Home » 2016 » August » 31 » Tahun Kemenangan
10:09 AM
Tahun Kemenangan

<<<sebelumnya....  Inilah jawaban Bangsa Indonesia terhadap politik “Negara Papua” dari fihak Belanda itu. Ya, telah berulang-ulang saya katakan bahwa jawaban ini bukanlah jawaban gertak-sambal. Bukan demagogi, bukan bahasanya seorang yang main bentak, bukan ketololannya seorang yang fanatik. Sebab mula-mula oleh fihak Belanda dikirakan demikian, dan juga oleh beberapa orang Indonesia yang merasa dirinya maha-bijaksanapun saya ini dikatakan bodoh, dicemooh, diejek, ditolol-tololkan.

Tetapi dari Rakyat Indonesia yang berjuta-juta itu, sambutan atas Trikora itu adalah hebat sekali. Berjuta-juta Sukarelawan, laki, perempuan, tua, muda, dari kota, dari desa, dari gunung-gunung, mengalirlah untuk mendaftarkan diri, – satu bukti bahwa Bangsa Indonesia sebagai satu keseluruhan bertekad untuk membebaskan Irian Barat selekas mungkin, dengan jalan apapun. Angkatan Perang kita, baik kesatuan-kesatuannya maupun pangkalan-pangkalannya telah dapat dibangun dan diperlengkapi dengan cepat, sehingga jika perlu dalam tahun 1962 ini juga dapat langsung membebaskan Irian Barat secara penggempuran operasionil.

Dengan dukungan dan lindungan Angkatan Bersendjata Republik Indonesia, telah kita daratkan lebih kurang 2.000 orang Sukarelawan di daratan lrian Barat.

Dan 2.000 Sukarelawan itu telah membangun pula berlipat-lipat ganda ribu-ribuan pejoang-pejoang bersenjata dari pemuda-pemuda di Irian Barat sendiri. Mereka telah membuat kantong-kantong gerilya dari Utara sampai Selatan Irian Barat, kantong-kantong gerilya di mana-mana.

Kantong-kantong ini merupakan daerah-daerah De Fakto Republik Indonesia yang nyata. Administrasi Belanda menjadi lumpuh, evakuasi warga Belanda secara besar-besaran telah terjadi, juga ekonominya jadi lumpuh atau kocar-kacir di daerah-daerah itu.

Dalam beberapa minggu kita dapat mengembangkan Kantong-kantong De Fakto itu di seluruh daratan Irian Barat, jika diperlukan lagi.

Ini semua dilaksanakan tanpa menggerakkan induk tenaga dari Angkatan Perang Republik Indonesia. Kita telah sedia pula dengan pasukan-pasukan lengkap guna membasmi Westerling-Westerling dan lain-lain bom-waktu yang akan ditinggalkan oleh Kolonial Belanda di Irian Barat. Dan kita telah sedia dengan berpuluh-puluh Batalyon untuk menjamin keamanan di seluruh Irian Barat, sehingga Dunia Internasional tidak usah takut akan timbul sesuatu suasana seperti di Kongo, kalau kita mengoper administrasi di Irian Barat.

Seluruh rakyat harus menunjukkan setia kawannya kepada Gerilyawan-gerilyawan kita yang perwira-perwira itu, yang berjoang mati-matian di Irian Barat, dan saja ucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mereka yang telah gugur dalam menunaikan Tugas Suci guna melaksanakan Tri Komando Rakyat.

Ya! Nyata apa tidak. Trikora bukan gertak-sambal. Trikora bukan pula politiknya Sukarno yang tolol atau majnun. Trikora adalah konsekwensi logis daripada politik Konfrontasi. Trikora adalah manifestasi daripada Volkswil Indonesia (manifestasinya tekad-kemauan Rakyat Indonesia) untuk mengusir imperialisme dari Irian Barat selekas mungkin, manifestasi daripada Offerbereidheid Indonesia (kesediaan berkorban) untuk mati-matian menjalankan perjoangan pengusiran itu. Trikora disambut secara hebat-maha-hebat oleh Rakyat Indonesia, oleh karena Trikora adalah politik yang benar. Yang tolol adalah orang-orang Indonesia beberapa gelintir itu, yang mengejek-ejek Trikora, dan menyebutkan kita orang yang tolol!

Datanglah dalam suasana memuncaknya politik Konfrontasi itu dalam bulan Maret apa yang dinamakan “Rencana Bunker”.

Makna Rencana Bunker adalah empat:

Satu : Pemerintahan atas Irian Barat harus diserahkan kepada Republik Indonesia.

Dua : Sesudah sekian tahun di bawah Pemerintahan Republik, maka Rakyat Irian Barat diberi kesempatan untuk menentukan sendiri secara bebas nasibnya selanjutnya, – tetap terus di dalam Republik Indonesia? atau memisahkan diri dari Republik Indonesia-kah?

Tiga : Pelaksanaan penyerahan Pemerintahan di Irian Barat akan selesai dalam waktu dua tahun.

Empat: Untuk menghindari bahwa kekuatan-kekuatan Indonesia langsung berhadap-hadapan dengan kekuatan-kekuatan Belanda, diadakanlah waktu-peralihan di bawah kekuasaan P.B.B. Waktu peralihan P.B.B. ini akan berlaku satu tahun lamanya, diperlukan untuk memulangkan seluruh Angkatan Perang Belanda dan seluruh pegawai Belanda dari Irian Barat ke Nederland.

Demikianlah pokok-pokok-isi Rencana Bunker. Kita segera memberikan reaksi terhadap Rencana itu: Kita terima prinsip-prinsip dari Rencana Bunker itu. Yaitu: penyerahan pemerintahan di Irian Barat kepada Republik, dan hak selfdetermination kepada Rakyat Irian Barat sesudah sekian tahun di dalam Republik, Perhatikan: kita terima prinsip-prinsip. Hanya prinsip-prinsip! Kita tidak terima rencana panjangnya waktu yang diusulkan oleh Bunker. Soal waktu dapat nanti diperjoangkan dalam perundingan.

Tampak sekali fihak Belanda dalam hal menerima Rencana Bunker itu amat ogah-ogahan. Beberapa minggu telah berlalu, beberapa bulan telah berlampau, fihak Belanda masih saja tidak memberikan jawaban yang tegas. Baru pada permulaan bulan Juli (bulan yang lalu) fihak Belanda mulai berkutik mengeluarkan suaranya, dan sementara itu sudah barang tentu Trikora telah berjalan terus: Kantong-kantong gerilya di Irian Barat telah menjalar ke mana-mana. Di Sansapor, di Sorong, di Klamono, di Taminabuan, di Fakfak, di Kaimana, di Merauke, di semua tempat-tempat itu Gerilyawan-gerilyawan kita telah menjejakkan kakinya dan menanamkan kakinya teguh-teguh. Dan telah digerakkan pula Tri Komando Rakyat oleh Rakyat di sekitar Manokwari, Serui, Kotabaru, dan lain-lain. Pendek-kata daerah-daerah De Fakto kita telah tersebar di Irian Barat di mana-mana.

Saudara-saudara!

Oleh karena Pemerintah Belanda menyatakan menerima prinsip-prinsip Bunker sesudah Trikora menerjunkan beberapa ribu paratroop di daratan Irian Barat, dan sesudah Trikora membangunkan kantong-kantong gerilya di mana-mana, maka sudah barang tentu suasana pembicaraan Rencana Bunker itu sekarang agak berlainan daripada suasana ketika Rencana Bunker baru dilahirkan, yaitu pada bulan Maret.

Sebagai tindakan pertama dari penerimaan Rencana Bunker oleh Belanda, maka saya mengutus Saudara Adam Malik ke Washington dengan tugas minta keterangan dari wakil Belanda, apakah penerimaan Rencana Bunker oleh mereka itu mengandung pengertian yang sama dengan pengertian kita? Pengertian yang sama ini perlu disiarkan di muka umum, agar kelak dapat dihindarkan kesalahfahaman antara Indonesia dan Belanda.

Sesudah Indonesia dan Belanda mempunyai pengertian yang sama mengenai prinsip Rencana Bunker, – yaitu lebih dulu penyerahan Pemerintahan di Irian Barat kepada Indonesia, dan baru kemudian daripada itu yang dinamakan selfdetermination kepada Rakyat Irian Barat, – maka saya mengutus Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio, didampingi oleh Jenderal Hidayat, pergi ke Washington, untuk “menjajagi” isi-hati yang sebenarnya dari fihak Belanda, dan Saudara Subandrio saya beri kuasa-penuh untuk mengambil segala kebijaksanaan agar prinsip Rencana Bunker merealisir pengembalian Irian Barat ke dalam kekuasann Republik terlaksana sesuai dengan tuntutan Rakyat Indonesia dalam taraf perjoangan sekarang ini.

(In accordance with the wish of the Indonesian people in the present situation).

Lebih dari seminggu Saudara Subandrio dan Saudara Hidayat bekerja mati-matian di Washington. Lebih dari seminggu mereka bertempur. Akhirnya mereka pulang. Dan yang mereka bawa ialah “pengertian bersama sementara” antara Indonesia dan Belanda (“preliminary understanding”), dan satu ”aide memoire” yang tertulis dan ditandatangani oleh Pd. Sekjen P.B.B. U THANT, tertanggal 31 Juli 1962.

Pada umumnya, Preliminary Understanding dan Aide Memoire U Thant itu mengandung 7 pokok sebagai berikut:

Sesudah ratifikasi oleh Indonesia, Belanda, dan P.B.B., maka selambat-lambatnya 1 Oktober 1962 Penguasa P.B.B. akan tiba di Irian Barat untuk mengoper Pemerintahan dari tangan Belanda.
Pada waktu itu juga, kekuasaan Belanda di Irian Barat berakhir, bendera Belanda turun, bendera P.B.B. menggantinya.

Mulai saat itu, Penguasa P.B.B. akan memakai tenaga-tenaga Republik Indonesia (baik sipil maupun alat-alat keamanan), bersama dengan alat-alat yang sudah ada di Irian Barat yang terdiri dari putera-putera Irian Barat, dan sisa-sisa dari pegawai Belanda.

Paratroop-paratroop kita tetap tinggal di Irian Barat, di bawah kekuasaan administrasi P.B.B. (“at the disposal of the United Nations’ Administration”).

Angkatan Perang Belanda mulai saat itu juga berangsur dipulangkan ke negeri Belanda. Yang belum pulang, akan ditaroh dalam pengawasan P.B.B., dan tidak boleh dipakai untuk operasi-operasi militer.

Antara Irian Barat dan daerah Republik Indonesia lainnya, adalah lalu-lintas bebas.

Tanggal 1 Januari 1963, atau 31 Desember 1962, bendera Sang Merah Putih secara resmi akan dikibarkan di samping bendera P.B.B.

Pemulangan Angkatan Perang Belanda dan pegawai Belanda harus selesai pada tanggal 1 Mei 1963, dan sebentar sesudah itu Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengoper Pemerintahan di Irian Barat, dari tangan P.B.B. ke tangan kita.

Demikianlah 7 pokok Preliminary Understanding dan Aide Memoire U Thant.

Pada tanggal 9 yang lalu saya kirim Menteri Luar Negeri Subandrio dan Jenderal Hidayat ke Washington lagi untuk mengadakan perundingan formil dengan Belanda. Lagi beberapa hari mereka berjoang dengan gigih dengan backing mutlak dari kami dan seluruh Rakyat Indonesia, dan sekarang (hari ini) perundingan formil itu telah selesai, dan saya pada saat ini dapat memberitahukan kepada Saudara-saudara, bahwa hasil perundingan formil itu telah ditandatangani.

Dan pokoknya ialah:

a. Kolonialisme Belanda di Irian Barat secara formil gulung tikar pada 1 Oktober 1962. Bendera Belanda pada hari itu secara resmi turun dari angkasa Irian Barat.

b. Kita mulai masuk secara berangsur-angsur di Irian Barat pada saat itu juga.

c. Berhubung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memulangkan secara teratur semua tenaga Belanda ke Nederland, maka pemerintahan Republik Indonesia secara keseluruhan masuknya di Irian Barat ialah pada sekitar 1 Mei 1963. Meskipun demikian, bendera Republik Indonesia sudah berkibar di Irian Barat secara resmi pada tanggal 31 Desember 1962, yaitu sebelum ayam jantan berkokok pada tanggal 1 Januari 1963.

Terimalah, Saudara-saudara, hasil ini dengan rasa terimakasih kepada Tuhan!

Nah, sekarang satu soal yang perlu saya terangkan kepada Saudara-saudara.

Dan bagaimana tentang hal selfdetermination bagi Rakyat Irian Barat? Kita menyetujui diadakan pemungutan suara selfdetermination itu pada tahun 1969. Dus 6-7 tahun sesudah Irian Barat dalam pemerintahan Republik. Dus selfdetermination ini adalah apa yang kita namakan ”internal selfdetermination”, selfdetermination antara kita dengan kita sendiri, dan bukan “external selfdetermination” yang kita tolak. Dalam tahun 1969 itu Rakyat Irian Barat boleh menentukan secara bebas: tetap di dalam Republik?, keluar dari Republik? atau bagaimana?

Tentu bagi sebagian dari Saudara-saudara ada yang bertanya: Kenapa Presiden dan Pemerintah menerima-baik hal selfdetermination bagi Rakyat Irian Barat itu, padahal Rakyat Irian Barat adalah sebagian dari tanah-air Indonesia juga, dan Irian Barat sendiri adalah sebagian dari tanah-air Indonesia, dan Irian Barat sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 de jure adalah sebagian dari Republik Indonesia, yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke?

Ya, Saudara-saudara, saya tidak menyangkal kebenaran daripada fikiran yang demikian itu. Malahan saya menyokong kebenaran pendirian tersebut, oleh karena pendirian itu adalah juga pendirian saya dan pendirian Pemerintah.

Justru oleh karena itulah kita mutlak menuntut masuknya Irian Barat dalam Pemerintahan Republik, – mutlak!, dan tidak boleh ditawar sekuku hitampun. Tuntutan ini dipenuhi oleh bagian pertama dari Rencana Bunker, dan oleh persetujuan formil yang barusan kita capai.

Maka sesudah Irian Barat masuk ke dalam kekuasaan Republik, artinya: sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945 in realitas terlaksana secara lengkap dari Sabang sampai Merauke, maka kita bersedia untuk menunjukkan sikap bijaksana. Sikap bijaksana yang sesuai dengan keadaan dan pertumbuhan di Irian Barat sendiri, yang selama 12 tahun terpisah dari kita, selama 12 tahun terus saja dijajah oleh Belanda, selama 12 tahun disuguhi garam bikinan Belanda.

Saya yakin, bahwa meskipun penjajahan Belanda merajalela di Irian Barat itu 12 tahun lamanya, toh masih banyak di sana itu patriot-patriot Indonesia yang tak mau luntur, pencinta-pencinta kemerdekaan yang tetap setia kepada Proklamasi, pencinta-pencinta kemerdekaan yang tetap setia kepada Kemerdekaan Nasional dari Sabang sampai Merauke. Meskipun Rakyat di Irian Barat itu duabelas tahun lamanya tiap hari tiap malam dicekoki dengan propaganda Belanda, tiap hari tiap malam disuruh menguntal fitnahan-fitnahan terhadap kepada Republik Indonesia, maka toh tidak kurang-kurang patriot Irian Barat yang tetap patriot. Sebagian besar dari patriot-patriot itu meringkuk dalam penjara, sebagian besar hidup sebagai buruan yang sengsara, diuber, ditangkap, disiksa, – tetapi bagaimanapun sengitnya penindasan atas mereka itu, selfdetermination ’45 masih tetap hidup menyala-nyala dalam kalbu mereka itu.

Oh ya tentu, di samping itu tentu Belanda berhasil memparadirkan boneka-boneka serta para pengikutnya, yang secara sistematis dididik oleh Belanda untuk membenci dan mencemoohkan Republik. Di mana ada perjoangan kemerdekaan tanpa bertemu dengan boneka-boneka? Di Cuba? Tidak! Di Aljazair? Tidak! Di Vietnam? Tidak! Di Guinee? Tidak! Di Indonesia sendiri dulu? Tidak! Malah di Indonesia dulu itu boneka-boneka itu, saking banyaknya, tak dapat kita hitung jumlahnya dengan jari dua tangan kita! Pasar imperialis penuh dengan boneka-boneka itu, dan engkau bisa beli mereka dengan harga setalen sepotong!

“Ze waren bij bosjes op de imperialistische passer te koop, en je kunt ze kopen voor een kwartje per stuk!”

Ya, di mana ada perjoangan Kemerdekaan yang tidak menjumpai boneka? Tetapi juga, di mana ada kaum boneka yang dapat bertahan lama? Semua sejarah perjoangan Kemerdekaan bangsa-bangsa menunjukkan, bahwa akhirnya kemerdekaan toch dapat direbut oleh patriot-patriot kemerdekaan. Akhirnya patriot-patriot inilah yang menang! Akhirnya boneka-boneka itulah yang disapu-bersih oleh perjoangan, atau ditendang masuk ke dalam timbunan sampahnya sejarah!

Di antara dua golongan di Irian Barat ini, di antara patriot dan boneka, terdapatlah golongan ke tiga yang sebagian besar terdiri dari pemuda dan pemudi. Mereka adalah amat penting, karena mereka, generasi muda itu, adalah bibit-bibit pemimpin daerah atau bibit-bibit pemimpin Nasional. Pada umumya mereka anti kolonialisme. Tetapi mereka tak bisa, atas kesadaran dan keyakinan sendiri menjadi pro Republik. Apa sebab? Mereka tidak mengenal Republik. Mereka memang dipisahkan oleh Belanda dari Republik. Mereka tak dapat mengikuti dari dekat tujuan dan cita-cita Republik. Mereka mengenal Republik hanya “van horen zegen”, en nog wel – van Hollands horen zeggen! Tatkala kita di sini memproklamirkan Republik, tatkala kita di sini menumpahkan kita punya darah untuk mempertahankan Republik, mereka baru lahir, atau baru anak-anak kecil. Tatkala kita di sini mulai membangun dan sekali lagi membangun mereka belum mencapai usia akil-balig.

Dan meskipun mereka sekarang tidak mudah diracuni oleh propaganda Belanda yang bersifat 100% anti-Republik, dan dag in dag uit menjelekkan dan menghina Republik, namun sebaliknya mereka ingin menilai dengan mata kepala sendiri apakah Republik itu, baik dalam tujuan maupun dalam isi. Para pemuda dan pemudi Irian Barat itu pada instinctnya ingin merupakan bagian daripada Republik, bahkan ingin merupakan bagian daripada Revolusi, akan tetapi mereka ingin mengambil keputusan ini (atau lain keputusan) atas dasar kesadaran sendiri dan kayakinan sendiri, dan tidak oleh bisikan atau desakan dari siapapun juga atau golongan manapun juga.

Saya kira, kita harus menghargai pendirian mereka itu. Biar mereka melihat sendiri apa Republik itu, apa tujuan Republik, apa isi Republik! Sekali mereka melihat dan mengenal Republik, kita yakin, pasti merekapun akan menjadi patriot Indonesia yang cinta kepada Republik. Dan – patriot karena keyakinan, bukan patriot buat-buatan!

Dugaan saya ini dibenarkan oleh kenyataan. Beberapa waktu belakangan ini, beberapa putera Irian Barat telah mengunjungi Republik dari Nederland. Kedatangan mereka itu samasekali tidak dengan semangat pro Republik. Malah ada yang condong kepada kurang-suka kepada Republik. Mereka hanya mau melihat. Mereka hanya mau meninjau. Beberapa hari mereka melihat sana-sini, meninjau sana-sini. Dan apa yang terjadi? Tanpa pengecualian mereka semua menjadi pro Republik! Malah ada yang minta diterjunkan di Irian Barat, untuk ikut menggempur kolonialis Belanda di Irian Barat!

Pengalaman tentang beberapa putera Irian Barat ini kita ”seluruhkan” kepada seluruh penduduk di Irian Barat. Secara keseluruhan kita masukkan mereka dalam kekuasaan Republik, sesuai dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, untuk memberi kesempatan kepada mereka mengenal dan mencamkan hasil-hasil perjoangan Republik. Sesudah itu, tahun 1969 kita akan berkata kepada mereka: “silahkan, Saudara-saudara, silahkan! Tuan-tuan boleh memilih!” Dan kita yakin, mereka akan memilih tinggal dalam Republik!

Maka atas dasar pertimbangan inilah, kita menerima juga prinsip kedua dari Rencana Bunker, yaitu selfdetermination.

Nah, Saudara-saudara sebangsa! Sungguh keramat angka 17 dalam kehidupan Republik kita ini! Kita sekarang genap berusia 17 tahun, dan pada genap berusianya Republik 17 tahun itu, pada hari ini, dengan menundukkan kepala kepada Tuhan, saya dapat memberitahukan dengan resmi kepada Saudara-saudara: nanti, pada tanggal 1 Oktober tahun ini, habislah riwayat penjajahan Belanda di Irian Barat.

Nanti, pada tanggal 1 Oktober tahun ini, tidak ada lagilah bendera Belanda yang berkibar sebagai penguasa di seluruh tanah-air kita dari Sabang sampai Merauke.

Nanti, pada tanggal 1 Oktober tahun ini, lengkaplah dalam prinsipe wilayah Negara Kesatuan Indonesia, yaitu Republik Proklamasi.

Hati kita penuh dengan rasa bercampur-bawur. Segala macam rasa, berputarlah dalam hati kita sekarang ini. Rasa syukur kepada Tuhan. Rasa gembira. Rasa pilu karena mengenangkan deritaan-deritaan yang lampau. Rasa getam karena mengenangkan korbanan-korbanan di persada perjoangan. Rasa kagum karena mengingat keberanian pahlawan-pahlawan kita yang diterjunkan di rimba-rimba dan rawa-rawa. Rasa terimakasih kepada patriot-patriot Indonesia yang mendahului kita berpuluh puluh tahun yang lalu, pendekar-pendekar daripada Gerakan Nasional. Rasa hormat kepada Pak Marhaen dan mBok Marhaeni, yang dulu dalam physical Revolution membumihanguskan rumahnya sendiri. Rasa marah karena ingat kepada pemuda-pemuda kita yang dalam physical Revolution itu ditendangi oleh serdadu Belanda atau didrél atau digantung. Rasa khidmat, karena merenungkan Karsanya Sejarah, bahwa “jer basuki mawa beya” …Dan ada satu rasa lagi. Yaitu rasa harapan. Harapan, bahwa ini kali fihak Belanda sungguh-sungguh secara jujur melaksanakan persetujuan yang baru dicapai itu. Jangan seperti Linggajati, jangan seperti Renville. Kita sudah berabad-abad bersengketa dengan Belanda, sudah berabad-abad hidup “op gespannen voet” dengan fihak Belanda, dan secara Negara dengan Negara sudah pula 17 tahun lamanya bersengketa dengan segala macam pengorbanan jiwa dan pengorbanan harta dari kedua belah fihak. Rasa pertanggunganjawab dari Rakyat kita masing-masing, Rakyat Indonesia dan Rakyat Belanda, meminta kebijaksanaan setinggi-tingginya dari para pemimpin kedua belah fihak. Kami dari fihak Indonesia, kami tidak ada maksud lain kecuali tidak mau dijajah, tidak mau dikungkung, tidak mau dieksploitir. Kami tidak ada maksud lain kecuali mau hidup merdeka dan mau dibiarkan hidup merdeka, merdeka dari penjajahan, merdeka untuk menyusun Negara dan masyarakat kami sendiri menurut kehendak kami sendiri. Kami cinta damai, kami ingin hidup bersahabat dengan segala bangsa, tetapi kalau kemerdekaan kami diganggu atau kalau kami dijajah, maka kami akan melawan, kami akan menghantam, kami akan tidak takut mati, kami akan bertempur sampai tétés darah yang penghabisan!

Itulah sebabnya kami pada saat tercapainya persetujuan Indonesia-Belanda sekarang ini masih melahirkan harapan tadi: Harapan bahwa ini kali fihak Belanda sungguh-sungguh melaksanakan persetujuan itu secara jujur, dan tidak secara Linggajati atau secara Renville, agar supaya hubungan lndonesia-Belanda kelak berlangsung secara baik.

Maka sementara itu kami dari fihak Indonesia terpaksa tetap waspada, tetap dalam posisi perjoangan, tetap dalam “stelling”, tetap dalam Trikora, tetap sampai ada kenyataan-kenyataan yang nyata, bahwa ini kali persetujuan Indonesia-Belanda itu benar-benar dilaksanakan secara jujur, dan tidak a la Renville dan Linggajati. Jika sengketa ini dapat diselesaikan secara memuaskan bagi kami dan secara terhormat bagi Belanda, maka saya nyatakan di sini, bahwa uluran-tangan saya tahun yang lalu tetap berlaku. Memang adalah menjadi dasar penghidupan Nasional Bangsa Indonesia, bahwa kami secara aktif mencari persahabatan dengan setiap bangsa, jika dari fihak mereka itu ada keinginan jujur ke arah itu. Memang inilah termaktub dalam Kerangka nomor tiga daripada Revolusi Indonesia itu, yaitu Kerangka persahabatan dari semua bangsa.

Maka kepada Bangsa Indonesia sendiri saya berseru supaya selanjutnya kita tidak usah merasa sombong terhadap Belanda, tidak usah bersikap congkak karena merasa menang. Pelajaran yang saya sendiri sejak pemuda peroleh dari almarhumah Ibu saya ialah: ”Uletlah dalam kekalahan, tetapi berbudilah dalam kemenangan”. Saya kira pelajaran yang saya terima dari Ibu ini, berlaku pula bagi kita-semua dalam menghadapi penyelesaian sengketa antara Indonesia dan Belanda.

Kecuali itu, kemenangan yang kita capai ini, bukan ”Kemenangan pribadi” dari seseorang semata-mata. Jangan dicongkak-congkakkan! Kemenangan ini adalah Kemenangan Sejarah. Tiap perjoangan menentang kolonialisme akhirnya akan dimenangkan oleh fihak pejoang kemerdekaan, oleh karena jalannya Sejarah menghendaki kemenangan fihak kemerdekaan itu. Tiap perjoangan mempertahan-kan kolonialisme akan kalah, oleh karena jalannya Sejarah menghendaki kalahnya kolonialisme itu. Kita telah berbuat sesuai dengan jalannya Sejarah, dan oleh karena itulah kita menang. Belanda berbuat menentang jalannya Sejarah, dan oleh karena itulah mereka kalah. Karena itu, jangan kemenangan kita ini terlalu dicongkak-congkakkan!

Kecuali itu, menengadahkanlah muka kita-semua kepada Tuhan. Kemenangan ini adalah Karunia Tuhan. Pemberian Tuhan! Belas-kasihnya Tuhan! Dialah yang membuat. Dialah yang membuat. Dialah yang memberi. Karena itu janganlah mencongkakkan diri.

Saudara-saudara, kini dua acara dari Triprogram Pemerintah telah terlaksana: Keamanan dan Irian Barat. Di bawah ridlonya Allah subhanahu wa ta’ala, di bawah rakhmatnya Tuhan yang Maha Adil, maka acara Keamanan dan acara Irian Barat dapat pada waktunya terlaksana berkat keuletan-hati dan tekad kesatuan Bangsa Indonesia. Keuletan-hati yang tali-baja, dan tekad-kesatuan yang laksana gunung-batu itu, sebagai tadi kukatakan, hanyalah mungkin diwujudkan jika kita mempunyai Landasan bersama yang hidup mewahyui kita sebagai suatu kenyataan yang hidup, suatu living reality, – suatu Landasan yang benar-benar menghikmati seluruh fasét kehidupan Bangsa, baik ideologis, maupun Landasan yang benar-benar Nasional dalam arti yang seluas-luasnya. Dan landasan yang begitu itulah Landasan RESOPIM. Dengan Landasan RESOPIM itu kita dalam waktu yang telah ditetapkan dapat menyelesaikan persoalan-berat Keamanan dan persoalan-berat Irian Barat. Dengan Landasan RESOPIM itu kita dapat mencapai tahun 1962 ini sebagai satu Tahun Kemenangan. Lihat! Berapa umur Manipol-USDEK? Berapa umur RESOPIM? Sudah panjangkah umur Manipol-USDEK-RESOPIM itu? Manipol-USDEK baru berumur tiga tahun! RESOPIM baru berumur satu tahun! En toch kita dengan Landasan Manipol-USDEK dan RESOPIM itu telah mencapai hasil yang gilang-gemilang! Satu tanda apa? Tanda bahwa Manipol-USDEK-RESOPIM adalah Landasan yang Sakti! Karena itu, hayo berjalan terus!, – biar anjing menggonggong, hayo berjalan terus! – di atas Landasan Manipol-USDEK dan RESOPIM. Melihat hasil-hasil dari perjoangan kita dalam waktu belakangan ini, – juga di lapangan pembangunan -, sebenarnya, – siapa yang masih ingin terus bersikap pesimistis atau sinis, kecuali tentu musuh dari Revolusi, golongan gadungan atau golongan Kontra-revolusioner, yang selalu hanya pandai mengeritik saja atas dasar textbook-thinking, atau golongan yang selalu hanya memakai Republik untuk mengejar keuntungan diri sendiri atau golongannya sendiri, atau golongan yang memang anti Republik karena Republik adalah Republik Kemerdekaan dan Republik Kerakyatan? Maaf jikalau saya berkata, bahwa, mereka selalu melarikan diri dari kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh Republik, – kesulitan-kesulitan yang memang selalu inhaerent pada tiap-tiap Revolusi. Mereka belum pernah dapat membanggakan diri menyumbangkan tenaga atau fikiran atau pengorbanan, dalam saat-saat Republik dan Revolusi dalam kesulitan atau diancam oleh bahaya.

Tidak, mereka lari, mereka mencari hidup-enak di luar Revolusi atau di luar Republik, dan dari sana itulah mereka lancarkan mereka punya kritik, kadang-kadang ancaman, bahkan juga tindakan-tindakan subversif terhadap diri saya dan dirinya orang-orang yang tetap menjalankan tugasnya dalam Republik dan dalam Revolusi. Mereka di luar negeri itu tak segan-segan untuk menceriterakan segala kekurangan-kekurangan kita kepada fihak asing, segala kekurangan-kekurangan Republik seolah-olah golongan asing itulah yang akan menentukan siapa yang harus memimpin Bangsa Indonesia dan Negara Indonesia. Mereka bersikap seolah-olah merekalah yang lebih tahu segala hal, seolah-olah merekalah yang akan dapat “menyelamatkan Indonesia”. “Segala sesuatu akan lebih baik”, katanya, asal saja merekalah yang memegang tampuk-pimpinan, asal saja merekalah yang memegang kemudi. Padahal, orang-orang yang sedemikian rupa itu, belum pernah, khususnya sesudah 1950, menunjukkan kebesarannya dalam sesuatu hal, kecuali – kebesaran dalam mengeritik. Rakyat-jelata belum pernah menikmati kebesaran mereka, baik dalam aksi maupun dalam konsepsi. Yang selalu mereka dengung-dengungkan ialah hanya zg. ”penyelesaian mas’alah-mas’alah” menurut afgezaagde en conventionele formules, afgezaagde en conventionele formules yang mereka ambil dari textbook-textbooknya dunia Barat, – afgezaagde en conventionele formules yang saya sudah kenal dari zamannya saya masih plonco ijo royo-royo!

Padahal, Revolusi adalah pembongkaran barang tua diganti dengan barang baru, kataku tadi. Revolution rejects yesterday! Revolusi harus melempar jauh-jauh, bahkan menghantam hanyur-lebur, fikiran-fikiran kuno, dan harus menegakkan, menggembléngkan, mengkobar-kobarkan fikiran-fikiran baru, cara-cara baru, konsepsi-konsepsi baru, cipta-cipta baru, landasan-landasan baru, tindakan-tindakan baru, pencatut-taliwandaan baru.

Padahal, Revolusi adalah “a do-it-yourself-outfit”, Revolusi adalah suatu hal yang harus dijalankan dengan aksimu dan idemu sendiri, – tak dapat Revolusi itu dijalankan dengan mempergunakan textbook-textbooknya orang lain, apalagi textbooknya orang-orang yang tidak revolusioner, apalagi textbook-textbook yang kontra-revolusioner!

Saya dengan sengaja menguraikan persoalan ini agak panjang, – maaf!

Kataku -, oleh karena di waktu-waktu belakangan ini saya lihat menggiatnya sesuatu aksi subversif. Ada yang ditujukan kepada diri saya pribadi, – saya pernah digranat, dimitrailjir, ditembak pistul, pendek kata hendak dibunuh -, ada yang diarahkan kepada kawan-kawan patriot lain, ada yang dibidikkan kepada Republik an sich, Pemerintah dalam hal ini tidak hanya akan lebih waspada, akan tetapi malahan ada kalanya telah mengambil initiatif bertindak, sebelum aksi subversif itu dapat menjalankan rolnya yang lebih besar. Ya, apa boleh buat! ”A Revolution is not a very polite thing”, – “Revolusi bukanlah suatu hal yang amat ramah-tamah”, – Revolusi adalah Revolusi! Saya sudah pernah berkata dua tahun yang lalu: Revolusi terpaksa mengenal garis-pemisah. Garis-pemisah antara kawan dan lawan. Garis-pemisah antara kawan-Revolusi dan lawan-Revolusi. Kawan-Revolusi harus kita pupuk, lawan Revolusi harus kita hantam, kita gempur, kalau perlu kita binasakan samasekali. Kalau tidak, Revolusi sendiri akan binasa!

Saudara-saudara! Dengan selesainya soal keamanan, dengan selesainya soal Irian Barat, maka modal kita untuk memecahkan soal ekonomi akan sangat bertambah. Dulu pernah saya katakan, bahwa untuk menyelesaikan tugas keamanan saja, 50% dari seluruh kegiatan Nasional kita curahkan kepada itu, dan kemudian, ditambah dengan tugas TRIKORA, jumlah ini menjadi lebih besar lagi! Hampir-hampir ¾ dari kegiatan Nasional kita, kita pergunakan untuk menyelesaikan keamanan dan menjalankan Trikora itu. Jelasnya lebih dari 70% dari kegiatan Nasional kita, kita tumplekkan ke arah itu! Perhatikan sekali lagi: Lebih dari 70% !! Mengertikah Saudara-saudara, bahwa inilah salah satu sebab yang terbesar yang membawa kesulitan dalam kehidupan ekonomi? Mengertikah Saudara-saudara, bahwa dengan ditumplekkannya lebih daripada 70% Kegiatan Nasional itu, program ”Sandang-Pangan” belum samasekali terlaksana dengan cara yang memuaskan?

Saya dapat mengikuti penderitaan-penderitaan di sana-sini dan saya menundukkan kepala saya di hadapan penderitaan-penderitaan itu, sambil berkata: silahkan, silahkan marahi saya, silahkan menunjukkan jari kepada saya, silahkan hujankan kebérangan Saudara kepada saya, – dan saya akan terima semua itu dengan hati yang tenang. Hanya saya mau menerangkan di sini, bahwa memang benar saya telah memberikan prioritas kepada penyelesaian soal keamanan dan soal Irian Barat, meskipun saya tahu, bahwa untuknya hampir ¾ daripada kegiatan Nasional harus dispendir. Benarkah politik saya yang demikian itu? Atau salahkah tindakan saya yang demikian itu? Sejarah akan menjatuhkan putusannya yang terakhir. Keamanan harus, harus sekali lagi harus dipulihkan dalam tahun ini, dan tidak boleh tunggu sampai tahun datang, – dan Irian Barat harus pula, harus, harus, tigakali harus, dimasukkan kekuasaan Republik tahun ini, sebelum ayam jantan berkokok 1 Januari 1963, kalau kita tidak menghendari Irian Barat itu masih berlarut-larut lagi dipermainkan orang dengan jalan akal-bulus “Negara Papua” atau dengan jalan lain-lain. Menurut strategi-waktu, maka 1962 adalah tahun tepat untuk memberi “genadeslag” kepada gerombolan pemberontak, dan Rakyatpun tak dapat menderita gangguan keamanan lebih lama lagi, dan menurut strategi-waktu pula berhubung dengan situasi internasional maka 1962 adalah waktu yang tepat pula untuk memberikan “genadeslag” kepada imperialisme Belanda di Irian Barat. Artinya: tahun 1962 adalah tahun yang obyektif menentukan bagi kita (beslissend, decisive) dalam hal menghantam hancur-lebur sisa-sisa terakhir dari kaum pemberontak, dan menghantam hancur-lebur imperialisme Belanda di Irian Barat. Tahun lain, kesempatan lain, tidak segera akan datang lagi! Sama dengan misalnya: Agustus 1945, segera sesudah peperangan dunia yang ke-II berakhir, adalah saat yang menurut strategi-waktu, obyektif satu-satunya saat, untuk mengadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1929 saya sudah berkata: “pada akhir peperangan dunia yang akan datang, pada akhir peperangan Pasific, pada waktu itulah Indonesia akan merdeka!” Dan karena ucapan saya ini, saya oleh Belanda dijebloskan bertahun-tahun ke dalam penjara!

Nah, demikianlah duduknya perkara: Keamanan dan Irian Barat tidak bisa tunggu satu hari lebih lama lagi, sedangkan soal Sandang-Pangan bisa kita pecahkan sambil berjalan, dan – nanti lebih mudah, karena modal yang tadinya kita perguna-kan untuk memulihkan keamanan dan mengembalikan Irian Barat itu, dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan ekonomi. Kecuali daripada itu, keadaan Sandang-Pangan toh masih boleh dikatakan lumayan, mengingat bahwa kita melemparkan hampir ¾ dari kegiatan Nasional ke arah Keamanan dan Irian Barat itu?, mengingat bahwa kita ini setengah-setengah dalam keadaan perang?, mengingat bahwa pembangunan-pembangunan vital yang menelan ongkos milyar-milyaran berjalan terus?, mengingat bahwa kita tahun yang lalu dihamuk oleh kemarau yang mahahebat, ditambah dengan hama baru yang bernama ganjur? Adakah orang Indonesia yang mati kelaparan? Adakah orang Indonesia yang telanjang tidak berpakaian? Sebaliknya, adakah orang Indonesia sekarang ini, yang, melihat sukses-sukses kita di lapangan politik dan di lapangan pembangunan segala macam, tidak bangga bahwa ia orang Indonesia? Tidak bangga bahwa Republik ini adalah Republiknya? Tidak bangga bahwa, kendati masih ada kekurangan-kekurangan, ia adalah anggauta daripada Satu Bangsa yang bukan lagi bangsa cemoohan dunia, tetapi satu Bangsa yang dihormati dan dikagumi orang? Dan lebih lagi daripada itu: bahwa ia adalah anggauta dari satu Bangsa yang tidak mandek, tetapi satu Bangsa yang berjalan, – ya, berjalan! -, berjalan pesat kearah pem-bentukan satu Negara yang besar dan utuh dan kuat dari Sabang sampai Merauke, berjalan pesat ke arah satu kehidupan yang mulia, yang dihormati orang, yang adil, yang makmur, yang menjadi mercu-suar bagi orang lain, yang tiada exploitation de l’homme par l’homme, yang pesat menjadi salah satu pendekar daripada new emerging forces, – satu bangsa yang berjalan ke arah realisasi daripada sosialisme berdasarkan Kepribadian Nasional!

Mengingat semua ini, mengingat bahwa hingga kini kita masih dapat mempertahankan kehidupan nasional di lapangan ekonomi, meskipun 75% dari kegiatan nasional dilemparkan kepada keamanan dan Irian Barat, maka saya, di mana sekarang soal keamanan dan Irian Barat itu boleh dikatakan selesai, Insya Allah merasa sanggup untuk mengatasi bottlenecks dan kesulitan-kesulitan dari persoalan ekonomi dalam waktu pendek yang tidak terlalu panjang. Sementara itu saya di sini menandaskan, bahwa untuk lancarnya pelaksanaan program ekonomi (antara lain sandang-pangan) maka perlulah kita benar-benar menyingkirkan beberapa penyakit. Di antara penyakit-penyakit itu, yang terpokok ialah terlalu parahnya penyakit Komunisto-phobi, kiri-phobi, Rakyat-phobi, buruh-phobi dan tani-phobi, yang masih ngendon di dalam hati dan kepala setengah alat-alat negara yang bersangkutan. Untuk menyebutkan beberapa contoh: Guna menaikkan produksi, maka sudah beberapa lama saya anjurkan untuk membentuk Dewan-dewan Perusahaan, di mana diikutsertakan wakil-wakil kaum buruh dan kaum tani dan wakil-wakil golongan-golongan Rakyat lainnya, tetapi sesudah sekian lama dan berulang-kali saya peringatkan, baru sekarang inilah mulai dibentuk, dan pembentukannyapun jalannya seperti keong, lambatnya bukan kepalang. Sudah berapa lama saya anjurkan, dan malahan sudah berapa lama lahir Undang-undangnya, supaya perjanjian Bagi Hasil yang agak menguntungkan kaum tani dan Landreform dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, tetapi sampai sekarang belum dilaksanakan betul-betul sebagaimana mestinya. Semuanya ini jika diteliti sebab-sebabnya, akan terbukti bahwa yang menjadi penghalang ialah Komunisto-phobi, kiri-phobi, Rakyat-phobi, dan sebagainya! Si penderita penyakit ini takut membentuk Dewan-dewan Perusahaan, Dewan-dewan Produksi, demikian pula Dewan-dewan Distribusi dan Panitia Pembelian Padi, dan lain sebagainya, karena mereka tahu, bahwa jika ini dibentuk, maka akan berarti mengangkat dan mengikutsertakan wakil-wakil buruh atau tani, dan di antaranya terdapat orang-orang Komunis yang mereka takuti. Mengenai Landreform, misalnya, masih ada saja orang-orang yang suka menegas-negaskan bahwa Landreform Indonesia, adalah “bukan Landreform Komunis”, malah lebih daripada itu: mereka mencoba-coba mencocok-cocokkan Landreform Indonesia dengan “Landreform” di Taiwan atau di Vietnam Selatan! Dengan demikian, mereka bukannya mengurangi, tetapi malah mempertebal komunisto-phobi, sekurang-kurangnya mereka sendiri masih komunisto-phobi. Dengan demikian, masih tepat apa yang pernah saya katakan dalam Jarek, bahwa “masih ada saja orang-orang yang tidak bisa berfikir secara bebas apa yang baik bagi Rakyat Indonesia, dan apa keinginan Rakyat Indonesia, melainkan a priori telah benci dan menentang segala apa saja yang mereka sangka adalah kiri dan adalah “Komunis”.

Dalam Risalah “Mencapai Indonesia Merdeka” yang saya tulis 30 tahun yang lalu, pernah saya tulis: “Kita harus merdeka agar kita bisa leluasa bercancut-taliwanda menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme. Kita harus merdeka, agar supaya kita bisa leluasa mendirikan suatu masyarakat baru yang tiada kapitalisme dan imperialisme. Selama kita belum merdeka, selama kita belum bisa leluasa menggerakkan kita punya badan, kita punya tangan, kita punya kaki, selama kita dus masih terhalang di dalam kita punya gerak bangkit – tidak bisa “kiprah” sehebat-hebatnya, – selama itu kita tidak bisa habis-habisan-tenaga menghanjut stelsel kapitalisme dan imperialisme. Selama itu maka kapitalisme dan imperialisme akan tetap berkuasa sebagai yang mahasakti, bertakhta di atas singgasana kerezekian Indonesia, tidak bisa digugurkan daripada singgasana itu hingga mati menggigit debu …”

Jika sekarang ini di alam Indonesia Merdeka, bagian terbesar dari Rakyat, yaitu kaum buruh dan kaum tani, belum bisa berleluasa bercancut-taliwanda, masih terhalang dalam segala gerak-bangkitnya, sehingga tidak-bisa “kiprah” sehebat-hebatnya untuk secara habis-habisan menghanjut kaum imperialis dan kakitangan-kakitangannya di dalam negeri, maka semuanya ini adalah karena sebagian kita ini masih hidup seperti di alam kolonial, terutama belum lepas dari komunisto-phobi.

Masih terlalu banyak instruksi-instruksi dan tindakan-tindakan Presiden yang ditujukan untuk memobilisasi, mempersatukan dan mengikutsertakan kekuatan-kekuatan Rakyat yang revolusioner, tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, atau malahan diam-diam kadang-kadang “dijegal” atau “diserimpung” oleh alat-alat negara sendiri. Satu contoh saja misalnya mengenai pengerahan dan pemersatuan Rakyat melalui Front Nasional. Pekerjaan Front Nasional sekarang ini kadang-kadang digerowoti dan dipecah-belah oleh orang-orang yang masih menderita sesuatu phobi. Malahan masih ada satu daerah, yang di situ itu belum dapat dibentuk Front Nasional daerah, karena adanya orang-orang yang komunisto-phobi!

Tetapi sekali lagi saya katakan, saya tidak segan dan menundukkan kepala kalau Rakyat memarahi saya, dan saya akan terima kemarahan itu dengan tenang. Tetapi sebaliknya sayapun tidak segan untuk menudingkan jari saya kepada golongan-golongan yang selalu mencari keuntungan dari keadaan inflasi, atau dengan sengaja menjalankan subversi ekonomi untuk menyulit-nyulitkan dan menjegal-jegal segala gerak-gerik Republik atau pimpinan Republik. Kepada mereka itu saya berkata: Satu hari akan datang yang engkau melihat segala usahamu gagal. Dan mungkin satu hari akan datang, yang engkau harus menebus kejahatanmu itu di dalam penjara, atau di tiang penggantungan!

Saudara-saudara! Waktu tidak mengizinkan saya untuk membicarakan hal-hal lain yang penting-penting pula. Kepada para menteripun saya menyatakan penyesalan saya, bahwa tidak semua laporan mereka itu dapat saya masukkan dalam pidato ini. Tadi sudah saya katakan bahwa hari ini adalah hari Jum’at. Tapi haraplah Saudara-saudara tetap mendengarkan saya sampai habis. Tepat pada waktunya, Saudara-saudara boleh pulang.

Saudara-saudara! Saya sekarang tiba pada kata penutup.

Kata pembukaan, sebagai tadi Saudara dengarkan, menguraikan irama dari perjoangan kita di tahun yang lampau.

Kata penutup harus memberikan pedoman dalam menghadapi masalah-masalah di tahun yang akan datang.

Apakah pedoman ini?

Peganglah teguh-teguh dalam ingatan Saudara-saudara: Perjoangan kita atas dasar Manipol-USDEK dan RESOPIM sudah mulai membawa hasil yang menyenangkan. Lihatlah pada hasil-hasil besar daripada perjoangan kita itu yang sekarang sudah tertulis dengan bintang-bintang di angkasa, lihatlah hasil-hasil lain yang berupa stadion-stadion di dalam kalbunya Rakyat, lihatlah hasil-hasil lain besar-kecil yang Saudara dapat lihat dengan mata dan raba dengan tangan di kanan-kiri Saudara! Kewajiban kita ialah terus bersatu-padu dan terus bergotong-royong sambil memegang teguh Manipol-USDEK dan RESOPIM itu, dan memperluas dan memperdalam pelaksanaan Manipol-USDEK dan RESOPIM itu.

Mengenai ini saya memperingatkan kepada satu hal yang kita harus waspada: Yaitu, kepada adanya orang-orang yang dalam perkataan mengikuti Manipol-USDEK dan RESOPIM, akan tetapi dalam prakteknya bertentangan dengan Manipol-USDEK dan RESOPIM. Waspadalah terhadap orang-orang yang demikian itu! Waspadalah! Sebab jikalau tidak, maka nanti mudah tumbuh pengrongrongan Revolusi dari dalam.

Jagalah supaya Revolusi kita ini tetap murni dan segar! Lihat, ia sudah mulai mendatangkan hasil-hasil yang baik. Revolusi kita sekarang ini bukan lagi hanya mendatangkan kesulitan-kesulitan dan pengorbanan-pengorbanan belaka, ia juga sudah mulai mendatangkan kelezatan-kelezatan. Sifat “negatif”, sifat “destruksi”, sifat “menjebol” daripada Revolusi kita ini sekarang sudah mulai berkurang, – sifat “positif”, sifat “konstruksi”, sifat “membina” sudah mulai berkembang. Apa yang sudah ditanam dalam Revolusi kita ini, sekarang sudah mulailah berkembang atau berbuah. Boleh dikata, bahwa Revolusi kita sekarang ini sudah meningkat kepada taraf “tumbuh” sendiri, yaitu sudah meningkat kepada tingkat Selfsustaining growth atau selfpropelling growth, – bertumbuh sendiri atas dasar hasil Revolusi sendiri, laksana tanaman yang sudah “jadi”, tak perlu dirabuk-rabuk, tak perlu disiram-didangir setiap hari.

Dan hasil-hasil Revolusi kita ini tidak hanya kita saja yang merasakan lezatnya, seperti ternyata dalam “year of triumph” ini, tidak!, akan tetapi seluruh dunianya “new emerging forces”-pun mengakui konsolidasi dan kemajuan kita ini, dan mereka ikut kagum, dan mereka ikut gembira. Memang Revolusi kita adalah sebagian daripada Revolusi-dunia yang besar, sebagai sudah saya uraikan dalam salah satu pidato 17 Agustus beberapa tahun yang lalu. Revolusi Indonesia, kataku tempohari, adalah “congruent dengan social conscience of man”, “Kongruen dengan budi-nurani kemanusiaan”, dan sekarang nyata benar bahwa Revolusi Indonesia itu sungguh-sungguh mempunyai suara yang mengumandang keempat penjuru daripada dunia”, Revolusi Indonesia mempunyai Universal Voice, – Revolusi Indonesia mempunyai Suara Sejagad! Di mana-mana, di Kongo, di Aljazair, di Angola, di Mesir, di Afrika Baratdaya, di Cuba, di Amerika Latin yang lain, di negara-negara sosialis, – di mana-mana orang mendengarkan Suara Dengungnya Revolusi Indonesia, di mana-mana orang mendengarkan the Universal Voice daripada Revolusi Indonesia. Karena itulah maka Indonesia lah dipersilahkan oleh negara-negara Asia-Afrika untuk mengambil inisiatif mengadakan Konperensi Asia-Afrika yang kedua. Insya Allah, akhir tahun ini kita mengadakan Konperensi Asia-Afrika ke II, di Bandung lagi!

Dan bukan di kalangan ”new emerging forces” saja orang mengakui konsolidasi Revolusi kita itu. Di kalangan ”old establish forses”-pun orang mengakui konsolidasi dan kemajuan Revolusi kita itu, di kalangan ”old establish forces”-pun Revolusi kita ini sekarang sudah dipandang sebagai satu fenomen-dunia yang besar artinya, satu fenomen yang harus diperhatikan sungguh-sungguh. ”The Indonesian Revolution has become a phenomenon of threatening issue”, demikianlah seorang penulis mereka pernah menulis beberapa bulan yang lalu.

Ya!, atas dasar Manipol-USDEK dan RESOPIM, maka Revolusi Indonesia sekarang sudah menaik kepada tingkat selfpropelling growth: Kita maju atas dasar kemajuan! Kita mekar atas dasar kemekaran! Kemajuan sudahlah mempunyai momentum sendiri, dan kewajiban kita ialah jangan sekali-kali melepaskan momentum itu.

Karena itu, hai Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, jangan lepaskan konsolidasi dan kemajuan ini, jangan meninggalkan dasar dan landasan daripada konsolidasi dan kemajuan ini yaitu Manipol-USDEK-Resopim, jangan kendor, jangan ragu-ragu, jangan mandek, berjalanlah terus atas dasar Landasan itu, untuk mendapatkan hasil-hasil yang lebih besar lagi.

Tahun 1962 adalah Tahun Kemenangan, setidak-tidaknya Tahun Permulaan Kemenangan. Merasalah bangga bahwa kita ini putera-putera Indonesia! Merasalah bangga, bahwa kita ini anggauta-anggauta Bangsa Indonesia!!

Kita tidak boleh sombong, tetapi kita mempunyai alasan-alasan dan dasar-dasar yang nyata untuk menghadapi masa-datang dengan penuh kepercayaan!

Gelagat-gelagat yang kita lihat sekarang ini ialah, bahwa Indonesia Pasti Jaya.

Kita selalu suka membayar beya. Kita pasti nanti basuki!

Sekian!

Terimakasih!

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 200 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar