Home » 2016 » August » 31 » Re-So-Pim (Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional)
10:55 AM
Re-So-Pim (Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional)

<<<sebelumnya.....   Saudara-saudara! Panjang-lebar saya beberkan lukisan perjoangan kita yang telah lampau. Panjang-lebar saya mengajak saudara-saudara menoleh ke belakang, melihat sejarah dan pengalaman-pengalaman dalam perjalanan yang telah liwat. Sekarang kita menghadapkanlah mata ke muka, sebab kita hendak berjalan terus, melanjutkan perjalanan mendaki gunung.

Yang lampau, yang sekarang, yang di muka, – ketiga-tiganya bersangkut-paut satu sama lain. Perjoangan Nasional merupakan satu kelangsungan (satu continuitas), sebagaimana juga Sejarah Nasional merupakan satu kelangsungan atau continuitas. Karena itu maka saya selalu mengajak menoleh ke belakang, menilai keadaan sekarang, mengarahkan mata ke hari depan.

Bagaimana situasi sekarang? Persyaratan perjalanan kita sekarang sudah lengkap: RIL – R I L – “Revolution, Ideology, Leadership”. Atau Re-so-pim, yaitu “Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional”. Dengan lengkapnya persyaratan perjalanan itu, sekarang kita boleh berjalan terus. Malah alat-alat perjalananpun sudah kita miliki semuanya ala kadarnya:

Kesatu : Sudah barang tentu RIL – Revolution, Ideology, Leadership, – atau Re-so-pim, Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional.

Kedua : Alat-alat teknis, yang berupa skill dan alat-alat industri.

Ketiga : Modal, yang berupa kekayaan materiil, manpower, dan lain sebagainya.

Keempat : Angkatan Bersenjata yang lumayan.

Kelima : Kerja-sama dengan dunia luar.

Dan sebagainya lagi, dan sebagainya lagi.

Dengan adanya alat-alat ini, maka perjalanan kita itu, asalkan penggerakan tekad dan energi cukup, bisalah berlangsung dengan tidak ngulerkambang.

Maka jagalah jangan sampai ada kemerosotan dalam pemakaian alat-alat itu:

a. Konsolidirlah selalu segala alat perjoangan.

b. Maksimalkanlah dan perluaskanlah selalu pemakaian alat perjoangan.

c. Perbaikilah dan sempurnakanlah selalu mutunya alat perjoangan.

d. Koreksilah selalu jikalau ada kesalahan atau kekeliruan dalam pemakaian alat perjoangan.

Apa artinya ini? Artinya ialah: bahwa dalam keaktifan kita sehari-hari menjalankan Perjoangan Nasional yang pada pokoknya ialah melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, tidak ada hal atau tidak banyak hal yang dapat dilaksanakan secara routine. Buanglah jauh-jauh “semangat routine” ini, buanglah jauh-jauh amtenar-isme, buanglah jauh-jauh pegawai-isme yang tak berjiwa dan tak berinisiatif. Buanglah jauh-jauh semua “ndoro-isme“, dan sebaliknya: buanglah jauh-jauh pula semua “sumuhun dawuh-isme“! Tiap-tiap alat harus dipertumbuhkan, oleh karena mas’alah-mas’alahpun terus-menerus muncul dan bertumbuh. Tiap-tiap cara-kerja yang statis harus ditinggalkan, oleh karena kestatisan akan membawa kita terbentur pada satu realitas dalam masyarakat yang amat dinamis. Tiap-tiap Konsepsi, – apa lagi Konsepsi sosialisme, yang sekarang sudah ditetapkan oleh Majelis Tertinggi daripada Negara -, sekarang harus dilaksanakan di daerah-daerah, di kabupaten-kabupaten, di kecamatan-kecamatan, di kota-kota, di desa-desa.

Ini minta satu approach yang dinamis dan dialektis, satu cara-kerja yang dinamis dan dialektis.

Dinamis, oleh karena masyarakat bertumbuh secara dinamis. Misalnya taraf pendidikan bertumbuh secara dinamis, jumlah murid bertumbuh secara dinamis, kemajuan teknis bertumbuh secara dinamis, jumlah penduduk bertumbuh secara dinamis, kesadaran Rakyat bertumbuh secara dinamis, tuntutan-tuntutan-hidup bertumbuh secara dinamis. Tidakkah saya menamakan Revolusi kita ini “Revolusi-tuntutan-meningkat”, atau Inggeris-nya “a Revolution of rising demands”? Siapa yang tidak dinamis, tak mungkin akan dapat meladeni pertumbuhan masyarakat yang amat dinamis itu!

Dan dialektis?

Dialektis, oleh karena segala pertumbuhan selalu menjadi dialektis dengan timbulnya persoalan-persoalan-penentang, yaitu dengan timbulnya contradicties. Kemajuan, perbaikan, kemenangan, pun menimbulkan persoalan-persoalan-penentang, atau contradicties, yang segera harus dihadapi dan dipecahkan, agar tidak menjadi rintangan bagi pertumbuhan selanjutnya. Siapa yang tidak dialektis, tak mungkin dapat meladéni dengan segera segala contradicties itu!

Lebih-lebih dalam penyelenggaraan sosialisme! Cara-pemikiran dan cara-kerja yang dinamis dan dialektis sangatlah dibutuhkan dalam penyelenggaraan sosialisme itu; tak boleh kita dalam penyelenggaraan sosial-isme itu berfikir dan bekerja secara statis; tak boleh kita bekerja tanpa inisiatif, yaitu secara routine. Dalam penyelenggaraan sosialisme tak ada tempat bagi amtenar-isme dan pegawai-isme, tak ada tempat bagi burokrat-isme dan ulerkambang-isme. Tiap hari harus melahirkan inspirasi; tiap hari harus melahirkan konsepsi; tiap hari harus melahirkan ide yang lebih baik daripada ide kemarin, sebagai kelanjutan daripada hasil-hasil-karya hari kemarin!

Saudara-saudara!

Pemerintah dalam rapat-pleno D.P.R.G.R. pada tanggal 5 Juli yang lalu telah memberi keterangan mengenai situasi Negara pada dewasa ini. Khusus dalam hal keuangan, keterangan itu agak-agak bernada mineur. Tetapi janganlah heran! Sebab, di masa yang lampau, kegiatan nasional kita terpaksa terbagi-bagi:

Kecuali membangun, kita harus menyelamatkan Negara dari pem-berontakan dan subversi asing.

Kecuali membangun, kita harus mengamankan daerah-daerah dari gerombolan-gerombolan yang menggarong dan mengganas.

Kecuali membangun, kita masih harus menjebol sisa-sisa lama dari alam kolonial, yang membikin golongan-golongan bersikap reformistis, konservatif, liberal, kadang-kadang kontra-revolusioner.

Kecuali membangun, kita harus menanam dasar-dasar baru yang merupakan syarat mutlak bagi suatu Negara Merdeka seperti Indonesia, dengan penduduk 92 juta, begitu luas dalam daerahnya, begitu kaya-raya dalam alamnya.

Kecuali membangun, kita harus berjoang menyelesaikan persoalan Irian Barat.

Pendek-kata, dalam masa yang lampau, perhatian dan kegiatan kita terpaksalah terbagi antara apa yang tempohari saya namakan destruksi dan konstruksi. Di satu fihak menjebol dan menghancurkan anasir-anasir, fikiran-fikiran, kekuatan-kekuatan yang mengancam keselamatan Negara, – menjebol dan menghancurkan kolonialisme dan imperialisme, di lain fihak membangun di lapangan materiil, organisatoris-materiil, phisik, mental dan lain sebagainya.

Maka jika saya lihat dari Anggaran Belanja dan Anggaran Perusahaan, saya kira lebih dari 50 % dari kegiatan nasional kita masih harus kita tujukan kepada “penghancuran” itu: penghancuran segala hal yang membahayakan keselamatan Negara atau melambatkan per-joangan nasional, baik yang berupa penyeléwéngan-penyeléwéngan, maupun pemberontakan-pemberon-takan, maupun subversi asing, maupun sisa-sisa fikiran konvensionil atau kontra-revolusioner dari zaman kolonial dan liberal.

Artinya: Lebih dari 50% kegiatan nasional masih harus diperuntukkan perjoangan destruksi, yang memang perlu! Berapa prosen di negara-negara yang sudah “jadi” atau yang sudah aman? Umumnya di negara-negara yang sudah “jadi” itu, lebih dari 90 % kegiatan nasionalnya dipakai untuk konstruksi, rekonstruksi, dan maintenance, dan hanya 5 a 10% saja dipakai untuk menghancurkan gejala-gejala yang berbahaya. Tetapi kita di Indonesia? Kita di Indonesia terpaksa harus mensekaliguskan destruksi dan konstruksi, mensekaliguskan penghancuran dan pembangunan! Tetapi itupun satu keharusan, – keharusannya Revolusi. Sebab Revolusi adalah, sebagai yang sudah sering saya katakan, justru kelana-bersamanya destruksi dan konstruksi di dalam satu kiprah yang simultan!

Itulah pula sebabnya saya selalu berkata bahwa bangsa Indonesia ingin secara sekaligus melaksanakan satu Revolusi yang bermacam-macam warna, satu Revolusi panca-muka, satu Revolusi yang multicomplex. Dan memang kesekaligusan itulah jalan yang paling jitu dan paling cepat untuk mencapai satu Negara yang kuat dan sentausa, dengan berisikan satu masyarakat yang adil dan makmur tanpa penghisapan dan penindasan.

Tentu saja, ada orang-orang di dalam-negeri yang mengeritik saya tentang “kesekaligusan” ini. Tetapi jumlah mereka sedikit sekali. Althans mereka tidak dari kalangan progresif, dan tidak seorangpun dari mereka itu dari kalangan proletar atau kalangan jémbél. Mereka, beberapa gelintir manusia itu, adalah orang-orang yang zoogenaamd intellektuil, yang setengah konyol karena terlalu banyak minum cekokannya buku-buku tentang “ilmu ketatanegaraan”, – sudah barang tentu ilmu ketatanegaraan burjuis dan liberal dan . . . Belanda!

Di luar-negeri saya mendapat pengalaman lain! Saudara-saudara mengetahui, bahwa beberapa bulan yang lalu saya telah mengadakan perjalanan ke luar-negeri dua setengah bulan lamanya, satu perjalanan yang biasanya orang disebutkan perjalanan muhibbah, tetapi yang sebenarnya ialah satu perjalanan muhibbah + perjoangan + testing.

Tiap-tiap kali saya sebagai Presiden mengadakan perjalanan ke luar-negeri, maka saya membawa bekal, – membawa “sangu” -, yang berupa modal nasional. Dan terutama sekali ini kali, maka modal nasional itu saya pergunakan untuk bermacam-macam hal. Saya pergunakannya untuk diperlihatkan, diperkenalkan. Saya pergunakannya pula untuk diperdagang-kan, seperti misalnya kekayaan alam Indonesia. Dan saya pergunakannya pula untuk diperjoangkan, seperti misalnya pembebasan Irian Barat. Dan saya pergunakannya pula untuk diuji, ditest di luar-negeri, tentang kebenarannya atau kesalahannya.

Saudara-saudara mengerti: Makin berhasil perjoangan kita di dalam-negeri, makin besar Modal Nasional yang bisa saya bawa ke luar-negeri. Sebagai tadi saya. katakan: Untuk diperlihatkan, untuk diperdagangkan, untuk diperjoangkan, untuk ditest.

Dahulu, modal apa yang saya bawa ke luar-negeri?

Dulu saya membawa:

Keindahan alam Indonesia.

Kekayaan alam Indonesia.

Kebudayaan bangsa Indonesia.

Aspirasi dan Tekad daripada Perjoangan Indonesia.

Tetapi ini kali saya juga sudah dapat membawa hasil-hasil-pertama daripada Perjoangan Bangsa Indonesia, yaitu tercapainya dasar-dasar. Konsepsi buat Revolusi kita, Kenegaraan kita, dan Kebangsaan kita. Di situlah saya tonjolkan-kemuka Kesekaligusan Revolusi kita itu, multi-kompleksitas daripada Revolusi kita, – yaitu Ideologi Nasional kita jaitu Pancasila/ Manipol/ USDEK, Konsepsi RIL jaitu Revolution- Ideology- Leadership, Demokrasi Terpimpin, dan lain sebagainya, dan saya tonjolkan ke muka bahwa Konsepsi-konsepsi ini bukan masih dalam taraf diperjoangkan atau hanya dimiliki oleh berbagai golongan – tidak! Konsepsi itu sudah menjadi Konsepsi Nasional, sudah menjadi milik Bangsa Indonesia secara keseluruhan, sudah mulai dilaksanakan, dengan hasil yang amat baik. Pendek-kata saya tonjolkan, bahwa sudah menjadi kenyataan;

Satu: Bahwa Indonesia, juga sesudah merdeka sebagai Republik, akan tetap bertumbuh atas dasar Revolusi, – yaitu Revolusi yang multicomplex.

Dua: Bahwa penghidupan Nasional didasarkan atas Pancasila, jelasnya Manipol/USDEK = Sosialisme Indonesia.

Tiga: Bahwa Amanat Penderitaan Rakyat dilaksanakan di bawah satu Pimpinan Nasional.

Konsepsi ini, dan pelaksanaannya, saya test kebenarannya ketika saya berada di luar-negeri, melalui macam-macam jalan. Ada dengan jalan observasi, yaitu dengan jalan membuka mata dan memasang telinga saya sendiri. Ada dengan jalan pertukar-fikiran mendalam dengan pemimpin-pemimpin yang tertinggi. Ada dengan jalan sekadar mengocéh seperti seorang dalang wayang kulit, dan melihat reaksi-reaksi atas pendalangan itu.

Dan Kebenaran dari jalan yang kita tempuh tampaklah benar dari pertukar-fikiran-pertukar-fikiran, reaksi atas pendalaman-pendalaman, observasi-observasi itu.

Banyak sekali pemimpin-pemimpin di luar-negeri – pemimpin perjoangan rakyat, dan bukan orang-orang setengah konyol yang sudah mbléngér cekokan ilmu ketatanegaraan burjuis dan liberal – mengucapkan terimakasih atas pengertian-pengertian baru yang kita kemukakan, yang mereka anggap sebagai kekayaan-kekayaan baru. Memang, baik negara-negara yang sudah tua, maupun negara-negara yang anyar merdeka, ataupun negara-negara yang masih terbelakang dalam lapangan teknik dan ekonomi, di antara mereka itu tadinya banyak yang mengira bahwa syarat mutlak untuk kemajuan Negara dan Bangsa ialah kemajuan teknik dan modal uang semata-mata.

Mereka tidak tahu, bahwa dalam abad ke-XX salah satu dasar bagi kemajuan nasional ialah Konsepsi ideologi yang progresif revolusioner, berdasarkan atas kepribadian nasional.

Dan apa yang saudara lihat pula di zaman sekarang? Saudara lihat dari jauh pula, yaitu dari sini, kebenaran Konsepsi kita yang singkatannya Ril atau Resopim itu. Saudara lihat bahwa ada negara-negara yang tadinya tampaknya seperti tentram dari luar, bahkan seperti adem-ayem-marem, sekarang terlibat dalam revolusi, dan para-pemimpinnyapun sekarang merasa bangga bahwa negaranya mengadakan proses Revolusi. Saudara lihat, bahwa di mana dulu seorang pemimpin nasional dianggap sebagai diktator, kini ada negara-negara yang dikemudikan oleh seorang Pemimpin Nasional, dan dia tidak lagi dinamakan diktator.

Dan saudara lihat dari jauh, bahwa ada negara-negara yang kini sedang mencari ideologi-nasionalnya yang progresif berdasarkan kepribadian nasional, seperti misalnya Republik Persatuan Arab, yang kini menyusun iapunya konsepsi sosialisme ala Arab!

Saya mengemukakan hal-hal tersebut samasekali bukan untuk membual atau menyombong. Jauh daripada itu! Saya hanyalah berbicara kepada Rakyat sendiri, menunjukkan kepada Rakyat sendiri bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang benar, – satu-satunya jalan yang benar untuk mencapai Negara Indonesia yang kuat-sentausa, berisikan satu masyarakat yang adil dan makmur, tempat kebahagiaan bagi seluruh warga, si Cokro maupun si Dullah, si Dadap maupun si Waru, si Ningsih maupun si Siti. Terserah kepada bangsa-bangsa lain untuk memperhatikan atau mempelajari sistim kita itu, membenarkannya atau menyalahkannya. Memang banyak permintaan telah masuk untuk mempelajari sistim kita itu. Dan sebagai saya katakan tadi: Alhamdulillah, dari observasi, pertukar-fikiran, pendalangan di luar-negeri itu, saya mendapat kesimpulan dan peneguhan-batin, bahwa kita adalah di jalan yang benar!

Saudara-saudara, atas dasar benarnya jalan yang kita tempuh itu, maka kita boleh mengharap bahwa dalam tahun yang di muka ini, kita Insya Allah akan melihat kemajuan-kemajuan yang lebih nampak lagi.

Asal! …

Ya, asal ! : Asal segala persoalan, terutama sekali persoalan pembangunan, kita selesaikan atas dasar Konsep Sosial ke arah Sosialisme, Konsep Sosial yang bewust-sebewustnya menuju kepada Masyarakat Sosialisme.

Dasar-dasar Manipol/USDEK harus dilaksanakan secara intensif, meskipun melalui peralihan-peralihan seperlunya. Buatlah Manipol/USDEK itu benar-benar werkprogram (program kerja) saudara-saudara. Janganlah mengira bahwa persoalan-persoalan rumah-tangga kita hanya dapat dipecahkan secara administratif-teknis atau finansiil-moneter belaka! Tidak! Pemecahan secara administratif-teknis atau finansiil-moneter belaka, tidak dapat memberikan penyelesaian secara bulat. Seluruh susunan yang dulu harus dirobah! Seluruh susunan yang dulu itu harus diputar ke arah sosialisme Indonesia. Tidakkah engkau melihat, bahwa negara-negara yang sudah maju teknis dan ekonomis selalu mengalami krisis, oleh karena susunan sistim masyarakatnya adalah salah?

Maka saya ulangi lagi, – selesaikan segala persoalan atas dasar Konsep Sosial ke arah Sosialisme, Konsep Sosial yang bewust-sadar menuju kepada Masyarakat Sosialisme!

Pertama: Ikut-sertakan seluruh pekerja dalam memikul tanggungjawab dalam produksi dan alat-alat-produksi. Jangan ndoro-ndoroan! Pengikutsertaan itu akan melancarkan dan memperbesar hasil produksi. Landreform dan bagi-hasil, harus betul-betul dijalankan. Landreform dan bagi-hasil itu juga akan melancarkan dan memperbesar hasil produksi! Ingat, produksi, ekonomi, adalah perutnya Negara. Maka itu adalah jamak-lumrahlah kalau kaum reaksioner mengkonsentrasikan sabotase-sabotasenya kepada perut negara ini. Kecuali itu, orang-orang baru yang ditugaskan, sering kurang becus, atau tak mengerti apa-apa tentang Konsepsi, atau ada juga yang menderita penyakit “tiga si”, – yaitu “cari promosi, birokrasi, korupsi”… Saudara berkata: “Pak, kenapa orang-orang begitu kok dipakai Pak?”. Ya benar, orang-orang yang begitu, sebenarnya lebih baik, minggir saja, atau lebih tegas, orang-orang yang begitu itu lebih baik dipinggirkan saja!

Kedua: Adakanlah terus-menerus – frappez, frappez toujours – retooling mental dan retooling organisasi, sesuai dengan Manipol/USDEK.

Ketiga: Resapkan dasar RIL, atau Resopim sampai ke peloksok-peloksok, sampai ke desa-desa, sampai ke gunung-gunung. Sosialisme harus menjadi darah-daging seluruh Rakyat Indonesia, Manipol/USDEK harus menjadi saraf dan sungsum semua warga Indonesia, si pemimpin atau si pegawai, si pemuda atau si tua, si buruh atau si tani, si orang-biasa atau si J.M. Menteri, si orang preman atau si militer. Ya, juga si militer! Negara dan Rakyat sudah menerima Manipol dengan ketetapan M.P.R.S.-nya maka semua warga sekarang harus dipimpin oleh Manipol. Rakyat sudah dipimpin oleh Manipol, militer juga sekarang harus dipimpin oleh Manipol. Bukan militer atau bedil yang memimpin Manipol, tetapi Manipol yang memimpin militer atau bedil!

Saya ulangi lagi: resapkan sosialisme Indonesia sampai ke mana-mana! Camkanlah, bahwa tulang-punggung, darah-daging sosialisme Indonesia ialah pelaksanaan di daerah. Di sanalah harus bertumbuh percobaan sosialisme Indonesia, di sanalah harus berkembang pengalaman sosialisme Indonesia. Di sanalah kita akan melihat secara pragmatis prakteknya pelaksanaan sosialisme Indonesia, dan dari para pemimpin di daerah-daerah, di desa-desa, di pelosok-pelosok diminta segala kemampuan (vindingrijkheid) untuk menemukan cara-cara yang baik dalam pelaksanaan Manipol/ USDEK. Karena itu maka tiap kegiatan kita harus kita dasarkan atas Konsep Sosial kita yang jelas, yaitu Konsep Manipol/USDEK, Konsep Sosialisme Indonesia. Jika tidak, maka sebelum kita sadar, kita hanya mengganti majikan-majikan Belanda atau majikan-majikan asing yang lain, dengan ndoro-ndoro-majikan Indonesia, – itupun sebagai satu uitgave yang lebih jelek, – satu uitgave van veel slechtere kwaliteit!

Aduh, saudara-saudara, saya tahu, dan saudara-saudarapun tahu, bahwa segala pertumbuhan ke arah perbaikan selalu melalui kesulitan-kesulitan. Saya tahu misalnya, bahwa di bidang penyelenggaraan program Sandang Pangan, – pasal pertama daripada Triprogram Pemerintah -, kesulitan-kesulitan bertimbun-timbun, meskipun, sebagai telah dikatakan oleh Menteri Pertama Juanda dalam laporannya, situasi Sandang Pangan boleh dikatakan lumayan juga. Saya tahu, di sana-sini Rakyat harus antri beras, antri gula, antri minyak kelapa, antri minyak tanah. Saya tahu di sana-sini harga barang-barang kebutuhan-hidup naik agak tinggi.

Apakah kita, pemimpin-pemimpin, sampai lebur-kiamat harus terus saja minta kesabaran daripada Rakyat, – kesabaran, dan sekali lagi kesabaran? Ketahuilah, bahwa Rakyat memang sabar, tetapi perut tak dapat menunggu lama, – “the stomach does not wait” kata Soong Ching Ling. Kesabaran Rakyat itu hanyalah ada, jika Rakyat melihat bahwa ada prospect (harapan-ke depan) ke arah terlaksananya cita-cita politik-nasional atau cita-cita sosial-nasional. Maka dari itu, penting-maha-pentinglah bahwa kita selalu mendasarkan segala kegiatan kita atas Konsep Manipol/USDEK atau Konsep Sosialisme dalam pertumbuhannya, oleh karena Konsep itu adalah Konsep Rakyat untuk kebahagiaan Rakyat. Dan sebagai tadi saya katakan, maka penting-maha-penting pula kita mengikutsertakan kaum pekerja dalam produksi dan alat-produksi, sehingga mereka merasa diikutsertakan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang saya maksudkan tadi.

Dengan meresapnya Konsepsi kita di semua kalangan, maka kesulitan-kesulitan di lapangan pelaksanaan program Sandang Pangan dapat dimengerti oleh Rakyat dan dapat diatasi, dan program ini bisa berjalan lebih lancar.

Lihat ampuhnya senjata Manipol/USDEK di bidang keamanan!

Pada waktu saya mengucapkan pidato Manipol (17 Agustus 1959), maka saya berkata: “Beleid keamanan tetap tegas. Pemerintah meneruskan dan memperhebat operasi-operasi keamanan dengan pengerahan kekuatan alat-alat Negara dan Rakyat secara maksimal. Pemerintah tidak mau mengadakan perundingan atau kompromis dengan pemberontak. Tetapi di samping itu, setiap usaha dan jalan lain yang membantu operasi-operasi tersebut, untuk mempercepat hasil-hasil dan mengurangi korban-korban, sudah tentu dipergunakan. Pemberontak yang insyaf kembali, dan menyerah tanpa syarat, dan ikhlas ingin kembali ke pangkuan Republik Indonesia 1945 mendapat perlakuan wajar”.

Itu yang saya katakan dalam Manipol. Kecuali itu, dalam pidato saya pada 17 Agustus tahun yang lalu, – yaitu pidato “Jarek” -, saya katakan, bahwa dalam suksesnya pelaksanaan Manifesto Politik di segala bidang, terletaklah pula sukses pemulihan keamanan.

Maka dasar kebijaksanaan Pemerintah, kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 dan Haluan Negara yang tegas yang dinamakan Manipol itulah menyebabkan kaum pemberontak tidak mempunyai dasar pegangan lagi, tidak mempunyai alasan lagi untuk terus membangkang.

Dengan dasar garis kebijaksanaan di bidang keamanan, sebagaimana yang diamanatkan dalam Manifesto Politik yang telah menjadi garis besar Haluan Negara itulah, maka pada waktu ini kita menghadapi suatu kenyataan, bahwa telah beribu-ribu pemberontak menyerah tanpa syarat.

Dari jumlah kekuatan pemberontak dan gerombolan di seluruh daerah Republik Indonesia, yang pada permulaan tahun 1958 ada di sekitar seratus ribu orang tenaga-tempur, dengan senjata tidak kurang dari tiga puluh ribu pucuk, ringan dan berat, pada waktu mana hampir seperenam daripada luas wilayah kita ada di bawah pengaruh mereka, sekarang ini jumlah kekuatan mereka itu tidak lebih dari sepuluh ribu orang, dengan senjata tidak lebih dari lima ribu pucuk.

Saudara-saudara! Keamanan phisik yang sekarang telah kita capai ini, memang menggembirakan. Beratus-ratus pucuk mortir berat, beratus-ratus bazooka dan recoilless gun, beribu-ribu mortir ringan, senapan dan senapan-mesin, berton-ton peluru, mesiu dan alat-alat peledak dari segala macam ukuran dan bentuk, telah jatuh di tangan kita dalam pertempuran-pertempuran dan melalui penyerahan-penyerahan.

Insya Allah, kita akan dapat mencapai keamanan phisik yang lebih luas lagi, sehingga Pemerintah dan Bangsa Indonesia dapat lebih memusatkan fikiran dan tenaganya pada bidang lain, khusus memusatkan fikiran dan tenaga kepada tujuan jangka-pendek daripada Revolusi, yaitu memenuhi sandang pangan Rakyat serta pengembalian Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Juga kita akan dapat memusatkan fikiran dan tenaga kita kepada tujuan jangka-panjang daripada Revolusi, yaitu masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur.

Atas dasar keamanan phisik yang lebih luas lagi itu, maka Pemerintah bersedia memberikan perlakuan yang wajar terhadap mereka, sebagaimana yang diamanatkan oleh Manifesto Politik, dan yang secara praktis telah diartikan sebagai suatu pengampunan dan pengayoman serta kebesaran dan kemurahan Negara dan Kepala Negara terhadap mereka yang telah melakukan pemberontakan itu.

Tetapi, jangan dilupakan, bahwa dalam kegembiraan mengenai hasil-hasil dalam bidang keamanan phisik, kita harus tetap waspada, harus tetap tak boleh lengah. Sebab pada waktu pemberontak-pemberontak itu melakukan pemberontakannya, mereka mempunyai dasar-fikiran yang berlainan sekali dengan dasar-fikiran kita, berlainan dengan tujuan-asli dan upaya Revolusi. Kita harus tetap waspada, jangan sampai dengan pulihnya keamanan phisik, keamanan politik menjadi terganggu atau goncang. Kenapa begitu? Well, mereka berontak, antara lain justru untuk menentang Ordening Baru yang pada waktu itu sedang kita canangkan, dan yang sekarang sedang giat-giatnya kita laksanakan, kita pertumbuhkan, kita konsolidirkan. Keamanan politik bukan berarti kesepian politik, atau kematian politik, tetapi keamanan politik berarti bahwa segala kegiatan daripada seluruh Rakyat menuju, mengkonvergir, kepada satu usaha, tanpa tentang-menentang satu sama lain, tanpa jégal-jégalan, tanpa tladung-tladungan. Kita sekarang sedang menyusun keamanan politik itu. Kita sedang berusaha keras, agar supaya segala kegiatan daripada seluruh Rakyat dipusatkan, ditujukan, dikonvergirkan kepada pelaksanaan, penumbuhan, pengkonsolidasian Ordening Baru itu. Maka keamanun politik ini harus kita jaga. Keamanan politik ini harus kita jaga dengan waspada sekali, jangan sampai ia diganggu dan digoncangkan oleh orang-orang yang tadinya tak setuju bahkan menentang dengan kekerasan kepada Ordening Baru itu!

Kini, Pemerintah dan Bangsa Indonesia sudah menunjukkan kebesaran-jiwanya, sudah menunjukkan kemurahan-hati dan pengayomannya kepada mereka yang tadinya memberontak. Kini kita mengharap, supaya merekapun ikhlas menyambut uluran-tangan kita ini, dan supaya merekapun dengan ikhlas bersedia memahami terlebih dahulu tujuan-tujuan-asli dan upaya Revolusi.

Dari dalam “karantina politik” itu, dari mereka saya harapkan kepulihan-kembali kesetiaan mereka terhadap Revolusi. Dan ini tidak hanya cukup dinyatakan dengan penandatanganan surat sumpah setia saja, melainkan harus diikuti pula dengan amal perbuatan.

Dalam hubungan ini, Pemerintah merasa wajib untuk memberikan indoktrinasi kepada mereka mengenai Konsepsi R.I.L. atau Resopim. Dengan demikian diharapkanlah, agar keamanan politik secara maksimal dapat terjamin.

Di lapangan sosial, Pemerintah akan berusaha menyalurkan mereka ke pelbagai lapangan hidup yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara, dengan mengindahkan keseimbangan susunan sosial terhadap golongan yang selalu setia kepada Revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi.

Sudahkah, jikalau semua pemberontak atau gerombolan menyerah, atau dihancurkan mana yang tidak menyerah, sudahkah dengan demikian tugas kita di lapangan keamanan selesai? Tidak! Di hadapan kita masih banyak pekerjaan yang harus ditempuh, yang menghendaki ketekunan yang ulet, tekad yang keras, kemauan yang tak kenal putus-asa, semangat kenegaraan yang amat tinggi. Masih banyak kerja harus kita hadapi mengenai stabilisasi teritorial daripada daerah-daerah yang telah kita bebaskan. Sebab keamanan berarti keamanan Rakyat, dan bukan sekadar keamanan beberapa orang. Semua hal harus kita kerjakan, agar supaya keamanan tidak hanya sekadar berarti penyerahan pemberontak dan kembali mereka kepada Republik, melainkan benar-benar keamanan yang dirasakan oleh Rakyat-jelata sebagai Keamanan yang bersemayam di dalam hati.

Dan apa tentang “SOB”? Pemerintah bermaksud mengakhiri “SOB” itu setapak-demi-setapak selekas mungkin. Tetapi berhubung dengan tugas kewaspadaan kita, menjaga jangan sampai keamanan phisik merupakan pengantar bagi terganggunya keamanan politik, maka mungkin persoalan “SOB” ini harus dipertimbangkan lagi secara mendalam. Tetapi bagaimana pun juga, dengan diperolehnya hasil-hasil-baik dalam penyelesaian keamanan di beberapa daerah, maka “keadaan perang” yang pada tanggal 14 Maret 1957 dinyatakan untuk seluruh wilayah Republik sewaktu menghadapi pemberon-takan, tidak perlu lagi dipertahankan dalam keseluruhannya. Mulai bulan April tahun ini sudah banyaklah daerah yang diturunkan tingkatan keadaan-bahayanya, dari tingkatan yang berat ke tingkatan yang lebih ringan. Bahkan telah ada daerah-daerah yang tidak lagi dalam keadaan bahaya, karena telah dihapuskan keadaan bahayanya samasekali.

Ya, saudara-saudara, setapak-demi-setapak kita maju. Kita mengucapkan syukur ke hadlirat Allah ta’ala bahwa kita maju.

Hanya kaum cynisi dan kaum yang sengaja anti kepada Republik dan kaum yang sedari tadinya mau membelokkan Revolusilah mengatakan bahwa kita ini akan tenggelam atau “naar de bliksem zullen gaan”. Saya kira bukan Republik yang akan tenggelam, bukan Republik yang akan “naar de bliksem”, tetapi merekalah yang oleh arusnya Revolusi Rakyat ditenggelam-kan megap-megap!

Hayo kawan-kawan, hayo konco-batur, hayo bung, hayo rék, kita berjalan terus di jalan Manipol! Hayo bung, hayo rék, kita jalan terus menyeleng-garakan Ordening Baru. Banyak manfaat kita telah peroleh dengan adanya Ordening Baru itu. Segi-segi yang menguntungkan kepada Negara, sekarang mulai menampak jelas; antara lain di bidang politik. Free-fight-liberalism sudah kita tendang dari padangnya praktek. Hanya di dalam kepalanya orang-orang yang tak jujur atau individualistis, orang-orang yang tak mengerti Revolusi dan hukum-hukumnya Revolusi, free-fight-liberalism itu masih mulek sebagai asap hitam yang bau busuk. Tetapi fakta inipun harus kita terima secara dialektis. Kalau kita berjoang terus,- satu hari nanti akan datang yang free-fight-liberalism itu akan amblas samasekali dari bumi kita!

Lihat kemajuan-kemajuan di bidang politik di bawah sinarnya Ordening Baru itu! Kita melihat sekarang Penyederhanaan partai-partai. Kita melihat sekarang Pertumbuhan golongan karya sebagai alat politik. Kita melihat Pertumbuhan dalam D.P.R.G.R. Kita melihat Pertumbuhan dalam M.P.R.S. Kita melihat tepatnya sistim Musyawarah dalam D.P.A. Kita melihat hasil-hasil yang amat berharga daripada Depernas.

Inilah Ordening Baru di bidang politik secara organisatoris yang didasarkan atas semangat Golong-Royong, Musyawarah dan Mufakat. Organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga Negara tersebut, semuanya mengejar satu tujuan utama, yaitu melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat berdasarkan Resopim.

Ya, memang ratusan kali telah saya katakan bahwa demokrasi kita bukanlah demokrasinya free-fight-liberalism. Demokrasi kita adalah Demokrasi Terpimpin. Demokrasi kita bukanlah adu suara dalam pemungutan, bukan tempat untuk mencari popularitas di kalangan masyarakat, bukan alat untuk memperkuda Rakyat untuk kepentingan seseorang atau sesuatu partai. Demokrasi kita mengajak kita-semua dan memberi kesempatan kepada kita-semua untuk bermusyawarah atas dasar terang-gamblang yaitu bagaimana melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, bagaimana memperbaiki nasib penghidupan Rakyat sehari-hari, bagaimana memberikan Harapan dan nanti Kenjataan kepada Rakyat tentang nasib bahagia di kemudian hari.

Dan demokrasi kita yang begini ini adalah satu unsur utama daripada Ordening Baru! Demokrasi kita bukan Mayoritas melawan Minoritas. Bukan oposisi melawan yang berkuasa, bukanpun yang berkuasa melawan oposisi. Bukan majikan melawan buruh, dan majikan melawan tani. Bukan golongan politisi melawan golongan karya. Bukan golongan Angkatan Bersenjata melawan Rakyat.

Bukan! Demokrasi kita bukan medan-pertempuran antara oponent-oponent satu sama lain, medan-hantam-hantaman antara antagonisme, medan untuk mencari kemenangan satu golongan atas golongan yang lain, medan untuk merebut kekuasaan oleh satu golongan terhadap golongan yang lain.

Demokrasi kita tidak lain tidak bukan ialah mencari sintese, mencari akumulasi fikiran dan tenaga untuk melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, semuanya atas pedoman Ordening Baru yaitu: Revolusi-Manipol/ USDEK-Pimpinan Nasional. Dus Demokrasi Terpimpin tidak mencari menghasilkan kemenangan sesuatu golongan atau kekalahan sesuatu golongan, – ia hanya menghasilkan akumulasi maksimal daripada fikiran-fikiran-baik, cara-cara-baik, kemajuan-kemajuan positif untuk Rakyat secara Keseluruhan, – tidak untuk sesuatu golongan atau partai.

Inilah apa yang tadi saya namakan juga “Kegiatan politik”, “Keamanan politik”!

Kegiatan politik dan Keamanan politik di Indonesia ialah: secara aktif simultan (artinya: aktif bersama-sama) melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat atas dasar-dasar Ordening Baru. Kegiatan politik dan Keamanan politik di Indonesia ialah: aktif simultan mempertumbuhkan Ordening Baru. Kegiatan politik dan Keamanan politik di Indonesia ialah aktif simultan ikut memperinci pelaksanaan Ordening Baru. Kegiatan politik dan Keamanan politik di Indonesia ialah: aktif simultan memberikan konsep-konsep-baru dalam pelaksanaan Ordening Baru. Kegiatan politik dan Keamanan politik di Indonesia ialah: aktif simultan menghantam dan menghancurleburkan sisa-sisa kolonialisme, imperialisme, dan feodalisme. Kegiatan politik dan Keamanan politik di Indonesia ialah: aktif simultan berjalan-terus di atas rel-asli daripada Revolusi, – bukan menyeléwéngkan Revolusi. Pendek-kata Kegiatan politik dan Keamanan politik di Indonesia bukanlah kegiatan jégal-jégalan, melainkan kegiatan aktif simultan, aktif bersama-sama memper-tumbuhkan dan melaksanakan Ordening Baru!

Maka, jikalau demikian Kegiatan politik dan Keamanan politik, jikalau demikian Demokrasi Terpimpin, maka Demokrasi Terpimpin kita itu tegas-nyata mempunyai dua unsur, unsur “demokrasi”, dan unsur “terpimpin”. Kita tidak boleh hanya melihat satu unsur saja, yaitu demokrasi tok atau terpimpin tok. Kedua-dua unsur itu adalah dua unsur yang tak terpisah-pisahkan, dua unsur yang bergandengan mutlak satu sama lain, dua unsur loro-loroning-atunggal.

Demokrasi tok bisa nyeléwéng ke liberalisme, terpimpin tok bisa menyeléwéng ke diktatur fasis.

Demokrasi terpimpin “loro-loroning-atunggal”, berarti: ada demokrasi-nya dan ada terpimpinnya, ada terpimpinnya dan ada demokrasinya, oleh karena ia adalah demokrasi pelaksana daripada A.P.R, yaitu Amanat Penderitaan Rakyat. la harus diharmonisir dengan A.P.R, ia adalah satu bagian mutlak, satu integrerend deel daripada pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat. Jika tidak, dia akan kehilangan dasar, kehilangan tujuan. Demokrasi terpimpin, karena itu, harus pula ditujukan untuk melindungi dan menambah hak-hak bagi si Rakyat, – si Jelata, si Marhaen, si Murba, si Tani, si Proletar. Bersamaan dengan itu, dia harus ditujukan pula untuk mengurangi atau menghapuskan hak-hak yang berlebih-lebihan daripada kaki-tangan-kaki-tangan imperialis dan kaum kontra-revolusioner, kaum anti progresi dan kaum penghisap Rakyat. Jangan diputar! Jangan dibalik! Kalau dibalik, nanti A.P.R. bukan berarti Amanat Penderitaan Rakyat, tetapi Amanat Penindas Rakyat!

Atas dasar Kegiatan Politik dalam arti aktif simultan melaksanakan bersama-sama Amanat Penderitaan Rakyat atas dasar-dasar R.I.L. atau Ordening Baru itulah, maka kita memasukkan Angkatan Bersenjata dalam penghidupan politik. Atas dasar itulah kita melepaskan Trias Politica, – itu pepundén-keramatnya kaum ilmu-ketatanegaraan cekokan Barat. Dalam alam Demokrasi Terpimpin kita tak usah takut bahwa bayonet akan merebut kekuasaan, oleh karena politik dalam Demokrasi Terpimpin bukanlah untuk merebut kekuasaan. Dalam alam Demokrasi Terpimpin kita mengambil segala manfaat dan mengumpulkan segala kemampuan-politik dari Angkatan Bersenjata, yang memang dilahirkan di alam Revolusi Rakyat, dan yang di dalam guerrilla menghantam kebuasan Belanda dan di dalam operasi-operasi militer menghantam pemberontak dan gerombolan, selalu harus hidup dan berjoang berdampingan dengan Rakyat. Mereka tentunya cukup mengerti jeritan Rakyat, cukup mengerti penderitaan Rakyat, cukup mengerti Amanat Penderitaan Rakyat!

Mereka adalah alat Revolusi, mereka adalah Angkatan Bersenjatanya Revolusi. Mereka harus setia kepada sumbernya, yaitu Revolusi, yaitu Rakyat. Mereka harus mengabdi kepada Rakyat, mendahulukan kepentingan Rakyat daripada kepentingan lain-lain. Mereka tak boleh melukai perasaan dan hati Rakyat, mereka harus menjadi Angkatan Bersenjata yang disukai dan dicintai Rakyat. Sebagai di muka sudah saya katakan, Rakyat sudah menerima Manipol sebagai pimpinan politiknya, maka Angkatan Bersenjatapun harus menerima Manipol juga, dan menerimanya dengan sepenuh-penuh hati. Rakyat sudah dipimpin oleh Manipol, maka Angkatan Bersenjatapun harus dipimpin oleh Manipol. Sekali lagi saya ulangi di sini: bukan Angkatan Bersenjata atau bedil yang memimpin Manipol, tetapi Manipol yang memimpin Angkatan Bersenjata dan bedil!

Jangan diputar, jangan dibalik! Pembalikan berarti penyeléwéngan kepada fasisme. Bedil di tangan Angkatan Bersenjata harus ibarat bedil di tangan Rakyat, untuk melindungi hak-hak Rakyat dan untuk mempertahan-kan Negaranya Rakyat dan Revolusinya Rakyat.

Dalam Revolusi kita sekarang ini, dan seterusnya, tidak boleh ada antagonisme atau kontradiksi antara Angkatan Bersenjata dan Rakyat!   .....selanjutnya>>>

 

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 247 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar