Home » 2016 » November » 29 » Tahun Tantangan (A Year of Challenge)
3:32 PM
Tahun Tantangan (A Year of Challenge)

<<sebelumnya.....  Pada hari keramat 17 Agustus sekarang ini, saya menyerukan lagi: jangan lupa D.I.-T.I.I., – jangan biarkan mereka, hantamlah terus D.I.-T.I.I., sampai mereka hancur-lebur samasekali!

Sekarang, apakah yang dinamakan kelanjutan daripada Revolusi ialah terletak dalam segala bidang yang perjoangannya belum selesai. Kelanjutan Revolusi ialah kelanjutan perjoangan-perjoangan yang belum selesai. Kelanjutan perjoangan di bidang politik, kelanjutan perjoangan di bidang ekonomi atau lebih tepat sosial-ekonomi, kelanjutan perjoangan di bidang kepribadian Nasional. Revolusi kita adalah satu “revolusi campuran”, revolusi politik dan sosial-ekonomi dan kebudayaan, – satu Revolusi yang pada hakekatnya adalah “a summing up of many revolutions in one generation”. Satu bagian daripada Revolusi ini adalah lebih maju daripada bagian yang lain, tetapi semua bagian-bagian itu meminta kelanjutan daripada perjoangannya.

Welnu, kelanjutan daripada Revolusi inilah yang pada hakekatnya mereka tentang. Terutama sekali oleh karena Revolusi kita sekarang ini mulai meletakkan tekanan kata pula kepada penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur, masyarakat kebahagiaan seluruh rakyat, masyarakat tanpa eksploitasi dan feodalisme, tanpa penindasan dan penghisapan. Revolusi Nasional kita telah mengalami “fase politiknya”, dan kini sedang mengetok pintu untuk me-masuki “fase sosialnya” atau lebih tepat mengetok pintu untuk memasuki “fase sosial-ekonomi-nya” yaitu fase penyelenggaraan masyarakat idam-idaman massa yang adil dan makmur.

Fase politik daripada Revolusi kita memang belum seluruhnya selesai. Benar “kekuasaan politik” sudah dipegang oleh bangsa kita, benar “politieke macht” itu tidak di tangan bangsa Belanda lagi, tetapi penggunaan daripada kekuasaan politik itu belum sesuai dengan cita-cita Rakyat dan penderitaan Rakyat. Di samping itu, kekuasaan politik kita masih belum pula melebar ke Irian Barat. Belanda masih tetap menongkrong di sana memegang kekuasaan politik. Tujuh tahun lamanya kita mencoba memindahkan kekuasaan politik di Irian Barat itu ke tangan kita, dengan jalan mengajak Belanda untuk berunding, sekali lagi berunding, dan sekali lagi berunding, tetapi sia-sia belaka. Tujuh tahun lamanya kita mencoba merobah sikap Belanda dengan jalan “sweet reasoning and persuasion”, tetapi hasilnya sama saja dengan mencoba merobah luwak menjadi ayam atau serigala menjadi kambing. Maka terpaksalah kita mengambil “jalan lain” yang tegas, ”’jalan lain” yang terkenal dengan nama Aksi Irian Barat, “jalan lain” yang penuh dengan gegap-gempitanya semangat perjoangan.

Perjoangan pembebasan Irian Barat telah sangat menaikkan martabat kita sebagai bangsa yang cinta kemerdekaan. Aksi-aksi kita, yang memuncak pada pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda, dan pemulungan orang-orang Belanda yang tak diperlukan, aksi-aksi kita itu seolah-olah petir dan halilintar telah menyedarkan sebagian dunia yang selama ini belum mau sedar, bahwa Indonesia bukanlah bangsa katak atau bangsa “Hamlet yang tak berkeputusan”. Dalam aksi yang mau tak mau menggugah ketakjuban siapapun juga itu, tentara dan rakyat kita memainkan rol yang amat besar. Dan pemudapun berjasa sesuai dengan harapan yang bangsa cantumkan kepadanya. Salut-kehormatan kuberikan kepada tentara dan rakyat dan pemuda itu!

Bagi Belanda tinggal kini dua pilihan: terus berkeras-kepala, atau memahami tuntutan sejarah. Terus berkeras-kepala, akan berarti “jalan lain” akan kita daki terus dan Belanda akan kehilangan Irian Barat dengan tiada terhormat dan menderita kerugian-kerugian seterusnya yang tak ternilai; memahami tuntutan sejarah, akan berarti mengembalikan Irian Barat kepada Indonesia dengan terhormat, dan normalisasi hubungan antara Nederland dan Indonesia sebagai lazim dalam dunia internasional.

Bagi kita sendiri, ada juga pesan yang hendak saya katakan di sini: Hendaklah kita mengenai aksi Irian Barat itu jangan bersikap picik. Sebab, ada beberapa pentolan yang mengatakan bahwa “aksi Irian Baratnya Sukarno” itu menjadi “sebab” dari “segala kesulitan”. Dan ada juga orang-orang yang mengatakan, bahwa perusahaan-perusahaan yang telah diambil-alih itu “tidak layak dikuasai oleh Pemerintah”. Orang-orang yang mengatakan bahwa aksi Irian Baratnya Sukarno-lah sebab dari segala kesulitan, orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang tak mengerti hukum-hukumnya perjoangan, orang-orang yang memang belum pernah ikut benar-benar dalam perjoangan, orang-orang yang tak mengerti bahwa semua perjoangan-perjoangan besar membawa kesulitan-kesulitan, orang-orang yang jiwanya cynis atau orang-orang cap mentega yang berjiwa kapuk, yang tak pernah mengerti artinya pepatah kuna “jer basuki mawa beya”, atau firman Tuhan “innamaal usri jusro”, atau uyapan Vivekanada “victory through struggle”. Sebagai yang pada saat mencetuskan aksi Irian Barat sekarang ini saya katakan beberapa kali dengan mensitir Danton “de l’audace, encore de l’audace et toujours de l’audace!”, yang berarti “keberanian, sekali lagi keberanian, selalu keberanian”, maka tiap-tiap perjoangan-besar tidak hanya menuntut pengorbanan, tetapi ia juga menuntut keberanian!

Dan orang-orang yang berkata bahwa perusahaan-perusahaan yang terambil-alih tak layak dikuasai Pemerintah. Awas kepada orang-orang yang demikian itu, saudara-saudara! Mereka adalah burung alap-alap kekayaan, yang ingin sekali memulai dengan pembahagian rezeki, agar mendapat bagian buat gemuk kantongnya sendiri!

Bagaimana juga, saudara-saudara, “jalan lain” yang kita ambil sekarang ini untuk memperjoangkan pembebasan Irian Barat, adalah jalan yang benar. Jangan ragu-ragu tentang hal itu! Dan kalau benar aksi Irian Barat ini “aksi Irian Baratnya Sukarno” – dan saya kata: tidak benar, sebab saya tempo hari hanya memberi komando saja, dan aksi ini bukan aksi-Sukarno melain-kan aksinya Rakyat -, jika benar aksi ini aksinya Sukarno, maka saya nyatakan di sini bahwa saya siap-sedia untuk memikul segala tanggungjawab atas komando itu dan segala tanggung-jawab atas segala akibat-akibatnya! Teruskanlah hai seluruh Rakyat Indonesia aksi Irian Barat itu, teruskan!, jangan ragu-ragu, jangan mundur setapak, jangan berkisar sejari, teruskan!, – Insya Allah, nanti kita pasti menang!

Memang seluruh “fase politiknya” Revolusi kita ini belum selesai dan masih harus diterus-kan. Dan memang perjoangan fase politik itu tidak boleh mandek, kita harus berjalan terus dalam fase politik itu, di segala lapangan! Tetapi dalam pada itu, sekarang sudah datang saatnya kita mulai mengetok pintu yang menuju kepada fase sosial-ekonomis, mengetok pintu yang menuju kepada realisasi masyarakat keadilan sosia1. Kita tidak dapat menunggu sampai keseluruhan daripada politieke macht itu secara sempurna-maha-sempurna sudah berada di tangan kita, sebelum kita dapat memasuki fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita itu. Tidak! Meski politieke macht itu belum sempurna seluruhnya berada di tangan kita, maka dengan politieke macht yang sudah ada ini sudahlah boleh kita mulai mengetok pintunya keadilan sosial. Ya, kita tidak dapat menunggu, dan kitapun tidak perlu menunggu! Dulupun kita tidak menunggu sampai semua bangsa Indonesia dapat membaca dan menulis, atau semua bangsa Indonesia dapat mengerti a-b-c-nya politik, sebelum kita mengadakan Proklamasi!

Fase sosial-ekonomis itu adalah kelanjutan daripada Revolusi Nasional kita. Orang-orang revolusioner-sejati mengerti akan hal ini. Hanya orang-orang yang mewarisi abu daripada Proklamasi, dan tidak mewarisi Apinya, tidak mengerti perkataan saya ini. Tetapi orang-orang yang mewarisi Api Proklamasi, orang-orang revolusioner-sejati kataku tadi, mengerti akan hal ini. Api tidak berhenti, api terus hidup, api revolusi adalah laksana ndaru yang terus bergerak. “A Revolution has no end”, – satu revolusi tak pernah berhenti. Fase sosial-ekonomis adalah kelanjutan logis daripada fase politik. Dan fase sosial-ekonomis itu adalah suatu perjoangan ter-sendiri, suatu “battle” tersendiri, satu pertempuran tersendiri. “A Battle against remnants of colonial-economic exploitation, a battle against poverty itself, a battle for economic welfare for all”: Satu pertempuran menentang sisa-sisa eksploitasi kolonial-ekonomis; satu pertempuran menentang kemiskinanan an sich; satu pertempuran untuk merealisasikan kesejahteraan ekonomis buat semua orang.

Terutama sekali berjalannya fase sosial-ekonomis inilah yang hendak ditentang oleh kekuatan-kekuatan reaksioner dan kontra-revolusioner dari dalam dan luar negeri itu! Dan oleh karena fase sosial-ekonomis itu adalah kelanjutan logis daripada fase politik, bahkan kelanjutan logis daripada Revolusi Nasional, maka menentang fase sosial-ekonomis itu adalah sebenarnya sama dengan menentang Revolusi itu sendiri. Dan oleh karena Revolusi kita adalah kodratnya sejarah, maka menentang Revolusi kita adalah: Sama dengan menentang beredarnya bulan, sama dengan menentang terbitnya matahari!

Dunia-dalam yang reaksioner atau yang tolol, dan dunia-luaran yang kolot dan reaksioner pula, sering berfikir (bahkan merencanakan!), bahwa pergantian Pimpinan Negara dan Pemerintah Indonesia dengan orang-orang yang lain yang “sama soort-nya” dengan mereka, akan dapat menentang atau menahan fase sosial-ekonomis daripada Revolusi ini. Alangkah tololnya mereka itu! Alangkah gemblungnya! Dalam tahun 1930 aku telah berkata: “Matahari terbit bukan karena ayam-jantan berkokok, tetapi ayam-jantan berkokok karena matahari terbit!”

Ya, ayam-ayam berkeluruk, dan burung-burung bersiul, karena di Timur fajar menyingsing; bukan: di Timur fajar menyingsing karena ayam-ayam berkeluruk dan burung-burung bersiul. Fajar menyingsing itu tak dapat dihalang-halangi. Dunia reaksioner dalam-dan-luar negeri mungkin dapat menyingkirkan ayam-ayam dan burung-burung itu, tetapi jangan mereka mengira dapat menghalangi matahari terbit! Dan jikalau mereka hendak bertempur dengan matahari, – bukan matahari yang kalah, tetapi mereka sendiri akan hancur-luluh hancur-lèlèh samasekali!

Fajar kini menyingsing, matahari kini akan terbit! Songsonglah fajar itu, songsonglah terbitnya matahari! Songsonglah fajarnya fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita itu dengan sikap-sikap yang baru, dengan pengertian-pengertian yang baru.

Setahun yang lalu sayapun berkata: “Janganlah kita beku! Janganlah kita statis dalam arti: satu kali ambil sistim politik, terus kita pertahankan sistim politik itu! Think-and-rethink,-shape-and-reshape! Demikianlah pesanan saya tempo hari. Nehru tempo hari mempergunakan perkataan ”remaking”, dan di dalam perkataan itu terasalah dinamik, dan bukan kestatisan atau kebekuan. Sebagai sering saya katakan: Revolusi adalah Gerak, Revolusi adalah Beweging. Revolusi adalah Gerak Maju meninggalkan Hari Kemaren,- “Revolution rejects yesterday”. Janganlah menggamblok saja kepada faham-faham yang sudah-sudah, janganlah tidak berani membongkar fikiran-fikiran yang hanya cocok dengan alam ekonomi kolonial dan ekonomi liberal. Ya, sekarang kita sudah diharuskan memikirkan bagaimana pembangunan negeri kita menjadi satu masyarakat yang adil dan makmur bagi seluruh Rakyat, – bagi si Dadap dan si Waru, bagi si Kromo dan si Dongso, bagi si Zaetun dan si Misnah. Memang itulah kepribadian Indonesia di lapangan kemasyarakatan. Itulah isinya begrip “kekeluargaan Indonesia”. Yang dibutuhkan sekarang ini ialah: orientasi baru, atau penemuan kepribadian kita sendiri di lapangan ekonomi. Dalam rangka pemikiran baru ini, Dewan Perancang Nasional sedang dalam proses pembentukannya. Dengan gembira saya umumkan di sini, bahwa Rencana Undang-undang Pembentukan Dewan Perancang Nasional kini sudah selesai. Tinggal nanti pengesyahan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Kepada Dewan Perwakilan Rakyat saya mintakan pengertian tentang pemikiran-baru atau orientasi-baru itu. Juga di lapangan ekonomi, kita masih banyak yang dihinggapi penyakit “Hollandsch denken”, penyakit berfikir secara Belanda. Kikislah diri kita bersih-bersih daripada segala sisa-sisa “Hollandsch denken” itu! Siap-sediakanlah segala alat-alat materiil, mental, legal, untuk memungkinkan lahirnya Jabang bayi Masyarakat Adil dan Makmur itu dengan cara yang sehat dan lancar. Jangan nanti fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita ini datang, dengan barensweeën yang amat pedih.

Ya, saya ajak segenap bangsa Indonesia sekarang untuk dengan giat mensiap-sediakan segala alat-alat materiil, mental, legal untuk kelanjutan daripada Revolusi kita itu. Saya ajak segenap bangsa Indonesia untuk dengan giat bekerja kepada “retooling for the future” .

“Retooling for the future”, membuat “alat-alat-baru untuk menyelenggarakan hari-depan”, – di segala lapangan. Fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita itu hanyalah dapat berjalan secara lancar dan licin dengan perlengkapan-perlengkapan yang tepat dari sekarang di segala lapangan. Material investment, investment of human skill, mental investment, sudah saya sebutkan berulang-ulang. Penyusunan modal, managerial and technical know-how, suasana politik yang sesuai – itupun sudah saya mintakan dengan tandas dalam pidato 17 Agustus tahun yang lalu. Sekarang, marilah kita selenggarakan segala perlengkapan-perlengkapan itu, marilah kita metterdaad mengadakan retooling for the future di atas dasar orientasi-orientasi baru. Songsonglah Alam Baru dengan jiwa baru dan pengertian baru.

Songsonglah Dia, dengan melaksanakan Demokrasi Terpimpin, oleh karena masyarakat baru itu hanya dapat diselenggarakan dengan Demokrasi Terpimpin yang melemparkan jauh-jauh segala keburukannya free-fight-liberalism.

Songsonglah Dia, dengan melaksanakan pembentukan Dewan Perancang Nasional, sesuai dengan usul Dewan Nasional, itu badan Penasehat Kabinet, yang dalam usianya setahun ini telah menunjukkan ketangkasan dan pengertian yang luar-biasa.

Songsonglah Dia, dengan melaksanakan terlahirnya pola keadilan-dan-kemakmuran, yakni melaksanakan terlahirnya “blue-print”, yang akan direncanakan oleh Dewan Perancang Nasional.

Songsonglah Dia, dengan memperhebat Gerakan Hidup Baru sebagai yang saya anjurkan setahun yang lalu, – Gerakan Hidup Baru yang berisikan Revolusi Mental, untuk memperkuat jiwa perjoangan politik, dan menghidupkan daya-cipta gotong-royong untuk membangun, dan mempergunakan tenaga-kerja manusia sebagai faktor utama di samping modal.

Sungsonglah Dia, dengan melaksanakan pekerjaan Konstituante di Bandung yang sekarang ini seperti tèlè-tèlè, sesuai dengan harapan yang saya ucapkan pada waktu membuka Konstituante itu pada tanggal 10 Nopember 1956, yang berbunyi: “Bekerjalah” dengan cepat, dan bekerjalah dengan tepat. Cepat, sebab di zaman bom atom ini perjalanan segala sesuatu adalah cepat, deras, dan tangkas. Tepat, – sebab perjoangan Rakyat akan berjalan terus, juga di luar tembok Konstituante ini, sedapat mungkin dengan saudara-saudara, bila tidak mungkin: di atas kepala saudara-saudara, – over Uw geëerde hoofden heen! Sesudah Konsitituante Bandung, babakan Revolusi kita ingin sekali lekas meningkat memasuki Revolusi Pembangunan Res Publica yang amat hebat. Konstitusi Bandung menjadi fondamen ketatanegaraan; Program Pembangunan akan disusun oleh Rakyat sendiri di atas dasar fondamen ketatanegaraan itu … Saya minta kepada saudara-saudara, susunlah Konstitusi di mana dengan sekelebatan mata saja sudah bisa dilihat bahwa Republik kita adalah benar-benar Res Publica, benar-benar kepentingan umum yang berarti kepentingan bersama … Konstitusi Bandung harus menjadi canangnya pembangunan, canangnya pembangunan Res Publica … Saya harap Konstitusi Bandung janganlah mendurhakai hatinya Rakyat! Ya, songsonglah Dia, fase baru dalam Revolusi kita itu, dengan melekaskan pekerjaan Konstituante di Bandung itu. Sebab bangsa kita adalah bangsa dalam perjoangan, dan perjoangan berarti gerak-cepat dan dinamik. Dan sebagai kukatakan pada pembukaan Konstituante, Konstitusi kita harus Konstitusi perjoangan: “Bagi kita bangsa Indonesia, demikianlah kataku, satu bangsa dalam Revolusi, Konstitusi dus harus merupakan satu alat perjoangan! Konstitusi yang saudara-saudara akan susun, tidak boleh merupakan satu statisch begrip, satu tulisan yang dianggap keramat belaka, satu tulisan yang dikemenyani tiap-tiap malam Jum’at, satu tulisan-mati yang ditaruhkan dalam almari-kaca atau ditaruhkan dimejanya profesor yang kepalanya botak. Tidak! Konstitusi kita harus Konstitusi perjoangan, konstitusi yang memberi arah dan dinamik kepada perjoangan, sebagai Wahyu Cakraningrat memberi arah dan dinamik kepada perjoangan. Konstitusi kita harus merupakan satu manifestasi daripada geloranya dan gegap-gempitanya perjoangan kita merobah satu tata kolonial yang mesum, menjadi satu tata nasional yang modern dan berbahagia. Konstitusi kita harus menjawab kepada keperluan-keperluan Indonesia pada waktu sekarang dan pada waktu dekat yang akan datang.

“The constitution is made for men, and not men for the constitution”, “Konstitusi dibuat untuk keperluan manusia, dan tidak manusia untuk keperluan konstitusi”, demikianlah seorang pejoang pernah berkata. Kita, bangsa Indonesia sekarang ini, kita harus berkata: “Konstitusi kita ialah konstitusi yang dibuat untuk keperluan manusia Indonesia yang sedang berjoang, dan tidak manusia Indonesia dibuat untuk keperluan konstitusi” .

Karena itu pula saya minta kepada saudara-saudara, jangan Konstituante ini menjadi badan tempat berdebat bertèlè-tèlè! Perjoangan minta kesanteran. Perjoangan minta dinamik, perjoang-an tidak mau mandek! Perjoangan akan berjalan terus, juga di luar tembok Konstituante ini, – di atas kepala saudara-saudara, – over Uw hoofden heen – , jikalau saudara-saudara tidak menyesuaikan diri dengan geloranya semangat perjoangan itu dan dengan santernya tempo perjoangan itu.

Songsonglah Dia, dengan sikap dan tindakan yang tahu membatasi diri di lapangan kepartaian! Songsonglah Dia, – demikianlah zonder tedeng-aling-aling kuanjurkan sekarang ini -, dengan sedikitnya menyederhanakan kepartaian. Songsonglah Dia, dengan merobah Undang-undang Pemilihan Umum yang sudah ada, dan dengan mengadakan Undang-undang Kepartaian! Di dalam pidato pembukaan Konstituante tempo hari itu, sayapun telah berkata: “Konstitusi Bandung haruslah berupa kelahiran daripada peradaban dari Revolusi kita ini, yang sebagai semua revolusi-revolusi lain, mengenal pengalaman-pengalaman yang besar nilainya. Bagaimana pengalaman-pengalaman kita itu? Menyenangkankah? Menyedihkankah? Jadikanlah pengalaman-pengalaman pedoman untuk mengadakan. koreksi kepada ketatanegaraan Indonesia dan koreksi kepada organisasi kepunyaan Rakyat yang bernama partai. Di medan pertempuran dulu Rakyat berjoang dengan bulat-bersatu-padu berlindung di bawah lambang kesatuan, sebagai pelaksana Jiwa Proklamasi. Tetapi bagaimana keadaan di luar medan pertempuran? Kebebasan berpartai bukanlah satu-satunya alat untuk memutar roda demokrasi … Konstituante Indonesia adalah wenang, wenang penuh, berwewenang penuh, untuk meninjau dan memutuskan, apakah partai-politik dapat dipakai sebagai dasar demokrasi, bagi masyarakat, parlemen, dan Kabinet, dalam suasana Pembangunan Res Publica yang diharapkan Rakyat. Perhatikanlah pengalaman-pengalaman dalam menjalankan wewenang itu, sebab pengalaman adalah guru, adalah pedoman, adalah kemudi yang sangat berharga. Perhatikan pengalaman-pengalaman itu, sebab pengalaman yang tidak diperhatikan akan menjadi boomerang yang menghantam-roboh kita sendiri!

Sederhanakanlah kepartaian! Sekarang kepartaian jumlahnya berlebih-lebihan itu sudah menjadi tidak populer di kalangan Rakyat, sudah menjadi cemoohan di kalangan Rakyat. Lagi pula Rakyat melihat bahwa kadang-kadang partai itu dipergunakan tidak sebagai alat pembela kepada kepentingan Rakyat, melainkan sebagai alat pembela kepentingan pribadi beberapa pentolan dalam partai itu, atau sebagai alat pemberi kerja kepada orang-orang yang tak punya kerja, atau alat pemberi lisensi kepada orang-orang yang cari lisensi.

Partai bukan pembela ndoro atau pembela juragan, partai bukan arbeidsbureau, partai bukan makelaarskantoor! Partai di dalam Revolusi ini harus melulu organisasi penyusun tenaga Rakyat, melulu mengabdi kepada perjoangan Revolusi dan perjoangan Rakyat!

Sekali lagi: sederhanakanlah kepartaian! Sederhanakan isi-jiwanya, sederhanakan jumlahnya. Sederhanakan isi-jiwanya, jangan isi-jiwanya itu selintat-selintut seperti jiwa tukang catut di pasar gelap! Sederhanakan jumlahnya, jangan jumlahnya itu berpuluh-puluh buah seperti lalat-hijau mengerumuni hidangan. Ultra-multi-party-system tak sesuai dan tak dapat diperguna-kan sebagai alat penyelenggaraan masyarakat Res Publica. Masyarakat Res Publica hanya dapat diselenggarakan dengan Demokrasi Terpimpin, yang tak dapat berjalan dan tak dapat sejalan dengan ultra-multi-party-system itu. Dengan zonder tèdèng-aling-aling saya anjurkan kita merobah Undang-undang Pemilihan Umum yang sudah ada, dan mengadakan Undang-undang Kepartaian yang jitu. Dan dengan zonder tèdèng-aling-aling pula saya di sini menganjurkan dirobek-robeknya Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945, yang menganjur-anjurkan diadakan-nya partai-partai, dan lalu menghidupkan dunia liberalisme parlemeter dalam Revolusi kita, yang sebenarnya wajib dipimpin oleh keutuhan kommando, tetapi karenanya menjadi pecah belah samasekali sampai dewasa ini. Kesalahan 3 Nopember 1945 itu memungkinkan segala macam unsur-unsur kontra-revolusi memainkan perannya untuk menjauhkan kita dari tujuan Revolusi.

Apakah kita cukup ketangkasan untuk melaksanakan ini? Ah, saudara-saudara, kenapa tidak? Sudahkah kita menjadi Rakyat yang beku? Sudahkah kita demikian turun dinamik kita, sehingga kita sudah ”ngglenggem” puas dengan keadaan yang ada, dengan alat-alat yang ada, dengan Negara yang ada, dan tidak berani atau tidak mau mengadakan perobahan-perobahan yang perlu, dan lupa bahwa Negara sekedarlah ada satu alat untuk mencapai atau mem-pertahankan atau memelihara sesuatu? Dan oleh karena kita sekarang ini masih dalam taraf perjoangan, – dan kapan kita akan bisa berhenti berjoang? -, maka Negara harus kita hantir sebagai alat perjoangan. Dan sebagai alat perjoangan, maka Negara itu, dengan segala sistim-sistimnya, boleh dan harus kita robah dan perbaiki terus, kita asah terus, kita pertajam terus, sebagai kita mengasah terus dan pertajam terus kita punya pedang di masa perjoangan.

Pada 17 Agustus 1957 saya berkata: “Revolusi barulah benar-benar Revolusi, kalau ia terus-menerus berjoang. Bukan saja berjoang ke luar menghadapi musuh, tetapi berjoang ke dalam memerangi dan menundukkan segala segi-segi negatif yang menghambat atau merugikan jalan-nya Revolusi itu. Ditinjau dari sudut ini, maka Revolusi adalah satu proses yang dinamis-dialektis dan dialektis-dinamis, satu simfoni hebat dari kemenangan atas musuh” dan kemenangan” atas-diri-sendiri, satu simfoni hebat antara overwinning dan self overwinning. Hanya bangsa atau kelas yang dapat mengadakan simfoni yang demikian itulah dapat mencapai kemajuan dan kekuatan dengan jalan Revolusi”.

Asahlah terus kita punya Negara! Hantu kolonialisme dan imperialisme masih mengintai di cakrawala, dan tugas sosial-ekonomispun masih menunggu penyelenggaraan dengan alat Negara itu. Jangan bimbang hati: fajar kemenangan politik dan sosial-ekonomis telah merantak di bang-wetan! Tugas sejarah memanggil-manggil kita, songsonglah tugas sejarah itu dengan jiwa yang penuh pengertian dan dinamiknya perjoangan, – siapa yang sedar dan dinamis, dialah yang akan terpakai, siapa yang tak mengerti, siapa yang beku, dia akan tertinggal, dan siapa yang berkhianat, dia akan digilas hancur-lebur oleh sejarah.

Mengenai kepartaian, yang memberi pengalaman buruk kepada kita di masa yang lampau, baiklah saya cantumkan di sini rumusan pendapat dari para Panglima dan para Komandan Operasi yang dengan anak-anak buahnya sedang menyabung jiwanya membasmi pemberontakan-pemberontakan sekarang. Rumusan tersebut adalah sebagai berikut:

Dalam melakukan tugasnya membasmi pemberontakan, Angkatan Perang Republik Indonesia melandaskannya kepada keyakinan, bahwa setelah tugasnya berhasil, maka tidak akan terulang lagi ekses-ekses politik di masa-masa yang lalu, seperti misalnya “dagang sapi” , memperpolitikkan soal-soal ekonomi dan kepegawaian, dan lain-lain. Ekses-ekses yang buruk inilah yang menjadi sebab pokok dari kekacauan.

T.N.I. bertekad, bahwa sesudah pemberontakan ini, ia akan memusatkan tenaga kepada penertiban hukum dan disiplin, serta pembersihan dalam tubuh alat-alat Negara, baik sipil maupun militer.

Pemerintah hendaknja menjamin, bahwa justru sesudah terbasminya pemberontakan, akan diintensifkan usaha autonomi dan pembangunan dengan berpegang antara lain kepada hasil-hasil Munas dan Munap.

T.N.I. mengharap diberikan pernyataan-penghargaan kepada perajurit-perajurit yang telah menunaikan tugasnya dengan setia, dan keluarganya yang menderita.

Demikianlah rumusan Angkatan Perang. Kita harus mengadakan zelfcorrectie yang serious. Jika tidak, songsongan kita kepada panggilan Revolusi akan menjadi hampa, dan “retooling kita for the future” akan menjadilah satu omong-kosong belaka! Di bidang internasional pun kita harus memberi songsongan! Sebab, sebagai kukatakan tadi, tantangan adalah di bidang nasional dan di bidang internasional. Songsonglah panggilan Revolusi di bidang internasional, dalam arti: memperkuat kesetiakawanan kita kepada perjoangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang menentang kolonialisme dan imperialisme.

Artinya: bahwa kita sebagai anggauta daripada kesetiakawanan itu harus lebih aktif, lebih dinamis, lebih berani-bertindak-kemuka, lebih tidak beku, lebih solider daripada yang sudah-sudah.

Jangan gubris bisikan si kapuk yang ragu-ragu! Sudah barang tentu semangat setiakawan itu ditentang terang-terangan atau sembunyi-sembunyian oleh kaum-kaum kolonialis dan imperialis, tetapi jangan gubris pula, perjoangan selalu membawa tentang-menentang, dan-api semangat Bandung tak mengenal kunjung padam! Buktinja? Sesudah Konperensi Asia-Afrika di Bandung 1955, dunia menyaksikan:

Konperensi Mahasiswa Asia-Afrika di Bandung, 1956.

Konperensi Wartawan Asia-Afrika di Tokyo, 1956.

Konperensi Sarjana Hukum Asia-Afrika di New Delhi, 1957.

Konperensi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika di Cairo, 1958.

Konperensi Wanita Asia-Afrika di Colombo, 1958.

Dan baru-baru ini:

Konperensi Negara-negara Afrika di Accra, 1958.

Betul solidaritet Asia-Afrika ini belum merupakan satu gunung-karang yang meski di “atom” pun tidak akan retak, tetapi kekuatan jiwanya tak dapat ditentang, dan malahan makin lama makin bertambah merupakan satu potensi internasional. Dan lebih daripada itu: (maka itulah sebabnya kita harus menyongsongnya dengan jiwa yang lebih solider daripada dahulu): jiwa Asia-Afrika sebenarnya adalah juga cerminan daripada dua fase daripada tiap-tiap revolusi di Asia dan Afrika (yang satu lebih, yang lain kurang), yaitu fase politik dan fase sosial.

Ya, dua fase, dan kita bangsa Indonesia merasa bangga bahwa kitalah yang lebih dulu dengan segera dan terang-terangan berkata bahwa Revolusi kita adalah ”a summing up of many revolutions in one generation”. Bahwa kitalah dengan terang-terangan telah dalam tahun 1945 menformulir Pancasila, yang antara lain menghendaki Keadilan Sosial. Bahwa kitalah dengan terang-terangan dalam mukadimah Undang-undang-Dasar kita sejak tahun 1945 selalu mengemukakan tuntutan masyarakat yang adil dan makmur. Bahwa kitalah yang dengan terang-terangan mempunyai fatsal 38 daripada Undang-undang-Dasar-Sementara, realisasi daripada ide masyarakat adil dan makmur. Bahwa kitalah (antara lain saya sejak tahun 1927 dalam pidato-pidato dan artikel-artikel, 1930 dalam “Indonesia Menggugat“, 1933 dalam “Mentjapai Indonesia Merdeka“) zonder tèdèng-aling-aling berkata menghendaki satu masyarakat sama-rasa-sama-rata tanpa kapitalisme dan imperialisme, dus satu masyarakat politiek-economische democratie atau satu masyarakat politiek-sociale-democratie.

Lihat kini di luar-pagar. Sesudah kita di tahun 1945 mengadakan Proklamasi, menyusullah negara-negara lain. Saya tidak menyebutkan R.R.T. Itu sudah nyata satu negara yang dinamakan “komunis”. Tetapi lihat Birma. Birma yang datang kemudian daripada kita, menghendaki masyarakat “social justice”. Lihat Ceylon. Ceylon yang juga datang sesudah kita, menghendaki pula satu masyarakat “social-justice”. Dan lihat Mesir. Revolusi Mesir terjadi dalam tahun 1952, tujuh tahun sesudah kita. Dalam tahun 1955 Gamal Abdel Nasser menulis: “Sekarang saya dapat menerangkan, bahwa kita ini memasuki dua revolusi, bukan satu. Semua rakyat di dunia ini memasuki dua revolusi: satu revolusi politik yang merebut hak memerintah diri sendiri dari tangannya kezaliman, … dan satu revolusi sosial, termasuk di dalamnya pertentangan kelas, yang akan berakhir bilamana keadilan telah terjamin untuk semua anggauta-anggauta daripada bangsa itu. Bagi kita, maka pengalaman dahsyat yang kita “alami sekarang ini ialah, bahwa kita ini sedang menjalankan dua revolusi pada waktu yang sama”. Nasser merasa bahwa Mesir “caught between the millstones of two revolutions”, – terjepit antara batu-batu-penggilingannya dua revolusi! Dan ia berkata: “It was not within our “power to stand on the road of history like a traffic policeman and hold up the passage of one revolution until the other had passed by in order to prevent a collision”, yang berarti: “Tidak di dalam kekuasaan kita untuk berdiri di jalan-rayanya sejarah seperti seorang agen-polisi lalu-lintas, dan, agar menghindarkan satu tabrakan, menahan berjalannya satu revolusi, sampai revolusi yang lain sudah berlalu”.

Ya, saudara-saudara, demikianlah memang inti-hakekat daripada Nasionalisme Asia: ber-roman dua, ber-roman politik dan ber roman sosial. Nasionalisme Asia yang bangkit sebagai reaksi atas penjajahan politik dan penghisapan ekonomi, nasionalisme Asia yang berkobar dalam dadanya berjuta-juta rakyat yang perutnya lapar, pakaiannya compang-camping, gubuknya doyong, nasionalisme Asia itu tidak bisa lain daripada pasti mempunjai roman sosial pula. Dan karena itu benar sekali perkataan Nasser: Seorang revolusioner tidak dapat diibaratkan sebagai seorang agen-polisi lalu-lintas, yang menahan berlalunya sesuatu kendaraan Revolusi. Seorang revolusioner harus sedar akan hukum-hukum revolusi, dan menghormati hukum-hukum revolusi itu, dan percaya kepada kekuatan Rakjat, dan ikut terjun ke dalam kancah candra-dimukanya kedua macam revolusi itu, – ikut mengerti, ikut sedar, ikut aktif, ikut berjoang menyongsong dan melaksanakan kehendak sejarah dan tugas sejarah. Sebab sebagai tadi saya katakan, siapa yang tidak ikut mengerti, siapa yang tidak ikut sedar, siapa yang beku, dia akan ditinggalkan basah-basah, dan siapa yang menentang, dia akan digiling-digulung-dilindis-digilas hancur-lebur oleh kereta jagarnathnya Revolusi!

“Fate does not jest”, kata Nasser. “Nasib tak mau dipermainkan”. Memang demikianlah! Kereta Jagarnathnya Sejarah tak boleh dibikin main-mainan!  .....selanjutnya>>

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 196 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Nasionalisme, Di Bawah Bendera Revolusi - II, Bung Karno | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar