonialisme belumlah hilang-bersih samasekali dari tubuh masyarakat kita, yang dihinggapi oleh kolonialisme itu berpuluh-puluh, beratus-ratus tahun. Irian Barat masih meringkuk dalam penjara kolonialisme, dan tidak saja di lapangan kejasmanian dan keharta-bendaan, serta perekonomian, masih tersimpan sisa-sisa dan luka-luka penjajahan, tetapi juga dunia kesusilaan dan dunia akhlak, perseorangan pun masih dihinggapi oleh benalu-benalu perusak batang-tubuh Bangsa Indonesia. Lihat, sepuluh tahun telah usia Proklamasi, lima tahun telah kita membangun, tetapi masih saja gejala-gejala menandakan, bahwa di dalam susunan Kemakmuran kita, masih jenggelok-jenggelok sisa-sisa ekonomi kolonial. Sepuluh tahun telah kita ber-Republik, tetapi pemberantasan krisis-akhlak menandakan bahwa di dalam zaman-peralihan ini pada beberapa manusia masih melekat penyakit keburukan-keburukan kolonialisme. Sepuluh tahun kita telah mengibarkan Sang Saka Merah Putih, tetapi di sana sini masih timbul akibat-akibat politik divide et impera kolonial yang berupa faham-faham kedaerahan dan faham provincialisme. Sepuluh tahun telah kita berkata Merdeka, tetapi masih ada saja kebutaan-huruf sebagai akibat politik membodoh-bodohkan, masih ada saja orang-orang yang dihinggapi minderwaardigheidscomplex terhadap orang asing, masih ada saja orang-orang yang lebih mengetahui dan mencintai cultuur Eropah daripada cultuur sendiri, masih ada saja Belandaisme, masih ada saja orang-orang yang jiwanya bukan Indonesier tetapi jiwa Inlander.

Tetapi cukupkah kita dengan mengetahui masih adanya sisa-sisa dan reruntuh-reruntuhan kolonialisme itu? Tidak, pengetahuan itu haruslah hanya bersifat pengetahuan, bahwa menyapu bersih satu sistim politik-ekonomis yang bersimaharajalela beratus-ratus tahun bukanlah satu pekerjaan satu hari. Bertahun-tahun kita masih harus membanting-tulang, bertahun-tahun kita masih harus menarik urat! Bertahun-tahun kita masih harus memeras keringat habis-habisan, berjoang, membangun, berjoang, membangun! Pengetahuan akan masih adanya reruntuh-reruntuhan kolonialisme yang beraneka warna itu haruslah memberi garis-besar keyakinan kepada kita, bahwa tugas kita adalah satu tugas yang beraneka warna rupa, satu tugas yang berjalin-jalin. Perbaikan akhlak, kemampuan jiwa, kesempatan belajar, penyusunan perekonomian dengan penyempurnaan perimbangan antara tuntutan perseorangan dengan rasa kepatutan kepentingan seluruh bangsa, semuanya itu harus memberi garis-garis-besar yang menunjukkan, bagaimana pembangunan jasmani dan rokhani harus diselenggarakan. Usaha nasional harus kita lancarkan demikian rupa sehingga taraf hidup tidak hanya berpusat kepada kebendaan tetapi juga memberi kesempatan yang luas untuk menyempurnakan hidup rokhani.

Kemerdekaan yang telah kita capai haruslah membawa perkembangan hidup sejati-jatinya. Hidup, – Hidup ke taraf yang lebih tinggi.

Satu kesulitan besar menghadang di tengah jalan. Keamanan belum terjamin dengan sempurna. Di manakah bangsa di muka bumi ini yang dapat bekerja membangun full-time dan full-force, jika keamanan dalam negerinya masih terganggu? Tiap-tiap patriot-sejati Indonesia mengharap dan mendoa supaya keamanan lekas pulih kembali. Jenazah-jenazah pahlawan-pahlawan kita di lobang kubur laksana berbalik di lobang kuburnya, kalau melihat hasil perjoangannya dikacaukan orang. Menjeritlah jiwa kita semua mengehendaki keamanan itu. Matahari, bulan, segenap bintang-bintang di langit laksana hendak kita oyag-oyag, kita mintai memberi peringatan kepada pengganggu-pengganggu keamanan, supaya lekas berbalik pikir, masuk ke dalam masyarakat-biasa kembali, ikut membangun Republik dan masyarakat dalam suasana Persatuan.

Saudara-saudara sekalian, baik yang di dalam masyarakat maupun di dalam hutan: Camkanlah, camkanlah sekali lagi pada hari ulang tahun Proklamasi yang Keramat ini, bahwa pemeliharaan Persatuan Bangsa harus kita utamakan di atas segala pemeliharaan. Camkanlah bahwa dengan Persatuan tempo hari kita memulai Revolusi dan memberi isi kepada Revolusi.

Usaha pemulihan keamanan pada hakekatnya adalah Persatuan. Kartosuwiryo, Daud Beureueh, Kahar Muzakkar, Soumokil, satu persatu memecahkan Persatuan. Pengikut-pengikut Kartosuwiryo, Daud Beureueh, Kahar Muzakkar, Soumokil, sedar atau tidak sedar, memecahkan Persatuan.

Syukur insiden R.M.S. yang digerakkan oleh beberapa gelintir manusia yang teperdaya oleh kekhilafan-pengertian, sehingga dapat dimasuki tusukan jarum opsir-opsir tentara Belanda, kini telah hampir selesai, dan tinggal sekelompok kecil manusia saja yang mengelilingi Soumokil itu. Saya sendiri dengan jelas dapat menyaksikan dan dengan tegas dapat mengatakan, bahwa reaksi rakyat Maluku sebagai satu keseluruhan tak pernah mengatakan bersimpati kepada R.M.S., tak pernah hendak memisahkan diri dari Republik Indonesia yang didirikan dengan perjoangan Bangsa Indonesia seluruhnya. Gegap-gempita sambutan seluruh rakyat Maluku atas dua kali kunjungan Presiden Republik Indonesia, gegap-gempita gemuruhnya pekik “Merdeka” di sana, gegap-gempita dengungnya semboyan-semboyan yang berpusat kepada “Hidup Republik Indonesia, Hidup Republik yang berdasarkan Pancasila!”

Dan Darul Islamnya Kartosuwiryo c.s.? Saya yakin pula bahwa sebagai suatu keseluruhan, rakyat Priangan tidak berdiri di belakang Kartosuwiryo itu. Saya ini termasuk golongannya pemimpin-pemimpin, yang mengenal rakyat Priangan itu dari dekat, dan cinta kepada rakyat Priangan itu, antara lain karena rakyat Priangan cinta kemerdekaan. Malah pernah saya katakan di muka umum bahwa saya kelak ingin mati di Parahiangan, ingin dikubur di pangkuan bumi Parahiangan. Saya tahu dengan jelas dan tegas, bahwa rakyat Parahiangan sebagai satu keseluruhan cinta Proklamasl 17 Agustus 1945, cinta Sang Merah Putih, cinta Republik. Demikian keadaan di Priangan Barat, demikian di Priangan Tengah, demikian di Priangan Timur. Ya, Priangan Timur yang katanya dikenal orang sebagai daerah pengacauan. Dan bulan yang lalu buat kesekian kalinya, saya mengunjungi Priangan Timur. Sepanjang jalan dari Cicalengka ke Garut ke Tasikmalaya ke Ciamis adalah satu lautan bendera Merah Putih, sepanjang jalan yang panjang itu berpagar-berjejal-jejallah ratusan-ribu manusia, satu maha-demonstrasi pro Republik. Bergegar udara dengan pekikan “Merdeka, Hidup Republik, Merdeka, Hidup Republik.

En toch, Priangan Timur bernama daerah pengacauan! Ya, tiap-tiap seorang-orang durjana yang memegang senjata api dapat mengadakan teror dan pengacauan. Berilah seorang kepala-angin satu revolver dalam tangannya, maka ia dapat menteror dan mengacaubalaukan satu desa. Berilah ia satu bren-gun, dan ia dapat membuat satu daerah luas menjadi satu neraka-jahanam. Rakyat Priangan sebagai satu keseluruhan adalah cinta kepada Republik, tetapi di sana sini dikacau oleh beberapa kelompokan yang namakan diri T.I.I.

Demikian pula keadaan di Aceh dan di Sulawesi Selatan. Di semua daerah-daerah pengacauan itu bukanlah rakyat sebagai satu keseluruhan pemberontak kepada Republik, tetapi berjalanlah terornya bendewezen, Terornya berandalan, – berandalan kriminil dan berandalan politik sebagai yang saya sebutkan dalam satu pidato 17 Agustus yang lalu.

Akh, jikalau dipikir-pikir, pengacauan-pengacauan itupun reruntuh-reruntuhan kolonialisme. Apalagi sesudah terbukti jelas bahwa anasir-anasir jahat dari fihak Belanda bercampur-tangan dalam pengacauan-pengacauan itu.

Karena itu aku tetap optimistis. Satu waktu nanti Insya Allah akan pasti datang, yang pengacauan-pengacauan itu tidak ada lagi. Satu waktu nanti pasti akan datang, yang berandalan politik itu habis samasekali. Sebab kolonialismepun pasti akan lenyap-bersih dari sini, – lenyap-bersih samasekali, zonder ada sedikitpun sisa reruntuh-reruntuhnya lagi!

Tetapi proses-proses historispun tidak berjalan zonder campur-tangan manusia. Kita harus bertindak, kita harus berbuat sebagai elemen aktif dalam histori. Kita harus mematahkan pengacauan-pengacauan itu, sebagaimana juga kita harus mematahkan reruntuh-reruntuh kolonialisme yang lain-lain, – ya, sebagaimana juga kita mematahkan tulang-punggung kolonialisme itu dengan seribu satu jalan.

Dus? Ya!, – patahkanlah pengacauan-pengacauan itu dengan segala ikhtiar. Sedapat mungkin patahkanlah ia dengan jalannya penginsyafan, dengan jalannya penerangan, dengan jalannya kekuatan ratio dan moriI. Sedapat mungkin laluilah jalannya otak dan jalannya batin. Tetapi jika tidak mungkin, patahkanlah ia dengan kekerasan senjata juga. Hantam dia dengan palu-godam, jika ratio dan moril saja tidak mempan.

Malah barangkali yang berikut inilah satu-satunya jalan pemadaman pengacauan yang tetap bagi Indonesia: kombinasi antara jalan ratio-moril dan jalan kekerasan senjata. Tidakkah kita menghantam kolonialisme bertahun-tahun lamanya juga dengan jalan kombinasi itu? Dengan jalannya kombinasi antara desakan politik dan hantaman Revolusi? Dengan jalannya kombinasi antara “moreel geweld” dan “materieel geweld”?

Imperialisme di Indonesia mempunyai corak-sendiri dan kepribadian sendiri, lain daripada imperialisme di negeri-negeri lain, dan reruntuh-reruntuh imperialisme di Indonesia-pun tentu mempunyai corak-sendiri dan kepribadian-sendiri. Cara menentang imperialisme di Indonesia adalah lain daripada cara menentang imperialisme di negeri lain, dan cara menentang reruntuh-annyapun harus lain daripada di negeri lain. Cara menentang imperialisme di Indonesia adalah kombinasi antara “moreel geweld” dan “materieel geweld”, dan cara menentang reruntuhnya, saya kira harus satu kombinasi antara “moreel geweld” dan “materieel geweld” .

Ada bangsa-bangsa atau golongan-golongan manusia yang mencapai kemenangannya hanya dengan “moreel geweld”, oleh karena keadaan-keadaan yang obyektifnya menentukan dipergunakannya moreel geweld. Orang-orang Keristen dipermulaan zaman Christendom mematahkan usaha lawannya dengan memper-gunakan “moreel geweld”. Orang-orang bikshu dan begawan dari agama Budha dan Hindu di zaman purba mematahkan tenaga musuhnya dengan tenaga “moreel geweld”. Di abad keXIX, bangsa Hongar di bawah pimpinan Deak Ferencz, dengan senjata “moreel geweld” dapat mendesakkan diadakannya Undang-undang Maret 1846 dan Undang-undang Dasar 1867. Dan di abad ke-XX ini, Mahatma Gandhi memaksakan Inggeris memerdekakan India dengan mempergunakan tenaga kolossaal yang keluar dari “moreel geweld”.

Sebaliknya, Frederik de Grote dan Bismarck menggembleng satu bangsa yang berantakan menjadi satu bangsa yang kompak dengan alat-alat lain daripada “moreel geweld”. Mereka mempergunakan tempaannya palu-godam materie. Dari mulutnya Bismarck-lah keluar itu perkataan yang dikagumi orang atau dibenci orang “blut und Eisen”, – “darah dan besi”!

Ya, mereka menumpahkan darah dengan mempergunakan besi, oleh karena mungkin keadaan-keadaan-obyektif memestikan pertumpahan darah dan penggunaan besi.

Mungkin. Tetapi sudah nyatalah, bahwa tiap-tiap gerakan historis yang besar, mencapai sukses, oleh karena cara-caranya berjoang adalah disesuaikan dengan sifat keadaan-keadaan yang menentukan. Dengan sifat keadaan musuh -, dengan sifat keadaan yang tidak dipersesuai-kan dengan bangsa sendiri atau golongan scndiri. Tiap gerakan besar yang tidak dipersesuaikan dengan keadaan obyektif, akan kandaslah dan tiap pimpinan gerakan besar yang berbuat bertentangan dengan sifat-sifat keadaan-keadaan obyektif, adalah main-mata dengan kegagalan, dan main-mata dengan bencana dan malapetaka bagi golongan atau bangsa yang ia pimpin itu.

Kita bangsa Indonesia telah berpuluh-puluh tahun belajar menganalisa segala sifat-hakekat imperialisme Belanda yang hendak kita tumbangkan, menganalisa semua kekuasaan-kekuasaan riilnya dan semua kekuasaan-kekuasaan abstraknya, dan kita telah berpuluh-puluh tahun pula berdiri di padang perjoangan, menentang, menghantam, berusaha meremukredamkan imperial-isme Belanda itu, dan ternyatalah bahwa sampai sekarang kita mencapai sukses dengan mempergunakan kombinasi antara senjata politik dan senjata physik. Oleh karena itupun maka reruntuh imperialisme yang berupa pengacauan itupun menurut pengiraan saya hanyalah dapat kita sapu bersih dengan mempergunakan kombinasi antara senjata politik dan senjata physik. Karena itu seruan kita ialah: Insyafkan, insyafkanlah anggauta-anggauta gerombolan itu dengan penerangan politik, insyafkanlah mereka bahwa Republik Indonesia harus kita cintai bersama, harus kita junjung tinggi bersama, harus kita pupuk-pelihara bersama, insyafkanlah mereka bahwa Persatuan Bangsa, sekali lagi Persatuan Bangsa, harus kita susun bersama dan harus kita buat sekompak-kompaknya bersama, insyafkanlah mereka supaya mencintai dan mempunyai-kasihan kepada rakyat dan jangan merampok-menggedor membakar-membunuh milik dan jiwa rakyat, – insyafkanlah mereka, sekali lagi coba insyafkanlah mereka!, – tetapi siapa tidak mau insyaf juga jangan ayal, hantam mereka dengan palu-godam, hantam mereka dengan sekeras-kerasnya!

Agak panjang aku bicarakan soal keamanan ini. Keamanan memang mutlak-perlu harus segera kita pulihkan kembali. Sebab begitu banyak kerja-pembangunan yang masih belum selesai; begitu banjak yang masih menunggu.

Ambillah misalnya soal-besar industrialisasi. Lambat-laun soal industrialisasi itu menjadi soal mati-hidup bagi bangsa Indonesia. Dari zaman dulu kala, masyarakat Indonesia memusatkan kehidupannya kepada usaha-usaha pertanian, – usaha-usaha agraris. Tetapi bangsa kita bukan satu bangsa yang mandek. Ia adalah satu bangsa yang berkembang biak. Ia adalah satu bangsa yang biologis-dinamis. Tambahnya penduduk berjalan dengan amat pesat sekali. Dari setengah milyun setahun, tambahnya penduduk itu menjadi hampir satu milyun setahun. Dari 50.000.000 penduduk pada permulaan abad ke-XX, penduduk Indonesia sekarang telah menjadi 80.000.000. Tidak mampu lagi kehidupan agraris memenuhi kebutuhan kehidupan penduduk sehari-hari. Tidak mampu lagi kita mempertahankan hidup hanya dengan pertanian saja, dan hanya dengan cara pertanian kuno. Jalan baru harus kita tempuh. Mau tak mau, – mau hidup ataukah mau mati? Negara kita di waktu yang akan datang harus merobah haluan dan melaksanakan industrialisasi.

Industrialisasi di pelbagai lapangan untuk memperbesar penghasilan rakyat. Industrialisasi pula di lapangan pertanian untuk memperlipatgandakan hasil bumi yang menjadi kebutuhan rakyat.

Tetapi industrialisasi membutuhkan kecerdasan dan kejuruan, membutuhkan technical skill, membutuhkan keahlian tehnik setinggi-tingginya untuk perencanaan dan pimpinan. Pemuda-pemuda Indonesia harus mengerahkan perhatiannya ke jurusan ini. Kesempatan harus bertebaran seluas-luasnya bagimu, hai pemuda-pemudi Indonesia, untuk melaksanakan industrialisasi itu. Ya, bagimulah pekerjaan-besar yang akan merobah samasekali roman-muka dan corak masyarakat kita ini. Akan hilang lenyap kekolotan, akan hilang lenyap “kedusunan”, akan hilang lenyap keulerkambangan, – ya, bangsa Indonesia akan menjadi satu bangsa yang giat-umyek laksana “gabah den interi” oleh industrialisasi itu, – akan hilang lenyap samasekali barangkali apa yang dinamakan “adem tentreming bawana”, – akan bergegar-gegap-gempitalah udara dengan gemuruhnya tractor dan gentarnya mesin, – orang boleh menyenangi atau tidak menyenangi hal ini, … tetap terang dan nyatalah bahwa industrialisasi adalah satu-satunya jalan untuk menambah kekayaan masyarakat dan Negara, terang dan nyatalah bahwa industrialisasi bagi bangsa Indonesia adalah satu soal hidup atau mati.

Karena itu maka kita harus dengan tegas mengarah kepada industrialisasi itu, dan soal kecerdasan rakyat kita entamir dengan tidak berhenti-hentinya. Jikalau nanti tahun 1955 hampir silam, maka Indonesia akan telah mempunyai 33.000 sekolah rendahan, 1.600 sekolah lanjutan, 6 organisasi universitas untuk angkatan pemuda-pemudinya. Dan kita semua mengerti benar: meski angka-angka itu sudah angka-angka yang lumayan, jumlah sedemikian itupun masih jauh belum mencukupi!

Padahal, dari segala jurusan, pembangunan memanggil-manggil. Dari jurusan kesehatan. Dari jurusan perhubungan. Dari jurusan ketentaraan. Dari jurusan pengairan. Dari jurusan perlengkapan gedung-gedung. Dari jurusan pembentukan deviezen. Dari jurusan pembentukan pengertian ketatanegaraan. Semuanya memanggil-manggil.

Semuanya harus dilayani. Dan semuanya itu pada hakekatnya meminta dipenuhi satu syarat mutlak: Negara, dan sekali lagi Negara.

Ya, di sini bekerja pula “hukum timbal-balik” yang tempo hari telah saya sebut dalam beberapa pidato: “Hukum Dharma Eva Hato Hanti”, yang saya pakai untuk menegaskan perlunya Persatuan: “Kuat karena bcrsatu, bersatu karena kuat”.

Apu hukum timbal-balik antara pembangunan dan Negara!

Tiap-tiap si Fulan dapat menjawab dengan mudah: membangun untuk Negara, dan Negara untuk membangun! Membangun di segala lapangan agar supaya Negara menjadi kuat; karena mempunyai Negara yang kuat, maka kita bisa membangun di segala lapangan.

Karena itu maka saya minta kepada segenap bangsa Indonesia lebih-lebih lagi pada hari ulang tahun Proklamasi yang kesepuluh ini, supaya lebih dalam lagi menginsyafi dan memperaktekkan hidup ketatanegaraan. Semua lapisan, semua partai-partai, semua instansi-instansi, ya sampai kepada semua gerombolan-gerombolan di hutan-hutanpun saya panggil pada hari ini supaya lebih dalam menginsyafi dan memperaktekkan hidup ketatanegaraan, – hidup ketatanegaraan Republik lndonesia!

Apa arti hidup ketatanegaraan? Persatuan, ketatanegaraan, kerjasama yang baik antara rakyat dan rakyat, kerjasama yang baik antara rakyat dan alat-alat pemerintahan, kerjasama yang baik antara semua instansi-instansi, pendek kata Pemerintah yang sudah mencapai Konsolidasi, – itulah inti hidup ketatanegaraan, itulah inti hidup Bernegara!

Semua kita harus menjunjung-tinggi dan memperkuat Negara. Dan dengan Negara itu kita membangun. Dengan Negara itu kita mengerahkan, mengkoordinir semua tenaga laksana satu mesin maha-Raksasa – yang berjiwa Pancasila, satu Mu’zizat koordinasi, maka seluruh bangsa Indonesia harus kerah-mengerahkan tenaganya. Tiap-tiap roda bergerak dan menggerakkan, tiap-tiap gigi bergerak dan menggerakkan, tiap-tiap sekrup menjalankan kewajibannya dengan tiada mangkir sekejap mata. Demikianlah gegap-gempitanya satu bangsa yang berjiwa ketatanegaraan dan memfiilkan pembangunan. Gegap-gempita jiwanya, gegap-gempita aktiviteitnya. Laksana satu sarang lebah yang maha-besar, seluruh masyarakatnya umyek mengamalkan azas “satu buat semua, semua buat satu”. Kemajuan dan hasil-hasil-baik daripada pembangunannya bukanlah jasa tenaga-seseorang, tetapi adalah hasil team-work daripada semua tenaga yang turut serta dalam usaha itu.

Ke arah kehidupan-kebangsaan yang demikian itulah kita menuju.

Sepuluh tahun kita telah merdeka, sepuluh tahun kita telah berjoang dan bekerja, dan Alhamdulillah, meski garis di sana sini ada mendekung ke bawah, garis-besarnya boleh dikatakan tetap menaik. Setapak demi setapak, ondanks segala macam rintangan, kita maju. Sekarang meski kesadaran-kesadaran-berpemerintahan, – regeringsbewustheid -, belum meresap secukup-cukupnya di seluruh golongan bangsa, meski baru saja kita mengalami satu krisis Kabinet – bolehlah dengan bangga kita katakan bahwa revolusi kita sedari mulanya, telah melahirkan stable government. Besok, tidak lama lagi, kita mengadakan pemilihan-umum untuk Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante. Lusa, tidak lama lagi pula, kita mulai dengan sidang-sidangnya: Dewan Perwakilan Rakyat akhir tahun ini, Konstituante di tahun depan.

Ya, tidak lama lagi Insya Allah, seluruh warga-negara Indonesia yang memenuhi syarat-syaratnya akan memberikan suaranya kepada calon-calon yang menurut pertimbangannya layak dan tepat untuk duduk dalam Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante itu.

Dengan pemilihan-umum itu akan tercapailah penyempurnaan ketatanegaraan, akan lahirlah ketatanegaraan yang memenuhi syarat-syaratnya demokrasi. Akan lahirlah Konkretisasi dari salah satu silanya Pancasila, realisasi daripada apa yang menjadi idam-idaman Rakyat-jelata Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun.

Tetapi, aduh alangkah sakitnya kelahiran itu, alangkah berbahayanya kelahiran itu! Kalau kita tidak berhati-hati, robeklah nanti seluruh tubuhnya Ibu Pertiwi! Gejala-gejala perpecahan dalam dunia kepartaian telah nampak dengan nyata di angkasa, hantu sentimen yang berselimut ideologis-prinsipalisme bukan saja menghintai di cakerawala, tetapi sudah mulai mengaut-ngaut bumi di sana sini. “Partaiku harus menang dalum pemilihan-umum, partaiku harus menang!” – semboyan ini memang normal dalam tiap-tiap pemilihan-umum, tetapi lupakah orang akan tragedi-tragedi di negara-negara lain?

Tidak usah saya ulangi di sini bahwa demokrasi adalah sekedar alat, bahwa pemilihan-umum adalah sekedar alat, ya, bahwa Negara sekalipun adalah sekedar alat, – bahwa rakyat-sejahteralah tujuan, bahwa masyarakat-adil-dan-makmurlah tujuan, bahwa Ibu Pertiwi-Jayalah tujuan, bahwa manusia-Bahagialah tujuan. Janganlah alat merusak tujuan! Janganlah Pembuatan alat memberantakkan tujuan! Janganlah lupa daratan memainkan sentimen kepartaian. Janganlah nanti, ya, pemilihan-umum dapat berlangsung tetapi bangsa Indonesia terpecah-belah terobek-robek dadanya, bahkan hangus terbakar dalam api saling-dengki dan saling-benci bertahun-tahun lamanya. Bagaimanapun juga, peliharalah keutuhan bangsa.

Aku heran: apakah orang lupa bahwa perjoangan kita ini pada mulanya ialah untuk menjunjung seluruh tanah-air dari lembah-lumpurnya penjajahan? Seluruh tanah-air dengan seluruh rakyatnya? Kemerdekaan harus meliputi seluruh rakyat. Kemakmuran dan kesejahteraan harus meliputi seluruh rakyat. Kebudayaan Nasional harus dinikmati seluruh rakyat. Kemajuan ilmu pengetahuan harus dimiliki seluruh rakyat. Karena itulah maka diformulirkan Pancasila, pemersatu seluruh rakyat! Dan memang; – siapa berani membantah bahwa Proklamasi 17 Agustus adalah jaya, justru karena didukung oleh seluruh rakyat? Siapa berani membantah bahwa negara-negara bagian ambyuk ke dalam Negara Kesatuan, oleh karena tenaganya Persatuan Bangsa? Di zaman Jogya, masih ada pemimpin-pemimpin yang berani berkata: “My loyalty to my party ends, where my loyalty to my country begins” – di manakah pemimpin yang demikian itu pada waktu menghadapi pemilihan-umum sekarang ini?

Rupanya orang mengira, bahwa sesuatu perpecahan di muka pemilihan umum atau di dalam pemilihan-umum selalu dapat diatasi nanti sesudah pemilihan-umum itu! Hantam kromo saja memainkan sentimen sebelum pemilihan-umum itu! Orang lupa: ada perpecahan yang tak dapat disembuhkan lagi. Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggrantes, terus membaji dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa. bahkan kadang-kadang meledak sedahsyat-dahsyatnya menjadi peperangan samasekali. Celaka bangsa yang demikian itu, celaka Negara yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tak mampu berdiri kembali, bertahun-tahun ia laksana hendak “doodbloeden” kehilangan darah yang keluar dari luka tubuhnya sendiri.  .....selanjutnya>>>

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 28 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pidato Bung Karno, Di Bawah Bendera Revolusi - II, Nasionalisme Indonesia, Paham Kebangsaan Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar