Home » 2016 » August » 25 » Tahun “Vivere Pericoloso”
1:15 PM
Tahun “Vivere Pericoloso”

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1964 DI JAKARTA

Saudara-saudara sekalian!

Hari ini 17 Agustus 1964.

Tiap 17 Agustus mempunyai arti-pentingnya sendiri, significance-nya sendiri yang khusus. Di antara bulan-bulan yang duabelas itu, Agustus adalah yang terkeramat bagi kita. Amerika dan Perancis mengkeramatkan bulan Julinya, Tiongkok dan Sovyet-Unie bulan Oktobernya,- kita mengkeramatkan bulan Agustus, bulan Proklamasi. Dan seirama dengan gemuruhnya ombak-sejarah, maka tiap-tiap 17 Agustus mempunyai ciri-khasnya sendiri, gemanya sendiri, arti-pentingnya sendiri.

17 Agustus 1945 saya membacakan Proklamasi Kemerdekan. Kemudian daripada itu, delapanbelas kali 17 Agustus saya telah memberikan “amanat-tahunan”. Sekarang, 17 Agustus 1964, buat kesembilanbelas kalinya saya memberikan “amanat-tahunan” itu.

Selalu saya memberikan amanat tentang Revolusi Indonesia, tentang perjuangan Rakyat Indonesia, bahkan memberikan gambaran tentang perjuangan Umat Manusia!

Saya memang dengan sengaja tidak memberikan pertanggungjawaban tentang hasil-kerja Pemerintah, – sekarangpun tidak, meski saya sendirilah sekarang Kepala Pemerintah itu, Perdana Menteri Pemerintah Republik Indonesia.

Saya tidak berkata, bahwa hasil-kerja Pemerintah itu tidak secara berkala harus diberitahukan kepada Rakyat, – samasekali tidak! – tetapi saya berpendapat, bahwa kita lebih baik mempergunakan mimbar lain untuk itu, daripada podium sekarang ini, yaitu misalnya mimbar M.P.R.S., mimbar D.P.R.- G.R., mimbar Dewan Pertimbangan Agung, atau mimbarnya rapat-rapat-dinas, dan sebagainya.

Podium sekarang ini, podium 17 Agustus, bagi saya adalah Podium Rakyat, Podium Revolusi, Podium Perjuangan, – Podium Kiprah-tekadnya Bangsa! Podium ini saya pergunakan sebagai tempat-pertanggungjawaban atas jalannya Perjuangan Bangsa sebagai satu keseluruhan. Podium ini saya pergunakan sebagai tempat dialog Sukarno-pribadi dengan Sukarno Pemimpin Besar Revolusi, tempat dialognya Sukarno Pemimpin Besar Revolusi dengan Rakyat Indonesia yang ber-Revolusi.

Bahkan saya berkata: inilah podium tempat dialog Kita dengan Kita, tempat dialognya 103 juta Rakyat dengan Revolusi. Kita semua harus memberi pertanggungjawaban!: Kita semua!, – baik Pemerintah, maupun lembaga-lembaga Negara, maupun golongan-golongan-karya, maupun perseorangan-perseorangan, – kita semua, si Dadap, si Waru, si Suta, si Naya, si Tuminem, si Fatimah, – apalagi saya, yang oleh kamu semua telah ditunjuk menjadi Pemimpin Besar Revolusi! Tetapi saya tandaskan sekali lagi: Kita semua bertanggungjawab, kita semua, ya engkau si tukang becak, ya engkau si baju militer, ya engkau si tuan pegawai, ya engkau si kaum buruh, ya engkau si kaum tani, ya engkau si mbok Kromo di lereng gunung, ya engkau, – terutama sekali engkau! -, yang menyebut dirimu pemimpin Rakyat.

Sebab, jangan lupa: Revolusi kita masih terus berjalan, dan bukan saja berjalan, tetapi harus bertumbuh, dalam arti pengluasan, bertumbuh dalam arti pemekaran konsepsi-konsepsi, sesuai dengan tuntutan zaman, sesuai dengan tuntutan Amanat Penderitaan Rakyat, sesuai dengan tuntutan The Universal Revolution of Man.

Karena itulah, maka tiap kali saya berdiri di atas Podium 17 Agustus ini, saya bukan saja berdialog dengan Rakyat Indonesia yang ber-Revolusi, tetapi juga berdialog dengan seluruh Umat Manusia yang juga dalam Revolusi. Bagaimana jalannya Revolusi kita ini? Bagaimana maju-mundurnya Revolusi kita ini? Bagaimana “gatuknya” derap-iramanya Revolusi kita ini dengan derapmu, hai Umat Manusia di seluruh muka bumi? Dan selalu, dalam memberikan “stock-opname” yang demikian itu, hati saya berganti-ganti terharu-gembira dan terharu-sedih, berganti-ganti mongkok senang dan mengkeret-kecewa, – mongkok-kagum dalam melihat titik-titik-gemilang dalam jalannya Revolusi kita ini, mengkeret-kecewa dan kadang-kadang mengkeret-cemas kalau melihat penyeléwéngan-penyeléwéngan yang dapat membahayakan jalannya Revolusi kita itu. Pendek-kata saya selalu memberikan balans dari Revolusi kita itu, – pasang-surutnya dan pasang-naiknya, dentam-majunya dan geram-deritanya Revolusi kita itu.

Pada tiap 17 Agustus saya mengajak saudara-saudara menoleh ke belakang sejenak. Lihat! Hai saudara-saudara! Lihat! Peristiwa-peristiwa di belakang kita ini, peristiwa-peristiwa di masa yang lampau, merupakan pelajaran bagi kita semua, pelajaran agar jalannya Revolusi dapat dipercepat, pelajaran agar yang pahit-getir tidak diulangi lagi. Dan selanjutnya juga selalu saya lantas mengajak Rakyat untuk melihat ke muka: selalu saya lantas memberikan jurusan, memberikan arah, memberikan direction selanjutnya, dalam menghadapi masalah-masalah yang akan datang.

Pelajaran dari pengalaman yang sudah, dan jurusan untuk yang di muka, dua hal itu adalah penting-maha-penting dalam Revolusi yang sedang berjalan, – Revolusi yang pada hakekatnya adalah satu perjalanan, satu proses, satu gerak. Apalagi bagi satu Revolusi yang sedang dikepung seperti Revolusi kita sekarang ini, satu Revolusi yang hendak dihancurkan orang, satu Revolusi yang harus mempertahankan kepalanya di atas samudera subversi dan intervensi dari fihak imperialis dan kolonialis, – satu Revolusi yang harus menyelamatkan badannya dan jiwanya dari serangan-serangan yang maha-dahsyat dari segala jurusan, – dari luar, dari dalam, dari kanan, dari kiri, dari atas, dari bawah. Keadaan yang demikian itu kita alami, ujian demikian itu kita lalui! Gempuran imperialis bertubi-tubi, anjing-anjing dan serigala-serigala sekeliling kita menggonggong dan mengauk-auk! Tapi Revolusi Indonesia harus berjalan terus, dan memang berjalan terus! Gempuran imperialis kita layani, gonggongan anjing dan serigala tidak kita réwés. Kita tidak takut apa-apa! Janganpun gonggongan anjing, suaranya geledek dari angkasa tidak membuat berdiri sehelaipun bulu-roma kita!

Ya! Sejarah berjalan terus. Adakah sejarah pernah berhenti? Revolusi Indonesia pun berjalan terus. Revolusi Indonesia tidak akan berhenti. Imperialisme akan hancur-lebur, anjing dan serigala akan bungkem, tetapi Revolusi Indonesia akan berjalan terus, dan akan menang! Di Jogyakarta, di tahun ’48, tatkala imperialisme sedang menggempur Republik Indonesia, di Jogyakarta di tahun 1948 itu, di bawah sinar kelip-kelipnya sebuah lilin, saya pernah menulis, bahwa Revolusi Indonesia adalah “razende inspiratie van de Indonesische geschiedenis”, – inspirasi dentam-berdentam-gegap-gempita daripada Sejarah Indonesia -, – siapakah dapat mematikan Sejarah, siapakah dapat mematikan Revolusi Indonesia, inspirasi dentam-berdentam-gegap-gempita daripada Sejarah itu?

Ya, kuulangi : Revolusi Indonesia berjalan terus, dan Revolusi Indonesia akan menang. Tetapi toh, kita harus waspada! Kita harus tahu apa yang kita perbuat. Dengan meminjam perkataan Thomas Carlyle, kita harus “wijs van tevoren”.

Karena itu kita harus mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman yang telah sudah, menetapkan arah dan jurusan bagi masa yang akan datang.

Pengalaman-pengalaman yang telah sudah, bagaimana pahit dan getirnyapun, harus memberi inspirasi kepada kita untuk menetapkan arah-yang-tetap, jurusan-yang-tepat, bagi masa yang akan datang. Tidak sekali-kali pengalaman pahit boleh mematahkan kita-punya hati. Pengalaman pahit harus menjadi cambuk, – malahan inspirasi kataku tadi! -, untuk mengadakan koreksi dan untuk menetapkan jalan yang tepat, dan maju terus di atas jalan yang tepat itu!

Tahukah saudara-saudara, bahwa saya anggap serangan militer Belanda yang pertama dan serangan militer Belanda yang kedua atas tubuhnya Republik Indonesia dulu itu sebagai Romantiknya Revolusi? Itupun saya tuliskan dalam tahun ’48.

Tiada Revolusi dapat benar-benar bergelora, kalau Rakyatnya tidak menjalankan Revolusi itu dengan anggapan Romantik. Tiada Revolusi dapat mempertahankan jiwanya, jikalau Rakyatnya tidak bisa menerima serangan musuh sebagai romantiknya Revolusi, dan menangkis serangan musuh dan menghantam hancur-lebur kepada musuh itu sebagai romantiknya Revolusi. Tiada Revolusi dapat tetap bertegak kepala, jikalau Rakyatnya tidak sedia menjalankan korbanan-korbanan yang perlu, dengan tegak kepala pula, bahkan dengan mulut bersenyum, karena menganggap korbanan-korbanan itu romantiknya Revolusi. Danton pergi ke guillotine dengan rasa romantik, Rizal pergi ke tempat eksekusi dengan rasa romantik, pejuang-pejuang Rusia menggempur musuh di Stalingrad dengan rasa romantik, Rakyat R.R.T. dalam jumlah berjuta-juta sebagai semut menundukkan sungai Yang Tse Kiang dengan rasa romantik. Dan tiada Revolusi dapat membangun secara hebat, kalau dentamnya pembangunan itu tidak dirasakan oleh Rakyatnya sebagai romantik. Revolusi adalah rantai kejadian-kejadian memukul dan dipukul, rantai kejadian-kejadian menggempur dan digempur, rantai kejadian menjebol dan membangun. Memukul dan dipukul, menggempur dan digempur, menjebol dan membangun, – perganti-gantian ini harus dirasakan sebagai irama romantiknya Revolusi. Dengarkanlah apa yang saya tulis dalam tahun 1948 itu, waktu Jogyakarta dikepung musuh:

“Negara Indonesia dalam bahaya. Memang bahaya ini adalah satu fase, satu tingkat, dalam usaha kita mendirikan satu negara yang merdeka. Justru oleh karena proklamasi kemerdekaan kita adalah satu kejadian yang tidak konstitutionil, justru oleh karena tindakan kita memerdekakan Indonesia adalah satu tindakan yang revolusioner, maka tidak boleh tidak Negara Indonesia harus melalui satu fase “dalam bahaya”. Tidakkah selalu saya sitirkan ucapan, bahwa tak pernah sesuatu kelas melepaskan kedudukannya yang berlebih dengan sukarela? – Revolusi bukanlah sekadar satu “kejadian” belaka, bukanlah sekadar satu “gebeurtenis”. Revolusi adalah satu proses. Puluhan tahun kadang-kadang, berjalan proses itu. – Pasang-naik dan pasang-surut akan kita alami berganti-ganti, pasang-naik pasang-surut itulah yang dinamakan iramanya Revolusi. Tetapi gelora samudera tidak berhenti, gelora samudera berjalan terus!”

Iramanya Revolusi! Iramanya Revolusi! Ya, anggapan inilah yang membawa saya kepada anggapan Romantiknya Revolusi. Romantiknya perjuangan saya pribadi pula. Tetapi terutama sekali romantiknya perjuangan nasional, romantiknya perjuangan umat manusia dalam The Universal Revolution of Man, romantiknya tiap-tiap perjuangan besar yang revolusioner. Mahabesarlah Tuhan yang telah memberikan rasa romantiknya-perjuangan itu kepada saya, tatkala saya sebagai pemuda, dengan physik duduk di atas tikar, di bawah sinar kelip-kelipnya lampu cempor, mengadakan dialog mental di alam luar-jasmani dengan pejuang-pejuang-besar pelbagai bangsa, dengan ahli-ahli-pikir segala bangsa yang mengemudikan jalannja sejarah. Maka sesudah saya, sebagai hasil dialog mental itu, mencapai keyakinan bahwa tiada perjuangan besar dapat terselenggara tanpa rasa romantiknya-perjuangan, maka saya tidak berhenti-berhenti mentransferkan rasa romantik-perjuangan itu kepada Rakyat Indonesia. Segala pasang-naik dan pasang-surutnya perjuangan, segala pukulan yang kita berikan dan segala pukulan yang kita terima, adalah iramanya perjuangan, iramanya Revolusi. “Memukul, – hayo berjalan terus! Dipukul, – hayo berjalan terus!” Dentamnya Revolusi, yang kadang-kadang berkumandang pekik-sorak, kadang-kadang bersuara jerit-pedih, sebagai satu keseluruhan kita dengarkan sebagai satu nyanyian, satu simfoni, satu gita, laksana dentumnya gelombang samudera yang bergelora pukul-memukul membanting di pantai, kita dengarkan sebagai satu gita kepada Tuhan yang amat dahsyat.

Rasa romantik-perjuangan adalah sumber kekuatan abadi daripada Perjuangan. Oerkracht daripada perjoangan! Kalau tidak ada rasa romantik-perjuangan itu, sudah lama kita remuk-redam, sudah lama kita seperti cacing-mati terinjak-injak. Apa yang tidak kita alami sudah, sekali lagi: apa yang tidak kita alami sudah, – en toh kita masih berdiri tegak, en toh kita masih belalak mata, bahkan kita makin kuat, makin sentausa, makin hebat derap-langkah kita menggetarkan bumi? Aksi militer Belanda kesatu?; aksi militer Belanda kedua?; pengkhianatan P.R.R.I.?; pengkhianatan Permesta?; penyeléwéngan-penyeléwéngan yang disengaja untuk menjatuhkan demokrasi terpimpin?; sabotase internasional oleh kaum imperialis?; subversi dan intervensi yang licin tapi bertubi-tubi?; kepungan terang-terangan dengan basis-basis militer imperialis?; sabotase ekonomis yang amat lihay sekali?; pemasangan benteng imperialis yang bernama “Malaysia” dengan antek imperialis yang bernama Tengku Abdul Rakhman?, – héhé semua itu kita anggap sebagai bagian saja daripada iramanya Revolusi, semua itu kita terima dengan rasa romantiknya Revolusi, – semua itu kita ganyang dengan romantiknya Revolusi.

Karena romantik inilah, kita tidak remuk; karena romantik inilah, kita makin kuat; karena romantik inilah, kita malahan berderap terus, ya Romantik-Perjuangan, – oerkracht (sumber abadi) dari kekuatan perjuangan, oerkracht dari ketahanan Perjuangan, oerkracht dari kekuatan idiil, oerkracht dari kekuatan batin! Oerkracht yang memberikan kecintaan kepada semua kepahlawanan, oerkracht yang membangkitkan kepercayaan kepada diri sendiri, oerkracht yang memberikan pengertian kepada perlunya dinamikanya dan dialektikanya Revolusi. Oerkracht yang memberikan kepercayaan bahwa Revolusi bergerak-terus dan harus bergerak terus, dan bahwa Revolusi bergeraknya terus itu melalui jalan pukul dan dipukul, gempur dan digempur, jalan pasang dan jalan surut, jalan sorak dan jalan jerit, jalan lurus dan jalan liku, jalan turun kemudian naik, turun, tetapi kemudian naik, naik, naik! Jalan yang hebat tetapi tidak lurus-licin sebagai Boulevard Champs Elysées di kota Paris, atau Newsky Prospect dikota Leningrad. Pengertian dan kepercayaan dus: bahwa Revolusi adalah satu proses panjang yang dinamis (artinya: bergerak), dengan segala pukul dan dipukulnya, tetapi terus naik, (inilah dialektika), satu proses panjang yang harus dijalankan terus-menerus dengan ulet dan tekad “ever onward, no retreat”.

Saya tandaskan sekarang sekali lagi, dus: Revolusi minta tiga syarat-mutlak: romantik, dinamik, dialektik. Romantik, dinamik, dan dialektik yang bukan saja bersarang di dada pemimpin, tetapi romantik, dinamik, dialektik yang menggelora di seluruh hatinya Rakyat, – romantik, dinamik dan dialektik yang mengelektrisir sekujur badannya Rakyat dari Sabang sampai Merauke. Tanpa romantik yang mengelektrisir seluruh Rakyat itu, Revolusi tak akan tahan. Tanpa dinamik yang laksana mengkeranjingankan seluruh Rakyat itu, Revolusi akan mandek di tengah jalan. Tanpa dialektik yang bersambung kepada angan-angan seluruh Rakyat itu, Rakyat tak akan bersatu dengan rising demandsnya Revolusi, dan Revolusi akan pelan-pelan ambles dalam padang-pasirnya kemasabodohan, seperti kadang-kadang ada sungai ambles-hilang dalam gurun-gurun-pasir sebelum ia mencapai samudera lautan.

Karena itu maka kita harus memasukkan romantik, dinamik dan dialektik Revolusi itu dalam dada kita semua, kita pertumbuhkan, kita gerakkan, kita gemblengkan dalam dada kita semua, sampai kepuncak-puncaknya kemampuan kita, agar Revolusi kita dan Revolusi Umat Manusia dapat bergerak-terus, menghantam dan membangun terus, mendobrak segala rintangan yang direncanakan dan dipasangkan oleh fihak imperialis dan kolonialis.

Adakah revolusi tanpa tiga syarat-mutlak itu tadi? Ada! Tetapi revolusi yang tanpa romantik, dinamik, dialektik massal, revolusi yang hanya didorong oleh impuls perseorangan, ambisi pribadi dari seorang-orang, atau rasa-sakit-hati-pribadi sebagai dinamik dan kekuatan, – revolusi yang demikian itu hanyalah merupakan sekadar “revolusi istana” saja, – satu “palace-revolution”, yang sekarang muncul, besok sudah hilang kembali. Revolusi yang demikian itulah yang sering ditunggangi oleh kaum imperialis! Revolusi yang demikian itulah yang sering dibuat oleh kaum imperialis, dengan mengadakan “coup”, pembunuhan pemimpin, dan lain sebagainja. Juga di Indonesia kaum imperialis kadang-kadang mencoba hendak mengadakan revolusi yang demikian itu, dengan maksud hendak mematikan Revolusi kita! Tetapi kita selalu waspada! Rakyat Indonesia Alhamdulillah selalu waspada! Rakyat Indonesia telah mengganyang berkali-kali percobaan-percobaan kaum imperialis itu!

Dan sekarang, Revolusi Indonesia yang tak dapat mereka ganyang itu, telah menjadilah satu realitas bagi mereka, satu kenyataan yang tak dapat mereka pungkiri atau mereka hapus. Revolusi Indonesia telah menjadi satu fait accompli bagi lawan dan bagi kawan, satu fait accompli bagi dunia, satu gunung-karang-sarang-petir di tengah-tengah samudera-perjuangan Umat Manusia untuk mendirikan satu Dunia Baru tanpa “exploitation de l’homme par l’homme” dan tanpa “exploitation de nation par nation” .

Apa sebabnya? Karena sekarang Revolusi Indonesia sejak 1959 telah kembali menjadi satu Revolusi Rakyat yang ber-romantik, berdinamik, berdialektik. Itulah sebabnya Revolusi Indonesia sekarang menjadi “gunung-karang-sarang-petir” bagi perjuangan umat Indonesia dan umat manusia di seluruh muka bumi.

Ya, pernah kita melepaskan romantik itu. Pernah kita melepaskan dinamik itu. Pernah kita melepaskan dialektik itu. Waktu itu ialah sebelum tahun 1959. Pada waktu itu pemimpin-pemimpin kita banyak yang kena cekokan liberal. Pada waktu itu banyak pemimpin-pemimpin kita nyeleweng. Pada waktu itu banyak partai-partai kita pada gila-gilaan. Pada waktu itu banyak pemuka-pemuka kita yang keblinger dengan ilmu-ilmu á la Rotterdam atau á la Harvard. Pada waktu itu banyak berkeluyuran zg. “pemimpin-pemimpin”, yang dalam tubuhnya tidak ada satu tetes darahpun revolusioner. Pada waktu itu terjadilah pemberontakan-pemberontakan yang mendurhakai Revolusi. Pada waktu itu Romantiknya Revolusi, Dinamiknya Revolusi, Dialektiknya Revolusi seperti dikentuti oleh “pemimpin-pemimpin” semacam itu. Jadinya? Revolusi Indonesia menjadi satu revolusi yang oleh seorang Belanda dinamakan “revolutie op drift”, artinya “revolusi yang kintir ke kanan dan ke kiri”.

Saya pada waktu itu cemas sekali. Cemas sekali! Tetapi Alhamdulillah, sebelum kasip, kita “banting-setir”, ke arah jalan Revolusi yang asli. Stop kegila-gilaan! Stop penyeléwéngan! Kembali ke Undang-Undang-Dasar ’45! Kembali ke romantika, dinamika, dialektika Revolusi! Kembali kepada Amanat Penderitaan Rakyat! Kembali! Kembali! Ini Manipol!, obor perjalananmu! Ini USDEK!, tunggak ingatanmu!

Bayangkan kalau umpama tidak lekas-lekas kita banting-setir! Bayangkan kalau tidak lekas-lekas kita kembalikan Rakyat kepada romantik, dinamik, dialektiknya Revolusi! Bencana tentu tak akan ada batasnya! Kehancuran Revolusi di ambang pintu! Saya pada waktu itu berkata dalam pidato 17 Agustus tahun yang lalu:

“Barangkali kita akan makin lama makin jauh op drift, makin lama makin kléyar-kléyor, makin lama makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi dalam lumpurnya muara “exploitation de l’homme par l’homme” dan “exploitation de nation par nation”. Dan sejarah akan menulis : Di sana, antara benua Asia dan benua Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu bangsa, yang mula-mula mencoba untuk hidup kembali sebagai Bangsa, akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa, – kembali menjadi “een natie van koelies, en een koelie onder de naties”. Sungguh Maha Besarlah Tuhan, yang membuat kita sadar kembali, sebelum kasip”.

Demikian kataku pada 17 Agustus tahun yang lalu.

Ya, memang benar sebelum tahun 1959 Revolusi kita pernah “op drift”. Pernah kléyar-kléyor. Pernah kintir tanpa arah. Pernah keblinger puter-puter.

Dan itu karena apa? Karena banyak pemimpin kita, – malah terutama sekali pemimpin-pemimpin yang memakai titel Mr, atau Dr, atau Ir lho! – tidak mengerti arti daripada Revolusi Modern dalam bagian kedua dari abad ke XX, yaitu zamannya imperialisme modern dan kapitalisme monopool. Mereka, pemimpin-pemimpin itu, mengira bahwa revolusi hanyalah: merebut kemerdekaan, menyusun Pemerintah Nasional, mengganti pegawai asing dengan pegawai bangsa sendiri, dan seterusnya: menyusun segala sesuatunya menurut contoh-contoh Barat yang tertulis dalam merekapunya textbooks. Malah kita dicekoki oleh pemimpin-pemimpin semacam itu, bahwa “revolusi sudah selesai”, dan bahwa “kolonialisme-imperialisme sudah mati”!

“Revolusi sudah selesai”, – kata mereka itu! Dengan itu, maka romantiknya Revolusi hendak dimatikan. Dinamiknya Revolusi hendak dimatikan. Pada hal kita harus berkata: Kobar-kobarkanlah terus romantiknya Revolusi, sampai Amanat Penderitaan Rakyat terlaksana! Gempa-gempakanlah terus dinamiknya Revolusi, sampai Amanat Penderitaan Rakyat terlaksana! Tarikkan ke atas terus, ledakkan ke atas terus, lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi, dialektiknya Revolusi, sampai terlaksana Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia dan Amanat Penderitaan Rakyat seluruh dunia, sesuai dengan tuntutan zaman! Marilah kita semua sadar, bahwa Revolusi kita adalah satu “Revolution of Rising Demands”!

Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menuju lebih jauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju kepada Sosialisme! Revolusi Indonesia menuju kepada Dunia Baru tanpa exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation! Bagaimana Revolusi yang demikian ini mau dimandekkan dengan kata bahwa “revolusi sudah selesai”? Bagaimana Revolusi demikian ini dapat dijalankan-terus tanpa romantik, tanpa dinamik, tanpa dialektik?

Nah, apa yang saya ceritakan di atas ini adalah pengalaman beberapa tahun yang lalu: hampir-hampir saja kita keblinger samasekali, hampir-hampir saja kita “op drift” samasekali, hampir-hampir saja kita mati-kutu samasekali, – kalau kita tidak lekas-lekas banting-setir ke jalan-benar kembali -, dan dengan itu memberi kembali kepada Revolusi Indonesia iapunya Romantik, iapunya Dinamik, iapunya Dialektik.

Dengan koreksi banting-setir itu, kita kembali beri kepada Revolusi Indonesia iapunya jurusan, iapunya arah, iapunya direction.

Karena itulah maka pada permulaan pidato ini saya bicara tentang pengalaman di masa yang lampau, dan jurusan untuk masa yang akan datang. Sebagai Pemimpin Besar Revolusi, saya pergunakanlah Podium 17 Agustus ini sebagai Podium yang utama.

Saudara-saudara! Tahun ini adalah tahun 1964. Hari ini adalah 17 Agustus 1964. Menangkapkah saudara simbolik dari 17 Agustus 1964 ini? Menangkapkah, saudara-saudara?

Ingat! 17 Agustus 1959 saya mempidatokan Manipol! Dus 17 Agustus 1964 adalah genap lima tahun umurnya Manipol! 17 Agustus sekarang ini adalah Panca Warsanya Manipol!

Panca Warsa! Selama lima tahun ini Manipol itu digembleng oleh hantaman-hantamannya palu-godam sejarah. Dan oleh karena baja Manipol itu bukan baja sembarang baja, maka jauh daripada patah, jauh daripada hancur, Manipol itu malahan terbukti tahan-uji setahan-tahannya, – ya, Manipol terbukti baja gembléngan dari kwalitas yang setinggi-tingginya!

Aku masih ingat dengan sejelas-jelasnya akan situasi gawat tanah-air kita ketika Manipol lahir. Ya, “lahir” aku katakan, karena sesungguhnya, seperti halnya Pancasila itu bukan ciptaanku pribadi – melainkan aku sekadar menggalinya dari bumi Ibu Pratiwi -, demikianpun Manipol itu bukan ciptaanku pribadi; Manipol lahir dari kandungannya Ibu Sejarah. Sejarahlah ibunya, Manipol jabang-bayinya, sedangkan Rakyat Indonesia yang progresif-revolusioner adalah bidannya. Adapun Sukarno? Sukarno paling-paling bidan-kepala, paling-paling “hoofdverpleger”, dan sekalipun kelahiran itu kelahiran yang susah payah, sekalipun kelahiran itu harus melalui tangverlossing, tetapi syukur alhamdulillah kelahiran itu selamat, dan bayinya segar-bugar sehat-walafiat.

Ya, aku masih ingat dengan sejelas-jelasnya situasi pada waktu “expulsion stage”nya Manipol itu. Jiwa bangsa Indonesia ketika itu, kataku tempohari, seperti terkoyak-koyak, terbelah-belah, terobék-robék. Aku katakan di dalam “Penemuan Kembali Revolusi kita” – yang kemudian diterima oleh segenap bangsa Indonesia, oleh partai-partai politiknya, oleh organisasi-organisasi-massanya, oleh Angkatan Bersenjatanya, oleh aparat Negara seluruhnya, oleh tokoh-tokoh dan putera-puteranya yang terkemuka, ya, oleh segenap Bangsa Indonesia, sebagai Manipol/Garis Besar Haluan Negara/Program Umum Revolusi Indonesia – aku katakan: “segala kegagalan-kegagalan, segala keseratan-keseratan, segala kemacetan-kemacetan dalam usaha-usaha kita yang kita alami dalam periode survival dan investment itu, tidak semata-mata disebabkan oleh kekurangan-kekurangan atau ketololan-ketololan yang inhaerent melekat kepada bangsa Indonesia sendiri, tidak disebabkan oleh karena bangsa Indonesia memang bangsa yang tolol, atau bangsa yang bodoh, atau bangsa yang tidak mampu apa-apa – tidak! -, segala kegagalan, keseratan, kemacetan itu pada pokoknya adalah disebabkan oleh karena kita, sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, telah menyeléwéng dari Jiwa; dari Dasar, dari Tujuan Revolusi!”.

Maka dengan Manipol itulah aku dan kita sekalian, kataku tadi, membanting-setir, menyerukan stop! stop! kepada segala penyeléwéngan, dan menetapkan tekad untuk melangsungkan Revolusi pada ril yang seharusnya, serta melangsungkan Revolusi itu terus, terus, terus sampai pada akhirnya, terus sampai kemenangan yang sepenuh-penuhnya, yaitu suatu Indonesia Baru, suatu Indonesia yang adil dan makmur, suatu Indonesia yang Sosialis, ciptaan tangan dan otak Bangsa Indonesia sendiri.

Inilah sebabnya ketika aku memaklumkan Manipol aku katakan, ya, aku katakan dengan pandangan-kemuka yang kumiliki ketika itu, bahwa “1959 menduduki tempat yang istimewa dalam sejarah Revolusi kita … 1959 menduduki tempat yang istimewa dalam sejarah Perjuangan Nasional kita, satu tempat yang unik!”.

Sekarang, siapa orangnya yang tidak terpengaruh oleh pengaruhnya Manipol!

Kalau ia progresif, siapa orangnya yang tidak dihangati oleh hangatnya Manipol? Dan kalau ia reaksioner, siapa orangnya yang tidak basah-kuyup-kebes-kebes dan lari tunggang-langgang oleh semprotannya Manipol!

Manipol bahkan tidak hanya menggelorakan persada nusantara Indonesia dari Sabang di Baratlaut sampai Merauke di ujung Tenggara, – Manipol juga mempunyai kumandangnya di kelima-lima benua di bola bumi: dipunggung-punggung Himalaya sampai di belantara-belantara Afrika, menjelujuri sungai-sungai di Amerika Selatan dan menyusuri pantai-pantai di Oseania.

Sekarang tak perlu lagi kita membuang-buang energi memperdebatkan apakah Manipol itu benar atau salah, baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan. Memang, sekalipun mayoritas terbesar dari Rakyat kita serta-merta mendukung Manipol, tetapi pada waktu lahirnya, Manipol kita masih mengalami éjékan-éjékan, cercaan-cercaan, celaan-celaan, bahkan maki-makian. Saya masih membiarkan keadaan itu sampai setahun lamanya: ketika suratkabar-suratkabar oposisi-kanan masih saya tolerir, ketika partai-partai oposisi-kanan masih saya biarkan sambil saya amati, saya ikuti, saya awasi. Tetapi dasar mereka kaum reaksioner! Mereka mengira bahwa pembiaran saya itu tanda daripada kelemahan. Lalu mereka makin lama makin tak bisa mengendalikan diri lagi, makin gila-gilaan sakersa-kersanya. Terompet mereka, yaitu pers kuning, meraung-raung sesuka-sukanya, berselang-seling dengan ledakan-ledakan granat dan tembakan-tembakan pistol, malahan mitralyur, dari darat dan dari udara, yang ditujukan kepada diri saya, tetapi yang sesungguhnya tertuju kepada demokrasi dan kemerdekaan itu sendiri. Jangankan percobaan-percobaan yang diperhitungkan kalau-kalau saya “kelimpe” begitu, sedangkan moncong meriam diarahkan ketempat saya, tetapi saya, berkat lindungan Tuhan, tetap tenang, dan saya tolak apa yang harus ditolak, yaitu main fasis-fasisan. Tetapi setahun sesudah Manipol, yaitu ketika aku memaparkan Jalannya Revolusi Kita (Jarek), aku tegaskan bahwa kita “tidak boleh setengah-setengah” dan bahwa “berdasarkan moral revolusioner dan moralnya Revolusi, maka Penguasa wajib menghantam membasmi tiap-tiap kekuasaan, asing maupun tidak asing, pribumi ataupun tidak pribumi, yang membahayakan keselamatan atau berlangsungnya Revolusi”. Maka kunyatakanlah suara hati Rakyat yang menuntut keadilan dan demokrasi, bahwa partai-partai reaksioner Masyumi dan P.S.I. adalah terlarang, maka kuperintahkan pulalah sejumlah suratkabar kuning yang suka awur-awuran, juga terlarang. Tindakan-tindakan ini obyektif memperkuat dan mempersehat Persatuan Nasional.

Dan jangan dikira bahwa manusia Sukarno ini manusia yang “weruh sadurunging winarah”. Jangan dikira Sukarno memiliki ilmu gaib yang begini-begitu! Tidak! Manakala aku meramalkan hal ini atau hal itu, ramalanku itu aku dasarkan pada pemahamanku atas hukum-hukum obyektif sejarah masyarakat. Kalaupun ada “ilmu gaib” yang kumiliki, – itu adalah karena aku kenal Amanat Penderitaan Rakyat, karena aku kenal situasi, dan karena aku kenal ilmu yang kompetent yaitu Marxisme. Maka pada waktu aku memerintahkan pelarangan partai-partai dan suratkabar-suratkabar reaksioner itu, maka aku membayangkan bahwa kaum yang progresif-kiri tentu semakin yakin akan kebenaran Manipol, kaum yang berdiri di tengah atau yang oleh orang Inggeris disebut “midle-of-the roaders” bisa melihat kebenaran politikku, sedang kaum yang kanan tentu menjadi tidak berani lagi untuk terang-terangan memusuhi Manipol. Ya, tidak berani terang-terangan memusuhi Manipol, karena takut kepada penjara, atau takut kepada Rakyat. Dari sinilah asal mula munculnya Manipolis bermuka-dua: Manipolis-munafik, Manipolis-palsu, – Manipolis-gadungan! Maka aku peringatkan di dalam “Jarek” itu: “Salah satu ciri daripada orang yang betul-betul revolusioner ialah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan”. Aku jelaskan juga ketika itu tentang “tiga golongan-besar revolutionnaire krachten” yang “Dewa-dewa dari Kayanganpun tidak bisa membantah kenyataan ini”, dan bahwa dus “samenbundeling daripada tiga golongan-besar revolutionnaire krachten itu adalah keharusan dalam perjuangan anti-imperialisme dan kapitalisme”.Aku waktu itu berkata: “Kita tidak boleh menderita penyakit Islamo-phobi, atau Nationalisto-phobi, atau Komunisto-phobi”, dan “saya membanting tulang mempersatukan semua tenaga revolusioner”, “membanting tulang mempersatukan semua tenaga NASAKOM!”

Apakah ramalanku itu salah? Tidakkah kemudian ternyata bahwa memang ada kaum yang mulutnya kumat-kumit dengan Manipol tetapi praktek-prakteknya mensabot Manipol? Kaum yang mulutnya kumat-kumit dengan Pancasila tetapi praktek-prakteknya mensabot Pancasila? Kaum yang mulutnya kumat-kumit dengan Nasakom tetapi praktek-prakteknya mensabot Nasakom? Dan kalau aku mengecam mereka itu, tidaklah karena aku mengada-ngada, tidaklah karena aku mau “merusak persatuan”, seperti yang dituduhkan setengah orang terhadap diriku. Tidak! Justru mereka itulah yang merusak persatuan, dan justru tindakanku mengecam mereka itulah menyelamatkan persatuan! Sebab, persatuan kita bukan persatuan asal persatuan, persatuan kita adalah persatuannya tenaga-tenaga revolusioner. Maka sungguh menggelikan bahwa ada orang-orang yang mengakunya “menyebarkan ajaran Sukarno”, tetapi menganjurkan hanya “samenbundeling van alle krachten” saja. Lihatlah!, – bukan “samen-bundeling van alle revolutionnaire krachten”, tetapi mereka sekadar mengatakan “samenbundeling van alle krachten”! Yang dikorup “hanya” perkataan revolusioner, artinya, yang dikorup adalah justru jiwa daripada jiwa ajaran Revolusi!

Kadang-kadang kalau aku duduk seorang diri, atau juga kalau aku berhadapan dengan orang-orang yang aku tahu dasarnya munafik (aku cukup sering bertemu dengan orang-orang demikian) aku bertanya di dalam hati: Apa sebetulnya yang membikin mereka begitu membandel dan berkepalabatu? Apakah yang memberanikan mereka membikin penafsiran-penafsiran yang semau-maunya atas pidato-pidatoku? Apakah mereka mengira bahwa apa-apa yang mereka ucapkan di depan umum itu tidak sampai ke telingaku? Apakah mereka mengira aku tidak membaca koran, tidak mengikuti siaran-siaran Radio dan Televisi? Apakah mereka mengira bahwa apabila mereka main bisik-bisik dan pas-pis-pus dalam pertemuan-pertemuan yang konspiratif, tidak ada di antara yang diajak konspirasi itu yang setia kepada Pemimpin Besar Revolusi, dan melaporkan segala sesuatunya kepada Pemimpin Besar Revolusi?

Aku tahu, sebelum aku mengucapkan pidatoku yang sekarang ini, komplotan-komplotan itu sudah membicarakan – seperti kaum imperialis sudah membicarakan – “apa gerangan yang akan dipidatokan oleh Sukarno si ahli-demagogi itu?”. Ya, mereka mengéjék aku sebagai “ahli-demagogi”. Tetapi, dengan éjékannya itu mereka sebenarnya bukannya menipu orang lain, – mereka sebenarnya menipu diri mereka sendiri! Mereka tidak percaya kepada éjékan-éjékan mereka sendiri, ini terang! Sebab kalau mereka percaya, kalau aku memang hanya seorang “ahli-demagogi” saja, kenapa kalian takut kepada pidato-pidatoku yang toh “cuma demagogi”? Neen Meneer, kalian takut akan kebangkitannya massa yang tentu saja beraksi atas anjuran-anjuranku untuk bermassa-aksi! Kalian takut kepada Rakyat, sebab kalau Rakyat tahu bahwa kalian munafik, tentu kalian akan diganyang oleh Rakyat!

Katakanlah aku “ahli-demagogi”, katakanlah aku “ahli-fraseologi”, tetapi yang pasti ialah aku bukan ahli-pura-pura, Sukarno tidak pernah “pura-pura”, Sukarno tidak pernah “schijnheilig”. Salah satu tuntutan bagi kaum revolusioner adalah sifat terus-terang, sifat berani mengatakan apa yang harus dikatakan, “mendumuk” apa yang harus “didumuk”. Inilah sebabnya aku sekarang sinyalir terang-terangan adanya kaum yang plintat-plintut atau plungkar-plungker dengan Manipol, kaum yang pertentang-perténténg dengan Manipol. Dan ada juga kaum yang mau “mengagul-agulkan” atau “melanggengkan jasanya”, kaum yang “membusungkan dada”. Ya, memang ada orang-orang yang kepalanya menjadi besar, sangat besar sampai-sampai hampir pecah, yang menyangka bahwa nasib Indonesia ini “ada di dalam tangannya”, yang mengira Indonesia “tak bisa hidup tanpa mereka”, yang menganggap dirinya “Presdir” Republik, yang mengharap-harap – ya, aku terang-terangan saja – “kalau Sukarno mati, biar aku jadi Presiden atau Raja Indonesia” …

Apa yang bisa aku katakan? Aku hanya mau mengatakan ini: kalian menghina Rakyat Indonesia, kalian meremehkan kesadaran politik Rakyat Indonesia! Sebab, orang boleh mencibirkan bibir bahwa Revolusi Indonesia belum menyelesaikan tugas ini atau belum merampungkan kewajiban itu, tetapi orang tidak bisa mengenak-enakkan diri, orang can never draw comfort dari anggapan bahwa Rakyat Indonesia bisa ditundukkan! Di Amerika-Latin kudéta yang satu bisa disusul oleh kudéta yang lain, terkadang tanpa ikut-sertanya samasekali Rakyat dalam aksi-aksi itu. Di Afrika pergolakan sekarang memang hebat, tetapi pergolakan itu boleh dibilang baru mulai. Di tetangga kita yang menyebut dirinya “Malaysia”, boneka-boneka imperialis masih bisa menongkrongi singgasana kekuasaan. Tetapi di Indonesia – ini bukan menyombongkan diri – Rakyatnya sudah banyak makan garam perjuangan, sudah banyak berpengalaman, setidak-tidaknya pengalamannya sudah sangat lumayan, sedang tingkat kesadaran maupun tingkat keterorganisasian kaum buruh dan kaum taninya amat tinggi. Apa saja yang tidak sudah kita alami! Pengadilan kolonial, bui kolonial, poenale-sanctie, tanah-pembuangan, tiang-penggantungan? Sudah! Militerisme fasis? Sudah! Agresi-agresi kolonial? Sudah! Intervensi dan subversi imperialis? Sudah! Kontra-revolusi? Sudah! Dan dalam melawan segala kemaksiatan itu kita mengkombinasikan “akal” dengan “okol”, taktik-taktik perjuangan dengan penyusunan kekuatan, kerja legal dengan kerja ilegal, perang gerilya dengan perang frontal, diplomasi dengan konfrontasi. Rakyat yang punya pengalaman begini di balik punggungnya, Rakyat gembléngan macam ini tak mudah dikalahkan, Rakyat otot-kawat-balung-wesi macam ini tak bisa dikalahkan! Di Indonesia yang Rakyatnya adalah Rakyat baja-tempaan-baja-gembléngan ini, hanya usaha-usaha yang progresif sajalah yang bisa berhasil. Sedang usaha-usaha, langkah-langkah dan aksi-aksi yang bertentangan dengan hukumnya sejarah bukan saja bisa gagal, tetapi pasti gagal. Pasti gagal! Yo opo ora, Rék! Pasti gagal! Kalau mau berenang di lautan, orang harus tahu hukumnya laut! Orang bisa bunuh diri dengan menentang hukumnya laut, tetapi orang tidak bisa membunuh hukumnya laut! Orang tak bisa membunuh hukum Sejarah, orang tak bisa membunuh hukum Revolusi!

Apa hukum-hukum Revolusi itu? Hukum-hukum Revolusi itu, kecuali garis-besar romantika, dinamika, dialektika yang sudah kupaparkan tadi, pada pokoknya adalah:   .....selanjutnya>>

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 211 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar