Home » 2016 » August » 22 » Tahun Berdikari (Takari)
1:47 PM
Tahun Berdikari (Takari)

<<<sebelumnya.....   Indonesia tidak mau munafik dengan Sosialismenya. Indonesia dengan tegas menyatakan bahwa revolusi masih dalam tahap nasional-demokratis, sekalipun sejumlah hasil penting telah dicapai dalam tahap ini. Nanti akan datang ketikanya, – yang Indonesia akan membangun Sosialisme, yaitu apabila modal imperialis sudah habis dan pemilikan tanah kaum tuan-tanah sudah dibagi kembali kepada rakyat. Yang terang, dengan modal imperialis tidak mungkin kita membangun Sosialisme. Jangankan Sosialisme, ekonomi nasionalpun tidak akan mungkin! Oleh sebab itu, prinsip membangun ekonomi tanpa modal monopoli asing, sudah menjadi prinsip yang tak bisa ditawar-tawar bagi kita. Adapun sikap RI terhadap AS., hal inipun sudah diketahui umum. Pemerintah AS sendiri sangat tahu akan sikap kita itu. Segala sesuatunya tidak semata-mata bergantung pada RI. Malahan, dalam keadaan sekarang, soal-soalnya lebih banyak bergantung pada sikap AS. Apakah mereka akan menghentikan sokongan mereka terhadap “Malaysia” dan bersahabat kembali dengan Indonesia, ataukah sebaliknya tetap menyokong “Malaysia” dan memusuhi RI. – ini adalah persoalan yang terpenting dewasa ini dalam relasi R.I.-A.S. Baiklah pemerintah AS. mempertimbangkan betul-betul hal ini, karena akhirnya pada kita ada hak penuh – sebagai Republik yang berdaulat – untuk menasionalisasi, atau bahkan mengkonfiskasi modal asing manapun yang memusuhi Republik Indonesia.

Tentang Singapura: Lemahnya proyek “Malaysia” sudah kentara sejak permulaannya. Ini sudah ratusan kali kukatakan! Seperti seluruh dunia tahu, Brunei yang menjadi tempat pertama pecahnya revolusi Kalimantan Utara di bawah pimpinan Mahmud Azahari itu, menolak “Malaysia” dan tidak pernah tergabung dalam “Malaysia”. Sekalipun diiklankan secara besar-besaran oleh pers imperialis seakan-akan ekonomi “Malaysia” itu “makmur”, tapi aksi-aksi kaum buruh di sana yang melawan kemerosotan hidup tidak bisa disembunyi-kan lagi. Sementara itu, sedang R.I. mendapat pujian dari mana-mana karena politiknya yang dijiwai Bhinneka Tunggal Ika sehingga Rakyat Indonesia merupakan Rakyat yang rukun, di “Malaysia” terus-menerus timbul kerusuhan-kerusuhan rasialis. Semua ini membuktikan bahwa proyek “Malaysia” memang suatu proyek yang dipaksakan. “Malaysia” diadakan antara lain untuk. “overvote” suku Tionghoa. Pernah saya bersenda-gurau bahwa “pertentangan Kualalumpur-Singapura lebih tajam daripada pertentangan Kualalumpur – Jakarta”.

Tentu ini hanya senda-gurau belaka, tetapi apapun alasannya, sudah menjadi kenyataan bahwa Singapura memisahkan diri dari “Malaysia”. Ya, “Malaysia” mulai rontok dari dalam! Rontok berantakan nantinya samasekali! Tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang akan bisa mempertahankan kelangsungan hidup “Malaysia”! Tidak Tengku, tidak Inggeris, tidak Amerika, tidak seribu dewa dari kayangan! Peristiwa ini sekaligus mendemonstrasikan kegagalan total daripada politik kolonial Inggeris di mana-mana. Sesudah gagal dengan West Indies Federation, gagal dengan Central Federation of Africa, gagal dengan South Arabian Federation, Inggeris kini gagal pula dengan “Federation of Malaysia”!

Saudara-saudaraku setanah-tumpah-darah,

Kawan-kawanku serevolusi,

Perjoangan kita selamanya mempunyai aspek nasional dan aspek intemasional. Kedua-dua aspek ini tak terpisah-pisahkan satu samalain. Pada perayaan dwi-dasawarsa Republik ini pun kita perlu menelaah situasi internasional dalam mana kita sekarang berada.

20 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, dan 20 tahun setelah didirikannya P.B.B., perdamaian dan keamanan bangsa-bangsa tetaplah tinggal cita-cita, tinggal harapan, sedangkan kenyataannya banyak bangsa-bangsa masih merana dalam penderitaan yang berlarut-larut, akibat “peradaban” imperialisme. Kaum imperialis paling suka menyebut dirinya “beradab”; mereka juga paling suka menganggap kita-kita ini “biadab”, sehingga mereka harus datang dengan pasukan-pasukan, dengan armada-armada, dengan pangkalan-pangkalan perang untuk “mengajarkan peradaban” kepada kita … Dalam “mengajarkan peradaban” itu mereka cukup royal, tidak sayang harta tidak sayang benda, dan jika kita-kita ini dianggap “mbandel”, maka dibomnyalah kita, dibomnya Maluku, dibomnya Kamboja, dibomnya Laos, dibomnya Kuba.

Pada saat ini rupanya bangsa yang paling “mbandel” itu bangsa Vietnam, sehingga bangsa ini setiap hari, setiap jam, setiap detik dihujani bom oleh pembawa-pembawa “missi suci” dari Washington … Kalau “missi suci” itu gagal total, sudah tentu yang salah ya kita-kita kaum “biadab” ini!

Mereka yang datang dari jarak sejauh separo bola-bumi, mereka itu namanya “pembela perdamaian”, sedang Rakyat Vietnam yang tinggal di negerinya sendiri, mengurusi urusannya sendiri dan mengatur tatahidupnya sendiri, Rakyat Vietnam ini dinamakan “agresor”. Salah-satu harus gila, Saudara-saudara: Vietnam atau Amerika Serikat. Kedua-duanya gila tidak mungkin, kedua-duanya waras pun tidak mungkin! Saudara-saudara bisa menyimpulkan sendiri mana yang waras dan mana yang giIa!

Akhirnya “alasan” A.S. mengapa melakukan “escalation” atas peperangannya di Indocina, adalah “untuk mencegah Vietnam menjadi negeri Komunis”.

Saya tidak pernah mendengar Paman Ho berkeberatan A.S. merupakan negeri kapitalis, jika Rakyat A.S. memang menghendaki demikian; kenapa A.S. berkeberatan Vietnam “menjadi negeri Komunis”, jika Rakyat Vietnam meng-hendaki demikian? Hak menentukan nasib sendiri berarti pula hak menentukan macam pemerintah yang dikehendaki oleh sesuatu Rakyat di negerinya sendiri. Ini bahkan tercantum dalam “Declaration of Independence” Amerika sendiri ! Ataukah dokumen besar ini telah dilemparkan sendiri oleh bangsa yang melahirkannya?

Kalau agresi A.S. terhadap Vietnam itu kita biarkan, maka dia akan merupakan bahaya besar bagi seluruh tata-hidup internasional kita. Sekarang agresi itu terjadi di Vietnam, besok dia mungkin terjadi di bumi lain! Dia malahan sudah terjadi juga di Dominika. Maka dari itu, demi keselamatan masing-masing dan demi keselamatan kolektif kita, kita bangsa-bangsa yang cinta-merdeka dan cinta-damai harus melawan agresi A.S. itu, dan harus aktif memberikan sokongan kita kepada saudara-saudara di Vietnam itu.

Kepada pemerintah A.S. ingin saya nasehatkan – kuharap mereka masih bisa mendengar nasehat! – supaya mengakui kesalahannya dan segera menarik diri samasekali dari Vietnam dan dari seluruh Indocina. Percuma mereka menuduh Republik Demokrasi Vietnam “tak sudi berunding”, karena apabila A.S. tidak menarik diri samasekali dari Vietnam, setiap orang melihat justru A.S.-lah yang tidak sudi penyelesaian secara damai. Baik disedari oleh A.S., bahwa satu-satunya alternatif baginya adalah keluar samasekali dari seluruh Asia Tenggara! Jika mereka emoh menarik diri, mereka bisa kehilangan segala-galanya, segala-galanya! Hai, Amerika dan Inggeris! Zaman ini bukan zamannya imperialisme lagi. Zaman ini adalah zaman anti-imperialisme. Zaman ini adalah zaman hancurnya imperialisme!

Sebagai seorang yang telah banyak makan garam perjoangan, aku tahu bahwa tak pernah imperialisme itu menyerah dengan sukarela. Mereka hanya menyerah, jika mereka dipaksa, yaitu dipaksa dengan kekuatan yang maha-dahsyat, dengan machtsvorming dan machtsaanwending, nasional dan internasional. Di sinilah letak pentingnya Conefo, karena melalui Conefo itu kita akan menggalang, “samenbundeling van alle internationale revolutionnaire krachten”, yang kusebut juga “Nasakom internasional”, – gabungannya negara-negara Nasionalis, negara-negara Agama dan negara-negara Komunis dalam skala dunia, untuk melabrak babak-belur nekolim dan untuk membangun dunia kembali, membangun dunia baru – dunia tanpa imperialisme dan tanpa eksploitasi.

Situasi internasional dewasa ini adalah baik dan menguntungkan kita. Keluarnya Republik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menambah baiknya situasi internasional itu. Sebab, walaupun ada di antara sahabat-sahabat kita di luar-negeri yang tidak menyetujui Republik Indonesia ke luar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau yang mengharap Republik Indonesia kembali masuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun keluarnya Republik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa itu bisa mereka gunakan untuk memperkuat posisi mereka dalam menghadapi nekolim. Yang terang Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang tidak bisa main seenaknya sendiri, karena Perserikatan Bangsa-Bangsa harus memperhitung-kan pendirian dan sikap negara-negara dan pemerintah-pemerintah yang berani hidup desnoods tanpa Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sikap Republik Indonesia itu adalah kritik yang paling tajam yang bisa diberikan ke alamat Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan biarlah Perserikatan Bangsa-Bangsa terbuka matanya, kalau dia mau!

Dalam rangka pembinaan setiakawan Asia-Afrika, baru-baru ini saya telah mengutus Wakil Perdana Menteri I/Menteri Luar Negeri Subandrio disertai Menteri Penerangan dan dua orang Menteri Negara untuk mengunjungi 4 negara Timur Tengah dan 8 negara Arika. Missi itu telah menumbuhkan saling pengertian yang mendalam di antara kita dan negara-negara yang dikunjungi dan saya mengucapkan terimakasih kepada pemerintah-pemerintah yang bersangkutan atas sambutan mereka terhadap missi yang disebut “Safari Berdikari” itu. Republik Indonesia ingin menegaskan, bahwa Berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerjasama internasional, terutama di antara sesama negara yang baru merdeka. Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialisme, bukan kerjasama yang sama-derajat dan saling-menguntungkan.

Karena nekolim itu biasanya mendirikan pangkalan-pangkalan militer di wilayah-wilayah orang lain, sedang pangkalan-pangkalan militer asing itu merupa-kan bahaya utama bagi perdamaian dunia, maka sejumlah organisasi massa di Indonesia telah mengambil prakarsa membentuk suatu komite yang dalam tahun ini juga akan menyelenggarakan di Indonesia suatu Konferensi Internasional Anti Pangkalan-pangkalan Militer Asing. Pemerintah Indonesia menyambut inisiatif itu, karena ide konferensi itu sesuai dengan Semangat Bandung.

Makin hari makin tegas perlawanan Rakyat-rakyat sedunia terhadap neo-kolonialisme. Ada dua faktor yang menyebabkan neo-kolonialisme itu lebih berbahaya daripada kolonialisme model lama. Pertama, karena cara-cara maupun praktek-prakteknya belum cukup dikenal oleh Rakyat, artinya, Rakyat belum cukup mempunyai pengalaman dengan sistim baru itu. Kedua, karena penjajah yang sesungguhnya, seringkali tidak jelas kelihatan, sebab neo-kolonialisme itu adalah penjajahan by proxy, penjajahan by remote control, penjajahan “dari jauh”.

Selamanya saya bertolak dari pendirian, bahwa imperialismelah yang memerlukan kita, bukan kita memerlukan kaum imperialis! Inilah keterangannya, kenapa sesudah kaum imperialis terlalu banyak cingcong dan pertingkah, aku serukan “Go to hell with your aid !”. Sesudah dipersetan, mereka sekarang mendekat-dekat lagi dan menawar-nawarkan kembali “bantuan” mereka. Tetapi saya tahu bahwa tidak ada “bantuan” nekolim yang cuma-cuma. Oleh sebab itu, soal-soalnya tergantung dari ada-tidaknya ikatan-ikatan langsung maupun tak-langsung pada “bantuan” yang ditawarkan. Di atas segala-galanya kaum sana harus tahu menghormati kedaulatan Republik Indonesia dan menghentikan samasekali setiap kegiatan subversif di Indonesia!

Republik Indonesfa akan meneruskan sokongannya yang aktif kepada perjoangan kemerdekaan Rakyat-rakyat Kalimantan Utara, Angola, Mozambyk, Guinea (Bissau), Timor “Portugis”, Somali “Perancis”, Yaman Selatan, Oman, Azania (Afrika Selatan), Namibia (Afrika Barat Daya), Betswana (Bechuanaland), Lesotho (Basutoland), Swatini (Swaziland), dan lain-lain.

Sekalipun seluruh wilayah Republik Indonesia telah pulih di pangkuan kemerdekaan, dan sekalian nanti sisa-sisa imperialisme telah kita kikis samasekali dari Indonesia, namun Republik Indonesia menganggap perjoangannya belum selesai selama di dunia ini masih ada wilayah yang belum bebas, sekalipun hanya sejengkal! Seperti selalu aku katakan, Rakyat Indonesia berjoang mengganyang nekolim as a matter of principle.

Saudara-saudara sekalian,

Di dalam-negeri situasi juga baik dan menguntungkan kita kaum revolusioner.

Hari ini genap 6 tahun usia Manipol. Berkat indoktrinasi, latihan revolutionnaire gymnastiek – dan pengorganisasian yang terus-menerus dan sambung-bersambung, Rakyat Indonesia kini memiliki kesedaran politik yang patut dibanggakan. Rakyat yang demikian ini, jika diorganisir lebih teratur, dilatih lebih militan, diindoktrinir lebih bersasaran, dipimpin dengan metode yang lebih tepat, pastilah akan mempunyai kekuatan yang tidak terbatas untuk melaksanakan Amanat Penderitaannya sendiri, yaitu berofensif dengan senjata “Panca Azimat”.

Sejak dimaklumkannya Deklarasi Bogor maka persatuan nasional semakin kokoh, terutama karena penyingkiran anasir-anasir Manipolis-munafik dikerjakan secara lebih gencar. Tetapi jangan kita puas dengan kadar persatuan yang telah kita capai. Kita harus membikin persatuan nasional revolusioner berporos Nasakom itu menjadi kekuatan yang bersifat menentukan dalam kehidupan politik kita sebagai bangsa-negara.

Untuk ini Front Nasional bisa memainkan peranan yang penting. Aku bergembira bahwa Front Nasional yang baru-baru ini aku “damprat”, karena pemimpin-pemimpinnya di tingkat pusat maupun di daerah-daerah lebih merupakan amtenar-amtenar daripada menjadi pemimpin-pemimpin Rakyat, sekarang melakukan langkah-langkah baru yang mereka namakan “revolusi dalam cara-bekerja” yaitu turba, mulai menempuh cara memimpin yang tepat yaitu “dari massa kembali ke-massa”, dan membangkitkan swadaya Rakyat. Tepat semboyan Panitia Negara dan Front Nasional untuk dwi-dasawarsa Proklamasi ini, yaitu:

“Bersatu dan berkompetisi melaksanakan Panca Azimat Revolusi Indonesia”!

Karena Manipol/Usdek, Pancasila dan Nasakom sudah semakin meresap dan bagi kaum reaksioner semakin sulit untuk melawannya dengan terang-terangan, maka gejala yang menyolok mata akhir-akhir ini ialah bertambah-tambahnya kaum munafik, kaum gadungan, kaum manis-dimulut-jahil-dihati.

Semua mengaku setuju Manipol, semua mengaku setuju Pancasila, semua mengaku setuju Nasakom. Dalam keadaan begini, setialah kepada yang kukatakan bahwa ukuran terutama bagi kaum revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan. Ukurlah pemimpin-pemimpinmu, ukurlah orang-orang, ukurlah siapa saja terutama dari perbuatannya! Kalau perbuatannya nyeleweng, tendanglah mereka itu!

Juga alat-alat negara, ormas-ormas, partai-partai politik dan badan-badan lain harus kita ukur dari satunya kata dengan perbuatan. Khusus mengenai partai-partai politik aku ingin berseru supaya mereka berlomba-lomba memperhebat peranannya dalam ofensif Manipolis sekarang ini. Partai-partai politik revolusioner adalah alat yang sangat efektif untuk mengikutsertakan dan mengerahkan massa Rakyat untuk ambil-bagian dalam revolusi. Ini tak boleh diragukan, karena meragukan ini berarti meragukan kebenarannya Manipol. Tetapi kutekankan sekali lagi partai-partai politik yang revolusioner! Yang tidak revolusioner, apalagi yang anti-revolusioner tak akan punya hak-hidup lagi di Indonesia. Tindakan pembekuan Partai Murba membuktikan bahwa Pemerintah tidak akan ragu-ragu mengambil tindakan, juga terhadap partai-partai politik, jika menyeleweng, jika memecah-belah persatuan. Kuserukan kepada partai-partai politik yang Manipolis, agar mereka membersihkan diri dan terus membersihkan diri dari elemen-elemen munafik, elemen-elemen B.P.S., elemen-elemen soska, elemen-elemen Nasakom-phobi, elemen-elemen plintat-plintut, elemen-elemen gadungan, dan sebangsanya, dan agar mereka melangsungkan kompetisi Manipolis dalam mengabdi Ampera dan berofensif dengan Panca Azimat.

Kepada alat-alat negara kuserukan supaya mereka benar-benar menyatukan diri dengan Rakyat. Pengabdian kepada Rakyat itu tidak pernah cukup, apalagi berkelebihan. Jangan seperti amtenar-amtenar kolonial yang melihat Rakyat itu sebagai momok. Rakyat adalah asalmu, Rakyat adalah kekuatanmu, Rakyat adalah pepundenmu, Rakyat adalah sumbermu!

Kepada Rakyat seluruhnya kuserukan agar menempuh segala daya-upaya untuk memperkokoh persatuan nasional revolusioner. Basmillah setiap prinsipalisme yang menolak kerjasama dan persatuan hanya dikarenakan masalah-masalah prinsip, masalah-masalah ideologi, masalah-masalah agama, dan sebagainya. Bulan Maret yang lalu M.P.R.S. telah memutuskan pelarangan propaganda anti-Nasionalisme, propaganda anti-Agama dan propaganda anti-Komunisme. Keputusan ini baik sekali dan membuktikan bahwa badan legislatif tertinggi di negeri kita itu tahu akan tanggungjawabnya. Camkanlah keputusan M.P.R.S. ini dan laksanakanlah ia dengan toleransi yang sebesar-besarnya !

Belakangan ini ramai dibicarakan orang tentang gagasan yang kulancarkan tentang Angkatan ke-5. Seperti tadi dikatakan, tiap-tiap kali aku mengetengahkan gagasan baru, selalu saja ada berbagai reaksi, yang sayangnya kadang-kadang dipengaruhi oleh text-books oldefo. Malahan, karena gagasanku itu, aku dituduh “main jiplak”. Tetapi bagaimanapun aku sambut dengan rasa-sukur sokongan-sokongan yang diberikan kepada gagasanku itu. Kita harus selalu bertolak dari kenyataan. Kenyataannya adalah bahwa kaum nekolim mengarahkan mata-pedang dan moncong-meriamnya kepada kita. Kenyataannya adalah, bahwa pembelaan Negara menuntut dari kita tenaga yang sebanyak-banyaknya. Sedang menurut Undang-Undang Dasar 1945 kita, fasal 30, “Tiap-tiap warganegara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan Negara”. Setelah mempertimbangkan soalnya secara lebih matang lagi, maka saya selaku Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata akan mengambil keputusan mengenai hal ini.

Aku bangga sekali bahwa Angkatan Bersenjata Repubik Indonesia kita yang modern sekarang dalam keadaan siap-siaga dan mampu memukul musuh dari manapun datangnya. Angatan Bersenjata Republik Indonesia harus ambil-bagian yang penting dalam setiap perjoangan melawan imperialisme dan feodalisme. Tahun 1945 telah kukatakan : Angkatan Bersenjata Republik Indonesia kita itu akan merupakan kekuatan yang tak terkalahkan, apabila mereka bersatu dengan Rakyat laksana ikan dan air. Ingat – air bisa ada tanpa ikan, tetapi ikan tak bisa hidup tanpa air. Berintegrasilah dengan Rakyat, karena Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah Angkatan Bersenjata yang revolusioner. Pertahanan revolusi adalah pertahanan Rakyat. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia harus menjadi inti daripada pertahanan yang mulia itu, tetapi dengan pulau sebanyak pulau kita, dengan pantai sepanjang pantai kita, dengan angkasa selebar angkasa kita, kita tak bisa menegakkan kedaulatan Negara kita tanpa Rakyat, kalau perlu juga dipersenjatai – Rakyat, kaum “buruh dan kaum tani dan kaum-kaum lainnya, yang tetap dalam proses produksi tetapi yang kalau perlu sementara memanggul senapan.

Pendek kata, Saudara-saudara sekalian, kita punya kepribadian harus kita pusatkan kepada pelaksanaan daripada Trisakti Tavip, yang kebenarannya bahkan telah diakui dan disetujui oleh Musyawarah Menteri Asia-Afrika ke-II di Jakarta tahun yang lalu. Harus diingat, bahwa Trisakti itu harus dipenuhi ketigatiganya, tidak bisa dipretel-preteli. Tidak ada kedaulatan dalam politik dan kepribadian dalam kebudayaan, bila tidak berdikari dalam ekonomi, dan sebaliknya! Seluruh minat kita, seluruh jerih-payah kita harus kita abdikan kepada pelaksanaan seluruh Trisakti, yang benar-benar sakti itu!

Ya, Berdaulat dalam politik! Apa yang lebih luhur daripada ini, Saudara-saudara? Lebih setengah abad lamanya bangsa Indonesia berjoang, membanting-tulang dan mencucurkan peluh, untuk kedaulatan politik itu. Sekarang kedaulatan politik itu sudah di tangan kita. Kita tidak bisa didikte oleh siapapun lagi, kita tidak menggantungkan diri kepada siapa-siapa lagi, kita tidak mengemis-ngemis! Kedaulatan politik ini harus kita tunjang bersama-sama, harus kita tegakkan beramai-ramai. Nation-building dan character-building harus diteruskan sehebat-hebatnya, demi memperkuat kedaulatan poIitik itu. Kerukunan nasional sekarang ini – kerukunan antara berbagai agama dan berbagai sukubangsa, termasuk suku-suku keturunan asing – kerukunan nasional yang bebas samasekali dari diskriminasi atau rasialisme macam apapun, harus kita bina dengan kecintaan seperti kita membina kesehatan tubuh kita sendiri. Demi kedaulatan politik itu pula, maka perkembangan dalam pemerintahan dalam negeri, yaitu – seperti dikehendaki D.P.R.-G.R. – dicabutnya larangan berpartai bagi Kepala-kepala Daerah dan anggota-anggota B.P.H., dipisahkannya jabatan Kepala Daerah dari Ketua D.P.R.D.-G.R. dan Nasakomisasi pimpinan D.P.R.D.-G.R., harus disusul dengan pembentukan Daswati III untuk seluruh Indonesia.

Berdikari dalam ekonomi! Apa yang lebih kokoh daripada ini, Saudara-saudara? Seperti kukatakan di depan M.P.R.S. tempohari, kita harus bersandar pada dana dan tenaga yang memang sudah di tangan kita dan menggunakannya semakimal-makimalnya. Pepatah lama “ayam mati dalam lumbung” harus kita akhiri, sekali dan buat selama-lamanya. Kita memiliki segala syarat yang diperlukan untuk memecahkan masalah sandang-pangan kita. Barangsiapa merintangi pemecahan masalah ini, dia harus dihadapkan ke depan mahkamah Rakyat dan sejarah. Alam kita kaya-raya, Rakyat kita rajin, tetapi selama ini hasil keringatnya dimakan oleh tuan-tuan-tanah, tengkulak-tengkulak, lintah-lintah darat, tukang-tukang ijon dan setan-setan desa lainnya. Sudah cukup usahaku memberi kesempatan kepada kaum yang ragu-ragu dalam revolusi, untuk merobah diri; aku sudah sangat sabar, sudah kutunjukkan kesabaran seorang bapak, tapi kesabaran ada batasnya, apalagi kesabaran Rakyat! Sudah cukup usahaku memberi kesempatan bagi pelaksanaan landreform; batas waktunya malahan sudah kutunda, dan kalau perlu aku bersedia memperpanjangnya dengan 1 tahun lagi, aku sudah sangat sabar, sudah kutunjukkan kesabaran bapak, tapi aku ulangi lagi, kesabaranku ada batasnya, apalagi kesabaran Rakyat! Sudah cukup usahaku memberi kesempatan Dewan-dewan Perusahaan supaya berjalan, tapi di banyak tempat Dewan-dewan itu masih macet saja; aku sudah sangat sabar, sudah kutunjukkan kesabaran seorang bapak, tapi kesaharanku ada batasnya, apalagi kesabuan Rakyat! Hanya dengan mengatasi kemacetan-kemacetan inilah, kita bisa mentrapkan azas Berdikari dalam ekonomi.

Berkepribadian dalam kebudayaan! Apa yang lebih indah daripada ini Saudara-saudara? Bukan saja bumi dan air dan udara kita kaya-raya, juga kebudayaan kita kaya-raya. Kesusastraan kita, seni-rupa kita, seni-tari kita, musik kita, semuanya kaya-raya. Juga untuk membangun kebudayaan baru Indonesia, kita memiliki segala syarat yang diperlukan. Kebudayaan baru itu harus berkepribadian nasional yang kuat dan harus tegas-tegas mengabdi kepada Rakyat. Dengan menapis yang lama, kita harus menciptakan yang baru.

Sikap kita terhadap kebudayaan lama maupun kebudayaan asing adalah sikapnya revolusi nasional-demokratis pula : dari kebudayaan lama itu kita kikis feodalismenya, dari kebudayaan asing kita punahkan imperialismenya. Maka itu tepat sekali film-film imperialis Inggeris dan A.S. diboikot, juga tepat sekali pemberantasan “musik” beatle, literatur picisan, dansa-dansi gila-gilaan, dan sebagainya. Pada panji kebudayaan nasional kita harus kita tuliskan dengan tinta-emas K-nya Usdek kita! Kebudayaan kita haruslah kebudayaan yang revolusioner, yang seperti kukatakan di Sala tempohari harus menjadi “duta masa dan duta massa”. Kita bukan hanya “trahing kusumo, rembesing madu”, tetapi kita juga “trahing buruh-tani-lan-prajurit, rembesing revolusi” !

Saudara-saudara sekalian,

Inilah Trisakti Tavip, sebagian dari Panca Azimat, Panca Azimat sebagai pengeja-wantahan seluruh jiwa nasional kita, konsepsi nasional kita, yang terbentuk di sepanjang sejarah 40 tahun lamanya.

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa Saudara-saudara harus menghadapi kesulitan-kesulitan, menghadapi kenaikan harga-harga kebutuhan sehari-hari.

Saya ikut prihatin dengan Saudara, dan Insya Allah kenaikan harga dapat dibatasi. Sebaliknya semua kesulitan ini ialah dapat dianggap sebagai suatu tebusan dari apa yang sudah dicapai dalam Revolusi Indonesia. Bandingkanlah kesulitan yang kita hadapi jika kita tidak ber-Ambeg Parama Arta dalam pelaksanaan Revolusi. Bagaimana jika kita ber-revolusi tanpa jiwa, hingga revolusi kita dianggap menjadi “Revolutie op drift”, atau revolusi kita menjadi alat Nekolim?

Tanpa ber-Ambeg Parama Arta dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan, apakah Indonesia tidak sudah terpecah menjadi puluhan negara, sesuai dengan politik Balkanisasi Nekolim? Tanpa Trikora, apakah Indonesia dapat mengembalikan lrian Barat dalam kekuasaan Ibu Pertiwi? Tanpa membangun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, apalagi kita dapat menghadapi pemberontakan dan subversi P.P.R.I. – Permesta? Tanpa menguasai perusahaan-perusahaan asing, apakah Indonesia tidak akan tetap tinggal menjadi negara jajahan di bidang ekonomi? Tanpa melaksanakan politik Dwikora, pengganyangan “Malaysia”, apakah Indonesia tidak tetap dikemudikan oleh ekonomi Nekolim yang berpusat di Singapura dan Hongkong? Tanpa politik Ambeg Parama Arta, apakah kita dapat mengadakan proklamasi Bebas Buta Huruf segenap Rakyat Indonesia pada tanggal 31 Desember 1964, yang diikuti dengan komando Pelaksanaan kewajiban belajar?

Memang kita ber-revolusi, berjoang dengan jiwa yang tertentu, dengan tujuan dan strategi yang tertentu. Landasan kebangsaan dan kenegaraan dari abad ke-XX dari Dunia Baru, kita Ambeg Parama Arta – kan; dan kita bersedia untuk memberikan pengorbanan apapun untuk mencapai landasan mutlak bagi kejayaan Bangsa dan Negara Indonesia. Segala pengorbanan dapat dipikul Bangsa Indonesia berkat karunia Tuhan. Kita dapat menghadapi kontra Revolusi dan pemberontakan P.R.R.I. – Permesta tanpa collapse, tanpa runtuh, dan hasilnya gilang-gemilang.

Kita melaksanakan Trikora tanpa collapse, tanpa runtuh, dan hatsilnya pun gilang-gemilang. Kita melaksanakan Dwikora tanpa collapse, tanpa runtuh, dengan hasilnya … sekarang “Malaysia” sudah lebih daripada 50% berantakan samasekali.

Hai tuan-tuan Nekolim, tentu kami harus memberikan segala pengorbanan, mengalami berbagai kesulitan dalam penghidupan sehari-hari, tetapi perhatikan: kami tidak collapse, kami tidak kelaparan, kami tidak runtuh! Ramalanmu tidak benar ! Sebaliknya kamu, Nekolim, kamu makin hari makin menderita keruntuhan, kamu makin hari makin mendekati collapse.

Bagi kita perjoangan anti-Nekolim banyak menguntungkan Revolusi Indonesia, menguntungkan Jiwa Indonesia, menguntungkan pembangunan Indonesia, menguntungkan kemerdekaan Indonesia. Perjoangan anti-Nekolim memberikan jiwa baru pada Indonesia, memberikan satu kesatuan yang kokoh, memberikan tekad yang membaja, memberikan kebebasan untuk mengatur Rumah Tangga Nasional, “the freedom to be free”. Untuk ini kita bersedia untuk membayarnya, membayar uang belajar, membayar uang bertumbuh, membayar dengan pengorbanan dan keprihatinan.

Sekarang kita sudah pada tingkatan Jiwa Berdikari, berkat perjoangan cara Ambeg Parama Arta. Sekali Revolusi kita meningkat pada Jiwa Berdikari, pertumbuhan selanjutnya tinggal soal pelaksanaan. Maka dari itu Saudara-saudara sekalian, adakan Banting Stir pada seluruh Bangsa Indonesia agar Jiwa Berdikari menjadi milikmu, agar Lima Azimat Revolusi menjadi milikmu. Saudara-saudara yang memperjoangkan landasan-landasan tersebut dengan segala pengorbanan, sekarang Jiwa Berdikari dan Lima Azimat harus menjadi alatmu, menjadi pusakamu dalam mengabdi Pada Revolusi. Ingat: Saudara-saudara sudah memberikan Jiwa pada Revolusi, sehingga Saudara-saudara harus tetap taat pada Jiwa Revolusi, tetap mempertahankan dan mempertumbuhkan Jiwa Revolusi. Jiwa Revolusi Indonesia sudah dewasa, dan akan bertumbuh sebagai suatu “self-propelling growth”. Hai Bangsaku, Bangsa Indonesia, Bangsaku yang gagah berani dalam perjoangan, pantang mundur dalam kesulitan, lemah-lembut dalam pergaulan! Apa yang engkau capai dalam 20 tahun ini merupakan suatu kebanggaan. Ini sebabnya, maka aku memberanikan diri untuk memberikan pertanggungjawaban pada semua kawan dan semua lawan, – pada kawan untuk bahan konsultasi, bagi lawan sebagai alat konfrontasi. Dan pertanggungjawaban pada Engkau Bangsaku, Bangsa Indonesia, sebagai bukti bahwa Bung Karno tidak lain tidak bukan hanyalah Penyambung Lidah Bangsa Indonesia, Penyambung Semangat Bangsa Indonesia, Penyambung Kekuatan Bangsa Indonesia. Insya Allah saya akan meneruskan Pimpinan Revolusi Indonesia dengan karunia Tuhan, dengan Doa Restu Bangsa Indonesia.

Sudah banyak yang kita capai dalam 20 tahun ini. Kita sudah melampaui tingkatan terpenting dalam Revolusi kita. Akan tetapi kita masih belum boleh beristirahat. Kita boleh merasa puas dengan apa yang sudah kita capai di masa yang lampau, akan tetapi tetap waspadalah buat masa depan; kita masih harus Maju Terus, Maju Terus, Maju Terus, untuk mencapai hasil dan kemenangan baru, kemenangan baru sebagai tambahan modal untuk memberikan pukulan baru pada rintangan dan musuh-musuh Revolusi.

Kita merayakan 20 tahun Agustus agung ini, di waktu kita sudah mempunyai Panca Azimat. Panca Azimat adalah pengejawantahan daripada seluruh jiwa nasional kita, konsepsi nasional kita, yang terbentuk di sepanjang sejarah 40 tahun lamanya.

Azimat Nasakomlah yang lahir terlebih dulu, dalam tahun 1926, karena persatuan Nasakom itulah sesungguhnya senjata kita yang paling ampuh, dulu untuk merebut, sekarang untuk mengkonsolidir kemerdekaan nasional.

Azimat kedua adalah azimat Pancasila, yang lahir pada bulan Juni 1945 di waktu Ibu Sejarah sudah mengandung tua, dan di waktu bayi kemerdekaan sudah hampir lahir. Ketika itu opgave terpokok adalah menemukan suatu dasar Negara, dan maka itulah Lahir Pancasila.

Azimat ketiga adalah azimat Manipol/Usdek, yang baru lahir setelah kita 14 tahun lamanya mengalami masa Republik merdeka, azimat yang berupa Program Umum Revolusi, yang inti-sarinya tidak boleh dimodulir atau diamendir.

Azimat keempat adalah azimat Trisakti Tavip, yang baru lahir tahun yang lalu setelah kita mengalami bermacam-ragam pengalaman dengan kaum imperialis, dengan P.B.B., dan lain-lain.

Azimat yang kelima adalah azimat Berdikari, yang terutama tahun ini kucanangkan dan serta-merta mendapat persetujuan dari M.P.R.S., dari seluruh pers Manipolis, dari segenap Rakyat progresif. Berdikari bukan hanya azas untuk tahun ini – yang sebagian Rakyat sudah menamakannya “Tahun Berdikari” – tetapi azas untuk masa yang panjang, selama kita masih mengkonsolidir kemerdekaan nasional kita dan selama kita masih berhadap-hadapan dengan imperialisme.

Mungkin seluruh dasawarsa atau seluruh dwi-dasawarsa yang ada di hadapan kita ini akan merupakan “Dasawarsa Berdikari”!

Kita harus meneruskan, bahkan meningkatkan lebih lanjut ofensif Manipolis, ofensif revolusioner kita. Berat dan banyak masih tugas-tugas yang ada di depan kita. Panjang dan berliku-liku masih jalan yang harus kita lalui. Tetapi ada yang meringankan kita, yaitu kenyataan bahwa kita ini memililki Panca Azimat itu!

Akhir-akhir ini dilakukan kampanye yang besar-besaran bahwa “hari-hari “ Sukarno sudah bisa dihitung”. Malahan satu suratkabar Belanda menamakan masa sekarang ini “pre-post-Soekarno-periode”. Untuk kampanye ini kaum imperialis kerahkan pers, radio, TV, sampai kepada dukun-dukun klenik!

Saudara-saudara! Sukarno hanya seorang manusia. Seperti juga Saudara-saudara, maka umur saya ada di tangan Tuhan. Tetapi selama hayat dikandung badanku, selama itu pula Insya Allah aku akan mengabdikan segala yang ada padaku kepada urusan Tanah-air, kepada urusan Rakyat, kepada urusan Revolusi. Insya Allah, Sukarno akan selalu di tengah-tengah Rakyat dan bersama-sama Rakyat, di tengah-tengah Rakyat jelata, Rakyat kecil, Rakyat yang menjadi Pembikin daripada Sejarah!

Salah-seorang penyair kita menyatakan “ingin hidup seribu tahun lagi”. Akupun ingin hidup seribu tahun lagi. Tetapi hal ini tentunya tidak mungkin.

Tidak ada satu manusiapun yang mencapai umur seribu tahun. Tetapi aku mendo’a, moga-moga gagasan-gagasanku, ajaran-ajaranku, yang kini tersimpul dalam Lima Azimat, gagasan-gagasan dan ajaran-ajaranku itu akan hidup seribu tahun lagi!

Sebab ia adalah “Rukun Lima” daripada Kemerdekaan kita.

Karena itu, majulah terus dengan Lima Azimat itu laksana api-abadi dalam kalbumu!

Dengan Lima Azimat itu kita pasti menang.

Kekalahan kita tidak mungkin lagi, sebagaimana juga kemenangan imperialisme tidak mungkin lagi! Sebaliknya!

Kekalahan imperialisme tidak bisa dicegah, seperti kemenangan kita juga tidak bisa dicegah!

Kemenangan adalah hasil perjoangan. Karena itu kita harus menumplekkan kita punya kekuatan, kita punya bakat, kita punya kepandaian, kita punya sega-gala, untuk merebut kemenangan terakhir yang sudah tampak di pelupuk mata itu!

Kita harus bersatu, bersatu, bersatu, seperti satunya lima jari dalam kepalan!

Kita harus teguh, teguh, teguh, seperti teguhnya batu karang di lautan yang bergelora !

Kita harus berani, berani, berani, seperti beraninya banteng dan elang rajawali !

Ya! Dengan senjata Panca Azimat, majulah terus menjalankan ofensif Manipolis di segala lapangan!

Maju terus! Pantang mundur!

Ever onward, never retreat!

Sekali merdeka, tetap merdeka!

Sekali Berdikari, tetap Berdikari!

Insya Allah, kita pasti menang!

Sebab Tuhan beserta kita!

————————————————————————————————————————————-

KEPUTUSAN PEMBENTUKAN KOMANDO OPERASI BERDIKARI.

(Keppres No 256 thn. 1965 tgl. 2 September 1965)

KAMI, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang

Bahwa sebagai kelanjutan daripada Amanat Presiden/Pemimpin Besar Revolusi pada tanggal 17 Agustus 1965 yang berjudul Tahan Berdikari (TAKARI) perlu segera membentuk suatu komando tersendiri;

Mengingat

Pasal 4 Ayat 1 Undang-Undang Dasar ;
Amanat Politik di depan Pembukaan Sidang Umum MPRS ke – III tanggal 11 April 1965;
Keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. VI/ MPRS/ 1965 tanggal 16 April 1965;
Amanat 17 Agustus 1965 tentang Tahun Berdiri (TAKARI).

MEMUTUSKAN

Menetapkan

PERTAMA : Membentuk Komando Operasi Berdikari yang disingkat KOTARI;

KEDUA : KOTARI mempunyai tugas untuk melaksanakan

pembangunan ekonomi atas dasar berdiri di atas kaki sendiri;

KETIGA : 1. KOTARI langsung dipimpin oleh Presiden/ Pemimpin Besar Revolusi ;

2. KOTARI dibantu oleh seorang Kepala Staf;

3. KOTARI beranggotakan: Menteri; Para Wakil Perdana Menteri; Para Menteri Koordinator dan Menteri-Menteri yang bersangkutan ;

4. Organisasi, susunan dan tanggungjawab KOTARI akan ditentukan kemudian;

5. Badan-badan Pelaksana KOTARI adalah Departemen-departemen dan Badan-badan Pemerintah/Negara yang ada dan tidak membentuk badan-badan baru;

KEEMPAT : Keputusan ini berlaku mulai sejak tanggal dikeluarkannya

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 184 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar