Home » 2016 » August » 10 » Persatuan Adalah Syariat Yang Paling Inti Dalam Agama
1:57 PM
Persatuan Adalah Syariat Yang Paling Inti Dalam Agama

“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”  (QS. Asy Syuura [42]:13)

Tentang agama itu telah ada pensyariatan untuknya yang Allah tetapkan. Telah Allah wahyukan tentang pensyariatan agama itu kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana telah Allah wasiatkan tentang hal yang sama itu kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan juga Isa. Yaitu bahwa agama itu harus ditegakkan dan bahwa agama itu harus bersifat mempersatukan. Agama itu tidaklah boleh menjadi sumber perpecahan. Dengan kata lain, bahwa penegakan agama itu haruslah merupakan sebuah upaya untuk membangun syariat berkehidupan yang mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia. Agama haruslah menjadi sistem hidup yang menumbuh-kembangkan kasih sayang diantara umat manusia. Sistem hidup yang dapat membuat manusia saling peduli dan saling jaga satu dengan yang lain. Jadi adalah sangat keliru tentunya jika hari ini kita mendapati bagaimana agama justru telah banyak menjadi sebab permusuhan dan peperangan. Agama tentu seyogianyalah menjadi garda terdepan dalam upaya mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia. Karena agama hadir membawa nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sangatlah tidak masuk akal jika agama yang datang dengan membawa ajaran Rahman dan Rahim itu tampil dalam wajah penuh kebencian, arogan dan menjadi penabur benih-benih perpecahan dan permusuhan.

Agama itu sendiri sebenarnya datang membawa sesuatu yang sangat humanis. Sesuatu yang mendamaikan, sesuatu yang menentramkan dan sesuatu yang dirindukan oleh jiwa-jiwa manusia. Agama mengajak manusia berkasih sayang dan membangun kesejahteraan hidup bersama. Bagi orang-orang yang hatinya memang telah mengenal kasih sayang, tentulah akan cenderung ia kepada agama. Namun bagi mereka yang hatinya masih dipenuhi dengan kebencian dan keserakahan memang akan lebih memilih bersikap antipati terhadap agama. Hal tersebut memanglah telah menjadi sebuah masalah klasik yang terus berulang. Akan tetapi dalam kenyataan yang kita hadapi hari ini, kita dihadapkan pada permasalahan yang bukan saja hanya berkenaan dengan itu. Hari ini kita juga dihadapkan pada masalah yang berkenaan dengan adanya banyak dari para pemeluk agama yang telah salah dan keliru dalam menafsirkan ajaran agamanya. Dimana hal tersebut telah menjadi sebab timbulah perpecahan yang amat serius dalam tubuh umat manusia. Perpecahan ini bukan saja terjadi diantara mereka yang berbeda agama tapi juga terjadi bahkan atas mereka yang satu agama. Bukan saja hanya orang Islam dan non-Islam yang bersilang pandangan sampai dengan saling mengkafirkan, bahkan sebagai mana kita tahu diantara kita yang sama-sama beragama Islam pun cukup banyak terdapat silang pandangan dan juga sampai pada taraf saling mengkafirkan antara golongan yang satu dengan golongan yang lain.

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).  (QS.23:53)

Istilah agama Tauhid itu sendiri bukan saja yang bermakna bahwa kita harus menyembah dan tunduk kepada Tuhan yang satu, melainkan ini juga berarti kita harus menjadi satu kesatuan ummat. Agama tauhid itu berdiri di atas keyakinan bahwa seluruh alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan yang satu. Tidak ada Tuhan lain selain Tuhan yang satu itu. Selain Tuhan semesta alam itu. Dan dari itu maka menjadi pastilah bahwa kebenaran itupun sesungguhnya satu adanya. Tidaklah mungkin ada kebenaran yang lain bagi manusia selain kebenaran yang satu itu. Penting saya rasa bagi kita untuk memahami bahwa keberadaan satu-satunya Tuhan di alam semesta ini membuat kita yakin bahwa penciptaan alam semesta bersama dengan seluruh isinya ini adalah merupakan satu kesatuan paket penciptaan. Dimana hal ini berarti bahwa seluruh manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, matahari, bulan, bintang-bintang dan seluruh yang ada di alam semesta ini sesungguhnya merupakan satu kesatuan penciptaan yang tidak dapat terpisahkan satu sama lain. Tiap-tiap keberadaan menjadi bergantung dengan keberadaan yang lain. Tiap-tiap sesuatu ada untuk membentuk satu harmoni yang menyebabkan dapat terjaganya keseimbangan semesta alam. Manusia tidak bisa hidup tanpa dukungan alam dan demikian juga alam membutuhkan manusia dalam menjaga keseimbangan dan kelestariannya.

Demikian pula halnya jika kita bicara dalam lingkup umat manusia saja. Manusia sesungguhnya diciptakan sebagai umat yang satu; yang keberadaannya harus saling mendukung dan menopang satu sama lain. Umat manusia ditakdirkan hanya dapat mencapai kesejahteraan dan kedamaian jika mereka bersatu dan bersaudara. Sebaliknya jika manusia berpecah-belah dan saling musuh-memusuhi satu sama lain, maka pastilah akan muncul penderitaan dan kerusakan akibat dari itu semua. Kita dapat melihat dari sejarah panjang peradaban umat manusia bagaimana besarnya penderitaan dan kerusakan yang timbul ketika manusia memilih untuk saling memerangi dan menghacurkan satu sama lain. Sungguh harulah kita imani bahwa menjadi satu kesatuan umat adalah fitrah; adalah kodrat bagi umat manusia.

Mempersatukan umat manusia inilah sebenarnya menjadi maksud dari kedatangan para nabi. Inilah sesungguhnya inti dari pada penegakan agama itu. Segala macam peraturan dan syariat yang dibentuk dan diadakan sesunggunya adalah untuk menjadi jalan mempersatukan itu. Itu adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menghantarkan manusia kepada kemanusiaannya. Menghantarkan manusia pada kesadaran akan kodrat dan fitrahnya untuk hidup dalam kasih sayang satu sama lain. Persatuan dan kesatuan umat inilah yang harus senantiasa menjadi perhatian kita jika kita hendak mewujudkan kehidupan yang adil dan makmur di bumi ini. Tanpa terwujudnya persatuan dan kesatuan umat, maka dapatlah kita katakan bahwa adalah mustahil pula akan dapat terwujudnya kehidupan yang adil dan makmur itu. Kita tidak bisa dan tidak boleh menjadikan urusan beragama ini hanyalah sebatas urusan ibadah-ibadah ritual saja. Kita harus betul-betul membawa nilai-nilai agama dalam perikehidupan kita agar denganya dapatlah kita mengenali hakekat dan kodrat kita yang harus hidup bersama. Bahkan sebenarnya jika kita mengerti, menjadi benar-benar Tauhidnya suatu agama itu adalah ketika telah menjadi nyata terwujudnya satu kesatuan umat. Selama kita masih berpecah-belah; masih hidup bergolong-golongan dengan saling bangga membanggakan golongannya itu sebenarnya kita belum bertauhid. Kita belum berada dalam agama yang tauhid itu. Dan bahkan lebih jauh lagi dari itu, sesungguhnya hidup berpecah belah itu; hidup bergolong-golongan itu adalah kemusyrikan. Coba kita perhatikan ayat berikut ini.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.  (QS. Ar Ruum [30]:31-32)

Sungguh perkara persatuan ini adalah sebuah perkara yang amat penting. Dan sungguh sebenarnya hidup berpecah belah itu adalah sebuah dosa besar dan kemusyrikan. Dengan hidup bergolong-golongan dan saling membanggakan golongannya itu adalah sama saja kita mengatakan Tuhan itu tidak Esa. Seolah-olah tiap-tiap golongan itu memiliki kebenarannya sendiri yang berbeda dengan golongan yang lain. Seolah-olah tiap-tiap golongan itu memiliki Tuhannya sendiri yang berbeda dengan Tuhan golongan yang lain. Jika kita berkata bahwa Allah itu Esa, bagaimana bisa kita memecah-mecah kebenaran itu. Bagaimana bisa kita saling mengklaim bahwa kita adalah golongan yang paling benar dari pada golongan-golongan yang lain? Bukankah Tuhan itu satu adanya? Bukankah mestinya kebenaran pun tidaklah mendua? Tentang hal ini sangatlah tidak boleh kita abai dengannya. Ini adalah perkara yang amat serius. Inilah bagian paling penting dalam penegakan agama itu. Agama bukan alat untuk saling membangga-banggakan diri. Agama adalah jalan bagi umat manusia untuk mencapai hidup yang selamat, damai dan sejahtera.

Ada sebuah hadist nabi yang sangat penting untuk kita perhatikan dan pahami dengan seksama. Hadist ini mungkin tidaklah asing bagi kita semua. Hanya saja menurut hemat saya, pesan yang disampaikan melalui hadist ini belumlah mendapat perhatian yang serius dari kita umat Islam. Dari kita para pengikut Rasulullah Muhammad saw.

عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .

“Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “AL-JAMA’AH.”  (HR. Abu Dawud)

Sengaja saya sertakan juga bahasa Arabnya di sini agar mereka yang memahami bahasa Arab dapat meneliti pesan penting dalam hadist ini secara lebih mendalam. Hadist ini tentulah sebuah pesan yang amat serius untuk menjadi perhatian kita umat Islam. Karena hadist ini berbicara tentang siapa yang akan akan selamat dan siapa yang tidak selamat. Siapa yang benar dan siapa yang tidak benar. Siapa yang akan menjadi penghuni neraka dan siapa yang akan menjadi penghuni surga. Dikatakan di dalam hadist tersebut bahwa ummat akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan dan tujuh puluh dua golongan dari mereka itu akan masuk neraka. Mereka inilah golongan yang tidak benar itu. Mereka inilah golongan yang tidak selamat itu. Tapi ada satu golongan yang dikatakan akan masuk surga. Siapakah golongan yang akan masuk surga itu? Dikatakan di dalam hadist itu, ialah Al-Jama’ah. Pertanyaannya kemudian adalah siapakah Al-jama’ah itu? Inilah yang harus kita teliti dengan cermat agar kita tahu jalan seperti apakah yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Agar kita tahu bagaimanakah kita harus bersikap. Bagaimanakah kita harus menjalani kehidupan beragama kita ini.

Dari kata جمع ada dikatakan: جمع المتفرقة yang berarti “menyatukan yang berpecah-belah”. Ada juga dikatakan الجماعة ضد الفرقة yang berarti “jamaah lawan dari berpecah-belah”. Dari ini kita dapat memahami siapa yang dimaksud dengan Al-jama’ah itu. Kita menjadi paham bahwa mereka yang dimaksud dengan Al-jama’ah itu; mereka yang disebut akan selamat dan masuk surga itu adalah mereka yang mempersatukan. Maka, selama kita berpecah belah; selama kita terus hidup bergolong-golongan dan saling membangga-banggakan golongan, dari golongan yang manapun kita, maka kita tidaklah termasuk mereka yang selamat itu. Menjadi amat jelaslah bagi kita dengan ini bagaimana seharusnya kita beragama dan sesungguhnya apa hal yang paling inti dari maksud kedatangan agama itu. Maka hendaklah kita benar-benar harus menaruh perhatian yang serius terhadap upaya mempersatuakan ummat ini. Disinilah letak bertauhidnya kita. Janganlah kita hanya meng-esa-kan Allah sebatas di bibir saja. Tapi hendaklah kita mengimplementasikan ke-esa-an Allah itu dalam realita kehidupan kita. Yaitu dengan cara membangun sebuah syariat hidup; membangun sebuah sistem berkehidupan yang benar-benar dapat mempersatukan dan mempersaudarakan kita semua.

Pertanyaan pentingnya kemudian dengan cara bagaimanakah kita mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia itu? Di tengah realita kehidupan kita yang amat majemuk ini, dimana manusia dari berbagai latar belakang suku, ras dan agama itu hidup bercampur baur dengan sedemikian rupa, sistem berkehidupan yang seperti apakah yang harus kita bangun agar ia menjadi sebuah sistem yang berkarakter mempersatukan dan mempersaudarakan itu? Mari kita lihat tentang apa yang telah Allah jelaskan kepada kita prihal keberagaman dan kemajemukan kita ini dan bagaimana kita semestinya mensikapi keberagaman kita itu.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.  (QS. Al-Hujuraat [49]:13)

Dari ayat di atas kita dapat melihat bahwa perbedaan dan keberagaman merupakan bagian dari ketetapan Allah atas manusia. Ini merupakan sunnatullah. Perbedaan dan keberagaman adalah hal yang tidak bisa kita tolak. Perbedaan suku, ras bangsa dan bahkan perbedaan agama sekalipun haruslah juga kita pahami bukanlah sebuah ukuran mulia tidaknya seseorang. Tuhan tidak melihat orang dari semua itu. Ukuran kemulian seseorang di hadapan Allah adalah ketakwaannya. Seberapa besar baktinya kepada Allah dan seberapa besar baktinya untuk kehidupan ini. Seberapa bermanfaat ia bagi kehidupan ini. Seberapa besar kebaikan yang telah ia buat bagi kehidupan ini.

Hal lain yang juga harus kita pahami adalah bahwa perbedaan dan keberagaman kita itu tidaklah dimaksudkan untuk menjadi sumber perselihan dan permusuhan. Tentu Tuhan tidaklah menciptakan kita untuk saling bertengkar satu sama lain; tidak untuk saling menyakiti satu sama lain; tidak juga untuk saling memerangi satu sama lain. Adalah sebuah kepastian bahwa Allah menghendaki agar umat manusia dapat membangun hidup bersama dengan saling berbagai kasih, berbagi kebahagiaan dan berbagi kesejahteraan. Semua perbedaan yang ada pada kita itu, apapun itu, dimaksudkan agar kita saling mengenal satu sama lain. Agar kita saling mempelajari satu sama lain. Agar kita saling memahami satu sama lain. Agar kita saling mengagumi keunikan penciptaan satu sama lain. Agar dengan itu kita menjadi kaya, lengkap, utuh, bijaksana dan sempurna sebagai kesatuan umat. Bukankah seberapapun berbedanya kita sesungguhnya kita adalah manusia yang sama? Bukankah kita semua bermula dari diri yang satu? Dari nenek moyang yang sama? Bukankah jauh dilubuk hati setiap kita tersimpan ukuran kebenaran yang sama? Bukankah kita adalah manusia yang di dalam jiwanya itu memiliki denyut kebutuhan, kecenderungan serta memiliki rasa kemanusiaan dan rasa keadilan yang sama? Jadi, dari itu semua, dapatkah kita menemukan satu saja alasan yang membolehkan kita untuk saling memusuhi dan menyakiti satu sama lain karena segala perbedaan kita itu? Dapatkah kita menemukan satu saja alasan yang membolehkan kita untuk tidak membangun sebuah sistem berkehidupan yang dapat menjamin rasa keadilan dan kebutuhan akan kesejahteraan hidup bersama? Kenapakah tidak kita temukan nilai-nilai kebenaran yang sama yang dapat kita bersepakat dengannya, dan kenapakah tidak kita secara bersama-sama membangun sebuah sistem berkehidupan yang benar-benar dapat menjamin rasa kemanusiaan dan rasa keadilan kita semua secara adil dan seimbang?

Jadi, marilah kini kita tanggalkan segala rupa ego, kesombongan dan keserakahan kita yang merusak itu. Marilah kita hormati nilai-nilai kebenaran yang Tuhan telah tanam di dalam jiwa tiap-tiap kita. Marilah kita lupakan segala perbedaan yang kita punya. Marilah kita berdiri setara sebagaimana Allah menganggap kita setara dihapan-Nya. Marilah kita tidak mengukur kemuliaan seorang manusia dari apa sukunya; dari apa ras bangsanya; dari apa kepercayaan yang dianutnya. Marilah kita bersama-sama membentuk sebuah sistem berkehidupan yang memuliakan setiap orang menurut amal baktinya. Menurut ukuran yang seadil-adilanya. Marilah kita kita ciptakan sistem berkehidupan yang dapat menjamin keadilan bagai setiap orang dengan sebenar-benarnya. Marilah kita wujudkan sebuah tatanan masyarakat yang menjunjung tinggi dan menghormati hak setiap orang sebagai manusia terlepas dari apa suku, ras bangsa dan kepercayaan yang dianutnya. Bukankah menegakkan keadilan yang setara terhadap setiap orang terlepas dari apapun golonganya adalah dipandang Allah sebagai sebuah jalan yang lebih dekat kepada takwa?

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  (QS. Al-Maidah [5]:8)

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 171 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Kesatuan, Nasionalisme, Persatuan, Agama, Islam dan Nasionalisme Indonesia, indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar