Home » 2016 » November » 29 » Tahun Tantangan (A Year of Challenge)
3:29 PM
Tahun Tantangan (A Year of Challenge)

<<sebelumnya.....  En toh, rupanya, dunia Barat, atau lebih tegas: elemen-elemen kolonialis-imperialis dari dunia Barat, mau main-mainan dengan Kereta Jagarnathnja Sejarah itu! Mereka menentang, sedikitnya selalu menjelek-jelekkan, segala apa saja yang timbul mencari realisasi di Asia-Afrika itu. Mereka menentang pertumbuhan di Indonesia. Mereka menentang pertumbuhan di Mesir, mereka menentang pertumbuhan di lain-lain negara Arab. Cannot they realise that history is against them? Apakah mereka tak mau mengerti, bahwa sejarah menentang mereka? Mereka mengingatkan saya kepada itu anak Belanda dari ceritera-dongengan, yang hendak menahan jebolnya gili-gili dengan menutup lobang dalam gili-gili itu dengan jari-tangannya. Lima meter dari tempat anak itu, gili-gili jebol, dan anak itu mati klelep di dalam banjir yang membandang.

Alangkah baiknja jikalau dunia Barat mengerti, bahwa nasionalisme Asia adalah satu kepastian sejarah, satu historisch phenomeen, dan bahwa nasionalisme Asia itu pasti sedikitnya bermuka dua. Kami tidak minta dibantu, kami hanya minta dimengerti dan dibiarkan, Biarkanlah kami mencari kepribadian sendiri. Biarkanlah kami bertumbuh secara kodrat kami sendiri. Tetapi apa yang kami alami? Kami selalu diganggu, kami selalu ditentang, kami selalu dihalang-halangi. Dunia Barat rupanya mengira, bahwa adalah kewajiban mereka untuk membuat kami ini seperti mereka. Dengan demikian, maka antara Barat dan Asia selalu ada ketegangan-ketegangan dan konflik-konflik. Malah pernah terdjadi perang panas antara Barat dan Mesir, dan sekarang hantu peperangan itu mengintai pula di lain tempat. Sebabnja ialah kurang pengertian di dunia Barat tentang hakekatnya nasionalisme di Asia atau Afrika.

Sudah diketahui oleh umum bahwa kami selalu menganjurkan koeksistensi antara blok komunis dan blok anti komunis, dan memang kami tidak mau masuk sesuatu blok di antara dua itu. Kami punya politik adalah politik bebas yang tidak mau mengikatkan diri. Kami punya politik ialah politik “menyusun kepribadian sendiri”. Biarkanlah kami menjalankan politik yang demikian itu. Tetapi, sekali lagi, apa yang kami alami? Bukan dibiarkan, bukan dimengerti, tetapi selalu diogrok-ogrok, selalu diejek-ejek, sering “disubversif”, kadang-kadang diserang terang-terangan. Zonder tèdèng-aling-aling saya katakan: akhirnya nanti yang rugi bukan kami, tetapi Tuan! Baik kami maupun Tuan, kedua-dua kita ini tak dapat melepaskan diri dari Sejarah. “One cannot escape history”, demikianlah bunyi suatu ucapan. Kami tak dapat “escape history”, Tuanpun tak dapat “escape history”. Tetapi history kami dan history Tuan adalah berlainan! Kami tak dapat escape history bahwa kami akan bertumbuh terus menjadi bangsa-bangsa yang besar dan sejahtera. Tuan tak dapat escape history bahwa kolonialisme dan imperialisme Tuan akan ditentang enyah samasekali dari Asia dan Afrika!

Sebaiknya, janganlah kita mengganggu satu-sama-lain! Kami selalu menganjurkan koeksistensi antara blok komunis dan blok anti komunis, – sekarang kami juga menganjurkan koeksistensi antara kami dan Tuan-tuan: Koeksistensi antara blok-bersenjata dan Negara-negara yang berpolitik bebas. Koeksistensi antara Barat dan Nasionalisme Asia.

Konperensi Asia-Afrika tempo hari mewakili 1.600.000.000 orang, lebih separoh dari jumlah manusia di muka bumi. Kalau dipotong jumlah rakyat R.R.T. pun, Konperensi Asia-Afrika itu masih mewakili 1.000.000.000 orang! Konperensi pertama itu belum disusul dengan Konperensi yang kedua, tetapi janganlah mengira bahwa nasionalisme bangsa-bangsa Asia-Afrika telah mandek. Tidak! Nasionalisme bangsa-bangsa Asia-Afrika itu malah bertambah hebat di mana-mana, bertambah menyala dan berkobar-kobar di mana-mana. Lihat di Aldjazair, lihat di Tunisia, lihat di Mesir, lihat di Libanon, lihat di Yaman, lihat di Ceylon, lihat di Indonesia, lihat di tempat lain-lain! Ini adalah satu kenyataan sejarah, satu historisch phenomeen kataku tadi, yang tak dapat diingkari oleh sinpapun juga: 1.000.000.000 manusia, kalau tidak 1.600.000.000 atau 1.700.000.000 manusia, hatinya menyala-nyala karena Apinya satu Ide! Belum pernah sejarah dunia mengalami phenomeen seperti ini! Phenomeen-phenomeen lain di zaman dahulu, hanyalah meliputi puluhan juta manusia saja, atau paling-paling ratusan juta manusia, – tetapi “phenomecn Asia-Afrika” ini meliputi lebih dari satu setengah milyar jiwa manusiua!

Bertrand Russell pernah menulis, bahwa di dalam sejarah manusia adalah dua dokumen historis yang sampai sekarang menguasai alam-hati dan alam-fikirannya bagian-bagian besar dari umat-manusia, dan yang bersaingan hebat satu-sama-lain. Dua dokumen historis itu ialah “Declaration of Independence” Amerika tulisan Thomas Jefferson, dan “Manifes Komunis” tulisan Karl Marx.

Bertrand Russell mengharap supaya kompetisi antara potensi yang dibangunkan oleh dua dokumen historis itu jangan di-beslecht di medan peperangan, tetapi hendaknya di-beslecht di medan penyelenggaraan kesejahteraan manusia, “Silahkan berkompetisi, di medan penyeleng-garaan kesejahteraan manusia, bukan di medan pertempuran, – siapa yang unggul, dialah yang lebih baik, siapa yang ternyata lebih baik, dialah yang unggul”.

Saya setuju dengan harapan Earl Bertrand Russell itu, dan itulah memang sebabnya kami selalu menganjur-anjurkan koeksistensi antara komunis dan anti komunis. Tetapi ada satu hal yang dilupakan Earl Russell, dan yang saya minta diperhatikan oleh seluruh dunia Barat sekarang ini: Bukan dua potensi sekarang mengisi dunia, tetapi tiga!

Potensi ketiga itu ialah potensinya Nasionalisme di dunia Timur!

Terutama sekali sesudah Perang Dunia II, maka nasionalisme di dunia Timur itu menjulang setinggi langit. Sesudah perang-dunia II itu, apa yang sering saya sebutkan “Sturm über Asien” benar-benar meliputi seluruh bangsa-bangsa Timur, dan kadang-kadang malah benar-benar mentaufan dan membadai. Kini ia telah menggelorakan jiwa satu setengah milyar orang! Tak dapat sejarah sesuatu bangsa kulit berwarna kini ditulis, zonder menulis tentang nasionalisme itu.

Dan sekarang perhatikan: berlainan dengan dua potensi yang lain itu, yang tentang-menentang satu-sama-lain, kadang-kadang hampir menerkam satu-sama-lain, maka potensi ketiga ini sebenarnya tidak bermusuhan dengan siapapun juga. Ia hanya minta diakui, minta dimengerti, minta jangan diganggu-gugat. Jika ia diakui, dimengerti, tidak diganggu-gugat, maka ia akan menjadi sumbangan sebesar-besarnya kepada kesejahteraan-dunia dan perdamaian dunia. Tetapi manakala ia dimusuhi atau ditentang, ia akan mampu membangkitkan daya-pertahanan diri yang ”nggegirisi”. Siapa mengganggu-gugat kepadanya, memusuhi kepadanya, hendak menindas kepadanya, untuk mempertahankan kepentingannya atau mempertahankan susunan dunia sebelum Perang Dunia II, – ia tentu akan terbentur kepada perlawanan suatu maha raksasa yang mungkin satu-dua-kali dipukul rebah, tetapi selalu akan bangkit kembali dan bangkit lagi kembali, dengan selalu bertambah kekuatannya berganda-ganda kali.

Di samping itu, maka nasionalisme di dunia Timur yang anti kolonialisme dan imperialisme itu, mempunyailah banyak “simpatisan-simpatisan” dari kalangan bangsa-bangsa progresif. Karena dua sebab itulah, maka tiap-tiap tindakan subversi, tiap-tiap tindakan intervensi, tiap-tiap tindakan agresi di daerah nasionalisme Timur ini sebenarnya adalah sama dengan bermain api!

Karena itulah, maka berkenaan dengan kejadian-kejadian di Libanon dan Jordan, kita mendesak supaya tentara Amerika dan Inggeris lekas ditarik dari daerah-daerah itu. Lekaslah tarik tentara-tentara asing itu, karena tiap-tiap pendudukan oleh tentara asing, dari manapun asalnya, dan di manapun dijalankan pendudukan itu, selalu menimbulkan insiden-insiden besar-kecil yang tidak diharapkan. Lekaslah tarik tentara asing itu, karena jika tidak ditarik, itu berarti main dengan api !

Bangsa Indonesia, yang herboren (lahir lagi) dalam api-keramatnya nasionalisme itu, dan sedar pula bahwa ia adalah satu bagian daripada “dunia baru yang berjoang untuk lahir”, – “the dawning new world which is struggling to be born” – , bangsa Indonesia berdiri amat simpatik terhadap pertumbuhan nasionalisme yang wajar di mana-mana tempat. Dan justru oleh karena nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme Pancasila, maka bangsa Indonesia aktif bekerja untuk mempertahankan perdamaian dunia dan aktif bekerja untuk terselenggaranya perdamaian dunia. Seluruh hati bangsa Indonesia menggetar memohon kepada Tuhan, supaya janganlah hendaknya di sesuatu tempat di muka bumi ini ada percikan api. Sebab sebahagian daripada dunia ini sebenarnya sudahlah menjadi satu gudang mesiu yang maha-maha-besar. Sesuatu percikan api mungkin mengenai timbunan mesiu itu, dan akan meledaklah mesiu itu menggeledek-mengguntur-menghalilintar lebih hebat daripada seribu geledek dan seribu guntur. Sudahkah manusia di dunia ini begitu mata-gelap untuk meriskir seluruh umat-manusia mengalami kebinasaan total, – mengalami “total destruction”?

Di sinilah tempatnya aku mengajak kepada seluruh dunia untuk mengadakan “think” dan “rethink” tentang bermacam nilai dan norma-norma yang terdapat di segala macam sistim-falsafah dan teori politik yang berada hingga kini, agar supaya sistim-sistim-falsafah dan teori-politik itu dapat seiring berkembang dan bertumbuh, selaras dengan kemajuan ilmu-pengetahuan tehnik yang sekarang ini begitu menggemparkan. Sistim-sistim-falsafah dan teori-teori-politik itu lahir dalam masa yang telah usang, yang pada waktu itu misalnya belum ada ilmu atom. Sistim-sistim falsafah dan teori-teori-politik itu lahir dalam zamannya mesin uap dan paling-paling mesin listrik, zamannya trem-kuda dan sepur-kelutuk. Tetapi zaman kita sekarang ini adalah zamannya pesawat yet dan pesawat rocket, zamannya pesawat atom, zamannya ilmu nuclear, zamannya senjata-senjata hydrogen, zamannya guided missiles, zamannya explorer dan sputnik, zamannya kemungkinan hubungan inter-planeter dengan bulan dan bintang-bintang, – zaman, yang uap dan listrik dianggap sebagai barang usang yang pantas ditertawakan, sebagaimana kita mentertawakan bedil sundut di zamannya bren, atau mentertawakan makan-sirih di zamannya lipstick.

Tidak sudah datangkah saatnya kita umat manusia “think” dan “rethink” sistim-sistim-falsafah dan teori-teori-politik yang lahirnya di dalam zaman usang itu, tetapi yang masih saja kita pakai dalam zaman atom yang penuh dengan ancaman petir dan halilintarnya peperangan atom dan ancaman malam-gelap-gelitanya total destruction, – dan mencoba menemukan sistim falsafah atau teori politik baru yang dapat membawa kita lebih dekat kepada perdamaian-dunia dan keselamatan-keselamatan-kesejahteraan semua manusia yang kita cita-citakan?

Ini adalah kewajiban semua bangsa, sebab sejarah sekarang ini bukanlah lagi sejarahnya bangsa ini atau bangsa itu, melainkan sejarahnya seluruh Kemanusiaan, oleh karena seluruh umat manusia sekarang ini telah terikat satu-sama-lain dalam satu Nasib Bersama, – terikat satu-sama-lain dalam satu “common fate”.

Bagi kita bangsa Indonesia, kita merasa berbahagia bahwa kita, dalam perjoangan nasional kita yang telah limapuluh tahun itu, – perjoangan nasional 50 tahun yang tempo hari juga saya gambarkan sebagai “satu perjalanan mencari kembali Kepribadian kita sendiri” -, telah menemukan sistim-falsafah atau teori-politik yang menjamin perdamaian dunia dan keselamatan kesejahteraan semua manusia itu, yaitu Pancasila dengan lima silanya yang telah termasyhur di dalam dan luar negeri.

Sekali lagi, kepada seluruh umat-manusia, kepada pemimpin-pemimpin di semua negara, kepada pemikir-pemikir semua bangsa, saya anjurkan think and rethink dan merenungkan: adakah sistim-sistim-falsafah atau teori-teori-politik usang yang Tuan-tuan pakai itu membawa manusia lebih dekat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan dan keamanan, – ataukah membawa manusia lebih dekat kepada ketidakbahagiaan, ketidaksejahteraan, ketidakamanan, ketidak-selamatan? Jikalau benar analisa saya bahwa dunia manusia sekarang ini hidup dalam suasana-takut yang terus-menerus, jikalau benar apa yang saya katakan di Amerika tempo hari bahwa “mankind now lives in constant fear”, – maka datanglah saatnya sekarang ini kita mengadakan introspeksi (melihat ke dalam) secara sungguh-sungguh. Waktu belum terlambat, sebab walaupun hantu maut sudah mendekam di tepi langit, belumlah Api membakar dan mengamuk alam semesta!

Saudara-saudara! Kita sekarang hendak memasuki tahun yang keempatbelas daripada Revolusi kita. Berkat Tuhan, kita masih berdiri tegak, dan jikalau dibandingkan dengan tahun 1957, kita sekarang lebih maju. Di dalam tahun 1957 banyaklah negara yang menamakan Republik kita ini “the sick man of South-East Asia” – orang sakit di Asia Tenggara. Untuk mengatasi itu, kita harus mengadakan tindakan-tindakan dengan mengambil keputusan-keputusan tanpa ragu-ragu. Berhubung dengan itulah saya menamakan tahun 1957 itu “tahun penentuan”, – a year of decision.

Penyakit-penyakit kita hanya dapat kita sembuhkan dengan obat-obat yang radikal dan jitu, yang harus kita ambil dengan keberanian dan ketetapan hati. Pada waktu menamakan 1957 itu satu tahun penentuan, maka saya berkata:

“Saudara-saudara, camkan: – ini adalah tahun penentuan. Ini adalah “year of decision”. Tenggelamkah?, atau terus hidupkah? Kalau kita terus-menerus lupa diri secara begini, saya khawatir, hari-gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani. Berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan apa yang lama, berani memasuki apa yang baru. Yang lama sudah nyata koyak, sudah nyata robek, sudah nyata menghambat kemajuan dan membangkitkan kerewelan saja. Kita harus tidak ragu-ragu lagi melangkahi garis-teluh yang memisahkan yang lama dari yang baru. Kita sudah sampai kepada satu titik, darimana kita tidak bisa balik kembali. Kita sudah sampai kepada “point of no return”. Kita hanya tinggal satu pilihan lagi: mundur?, mandek?, atau maju? Mundur-hancur! Mandek-amblek! Maka hayo kita maju, hayo kita tinggalkan apa yang lama, memasuki apa yang baru!”

Demikian kukatakan setahun yang lalu. Alhamdulillah, di beberapa lapangan kita telah berani mengambil keputusan-keputusan. Sikap “tak tabu apa yang harus diperbuat” sudah mulai kita tinggalkan. Dan ternyata keputusan-keputusan yang tepat, yang disambut baik oleh kalangan Rakyat. Rakyat kita memang ingin maju secara serentak. Kesedarannya ber-Negara, kesedarannya tentang demokrasi terpimpin, kesedarannya mengidamkan demokrasi ekonomi, kesedarannya mengidamkan Dunia Baru, nasional dan internasional, sudah makin mendalam dan sudah begitu mendalam, hingga kemajuan dalam keempat lapangan ini harus ditumbuhkan dan dilayani secara serentak. Para pemimpin harus menyedari hal ini sedalam-dalamnya, kalau mereka tidak mau digiling-digilas oleh mesin-gilasnya massa. Rakjat 1958 sekarang sudah lebih sedar. Sebab, oleh karena kita berani bersikap tepat dan tegas, maka problematik kita sekarang ini lebih “gekristalliseerd”, lebih nyata dan terang garis-garisnya, lebih “gamblang ceto wélo-wélo”, tidak lagi terjalin-jalin, tidak lagi remeng-remeng, tidak lagi tak terang mana yang putih mana yang hitam, tidak lagi tak terang siapa kawan siapa lawan, tidak lagi tak terang siapa yang setia dan siapa pengkhianat, tidak lagi mengandung teka-teki bagi Rakyat. Rakyat 1958 kini telah lebih mengerti siapa pemimpin sejati, dan siapa pemimpin anteknya asing. Rakyat telah lebih mengerti siapa pemimpin pengabdi Rakyat dan siapa pemimpin gadungan. Jikalau ada sesuatu hal yang kurang menyenangkan, maka Rakyat kini lebih mudah dapat membeda-bedakan, mana yang disebabkan oleh kepalsuan atau ketololan pemimpin, dan mana yang memang inhaerent dengan jalannya sesuatu revolusi atau inhaerent dengan pertumbuhan sesuatu Negara yang masih muda. Dengan demikian maka Rakyatpun lantas dapat memilih, mana yang harus dicontoh dari luar-negeri, mana yang harus diselesaikan dengan formule Indonesia sendiri.

Ya, saya kata tahun 1958 adalah tahun yang lebih maju! Cobaan-cobaan di tahun yang lalu malah boleh dianggap rahmatnya Tuhan! Dalam tahun 1957 Indonesia dinamakan “the sick man of South East Asia”, dicemooh orang di luar-negeri, diejek dan ditertawakan kanan-kiri. Dan memang kita di waktu itu sakit. Sekarang kita telah mengatasi krisisnya penyakit itu, dan kita sekarang mulai dihargai orang di dunia luar. Kalau kita terus berani bersikap begini, maka penyakitnyapun nanti akan dapat diatasi samasekali. Dan bolehlah kita nanti memandang lagi bintang-bintang di langit!

1957! Mungkin orang luar menamakan tahun itu “the year of the sick man”, – tahunnya si-orang sakit. Saya namakan tahun 1957 itu “the year or decision”. Nama apakah yang harus saya berikan sekarang kepada tahun 1958 ini?

Tahun 1958! Dalam tahun 1957 kita menderita sebuah bisul besar di kita punya tubuh, sebuah bisul kanker yang “mêntêng-mêntêng” , bisul kanker-jahat-maha-jahat yang berisi bermacam-macam virus yang amat jahat, yang hendak meracuni seluruh tubuhnya bangsa dan Negara, yaitu virusnya kepetualangan, virusnya pengkhianatan, virusnya mempermainkan pusat, virusnya sinisme, virusnya liberalisme politik dan liberalisme mental, virusnya kesukuan yang diruncing-runcingkan, virusnya egosentrisme, virusnya warlordism, virusnya ultra-multi-party system, virusnya dagang-sapi, virusnya keliaran-jiwa juga di kalangan pemuda, virusnya subversi kasar-kasaran dan halus-halusan, virusnya diplomasi yang hendak membuat kita satu bangsa bèbèk yang kehilangan samasekali kepribadian. Awas!, kataku pada waktu itu, bertindaklah tepat dan cepat, janganlah ragu-ragu, jangan télé-télé seperti orang hilang-akal, – kita akan binasa nanti samasekali kalau keadaan kita biarkan terus begini macam! Alhamdulillah, kita kemudian sedar! Pada permulaan tahun 1958 bisul kanker itu njebrot, kita adakan operasi dengan tidak ragu-ragu dan tegas, dan sekali lagi Alhamdulillah, krisis sekarang sudah kita atasi. Dan kita harus bertindak terus, dengan tidak berbalik di tengah jalan, bertindak terus pula di lapangan “retooling for the future”, – retooling materiil-mental di segala lapangan -, sungguh kita tidak boleh balik lagi kembali ke sikap beku dan ragu-ragu seperti dulu, dan Insya Allah, hari depan tidak akan gelap.

Nama apa yang harus saya berikan kepada tahun 1958? What is in a name! Sejarah adalah satu rantai panjang, yang tidak saban tahun mengenal satu datum untuk memarkir: “di sebelah sini adalah hari kemarin, di sebelah sana adalah hari besok”. Dan tugas kita, tidak pula bisa berkata: “sampai hari ini tugas kita semacam ini, mulai besok pagi tugas kita semacam itu”. Tahun 1958 adalah kelanjutan daripada tugas tahun 1957.

Cobalah dengarkan sekali lagi sebagian daripada amanat saya tahun yang lalu: “Kalau kita terus-menerus lupa diri secara begini, saya khawatir, hari gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani … Berani meninggalkan apa yang lama, berani memasuki apa yang baru. Kita harus tidak ragu-ragu lagi melangkahi garis-teluh yang memisahkan yang lama dari yang baru … Kita sudah sampai kepada “point of no return” … Hayo kita tinggalkan apa yang lama, memasuki apa yang baru!” Tiap-tiap kalimat, tiap-tiap kata daripada amanat 1957 itu masih berlaku penuh bagi hari sekarang. Sekarangpun saya masih berkata: “Jangan ragu-ragu! Tinggalkanlah apa yang lama, masukilah apa yang baru!”

Kalau tahun 1957 saya namakan “tahun penentuan”, “tahun ‘keputusan”, “a year of decision”, maka sebenarnya tahun 1958 pun masih “tahun penentuan”, “tahun keputusan”, “a year of decision”. 1957 hanyalah salah satu saja daripada beberapa tahun yang menentukan. 1957 hanyalah salah satu saja daripada beberapa “years of decision”. Sebab pertumbuhan dan perpindahan itu memang bukan satu proses yang hanya satu tahun! Tiap-tiap bangsa dalam masa pertumbuhan, putihkah kulitnya atau kuningkah kulitnya, hitamkah warnanya atau sawo-matangkah warnanya, dalam masa pertumbuhannya niscaya mengalami waktu-waktu yang menentukan, – mengalami “decisive periode”, – yang menentukan kemajuan atau kemacetan, kejayaan atau breakdown samasekali.

Dalam keadaan demikian, maka fikiran-fikiran beku yang ngamplok saja kepada segala macam kebiasaan-kebiasaan, fikiran-fikiran beku yang bersifat “conventional thought”, hanya akan menimbulkan keragu-raguan belaka; Dan tiap-tiap keraguan tak mungkin dapat mengatasi keadaan-keadaan yang genting. Tiap-tiap keraguan malahan membuat keadaan genting menjadi makin genting.

Wise in judgement, original in thought, resolute in action”, – bijaksana dalam menimbang, orisinil dalam fikiran, tegas dan tangkas dalam tindakan -, itulah kombinasi yang dapat mengatasi pergolakan dalam pertumbuhan nasional. Karena itulah maka saya menganjurkan adanya jiwa yang tangkas dan dinamis. Jiwa yang tidak takut kepada perobahan. Jiwa yang berani mengadakan perobahan kalau perlu. Jiwa yang berani think-and-rethink, berani shape-and-reshape, berani make-and-remake. Jiwa yang berani terjun ke dalam lautan bergelora, untuk menyelam mencari mutiara!

Janganlah takut kepada “persoalan”. Dalam tiap-tiap bangsa yang sedang dalam pertumbuhan dan perpindahan, maka tiap-tiap kemujuan akan menimbulkan persoalan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnya takut kepada kemajuan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnya beku, ia sebenarnya konservatif, ia sebenarnya takut inisiatif.

Jangan sekali-kali kita berbalik lagi! Jangan sekali-kali kita ragu-ragu! Jangan sekali-kali kita tidak mempunyai keberanian meneruskan usaha kita membuang apa yang lama, membongkar apa yang bobrok, menyudèt-mencuci-bersih sisa-sisa kanker yang bervirus macam-macam yang meracuni tubuh kita itu, menancepkan dalam tubuh kita jarum-jarum-injeksi yang perlu, – menggodok-menempa-menggembleng-kembali tubuh kita itu dengan segala senjata yang diperlukan, laksana penggodokan-penggemblengan tubuhnya Bambang Tutuka dengan segala macam senjata dewata dalam kawah Candradimuka, sehingga akhirnya ia keluar dari kawah itu sebagai Gatutkaca yang Maha-Sakti. Konkritnya, punyailah keberanian – janganlah ragu-ragu – untuk mengadakan pemikiran-baru dan tindakan-tindakan-baru di segala lapangan sebagai usaha “retooling for the future” untuk memenuhi tuntutan penyongsongan kepada tantangan-tantangan politik sosial dan nasional-internasional sebagai yang saya terangkan di muka tadi, – penyongsongan kepada tuntutan “double-faced revolution” yang kini telah menjadi satu challenge maha-dahsyat yang makin nyata.

Dus, nama apa buat tahun 1958? Sekali lagi jawab saya: What is in a name, – apa arti sesuatu nama! Tetapi jikalau toh saya harus beri nama pada tahun 1958 itu, baiklah saya beri nama “Year of Challenge” kepadanya: Tahun Tantangan, tahun menjawab tantangan!

Sebab, memang 1958 adalah penuh dengan tantangan: tantangannya pemberontakan P.R.R.I.-Permesta, tantangannya D.I.-T.I.I. yang masih saja belum tertumpas, tantangannya “aksi-jalan-lain” Irian Barat, tantangannya kemungkinan Perang-Dunia III karena situasi Timur-Tengah, tantangannya subversi-intervensi-agresi asing, dan terutama sekali intern: tantangannya menghindarkan bangkrutnya Negara yang hanya bisa kita selamatkan dengan memenuhi “double-raced-revolution” atau “many-faced-revolution” yang memang makin hari makin dituntut oleh Rakyat, dan yang hanya dapat diselenggarakan dengan pembangunan menurut planning, talak tiga kepada liberalisme, melaksanakan demokrasi terpimpin, penyederhanaan kepartaian, kelanjutan likwidasi K.M.B. secara konsekwen, dan lain sebagainya. Dalam suasana tantangan-tantangan itu kita tidak boleh setengah-hati. Kita harus resolut. Kita harus berani, juga berani sedikit “main judi”. Dalam istilah Vivekananda: berani terjun ke dalam samodera-bergelora yang kita tidak kenaI dasarnya, dalam istilah seorang pemimpin besar lain: berani “face life in a rather adventurous way”.

Dan kita harus menggemblèng kembali Persatuan. Dalam masa tantangan-tantangan seperti sekarang ini, lebih daripada di masa-masa yang lampau, kita harus menggemblèng kembali Persatuan. Saya anjurkan persatuan ini berkali-kali dan berpuluh-puluh-kali meski saya tahu bahwa ada saja orang-orang di kalangan kita yang mengèjek, dan mengatakan bahwa persatuan adalah “hobby-nya Sukarno”. Biar saya dièjèk, – kulit saya ini toh sudah “kapalan” karena dièjèk. Tentang nasionalisme Indonesia dan Asia saya dièjèk, tentang aksi Irian Barat saya dièjèk, tentang Persatuan saya dièjèk. Biar mereka mengèjèk sampai mulutnya meniran; Persatuan bukan “hobby-nya Sukarno”. Saya gandrung Persatuan, oleh karena Persatuan adalah tuntutan sejarah. Pertentangan tetek-bengek antara kita dengan kita, terutama sekali antara sesama pendukung Pemerintah, hendaknya ditundukkan kepada kepentingan yang Besar, yaitu Menyelamatkan Republik.

Nah, saudara-saudara! Tinggal beberapa detik lagi, maka nanti mulailah tahun keempat-belas daripada kita punya Revolusi. Mari kita berjalan terus dengan tekad baru dan pandangan –pandangan baru di dalam kita punya dada, berjalan terus, dengan mata kita diarahkan ke muka.

Jangan terlalu menoleh ke belakang! Ya, di zaman purbakala memang kita ini sering mengalami puncak-puncak kejadian yang besar, yang pantas menjadi kita punya kebanggaan. En toh, jangan terlalu sering kita menoleh ke belakang, jangan kita terlalu “teren” kepada zaman kebesaran yang telah lampau. Menoleh ke belakang hanyalah boleh sekedar untuk menghirup inspirasi-inspirasi bagi perjoangan yang sedang berjalan.

Ada tiga-puncak-kejadian di sejarah kita yang lampau, yang amat gilang-gemilang. Pertama tatkala Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan palapa sebelum seluruh Nusantara disatupadukan dalam satu Negara. Kedua tatkala Diponegoro, di sinar api kebakaran rumahnya yang dibakar oleh musuh, mengajak mendirikan satu rumah baru yang lebih besar, yaitu Rumah Besar bagi seluruh bangsa. Ketiga tatkala kita pada 17 Agustus 1945 mengadakan Proklamasi.

Ambillah inspirasi daripada puncak-puncak-kejadian ini untuk berjalan, berjoang, membanting tulang, bertempur di mana perlu, tetapi janganlah duduk enak-enak di kursi sambil “teren” kepada kebesaran atau kejantanan atau keharimauan yang telah lampau itu. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dan lebih mencelakakan bagi sesuatu bangsa, daripada duduk nggelenggem-ayem-ayem, enak-enak di atas bantal, sambil memakan warisan daripada leluhurnya yang telah mangkat. Yang membuat sesuatu bangsa bertumbuh dan menjadi besar ialah: usaha, keringat, dinamika, pembantingan-tulang, perjoangan, aktivitas yang kreatif, inventif, dan vital. Bangsa yang duduk termenung, – meski leluhurnya adalah gembong-gembong-kebesaran, dan sejarah-lampaunya adalah gilang-gemilang laksana Nur di langit, – bangsa yang demikian itu akan layu dengan sendirinya, akan menjadi kecil, akan mengkerut, dan akhirnya akan mati. Kebesaran dan kebahagiaanmu tidak lagi di tangan keluhuranmu yang telah mangkat, kebesaran dan kebahagiaanmu adalah di dalam tanganmu sendiri, dan itu pun: di dalam tanganmu sendiri yang berjoang, di dalam tanganmu yang menyala-nyala dengan Apinya Cipta.

Sebab hanya tangan yang demikian itulah tangan yang diberkahi Tuhan!

Moga-moga Tuhan memberkahi kita!

Merdeka!

Terima kasih!

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 147 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Nasionalisme, Di Bawah Bendera Revolusi - II, Bung Karno | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar