Home » 2016 » August » 31 » Re-So-Pim (Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional)
10:25 AM
Re-So-Pim (Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional)

<<<sebelumnya.....   Ingat sekali lagi, kita semua dipimpin oleh Manipol, kita semua harus menuju kepada sosialisme! Tentang pengertian sosialisme dan pelaksanaan sosialisme inipun tak boleh ada antagonisme dan kontradiksi di kalangan pemimpin-pemimpin kita, baik pemimpin preman maupun pemimpin militer. Sering di bidang ini timbul kontradiksi-kontradiksi, antagonisme-antagonisme mental, konflik-konflik mental, malahan kadang-kadang timbul pertentangan-pertentangan sengit yang bersifat materiil.

Mengertilah, bahwa :

Nasionalisasi belum merupakan sosialisme!

Indonesianisasi belum merupakan sosialisme!

Nasionalisasi dan Indonesianisasi itu hanyalah sekadar batu-loncatan saja ke arah sosialisme, – itupun jikalau nasionalisasi dan Indonesianisasi itu dijalankan atas dasar Manipol/USDEK. Di muka, saya ’kan sudah berkata: Apa guna pengambilan-oper, jika pengambilan-oper itu hanya berupa penggantian majikan Belanda saja dengan ndoro-ndoro majikan bangsa Indonesia?

Juga di beberapa kalangan ada salah pengertian mengenai Nasakom. Dikatakan oleh mereka itu, bahwa Nasakom berarti diberikannya tempat-mutlak dalam segala hal kegiatan-politik hanya kepada tiga partai saja.

Kata mereka:

Nas………………….. Nasionalis ……….. P.N.I.!

A…………………….. Agama ……………. Nahdatul Ulama!

Kom………………… Komunis …………. P.K.I.!

Dus Nasakom hanya berarti P.N.I., N.U. dan P.K.I. saja! Itu Salah!

Di dalam pidato saya di rapat pemimpin di Medan beberapa waktu yang lalu, sudah saya terangkan salahnya pendapat yang demikian itu, sehingga tak perlu di sini saya beri keterangan-ulangan lagi.

Sebetulnya, yang menjadi sumber anti-Nasakom itu ialah… Komunisto-phobi, takut momok komunis! Sumber-sebab yang sebenarnya itu disembunyi-kan di belakang macam-macam omongan, tetapi sumbernya yang sebenarnya ialah… takut momok komunis. Ya apakah tidak?

Di dalam Revolusi kita ini kita jangan main monopoli-monopolian. Revolusi kita ini Revolusi seluruh Rakyat, yang tua dan yang muda, yang laki dan yang perempuan, yang di pusat dan yang di daerah, yang militer dan yang preman. Yang nasionalis jangan monopoli-monopolian, yang masuk sesuatu partai agama jangan monopoli-monopolian, yang komunis jangan monopoli-rnonopolian, yang militer jangan monopoli-monopolian! Semua golongan Rakyat harus mendukung Revolusi kita ini bersama, semua golongan Rakyat harus bersatu dan dipersatukan mendukung Revolusi kita ini bersama. Yang tidak harus dipersatukan, malahan harus digosok karbol hanyalah golongan-golongan yang anti-revolusioner dan kontra-revolusioner. Di Medan saya tandaskan sekali lagi buat sekian ratus kalinya, bahwa Revolusi kita ini hanyalah bisa berlangsung dengan baik jika kita membentuk “samenbundeling van alle revolutionnaire krachten in de natie”, – membentuk “gabungan daripada semua tenaga revolusioner di dalam Bangsa”. Malah swastapun, asal progresif, harus kita masukkan dalam tenaga-gabungan itu.

“Alle revolutionnaire krachten”, – “semua, sekali lagi semua, tenaga revolusioner di dalam Bangsa”! Dus: segala penggolongan termasuk swasta (asal revolusioner) dalam masyarakat kita persatukan. Dus: “Nasakom”. Sebab Nasakom adalah kenyataan-kenyataan-hidup yang tak dapat dibantah, – living realities – di dalam masyarakat Indonesia kita ini. Mau tidak mau, senang atau tidak senang, kita harus menerima kenyataan-kenyataan itu.

Mau tidak mau, senang atau tidak senang, kita harus menggabungkan tenaga mereka itu. Mau tidak mau, senang atau tidak senang, kita harus mempergunakan tenaga-gabungan dari mereka itu.

Janganlah kita masuk terjerumus dalam perang-dingin. Jangan kita ikut-ikut perang-dingin itu! Hal ini sudah saya peringatkan dalam salah satu pidato 17 Agustus yang terdahulu. Kenapa masih saja ada golongan Rakyat Indonesia yang sadar atau tidak sadar masuk terjerumus dalam perang-dingin orang lain?

Sekali lagi saya tandaskan, bahwa tanpa persatuan, Revolusi kita pasti akan gagal, dengan persatuan pasti akan menang, Saudara cinta kepada Undang-Undang Dasar ’45? Di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45 itu disebutkan “Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”, dan di dalam kalimat penutup Pembukaan itupun ditulis dengan jelas “persatuan Indonesia”. Saudara cinta kepada Pancasila? Yang dimaksud-kan dengan Sila Kebangsaan dalam Pancasila itu ialah Kebangsaan Indonesia yang bulat sebagai satu keseluruhan, – Kebangsaan Indonesia yang bersatu.

Karena itu maka di dalam salah satu pidato di Surabaya (Hari Pemuda) saya berkata: “Siapa yang setuju kepada Pancasila, harus setuju kepada Nasakom; siapa yang tidak setuju kepada Nasakom, sebenarnya tidak setuju kepada Pancasila!” Sekarang saya tambah: “Siapa setuju kepada Undang-Undang Dasar ’45 harus setuju kepada Nasakom; siapa tidak setuju kepada Nasakom, sebenarnya tidak setuju kepada Undang-Undang Dasar ’45!”

Terus-terang saja: Yang anti persatuan itu sebenarnya kekanak-kanakan! Mereka menderita penyakit phobi, seperti kanak-kanak takut kepada momok di siang hari. Katanya pro Manipol, katanya pro USDEK, katanya pro Jarek, tetapi mereka tidak mau ingat bahwa di dalam Jarek ada tertulis bahwa kita “tidak boleh menderita penyakit Islamo-phobi, atau Nationalisto-phobi, atau Komunisto-phobi”, – dan – bahwa Jarek itu (begitu juga pidato-New York “Membangun Dunia Kembali”) telah disahkan oleh M.P.R.S.

Saya berkata dalam Jarek: jangan menderita penyakit phobi, – hé lha-dalah, sekarang malah ada orang-orang yang kena trio-phobi, yaitu takut kepada ketiga-tiganya, yaitu takut kepada Nasakom. Lalu mau apa? Mau tidak membentuk persatuan? Mau membentuk persatuan sepihak saja, yaitu persatuan yang eenzijdig? Mau federalisme? Mau ambyar-ambyaran? Mau bubrah-bubrahan?

Lha-dalah lagi! Saya berkata: Hayo ber-Manipol, hayo ber-Jarek, jangan kena penyakit phobi!, – lha-dalah, sekarang malah ada yang kena penyakit Manipolo-phobi dan Jareko-phobi! Dulu pernah saya peringatkan janganlah menderita penyakit Rakyato-phobi atau massa-phobi (banyak ndoro-ndoro Den Ayu dan ndoro-ndoro Den Mas yang takut kepada Rakyat, malah banyak ndoro-ndoro Pemimpin dan ndoro-ndoro Petugas takut kepada Rakyat), – janganlah menderita penyakit Rakyato-phobi, – la-dalah sekarang, di beberapa tempat ada mencungul Front Nasionalo-phobi, sehingga pembentuk-an Front Nasional di beberapa tempat mendapat kesulitan. Padahal Front Nasional itu adalah satu Organisasi Negara yang didirikan dengan resmi, Front Nasional itu adalah satu keharusan lancarnya Revolusi. Janganlah mempersulit pembentukan Front Nasional, janganlah mencoba menyaingi Front Nasional.

Dulu pernah saya memberi jeweran kepada F.N.P.I.B. karena ia dalam prakteknya terlalu “main luas-luasan” sampai campurtangan dalam urusan totalisator segala, sekarang janganlah pula lagi ada sesuatu organisasi yang mau “main luas-luasan” lagi seakan-akan menyaingi Front Nasional, sehingga nanti perlu saya beri jeweran pula!

Demikian pula maka pembentukan dan penggerakan Pramuka harus berjalan lancar. Pramuka adalah penting bagi pembangunan. Maka janganlah pembentukan dan penggerakan Pramuka ini terhambat oleh adanya phobi-phobian!

Kembali lagi kepada soal persatuan:

Kalau benar-benar merasa pendukung Revolusi Indonesia, kalau benar-benar pendukung Manipol/USDEK, pendukung Jarek, pendukung Undang-Undang Dasar ’45, pendukung Pancasila, janganlah bekerja anti persatuan-revolusioner, jangan bekerja buat perpecahan! Sebab bekerja buat perpecahan berarti bekerja buat musuh-musuh Revolusi. Bekerjalah buat persatuan, sebab hanya liwat persatuan, liwat kegotongroyongan, liwat keholopiskuntulbarisan, maka Tanah-Air, Rakyat, Revolusi dapat diselamatkan!

Pancasila adalah alat pemersatu! Pancasila bukan alat pemecahbelah Dengan Pancasila, kita juga mempersatukan tiga aliran besar yang bernama Nasakom itu. Jadi jangan mempergunakan Pancasila untuk mengadudomba antara kita dengan kita. Jangan mempergunakan Pancasila untuk memecah-belah Nasakom, mempertentangkan kaum nasionalis dengan kaum agama, kaum agama dengan kaum komunis, kaum nasionalis dengan kaum komunis. Siapa yang main-main dengan Pancasila untuk maksud-maksud pengadu-dombaan itu, – ia adalah orang yang samasekali tak mengerti Pancasila, atau orang yang durhaka kepada Pancasila, atau orang yang . . . kepalanya sinting!

Dan apa yang saudara katakan tentang orang-orang yang bukan saja main-main dengan Pancasila, tetapi juga main-main dengan Proklamasi? Sekarang ada orang-orang yang mau “menseminarkan” Proklamasi! Lho, Proklamasi kok mau “diseminarkan”! Apa lagi yang mau dikutik-kutik mengenai Proklamasi? Apa lagi yang mau dikutik-kutik mengenai dua kalimat jelas-tegas terang-gamblang daripada Proklamasi itu? Sungguh, jalan untuk mengkhianati Revolusi banyak, tetapi mengapa kok jalan yang bodoh ini yang ditempuh?

Saya kembali lagi kepada Nasakom: Jangan Anti Nasakom! Jangan menderita Nasakomo-phobi atau trio-phobi! Setahun yang lalu, dalam Jarek, saya berkata, bahwa D.P.A. berjalan baik dan Depernas berjalan baik, berkat kerjasama Nasakom. Pada waktu itu sayapun berkata: “D.P.R.G.R. saya yakinpun akan berjalan baik”, dan “M.P.R.-pun, saya yakin, akan berjalan baik”. Nah, sekarang D.P.R.G.R. sudah berjalan, dan M.P.R.S.-pun sudah berjalan. Dan berjalan dengan baik! Lihatlah bukti itu! Benarkah saya, atau salahkah saya? Siapa yang bisa menyangkal prestasi-prestasi besar D.P.R.G.R. (di mana ada Nasakom), dan prestasi-prestasi besar M.P.R.S. (di mana ada Nasakom)? Menyangkal bahwa D.P.R.G.R. berjalan baik dan berprestasi besar, dan menyangkal bahwa M.P.R.S. berjalan baik dan berprestasi besar, adalah sama saja dengan mencoba menutupi matahari dengan saputangan!

Saudara-saudara, sebetulnya kita tidak usah takut kepada aliran apa saja, asal aliran itu progresif-revolusioner. Kita tidak usah takut kepada nasionalisme, tidak usah takut kepada islamisme, tidak usah takut kepada Marxisme, meskipun namanya seribu kali Komunispun! Yang harus kita “takuti”, dan harus kita berantas, oleh karena membahayakan kesatuan Negara dan membahayakan pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat, ialah sifat kolot, sifat dogmatis, sifat tidak-tolerant, daripada aliran-aliran itu.

Nasionalisme kolot menjadi of nasionalisme kemenyan, of chauvinisme sempit yang amat angkuh, of daerahisme yang membawa bencana; agama kolot menjadi seperti agamanya Kartosuwiryo; Marxisme kolot menjadi seperti alirannya Muso, yang memang dulunya aliran semacam itu telah dipersalahkan oleh Lenin dan dinamakannya “penyakit kanak-kanak”, – “an infantile disorder”.

Kekolotan, kedogmatisan, ketidaktoleranan dari semua aliran, selamanya menjadi bahaya. Di Indonesia begitu, di luar Indonesia juga begitu. Sekarang begitu, di zaman Nabi juga begitu. Apa lagi di Indonesia sekarang! Indonesia sekarang membutuhkan progresi, membutuhkan maksimalnya persatuan. Sebab Indonesia sekarang sedang bercancut-taliwanda mendirikan masyarakat “semua buat semua”, bukan masyarakat “engkau untuk dewek”, bercancut-taliwanda menggegapgempitakan iapunya perjoangan konstruksi dan destruksi. Konstruksi melaksanakan sosialisme Indonesia, destruksi meng-hapuskan segala rintangan di segala bidang, termasuk kolonialisme di Irian Barat. Dan di dalam kegegapgempitaan ini tidak ada hal yang lebih dibutuh-kan daripada persatuan, – “de samenbundeling van alle revolutionnaire krachten in de natie”. Melemahkan persatuan berarti memperkuat musuh, bekerja buat perpecahan berarti bekerja buat musuh!

Musuh sekarang sedang memperkuat diri di Irian Barat! Pengiriman satu tentara Belanda ke sana disusul dengan pengiriman tentara Belanda yang lain, kapal-kapal-udara Belanda terbang susul menyusul ke daerah itu, kapal-perang Belanda yang satu berlayar ke sana mengikuti kapal-perang Belanda yang lain.

Dan kita mau jégal-jégalan lagi?

Padahal kita telah bertekad bulat di dalam hati: dengan Belanda kita sekarang tidak mau banyak bicara lagi! Irian Barat harus lekas dikembalikan ke dalam wilayah kekuasaan Republik, sekarang kita terhadap Belanda menjalankan politik konfrontasi di segala bidang apapun, – politik, ekonomis, ya meski militer sekalipun! Kita hanya mau berunding, kalau perundingan itu didasarkan atas penyerahan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik!

Sungguh, saudara-saudara, kini telah datanglah waktunya kita lebih membulatkan tekad bersatu-padu kepada perjoangan Irian Barat dan untuk perjoangan Irian Barat. Perjoangan untuk membebaskan Irian Barat itu adalah sebagian pula daripada perjoangan menghapuskan imperialisme-kolonialisme di seluruh dunia, sebagaimana ditugaskan oleh fasal ketiga daripada Triprogram Pemerintah. Kita menyokong perjoangan Aljazair, kita menyokong perjoangan Konggo, perjoangan Angola, perjoangan Tunisia dalam hal Bizerta, – perjoangan semua bangsa melawan imperialisme di manapun! Dan pembebasan Irian Barat berarti sumbangan besar pula kepada usaha menghilangkan benih-benih yang dapat membahayakan perdamaian di Asia Tenggara yang juga mungkin sekali dapat menjalar menjadi konflik internasional yang lebih luas.

Bangsa Indonesia bukan main-main dalam tekad untuk membebaskan Irian Barat itu. Bangsa Indonesia menganggap pembebasan Irian Barat itu sebagai satu kewajiban yang keramat, bahkan sebagai satu panggilan-jiwa yang keramat. Bukan untuk main-main, atau sekadar untuk memberi pakaian yang bagus kepada Proklamasi, kalau kita mencantumkan kalimat “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa” di dalam Pembukaannya Undang-Undang Dasar.

Bagi kita, kemerdekaan adalah satu pepundén yang keramat!

Pendirian kita dalam memerdekakan Irian Barat ialah bahwa kedaulatan kita sudah meliputi Irian Barat itu, – dari Sabang sampai Merauke”. Saya tidak pernah berkata: “Mari memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah Republik”, saya selalu berkata: “mari memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik”.

Sebabnya ialah, bahwa Irian Barat sudah masuk wilayah tanah-air kita sejak zaman purbakala, dan sudah masuk wilayah Republik Indonesia sejak kita memproklamirkan Republik pada tanggal 17 Agustus 1945. Dus kedaulatan atas Irian Barat sudah di tangan kita sejak hari Proklamasi itu. Yang belum ialah berkibarnya Bendera Sang Merah-Putih di Irian Barat itu. Dan tidak berkibarnya Sang Merah-Putih di sana itu ialah oleh karena imperialisme Belanda masih bercokol di situ. Artinya oleh karena kekuasaan Belanda masih sombong-nongkrong di daerah itu. Artinya lagi: oleh karena kekuasaan kita belum berjalan di daerah itu. Dus yang harus kita kerjakan ialah: menanam kekuasaan kita di daerah itu. Itulah sebabnya maka saya selalu mengatakan: “memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik”.

Dan sebagai tadi saya katakan: kita merasakan pekerjaan ini sebagai satu panggilan-jiwa yang keramat. Gembira dan dengan tekad yang luhur, kita menghadapi pekerjaan keramat itu. Dengan khidmat kita menjalankan pekerjaan yang keramat itu! Dan kita menjalankan pekerjaan itu dengan benar-benar secara perjoangan.

Bukan secara diplomasi-diplomasian. Bukan secara minta-minta. Bukan secara mengemis. “Politik”, demikian kataku sedari dulu, “adalah penjusunan kekuatan dan pemergunaan kekuatan”.

“Politiek is machtsvorming en machtsaanwending”. Karena itu, kita menyusun kekuatan. Dan kekuatan Republik kian hari kian menjulang tinggi, kian hari kian menjulang besar, sehingga pada Hari Keramat sekarang ini dapat saya tegaskan, bahwa Bangsa Indonesia sudah merasa kuat untuk menghadapi imperialisme Belanda di Irian. Kita merasa kuat dalam konfrontasi dengan Belanda di segala bidang, – di bidang apapun. Tantangan Belanda di bidang politik, sosial, ekonomi, kita terima dengan tantangan pula di masing-masing bidang itu. Bahkan tantangan di bidang militer dari fihak Belanda, kita terima dengan tantangan dari fihak militer pula di fihak kita! Di kota Medan baru-baru ini sudah saya teriakkan: “ini dada Indonesia, mana dadamu”, – dan itu adalah tegas melukiskan kita punya politik Konfrontasi, dan bahwa kita merasa kuat.

Ya, kita merasa kuat, oleh karena kita memang kuat, dan oleh karena kita berdiri di fihak yang benar, dan oleh karena kita tidak berdiri sendiri. Di belakang kita berdirilah kawan-kawan kita yang jumlahnya seperti semut, – kawan-kawan kita di semua benua, yang jumlahnya puluhan milyun, bahkan ratusan milyun, bahkan ribuan milyun!

Namun janganlah mengira, bahwa perjoangan ini tidak berat. Perjoangan Irian Barat adalah pada waktu ini berada dalam taraf yang menentukan, taraf yang beslissend. Dalam taraf yang demikian itu, perjoangan selalu berat. Peribahasa asing berkata: “de laatste loodjes wegen het zwaarst”. Tetapi bersatu-padu, dan tekad bulat-kuat laksana baja, akan meringankan beban yang berat, yang harus kita holopiskuntulbariskan sampai tujuan kita tercapai. Rakyat Indonesia menunggu dengan hati yang berdebar-debar hari berkibarnya Sang Merah-Putih di Irian Barat, dan hari itu Insya Allah telah mendekat, asal kita bersatu-padu dan bertekad bulat, tak mundur selangkah tak berkisar sejari.

Bagaimanakah sesuatu perjoangan harus dijalankan? Dalam perjoangan, peganglah teguh segala apa yang sudah didapat, dan perjoangkanlah secara teratur apa yang belum tercapai. Kedaulatan atas Irian Barat sejak hari Proklamasi ’45 sudah di tangan kita, dan tentang pendirian ini kita tidak ragu-ragu lagi, malah kita pegang teguh mati-matian dengan segala macam perjoangan. Tingkat pendirian yang akan datang ialah: memancangkan Sang Merah-Putih di Irian Barat, dan pemancangan Sang Merah-Putih itu pasti akan terjadi apabila kekuasaan Pemerintah di daerah itu di tangan kita. Oleh sebab itu maka apa yang telah ada dalam genggaman kita, kita genggam teguh, dan apa yang belum tercapai, yaitu kekuasaan pemerintah, marilah kita perjoangkan.

Politik, – ini adalah difinisi lain – , adalah memungkinkan apa yang tak mungkin di waktu yang lampau. Perjoangan pembebasan Irian Barat pada hari-hari yang akan datang tidaklah lagi berupa persiteganganuratleher tentang sesuatu istilah yuridis yang bernama “Kedaulatan”, yang sudah berada di tangan kita, melainkan sejak sekarang: memperjoangkan penyerahan pemerintahan di Irian Barat kepada Republik Indonesia. Akibat daripada penyerahan pemerintahan itu ialah, bahwa Bangsa Indonesia lah yang satu-satunya berkuasa membentuk pemerintah-nasional di Irian Barat, dan bendera Merah-Putih akan berkibar di sana melambai-lambai di angkasa dengan megah semegah-megahnya.

Dasar perjoangan yang demikian ini adalah ke luar dari inti sanubari saya sebagai pemimpin yang bertanggungjawab, dan pernah saya lukiskan dalam suatu surat kepada seorang penganjur masyarakat Belanda pada waktu saya berada di kota Wina beberapa minggu yang lalu. Isi surat itu kini saya arahkan langsung kepada Rakyat Belanda sendiri, dalam bahasa yang dapat mereka mengerti:

“Ik apprecieer ten zeerste het initiatief dat U genomen hebt om zoo gauw mogelijk het West-Irian-probleem op te lossen door bestuursoverdracht van dit gebied aan Indonesia te versnellen. U kunt er op rekenen, dat ik mijn volledige steun zal geven aan de totstandkoming van elke ontmoeting op de basis van bestuursoverdracht van West-Irian aan Indonesia. Niets is mij liever dan, zoodra het West-Irian-probleem is opgelost, zoo gauw mogelijk de verhouding Nederland-Indonesia te normaliseren, en ook de vriend-schappelijke relaties met mijn Nederlandse vrienden opnieuw te verstevigen”.

Salinannya dalam bahasa Indonesia:

“Saya sangat menghargakan inisiatif tuan, supaya soal Irian Barat selekas mungkin dipecahkan dengan mempercepat penyerahan pemerintah-an atas daerah itu kepada Indonesia.

Saya memberi jaminan, bahwa saya akan memberi bantuan sepenuhnya kepada tiap-tiap pertemuan atas dasar penyerahan pemerintahan Irian Barat kepada Indonesia.

Tak ada yang lebih saya ingini daripada secepat mungkin menormalisir hubungan Indonesia-Belanda, dan memperkuat hubungan persahabatan dengan teman-teman saya di fihak Belanda, segera sesudah persoalan Irian Barat selesai”.

Demikianlah isi surat uluran tangan saya itu.

Dengan demikian, maka saya bawalah pemecahan soal Irian Barat, yang menjadi duri antara kedua bangsa, ke dalam taraf baru, dengan membuka segala kemungkinan yang baik bagi kedua bangsa dan perdamaian dunia. Terbukalah pintu bagi bangsa Belanda di bawah Oranje-Huis, yang beberapa kali memimpin perjoangan kemerdekaan Nederland terhadap penjajahan asing, untuk meninggalkan nama yang terhormat dalam sejarah internasional di masa yang akan datang.

Saya tidak melihat banyak manfaat dari persitegangan-uratleher tentang penyerahan kedaulatan atau tentang hak menentukan-nasib-diri-sendiri, oleh karena kedaulatan dan hak selfdetermination itu sudah dalam tangan Bangsa Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Dengan terbentuknya Pemerintah Republik di Irian Barat, maka barulah dapat berjalan pembangunan-semesta juga di Irian Barat, untuk menaikkan kesejahteraan badaniah dan rokhaniah daripada saudara-saudara kita di daerah itu, menurut rancangan yang telah sedia di tangan Pemerintah Republik. Rakyat Indonesia, dan bukan Belanda dan bukan juga orang lain, bukan si Willem atau si John, yang ditugaskan oleh Sejarah untuk bertanggungjawab menaikkan taraf kesejahteraan Irian Barat, karena bumi Irian Barat adalah tumpah-darah kita sendiri, penduduk Irian Barat adalah Bangsa kita sendiri. Perdekatlah waktunya bendera Sang Merah-Putih berkibar di Irian Barat itu, di tengah-tengah Pemerintah Nasional Indonesia yang merdeka berdaulat, dari Sabang sampai Merauke!

Ya, perdekatlah! Saya harap Rakyat Belanda mengerti keadrengan kita ini, oleh karena kita sampai ke puncak-puncaknya saraf kita dan sampai ke dasar-dasarnya jiwa kita merasakan bahwa Irian Barat adalah bagian dari tanah-air kita dan bagian dari Bangsa kita, sebagaimana Limburg adalah bagian daripada Nederland dan Friesland adalah bagian daripada Nederland. Adakah satu orang Belanda, ya satu orang saja sekalipun, yang membiarkan Limburg diduduki bangsa asing, atau Friesland dijajah orang lain? Kecuali daripada itu, maka segala persyaratan kita, – persyaratan kenegaraan, persyaratan keselamatan, persyaratan pembangunan, persyaratan internasional dan lain sebagainya – , menuntut lekasnya Irian Barat itu masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik.

Harap fihak Belanda memahami dan menyadari hal ini. Saya sendiri mungkin bisa sedikit sabar lagi, tetapi Rakyat Indonesia mungkin tidak bisa sabar terlalu lama lagi. Rakyat Indonesia tidak bisa disuruh menunggu sampai lebur-kiamat, ya mungkin tidak bisa disuruh menunggu beberapa tahun lagi! Kalau kesabaran sudah menatap sampai kepada garis perbatasan, maka saya khawatir politik Konfrontasi itu harus disusul dengan politik yang lebih gegap-gempita lagi!

Saya ulangi lagi: Kita bertekad bulat, kita mendesak terus. Kita merasa kuat, oleh karena kita memang kuat, dan oleh karena kita di fihak yang benar, dan oleh karena kita tidak berjalan sendiri. Ya, kita tidak berjalan sendiri! Kawan-kawan kita ada di mana-mana, keadaan internasional umumnya menguntungkan kepada kita. Di dalam pidato-pidato saya yang terdahulu sudah saya katakan, bahwa imbangan dunia beberapa tahun yang lalu didasarkan atas hegemoni, penjajahan, penindasan, penghisapan lebih dari 2000 juta manusia oleh kurang daripada 500 juta manusia, dan bahwa kini sebagai reaksi terhadap ketidakadilan itu tiga perempat (sedikitnya) daripada umat manusia di muka bumi ini berada di dalam satu Revolusi-Besar yang saya namakan Revolusinya Kemanusiaan, – the Revolution of Mankind – dan bahwa Revolusi kita ini adalah sebagian saja daripada Revolusi Kemanusiaan itu. Cita-cita Revolusi kita adalah, kataku, kongruen dengan “the social conscience of Man”. Itulah sebabnya maka Revolusi Indonesia amat populer di kalangan tiga-perempat umat manusia itu, dan bahwa semboyan-baru “freedom to be free”, “bebas untuk merdeka”, yang saya lansir di luar-negeri dalam perjalanan muhibah yang akhir ini, disambut amat baik sekali oleh mereka itu, terutama sekali oleh Rakyat-Rakyat Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Ya, “freedom to be free”, – “bebas untuk merdeka”! Sebab, buat apa ada “freedom of speech, freedom of creed, freedom from want, freedom from fear” – buat apa “bebas bicara, bebas berkepercayaan, bebas dari kemiskinan, bebas dari ketakutan” -, jikalau tidak ada kebebasan untuk merdeka, tidak ada “freedom to be free”? Berapa bangsakah yang tidak, sudah mempunyai Negara yang merdeka, lantas diganggu atau diintervensi kemerdekaannya oleh sesuatu kekuasaan asing? Berapa bangsakah yang tidak, ingin melemparkan penjajahan atas dirinya, ingin menjadi bangsa yang merdeka, lantas dihalang-halangi tercapainya kemerdekaan itu dengan segala macam? Bagi bangsa-bangsa yang sedang berjoang untuk mencapai kemerdekaan, atau bangsa-bangsa yang kemerdekaannya sedang diganggu-ganggu, atau bangsa-bangsa yang sedang ketakutan bahwa kemerdekaannya akan diganggu-ganggu, bagi mereka itu semboyan “freedom to be free”’ “bebas untuk merdeka” itu terdengarnya laksana satu bunyian terompet dari Kayangan.

Itulah sebabnya bahwa tatkala saya mendengungkan suara “freedom for West Irian to be free” -, “bebaslah hendaknya Irian Barat untuk merdeka” -, suara saya itu disambut oleh pendengar-pendengar dengan persetujuan yang gegap-gempita, dan disambut di dalam batin oleh segenap rakyat progresif di muka bumi dengan persetujuan yang luar-biasa. Dan persetujuan ini bukan hanya timbul pada waktu perjalanan-muhibah saya itu saja, melainkan satu persetujuan yang memang dari tadinya. Perjalanan-muhibah saya itu, yang sebagai sudah saya katakan juga satu perjalanan perjoangan dan perjalanan testing, menambah tebalnya persetujuan itu, dan menambah kesediaan bangsa-bangsa itu untuk membantu kita.

Karena itu saya ulangi kepada saudara-saudara di sini: Hayo berjalan terus, hayo desak terus, kita tidak berjalan sendiri, kita tidak berjoang sendiri! Kawan-kawan kita itu mengerti pula, bahwa perjoangan pembebasan Irian Barat bukan hanya perjoangan adil daripada Bangsa Indonesia saja, tetapi adalah satu bagian daripada perjoangan-umum mengubur kolonialisme dan imperialisme di seluruh muka bumi. Dan mereka mengerti pula, bahwa perdamaian-dunia tak mungkin datang, selama masih ada kolonialisme-imperialisme di bawah kolong langit, dan bahwa dus perjoangan mengubur kolonialisme-imperialisme di Irian Barat adalah satu bagian daripada perjoangan-umum untuk perdamaian-dunia. Kepada semua kawan-kawan kita di seluruh muka bumi itu saya menyampaikan salamnya Rakyat Indonesia yang berjoang, salamnya satu Bangsa, yang telah lahir-kembali dalam kancahnya perjoangan, satu Bangsa yang dalam Undang-Undang Dasarnya dan dalam api-hatinya telah bersumpah bahwa “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, dan bersumpah untuk “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”, – salamnya satu Bangsa yang pada saat-saat sekarang ini sedang gegap-gempita bercancut-taliwanda mengerah-kan segala semangat dan tenaganya untuk melaksanakan sumpah itu. Hidup kesetia-kawanan perjoangan, hidup kesetia-kawanan progresif, hidup kesetia-kawanan Revolusi Kemanusiaan dan Peri-Kemanusiaan!

Dengan salam itu pula nanti akhir bulan ini Insya Allah saya akan menuju Beograd di Yugoslavia untuk mewakili Bangsa Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara yang berpolitik bebas dan aktif, yang akan dimulai pada tanggal l September yang akan datang. Saya akan pergi ke sana itu dengan mengemban segenap Amanat Bangsa Indonesia, amanat yang saya pikul dengan sepenuh kecintaan dan sepenuh tanggung-jawab, yaitu amanat Kemerdekaan, amanat Perdamaian, amanat Kesejahteraan dan Kebahagiaan bagi seluruh umat manusia di seluruh muka bumi.

Apalagi di mana Indonesia adalah salah satu sponsor daripada Konferensi Tingkat Tinggi in!! Bersama-sama dengan Yugoslavia dan Republik Persatuan Arab, Indonesia telah mensponsori Konferensi itu. Maka menjadi kewajiban Indonesia-lah membuktikan perlunya Konferensi itu, dan dapat-berhasilnya Konferensi itu. Saya minta do’a saudara-saudara semua ke hadlirat Tuhan, agar saya dapat menjalankan pengembanan amanat saudara-saudara itu dengan baik.

Ya, perlunya Konferensi. Barangkali di antara saudara-saudara ada yang menanya, apakah Konferensi ini tidak mendesak Konferensi AsiaAfrika ke belakang? Tidak merugikan hasil-hasil Konferensi Asia-Afrika itu? Tidak melemahkan solidaritet Asia-Afrika yang tadinya selalu kita pupuk dan kita gembléng?

Tidak, saudara-saudara, samasekali tidak! Sebab pada hakekatnya, Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Bebas dan Konferensi Asia-Afrika itu adalah komplementer satu sama lain, artinya “mengkomplitkan” satu sama lain. Dua Konferensi ini isi-mengisi satu sama lain.

Di pidato Medan beberapa minggu yang lalu itu telah saya uraikan, bahwa dua Konferensi ini pada hakekatnya berdiri di atas dua bidang yang berlainan satu sama lain, tetapi toh mengisi dan membutuhkan satusamalain!

Konferensi Asia-Afrika adalah penggabungan (samenbundeling) daripada rasa nasionalisme anti imperialisme di Asia-Afrika, – akumulasi daripada rasa nasionalisme anti imperialisme di Asia-Afrika itu, sehingga rasa nasionalisme anti imperialisme di Asia-Afrika yang tadinya agak “berantakan” itu menjadi satu gabungan-tenaga yang hebat, satu “coordinated accumulated force”.

Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Bebas adalah penggabungan (samenbundeling) daripada rasa internasionalisme Negara-Negara Bebas, sehingga rasa internasionalisme Negara-Negara Bebas (yaitu persahabatan segala bangsa, perdamaian dunia, perlucutan senjata, dan lain-lain sebagainya itu) menjadi pula satu “coordinated accumulated moral force”.

Saudara lihat: Konferensi Tingkat Tinggi dan Konferensi Asia-Afrika tidak merugikan satu sama lain, tidak “menjégal” satu sama lain. Dua Konferensi itu malah mengkomplitkan satu sama lain.

Dengan mensponsori K.T.T. dan ikut dalam K.T.T. maka Indonesia merasa setia kepada kepribadiannya, setia kepada sumbernya yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar, setia kepada garis-azasi daripada politik-luar-negerinya.

Apakah garis-azasi politik-luar-negeri kita itu?

Pertama : Bebas dan Aktif.

Kedua : Solidaritas Asia-Afrika.

Ketiga : “Tetangga baik”, good neighbour policy.

Untuk apa?

Untuk Perjoangan menentang Kolonialisme-imperialisme (pertama).

Untuk mempertumbuhkan Kepribadian Nasional (kedua).

Untuk Persahabatan dan Perdamaian antar-bangsa (ketiga).

Indonesia pergi ke K.T.T. nanti dengan mengemban garis-garis-azasi dan tujuan-tujuan ini, sebagaimana Indonesia dulu pergi ke K.A.A.-pun dengan mengemban garis-garis-azasi serta tujuan-tujuan itu. K.T.T. dan K.AA. adalah satu sama lain komplementer.

Indonesia tidak melupakan K.A.A., Indonesia tidak bersikap, “masa bodoh” kepada solidaritas Asia-Afrika. Indonesia malahan selalu masuk di barisan paling depan daripada solidaritet Asia-Afrika itu. Dan Indonesia sekarang ini, bersama-sama dengan beberapa Negara lain, malahan sedang sibuk mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika yang ke II. Malah dalam angan-angan Indonesia, alangkah baiknya jikalau A.A. menjadi A.A.A., K.A.A. menjadi K.A.A.A, – Konferensi Asia-Afrika menjadi Konferensi Asia-Afrika-Amerika Latin! Dengan demikian maka samenbundeling daripada rasa-rasa-nasionalisme anti imperialisme itu menjadi lebih komplit!

Saudara-saudara! Lama saya meminta keuletan saudara-saudara mendengarkan pidato saya ini. Sekarang saya sudah hampir tiba kepada kata-kata-penutup. Kata-kata-penutup ini adalah amat penting sekali bagi hubungan antara saya dengan saudara-saudara, hubungan antara saudara-saudara dengan saya, yang saudara-saudara dalam M.P.R.S. telah angkat menjadi Pemimpin Besar Revolusi. Karena itu saya masih meminta lagi kesabaran dan keuletan saudara-saudara untuk mendengarkan dan memperhatikan kata-kata-penutup pidato saya ini.

Saudara-saudara, di muka telah saya gambarkan kepada saudara-saudara jalannya perjoangan kita pada masa yang lampau, – dengan kemajuan-kemajuannya dan kemundurannya, dengan kegembiraan-kegembiraannya dan kesedihannya, dengan harapan-harapannya dan kadang-kadang keputus-asaannya, dengan senyum-simpul perajurit dan tetesan air matanya -, sampai kita datang pada hari sekarang ini, 17 Agustus 1961, di mana kita merasa, bahwa kita sungguh sudah meletakkan dasar-dasar yang sehat bagi perjoangan kita itu, dan sudah mulai melaksanakan dasar-dasar sehat itu, dan telah memetik hasil di sana-sini yang menggembirakan.

Dasar-dasar-sehat itu ialah R.I.L. atau Resopim, – Revolusi, Manipol/ USDEK/UUD ’45, satu Pimpinan Nasional.

Apa yang kita lihat? Kita melihat bahwa dasar-dasar-baru itu memberi-kan kegiatan di mana-mana, memberikan action di mana-mana, – di segala bidang, di bidang mental, di bidang organisatoris, di bidang mengerahkan tenaga. Tidak seperti dulu sebelum adanya dasar-dasar-baru itu, di mana kelesuan-perjoangan adalah selalu meringkuk di jiwa kita, di mana kemacetan selalu kita lihat di semua pelosok, di mana “tidak berbuat” dianggap bijaksana untuk menghindarkan kesalahan, di mana falsafah “alon-alan asal kelakon” dianggap satu kebijaksanaan yang paling tinggi. Semuanya itu oleh karena tidak ada pedoman yang jelas yang nyata yang tegas, sehingga kesimpangsiuran selalu membingungkan kita, dan tidak ada begeestering (pembakaran semangat) yang menyala-nyala.

Sekarang berkat adanya dasar-dasar-baru, maka begeestering dan action itu telah ada, dan hasilnya kadang-kadang telah memberikan kebanggaan nasional dan kepercayaan nasional, dan kebanggaan nasional dan kepercayaan nasional itu memberikan lagi pembakaran semangat secara baru. Dengan begeestering itu, sekali lagi begeestering, selalu begeestering, – sebagai dikata-kan oleh Danton: audace, encore de l’audace, toujours de l’audace – , maka kita melanjutkan perjoangan yang masih panjang ini, dan menghantam menundukkan segala rintangan, segala kesulitan, segala kekecewaan, segala keputusasaan yang menghadang di tengah jalan!

Ya, gembiralah kita dengan Ordening Baru ini! Ya, Alhamdulillah kita sekarang mempunyai Ordening Baru itu! Malah ada saudara-saudara yang setia yang menanya: “Kenapa Bapak tidak sedari dulu-dulu-mula memimpin Ordening Baru ini?”

Saudara-saudara tentu dapat menerima, jikalau saya katakan, bahwa saya secara mendalam telah mempelajari Revolusi Indonesia ini dalam bandingan dan “hubungan dengan revolusi-revolusi bangsa lain. Dan apa yang saya lihat? Revolusi Indonesia ini tadinya benar boleh disebutkan “Revolusi yang paling tertib”, tetapi juga harus saya sebutkan “Revolusi yang paling kurang rencana”. The most orderly, but also the least planned. Sebenarnya dari tahun 1945 mula kita ber-revolusi tanpa rencana, melainkan hanya menurutkan adrengnya hati belaka. Dan terbawa oleh beberapa hal yang saudara-saudara telah ketahui, maka pelaksanaan Revolusi itu sebagai satu keseluruhanpun berjalan tanpa pimpinan nasional.

Kini dirasakan Pimpinan Nasional itu perlu. Tetapi sebelum menerima pimpinan, saya harus memperjoangkan Konsep terlebih dulu, yaitu Konsep: Revolusi, dan Ideologi Nasional Progresif. Dialektik perjoangan menyatakan, bahwa sebelum mengoper pimpinan nasional, menangkanlah konsepsi-konsepsi nasional terlebih dahulu. Memang Pimpinan Nasional – dan di sini saya bicara lagi lepas dari pribadi sendiri – tak boleh berlangsung buat sebentaran waktu saja seperti misalnya pimpinan sesuatu Kabinet Koalisi atau pimpinan sesuatu partai. Pimpinan Nasional bukan pimpinan sesuatu partai atau pimpinan sesuatu Kabinet Koalisi. Pimpinan Nasional harus memimpin satu Bangsa, dan Bangsa bukan seperti satu Kabinet Koalisi, bukan seperti satu partai, melainkan adalah satu kelangsungan, satu continuity, seperti tertulis di atas tembok museum Mexico yang saya ceriterakan tadi.

Pimpinan Nasional harus menanam dasar-dasar Kebangsaan dan dasar-dasar Kenegaraan, dan harus memimpin pelaksanaan daripada dasar-dasar Kebangsaan dan Kenegaraan itu sampai tercapailah cita-cita nasional, – kecuali jikalau ia ndléwér, kecuali jikalau ia menyeléwéng, kecuali jikalau ia durhaka dan khianat. Jikalau ia ndléwér, jikalau ia nyeléwéng, jikalau ia khianat, haruslah ia ditendang mentah-mentah oleh Revolusi.

Sebenarnya, sejak tahun 1950 sudah, saya memperjoangkan Konsepsi-konsepsi-nasional-progresif itu, oh, kadang-kadang mendapat cercaan-cercaan dan maki-makian terang-terangan, kadang-kadang dibisik-bisikkan bahwa saya telah menjual Indonesia kepada sesuatu Negara besar, kadang-kadang merasa seperti “single fighter” tersendiri dan terpencil di kalangan atasan, malah kadang-kadang hendak dibunuh orang, disabot dan digranat, – akan tetapi Alhamdulillah selalu dengan insaf dan sadar bahwa Rakyat membenar-kan saya dan mengikuti saya. Persetujuan dan dukungan Rakyat itulah yang selalu memberikan kekuatan-batin kepada saya untuk berjoang terus.

Tahun 1957 saya namakan tahun penentuan, dan saya mintakan penentuan-penentuan; tahun 1958 saya namakan tahun tantangan, dan saya mintakan jawaban-jawaban-tegas atas beberapa tantangan; tahun 1959 kita kembali kepada Undang-Undang Dasar ’45, dan saya tonjoli tahun 1959 itu dengan pidato “Penemuan Kembali Revolusi Kita”, yaitu dengan penegasan setegas-tegasnya daripada Konsepsi Nasional yang kemudian oleh Rakyat dinamakan Manipol/USDEK.

Maka sesudah Manipol/USDEK itu diterima resmi oleh M.P.R.S. sebagai garis-garis-besar haluan Negara, barulah saya mau menerima tugas dan kepercayaan sebagai Pemimpin Besar Revolusi.

Sejak penerimaan itulah Konsepsi Nasional menjadi bulat, yaitu Konsepsi Tritunggal R.I.L., (“Revolution, Ideology, Leadership”) – atau Konsepsi Resopim: “Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional”.

Sejak itulah saya memegang pimpinan Ordening Baru, dan dengan keterangan ini saya telah memberi jawaban atas pertanyaan apa sebab saya tidak dari setadi-tadinya memimpin Ordening Baru.

Bagaimanapun juga, saudara-saudara, kita bisa merayakan dua windu kemerdekaan kita ini dengan rasa gembira karena telah mencapai satu hasil yang nyata: yaitu landasan-landasan yang teguh dan jelas bagi perjoangan kita, yang tadinya tidak kita mempunyainya tetapi yang sekarang jelas-tegas berada di bawah telapak kaki kita untuk di atasnya kita berderap-maju ke arah realisasi Amanat Penderitaan Rakyat. Allahu Akbar, Revolusi Indonesia sekarang bukan lagi satu Revolusi yang ngawur, tetapi satu Revolusi yang tahu benar apa yang di-Revolusi-kannya!

Maka dengan do’a yang tak putus-putus ke hadlirat Allah Subhanahu wata’ala, marilah kita berjalan terus!

Ya, berjalan terus, tetap berjalan terus! dengan tak mau kalah kalau mendapat pukulan, ulet-maha-ulet kalau terpaksa mandek sebentaran, selalu waspada dalam kemajuan, bijaksana dalam segala kemenangan.

Tetap berjalan terus, mcnuju Matahari, sebab Matahari itu sudah terbit, dan jalan sudah terang-benderang!

Bangsa yang berjalan terus akan Besar.

Bangsa yang mandek, akan kerdil.

Bangsa yang mundur, akan hancur.

Hancur-lebur, tidak tahan sinarnya Matahari!

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 247 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar