Home » 2016 » August » 25 » Tahun “Vivere Pericoloso”
12:30 PM
Tahun “Vivere Pericoloso”

<<sebelumnya.....   Tetapi saya tandaskan di sini, bahwa kami tidak gentar oleh Komuniké Bersama Johnson-Tengku itu! Kami hanya mau menandaskan, bahwa, kalau sampai buruk hubungan RI-AS, maka sebab-sebabnya tidak terletak pada Republik Indonesia, seperti buruknya hubungan Kamboja-Amerika Serikat, sebab-sebabnyapun tidak terletak pada Kamboja. Pangeran Norodom Sihanouk sendiri baru-baru ini menulis kepada Redaksi “Time”, Amerika: “What do you reproach me with, exactly? Not to have abased myself before the dollar? To have succeeded, where so many others in this troubled region have failed? With providing my enslaved Asian brethren with a “bad example” by my pride, patriotism and independence? With placing the interests of Washington after those of my country?” (“Karena apakah sebenarnya kalian mencela saya? Karena tidak mau menghinakan diri di hadapan dollar? Karena telah berhasil, sedang begitu banyak orang lain di daerah yang keruh ini telah gagal? Karena memberikan ‘teladan yang buruk’ bagi saudara-saudara Asia yang diperbudak, teladan dengan kehormatan, patriotisme dan kemerdekaan? Karena menempatkan kepentingan-kepentingan Washington di belakang kepentingan-kepentingan negeri saya sendiri?”).

Ada lagi satu contoh: Cukup banyak sikap pemerintah Perancis yang tak saya setujui, tetapi orang, bagaimanapun, toh harus mengakui bahwa jenderal De Gaulle menjalankan politik yang ada mengandung realiteitszin. Pembukaan hubungan diplomatiknya dengan RRT, usulnya untuk menetralisasikan Vietnam Selatan, dan inisiatif-inisiatifnya yang lain, membuktikan adanya pemikiran yang lain, membuktikan adanya pemikiran yang tidak konventionil. Seperti dikatakan oleh Rene Dabernat dalam “Le Combat”; “De Gaulle has launched a frontal attack against the wall of silence, of conformity, of habit” … Sesungguhnya, sejak Perang Dunia II terlalu sering, bahkan hampir selalu, pemerintah-pemerintah kapitalis yang non-AS seperti di-kungkung oleh tembok kebungkeman (tidak membantah), tembok keseragaman (tak berani lain), dan tembok kebiasaan (tak pernah secara orisinil mengorientasi ke Asia atas dasar baru).

Lihat! Kami sekarang memperbaharui hubungan-hubungan kami dengan Belanda. Dari fihak kami, kami menunjukkan cukup kesediaan dan kemauan baik, selama hubungan baik itu diletakkan di atas dasar persamaan derajat. Kami bukan bangsa pendendam, kami bukan bangsa yang berhati batu, tetapi janganlah sekali-kali melukai hati kami lagi. Saya kira tak bisa dibayangkan sikap yang lebih masuk-akal daripada sikap kami ini!

Seperti saya nyatakan di depan PBB: “Kami tidak berusaha mempertahankan dunia yang kami kenal; kami berusaha membangun suatu dunia yang baru, yang lebih baik! … Seluruh dunia ini merupakan suatu sumber tenaga Revolusi yang besar, suatu gudang mesiu revolusioner yang amat luas!”

Saudara-saudara! Masih banyak persoalan-persoalan yang harus kita tanggulangi, soal-soal nasional maupun internasional. Terutama penanggulangan ekonomi masih menuntut banyak peluh-keringat dari kita.

MMAA II, sebagai pengembangan daripada konperensi Bandung, telah merumuskan dengan baiknya keharusan setiap negara Asia-Afrika untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi, bebas dalam politik, berkepribadian dalam kebudayaan.

Saya teringat akan apa yang dikatakan Perdana Menteri Kim Il Sung di tahun 1947: “In order to build a democratic state, the foundation of an independent economy of the nation must be established … Without the foundation of an independent economy, we can neither attain independence, nor found the state, nor subsist”.

“Untuk membangun satu Negara yang demokratis, maka satu ekonomi yang merdeka harus dibangun. Tanpa ekonomi yang merdeka, tak mungkin kita mencapai kemerdekaan, tak mungkin kita mendirikan Negara, tak mungkin kita tetap hidup”.

Sekarang Korea-nya Kim Il Sung sudah sepenuhnya memecahkan masalah sandang-pangan, produksi padinya saja 400 kg lebih per kapita pertahun, dan dari negara agraris-industriil sekarang Korea Kim Il Sung sudah menjadi negara industriil-agraris. Inilah kondisinya, maka Korea itu secara politik maupun kebudayaan tidak tergantung kepada siapapun.

Indonesia tak mau berdiri di belakang! Indonesia mau berdiri di barisan depan dalam merealisasikan azas MMAA II itu! Dari sinilah keterangannya mengapa, sekalipun saya tahu banyak kesulitannya untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam hal sandang-pangan, saya sudah bertekad untuk secepat mungkin tidak mengimport beras lagi.

Sejak 17 Agustus 1964 ini saya menghendaki kita tidak akan membikin kontrak baru lagi pembelian beras dari luar negeri! Saya minta saudara-saudara sekalian membantu usaha ini. Selain melaksanakan UUPA-UUPBH, selain membasmi hama tikus dan hama-hama lain, selain memberantas segala pemborosan, segala pencoleng-pencoleng kekayaan negara dan segala pengacau-pengacau ekonomi – kalau perlu dengan menembak mati mereka itu! -, maka saya minta saudara-saudara berkorban pula di atas lapangan makanan ini. Produksi beras kita sebenarnya sudah cukup! Tetapi kenapa kita harus membuang devizen 120 á 150 juta dollar tiap-tiap tahun untuk membeli beras dari luar negeri? Kalau US$ 150.000.000 itu kita pergunakan untuk pembangunan, alangkah baiknya hal itu! Tambahlah menu-berasmu dengan jagung, dengan ubi, dengan lain-lain! Jagung adalah makanan sehat, kacang adalah makanan sehat! Campur menumu, campur menumu! Saya sendiri sedikitnya seminggu sekali makan jagung, dan badanku, lihat!, adalah sehat. Marilah kita berkorban sedikit, sebagaimana sukarelawan-sukarelawati kita juga sedia berkorban!

Ciri dari ekonomi kolonial tempohari adalah ketergantungan dalam banyak hal, termasuk pangan, dan sebaliknya yang diutamakan oleh ekonomi kolonial adalah bahan-bahan-export, umumnya bahan mentah. Dekon menghendaki perombakan ekonomi kolonial itu! Dekon dengan tegas menggariskan bahwa pertanian itu dasar, dan industri itu tulangpunggung.

Seperti sudah saya katakan di depan tadi, maka perubahan pertanian atau perubahan agraris itu merupakan syarat bagi “kepabrikan”, yaitu bagi industrialisasi. Inilah redenasinya, inilah rationya, mengapa di dalam Jarek kukatakan bahwa keputusan untuk mengadakan Landreform itu diliputi oleh semangat “foreseeing ahead”, yaitu semangat telah “melihat lebih dahulu”. Sebaliknya, menolak Landreform, yang dalam jangka panjang berarti pula menolak industrialisasi, menandakan pandangan yang cupet, yang céték, yang sempit; yang dangkal, yang bodoh!

Mengenai perusahaan-perusahaan modal Inggeris yang telah diambilalih oleh kaum buruh dan kini mulai dikuasai oleh Pemerintah, baiklah saya tegaskan bahwa pada dasarnya dan pada akhirnya tidak boleh ada modal imperialis yang beroperasi di bumi Indonesia. Modal imperialis yang masih beroperasi di sini harus tunduk sepenuhnya kepada perundang-undangan nasional Indonesia. Modal ex-Inggeris itu akan dikuasai sepenuhnya oleh Pemerintah. Sudah tentu prosedurnya bisa bermacam-macam, bisa nasionalisasi dengan kompensasi, bisa juga konfiskasi tanpa kompensasi. Jalan mana yang akan harus ditempuh, ini bergantung pada sikap Inggeris terhadap pembubaran “Malaysia”.

Belakangan ini juga ada diskusi mengenai nation-building dan character-building. Kita semua boleh bergembira bahwa setelah “PRRI-Permesta” kita tumpas, sukuisme-daerahisme-provinsialisme sudah sangat berkurang. Juga sesudah rasialisme 10 Mei tahun yang lalu kita tindak, maka rasialisme itu – sekalipun masih latent – tidak akut lagi. Seperti saudara-saudara sekalian tahu, yang selalu saya impi-impikan adalah kerukunan Pancasilais-Manipolis dari segala sukubangsa, segala agama, segala aliran politik, segala kepercayaan. Kerukunan dari segala suku, artinya termasuk suku-suku peranakan atau keturunan asing, – Arab-kah dia, Eropah-kah dia, Tionghoa-kah dia, India-kah dia, Pakistan-kah dia, Yahudi-kah dia. Untuk mencapai ini saya menganjurkan integrasi maupun asimilasi kedua-duanya. Juga dalam hal ini kita tak bisa sekadar memenuhi keinginan-keinginan subyektif kita. Kita harus tahu hukum-hukumnya! Tak bisa misalnya kita – jangankan 1-2 generasi, 10 generasipun tak bisa meniadakan “rahang Batak”, atau “sipit Tionghoa”, atau “mancung Arab”, atau “lidah Bali”, atau “kuning langsat Menado”, atau “ikal Irian”, dan sebagainya. Memang bukan ini yang menjadi soal! Yang menjadi soal ialah: bagaimana membina kerukunan, membina persatuan, membina Bangsa, di antara semuanya, dan dari semuanya. Untuk mencapai hal ini, maka di samping tiap-tiap suku memberikan sumbangan-sumbangan positif, tiap-tiap suku juga harus menerima sumbangan-sumbangan positif dari suku-suku lain. Pendeknya, semua suku harus mengintegrasikan diri menjadi satu keluarga besar Bangsa Indonesia. Kebhinnekaan harus terus kita bina, karena justru ke-Bhinnekaan inilah unsur menjadikan ke Ekaan. Bhinneka Tunggal Ika harus kita fahami sebagai satu kesatuan dialektis! Yang terpenting adalah mengikis-habis sisa-sisa rasialisme.

Oleh sebab itulah saya perintahkan kepada Pengadilan untuk mempercepat pemeriksaan perkara-perkara rasialisme, yang hanya membikin malu kita saja sebagai bangsa. Tentang pekerjaan LPKB, yang setahun yang 1alu saya restui dengan pesan supaya terutama memberantas phobi-phobian, saya akan sempurnakan susunannya dengan me-NASAKOM-kan pimpinannya, di daerah-daerah maupun di pusat. Dalam pada itu saya sedikit kecewa bahwa LPKB belakangan ini ikut-ikut campur dalam urusan-urusan yang bukan bidangnya, seperti koperasi, pariwisata, dan lain-lain. Saya dulu pernah menjewer FNPIB karena mengurusi totalisator, – lha mbok LPKB menarik pelajaran dari peringatan saya itu!

Mengenai soal-soal internasional, yang terpenting rasanya adalah KAA II yang akan datang. Kita senang sebanyak mungkin tenaga revolusioner-progresif tergabung dalam KAA itu. Perjuangan berarti menghimpun sebanyak mungkin tenaga dalam perjuangan itu. Juga dalam perjuangan anti-imperialisme, negara-negara Asia-Afrika harus mengusahakan “samenbundeling van alle revolutionnaire krachten”. Saya mengharap, bahwa soal peserta Konferensi A.A. tidak menimbulkan perpecahan dalam kalangan kekuatan-kekuatan revolusioner-progresif. Saya akan sangat prihatin melihat perpecahan di kalangan blok revolusioner-progresif, oleh karena hal itu merugikan solidaritas kekuatan-kekuatan yang menentang kolonialisme dan imperialisme. Saya sungguh-sungguh minta perhatian dari semua kekuatan revolusioner-progresif, jangan sampai perbedaan pendirian di kalangan mereka, merugikan kepada perjuangan-umum menggempur kolonialisme-imperialisme itu!

Mengenai “KTT non-blok”, saya tak merasa perlu menambahkan apa-apa lagi sesudah statement Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Subandrio di depan DPR-GR yang saya setujui sepenuhnya. Saya gembira sekali menyaksikan bahwa persatuan negara-negara Afrika semakin tergalang, dan saya menyambut-baik keputusan KTT mereka baru-baru ini, yang, sesuai dengan mandat yang diberikan oleh MMAA II, menetapkan Aljazair sebagai tempat KAA II tahun depan.

Ya, pohon Semangat Bandung akarnya sudah semakin masuk-tanah! Daunnya semakin rindang! Bunganya semakin semarak! Buahnya semakin banyak dan lezat! Solidaritas Asia-Afrika sudah bertambah kokoh, dan ini merupakan gunung-karang yang membikin kandasnya setiap percobaan reaksioner dan kontra-revolusioner dari “nekolim”. (Ini singkatan Jenderal Yani untuk neo-kolonialisme, kolonialisme dan imperialisme).

Bukan saja solidaritas Asia-Afrika kian kokoh, tetapi juga solidaritas Nefo, solidaritas New Emerging Forces, yang melingkupi tritunggal negara-negara sosialis, negara-negara yang baru merdeka, dan kekuatan progresif di negara-negara kapitalis, solidaritas Nefo inipun makin menjelma, makin tumbuh, makin kokoh. Ketika saya mengkoreksi teori “tiga kekuatan dan kekuatan ketiga”, dan melantunkan teori Nefo kontra Oldefo, ada orang-orang, malahan ada sebagian di antara kawan-kawan kita sendiri, yang tidak segera mengertinya, dan mengira bahwa teori Nefo itu “tidak ada isinya”. Dasar mereka orang-orang yang tak mempunyai penglihatan sejarah! Orang-orang yang tak mempunyai Historis Inzicht! Sekarang bukan saja Ganefo I sukses besar, tetapi ofensif Nefo di bidang politik, ekonomi, kultur dan militer mencapai kemenangan-kemenangan dari hari-kehari pada skala internasional. Angan-angan Indonesia untuk mengadakan Konferensi New Emerging Forces, yaitu Conefo, dengan demikian meningkat akan menjadi realitas, meski bagaimanapun fihak imperialis akan menghalang-halanginya! Arus Sejarah tak dapat dibendung oleh siapapun juga, tidak oleh dewa-dewa di kayangan sekalipun!

Memang ada pokal yang macam-macam dari kaum imperialis itu: di Brazilia pemerintah Goulart mereka gulingkan; terhadap Kuba terus-menerus mereka lancarkan serangan-serangan; di Konggo mereka dudukkan Tsombé; ke Asia Tenggara mau mereka tumplekkan seperempat-juta tentara asing. Tetapi semua ini bukanlah arus-pokok sejarah! Semua ini adalah arus-balik sejarah, yang dus hanya berwatak sementara, dan tak ‘kan tahan akan seretannya arus-yang-pokok. Pasti ia akan hanyut, pasti ia akan tenggelam! Pasti!, seperti pastinya matahari terbit lagi di hari besok!

Brazilia dibegitukan, Kuba dibegitukan, Konggo dibegitukan, sebagian dari Asia Tenggara dibegitukan, – saya peringatkan kepada kaum imperialis manapun: jangan menjamah wilayah Republik Indonesia, jangan menjamah! Pemerintah dan Rakyat Indonesia tak akan membiarkan sejengkalpun tanah-tumpah-darahnya diinjak oleh musuh! Janganlah kalian coba-coba mengganggu Banténg Indonesia! Di lain tempat kalian toh sudah kewalahan menghadapi rakyat-rakyat yang membela tanah-airnya, apalagi kalau kalian menghadapi 103 juta Rakyat Indonesia yang bersemangat Banténg, dan menghadapi AL-AU-AD-AK Indonesia yang terkuat di Asia Tenggara, yang berkobar-kobar semangat patriotiknya, yang bersama Rakyat sudah pernah mengusir tentara Jepang, mengusir tentara Inggeris, mengusir tentara Belanda, dan sudah pernah menghantam remukredam-hancurlebur “DI-TII” dan “PRRI-Permesta” dengan semua begundal-begundalnya!

Ya, saudara-saudara, kita ini sekarang sedang dikepung! Tetapi kepadamu, kepada segenap bangsa Indonesia kuserukan, agar mengasah dan terus mengasah keris cinta-tanah-airmu, mempertajam dan terus mempertajam rencong kewaspadaanmu, menempa dan terus menempa godam persatuanmu. Kita mempunyai Manipol, kita mempunyai Pancasila, senjata ampuh persatuan revolusioner Indonesia.

Gunakanlah senjata ini untuk mencegah setiap perpecahan nasional, dan konsentrasi-kanlah segala kekuatan nasional. Akhirilah segala phobi-phobian, hentikanlah jegal-jegalan dan srimpung-srimpungan, tulislah di atas panjimu “NASAKOM” dan sekali lagi “NASAKOM”, kembangkanlah daya-inisiatif dan daya-kreatifnya massa Rakyat, terutama massa Rakyat yang terorganisasi dan yang bernaung di bawah panji-panjinya Front Nasional.

Kepada sukarelawan-sukarelawan dan sukarelawati-sukarelawati kukomando-kan, agar menunaikan segala tugas nasional-patriotikmu dengan semangat berkorban yang setinggi-tingginya, dan agar memberikan andil yang sebesar-besarnya kepada perjuangan besar, kepada perjuangan suci kita mengganyang neo-kolonialisme “Malaysia”!

Kepada seluruh Rakyat, kepada Angkatan Bersenjata, kepada semua alat negara, kepada semua alat Revolusi, kuserukan untuk merapatkan barisan, senantiasa siap-siaga dan bersatu di bawah Bendera Revolusi. Ya! Di bawah Bendera Revolusi, bukan di bawah bendera kompromi atau bendera liberal, di bawah Bendera Revolusi Indonesia, Revolusi kita, Revolusi demokrasi-sosialis, Revolusi yang harus kita gelorakan terus, Revolusi yang harus makin maju dan makin memuncak!

Karena itu kita harus menjaga jangan Revolusi kita itu mati. Karena itu semboyan kita ialah RESOPIM. Ya!, Revolusi, sekali lagi Revolusi! Tadi telah kukatakan: Beri ia romantik. Beri ia dinamik. Beri ia dialektik. Jangan ia mandek. Teruslah ia maju! Teruslah ia Revolusi! Teruslah ia progresif. Keprogresifan adalah syarat-mutlak bagi sesuatu Revolusi Modern di abad ke XX. Ingat! Revolusi kita adalah Revolusi di abad XX, bukan revolusi di abad XVII!

Segala apa yang saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi pimpinkan kepada Revolusi, adalah pencerminan daripada progresifitasnya Revolusi Indonesia.

Tidak ada satu hal dalam pimpinan saya itu yang konservatif, tidak ada satu hal yang “mandek”, tidak ada satu hal yang tidak-progresif.

Unsur-unsur keprogresifan itu terdapatlah di semua lapisan masyarakat Indonesia. Ada di kalangan Agama. Ada di kalangan nasionalis. Ada di kalangan sosialis-komunis. Bukan? Agama menghendaki kemerdekaan dan keadilan. Nasionalis Indonesia menghendaki socio-nasionalisme dan socio-demokrasi. Sosialis-komunis menghendaki kemerdekaan dan sosialisme. Ketiga-tiganya dus mengandung keprogresifan. Karena itu, maka NASAKOM adalah keharusan-progresif daripada Revolusi lndonesia. Siapa anti NASAKOM, ia tidak progresif! Siapa anti NASAKOM, ia sebenarnya adalah memincangkan Revolusi, mendingklangkan Revolusi! Siapa anti NASAKOM, ia tidak-penuh-revolusioner, ia bahkan adalah historis kontra-revolusioner!

Dan segala apa yang saya namakan unsur Revolusi itu, – romantikkah, dinamikkah, dialektikkah, progresifitaskah, kemerdekaankah, kegotong-royongankah, ke Nasakomankah, – semua itu harus hidup di kalangan Rakyat, berkobar-kobar di dalam kalbunya Rakyat, berdentam-dentam di dalam fikirannya Rakyat, mengelektrisir sekujur tubuhnya Rakyat.

Rakyat Indonesia harus sadar-politik dan sadar-revolusi. Sadar! Ya, Sadar! Rakyat Indonesia harus politiek bewust dan Revolutie bewust. Seluruh Rakyat! Seluruh Rakyat! Semua! Si Dadap dan si Waru! Semua harus politiek bewust, semua harus Revolutie bewust. Dengan meniru perkataan Lenin, maka tiap-tiap koki pun harus mengerti politik dan mengerti revolusi – hidup dalam politik dan hidup dalam Revolusi.

Syukur Alhamdulillah! Demikian itulah memang Bangsa Indonesia! Bewust! Bewust! Sadar! Ia tidak masa-bodoh. Ia tidak seperti rumput. Ia selalu “gito-gito, lir gabah dén interi”. Kalbunya senantiasa bergelora. Fikirannya selalu bergerak. Jiwanya senantiasa “keranjingan”. Keranjingan seperti ditiup Malaekat! Keranjingan dengan cita-cita. Keranjingan dengan ide. Keranjingan dengan tujuan perjuangan. Keranjingan dengan kemerdekaan. Keranjingan dengan ide masyarakat adil dan makmur. Keranjingan dengan hapusnya “exploitation de l’homme par l’homme”. Keranjingan dengan lenyapnya “exploitation de nation par nation”. Keranjingan dengan benci mati-matian kepada imperialisme dan kolonialisme. Keranjingan dengan hidup berjuang. Keranjingan, ya keranjingan, maka karena itulah ia selalu sibuk dalam aksi.

Karena itulah Revolusinya Revolusi yang ber-romantik. Revolusi yang ber-dinamik. Revolusi yang ber-dialektik.

Karena itulah Revolusi Indonesia adalah satu Revolusi yang “onstervelidyk”, – satu Revolusi yang tak dapat mati dan tak akan mati. “The Indonesian Revolution is a deathless Revolution! Because the Indonesian Revolution is a Revolution of Everybody of the people. And freedom is a deathless cause, and social justice is a deathless cause”.

Ini pernah kukatakan di luar negeri. Alangkah benarnya! Alangkah tepatnya! Dengan romantik yang menghikmati seluruh Rakyat, dengan dinamik yang menggegap-gempitakan seluruh Rakyat, dengan dialektik yang mengaktifkan seluruh-alam-fikiran Rakyat, maka Revolusi Indonesia benar-benar satu Revolusi-tanpa-mati. Benar-benar satu “deathless Revolution”. Romantik adalah sumber-kekuatan-abadi kita, – Oerkracht kita, kataku tadi. Dinamik adalah sumber kekuatan sosial kita, – ia adalah kitapunya social force. Dan Dialektik adalah sumber kekuatan konsepsi kita, – sumber rasionalisasinya Revolusi kita, daja-ciptanya Revolusi kita.

Ada seorang perdana menteri dari Negara Asing berkata kepada saya: “How can your country subsist, you have no big industry in your country!” “Bagaimana negeri tuan bisa hidup terus, tuan tak mempunyai industri berat dalam negeri tuan!” Maaf saya berkata: Alangkah bodohnya tuan Perdana Menteri ini! Ia mengira bahwa hidup sesuatu bangsa tergantung dari teknik di negeri itu, tergantung dari industri di negeri itu.

No Sir! Hidupnya sesuatu bangsa tergantung dari vrijheids-bewustzijn bangsa itu, kesadaran kemerdekaan bangsa itu, dan – hidupnya sesuatu Revolusi tergantung dari Revolutie bewustzijn bangsa yang ber-revolusi itu, kesadaran ber-revolusi dari bangsa itu. Tidak dari teknik. Tidak dari industri. Tidak dari pabrik atau kapal terbang atau jalan aspal.

Saya tidak berkata bahwa kita tidak memerlukan teknik. Saya sendiri beberapa tahun yang lalu telah berkata bahwa kita memerlukan technical skill, memerlukan technical and managerial know-how.

Apalagi dalam dunia modern sekarang ini! Dunia abad ke XX! Bukan dunia abad bedil-sundut! Tetapi toh, lebih-lebih dari technical skill itu, kita memerlukan jiwa bangsa, jiwa merdeka, jiwa ber-revolusi. Kita memerlukan kemampuan Konsepsi-konsepsi, dan keuletan-perjuangan untuk melaksanakan, merealitaskan konsepsi-konsepsi itu.

Apa gunanya kita secara buta mengoper teknik dunia Barat, kalau hasilnya pengoperan itu hanyalah satu negara dan masyarakat á la dunia Barat saja? Kalau hasilnya pengoperan itu hanyalah satu negara-copie dan satu masyarakat-copie á la Barat saja, – satu negara-copie dan satu masyarakat-copie dengan berisikan segala penjakitnya exploitation de l’homme par l’homme? Apa gunanya, kalau pengoperan itu tidak mendatangkan pemenuhan dari segala isi Amanat Penderitaan Rakyat? Apa gunanya, kalau pengoperan itu tidak mendatangkan realisasi cita-cita: gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja?

Di Amerika Serikat sendiri, simbol dari kemajuan teknik, simbol dari kemajuan materiil yang berlimpah-limpah, orang ada yang berkata: “there is a virtual despair among many who look beyond material success to the inner meaning of their lives”. Artinya: tidak puas dengan hanya sukses materiil belaka.

Negara-negara-Barat yang memang gémbong-gémbong di lapangan teknik itu, sekarang tidak ada satupun yang mempunyai “Orang-Orang-Besar-Gémbong-Konsepsi”.

Dalam masa naiknya kapitalismenya, dalam masa Kapitalismus im Aufstieg, mereka mempunyai gémbong-gémbong seperti Disraeli dan Bismarck dan Gambetta. Dalam masa megap-megapnya kapitalismenya, dalam masa Kapitalismus im Niedergang, mereka mempunyai gémbong-gémbong seperti Mussolini dan Hitler. Sekarang, dalam masa “Universal Revolution of Man” ini, – they have nobody. Mereka tidak mempunyai pemimpin yang ternama, tidak mempunyai gémbong yang ber-konsepsi, tidak mempunyai Leader dengan letter L. yang besar. Tidak mempunyai Konseptor yang suaranya pantas didengarkan oleh seluruh umat manusia dari segala bangsa, segala warna-kulit, segala agama. Misalnya, – maaf saya sebutkan satu misal lagi -: Dulu Amerika saya namakan “the Centre of an idea”. Sekarang saya tidak bisa lagi menyebutkan Amerika “the centre of an idea”.

Karena itu hai Bangsa Indonesia!, dalam Revolusi kita ini, janganlah kita mencari kepeloporan mental pada orang lain. Carilah kepeloporan mental itu pada diri kita sendiri. Cari sendiri konsepsi-konsepsimu sendiri! Sudah barang tentu fihak lain, terutama sekali fihak imperialisme, selalu mencoba mencekokkan alam-fikirannya ke dalam hati dan kepala kita, – dengan mereka-punya propaganda, dengan mereka-punya perpustakaan-perpustakaan, dengan mereka-punya film-film, dengan mereka-punya penetrasi kebudayaan, dan lain-lain sebagainya, – dan berapa kaum intelektuil kita tidak terkena cekokan diam-diam ini?, – berapa profesor-profesor kita dan sarjana-sarjana kita tidak masih ngglenggem dalam merekapunya textbooks bikinan Rotterdam atau Utrecht atau Harvard atau Cambridge? – saya ulangi: sudah barang tentu fihak lain selalu mencoba mencekokkan alam-fikirannya ke dalam hati dan otak kita, – tetapi, jadilah Bangsa yang Besar yang tidak menjiplak, jadilah mercu-suar yang gemilang bersinar sendiri, susunlah kitapunya konsepsi-konsepsi atas dialektik Revolusi kita sendiri. Freedom to be free, freedom to be free!, – freedom to be free juga di alam konsepsi sendiri! Dan dengan dialektik kita itu, selalu tingkatkanlah konsepsi-konsepsi Revolusi kita itu menjadi setingkat dan seirama dengan dialektiknya Sejarah Umat Manusia yang sekarang juga sedang bergelora dan berbangkit. Jikalau tidak, kita nanti diganyang, dilindas menjadi glepung oleh dialektiknya Sejarah Umat Manusia itu.

Saudara-saudara! Saya berbesar hati bahwa Revolusi kita ini sekarang sudah berupa gunung-karang-realitas bagi kawan dan bagi lawan. Saya berbesar hati bahwa Revolusi kita ini sekarang tidak lagi diremehkan oleh lawan, dianggap sepi oleh lawan, atau dianggap sebagai satu “kegilaan” oleh lawan. Karena itu, saya tak heran bahwa lawan semakin berikhtiar untuk mematahkan Revolusi kita ini, makin mengepung revolusi kita ini dengan segala tipu-daya dan subversi, makin gila-gilaan menjelek-jelekkan Revolusi kita ini. Saya berbesar hati, bahwa sekarang ini seluruh telinga lawan dipasang untuk mendengarkan pidato Pemimpin Besar Revolusi Indonesia pada hari ini.

Untuk didengar oleh telinga lawan itu, saya sekarang dengungkan lagi apa yang sudah saya katakan berulang-ulang : “Go to hell with your “Indonesia going to economic collapse”! Go to hell dengan omonganmu bahwa Indonesia akan binasa ekonomis. Go to hell! Psy-warmu tidak mempan! Psy-warmu kami anggap gonggongan anjing. Berpuluh-puluh kali engkau bilang Indonesia di bawah pimpinan Sukarno akan ambruk, akan collapse, akan hancur, tetapi psy-warmu tidak mempan! Tahun yang lalu mereka “meramalkan” bahwa Indonesia permulaan tahun 1964 akan ambruk ekonomis. Tetapi permulaan 1964 Indonesia tidak ambruk!, dan sekarang mereka berkata lagi bahwa nanti bulan Oktober yang-akan-datang-ini Indonesia akan ambruk, – akan “collapse”. Go to hell! Indonesia tidak akan ambruk, – Insya Allah, Indonesia tidak akan ambruk!

Paceklik 1962 dan paceklik 1963 tidak membuat Indonesia ambruk ekonomis, apalagi 1964, di mana panen kita di mana-mana berhasil baik, – Indonesia tidak akan ambruk!

Of course, sudah barang tentu, kita masih menghadapi kesulitan-kesulitan di segala bidang, – sebagaimana semua negara-negara-dalam-revolusi menghadapi kesulitan-kesulitan, – apalagi kita, yang baru saja delapan tahun dapat bekerja membangun, – lima tahun yang pertama kita pergunakan untuk physical revolution, lima tahun lagi kemudian kita pergunakan untuk survival – of course, sudah barang tentu, kita menghadapi dan harus memecahkan kesulitan-kesulitan, – tetapi gobloklah orang kalau ia berkata bahwa Indonesia akan ambruk.

No Sir!, kami tidak akan ambruk! Bersama-sama Rakyat Indonesia, kita akan pecahkan segala kesulitan-kesulitan itu, bersama-sama kita akan ganyang segala kesulitan-kesulitan itu. That’s what the Revolution is for! Justru itulah tugas Revolusi!: memecahkan kesulitan-kesulitan, melenyapkan segala rintangan-rintangan.

Revolusi bertugaskan dan memang berada untuk memecahkan kesulitan-kesulitan. Revolusi bukanlah nyanyian keroncong Moritsko angler-angleran, Revolusi adalah perjuangan, perjuangan, sekali lagi perjuangan, perjuangan yang bersayap razende inspiratie, perjuangan yang berkendaraan gegap-gempitanya aksi Rakyat untuk memecahkan kesulitan-kesulitan yang merintang di tengah jalan, perjuangan yang akhirnya mencapai kemenangan-akhir yang gilang-gemilang, yaitu terlaksananya Amanat Penderitaan Rakyat.

Ya, saya katakan lagi, memang ada kesulitan-kesulitan, tetapi kesulitan-kesulitan itu akan kita pecahkan bersama, – that’s what the Revolution is for! -, kesulitan-kesulitan itu akan kita ganyang, – that’s what the Revolution is for, and – we can take it! Inilah romantiknya Revolusi! Inilah dinamiknya Revolusi! Siapa yang tidak memiliki romantiknya Revolusi, siapa yang tidak memiliki dinamiknya Revolusi, – sudah, jangan ikut Revolusi, masuk saja di kandang kambing, ngempeng susu saja dari tetek si kambing itu!

Baca Manipol, baca semua pidato-pidato saya yang dulu, dan benang-merah yang menjelujur semua pidato-pidato saya itu ialah: perjuangan, perjuangan, sekali lagi perjuangan, dan bahwa Revolusi adalah perjuangan. “Inallaha la yu ghoyiru ma bikaumin, hatta yu ghoyiru ma biamfusihim”. “Tuhan tidak merubah nasibnya sesuatu bangsa; sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri”. Firman Tuhan inilah gitaku, firman Tuhan inilah harus menjadi pula gitamu: Berjuang, berusaha, membanting tulang, memeras keringat, mengulur-ulurkan tenaga, aktif, dinamis, meraung, menggeledek, mengguntur, – dan selalu sungguh-sungguh, tanpa kemunafikan, ikhlas berkorban untuk cita-cita yang tinggi. Hai Manipolis, – jangan Manipolis munafik! Hai USDEKis, – jangan USDEKis munafik! Hai Sosialis, – jangan Sosialis munafik! Hai Nasakomis, – jangan Nasakomis munafik! Penyakit-busuk dari semua perjuangan ialah kemunafikan! Kemunafikan adalah sumber dari segala kelemahan. Sumber perpecahan. Sumber reformisme. Sumber kompromis. Sumber revisionisme. Sumber rontoknya romantik, dinamik, dan dialektik. Sumber pengkhianatan. Sumber segala kerling-kerlingan main-mata dengan musuh.

Celakalah sesuatu Revolusi yang disarangi oleh orang munafik. Karena itu, jebollah kemunafikan di mana ada, tendang-keluarlah kemunafikan dari segala penjuru!

Tendang-keluar orang-orang yang berkepala dua. Bersihkan, bersih-sucikan Manipol, sucikan Usdek, sucikan Sosialisme kita, sucikan Revolusi kita, sucikan Revolusi kita ini dari segala penyakit-penyakit-busuk yang menghinggapinya. Sucikan ia dari segala kemunafikan! Sucikan, kocok-bersih tubuh kita sendiri, agar kita kuat menghantam-remuk-redam semua musuhnya Revolusi.

Ya. Subversi musuh masih amat lihaynya berjalan terus! Salah satu usaha mereka ialah menggremeti orang-orang munafik! Menggremeti orang-orang yang kurang teguh kemanipol-annya dan kurang teguh keUSDEKannya, untuk misalnya mengadakan “coup” kepada pemerintah Sukarno, yang olehnya dinamakan “bajingan keparat” biang-keladi Manipol dan biang-keladi USDEK itu. Dan mereka sudah beberapa kali meramalkan bahwa nanti bulan ini atau bulan itu Sukarno akan dicoup, Sukarno akan jatuh, Sukarno “tidak akan ada lagi”. Bukti-bukti tertulis tentang hal-hal semacam ini adalah di tangan saya! Tetapi, Allahu Akbar, Tuhan Maha Besar, saya masih berada di muka saudara-saudara! Saya masih berada di muka saudara-saudara sebagai Presiden Republik Indonesia, sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, sebagai Perdana Menteri Pemerintah, sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Saya masih berada demikian, karena perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan karena kesetiaan Rakyat kepada Manipol, kepada USDEK, kepada Pancasila, kepada segala garis-besar pimpinan saya dalam Revolusi kita ini. Kalau Rakyat umpamanya tidak setuju kepada pimpinan saya itu, – sudah lama saya diganyang oleh Rakyat itu sendiri.

Saudara-saudara yang berhadapan dengan saya di Lapangan Merdeka ini, dan saudara-saudara yang mendengarkan pidato saya ini di seluruh pelosok tanah-air, – saudara-saudara semua merasa gembira memperingati hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan. Dengan tekad baru dan dengan kekuatan segar, ditambah dengan alam-fikiran yang lebih dewasa karena telah mengunyah-merenungkan segala pengalaman-pengalaman yang di belakang kita, dan mengunyah-merenungkan segala jurusan yang harus kita tempuh, kita kini memasuki tahun ke XX daripada Kemerdekaan kita. Pesanku kepadamu ialah, sebagai telah kupesankan kepadamu dahulu: “Mengalirlah, hai sungai Revolusi Indonesia, mengalirlah ke Laut, janganlah mandek, sebab dengan mengalir ke Laut itu, kamu setia kepada sumbermu!”.

Jelasnya sekarang pesanku itu ialah: Mengalirlah, hai sungai Revolusi Indonesia, mengalirlah dengan kekuatannya romantikmu dan ketangkasannya dinamikmu ke arah jurusan yang dijelmakan oleh dialektik Revolusi, mengalirlah, jangan mandek, sebab dengan mengalir ke arah jurusan yang dijelmakan oleh dialektikmu itu, maka engkau setia kepada Amanat, yang Penderitaan Rakyat telah berikan kepadamu!

Bagi saya sendiri, – tiap-tiap kali sesudah saya pada 17 Agustus membacakan Amanat kepada Rakyat, sesudah saya masuk kembali ke Istana Merdeka, saya selalu duduk termenung beberapa menit, – pertama untuk menyatakan syukurku kepada Tuhan, kedua untuk menikmati kekagumanku atas Bangsaku Indonesia. Engkau Bangsaku Indonesia, engkau, yang sedang ber-revolusi dalam tubuh bangsa sendiri, dan engkau pula, yang sedang ber-revolusi untuk merubah keadaan seluruh umat manusia! Allahu akbar, – alangkah uletmu, alangkah tinggi daya-tahanmu! Alangkah tegap-tegas derap-langkahmu! Dengan Rakyat seperti engkau itu aku bisa dengungkan ke seluruh muka bumi pekik-perjuangan kita yang berbunyi “Kemerdekaan – Sosialisme – Dunia Baru”, dan aku bisa gelédékkan dalam telinga-nya semua imperialis di muka bumi: “Ini dadaku, mana dadamu!” Dan aku bisa ulangi apa yang pernah kukatakan di luar negeri: “The Indonesian People can take every thing for the sake of Revolution”. Revolusi Indonesia bisa mengganyang segala-segala apa saja yang ditimpakan kepadanya!

Saudara-saudara sering memberikan gelar-keagungan kepadaku, – gelar ini gelar itu -, bahkan mengangkat aku sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Sebaliknya, aku mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa aku ditunjuk untuk memimpin perjuangannya Bangsa Indonesia ini, – suatu Bangsa yang jiwanya Jiwa Besar, suatu Bangsa yang ulet laksana baja, suatu Bangsa yang mempunyai daya-tahan (incasseringsvermogen) yang luar biasa, suatu Bangsa yang dapat bersikap ramah-tamah-lemah-lembut, tetapi juga kalau disakiti atau diserang dapat “mengamuk” laksana Banténg! Tiap-tiap 17 Agustus kekagumanku kepadamu selalu makin bertambah, tiap-tiap 17 Agustus aku merasa melihat bahwa Revolusi Indonesia memang satu Revolusi Maha Besar yang mengejar satu Idé, – Idé Besar, yakni melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia, dan Amanat Penderitaan Rakyat di seluruh muka bumi. Dan tiap-tiap 17 Agustus aku makin teguh keyakinanku: Revolusi Indonesia adalah Revolusi tanpa-mati, Revolusi Indonesia pasti akan menang!

Dengan Rakyat seperti Rakyat Indonesia ini, aku berani meningkatkan Revolusi Indonesia itu menjadi satu Revolusi yang benar-benar multicomplex, aku berani memimpinnya, aku berani mensenopatiinya, karena aku merasa mampu untuk dengan ridho Tuhan meningkatkan segala tenaganya, meningkatkan segala fikirannya, menggegapgempitakan segala romantik dan dinamiknya, mendentam-dentamkan segala hantaman-hantamannya, menggelegarkan segala pembantingan-tulangnya, mengangkasakan segala daya kreasinya, menempa-menggembléng segala otot-kawat-balung-wesinya!

Sungguh: Kamu bukan bangsa cacing, kamu adalah Bangsa berkepribadian Banténg! .

Hayo, maju terus! Jebol terus!

Tanam terus! Vivere pericoloso!

Ever onward, never retreat!

Kita pasti menang!

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 218 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar