Home » 2016 » July » 16 » Swadeshi dan Massa Aksi di Indonesia
4:03 PM
Swadeshi dan Massa Aksi di Indonesia

<<<sebelumnya.....   Dan marilah kita sebagai penutup mendengarkan perkataannya Mahatma Gandhi yang berseru: “Het is een zonde, Amerikaanse tarwe te eten, terwijl uw buurman, de korenkoopman, door gebrek aan klanten te gronde gaat … Ook maar een el uitheems weefsel in Indie invoeren, beduidt, een stuk brood uit de mond van een, die gebrek lijdt, wegnemen”. “De boycotten en de verbranding van vreemde weefsel hebben niets te maken met een rassenhaat tegen Engeland, die Indie niet koestert, ja zelfs niet kent.”

Jadi: macam-macam orang, macam-macam pendapat. Tetapi, poli­tik atau bukan politik, boikot atau bukan boikot, kebenyian atau bukan kebencian,- hatsilnya bagi imperialisme Inggeris adalah setali t i g a wang! lebih lakunya barang bikinan India, dan lebih tidak lakunya barang bikinan Inggeris; lebih majunya industri di Bombay dan Madras dan Jamsheedpore, dan lebih surutnya industri di Bradford dan Man­chester dan Birmingham. Hatsilnya bagi imperialisme Inggeris ialah, bahwa imperialisme Inggeris itu terkena ulu-hatinya, terkena pusat-nyawanya, terkena lak-lakan-rongkongannya ibarat Niwata Kawaca terkena pula lak-lakan-rongkongannya oleh Begawan Mintaraga! Sebab, – dan di sinilah sekarang pembaca mengerti perlunya mengetahui, “warna”-nya imperialisme Inggeris di Hindustan itu, sebab imperialisme Inggeris di Hindustan itu adalah teristimewa suatu handels‑imperialisme yang mencari afzet.

Angka-angka impor di dalam tahun 1910 adalah kira-kira 90.000.000, di dalam tahun 1912 kira-kira £ 115.000.000, di dalam tahun 1914 kira-kira £ 95.000.000, di dalam tahun 1915 kira-kira 105.000.000, di dalam tahun 1918 kira-kira /125.000.000, di dalam tahun 1920 kira-kira

£ 335.000.000. Dari impor ini, selamanya bagian yang terbesar adalah dari negeri inggeris, dan sebagian besar pula berupa kain-kain manu­facturen. Tetapi ekspor?

Ekspor biasanya adalah sedikit lebih besar daripada impor tetapi ekspor ini sebagian yang besar adalah ekspor bekal-bekal, mitsalnya kapas-kasar, kulit-kulit dan lain sebagai­nya, – yang nanti, sesudah di-“olah”, diimpor ke India lagi!

Jadi: senjata swadeshi di India adalah senjata haibat yang bisa meremukkan tubuhnya imperialisme Inggeris. Herankah kita, bahwa swadeshi itu sedari mulanya lalu mendapat Nap” dari fihak Inggeris, disebut pergerakan yang timbul dari rasa chauvinisme-rendah belaka, suatu pergerakan kebencian, suatu pergerakan kaum “penghasut” yang tiada maksud lain melainkan maksud “destructive” dan merusak? Heran­kah kita, bahwa propagandis-propagandis swadeshi itu beribu-ribu yang ditangkap, beribu-ribu yang diseret di muka hakim, beribu-ribu yang di­hukum dan dilemparkan ke dalam penjara, dituduh “sedition” dan merusak ketenteraman umum?

En tokh, sebagai yang kita lihat dimana­-mana, palang-pintu kaum imperialisme tidak bisa mengurangi pergerakan itu, bahkan malahan mempergiatnya! Sebagai angin yang makin lama makin meniup menjadi angin taufan, sebagai aliran yang makin lama makin mengebah menjadi banjir, sebagai kekuatan-rahasia yang makin lama makin mengelectriseer sekudjur badannya bangsa, maka pergerakan swadeshi ini, yang pada hakekatnya ialah pergerakannya kaum middenst and dan kaum industrieel menjadilah suatu per­gerakan yang menyerapi tulang-sungsumnya dan nyawanya Rakyat-jelata. Terutama sesudah Mahatma Gandhi memasukkan dua elemen di dalam pergerakan swadeshi itu, yakni elemen pemakaian barang tenunan ­tangan: terutama sesudah Gandhi dengan dua elemen ini bisa memberi kesempatan-mencari-sesuap-nasi kepada kaum tani yang enam bulan tiap-tiap tahun terpaksa menganggur, – terutama sesudah itulah maka pergerakan swadeshi itu menjadi sangat populer sekali.

Charkha dan kadhar buat abad keduapuluh pada hakekatnya adalah dua elemen yang memundurkan jarum kemajuan masyarakat, dua elemen yang merem evolusi, dua elemen yang maatschappelijk-reaction­nair, – tetapi charkha dan kadhar itu, sebagai alat ganjil hidupnya kaum tani India yang enam bulan setahunnya terpaksa menganggur, bisa juga ada harganya. “Tachtig procent der Indische bevolking is telkens een half jaar lang noodgedwongen werkloos; hen kunt ge alleen helpen, door een in vergetelheid gei akt handwerk te doen herleven en tot bron te maken van nieuwe inkomsten, Indie moet van honger sterven, zolang men geen arbeid bezit, die voedsel verschaft.” “Ik zou de twijfelaars willen verzoeken, de huizen der armen binnen te gaan, wier karige inkomsten alleen door het spinnewiel weer vergroot worden; al deze lieden zullen verklaren,

dat met het spinnewiel weer licht en vreugde hun woningen zijn binnengetrokken.” “Voor een uitgehongerd en niet-actief yolk is de enige vorm, waarin God het kan wagen to verschijnen: de Arbeid, met de belofte van eten als betaling … Het spinnewiel be­tekent het leven voor millioenen stervenden. Het is de honger die Indie naar het spinnewiel drijft”,— begitulah Gandhi berkata.

Tetapi reaksioner sama-sekali perkataan Sang Mahatma itu, bahwa segala mesin-mesin harus dihapuskan dan diganti dengan charkha. Reak­sioner sama-sekali Sang Mahatma punya ucapan, bahwa mesin-mesin adalah “pendapatan syaitan”! Mesin-mesin bukanlah pendapatan syaitan, mesin-mesin bukanlah mendatangkan celakanya manusia, – mesin-mesin adalah “Rakhmat-Tuhan” dan salah-satu hatsilnya evolusi pergaulan hi­dup yang tinggi harganya. Mesin-mesin itu tidak bersalah, melainkan stelsel-produksi yang memperusahakannya!

En tokh, … bagaimana juga bencinya Gandhi kepada mesin­mesin, bagaimana juga bencinya Gandhi kepada mechanisme dan industrialisme, justru kaum industrilah yang paling keras menyokong pergerakannya, justru kaum industrilah yang terutama sekali menjadi motornya pergerakan swadeshi itu. Kaum industri itulah yang menjadi “gemuk” karena tidak lakunya barang Inggeris. Barang-barang bikinan industri sendiri, barang-barang keluaran Bombay atau Jamsheedpore, yang selamanya mendapat persaingan long begitu haibat dari barang­-barang keluaran Inggeris, – barang-barangnya kaum industri India itu oleh adanya pergerakan swadeshi lantas menjadi laku seperti kuweh. Dan di sampingnya kaum industri itu maka kaum tani di desa-desalah yang terutama sekali menjadi pengikut Gandhi yang setia. Teriakan “Gandhi kidzjai, Gandhi kidzjai!” kita dengar di dalam gubug-gubug sederhana di dusun-dusun, Gandhi punya filsafat sosial yang mistik, yang memandang sebagai ideal: suatu pergaulan hidup tani-tani-kecil dan tukang-tukang-kecil seperti di zaman purbakala, – Gandhi punya filsafat sosial itu adalah cocok dengan ideologinya kaum tani di dusun-dusun itu.

Dalam pada itu, maka keadaan kaum buruh yang bekerja pada industri Bumiputera itu adalah mengingatkan kita kepada keadaan kaum buruh Lawean atau Lasem di Indonesia sini. Pergerakan kaum buruh di India memang makin lama makin menjadi pesat. Pergerakan kaum buruh itu adalah ikut bekerja keras bagi India-Merdeka, tetapi ia memusuhi juga kapitalisme bangsa sendiri.

Ia memang suatu koreksi yang seharusnya bagi pergaulan hidup yang tak adil, yang bersendi kepada pengambilannya meerwaarde oleh “kaum atasan”, dan kemelaratan atau Verelendungnya “kaum bawahan”. Ia adalah suatu peringatan bagi kita, bahwa bukan tiap-tiap seru “nasionalisme” adalah mencari kesela­matannya seluruh Rakyat!”

Apakah pelajaran yang kita ambil daripada uraian di muka ini? Pelajaran yang kita ambil ialah, bahwa semboyan perjoangan “dengan swadeshi merebut kemerdekaan!” di tepi-tepinya sungai Indus dan Gangga adalah suatu semboyan yang berisi shakti yang nyata, suatu semboyan yang berisi tenaga yang haibat, suatu semboyan yang berisi rieele macht. Semboyan itu jikalau didengung-dengungkan lebih haibat lagi dan meng­getarkan lebih haibat lagi angkasa Hindustan, bisa menjadi angin-taufan yang menyapu tiap-tiap impornya Albion. Dengan tenaga semboyan itu maka pergerakan India bisa menjadi bertenaga guntur yang meremuk­kan imperialisme Inggeris. Dengan tenaga semboyan itu India-Inggeris bisa menjadi India-Merdeka.

Mengapa swadeshi itu tidak bisa dipakai sebagai senjata yang terpenting untuk mendatangkan Indonesia-Merdeka, akan saya uraikan lebih lanjut.

IMPERIALISME DI INDONESIA

Dalam karangan saya yang lalu, sudah saya terangkan dengan seterang­-terangnya, bahwa pergerakan swadeshi itu buat India adalah suatu pergerakan yang mempunyai shakti yang nyata, suatu pergerakan yang mem­punyai tenaga yang haibat, suatu pergerakan yang mempunyai rieele macht akni oleh karena imperialisme Inggeris di India bisa gugur terkena ulu-hatinya oleh pergerakan swadeshi itu.

Bagaimanakah sekarang pergerakan swadeshi itu buat Indonesia, – berapa jauh akibatnya, berapa jauh tenaganya? Pergerakan swadeshi buat Indonesia tidaklah sama-akibat, tidaklah sama-tenaga, tidaklah sama­ kekuasaan dengan pergerakan swadeshi di tepi-tepinya sungai Indus dan Gangga. Pergerakan swadeshi itu buat Indonesia adalah ditetapkan “harga”-nya oleh “warna” imperialisme yang ada di Indonesia, sebagai­mana pergerakan swadeshi itu buat India adalah ditetapkan pula “harga”- nya oleh “warna” imperialisme yang ada di India. Pergerakan swadeshi itu buat Indonesia, walaupun antara batas-batas yang tertentu pantas men­dapat sokongan tiap-tiap nationalis Indonesia, tidaklah sebagai di India boleh dipakai di dalam semboyan “dengan swadeshi merebut kemerdekaan”, yakni tidak boleh dipakai sebagai senjata yang terpenting untuk mengejar Indonesia-Merdeka.

Sebab imperialisme yang ada di Indonesia adalah berlainan “warna”- nya dengan imperialisme yang ada di India. Sedang imperialisme Inggeris yang mengaut-aut kekayaan India adalah imperialisme yang dilahirkan oleh suatu mechanische dan industrieele revolutie, sedang imperialisme Inggeris itu adalah imperialisme yang semi-liberaal, sedang imperialisme Inggeris itu tidak membunuh-bunuh sama-sekali semua “kutu-kutu” Rakyat India, maka imperialisme yang ada di Indonesia adalah suatu imperialisme yang timbulnya bukan karena suatu mechanische dan indus­trieele revolutie, – suatu imperialisme yang oleh karenanya anti-liberaal, suatu imperialisme “kuno”, suatu imperialisme “orthodox” yang senantiasa berusaha membunuh tiap-tiap “kutu” Rakyat Indonesia adanya.

Tatkala dunia belum “kenal-kenal-acan” akan mechanische dan industrieele revolutie, tatkala dunia masih “kuno”, maka imperialisme Belanda sudahlah mulai menunjukkan kegiatan yang besar sekali: kera­jaan-kerajaan di kepulauan Maluku, kerajaan Makasar, kerajaan Banten, kerajaan Mataram,- semua kerajaan itu sudahlah merasakan indung-indungnya tangan “beschaving en orde-en-rust” Belanda sebelum John Bull, karena mechanische dan industrieele revolutienya, kena penyakit ingin “menyopankan” seluruh Hindustan. Tatkala Albion baru menduduki Fort St. George, Fort William, Bombay dan lain-lain sahaja, maka setengah tanah Jawa sudahlah menjadi tanah kompeni.

Memang imperialisme Belanda bukanlah anaknya suatu mechanische dan industrieele revolutie. Memang negeri Belanda tidak pernah menga­lamkan suatu mechanische dan industrieele revolutie. Memang negeri Belanda tak akan kenal suatu mechanische dan industrieele revolutie.

Sebab masyarakat Belanda bukanlah suatu masyarakat yang mem­punyai syarat-syarat untuk hidup-suburnya modern industrialisme. Masya­rakat Belanda adalah suatu masyarakat yang melarat akan basis-grondstof­fen, suatu masyarakat yang tiada tambang-tambang besi, suatu masyarakat yang kurang arang-batu, suatu masyarakat yang terlalu “bloedarm” untuk bisa menjadi suatu masyarakat yang liberaal-industrialistisch. Kota-kota sebagai Leeds, sebagai Birmingham, sebagai Manchester, tidaklah ada di negeri Belanda itu, – ya, kota-kota yang semacam itu tidak akan bisa ada di negeri Belanda itu.

Imperialisme Belanda dilahirkan oleh suatu masyarakat yang “ouder­wets” dan yang selamanya akan tetap tinggal “ouderwets” di dalam segala‑ galanya. Imperialisme Belanda itu dilahirkan dan diteruskan hidupnya oleh suatu masyarakat yang selamanya akan tinggal “bau-bau kiju dan mentega”. Herankah kita, kalau imperialisme yang demikian ini, juga di dalam “warna”-nya ada berupa “ouderwets” dan orthodox, berlainan se­kali dengan imperialisme Inggeris di Hindustan yang di dalam banyak hal­-hal menunjukkan sikap modern-liberalisme? Herankah kita, kalau impe­rialisme Belanda ini di dalam hakekat yang sedalam-dalamnya tak pernah kenal akan ajaran-ajarannya modern-liberalisme itu, yakni kemerdeka­an dalam beberapa hal, mitsalnya “vrij arbeid, vrij concurrentie, vrij beroepen, vrij contracten”, dan lain-lain sebagainja? Herankah kita, kalau imperialisme Belanda itu pada hakekatnya selamanya adalah monopolistis? Di dalam zaman Compagnie ia mono­polistis, di dalam zaman na-compagnie ia monopolistis, di dalam zaman cul­tuurstelsel ia monopolistis, di dalam zaman “modern-imperialisme” ia masih juga monopolistis!

“Sesudah Oost-Indische-Compagnie pada kira-kira tahun 1800 mati”, – begitulah saya menulis dalam saya punya buku-pleidooi,- “sesudah Oost­Indische-Compagnie pada kira-kira tahun 1800 mati, maka tidak ikut ma­tilah stelselnya monopolie, tidak ikut matilah stelselnya mengaut-aut untung yang bersendi pada paksaan. Malahan, … sesudah tahun-tahun 1800­1830; sesudah habis zaman “tergoyang-goyang” antara ideologie-tua dan ideologie-baru, sebagai yang disebar-sebarkan oleh revolusi Perancis; se­sudah habis “tijdvak van de twijfel” ini maka datanglah stelsel kerja­paksa yang lebih kejam lagi, lebih mengungkung lagi, lebih memutuskan nafas lagi, – yakni stelsel kerja-paksa daripada cultuurstelsel, yang sebagai cambuk jatuh di atas pundak dan belakangnya rakyat kita !”

Dan juga di zaman sekarang, di dalam abad keduapuluh, di dalam zaman “kesopanan”, di mana imperialisme di Indonesia itu tidak lagi bernama imperialisme-tua tetapi ialah imperialisme-modern, – juga di zaman se­karang ini, maka pada hakekatnya politik monopoli itu belumlah dilepaskan oleh imperialisme Belanda itu. Juga di dalam zaman sekarang ini, maka masih banyaklah monopoli dari zaman Compagnie yang masih terus hidup. Dan di sampingnya “monopoli-kuno” itu, maka modern-imperialisme Be­landa itu adalah “modern-monopolistis” di dalam hampir semua econo­mische politiek-nya.

Kita melihat monopoli, jikalau kita mempelajari benar-benar rintangan -rintangan yang orang adakan pada perusahaan-karet Bumiputera, yang melulu berarti suatu penindasan perusahaan-karet Bumi­putera itu, agar supaya perusahaan-karet asing bisa menggagahi semua pasar. Kita melihat monopoli, jikalau kita menyelidiki benar-benar kesukaran-kesukaran yang orang adakan bagi vennootschap Bumiputera, dengan macam-macam alasan ini dan itu, yang merintangi suburnya per­dagangan fihak Bumiputera itu. Kita melihat monopoli, kalau kita per­hatikan benar-benar, bagaimana, sebagai nanti saya uraikan lebih lanjut, imperialisme asing itu merendah-rendahkan dan memadam-madamkan productiviteit Rakyat Bumiputera dan masyarakat Bumiputera, agar supaya ia bisa memegang kecakrawartian sendiri dan bisa membikin untung yang besar.

Dan imperialisme yang ada di Indonesia itu, sebagai yang telah sering sekali saya terangkan di mana-mana, kini sudahlah menjadi raksasa yang makin lama makin bertambah tangan dan kepalanya. Imperialisme-tua yang dulunya terutama hanya sistim mengangkuti bekal-bekal-hidup saha­ja, imperialisme-tua yang dulunya terutama hanya membikin Indonesia menjadi levensmiddelengebied sahaja, – imperialisme-tua itu kini su­dahlah … menjelma menjadi-imperialisme-modern yang empat ma­cam saktinya: pertama Indonesia tetap jadi levensmiddelengebied, kedua Indonesia menjadi afzetgebied, ketiga Indonesia menjadi grond­stoffengebied, keempat Indonesia menjadi exploitatiegebied daripada buitenlands surplus-kapitaal. Dan di dalam keempat shakti ini, maka imperialisme-modern itu sudahlah menjadi imperialisme yang campuran. Bukan modal Belanda sahaja, yang kini mengaut-aut kekayaan Rakyat Indonesia dan negeri Indonesia. Bukan modal Belanda sahaja yang kini berpesta di kalangan Rakyat Indonesia dan berdansa di atas bumi-Indonesia. Yang kini mengaut-aut kekayaan kita ialah, sejak adanya opendeur-poli­tiek, juga modal Inggeris, juga modal Amerika, juga modal Perancis-Belgia, juga modal Jepang, juga modal Jerman, juga modal Swis, – pendek-kata suatu imperialisme internasional yang bermilyar-milyar rupiah jumlah dan tenaganya.

Tetapi “warna” imperialisme yang ada di Indonesia, “warna” yang begitu perlu kita ketahui agar kita bisa mengukur tenaga pergerakan swadeshi untuk Indonesia, – bagaimanakah “warna” imperialisme itu? Warna im­perialisme di Indonesia bisalah kita tetapkan dengan angka-angka yang kita sajikan di bawah ini, angka-angka daripada . . . besarnya impor dan ekspor buat tahun-tahun 1920-1930.

Buat tahun 1920 impor f. 1.116.213.000 ekspor f.2.224.999.000

1924 f. 678.268.000 f. 1.530.606.000

1925 f. 818.372.000 f. 1.784.798.000

1926 f. 865.304.000 f. 1.568.393.000
1927 f. 871.732.000 f. 1.624.975.000
1928 f. 969.988.000 f. 1.580.043.000
1929 f. 1.072.139.000 f. 1.446.181.000
1930 f. 855.527.000 f. 1.159.601.000

Dengan angka-angka ini maka ternyatalah dengan seterang-terangnya, bahwa imperialisme di Indonesia itu terutama sekali ialah imperialisme yang mengekspor, suatu imperialisme yang menunjukkan export-excedent yang sangat besar, suatu imperialisme yang di dalam masa yang normal rata-rata dua kali jumlah harganya kekayaan yang ia angkuti keluar dari­pada yang ia masukkan kedalam. Dengan angka-angka ini maka ternya­talah bahwa “warna” imperialisme di Indonesia itu ada berlainan sekali daripada “warna” imperialisme Inggeris di Hindustan, yang jumlahnya impor dan ekspor rata-rata boleh dikatakan sama besarnya.” Dengan angka-angka ini, maka ternyatalah dengan seterang-terangnya, bahwa, se­bagai nanti akan saya terangkan lebih jelas, pergerakan nasional Indo­nesia dus tak boleh sama taktiknya dengan pergerakan di Hindustan adanya.

Rata-rata dua kali gandanya ekspor daripada impor!, bahwasanya memang suatu perbandingan yang celaka sekali, suatu perbandingan yang memang memegang record daripada semua imperialistische drainage yang ada di seluruh muka bumi! Indonesia yang celaka! Sedang perbandingan­nya ekspor : impor di negeri-negeri jajahan yang lain-lain ada “mendingan” sedang perbandingan itu di dalam tahun 1924

buat Siam adalah 108,9/100

buat Afrika Selatan 118,7/100

buat Philippina 123,1/100

buat India 123,3/100

buat Argentinia 124,7/100

buat Mesir 129,9/100

buat Ceylon 132,8/100

buat Chili 175,4/100

maka perbandingan itu buat Indonesia menjadilah yang paling celaka, yakni 220,4%. Dua ratus dua puluh komma empat prosen besarnya ekspor dibandingkan dengan impor! Herankah kita, bahwa seorang statisticus sebagai Prof. van Gelderen sia-sia mencari angka yang lebih tinggi, dan berkata bahwa “kalau kita bandingkan angka-angka di Hindia dengan angka-angka negeri lain, maka ternyatalah, bahwa tidak ada satu negeri di muka bumi yang procentage uitvoeroverschotnya begitu tinggi seperti Hindia Belanda”. Herankah kita, bahwa seorang Komunis C. Santin, yang tokh biasa melihat angka-angka yang kejam, menyebutkan imperialisme di Indonesia itu suatu imperialisme yang “terrible”, yakni suatu imperialisme yang mendirikan bulu roma.

Dua ratus dua puluh komma empat prosen besarnya ekspor, apakah yang diekspor itu? Yang diekspor ialah terutama sekali hatsil cultures dan minyak. Yang diekspor ialah terutama sekali gula, karet, tembakau, teh, petroleum, bensin, dan lain sebagainya, yang menurut angka-angka di atas tahadi semua totalnya di dalam zaman “normal” adalah paling “apes” f. 1.500.000.000.

Yang diekspor itu di bawah ini saya berikan percontohan, – dari tahun 1927.

Hatsil-hatsil minjak-tanah total f. 149.916.000
Arachides f. 4.335.000
Karet f. 417.055.000
Damar f. 9.911.000
Copra f. 73.083.000
Gambir f. 1.194.000
Getah-Pertja f. 1.895.000
Djelutung f. 2.073.000
Topi f. 2.405.000
Kaju f. 9.106.000
Kulit f. 16.067.000
Babakan kina f. 5.454.000
Kina (kinine) f. 1.821.000
Hopi f. 74.376.000
Djagung f. 4.033.000
Kain-kain f. 5.425.000
Minjak-minjak (dari tanaman) total f. 14.766.000
Pinang f. 7.307.000
Rotan f. 8.521.000
Beras f. 2.373.000
Rempah-rempah total f. 33.409.000
Spiritus f. 3.125.000
Arang-batu f. 5.019.000
Gula total f. 365.310.000

Tembakau total f. 113.926.000
Tepung ketela f. 21.423.000
Teh f. 90.220.000
Tin total f. 93.864.000
Bungkil f. 4.132.000
Kapuk, serat nanas, d.1.1. f. 38.250.000
lain-lain hal f. 42.484.000
Total: f. 1.622.278.000 1.622.278.000

Inilah daftar daripada “makan-jalan” di dalam pesta untuk merayakan “beschaving-orde-en-rust” yang diadakan oleh imperialisme di Indonesia!

Perhatikanlah nama-nama dan angka-angka yang dicetak dengan huruf tebal: Kecuali minyak-tanah dan tin, maka nama-nama itu adalah semua­nya nama-nama hatsil cultures, dan semuanyapun angka-angka yang paling gemuk. Karet sekian milyun, copra sekian milyun, kopi sekian milyun, minyak-minyak-tanaman sekian milyun, gula sekian milyun, … tem­bakau, teh, kapuk, serat-nanas sekian millioen, delapan macam hasil cul­tures ini sahaja jumlah ekspornya sudahlah f. 1.186.986.000 atau kurang lebih 75% dari semua jumlah ekspor yang f. 1.622.278.000 itu! Conclusie? Conclusie ialah, bahwa imperialisme yang jengkelitan di atas padang per­ekonomian Indonesia itu ialah terutama sekali imperialisme-cultures, atau lebih tegas lagi: landbouw-industrieel-imperialisme. Conclusie ialah, bahwa pusat pengautan imperialisme ialah tanah Jawa dan Sumatera, yakni oleh karena delapan hatsil cultures itu terutama sekali ialah berpusat di tanah Jawa dan Sumatera.

Dan jika kita menyelidiki daftar “makan-jalan” itu seluruhnya?

Jika kita menyelidiki daftar itu seluruhnya, maka conclusie ialah, bahwa Indonesia terutama sekali adalah menjadi padang penanaman-modal alias exploitatiegebied buitenlands surplus–kapitaal, yang sebagian membikin product yang sudah “jadi”, dan sebagian lagi mengeduk barang-barang yang masih berupa grondstof, sebagai mitsalnya karet, copra, kulit, babakan kina, tembakau dan lain-lain sebagainya. Jika kita menyelidiki daftar itu seluruhnya, maka kita dus mendapat conclusie, bahwa daripada empat shaktinya imperialisme di Indonesia itu, shakti ketiga dan keempatlah yang paling haibat dan paling merajalela. Shakti ketiga dan keempatlah, – shakti grondstoffengebied dan shakti exploitatiegebied surplus-kapitaal, – yang menjadi nyawanya internationaal-imperialisme di Indonesia. Shakti ketiga dan keempat itulah karenanya, yang harus kita gugurkan kalau kita ingin menggugurkan imperialisme di Indonesia!

Imperialisme di Indonesia bukanlah pertama-tama imperialisme “a la Kautsky”, imperialisme di Indonesia itu pertama-tama ialah imperialisme “a la Hilferding”, yakni imperialismenya Finanzkapital yang mencari belegging. Ia bukanlah pertama-tama imperialisme yang mencari pasar-perdagangan, – impor rata-rata hanyalah separonya ekspor! Ia pertama-tama ialah hatsilnya kapitalisme di dunia Barat yang telah terlalu banyak modal, dan yang menyebarkan modal itu ke negeri-negeri yang bisa menerimanya. Ia, oleh karenanya, tidak sama-sikap, tidak sama-perangai, tidak sama-houdingnya terhadap kepada Rakyat dan negeri yang ia duduki, dengan imperialisme Inggeris di Hindustan. Sedang imperialisme Ing­geris di Hindustan tidak membunuh-bunuh sama-sekali semua “kutu-­kutu” Rakyat Hindustan oleh karenanya ia sebagai handels-imperialisme butuh kepada Rakyat yang mempunyai daya-beli dan butuh kepada suatu middenstand-intermediair, sedang imperialisme Inggeris itu lekas mem­beri onderwijs sedikit-sedikit yang bisa memajukan perdagangannya, sedang imperialisme Inggeris itu adalah imperialisme yang tidak terlalu-­lalu sekali memadamkan productiviteitnya Rakyat, – maka imperialisme di Indonesia adalah terutama sekali imperialisme landbouw-industrie dan mijnbouw-industrie yang butuh kepada Rakyat melarat yang suka bekerja sebagai kaum buruh dengan upah yang murah dan suka menyewakan tanah dengan sewa yang murah, – suatu imperialisme yang mempunyai kepen­tingan atau belang atas rendahnya productiviteit Rakyat Indonesia itu adanya.

Sedang imperialisme Inggeris di India adalah suatu imperialisme yang semi-liberal, maka imperialisme di Indonesia adalah imperialisme yang orthodox dan monopolistic di dalam darah-dagingnya dan di dalam jiwa-raganya. Tiap-tiap apa sahaja yang bisa meninggikari productiviteit Rakyat Indonesia itu ia tindas, tiap-tiap nafsu ia padamkan, tiap-tiap ke­giatan ia rintang-rintangi, tiap-tiap energie ia bunuh! Sebab, tinggi-rendah­nya upah-buruh dan tinggi-rendahnya sewa-tanah di sesuatu masyarakat ditetapkan oleh tinggi-rendahnya productiviteit daripada masyarakat itu: Di dalam masyarakat kaya upah adalah tinggi dan sewa adalah mahal, di­ dalam masyarakat melarat upah adalah rendah dan sewa adalah murah, – di dalam masyarakat yang hampir mati-kelaparan orang suka bekerja dan menyewakan tanah asal bisa mendapat sesuap nasi penolak bahaya maut.

Bilamana pergaulan hidup Bumiputera bertambah sehatnya, sehing­ga harga-sewa-tanah juga lantas naik ke atas, maka perusahaan kaum modal Eropah itu menjadi kurang untungnya”, begitulah Prof. van Gelderen berkata, dan ucapan ini kami tambahi dengan ucapan Meyer Ranneft yang menulis: “Jumlah harta yang digali oleh modal dan perusahaan itu menjadi lebih besar, kalau tingkatnya masyarakat Bumiputera ada lebih melarat !” kami tambahi lagi dengan tulisannya Prof. Boeke yang berbunyi: mereka punya modal itu hanyalah mengharap dari Hindia tanah yang subur dan kaum buruh yang murah! Rakyat-penduduk bagi mereka tak lebih daripada suatu alat atau merupakan suatu kesusahan yang tak dapat dihindarkan. Buat mereka, yang paling perlu hanyalah banyaknya kaum buruh dan harganya tanah; kalau kaum buruh ada banyak jumlahnya, sehingga harga dan upah menjadi rendah, maka merekalah yang untung.

Dan bukan sahaja memadamkan productiviteit di atas lapangannya rezeki, bukan sahaja memadamkan economische productiviteit! Productiviteit geestelijk itu semuanyapun mendapat bagiannya! Apa yang orang jumpai di atas lapangan onderwijs dan opvoeding di Indonesia, mem­bikin orang tersenyum kalau dibandingkan dengan onderwijspolitiek John Bull di negeri Hindustan. Sedang di Hindustan orang sudah adakan banyak sekolah-sekolah tinggi dan pertengahan dan rendah ber puluh­pulu h t a hun yang l a l u maka di Indonesia hal-hal itu dimulainya terlambat sekali, dengan hatsilnya orang yang bisa baca-tulis sampai se­karang baru … 7%. Sedang di Hindustan onderwijspolitiek boleh dikatakan semi-liberal, maka onderwijspolitiek di sini adalah suatu sistim pendidikan kaum buruh yang bersemangat buruh belaka. “Ethische politiek” yang orang adakan di sini tempo-hari, yang bermaksud “kemanu­siaan” terhadap kepada bangsa kita, yang antara lain-lain memberi “lebih banyak” onderwijs kepada kita,- ethische politiek itu tidak “kebetulan”- lah orang adakan pada masa modern-imperialisme makin subur dan makin merasa kekurangan kaum-buruh-intelectueel dan kaum-penjilat-pena.

Menjadi: memang sudah sepantasnyalah imperialisme yang asal­turunnya dan di dalam darah-dagingnya suatu imperialisme yang anti-liberal dan orthodox, bersikap yang demikian itu. Dan karena dari dulu sampai sekarang, dari zaman Compagnie sampai ke zaman sesudah-compagnie, dari zaman cultuurstelsel sampai kezaman modern-imperialisme, tiap-tiap “kutu” kita dipitas dan dibunuh, maka susunan pergaulan hidup Indonesia menjadilah sangat primitief atau bersahaja. Tidak ada suatu kelas in­dustrieel dan golongan menengah Bumiputera sebagai di Hindustan yang kini berdiri di Indonesia.

Tidak ada suatu nationale bourgeoisie di Hindustan yang kini kita dapatkan di Indonesia. Tiap-tiap akar dari perusahaan-besar Bumipu­tera sudahlah tercabut dan terbasmi dari dulunya, tiap-tiap perusahaan kerajinan atau industri atau pelayaran sudahlah dihalang-halangi dan dibikin tidak bisa hidup lagi oleh imperialisme-tua dan modern yang dua­-duanya monopolistis itu. Perdagangan, pelayaran, pertukangan, ya perusahaan-besar apa-sahaja,- semuanya sudah matilah oleh mono­polisme itu. Kini tinggallah perdagangan-kecil belaka, pelayaran-kecil belaka, pertukangan-kecil belaka, pertanian-kecil belaka, … ketam­bahan lagi miliunan kaum buruh yang sama-sekali tidak mempunyai peru­sahaan sendiri, – kini masyarakat Indonesia adalah masyarakat merk-kecil, suatu masyarakat merk-kromo, suatu masyarakat merk-Marhaen yang apa­-apanya semua kecil. Padahal aduhai, betapakah tidak tingginya tingkat perusahaan Bumiputera di zaman sebelum imperialisme asing merajalela! Marilah saya di bawah ini mengulangi lagi beberapa citaat yang tempo-hari saya kemukakan di dalam saya punya pleidooi. Marilah kita mendengarkan Th. St. Raffles yang menulis: Begitu sukarnya menceritakan luasnya per­dagangan di tanah Jawa pada saat orang Belanda mulai di tepi lautan­lautan Timur, begitu menyedihkan hatilah menceritakan bagaimana perdagangan itu dihalang-halangi, dirobah dan dikecil-kecilkan oleh perbuatan bangsa asing itu, yakni dengan kekuasaannya monopoli yang sudah bobrok, dengan ketamaan dan keserakahan akan duit … Marilah kita mendengarkan Prof. Veth yang menceritakan, bahwa bangsa kita “masih di dalam abad keenambelas, sebagai juga di dalam zaman Majapahit, ada­lah terkenal sebagai kaum saudagar yang besar-usaha, kaum pelayar yang gagah, kaum perantau yang berani”, dan bahwa bangsa kita itu “tentunya ada kena perobahan yang besar sekali, menjadi kaum tani yang diam dan jinak sebagai sekarang inil”, diam dan jinak karena “semangat-harimau­nya sudah tumpas sampai kutu-kutunya”, diam dan jinak karena “obat­ tidur ketaklukan pada bangsa asing yang lama sekali itu sudah bekerja”? Marilah kita mendengarkan Prof. van Gelderen yang berkata: “Dengan adanya pusaka yang luas, maka tak bisalah disangkal lagi bahwa pada zaman dulu itu sudah ada permulaan daripada perdagangan yang giat, daripada perhubungan niaga dengan tanah seberang. Oleh adanya contingenten dan leverayncien, kemudian oleh adanya stelsel cultuur-paksa­an, maka kaum producent Bumiputera didesaklah dari pasar-dunia, dan dihalang-halangi suburnya suatu kelas majikan dan kelas saudagar bangsa sendiri.” Begitulah maka perusahaan-perusahaan asing zaman sekarang ini sudahlah memadamkan sama-sekali pertukangan-pertukangan di rumah.

Perdagangan ekspor Bumiputera adalah menjadi binasa sama-sekali, dan perusahaan-perusahaan yang hanya membikin barang-barang untuk daerah sendiri sahaja menjadilah hilang tersapu oleh gelombang barang-barang bikinannya massaproductie.

Marilah kita mendengarkan ceritanya Du Bus yang berbunyi:

“Pada zaman dahulu tanah Jawa adalah mengambil kain-kain yang rada alusan dari pasisir, tetapi kain-kain untuk keperluan sehari-hari ia bisa bikin sendiri, cukup untuk memenuhi kebutuhan se­luruh tanah Jawa, malahan juga cukup untuk sebagian daripada kepulauan Hindia. Berkapal-kapallah barang-barang itu meninggalkan tanah Jawa, menyebar kian-kemari ke seluruh nusa-nusa di sekeliling­nya” – disambung dengan perkataan Schmalhausen yang membubuhi komentar: “Sedang Du Bus diantara sebab-sebabnya keadaan-jelek ini menyebutkan pula musnanya perusahaan-perusahaan ekspor, maka kita di dalam Zaman sekarang ini, jugalah boleh mengatakan lagi, bahwa ba­nyak perusahaan-perusahaan Bumiputera menjadi megap-megap atau binasa sama-sekali.”Marilah … tetapi cukup! Cukup sekian sahaja! Sebab siapakah bisa membantah bahwa diantara Rakyat Indonesia kini tidak ada lagi perusahaan-perusahaan yang agak besar, siapakah yang bisa membantah bahwa diantara Rakyat Indonesia tidak ada manufacturen, perbengkelan atau paberik-paberik, siapakah yang bisa membantah bahwa Rakyat Indonesia tiada nationale bourgeoisie sebagai Rakyat Hindustan, siapakah yang bisa membantah bahwa masyarakat Indonesia ialah suatu masyarakat yang segala-galanya merk-kecil, yakni suatu masyarakat yang Kromoistis dan marhaenistis? Bahwasanya: benarlah conclusienya Dr. Huender tatkala ia menutup ia punya economisch over zicht yang terkenal, bahwa: “Een Indonesische middenstand als ruggegraat dezer maatschappij ontbreekt; de enkele grootgrondbezitters of kapitalisten ge­heel” yakni bahwa “tidak adalah di sini suatu middenstand-Indonesia yang menjadi tulang-punggungnya masyarakat; kaum tani-besar atau kapitalist yang hanya satu-dua itu, tidaklah menjadi satu hubungan-ekonomi dengan rakyat murba lainnya.”

Conclusie daripada semua yang kita tuliskan di atas ini ialah, bahwa politik swadeshi di Indonesia tidak bisa dipakai sebagai senjata jang terpenting untuk melemahkan imperialisme atau untuk mendatangkan Indonesia-Merdeka; kita di sini terutama sekali adalah berhadapan dengan grondstoffenimperialisme dan kapitaalbeleggingsimperialisme, yang dua­-duanya tak bisa dilemahkazi dengan politiek swadeshi itu. Kita di sini tidak ada kaum middenstand dan industrieel Bumiputera sebagai di India, yang bisa menjadi motornya pergerakan membrantas imperialisme itu.

Kita tidak bisa melemahkan imperialisme itu dengan suatu politik “national-economische self-containing”, tidak bisa menundukkan imperial­isme itu dengan suatu boycott-economie, tidak bisa memberhentikan imperialisme itu dengan pergerakan yang menentang impor. Kita harus mengerti, bahwa paberik-paberik gula, bahwa paberik-paberik karet, bahwa paberik-paberik kopi, bahwa paberik-paberik teh, bahwa paberik­-paberik minyak, bahwa paberik-paberik lain yang sernacam itu, yang semua menjadi tulang-punggungnya imperialisme di Indonesia itu, akan dengan tenteram bekerja terus, walaupun seluruh Rakyat Indonesia semua memakai pakaian “lurik” atau barang-barang bikinan sendiri.

Tidak! Dengan suatu masyarakat yang sembilan puluh lima prosen terdiri dari kaum yang segala-galanya kecil itu, dengan suatu masyarakat yang sembilan puluh lima prosen terdiri dari kaum Marhaen itu, dengan suatu masyarakat yang tiada industrieel middenstand dan yang terutama sekali ialah dicengkeram oleh grondstoffenimperialisme dan capitaal­beleggings–imperialisme itu, dengan masyarakat yang demikian itu tenaga yang bisa mendatangkan Indonesia-Merdeka terutama sekali ialah organi­sasinya Kang Marhaen yang milyunan itu di dalam suatu politieke-massa­actie yang nationaal-radicaal dan marhaenistis di dalam segala-galanya! Dengan masyarakat dan imperialisme yang demikian itu, maka zwaarte­puntnya kita punya aksi haruslah terletak di dalam politiek bewustmaking dan politieke actie, yakni di dalam menggugahkan keinsyafan politik dari­pada Rakyat dan di dalam perjoangan politik daripada Rakyat. Dengan masjarakat dan imperialisme yang demikian itu kita tidak boleh “meng­genuki” aksi ekonomi sahaja, dengan mengabaikan aksi politik dan mendorongkan aksi politik itu ketempat yang nomor dua. Dengan masyarakat dan imperialisme yang demikian itu kita tidak boleh menenggelamkan, verdrinken politieke bewustmaking dan politieke actie itu di dalam aksi “konstruktif” mendirikan warung ini dan mendirikan warung itu, – aksi “konstruktif” yang akhirnya hanya mempunyai harga “penam­bal” belaka.

0, perkataan jampi-jampi, o, perkataan peneluh, o, perkataan mantram, o, toverwoord “constructief” dan “destructief”. Sebagian besar daripada pergerakan Indonesia kini seolah-olah kena dayanya toverwoord itu, sebagian besar daripada pergerakan Indonesia seolah-olah kena gen­dhamnya mantram itu! Sebagian besar daripada pergerakan Indonesia mengira, bahwa orang adalah “konstruktif” hanya kalau orang mengadakan barang-barang yang boleh diraba sahaja, yakni hanya kalau orang mendi­rikan warung, mendirikan koperasi, mendirikan sekolah-tenun, mendirikan rumah-anak-yatim, mendirikan bank-bank dan lain-lain sebagainya saha­ja, – pendek-kata hanya kalau orang banyak mendirikan badan-badan sosial sahaja, – sedang kaum propagandis politik yang sehari-ke-sehari “cuma bicara sahaja” di atas podium atau di dalam surat-kabar, yang barangkali sangat sekali menggugahkan politiek bewustzijn daripada Rakyat-jelata, dengan tiada ampun lagi diberinya cap “destructief” alias orang yang “merusak” dan “tidak mendirikan suatu apa”! Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa semboyan “jangan banyak bicara, tetapi bekerjalah”, harus diartikan dalam arti yang lugs. Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa “bekerja” itu tidak hanya berarti mendirikan barang-barang yang boleh dilihat dan diraba sahaja, yakni barang-barang yang tastbaar dan materieel.

Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa perkataan “mendirikan” itu juga boleh dipakai untuk barang yang abstrak, yakni juga bisa berarti mendirikan semangat, mendirikan keinsyafan, mendirikan harapan, mendirikan ideologie atau geestelijke gebouw atau geestelijk artillerie yang menurut sejarah-dunia akhirnya adalah artillerie yang satu­satunya yang bisa menggugurkan sesuatu stelsel. Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa terutama sekali di Indonesia dengan masya­rakat yang merk-kecil dan dengan imperialisme yang industrieel itu, ada baiknya juga kita “banyak bicara”, di dalam arti membanting kita punya tulang, mengucurkan kita punya keringat, memeras kita punya tenaga untuk mernbuka mata Rakyat-jelata tentang stelsel-stelsel yang menceng­keram padanya, menggugah keinsyafan-politik daripada Rakyat-jelata itu, menyusun segala tenaganya di dalam organisasi-organisasi yang sempurna techniknya dan sempurna disiplinnya, pendek-kata “banyak-bicara” meng­hidup-hidupkan dan membesar-besarkan massa-actie daripada Rakyat­-jelata itu adanya!

Tidak! semboyan “dengan swadeshi Mendatangkan kemerdekaan” yang buat India ada begitu besar shaktinya, semboyan itu buat Indonesia tidaklah bisa dipakai. Semboyan itu buat Indonesia adalah semboyan yang kosong, semboyan yng hampa, semboyan yang tidak berisi rieele macht. Kemerdekaan Indonesia tidaklah bisa didatangkan dengan pergerakan swadeshi, kemerdekaan Indonesia hanyalah bisa didatang-kan dengan poli­tieke-massa-actie yang berazas Marhaenisme.

Marilah kita camkan conclusie kita ini. Marilah kita belajar memikir yang analytis. Dan marilah kita juga belajar memikir “in werelddelen”, belajar memikir “benua-perbenua”. Marilah kita belajar ingat, bahwa imperialisme yang ada di Indonesia ialah imperialisme yang internasional. Di daerah cultures sekitarnya Deli 43,83% dari semua kapital adalah kapital asing yang bukan Belanda, di daerah cultures Sumatera Selatan prosentase ini adalah 36,6, di perusahaan minyak B.P.M. 40% dari semua aandeel adalah kepunyaan­nya “Shell”, – buat seluruh Indonesia prosentase kapital asing yang bukan Belanda adalah kurang lebih 30%. Musuh yang begitu banyak anggautanya itu, musuh yang terdiri dari persekutuan gembong-gembong dan belorong-belorong yang begitu banyak jumlahnya itu, musuh yang ibarat raja raksasa Rahwana yang sepuluh kepalanya itu, – amboi, musuh yang demikian itu tidak dapat dialahkan dengan swadeshi-swa­deshian sahaja.

Oleh karena itu, tidak! Dan sekali lagi: tidak! Tidak bolehlah kita membeo sahaja kepada semboyan-semboyan yang dipakai oleh perjoang­an-perjoangan Rakyat di lain negeri, tidak boleh kita mengover sahaja segala leuzen zonder meng-analyseer sendiri. Pergerakan Indonesia ha­ruslah memikir sendiri, mengupas soal-soalnya sendiri, mencari semboyan-semboyannya sendiri, menggembleng senjata-senjatanya sendiri. Hanya dengan cara demikianlah kita bisa menjauhi segala pemborosan tenaga! Tetapi dalam pada itu … adakah dengan segala hal yang saya uraikan di atas itu, saya mau mengatakan bahwa saya dus anti segala pergerakan swadeshi di Indonesia? Saya tidak anti segala pergerakan swadeshi di Indonesia.

Saya bukan seorang nasionalis kalau saya tidak senang melihat bangsa saya bisa membikin sendiri barang ini dan itu, saya bukan seorang nasionalis kalau saya tidak senang melihat bangsa saya mempunyai creatiefvermogen dan berusaha mempertinggi creatiefvermogen itu, saya bukan seorang nasionalis kalau saya tidak merasa wajib-ikut berusaha membesar-besarkan creatiefvermogen bangsa sendiri itu. Saya hanyalah merasa wajib membantah, yang orang mengira, sebagai tempo-hari sering saya dengar, bahwa swadeshi itu bisa mendatangkan Indonesia-Merdeka, dan merasa wajib menjaga, jangan sampai pergerakan politik menge­jar Indonesia-Merdeka itu ditenggelamkan atau di-verdrinken didalam pergerakan swadeshi, ditenggelamkan dan di-verdrinken di dalam suatu pergerakan yang tidak boleh dipakai sebagai senjata untuk menghantam grondstoffen dan kapitaal-beleggings-imperialisme.

Di dalam karangan saya yang akan datang akan saya terangkan apa faedahnya swadeshi itu, ­faedahnya bagi belajar meninggikan productiviteit masyarakat Indonesia, dengan syarat-syaratnya agar supaya swadeshi itu tidak menjadi suatu pergerakan yang sosial-reaksioner, dan agar supaya pergerakan swadeshi itu tidak menjadi alat bagi kaum munafik candidaat-bourgeoisie untuk menggemukkan kantongnya sendiri. Tetapi karangan saya ini tidak bisa saya tutup dengan tidak satu kali lagi memperingatkan: Lenyapkanlah segala pengiraan bahwa swadeshi bisa mendatangkan Indonesia-Merdeka.

“Suluh Indonesia Muda”, 1932

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 205 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar