Home » 2016 » August » 12 » Prolog
8:27 PM
Prolog

"Matahari tidak terbit karena ayam jantan berkokok, tetapi ayam jantan berkokok karena matahari terbit."  (Bung Karno)

Dengan mengawali diri memohon perlindungan Allah dari segala bisikan syaitan yang keji, dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim untuk mensucikan niat diri dari segala kecenderungan yang kotor, saya pun memantapkan diri untuk memulai menulis buku ini. Hadirnya buku ini saya maksudkan dan niatkan untuk menyapa para muslimin di Indonesia dengan penuh harap agar sekiranya kita dapat bersama menjadi orang-orang yang peduli atas keadaan bangsa dan negara ini. Umat Islam sebagai umat terbesar di bumi Indonesia ini tentulah sangat ditunggu peran dan kontribusinya bagi bangsa ini. Dapat kita katakan bahwa kebangkitan umat Islam bersama ajaran Islam yang penuh damai dan cinta itu menjadi salah satu kunci utama bagi terwujudnya keadilan dan kemakmuran di negeri tercinta ini.

Perlu saya katakan di sini bahwa tidak sedikitpun saya, melalui hadirnya buku ini, bermaksud untuk menggurui seorang jua pun. Tentulah saya menyadari betul bahwa masih banyaklah hal yang belum saya pahami dengan baik tentang Islam. Tentu masih banyaklah juga hal yang belum saya pahami dengan baik tentang Nasionalisme Indonesia. Buku ini semata-mata lahir dari keresahan hati melihat keterpisahan umat Islam Indonesia dari kesejatian ajaran agamanya sendiri dan keterpisahan umat Islam Indonesia dari ideologi bangsanya sendiri yang sesungguhnya sangatlah Islami. Melalui buku inilah saya bermaksud menyampaikan apa yang saya lihat dan apa yang saya pahami terkait dengan Islam dan Nasionalisme Indonesia. Bahwa sejauh pengelihatan dan pemahaman saya, dapatlah saya katakan bahwa ketika datang saatnya bagi umat Islam Indonesia menyadari dengan sepenuh sadar akan betapa sangat Islaminya ideologi bangsa ini, saat itulah awal kebangkitan “Indonesia Baru” akan dimulai. Indonesia yang cinta damai, Indonesia yang penuh toleransi, Indonesia yang tumbuh dalam semangat persatuan dan persaudaraan, Indonesia yang berdaulat dan martabat dan Indonesia yang adil dan makmur.

“…yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka.”  (Bung Karno)

Sebuah ironi besar tentunya menyaksikan keadaan bangsa yang dikaruniai sumberdaya dan kekayaan alam yang berlimpah-ruah ini masih menyisakan banyak sekali kemiskinan dan kelaparan di negerinya. Adalah sebuah ironi pula melihat sebuah bangsa yang sangat agamis ini; bangsa yang mewarisi bebagai ajaran luhur dari para nabi, mewarisi hikmah dan kebijaksanaan hidup dari para leluruh negeri ini, masih terjebak dalam praktek-praktek dan perilaku yang menyimpang dalam berbagai aspeknya. Penyimpangan berjalan bahkan di dalam lingkungan paling tinggi dalam tatanan negeri ini yang dihuni oleh para wakil rakyat yang semestinya adalah orang-orang terbaik bangsa ini, dan bahkan juga sampai dengan lingkungan terhormat seperti lembaga keagamaan dan pendidikan yang juga masih kita dapati banyak diwarnai oleh praktek dan perilaku yang menyimpang tersebut. Tentu tidaklah juga kita abaikan bahwa kita punya banyak berita baik tentang negeri ini. Kita punya banyak juga catatan dan prestasi yang menggembirakan yang membuat kita boleh berbangga atas negeri ini. Namun segala kebaikan yang telah kita raih hari ini itu masihlah sangat belum memadai; masihlah belum signifikan untuk membawa negeri ini kepada cita-cita luhurnya. Tidaklah perlu tentunya kira uraikan di sini tentang banyaknya perilaku korup dan menyimpang para wakil rakyat kita, para penjabat negara kita, para birokrat kita, para praktisi di dunia pendidikan kita, para pemegang tongkat penjaga dan pengaman negeri ini serta bahkan lembaga-lembaga agama yang dihuni oleh para ulama. Tidaklah perlu juga kita uraikan bagaimana kejahatan dan tindakan amoral mulai dari penyalahgunaan narkoba, kriminalistas sampai dengan kejahatan seksual yang terjadi di nyaris dalam segala lapisan masyarakat kita. Bukan saja terjadi di lingkungan para publik figur, tapi bahkan terjadi sampai ke kalangan anak-anak sekolah dasar. 

“Suatu masyarakat yang benar-benar membuat Bangsa Indonesia ini suatu bangsa yang terdiri daripada ratusan juta “Insan Al-Kamil” yang hidup bahagia dibawah kolong langit buatan Allah SWT.” 

(Bung Karno)

Ada yang salah tentunya dengan negeri ini. Dengan negeri yang nyaris saja menjadi mulai terbiasa dan nyaman menyaksikan kemiskinan terjadi di sekitarnya. Dengan negeri yang nyaris saja memandang wajar atas segala bentuk kejahatan dan tindakan amoral yang terjadi di dalam rumahnya sendiri. Penting untuk kita sadari dengan sebaik-baiknya kesadaran bahwa ketika Bung Karno menetapkan prinsip kesejahteraan bagi Indonesia, yakni: “tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka”, ketahuilah bahwa saat itu Bung Karno tidaklah sedang bersenda gurau. Tidaklah Bung Karno sedang berkhayal. Tidaklah Bung Karno sedang terbuai dalam angan dan mimpi kosong. Tidak! Hal itu terlontar dari mulut Bung Karno dengan sepenuh sadar dan keyakinan bahwa memang demikianlah harusnya yang terjadi di dalam Indonesia Merdeka ini. Dan tidaklah juga Bung Karno mengada-ada ketika beliau mengimpikan bangsa Indonesia menajadi bangsa yang terdiri dari ratusan juta Insan Al-Kamil. Karena memang bangsa Indonesia benar-banar bangsa yang berpotensi menjadi sebuah bangsa yang sangat berbudi perkerti yang luhur.

Lalu salah siapakah semua ini? Kesalahan siapakah yang telah menjadi sebab negeri ini masih menjadi negeri dengan jutaan rakyatnya yang miskin? Masih menjadi negeri yang belum dapat disebut berbudi pekerti yang luhur? Salah pemerintahkah? Salah para wakil rakyatkah? Salah para politikuskah? Salah partai-partaikah? Salah para ulamakah? Atau salah bangsa-bangsa asing yang masih bercokol mengeksploitasi negeri inikah? Tentu saja harus kita katakan bahwa semua ini adalah kesalahan kita semua. Semua ini adalah kesalahan saya dan anda. Kesalahan kita semua putera-puteri Ibu Pertiwi yang telai lalai dalam mengemban tugas dan amanat sebagai pandu bagi sang ibu. Kesalahan kita semua yang telah durhaka dan berdosa karena mengabaikan sang ibu yang dirundung duka. Kesalahan kita yang belum juga menerima dan mencintai sang ibu dengan segenap jiwa. Kesalahan kita yang masih saja diliputi rasa enggan untuk menjaga dan membela martabat dan kehormatan sang ibu. Untuk memuliakan Ibu Pertiwi ini.

“Bacalah dalam nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”  (QS. Al-Alaq [96]:1-5)

Segala kenyataan yang demikian atas negeri ini membuat kita harus kembali ber-iqra. Harus kembali mengintrospeksi diri. Harus kembali membaca dan menelaah dengan seksama. Dan, dengan cara yang bagaimanakah kita harus ber-iqra? Dengan mengacu dan merujuk kepada apakah kita melakukan introspeksi diri? Haruslah kita ber-iqra di dalam dan dengan merujuk pada nama Allah. Kepada ajaran Allah yang menciptakan. Kepada kebenaran yang telah Allah sisipkan di dalam proses penciptaan kita. Kepada sejarah kejadian dan penciptaannya umat manusia. Kepada sejarah dan penciptaannya bangsa Indonesia ini. Di dalam sejarah itulah terkandung kebenaran dan nilai-nilai ajaran-Nya yang telah teruji waktu. Karena melalui bahasa kalam; melalui bahasa tanda; melalui bahasa kejadian Allah mendidik manusia untuk mengetahui apa yang belum diketahuinya. Melalui sejarah kejadian dan penciptaannya umat manusialah kita dapat memahami apa yang Allah kehendaki terhadap umat manusia. Melalui sejarah kejadian dan penciptaannya bangsa Indonesialah kita dapat memahami apa yang Allah kehendaki terhadap bangsa ini.

Buku ini tentu saja tidaklah dapat menjangkau secara lengkap mengenai sejarah kejadian dan penciptaan umat manusia. Buku ini pun tentulah tidak pula dapat menjangkau secara total mengenai sejarah kejadian dan penciptaannya bangsa Indonesia. Buku ini hanya berisi hal-hal mendasar, hal-hal penting yang berkenaan dengan sejarah kejadian dan penciptaannya umat manusia dan bangsa Indonesia. Yang melalui itu semoga kita dapat menemukan nilai-nilai, pengertian-pengertian dan butir-butir hikmah yang dengannya memungkinkan kita untuk memahami ajaran Islam secara lebih jernih dan dapat memahami ideologi bangsa ini secara lebih komprehensif. Hadirnya buku ini memanglah lebih ditujukan kepada umat Islam bangsa Indonesia. Umat yang paling banyak mengisi petak tanah di negeri ini. Umat yang paling banyak menyusu dari Ibu Pertiwi ini. Meski Nabi Muhammad telah meramalkan bahwa akan tiba waktu dimana umat Islam menjadi seperti buih di lautan, namun hendaklah kita menyadari bahwa melalui itu sesungguhnya Nabi Muhammad hendak menggetarkan hati kita agar tidak terus terlelap dalam kenyamanan dunia. Agar tidak terus terlena dalam ketidak-pedulian atas keadaan bangsa dan umat manusia. Semoga kita semua tidak menghabiskan hidup kita hanya dengan menjadi buih di lautan yang terobang-ambing oleh arus dan gelombang kehidupan. Dan semoga kita tidak pula seperti ayam jantan yang tidak mampu berkokok di saat matahari terbit. Berkokoklah!

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 202 | Added by: edys | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar