Home » 2017 » July » 12 » SATU TAHUN KETENTUAN (A YEAR OF DECISION)
1:01 PM
SATU TAHUN KETENTUAN (A YEAR OF DECISION)

<<<sebelumnya.....   Ada hal-hal yang menggembirakan dalam segala kerèwèlan-kerèwèlan belakangan ini! Apakah itu? Yang menggembirakan ialah cepatnya rakyat kita mereaksi kepada hal-hal yang tidak baik. Cepatnya rakyat kita mereaksi kepada penyelèwèngan-penyelèwèngan dalam pelaksanaan Revolusi, misalnya: birokrasi di pusat adalah satu hal yang memang tidak baik. Cepat rakyat mereaksi kepada birokrasi itu. Partai-sentrisme adalah satu penyelèwèngan. Cepat rakyat mereaksi kepada hal itu. Sejarah dari lain-lain bangsa atau lain-lain negara menunjukkan, bahwa sesuatu keburukan atau penyelèwèngan dapat berjalan berpuluh-puluh tahun tanpa reaksi apa-apa, sehingga menjadilah keburukan atau penyelèwèngan itu bersulur dan berakar, dan akhirnya merupakan satu dekadensi permanen, atau satu keruntuhan.

Reaksi rakyat Indonesia adalah cepat, dan itulah menggembirakan. Hanya caranya mereaksi itu di sana-sini kurang tepat, bahkan membahayakan. Membahayakan keutuhan Negara, membahayakan keutuhan Bangsa. Mengenai cara ini, saya di Dewan Nasional pernah memekikkan pekik Latin “non  tali auxilio!”, “non tali auxilio!”, yang berarti: “niet op die manier! niet op die manier!” – “jangan dengan cara begitu!” Caramu salah, caramu membahayakan Negara! Apa yang harus kita ambil daripada reaksi-reaksi itu? Atau apa yang harus kita perbuat berhubung dengan reaksi-reaksi itu?

Reaksi terhadap sesuatu keadaan yang kurang baik, harus kita tanggulangi sebagai alat korektif, dan jangan sebagai tujuan. Oleh karena jika demikian, maka persoalan tidak akan terpecah, melainkan malahan akan menjadi semakin bubrah. Kesulitan nanti tidak akan hilang, tetapi malahan akan menjadi bertambah.

Ambil, untuk mengerti apa yang saya maksudkan, misalnya peperangan. Apa tujuan sesuatu peperangan? Tujuan semua peperangan ialah menundukkan musuh, mematahkan perlawanan musuh. Akan tetapi jika peperangan dilakukan hanya untuk tujuan itu saja, yaitu menundukkan bangsa lain atau menghancurkan bangsa lain, maka ia tidak-boleh-tidak niscaya menumbuhkan bibit dendam, dan ini menjadilah sumber daripada sesuatu peperangan baru. Sebaliknya jika peperangan dipergunakan sebagai alat korektif, yaitu: untuk memperkuat dasar keadilan, untuk memperkuat dasar perdamaian, untuk memperkuat dasar kemakmuran-bersama, maka peperangan ada gunanya juga.

Nah! Demikian pulalah maka semua reaksi-reaksi yang kita alami sekarang ini, harus kita tanggulangi sebagai alat korektif. Kita sekarang ini antara lain mengalami reaksi terhadap sentralisme. Tiap-tiap reaksi terhadap sentralisme tentu menunjukkan gejala separatisme, gejala sukuisme. Maka jika reaksi terhadap sentralisme itu tidak kita tanggulangi sebagai alat korektif, ia niscaya akan benar-benar menjadi sukuisme dan separatisme, meskipun ini tidak diingini dari semula.

Benar, petualang-petualang yang menunggangi reaksi-reaksi itu niscaya selalu ada, petualang-petualang bejat yang tidak mengenal nationaal idealisme dan tidak mengenal nationale integriteit.

Terhadap kepada mereka itu tidak ada lain sikap yang pantas kita ambil daripada: ”Engkau adalah pendurhaka bangsa, dan nasibmu adalah nasibnya pendurhaka bangsa!” Tetapi reaksi itu  an sich, harus kita ambil sebagai alat korektif.

Ya, ini satu opgaaf yang tidak gampang. Ini minta kebijaksanaan dan ketangkasan yang luar biasa. Apa boleh buat, – kita toh dalam Revolusi? Apakah yang dinamakan Revolusi? Apakah Revolusi sekedar ”potong kepala saja”? Revolusi bukan sekedar ”potong kepala saja”. Revolusi adalah satu kejadian politiek-maatschappelijk yang amat besar. Revolusi adalah satu perobahan yang amat besar, diikuti oleh pertumbuhan-pertumbuhan yang amat cepat.

Buat pimpinan revolusi, ini membutuhkan satu dinamik yang sungguh-sungguh cepat, agar supaya tiap-tiap aksi tidak mengèksès melampaui tujuannya. Ada perkataan seorang sarjana: “Untuk memulai sesuatu revolusi, maka cukuplah orang-orang panas-kepala dipakai sebagai barisan pelopor; tetapi untuk menyelesaikan sesuatu revolusi, maka dibutuhkan orang-orang revolusioner yang berpengalaman”. – “Om een revolutie te beginnen, is het voldoende om een troep heethoofden in actie te zetten. Om een revolutie tot een goed einde te brengen, is het nodig om ervaren revolutionnairen te laten werken”. “Een revolutie wordt begonnen door een troepje heethoofden. Een revolutie wordt voleindigd door ervaren revolutionnairen”.

Nah, demikian pula maka reaksi terhadap sentralisme mungkin dipelopori oleh orang-orang-panas-kepala; tetapi ia harus diselesaikan oleh orang-orang revolusioner yang berpengalaman.

Gerakan anti-sentralisme, anti-korupsi, anti-birokrasi dan lain-lain, sudahlah kini cukup menggetarkan suasana. Kini tibalah saatnya gerak-gerakan itu diikuti oleh gerakan-gerakan yang mengandung positivisme. Sebab jikalau tidak, maka tidak boleh tidak, sebagai tadi kukatakan, gerakan-gerakan itu nanti membeludak melampaui batas-batas tujuannya, dan tendensi-tendensi sukuisme dan separatisme niscayalah membeludak menjadi sukuisme betul-betul dan separatisme betul-betul.

Kepada seluruh bangsa Indonesia, baik yang di pusat maupun yang di daerah, dan terutama sekali malahan yang di daerah, saya tandaskan di sini, bahwa autonomi yang tak menghiraukan hukum keselarasan dan hukum keseiramaan, autonomi, yang tak menghiraukan “Wet der harmonie”, niscaya akan nanti memecah-belahkan keutuhan Bangsa dan keutuhan Negara.

Autonomi bukan sekedar dan semata-mata satu perpindahan pertanggungan-jawab dari pusat ke daerah. Autonomi bukan pula satu perpindahan birokrasi atau korupsi dari pusat ke daerah, ditambah dengan kemungkinan adanya separatisme dan sukuisme. Autonomi adalah soal yang lebih pelik dari itu. Sebagaimana halnya dengan demokrasi, maka bagi autonomi, – dan tidakkah autonomi pada hakekatnya pelaksanaan daripada demokrasi administratief dan demokrasi politik? -, sebagaimana halnya dengan demokrasi, maka bagi autonomi juga mutlak diperlukan syarat-syarat yang tadi saya sebutkan: negara-sentris (staats-gerichtheid), bangsa-sentris (natie-gerichtheid), kejujuran politik dan kejujuran moril (politieke en morele integriteit), daya-cipta yang cukup banyak (ideeëndragers in grote mate).

Tanpa dipenuhinya syarat-syarat ini, maka autonomi akan kosong-melompong, bahkan akan impoten, bahkan akan menjadi padangnya korupsi belaka, bahkan akan membahayakan keutuhan dan kesentausaan Bangsa dan Negara. Tanpa dipenuhinya syarat-syarat itu, maka autonomi akan berarti perulangan di Indonesia daripada sejarah perpecahannya bangsa-bangsa Arab, bangsa-bangsa Slavonis, bangsa-bangsa Latin-Amerika, bangsa-bangsa Balkan. Tanpa dipenuhinya syarat-syarat itu, autonomi bagi kita akan berarti “Balkanisasi”.

Demikian pulalah maka gerakan anti-birokrasi dan anti-korupsi tidak akan semudah seperti orang kira, sehingga bolehlah orang hantam-kromo saja beranti-birokrasi dan beranti-korupsi. Pemberantasan birokrasi barulah akan berguna, jika birokrasi itu diganti dengan administrasi yang saksama, cepat, dan efisien. Jika tidak, maka niscayalah anarchi menduduki singgasana birokrasi itu. Dan kita akan sama télé-télé, mungkin akan lebih télé-télé!

Pemberantasan korupsi tidak akan cukup, jika tidak diikuti oleh gerakan kesederhanaan digolongan atas, gerakan gotong-royong dan keadilan sosial di kalangan rakyat banyak.

Di segala lapangan kita membutuhkan lebih banyak positivisme. Negativisme belaka tidaklah mencukupi untuk dijadikan panji-panjinya Revolusi. Anti-sentralisme, anti-birokrasi, anti-korupsi, anti-diktatur, anti-Javanisme, – semua “anti” itu adalah negativisme belaka, jika tidak disertai dengan pemenuhan syarat-syarat yang positif.

Maka jadilah kita satu bangsa yang memiliki sifat-sifat-jiwa yang positif!

Saudara-saudara! Kita sekarang ini, sebagai sudah sering saya katakan dalam pidato-pidato, berada dalam tingkatan kedua daripada Revolusi kita, yaitu tingkatan “nation-building”. Tingkatan membina natie, tingkatan membina bangsa. Tingkatan pertama daripada Revolusi kita ialah tingkatan “memecahkan belenggu”, tingkatan “pemerdekaan”, tingkatan ”liberation”. Di dalam tingkatan pertama itu kita hantam hancur-lebur semua rantai-rantai yang mengikat kita beratus-ratus tahun lamanya, kita main dengan bambu runcing dan bedil, dengan golok dan granat, dengan bom dan dinamit. Kita gempur semua bèntèng-bèntèngnya imperialisme, kita hantam remuk-redam semua gedung-gedungnya penjajahan. Alangkah sakit-pedihnya waktu itu, tetapi juga alangkah ”heerlijknya” (sedap-segarnya) waktu itu. Jiwa-cita-cita pada waktu itu menyala-nyala, kerelaan berjuang dan berkorban tak mengenal batas. Jiwa kita pada waktu bersinar-sinar dan berseri-seri laksana ndaru. Rakyat dan pemimpin berpakaian bagor, tetapi semua mata bersinar keramat, semua mulut bersenyum-simpul. Semua hal kelihatannya mudah.

Dan memang dalam tingkatan ”liberation” semua hal lebih mudah. Tidak ada persoalan-persoalan yang amat sulit. Persoalannya hanya satu: pro atau kontra penjajahan, – habis perkara! Siapa yang pro penjajahan, hantam remuk-redam sama dia! Siapa yang kontra penjajahan, hayo peganglah bambu runcing ini, hayo panggullah ini senapan! Pembagian kekuatan-kekuatan konstruktif dan destruktif sangat mudah, dan tidak adalah komplikasis. Idealisme membumbung tinggi, idealisme menyala-nyala. Rajawali Indonesia pada waktu itu benar-benar menggaruda di sapta angkasa. Sampaipun bagi bangsa-bangsa di luar-negeri, posisi adalah amat mudah pada waktu itu: pro Revolusi Indonesia, atau anti Revolusi Indonesia?; pro Indonesia Merdeka, atau anti Indonesia Merdeka?; pro Indonesia, atau pro Belanda?

Tetapi kini kita berada pada tingkatan ”nation-building”, yaitu tingkatan yang kedua daripada Revolusi kita. Tahun 1957 termasuk dalam rangka tingkatan nation-building itulah. Maka saya tidak heran, bahwa dalam tahun 1957 ini kita merasakan adanya pergolakan-pergolakan kekuatan-kekuatan, yang memang biasanya timbul dalam masa nation-building itu.

Dalam masa nation-building sesuatu bangsa, maka biasanya idealisme agak luntur, dan ”ego-sentrisme”, ”aku-sentrisme”, biasanya makin tumbuh. Aku-sentrisme menonjolkan diri di segala lapangan. Dulu jiwa dihikmati oleh tekad ”aku buat kita-semua”, – sekarang … ”aku buat aku”. ”Aku buat aku!”

”Aku”. – ”aku” dalam arti aku perseorangan; aku golongan; aku partai; aku suku; aku daerah, – aku ini menonjol-nonjol. ”Aku” ini minta kedudukan, aku ini minta penghargaan, aku ini minta sekian kursi dalam parlemen, aku ini minta pelayanan istimewa, aku ini minta sebagian besar dari peruangan Negara, aku ini minta autonomi, aku ini minta status yang lebih tinggi.

Sebagai kukatakan tadi, dalam masa nation-buildingnya sesuatu bangsa, memang biasa idealisme pasang surut, ego-sentrisme atau aku-sentrisme pasang tinggi. Ini kita lihat pada nation-buildingnya Amerika (sampai menimbulkan perang-saudara), pada nation-buildingnya bangsa Jepang (pemberontakan-pemberontakan Ronin dan Saigo Takamori), pada nation-buildingnya India (kesulitan di daerah sekitar Bombay dan lain-lain), pada nation-buildingnya bangsa lain-lain yang semuanya dapat kita telaah dalam sejarah.

Dan memang: kebebasan yang masih dalam pertumbuhan, selalu membangunkan rasa ego-sentris. Kebebasan yang belum menap itu selalu bersifat “bebas untuk bebas”, – “vrij om vrij te zijn”. Dan selalulah ia berpusat kepada kebebasan ego, kebebasan “aku”. Selalulah ia membawa kepada sikap ego-sentris.

Oleh karena itu, saudara-saudara: hidupkanlah kembali idealismemu tinggi-tinggi! Kebebasan yang kita alami sekarang ini, kebebasan yang masih dalam pertumbuhan, kebebasan yang belum menap, kebebasan yang belum “anteng”, – kebebasan yang kita alami sekarang ini mengandung unsur-unsur bahaya di dalamnya. Kalau tidak kita sertai kebebasan itu dengan idealisme bersatu bangsa, bersatu tanah air, bersatu bahasa, bersatu Negara, idealisme yang menyala-nyala, – kalau tidak kita sertai kebebasan itu dengan idealisme yang gemilangnya laksana bintang di langit -, maka pasti ego-sentrisme akan bercakrawarti samasekali, dan pasti kebebasan itu hanya akan menimbulkan perpecahan dan desintegrasi belaka!

Malahan dari luarpun, ego-sentrismenya bangsa-bangsa merongrong kita di zaman nation-building kita ini! Dulu, di zaman “liberation” kita, di zaman kita memperjuangkan kemerdekaan, sokongan dari luar atau simpati dari luar boleh dikatakan kompak, dengan perkecualian di sana-sini. Dulu hampir seluruh dunia adalah pro Indonesia, dulu hampir seluruh dunia mendesak Belanda untuk mengakui kemerdekaan kita. Sekarang dalam tingkatan nation-building kita ini, roman dunia sudah berobah. Ego-sentrisme sudah menghinggapi pula beberapa bangsa di dunia itu dalam sikapnya terhadap kita. Dulu dengan penuh idealisme mereka membenarkan perjuangan kita. Dulu dengan penuh idealisme mereka menuntut dilaksanakannya hak-menentukan-nasib-sendiri kepada bangsa Indonesia. Dulu mereka ikut berkobar-kobar menuntut dipenuhinya right of selfdetermination bagi Indonesia. Tetapi sekarang ego-sentrismepun telah menyelinap dalam hati mereka itu, dan sikap mereka terhadap Indonesia ditentukan oleh perhitungan “keuntungan” yang mereka dapat peroleh dari sikap itu. “Keuntungan” ini dapat berupa keuntungan ekonomis, keuntungan politis, keuntungan militer, tetapi nyata keuntungan itu adalah keuntungan mereka punya ego sebagai bangsa, dan nyata, bahwa bukan lagi prinsip dan idealismelah yang mengemudikan sikap mereka terhadap kita, tetapi ego.

Maka oleh karena itulah tekanan dari luar kepada kita dalam masa nation-building ini terasa amat keras sekali, meskipun tekanan itu dijalankan oleh mereka dengan cara yang amat samaran sekali. Dan kita harus tetap kuat menahan tekanan ego-sentrisme mereka itu, kita harus tak boleh menjadi obyek daripada ego-sentrisme mereka itu. Paling sedikit kita sekarang ini, mau tidak mau, dikenakan hukum alam yang dinamakan hukum kompetisi, yaitu “the law of competition”. Kompetisi dengan negara-negara yang sudah berpengalaman, kompetisi dengan negara-negara yang sudah kaya, kompetisi dengan negara-negara yang masing-masing terjangkit pula penyakit ego-sentrisme. Janganlah kita lemah! Tetaplah kita kuat dan waspada! Tetaplah kita ”kita sendiri”, tetaplah kita berdiri di bumi kepribadian kita sendiri! Dan agar supaja kita teguh-kuat untuk tidak menjadi obyek, – hanya satulah jalan yang dapat membawa kita ke jurusan itu: Kita sendiri jangan terpecah-belah karena bagi ego-sentrisme itu, kita sendiri harus kompak bersatu menekan ego-sentrisme dengan idealisme yang berapi-api!

Saudara lihat: Keadaan tidak menjadi makin mudah! Persoalan kita selalu bertambah-tambah. Nation-building memang lebih sukar dan lebih ”berpenyakit” daripada liberation, dan malahan pertumbuhan sesuatu negara dalam abad atom adalah lebih sukar lagi daripada pertumbuhan negara dalam abad-abad yang telah lalu. Tetapi mau apa? Mau hidup langsungkah sebagai Negara, atau mau tenggelamkah?

Mau tenggelam? Umbarkanlah segala kebebasan-kebebasan zonder memasang batas, umbarkanlah segala ego-mu zonder memasang papan-papan penciri ideal kesatuan nasional, umbarkanlah segala negativisme zonder memenuhi syarat-syaratnya positivisme! Maka kita akan tenggelam ke dasar samodera laksana perahu-lumpur yang lepas segala bagian-bagiannya.

Mau hidup langsung? Kembalilah kepada isinya Proklamasi, kembalilah kepada keutuhan Negara, dan kita sebagai bangsa dan Negara akan hidup langsung buat selama-lamanja, – Insya Allah, sampai ke akhir-zaman!

Saudara-saudara!

Masih perlu saya tandaskan kepada saudara-saudara akan pentingnya suatu hal. Hal itu mengenai pentingnya Revolusi Mental. Lebih-lebih lagi dalam sesuatu masa nation-building, – nation-building dengan segala godaan-godaannya, dan dengan segala aberasi-aberasinya, sebagai yang saya uraikan tadi itu, – maka satu Revolusi Mental adalah mutlak perlu untuk mengatasi segala kenyelèwèngan, – lebih perlu daripada dalam masa sebelum nation-building itu, yaitu dalam masa Liberation.

Sebab dalam masa liberation, idealisme masih cukup menyala-nyala, api keikhlasan masih cukup bersinar terang, kekeramatan mission sacrée masih cukup menghikmati jiwa. Dalam masa Liberation, semua orang adalah pejuang, semua orang adalah pekorban, semua orang adalah baik. “There are no bad men in a battle”, – “tidak ada orang yang tidak baik dalam satu pertempuran mati-matian”, – demikianlah seorang panglima perang pernah berkata.

Tetapi dalam masa nation-building, bermacam-macam kesentrisan sama timbul. Di gunung, tatkala sungai menggelora terjun dari batu ke batu dan dari tebing ke tebing, maka air sungai selalu bening dan bersih. Di dataran bawah, geloranya telah tak ada lagi, alirannya telah menjadi tenang, air bening menjadi kuning, tiap-tiap putarannya menimbulkan buih.

Karena itu maka untuk keselamatan Bangsa dan Negara, terutama dalam taraf nation-building dengan segala bahaya-bahayanya dan segala godaan-godaannya itu, diperlukan satu Revolusi Mental. Ibaratnya, diperlukanlah dalam nation-building itu satu “pensucian kembali” daripada jiwa. Atau namakanlah ia “peremajaan”, atau “penatalan kembali”, atau “pembangkitan kembali”, atau “penggeloraan kembali ” , atau … apapun! Pokoknya ialah, bahwa dalam nation-building itu, dan saya ulangi : terutama dalam nation-building itu -, jiwa kita harus kita revolusikan kembali ke arah positivisme dan dinamika, kita gelorakan kembali seperti di zaman permulaan Revolusi, kita gegap-gempitakan kepada pengabdian kepada “isi” dan “wadah” sebagai di muka tadi saya uraikan. Segala watak-watak dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik untuk pelaksanaan ”isi” dan “wadah” itu harus kita kikis habis; segala watak-watak dan kebiasaan-kebiasaan yang baik untuk pelaksanaan “isi” dan “wadah” itu harus kita timbulkan, kita hidup-hidupkan, kita bangkit-gerakkan.

Nation-building membutuhkan bantuannya Revolusi Mental! Karena itu, adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah!

Ya! Bangkitlah, bangkit dan geraklah ke arah pemulihan jiwa. Pemulihan jiwa untuk apa? Bangkit dan geraklah ke arah menyadari kembali cita-cita nasional, bangkit dan geraklah ke arah menyadari kembali cita-cita sosial, bangkit dan geraklah menjadi manusia baru, een herboren mens yang bekerja, berjuang, berbakti, berkorban guna membina bangsa dan masyarakat yang sesuai dengan cita-cita nasional dan sosial itu, yaitu sesuai dengan cita-cita Proklamasi. Buangkan segala kemalasan, buangkan segala ego-sentrisme, buangkan segala ketamakan, buangkan segala keliaran, buangkan segala kecowboyan, buangkan segala kemewah-mewahan, buangkan segala kepetualangan, buangkan segala kemesuman, buangkanlah segala macam keinlanderan itu , – jadilah manusia Indonesia, manusia Pembina, manusia yang benar-benar sampai kepada tulang-sungsumnya bersemboyan “satu buat semua, semua buat pelaksanaan satu cita-cita”.

Inilah inti-sari daripada anjuran saya mengadakan satu Gerakan Hidup Baru, agar supaya kita dapat menyelesaikan tugas historis kita dalam masa nation-building ini dengan cara yang gilang-gemilang. Saya katakan ”gerakan”, oleh karena Revolusi Mental yang harus meliputi seluruh masyarakat itu tak dapat berlangsung zonder organisasi, zonder pimpinan, zonder Gerakan. ”Gerakan” pula, oleh karena Revolusi Mental ini bukan bussiness satu hari atau dua hari, melainkan adalah satu hal yang berlangsung bertahun-tahun. Membaharui mentalitet satu bangsa tidak selesai dalam satu hari. Membaharui mentalitet satu bangsa bukan seperti orang ganti baju. ”Een mens wordt niet verjongd als men zijn huis opkalkt”, – manusia tidak berobah kalau rumahnya dikapur putih, – demikianlah Giuseppe Mazzini pernah berkata. Membaharui mentalitet satu bangsa, incluis pimpinannya, incluis golongan atasnya, – ya barangkali terutama pimpinannya dan terutama golongan atasnya -, adalah satu usaha tiap hari, satu usaha ”pratidina”, satu usaha ”tous les jours”. Ingatlah saudara, bahwa ”bangsa” juga harus dibina tiap hari, bahwa ”une nation est un grand bâtiment établi tous les jours?” Karena itulah perlu adanya Gerakan, perlu adanya pimpinan, perlu adanya organisasi. Dan karena itulah pula, maka 17 Agustus 1957 ini hanyalah satu hari permulaan meloncat saja, satu penetapan hari sebagai starting-day.

Ada orang berkata: Gerakan Hidup Baru ini adalah jiplakan dari New Life Movement di luar-negeri. Alangkah piciknya ucapan demikian itu. Alangkah piciknya pula ucapan bahwa Gerakan Hidup Baru itu adalah inspirasi dari R.R.T. Sebab sebenarnya tiap-tiap revolusi yang betul-betul Revolusi adalah satu Revolusi Mental. Atau lebih tegas lagi: bersyarat satu Revolusi Mental. Golongan-golongan kontra-revolusioner dalam sesuatu revolusi adalah justru golongan-golongan yang tidak mau mengalami Revolusi Mental. “Revolution rejects yesterday” kataku tadi, dan golongan-golongan kontra-revolusioner dalam sesuatu revolusi adalah justru golongan-golongan yang tidak mau “reject yesterday”.

Apalagi fasenya nation-building yang penuh dengan ego-sentrisme dan penyeléwéngan dan zelfgenoegzaamheid dan materialisme dan korupsi dan kemalasan dan cowboy-cowboyan dan seribusatu macam penyakit-penyakit lagi itu, perlulah diadakan penyadaran dan penyegaran jiwa kembali. Bukan jiplakan. Bukan karena “inspirasi” dari luaran.

Ya, alangkah banyaknya penyakit-penyakit kita sekarang ini, yang meng-hambat lancarnya nationb-uilding kita itu, dan dus menghambat bahkan menyeléwéngkan pelaksanaan cita-cita politik dan cita-cita sosial kita, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Masyarakat yang adil dan makmur!

Apa sebab masuk kantor baru jam sembilan, dan jam satu sudah kukut-kukut? Apa sebab sampah mblader di mana-mana? Apa sebab kita tergila-gila barang-barang lux impor dari luar negeri? Apa sebab kita kurang menabung? Apa sebab kita cinta kemewahan luar batas? Apa sebab kita kehilangan tangkas, dan menjadi bangsa lenggang-kangkung? Apa sebab produktivitet kerja tak melebihi 50%? Apa sebab banyak di antara kita lupa akan cita-cita Proklamasi? Apa sebab kita menjadi satu bangsa yang gemar menjiplak, padahal sudah nyata apa yang kita jiplak itu merugikan kita? Apa sebab kita seperti kehilangan kepribadian sendiri? Apa sebab rasa persatuan dan kesatuan tak begitu tebal sebagai dulu? Apa sebab ada begitu banyak petualang-petualang politik? Apa sebab buih-buih timbul di Bengawan Indonesia? Apa sebab kereta-api-kereta-api kita kotor, padahal Negara belinya dengan harga mahal? Apa sebab kita masih berjalan dengan cap inlander didahi kita?

Ya, apa sebab kita masih bangsa inlander saja?

Gerakan Hidup Baru bukan hanya gerakan “hidup sederhana” saja. Dan saya rasa kaum Marhaen-pun memang sudah cukup hidup sederhana. Hanya terutama sekali kaum atasan perlu penyederhanaan, dan kita semua, – marhaen dan atasan -, perlu mendapat pengertian baru dari kata penyederhanaan.

Apa arti baru itu? Kurang dalam kita-semua menginsafi, bahwa hanya sebagian keci1 saja daripada penghasilan rakyat hingga sekarang dipergunakan untuk menambah produksi, – artinya: dipergunakan untuk memperbesar penghasilan di kemudian hari. Sampai sekarang, boleh dikatakan tiap-tiap penambahan penghasilan, betapa kecilnyapun, dipergunakan untuk menambah konsumsi, dan khususnya konsumsi yang tak begitu perlu, sepertinya pakaian baru, perhiasan, dan lain-lain.

Sebagai akibat daripada tendensi ini, maka dalam tahun-tahun yang lalu dan bagian pertama dari tahun 1957 ini, Negara hampir-hampir saja menghadapi bangkrut.

Sekarang Alhamdulillah mulailah sudah ada perbaikan. Maka dari sekarang, janganlah kita mengulangi lagi sikap-hidup yang salah itu. Pengalaman pahit dari masa yang lalu-lalu, sebaiknya menjadi pengajaran, kalau kita tak mau lebih bodoh dari keledai yang tak membenturkan kepalanya dua kali kepada batu yang sama. Hendaknya janganlah kita salah-gunakan perbaikan yang mulai timbul itu dengan mengulangi lagi sikap hidup yang dulu itu. Hendaknya kita menyeder-hanakan penghidupan-penghidupan kita dengan penyederhanaan untuk produksi, artinya: untuk meninggikan tingkat hidup kita di kemudian hari. Ini antara lain juga berarti, bahwa perhatian harus lebih ditujukan kepada produksi ekspor dan pemakaian barang bikinan Indonesia sendiri, dan keinginan untuk impor dibatasi dan dikurangi. Sebagai di muka tadi saya katakan, dengan demikian maka modal nasional untuk pembangunan niscaya akan membumbung tinggi. Penyederhanaan dalam arti inilah harus dilakukan oleh kita-semua, – oleh kaum Marhaen dan kaum atasan!

Saya ulangi: Gerakan Hidup Baru bukan hanya pergerakan “penyederhanaan” saja. Seluruh jiwa kita harus kita permudakan kembali, harus kita “cuci” kembali, harus kita “sikat” kembali. Seluruh jiwa kita harus kita “tempa” kembali, harus kita “gembleng” kembali. Buat apa “sederhana”, – kalau kesederhanaan itu ya, sederhananya seorang gèmbèl yang makan nasi dengan garam saja, tidak dari piring tetapi dari daun pisang, dan tidur di tikar yang sudah amoh, tetapi yang jiwanya mati seperti kapas yang sudah basah, – “adem tentrem kadyo siniram banyu wayu sewindu lawasé” -, jiwa mati yang tiada gelora, jiwa mati yang tiada ketangkasan nasional samasekali, jiwa mati yang tiada idealisme yang berkobar-kobar, jiwa mati yang tiada kesediaan untuk berjuang, – buat apa kesederhanaan yang demikian itu?

Tidak! Kesederhanaan yang kita kehendaki ialah kesederhanaannya prajurit perjuangan yang jiwanya berkobar menyala-nyala, jiwa yang penuh dengan daya-cipta, jiwa yang laksana terbuat daripada geloranya samodra, jiwa Idealis Indonesia yang laksana terbuat daripada sinarnya bintang di langit, jiwa anti-kebekuan yang laksana terbuat daripada zatnya gelèdèk dan guntur. Kesederhanaannya prajurit yang tidak butuh kepada emas dan berlian, tidak butuh kepada nama dan kedudukan, tetapi butuh kepada pengabdian, – mengabdi kepada Tuhan, mengabdi kepada cita-cita, mengabdi kepada tanah-air, mengabdi kepada bangsa, mengabdi kepada masyarakat, mengabdi kepada Negara Kesatuan.

Saudara-saudara, camkan: – ini adalah tahun penentuan. Ini adalah “year of desicion”. Tenggelamkah kita, saudara-saudara, atau terus hidupkah? Kalau kita terus-menerus lupa-diri secara begini, saya khawatir, hari-gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani. Berani mengambil keputusan. Berani meninggal-kan apa yang lama, berani memasuki apa yang baru. Yang lama sudah nyata koyak, sudah nyata robèk, sudah nyata dalam masa nation-building ini menghambat kemajuan dan membangkitkan kerèwèlan saja. Kita harus tidak ragu-ragu lagi melangkahi garis-teluh yang memisahkan yang lama dari yang baru. Kita sudah sampai kepada satu titik, darimana kita tidak bisa balik kembali. Kita sudah sampai kepada “point of no return”. Kita hanya ada satu pilihan lagi: mundur?, mandek?, atau maju? Mundur – hancur! Mandek – amblek! Maka hayo kita maju, hayo kita tinggalkan apa yang lama, memasuki apa yang baru!

Hari Proklamasi  17 Agustus 1945 pun, dua-belas tahun yang lalu, adalah pula satu “point of no return”. Pada waktu itu kita dihadapkan kepada satu pilihan ya atau tidak: melangkahi atau tidak satu garis-teluh yang memisahkan alam penjajahan dari alam kemerdekaan. Dan kita pada waktu itu berani memilih. Kita memilih ya. Kita melangkahi garis itu, dan ternyata pilihan kita itu adalah pilihan yang amat tepat.

Sekarang, 17 Agustus 1957, kita datang pada satu garis-teluh lagi. Kurangkah nyata adanya garis-teluh itu? Lihatlah segala kejadian-kejadian yang telah kita alami di tahun ini. Hanya anak kecil saja yang mungkin tidak mengerti, bahwa kejadian-kejadian itu adalah tanda-tanda-bahaya. Hanya anak kecil saja yang mungkin tidak mengerti bahwa kejadian-kejadian itu adalah ”writings on the wall”. Meski kita berkata bahwa kejadian-kejadian itu adalah memang biasa terjadi dalam masa nation-building, atau ”inhaerent” pada masa nation-building yang nanti akan hanyut pula, – namun toh, – non the less – kejadian-kejadian itu adalah semuanya ”writings on the wall”. Janganlah abaikan writings on the wall itu!

Sebagai Presiden daripada Republik Indonesia, dan lebih-lebih lagi sebagai anak rakyat Indonesia, sekarang pada 17 Agustus 1957 ini saya mengajak kepada segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke untuk melangkahi garis-teluh itu: Hayo, mari melangkah, tinggalkanlah apa yang lama, masukilah apa yang baru! Mulai hari ini, lancarkanlah Gerakan Hidup Baru!

Tak dapat saya perincikan di sini semua hal yang harus kita perbuat dalam Gerakan ini. Pemerintah dan masyarakat harus menentukan, dengan apa kita harus mulai; hari ini adalah sekedar satu hari-permulaan, satu hari “starting-day”. Dewan Nasional-pun telah memajukan usul-usulnya kepada Pemerintah mengenai Gerakan ini.

Kita semua sadar bahwa tujuan Proklamasi 17 Agustus 1945 belum tercapai.

Kita semua sadar bahwa kita harus melanjutkan perjuangan untuk mencapai tujuan Proklamasi itu.

Kita semua sadar, bahwa untuk pelanjutan perjuangan itu, perlu Bangsa Indonesia mengadakan self-koreksi, menuju kepada Manusia Indonesia Baru, yang sanggup melanjutkan perjuangan itu.

Berhubung dengan itu, kita mengadakan satu Gerakan Hidup Baru dengan:

I.   TUJUAN:

Gerakan Hidup Baru bertujuan melaksanakan revolusi mental sebagai persiapan membangun masyarakat yang dicita-citakan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945.

II.  ISI:

Gerakan Hidup Baru berisi revolusi mental, yaitu:

Perombakan cara berfikir, cara kerja, cara hidup, yang merintangi kemajuan.

  Peningkatan dan pembangunan cara berfikir, cara kerja, dan cara hidup yang baik

III.   USAHA:

Dimulai pada tanggal 17 Agustus 1957:

  Hidup sederhana,

  Gerakan kebersihan/kesehatan,

  Gerakan pemberantasan buta huruf,

  Membangkitkan dan mengembangkan gotong-royong,

  Melancarkan Jawatan dan perusahaan Negara,

  Gerakan pembangunan rokhani,

  Membangkitkan kewaspadaan Nasional.

IV.   PIMPINAN:

Pimpinan daripada Gerakan Hidup Baru ada di tangan Pemerintah (sipil dan   militer) dan rakyat bersama.

Demikianlah usul Dewan Nasional. Usul ini disertai dengan beberapa penjelasan. Kekurangan waktu tak memungkinkan saya untuk membaca sendiri penjelasan itu. Mana saudara sempat bacalah sendiri penjelasan itu.

Pokok dari sekalian pokok daripada Gerakan Hidup Baru itu ialah kesadaran-kesadaran yang saya sebutkan di bawah ini:

Kami, Bangsa Indonesia, menyadari sedalam-dalamnya akan besarnya korban dan penderitaan lahir-bathin berjuta-juta rakyat di dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa dan Negara, bersujud ke hadirat TUHAN Yang Maha Esa, dan berjanji tetap setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945.

Kami. Bangsa Indonesia, demi keselamatan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945, bersedia mengorbankan segenap jiwa-raga untuk membela dan menegakkan keutuhan dan kesatuan Negara Republik Indonesia.

Kami, Bangsa Indonesia, demi kebahagiaan yang merata kepada seluruh rakyat, bertekad melanjutkan perjuangan melaksanakan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, menuju masyarakat yang bebas, bersatu, adil dan makmur.

Kami, Bangsa Indonesia, demi perlanjutan perjuangan itu, berkeras hati melakukan hidup baru yang berjiwa dan bersemangat Proklamasi 17 Agustus 1945.

Kami, Bangsa Indonesia, demi perlanjutan perjuangan itu pula, bersedia mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau kepentingan diri sendiri.

Saudara-saudara!, janganlah papak Gerakan Hidup Baru ini dengan sinisme. Saya tahu ada di antara kita yang memapaknya dengan sinisme. Saya tahu itu. Memang saya telah beberapa kali katakan bahwa salah satu krisis yang menghinggapi kita sekarang ini ialah “krisis cara meninjau persoalan”, – yaitu krisis sinisme, krisis suka mengejek, krisis suka mencemooh. Maka tak heranlah saya, kalau sebagian daripada masyarakat kita menyongsong Gerakan Hidup Baru itu juga dengan sinisme, dengan ejek dan dengan cemooh.

Namun demikian, saya mengharap seluruh Rakyat Indonesia memasuki Gerakan Hidup Baru ini dengan kesungguhan hati yang sepenuh-penuhnya. Minimal saya minta, – janganlah althans ada golongan yang merintang-rintangi Gerakan Hidup Baru ini. Sebab sesungguhnya, maksudnya adalah baik. Maksudnya tak lain tak bukan ialah untuk mengatasi keadaan-mesum yang kita alami sekarang ini, dan untuk melanjutkan perjuangan. Kita harus bertindak, kita tak boleh menupang dagu. Mengenai diri-pribadi saya persoonlijk: sayapun tak mau menupang dagu. Saya tak mau menjadi penonton belaka keadaan-mesum sekarang ini, sambil ongkang-ongkang di atas pagar. Lebih-lebih lagi, saya tak mau sekedar mengejek, saya tak mau sekedar mencemooh. Saya ingin positif. Saya coba menyumbang. Saya mencoba bertindak. Saya tempo hari mengusulkan apa yang dinamakan “Konsepsi Presiden”. Saya ikut aktif membangunkan Dewan Nasional. Saya membanting-tulang siang dan malam mengoyag-oyag rakyat supaya sedar bernegara dan sedar berpemerintah. Saya kadang-kadang jatuh sakit karena pembantingan-tulang itu. Dan sekarang saya, dengan penuh per-tanggunganjawab pula, mengajak segenap Rakyat untuk mencoba mengadakan satu Revolusi mental pada diri sendiri, dengan menjalankan Gerakan Hidup Baru.

Sekali lagi saya katakan: Gerakan Hidup Baru bukanlah satu gerakan untuk sekedar jangan berludah di mana-mana atau jangan membuang puntung rokok di lantai atau di jubin. la adalah satu Gerakan Revolusi mental. Ia adalah satu Gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia ini menjadi manusia Baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali, berjiwa Api yang menyala-nyala. Maksudnya tidak kecil. Maksudnya Besar untuk menyelesaikan satu Perjuangan yang amat Besar.

Marilah kita-semua satu-persatu mencoba menjadi Besar. Angkatkanlah diri kita di atas segala tetek-bengek yang kecil-kecil! George Bernard Shaw pernah berkata: “The true joy in life is to align oneself with some mighty purpose”. “Kebahagiaan sejati ialah membaktikan dirimu kepada sesuatu yang Besar”.  “If you try to do great things, the shadow of their greatness partly falls upon you also”. “Jika engkau mencoba berbuat sesuatu yang Besar, maka bayangan ke-Besarannya sebagian jatuh kepadamu juga”.

Ya!, – marilah kita-semua satu-persatu. mencoba menjadi Besar. Janganlah mengatakan bahwa saya berbicara bombast atau humbug kalau saya selalu menyebut jiwa Elang Rajawali! Bangsa yang selalu main di kecombèran akan menjadi bangsa kecombèran. Bangsa yang berjiwa Rajawali akan menjadi sahabatnya Tuhan. Karena itu: Terbangkanlah jiwamu setinggi-tingginya, sebagai Burung Elang Rajawali, atasilah segala tètèk-bengèk yang kecil-kecil, – terbanglah setinggi-tingginya, ke angkasa, sekali lagi ke angkasa!. Kawan kita Sri Jawaharlal Nehru sering berkata: “Lord, though I live on earth, the child of earth, – yet I was fathered by the starry sky”. – “Ya Tuhan, meski aku hidup di dunia, sebagai anak dari dunia, maka bapakku ialah angkasa yang berbintang”.

Alangkah beruntungnya seorang pemimpin yang bapaknya angkasa yang berbintang, alangkah beruntungnya sesuatu bangsa, yang bapaknya angkasa yang berbintang.

Sebab bangsa yang bapaknya angkasa yang berbintang selalu dapat mengatasi segala kesulitan. Bangsa yang bapaknya angkasa yang berbintang selalu dapat mengatasi segala kecombèran!

Saudara-saudara!

Bismillah! Mulailah sekarang dengan Gerakan Hidup Baru.

Bismillah!

Sekian!

Merdeka!

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 35 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pidato Bung Karno, Di Bawah Bendera Revolusi - II, Nasionalisme Indonesia, Paham Kebangsaan Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar