Home » 2016 » November » 29 » Tahun Tantangan (A Year of Challenge)
3:33 PM
Tahun Tantangan (A Year of Challenge)

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1958 DI JAKARTA

Saudara-saudara ini adalah salah satu ulang tahun Republik Indonesia yang paling diperhatikan orang! Diperhatikan orang di dalam dan di luar negeri. Boleh dikatakan seluruh dunia pada hari ini mengarahkan pandangan matanya ke Jakarta, atau memasangkan arah-telinganya ke Jakarta. Bagaimana suasana Jakarta pada hari ini, dan apa yang akan dikatakan oleh Jakarta pada hari ini? Apakah suasananya suasana yang tertekan, suasananya rakyat yang baru saja dapat pukulan-pukulan di badannya, – babak-belur, babak-bundas? Apakah suaranya suara rakyat yang telah remuk-redam dalam jiwanya, suara rakyat yang telah megap-megap?

Pantas juga orang di luaran mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu, terutama sekali orang-orang dari kalangan-kalangan yang tak senang kepada kita atau tidak senang kepada politik kita. Pantas! Sebab apa yang tidak kita alami dalam tahun yang lalu! Segala macam cobaan-cobaan pahit dan getir telah kita alami, yang, jikalau umpamanya kita ini bukan bangsa yang ulet dan Insya Allah diridhoi Tuhan, niscaya telah membuat kita ini remuk-redam-semangat dan kocar-kacir berantakan di dalam jiwa!

Tetapi kita, berkat Tuhan, tidak remuk-redam semangat, dan tidak kocar-kacir berantakan di dalam jiwa! Kepada seluruh dunia yang ingin mengetahuinya, dan terutama sekali kepada semua orang-orang yang tak senang kepada Republik Indonesia, saya atas nama Rakyat Indonesia pada hari ini berkata: “Ini!, bangsa Indonesia, ini!, Republik Indonesia, masih segar-bugar jiwanya untuk mempertahan-kan Proklamasi dan melanjutkan perjoangan untuk realisasi Proklamasi.

Ya, tigabelas tahun kita telah berjoang. Tigabelas tahun kita telah mendaki. Tigabelas tahun! Tetapi meski tujuan terakhir belum tercapai, kita masih siap-sedia untuk berjoang dan mendaki terus. Janganpun tigabelas tahun lagi, – meski duakali tigabelas tahun lagipun, atau tigakali tigabelas tahun lagi, atau empatkali tigabelas tahun lagi, kita Insya Allah masih tetap akan siap-sedia untuk meneruskan perjoangan.

Tiap tahun kita perhitungkan. Tiap tahun kita periksa untung dan ruginya. Seperti meng-hitung kelèrèng! Tahun-tahun 1945 sampai 1950 adalah tahun-tahun revolusi bersenjata: tahun-tahun physical revolution. Tahun-tahun 1950 sampai 1955 adalah tahun-tahun menyembuhkan luka-luka: tahun-tahun survival. Tahun 1956 maunya kita hendak memasuki benar-benar periode investment, yaitu periode menyusun perlengkapan-perlengkapan untuk pembangunan, tetapi gejala-gejala penyakit dari dalam mulai menonjol, sehingga perlu kita memberi peringatan-peringatan yang pedas untuk mengembalikan kewibawaan pusat dan kewibawaan Negara. Tahun 1957 penyakit-penyakit itu makin menonjol lagi, sehingga perlu peringatan-peringatan itu dikemukakan dengan cara yang lebih tandas dan lebih tajam, bahkan perlu kita membongkar segala norma-norma yang sampai sekian masih kita pakai: Bongkar!, buang free-fight-liberalism! Bongkar!, ganti dia dengan “demokrasi terpimpin”! Bongkar!, bongkar jiwa-rokhani kita, bongkar mental!, adakan “Gerakan Hidup Baru”, – adakan revolusi Mental! Bongkar!, adakan pandangan baru, bongkar!, jangan mandek, tetapi “majulah terus berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945″, – majulah terus, demikianlah kukatakan dalam pidato 17 Agustus 195.7, jangan mundur, – “mundur hancur, mandek amblek” -, bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi, – kita telah mencapai “point of no return” !

Tahun 1957 waktu itu kunamakan A year of decision, – satu Tahun Ketentuan, satu Tahun Penentuan!

Dan kita telah mengambil ketentuan-ketentuan! Tahun yang lalu, artinya: antara hari ulang-tahun keduabelas dan hari ulang-tahun ketigabelas sekarang ini, kita telah berani mengambil ketentuan-ketentuan yang tegas. Tahun yang lalu kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa kita ini bukan satu bangsa “Hamlet yang tak berkeputusan”, – bukan satu bangsa yang tak tahu apa yang harus diperbuat. Ini menghiasi kita punya karakter, dan mengharumkan kita punya nama. Dan – ini akan menyelamatkan kita punya hari depan!

Apa yang kita hadapi antara 17 Agustus 1957 dan 17 Agustus sekarang ini? Kita hadapi di tahun yang lalu itu beberapa tantangan yang sudah beberapa kali saya uraikan: tantangan nasional dan tantangan internasional. Meski sudah beberapa kali saya uraikan, namun saya tak segan-segan dan tak bosan-bosan mengulangi lagi dan mengulangi lagi tantangan-tantangan itu, meski “tot in den treure toe” sekalipun, oleh karena kesedaran akan adanya tantangan-tantangan itu, – kesedaran akan sifatnya dan macamnya -, menjamin response (jawaban) dari kita terhadap kepada tantangan-tantangan itu secara tepat dan jitu.

Apakah tantangan-tantangan itu?

Nasional : maukah kita ini menjadi satu bangsa yang besar dan kompak dengan mempunyai kepribadian sendiri, memiliki satu Negara-Kesatuan yang kuat, sebagai alat dan jembatan ke arah satu masyarakat adil dan makmur yang memberi kebahagiaan kepada semua rakyatnya, atau: – maukah kita menjadi satu bangsa yang sebenarnya bukan bangsa, melainkan sekedar gundukan daripada berpuluh-puluh suku, tanpa kepribadian nasional yang kuat, dan karenanya tidak memiliki satu Negara yang kuat, dan membiarkan timbulnya satu masyarakat “free-fight”, di mana si kuatlah yang menang, dan si lemah ditindas, dihisap, diperkuda, dieksploitir?

Di lapangan internasional, di mana bangsa kita hidup di tengah-tengah dua blok raksasa yang bertentangan satu-sama-lain, power-politics dijadikan moraliteit yang tertinggi, semangat kepruk menjiwai pemerintahan-pemerintahan, senjata-senjata atom dan hidrogen dirèken seperti kacang gorèng, kapitalisme dan imperialisme mengaut-aut ke kanan dan ke kiri, mempraktèkkan “exploitation de l’homme par l’homme” dan “exploitation de pays par pays”, – di lapangan internasional tantangan itu berbunyi: maukah kita ikut mempertahankan susunan dunia semacam ini, yang jika tidak dirobah niscaya menuju kepada kebinasaan total daripada kemanusiaan, ataukah: – bersediakah kita ikut merealisasikan Dunia Baru yang berkeadilan sosial, berdasar-kan persamaan, kemerdekaan, persahabatan, kerja sama, ko-eksistensi, dan toleransi?

Dan sebagai kutandaskan kepadamu berulang-ulang kali, maka response kita kepada dua macam tantangan ini haruslah satu response yang tak ragu-ragu dan yang tegas: kita mutlak berdiri di pihak menyelamatkan Negara-Kesatuan, mutlak hendak kembali kepada kepribadian sendiri, mutlak berdiri di pihak merealisasikan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur tanpa penindasan dan penghisapan, mutlak berdiri di pihak memperjoangkan satu Dunia Baru Social Justice dan Political Justice untuk segala bangsa. Nasional kita bersikap sintetis menyelamatkan kesatuan Negara dan menyelamatkan kepribadian nasional serta merealisasikan keadilan sosial, internasional kita bersikap sintetis memperjoangkan persaudaraan bangsa-bangsa dan keadilan sosial, Nasional kita setia kepada Pancasila, internasional kita setia kepada Pancasila, Nasional kita setia kepada Proklamasi, internasional kita setia kepada Proklamasi!

Response yang demikian ini adalah satu pernyataan kesetiaan kepada penderitaan-penderitaan dan cita-cita yang keramat daripada pergerakan Rakyat Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun. Sebab memang itulah cita-cita yang mewahyui segenap pergerakan kita dahulu, memang itulah yang dibasahi dengan air-mata penderitaan kita yang dahulu. Itulah tujuan perjoangan, korbanan, penderitaan kita yang dahulu: kemerdekaan nasional yang berbentuk Republik yang satu, kepribadian nasional yang bukan jiplakan dari luar, keadilan sosial di antara rakyat, perdamaian antara segala bangsa, keadilan buat semua umat manusia di muka bumi. Siapa yang tidak ber-response yang demikian itu, ia tidak setia kepada penderitaan-penderitaan dan cita-cita-keramat itu, ia nyeleweng daripada cita-cita itu, dan mengkhianati penderitaan-penderitaan dan cita-cita itu! Response yang demikian itu adalah sejiwa, setekad, sesenyum, setangis dengan segenap korbanan-korbanan yang telah diberikan oleh pejoang-pejoang kita berpuluh-puluh ribu dan beratus-ratus ribu orang yang meringkuk dalam penjara-penjara kolonial, menelangsa dalam tempat-tempat pembuangan, menggantung di tiang-tiang peng-gantungan, mempersembahkan darah di medan-medan pertempuran.

Hai bangsaku dari generasi sekarang, sudahkah saudara-saudara insyafi benar-benar pedih-nya penderitaan-penderitaan itu? Di salah-satu tempat pembuangan kolonial di negeri kita ini adalah satu kuburan, kuburan seorang pejoang kita yang mati di tempat pembuangan itu. Tidak ada gedung mausoleum yang menghiasi kuburan itu, tidak ada tugu pualam-berukir menandakan tempatnya, tidak ada taman-bunga yang mengelilinginya. Tetapi di atas nisannya yang amat sederhana, tercantumlah syair yang mengharukan hati, yang ditulis pejoang itu di saat-saat terakhir dari hidupnya di alam pembuangan jauh dari sanak-keluarganya.

“De Toorts, Onstoken in den nacht, Reik ik voorts, Aan het Nageslacht”.

“Obor, yang kunyalakan di malam-gelap ini, kuserahkan kepada Angkatan yang kemudian”.

Engkau, kita sekalian, adalah “Angkatan yang kemudian” itu. Marilah kita terima obor itu, dan menjaga terus jangan sampai obor itu padam, dan berjalan terus membawa obor itu tanpa berhenti, sampai tempat yang dituju nanti tercapai.

Berjalan terus membawa obor itu tanpa berhenti, – itulah yang dinamakan “setia kepada Proklamasi”. Response kita kepada tantangan sejarah sebagai yang kugambarkan tadi, haruslah sesuai dengan “Obor” itu, sesuai dengan arti dasar daripada Proklamasi.

Apakah arti dasar daripada Proklamasi itu? Dengarkan betapa Dewan Nasional melukiskan arti dasar daripada Proklamasi itu. Di dalam suratnya kepada Dewan Menteri mengenai Kewaspadaan Nasional, Dewan Nasional berkata:

1. “Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah puncak perjoangan rakyat Indonesia dengan pengorbanan harta-benda, darah dan jiwa, yang berlangsung sudah berabad-abad lamanya untuk membangun persatuan, dan merebut kemerdekaan bangsa dari tangan kaum penjajah”;

2. “Proklamasi 17 Agustus 1945 itu merupakan mercu-suar yang menerangi dan menunjukkan jalan sejarah, pemberi-inspirasi dan pemberi-daya yang tidak kunjung habis dalam perjoangan rakyat dan bangsa Indonesia di semua lapangan dan di setiap keadaan”;

“Proklamasi 17 Agustus 1945 itu adalah pusat perbendaharaan mutu mental dan cita-cita terbaik yang dihimpun oleh para pujangga, pemimpin dan rakyat Indonesia, yang di dalam pelaksanaan menyelesaikan revolusi, terus memperlengkapi dirinya dengan mutu nasional baru, mewujudkan kepribadian Indonesia yang menentukan bangun-tegaknya Negara”.

Demikianlah arti-dasar Proklamasi! Karena itu, siapa yang hendak memberi response yang tepat kepada tantangan sejarah itu, dan hendak setia pula kepada Proklamasi, tidak bisa lain daripada menoleh ke belakang melihat kepada penderitaan-penderitaan dan korbanan-korbanan yang telah kita berikan di zaman yang lampau, dan menatap ke muka berjalan terus membawa obor ke tempat yang dicita-citakan.

Dan Alhamdulillah, response kita adalah sesuai dengan “Obor” dan “Amanat penderitaan” itu. Dengan rajin sekali kita di tahun yang lalu menggemblèngkan semangat “nation-building”, dengan rajin sekali kita memanggil bangsa kita kembali kepada kepribadian sendiri, dengan rajin sekali kita mencoba melunakkan runcing-runcingnya egocentrisme suku. Dengan rajin pula kita memerangi baji-baji pemecahnya free-fight-liberalism, dengan rajin kita membawa persoal-an Irian Barat ke dalam arenanya diplomasi. Dengan rajin kita mencoba membangunkan pengertian bahwa masyarakat adil dan makmur hanya dapat diselenggarakan dengan planning dan demokrasi terpimpin, dengan rajin kita mencoba memulai meletakkan alas-alas mental daripada masyarakat idam-idaman rakyat jelata.

Dengan rajin kita menganjurkan peaceful-coexistence antara bangsa-bangsa, dengan rajin kita meneruskan perjoangan menentang segala macam penjajahan. Dengan rajin kita mencanangkan suara kita yang menentang segala macam pakta-pakta militer, dengan rajin kita – pendek kata – meneruskan perjoangan membina kembali kepribadian bangsa, menyempurnakan Negara Kesatuan, membina masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, menganjurkan masyarakat bangsa-bangsa yang tidak kepruk-keprukan satu-sama-lain, mengikhtiarkan masyarakat umat manusia yang bersifat “social justice for all”.

Tetapi jalannya sejarah selalu dialektis. Dan jalannya dialektik sejarah itu kadang-kadang bergegap-gempita laksana guntur di langit: Response kita terhadap tantangan-tantangan yang saya sebutkan tadi itu, ternyata ditantang lagi oleh beberapa kejadian-kejadian, yang memerlu-kan kita mengadakan response-response baru! Response kita kepada challenge, dichallenge lagi oleh kejadian-kejadian, sehingga kita harus menjawab challenge baru itu dengan response-response yang baru pula!

Apakah kejadian-kejadian itu? Tak lain, ialah: pemberontakan P.R.R.I. – Permesta, dan intervensi-agressi asing, yang sebenarnya berjalin satu-sama-lain.

Demikianlah dialektik gegap-gempita dalam sejarah Republik Indonesia di waktu yang akhir-akhir ini: dialektik gelèdèk, dialektik guntur! Tetapi justru oleh karena ini adalah dialektik, – dialektiknya Revolusi – , maka Insya Allah pasti kita akan dapat mengatasinya pula dengan cara yang setimpal dengan hukumnya Revolusi!

Pemberontakan P.R.R.I. – Permesta adalah “stadium puncak” daripada penyelèwèngan-penyelèwèngan dan pengkhianatan-pengkhianatan terhadap kepada Proklamasi 17 Agustus ’45, proklamasi yang kita anggap suci dan keramat itu. Terutama sekali sesudah mereka terang-terangan bekerjasama dengan tenaga-tenaga asing, tenaga-tenaga reaksioner dan kontra-reaksioner, tenaga-tenaga kolonial yang hendak menghancurkan Republik, tenaga-tenaga militeris yang anti politik bebasnya Republik, pendek kata tenaga-tenaga kolonialis dan imperialis, – terutama sekali sesudah mereka terang-terangan bekerjasama dengan tenaga-tenaga asing itu, maka tiada sebutan lainlah yang pantas kita berikan kepada mereka daripada penyelèwèng-penyelèwèng proklamasi dan pengkhianat-pengkhianat proklamasi, pendurhaka-pendurhaka Republik dan pengkhianat-pengkhianat Republik.

Pada pokoknya, itulah mereka punya kejahatan: mengkhianati Proklamasi, mengkhianati Republik. Ya, macam-macam mereka punya alasan! Di dalam satu kuliah-umum terhadap kepada mahasiswa-mahasiswa, saya malahan pernah mengatakan, bahwa pengkhianatan mereka itu meliwati beberapa tingkatan, – lima -, yang crescendo makin lama makin naik kejahatannya.

Pertama, mereka mengemukakah dalih pembangunan daerah. Padahal kita sudah selalu memikirkan pembangunan daerah itu, mengadakan undang-undang autonomi dan lain sebagai-nya, dan kemudian malahan mengadakan konperensi-konperensi Munas dan Munap. Sebaliknya mereka melakukan petualangan politik dan petualangan ekonomi, melakukan korupsi yang mendirikan bulu-roma dengan mengadakan barter gelap, yang hasilnya buat sebagian besar masuk dalam kantong-kantongnya petualang-petualang yang mulutnya menuntut “pembangunan daerah” itu.

Kedua, – dan ini adalah tingkat kemudian -, mereka mengemukakan dalih “anti-komunis”. Jakarta adalah kota komunis! Pemerintah pusat adalah pemerintahan komunis! Sukarno adalah gembongnya komunis, atau setidak-tidaknya antèknya komunis! Padahal kita semua mengetahui bahwa kita selalu membela Pancasila. Padahal semua orangpun mengetahui bahwa politik kita ialah politik mencari persahabatan dengan semua negara, termasuk Amerika. Padahal semua orang mengetahui bahwa saya ini seorang nasionalis, – seorang revolusioner nasionalis. Tetapi yah, lidah tidak bertulang, hayo hantam-kromo keluarkan tuduhan komunis, hantam-kromo keluarkan dalih “anti-komunis”! Rakyat dihasut habis-habisan supaya anti Jakarta sebab Jakarta adalah komunis, ditakut-takuti dengan momok komunis, dicekoki terus-menerus dengan penyakit communisto-phobie, yaitu penyakit takut kepada komunis. Para ulama seluruh Sumatera, para ahli waris Nabi, para warasatul ambya, dimobilisir, mula-mula di Bukit Tinggi, kemudian di Palembang, supaya menjatuhkan vonis kepada komunisme dan kepada komunis. Cerdik benar cara mereka menarik tabir asap untuk menutupi kepetualangan dan korupsi mereka itu!

Naik setingkat lagi, saudara-saudara!

Datanglah tingkat ketiga. Tingkat ketiga ini ialah tingkat teror. Teror, persis seperti terornya D.I dan T.I.I. Teror menggertak, menggranat, membunuh! Di Jakarta beberapa kali dijalankan teror itu, antara lain di Cikini, dan jiwa teror itu masih terus hidup di kalbu mereka, sebagai ternyata dengan pembunuhan secara kejam kepada tawanan-tawanan mereka di Situjuh, di mana tawanan-tawanan itu mereka jejalkan dalam satu rumah, kemudian mereka berondong dengan granat dan bakar dengan bensin hidup-hidup. Tingkat teror ini berarti mereka dengan tegas-tegas meninggalkan alam demokrasi, dan Pancasila, masuk ke dalam alamnya fascisme dan bunuh dan gertak-paksaan, padahal, – mereka mengatakan bahwa mereka “anti komunis” dan “anti pusat”, katanya karena mereka menghendaki demokrasi, dan “komunis adalah anti demokrasi” dan “pemerintah Jakarta adalah pemerintah yang melanggar demokrasi”. Bahwa petualang-petualang itu bukan koruptor adalah satu kebohongan yang gedé, tetapi bahwa mereka menjunjung tinggi demokrasi adalah kebohongan yang lebih gedé!

Datanglah kini tingkat yang keempat: mereka mencari bantuan dan kerjasama dengan fihak-fihak imperialis dan kontra-revolusioner di luar negeri. Ini saya lihat sendiri bukti-buktinya, tatkala saya berada di luar negeri pada permulaan tahun ini. Keterangan-keterangan yang saya dapat dari fihak pemerintah-pemerintah yang bersahabat dengan kita, bukti-bukti hitam di atas putih yang saya lihat dengan mata-kepala sendiri, keterangan-keterangan dan bukti-bukti bahwa mereka mencari bantuan asing untuk membokongi Republik dan mengumpulkan senjata-senjata untuk menghantam Republik, – keterangan-keterangan dan bukti-bukti itu sebenarnya pada waktu itu telah menimbulkan pertanyaan dalam hati saya: ”dapatkah kita masih bicara lagi dengan orang-orang semacam ini?” Sampai télé-télé, – tot in den treure -, kita tadinya selalu bersedia untuk bicara dengan mereka, bermusyawarah dengan mereka, tot in den treure kita malahan telah selalu bersabar-hati dengan mereka, – tetapi, kalau mereka sekarang ini ternyata hendak membokongi Republik, hendak menghantam Republik dengan senjata, hendak mengadakan common front dengan tenaga-tenaga imperialis asing yang hendak menggempur Republik dan hendak memasukkan Republik secara paksaan ke dalam blok militer Barat, – masih dapatkah kita bicara dengan orang-orang semacam ini, yang terbawa oleh motif-motif yang tidak suci, sampai hati hendak merusak Republik? Dan memang tak lama sesudah itu muncullah kristalisasi daripada “tingkat keempat” kepetualangan mereka itu: Di Tokyo saya diberi tahu tentang “ultimatum Bukit Tinggi”, dan masih di Tokyo pula saya diberi tahu tentang “Proklamasi P.R.R.I.”

“De teerling is geworpen”. Tantangan telah dilemparkan. Response harus kita beri. Di Tokyo saya diberi tahu tentang fakta-fakta dan kristalisasi common front antara petualang dan imperialis itu yang menjelma dalam P.R.R.I., – di Jakarta, sekembali saya dari Tokyo, saya bersama Pemerintah sebagai response menarik suatu common front pula terhadap mereka, common front kita, common front-nya Rakyat, yaitu common front antara Presiden dan Pemerintah dan Angkatan Darat dan Angkatan Laut dan Angkatan Udara dan Polisi dan Rakyat, – satu common front Setia Republik -, untuk dengan tegas membasmi kepetualangan-kepetualangan yang khianat dan durhaka itu samasekali! Dan common front Rakyat ini, Insya Allah, pasti menang!

Alhamdulillah, semua operasi pembanterasan P.R.R.I. – Permesta berjalan dengan hasil yang dipukul rata boleh dinamakan baik. Operasi 17 Agustus, Operasi Sadar, Operasi Insyaf, Operasi Saptamarga I, Saptamarga II, Saptamarga III, Saptamarga IV, yang kemudian digabungkan dalam Operasi Merdeka, Operasi Mena I, Operasi Mena II, – semua operasi-operasi itu ber-jalan menurut rencana.

Di sinilah tempatnya saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh angkatan bersenjata kita dan Rakyat yang telah melakukan operasi-operasi itu, dan menunduk-kan kepalaku terhadap jasa saudara-saudara yang telah gugur.

Kemenangan operasi-operasi itu mempunyai arti yang lebih besar daripada sekedar arti lokal: Pendudukan Pakan Baru berarti dicegahnya intervensi terang-terangan yang hendak zoogenaamd menyelamatkan kepentingan minyak di daerah sana. Pembebasan Padang dan Morotai menghilangkan kemungkinan pemboman atas daerah-daerah di pulau Jawa. Pendudukan Bukit Tinggi dan Menado menghapuskan dasar “belligerent position” yang hendak dikemukakan oleh kaum pemberontak.

Dan ditinjau dari sudut geografi dan logistik, maka operasi-operasi itu adalah Satu Operasi yang maha-besar. Luas Indonesia adalah sama dengan luas benua Eropah: jarak Sabang-sampai-Merauke sama dengan jarak pantai Barat Irlandia sampai kepegunungan Kaukasus. En toh, operasi-operasi itu sukses! Kalau operasi Amerika di Eropah dalam peperangan-dunia II dinamakan “Crusade through Europe”, maka operasi-operasi kita untuk menundukkan pemberontakan-pemberontakan itu boleh dinamakan “Pancasila” – “crusade through Indonesia”. Saya kira, gugurlah juga kini legende (dongeng omong kosong) bahwa bangsa Indonesia tak mampu menjalankan operasi-operasi ekspedisi yang terkombinir!

Dengan diadakannya common front oleh mereka dengan fihak imperialis itu, maka masuklah pengkhianatan mereka itu ke tingkat yang kelima : Bukan saja mereka menghantam Republik dengan bedil dan meriam dari dalam, tetapi fihak imperialis konco mereka itu, atas permintaan mereka, dengan terang-terangan juga menghantam Republik dengan agresi dari luar. Pemburu-pemburu mengadakan straffing di pelbagai tempat, bomber-bomber asing memuntahkan bom-bom, api dan maut di beberapa wilayah, untuk mencoba mematahkan kekuatan Republik. Ini adalah suatu pendurhakaan nasional yang susah dicarikan taranya: Orang-orang Indonesia yang menamakan dirinya patriot, menyuruh orang-orang bangsa lain menikam saudara-saudaranya sendiri dengan pisau dari belakang!

Saya kira, seumur hidup generasi yang sekarang ini tak akan dapat melupakan peng-khianatan rendah-budi semacam ini!

Tetapi apa justru akibat daripada perkoncoan dengan imperialis asing itu? Pisau-belati yang dimaksud untuk menikam saudara-sendiri dari belakang itu, ternyata menikam kepada “nama” kaum petualang sendiri. Seluruh rakyat jijik kepada mereka, seluruh Rakyat – juga di daerah-daerah mereka – memuak. Seluruh Rakyat yang cinta Republik membenarkan dan menyokong tindakan tegas yang diambil oleh Pemerintah Republik. Dan memang, bagi Pemerintah tidak ada alternatief lain daripada mengambil tindakan tegas itu. Alternatief lain ialah hancurnya Republik: binasanya Republik Proklamasi. Alternatief lain ialah segala hal yang tak sesuai dengan Pancasila: Hancur-leburnya toleransi antara agama dan agama sebagai ternyata dalam segala prakteknya D.I. dan T.I.I.; hancur-leburnya kepribadian nasional berdasarkan kebangsaan Indonesia yang utuh-bulat; hancur-leburnya politik persahabatan dengan semua bangsa dan manusia, karena masuk salah satu blok; hancur-leburnya penyelenggaraan sila demokrasi; hancur-leburnya harapan akan masyarakat adil dan makmur karena menjadi antèk imperialis dan kapitalis.

Tindakan tegas yang diambil oleh Pemerintah itu adalah konsekwensi yang logis daripada pengertian “year of decision” atau “moments of decision”. Ya, memang saat-saat permulaan tahun 1958 itu bagi kita adalah saat-saat yang menentukan nasibnya abad-abad; momenten die het lot van eeuwen beheersen. Dapatkah saudara-saudara mengenangkan sejenak bagaimana gerangan rupanya hari-hari dan tahun-tahun depan kita, seandainya kepetualangan-kepetualangan itu kita biarkan, P.R.R.I. tidak kita adu-biru, Permesta tidak kita usik-usik, persekutuan mereka dengan imperialis-kapitalis asing kita tolerir, sehingga “koers” atau “arah” hidup kita berobah 180 derajat samasekali?

Kepetualangan-kepetualangan itu pada dasar hakekatnya adalah bangkitnya tenaga-tenaga reaksi dan tenaga-tenaga kontra-revolusi yang hendak mati-matian menentang kelanjutan daripada kita punya Revolusi. Tenaga-tenaga reaksi dan kontra-revolusi dari dalam negeri mencari kontak dengan tenaga-tenaga yang sama dari luar-negeri, sesuai dengan wet polarisasi. Wet: “soort zoekt soort”, – “tikus mencari tikus”, “musang mencari musang”. Tenaga reaksioner mencari tenaga reaksioner. Tenaga kontra-revolusioner mencari tenaga kontra-revolusioner. Petualang mencari petualang, tukang barter mencari tukang barter. Bandot smokkel mencari bandot smokkel. Pengkhianat mencari pengkhianat. Dulu di dalam pagar negeri sendiri, yakni di bidang nasional; kini juga di luar pagar, di bidang internasional. Sebaliknyapun, maka tenaga-tenaga di luar-negeri menyambut-baik kontak: dan kerjasama dengan persekutuan-persekutuan dari dalam, kontak dan kerjasama yang memang sudah lama dicari-cari.

Di dalam polarisasi-polarisasi ini niscaya banyak juga orang-orang yang hanya ikut-ikutan saja. Mereka adalah laksana buih-buih yang terbawa berputar oleh air-putaran, atau buih-buih yang terbawa hanyut oleh aliran deras. Terhadap kepada mereka itu, hati kita bolehlah hati yang mengampuni. “Heer, vergeef hen, ze weten niet wat ze doen”, – “ya Tuhan, ampunilah mereka, mereka tak tahu apa yang mereka perbuat”.

Ah, tiap-tiap kali saya berpidato pada hari 17 Agustus, hatiku selalu terharu karena mengetahui bahwa begitu banyak orang Indonesia mendengarkan pidato saya. Pada hari sekarang ini mungkin 50-60 juta orang Indonesia memasangkan telinganya kepada apa yang saya katakan. Di Aceh rakyat berkerumun di hadapan radio-radio-rumah dan radio-radio-umum, di Irian Barat orang dengan sembunyi-sembunyi menyetel pesawat pula. Pagi-pagi benar di waktu fajar, wakil-wakil kita di Moskow mencoba mendengarkan suara saya dan sambutan-sambutanmu. Dan di Washington pun, tengah-tengah malam benar, wakil-wakil kita mengerumuni pesawat-pesawat radionya. Ya, total barangkali 50-60 juta orang, – orang-orang Indonesia senaungan di bawah panji satu Negara, orang-orang Indonesia secinta semesra terhadap kepada Republik, yang mungkin air-matanya berlinang-linang, karena terharu hatinya ingat kepada korbanan-korbanan Proklamasi. Tetapi … ada juga orang-orang lain yang men-dengarkan pidato saya ini … Simbolon di suatu tempat, dan Zulkifli Lubis, dan Husein, dan Jambek dan Syafruddin , – dan Sumual, dan Somba, dan lain-lain. Ya, “dan lain-lain”, – itu orang-orang Indonesia yang hanya ikut-ikutan saja, atau dipaksa ikut mengangkat senjata melawan Negaranya sendiri, melawan bangsanya sendiri, melawan saudara-saudaranya sendiri.

Kepada petualang-petualang yang dengan sedar mengkhianati Negaranya sendiri dan bangsanya sendiri, saya tak mau berbicara apa-apa. Mereka di sebelah sana dari garis, kami di sebelah sini … Tetapi kepada orang-orang yang hanya ikut-ikutan saja dalam pemberontakan ini, kepada orang-orang yang salah-pimpinan itu, kepada mereka pada Hari 17 Agustus ini saya berkata: Saudara-saudara tertipu. Saudara-saudara melawan Republikmu sendiri, saudara-saudara melawan Negaramu sendiri. Saudara-saudara melawan kepastian sejarah. Dengan demikian maka hari depan bukanlah jadi hari-depanmu. Saudara-saudara menjadi korban ambisinya orang-orang yang jahat, yang secara serakah menghisap harta-kekayaan dan ke-kuasaan dari tubuhnya bangsa. Tetapi bagi saudara-saudara, waktu belum terlambat, bagi saudara-saudara buku nasional belum tertutup. Kembalilah kepada bangsamu sendiri, kembali-lah kepada Negaramu sendiri. Kembalilah kepada jalan yang benar!

Mari kita kupas lagi dasar-hakekat kepetualangan-kepetualangan tadi: Dasar-hakekatnya ialah bangkitnya tenaga-tenaga reaksi dan tenaga-tenaga kontra-revolusi yang hendak mati-matian menentang kelanjutan daripada kita punya Revolusi. Itulah pula dasar-hakekat daripada D.I.-T.I.I. sejak dari mulanya bersemboyan “anti komunis”, malahan sejak dari mulanya menamakan Republik kita ini R.I.K. yaitu Republik Indonesia Komunis, Juga D.I.-T.I.I. menjalankan teror, penggedoran, pembakaran, penculikan, pembunuhan. Juga D.I-T.I.I. bekerja-sama dengan anasir-anasir asing, menerima pimpinan militer dari asing, menerima sokongan uang dari asing, menerima droppingan senjata dari asing. Juga D.I.-T.I.I. penjelmaan daripada satu “proklamasi”, proklamasi N.I.I. 7 Agustus 1949. Dan terutama sekali: Juga D.I.-T.I.I. menentang tiap-tiap konsolidasi Republik. Herankah kita kalau Dahlan Jambek belakangan ini mencoba membentuk D.I.-T.I.I. pula di Sumatera Barat?

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 207 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Nasionalisme, Di Bawah Bendera Revolusi - II, Bung Karno | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar