Home » 2017 » November » 24 » Penemuan Kembali Revolusi Kita (The Rediscovery of Our Revolution)
2:50 PM
Penemuan Kembali Revolusi Kita (The Rediscovery of Our Revolution)

<<sebelumnya......  Apa yang kita namakan Pemerintah yang stabil? Pemerintah yang stabil menurut faham kita ialah Pemerintah yang berwibawa, yang dapat bekerja tenang-teguh bertahun-tahun, tanpa setiap hari Rebo Wage atau setiap hari Sabtu Paing dijatuhkan oleh oposisi, Pemerintah yang dapat bekerja tenang-teguh, tidak untuk menjamin kepentingan modal asing, tetapi untuk menjamin sandang-pangan bagi Rakyat!

Ya, biar kaum imperialis gègèr! Kita berjalan terus! Biar anjing menggonggong, kafilah kita tetap berlalu!

Kita tetap melanjutkan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin sebagai “tool” untuk memberi pimpinan dalam tingkatan Revolusi kita sekarang ini, agar supaya Revolusi kita itu nanti dengan lancar dapat memasuki fasenya sosial-ekonomis, yaitu pembinaan masyarakat yang adil dan makmur. Kita tetap menjalankan retooling di segala lapangan, sambil membangunkan pula tool-tool baru yang perlu. Kita membentuk Kabinet Kerja, satu kabinet stijl baru, dengan programnya yang termasyhur, yaitu sandang-pangan, keamanan, melanjutkan perjoangan anti-imperialis. Program ini amat sederhana, amat tidak muluk-muluk, tetapi amat realistis, dan amat penting dan amat fundamentil untuk kelanjutan Revolusi. Kalau kita hendak bekerja untuk realisasi masyarakat adil dan makmur, maka tiga hal yang tercantum dalam program kabinet itu harus kita realisasikan lebih dahulu. Tak dapat kita sebagai bangsa membina suatu masyarakat baru yang lengkap modern dan adil, kalau Rakyat tidak tercukupi minimal iapunya sandang dan iapunya pangan. Tak dapat, tak mungkin, masyarakat baru semacam itu tersusun, kalau Rakyat yang harus menjusunnya itu tak mempunyai kain untuk menutupi tubuhnya, kalau ia tak dapat bernaung sekadarnya daripada hujan dan teriknya matahari, kalau perutnya keroncongan karena tiada beras untuk mengisinya. Tak dapat pembangunan semesta untuk masyarakat adil dan makmur berjalan baik, kalau keamanan selalu terganggu. Tak dapat kita mengambil manfaat seratus persen daripada kekayaan bumi dan air kita sendiri, kalau imperialisme ekonomi dan imperialisme politik masih bercokol di tubuh kita, laksana lintah yang menghisap darah, atau kemladean yang membinasakan pohon. Program kabinet ini amat sederhana, tetapi sungguh ia amat-amat fundamentil sekali!

Baik saya tandaskan di sini, bahwa 3 fasal program Kabinet itu memang belum dan bukan masyarakat yang adil dan makmur. Masyarakat yang adil dan makmur bukan hanya berisi cukup sandang-pangan saja, apalagi kalau sandang-pangan itu sekadar bersifat minimum. Masyarakat adil dan makmur adalah masyarakat yang teknis tinggi, lengkap modern sampai ke puncak-puncak gunung, lengkap modern materiil dan kulturil, dengan pengecapan oleh seluruh Rakyat secara adil.

Program Kabinet tidak menyanggupkan masyarakat yang demikian itu.

En toh, – jangan saudara-saudara mengira bahwa Kabinet Kerja ini, karena programnya terdiri hanya dari sandang-pangan, keamanan, dan perjoangan anti-imperialis tok, dus secara sempit hanya mengerjakan tiga hal itu saja, dan tidak mengerjakan hal-hal lain yang bersangkutan dengan cita-cita Revolusi. Ambillah misalnya sandang-pangan. Apakah dus Kabinet Kerja hanya bekerja mengikhtiarkan supaya Rakyat di mana-mana bisa membeli beras-garam-gula-kopi-minyak-ikan asin saja, plus sekian meter kain buat setiap orang setiap tahun, dan tidak memfikirkan hal-hal ekonomi yang lain? Kita tidak sesempit itu! Program adalah penonjolan ikhtiar yang paling mendesak, penonjolan ikhtiar yang paling urgent. Di samping program itu, adalah banyak lagi hal-hal yang harus dikerjakan; memang persoalan-persoalan kita sebagai bangsa yang ber-revolusi adalah persoalan-persoalan yang jalin-menjalin, persoalan-persoalan yang amat kompleks, persoalan-persoalan yang tak dapat dipisahkan satu daripada yang lain. Kita hanya dapat menonjolkan sesuatu persoalan daripada persoalan-persoalan yang lain, sebagai satu persoalan yang paling urgent, tetapi kita tidak dapat melepaskannya dari persoalan-persoalan yang lain.

Misalnya persoalan ekonomi kita bukan hanya persoalan “sandang-pangan” saja. Persoalan ekonomi kita adalah persoalan yang lebih luas daripada itu. Kini benar-benar sudah tibalah waktunya untuk mulai mempraktekkan beberapa semboyan ekonomi. Misalnya semboyan “merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi-nasional”, sekarang harus dinaikkan kepada tingkat yang lebih tinggi. Semboyan “merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi-nasional” harus kita naikkan tingkat dari semboyan yang diserukan, menjadi semboyan yang mulai dipraktekkan! Pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda dalam rangka perjoangan pembebasan Irian Barat adalah satu langkah yang amat penting sekali. Tetapi belum semua modal Belanda diambil-alih, belum semua perusahaan Belanda dinasionalisir. Padahal sikap Belanda dalam hal Irian Barat tetap membandel! Saya lantunkan sinyalemen di sini, bahwa jika Belanda dalam soal Irian Barat tetap membandel, jika mereka dalam persoalan claim nasional kita tetap berkepala batu, maka semua modal Belanda, termasuk yang berada dalam perusahaan-perusahaan-campuran, akan habis-tamat riwayatnya samasekali di bumi Indonesia!

Dan bergandengan dengan ini, kepada alap-alap kapitalis bangsa sendiripun saya lantunkan penegasan bahwa sesuai dengan fasal 33 UndangUndang Dasar ’45 ayat 2 dan ayat 3, cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hadjat-hidup orang banyak, akan dikuasai oleh Negara, dan tidak akan dipartikelirkan!

Dan terhadap kepada modal asing bukan Belanda saya tegaskan di sini bahwa mereka harus mentaati ketentuan-ketentuan Republik. Jangan mereka menjalankan peranan yang negatif. Jangan mereka mencoba-coba memperdayakan Republik. Jangan mereka membantu gelap-gelapan kepada kontra-revolusi, jangan mereka menjalankan sabotase-sabotase ekonomi. Meski kita berdiri di atas prinsip, bahwa untuk pembangunan kita memberikan prioritas kepada modal sendiri, dan bahwa jika toh diperlukan modal dari luar, kita mengutamakan kredit daripada penanaman modal asing, – dan prinsip ini saya tandaskan lagi di sini -, meski demikian, kita toh cukup toleran terhadap kepada modal asing bukan Belanda yang sudah berada di sini dan yang mungkin akan ada di sini. Tetapi syarat mutlak bagi bolehnya modal asing itu bekerja di sini ialah bahwa mereka mentaati semua ketentuan-ketentuan Republik. Jika mereka tidak mentaati ketentuan-ketentuan itu, jika mereka menjalankan peranan yang negatif, jika mereka misalnya diam-diam menjalankan sabotase ekonomi atau secara gelap-gelapan memberi bantuan kepada kontra-revolusi, maka janganlah kaget, jika nanti Rakyat Indonesia memperlakukan mereka sama dengan modal yang asalnya dari negeri Belanda itu.

Saudara-saudara melihat, bahwa dus tidak benar, kalau dikira bahwa kita hanya mengikhtiarkan “sandang-pangan” saja. Demikian pula tidak benar, kalau orang mengira, bahwa, karena fasal 3 program kabinet berbunyi “melanjutkan perjoangan menentang imperialisme ekonomi dan imperialisme politik”, maka kita tidak akan mengambil pusing hal imperialisme-imperialisme lain, misalnya imperialisme kebudayaan. Saya telah memberi instruksi kepada menteri-muda Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan untuk mengambil tindakan-tindakan di bidang kebudayaan ini, untuk melindungi kebudayaan nasional dan menjamin berkembangnya kebudayaan nasional.

Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau yang tentunya anti imperialisme ekonomi dan menentang imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik, – kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansa-dansian á la cha-cha-cha, musik-musikan á la ngak-ngik-ngèk gila-gilaan, dan lain-lain sebagainya lagi? Kenapa di kalangan engkau banyak yang gemar membaca tulisan-tulisan dari luaran, yang nyata itu adalah imperialisme kebudayaan? Pemerintah akan melindungi kebudajaan Nasional, dan akan membantu berkembangnya kebudayaan Nasional, tetapi engkau pemuda-pemudi pun harus aktif ikut menentang imperialisme kebudayaan, dan melindungi serta mem-perkembangkan kebudayaan Nasional!

Khusus mengenai perjoangan Irian Barat, saya menyatakan di sini bahwa benar Pemerintah tidak akan memasukkan soal Irian Barat itu ke P.B.B. tahun ini. Tetapi itu tidak berarti, bahwa Pemerintah kendor dalam perjuangannya mengenai Irian Barat. Tidak! Samasekali tidak! Sebaliknya! Pemerintah memperhebat perjoangan Irian Barat itu di lapangan lain daripada P.B.B. Pemerintah memperhebat perjuangannya itu di lapangan ekonomi. Pemerintah mengakui bahwa perjoangan Irian Barat harus dilakukan di segala lapangan, ya di dalam negeri ya, di luar negeri, tetapi buat tahun ini Pemerintah mengkonsentrir perjoangannya melawan Belanda itu di lapangan ekonomi. Ingatlah kepada pemindahan pasar ke Bremen, ingatlah kepada keputusan kita untuk tidak mengakui ada hak eigendom Belanda lagi di atas sesuatu bidang tanah Indonesia, ingatlah kepada ucapan saya tadi, bahwa jika Belanda tetap membandel dalam persoalan Irian Barat, maka akan habis-tamatlah samasekali riwayat semua modal Belanda di Indonesia. Coba lihat nanti, fihak Belanda dan konco-konconya imperialis tentu akan gègèr-marah oleh keputusan-keputusan kita ini, dan kegègèran mereka itupun harus dan akan kita layani di dunia internasional. Pemerintah berpendapat lebih baik mengkonsentrir enersinya di luar negeri pada pelayanan kegègèran inilah, dan tidak memecah-mecah enersinya itu antara pelayanan kegègèran ini + perjoangan di P.B.B. Dan bagi P.B.B. sendiripun, sikap kita sekarang ini (untuk tidak memasukkan Irian Barat dalam acara P.B.B.), harus diberi arti yang langsung mengenai P.B.B. Saya harap P.B.B. dengan sikap kita sekarang ini mengerti, bagaimana perasaan kita terhadap kepada P.B.B. ! Mengenai Front Nasional Pembebasan Irian Barat, dengan terus terang saya katakan di sini, bahwa saya kurang puas dengan aksinya F.N.P.I.B. itu. Janganlah F.N.P.I.B. itu makin lama makin menjadi badan yang justru paling sedikit minatnya mengenai Irian Barat! Janganlah ia mengurusi hal-hal lain yang tidak langsung mengenai perjoangan Irian Barat, misalnya perusahaan perkapalan dan pelayaran, dan totalisator! F.N.P.I.B. harus mengkonsentrir dirinya pada menggelorakan massa untuk perjoangan Irian Barat!

Mengenai fasal 2 daripada Program, yaitu Keamanan, saya bisa memberitahukan kepada saudara-saudara sebagai berikut:

Dalam melaksanakan program keamanan Negara dan keamanan Rakyat harus diinsyafi, bahwa masih luas dan berat tugas kita. Keamanan Negara masih nyata menghadapi gerombolan-gerombolan pemberon-takan D.I., P.R.R.I./Permesta dan sisa-sisa R.M.S. dan K.R.Y.T. dari dalam, dengan aksi-aksi subversif asing dari dalam dan dari luar.

Beleid keamanan Pemerintah tetap tegas. Pemerintah meneruskan dan memperhebat operasi-operasi keamanan dengan pengerahan kekuatan alat-alat negara dan rakyat secara maksimal. Pemerintah tidak mau mengadakan perundingan atau kompromis dengan pemberontak. Di samping itu, setiap usaha dan jalan lain yang membantu operasi-operasi tersebut, untuk mempercepat hasil-hasil, dan mengurangi korban-korban, sudah tentu dipergunakan. Pemberontak yang insyaf-kembali dan menyerah tanpa syarat, dan ikhlas ingin kembali ke pangkuan Republik Indonesia ’45, mendapat perlakuan yang wajar.

Sebagai hasil-hasil penghebatan operasi-operasi belakangan ini, dan karena semangat kembali ke Undang-Undang Dasar ’45, maka jumlah mereka yang menghentikan perlawanan di Aceh dan Sulawesi terus bertambah.

Intensivering operasi-operasi keamanan dilaksanakan dalam batas-batas kemampuan kita yang maximal. Penambahan personil, materiil dan kesatuan-kesatuan daripada ke 3 Angkatan dan Kepolisian berjalan terus, walaupun dalam suasana finek Negara yang sulit. Kesulitan finek tersebut menyulitkan dengan sendirinya logistik A.P.R.I., serta menyulitkan penambahan kekuatan. Namun semangat ’45 dan moril prajurit-prajurit yang tetap tinggi merupakanlah modal yang utama, yang dengan ini perlu kita nyatakan penghargaan setinggi-tingginya. A.P.R.I. tidak mengenal istirahat tugas operasi sejak ’45. Namun semangat-berjoang dan semangat-berkorbannya tetap tinggi, walaupun keadaan peralatan dan perlengkapan A.P.R.I. dalam operasi-operasi menghadapi P.R.R.I./ Permesta adalah jauh di bawah norma-norma minimal yang lazim. Namun dengan semangat perjoangan ’45, prajurit-prajurit kita telah dapat menciptakan hasil-hasil yang membanggakan Negara dan Bangsa!

Usaha-usaha perwakilan-perwakilan kita di Luar Negeri telah lumayan pula berhasil dalam menggunakan hasil-hasil operasi-operasi di Dalum Negeri, untuk mengurangi-jauh kesempatan dan ruang-bergerak pemberontak di Luar Negeri.

Harus diakui, bahwa di masa yang lalu masih kuranglah koordinasi antara alat-alat Negara dan Kementerian-kementerian, baik di Dalam Negeri maupun di Luar Negeri, untuk memungkinkan kesempurnaan usaha-usaha keamanan. Dengan struktur Undang-Undang Dasar ’45, dan adanya Menteri-inti Keamanan-Pertahanan, dirancangkanlah untuk menyempurnakan koordinasi tersebut. Usaha-usaha yang disebut “follow-up”, akan lebih dikoordinir dan lebih diintensivir.

Dalam rangka mengikutsertakan Rakyat, Pemerintah akan mengintensivir organisasi-organisasi keamanan Rakyat dan wajib-latih bagi pemuda-pemuda dan veteran taraf demi taraf, berdasarkan kemampuan personil dan materiil untuk pelaksanaannya. Begitu pula tahun ini dimulai dengan milisi darurat di seluruh Indonesia.

Tapi dengan hasil-hasil sekarang, serta program yang ada untuk intensivering, kita harus menghadapi persoalan keamanan ini dalam proporsinya yang sebenarnya. Program Pemerintah adalah untuk melaksanakan keamanan negara terhadap gerombolan-gerombolan pemberontak dalam 2 à 3 tahun. Tetapi mengingat sifat gerilya dan anti-gerilya yang berkembang sejak perang dunia yang lalu, maka konsolidasi dan stabilisasi teritorial sepenuhnya bagi keamanan rakyat yang merata, mungkin masih memerlukan waktu yang lebih lama. Pula oleh karena usaha ini tidak akan lepas daripada perkembangan politik, sosial dan ekonomi dalam keseluruhannya.

Dalam keadaan serba sulit menghadapi pemberontakan P.R.R.I./ Permesta ini, kita toh telah berhasil pula memodernisir A.P.R.I. dengan lumayan. Bagi A.L.R.I. kita telah mencapai kekuatan sampai 10 X, dan bagi A.U.R.I. sampai 6 à 7 X daripada dahulu. Dan A.D. kita mulai dengan lumayan pula memperbaharui alat-alat tuanya warisan Belanda dahulu.

Pembangunan Kepolisian Negara dilanjutkan pula. Dan Koordinasi dengan militer disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah mengenai militerisasi Kepolisian Negara, khususnya Mobrig.

Dalam pelaksanaan keamanan Negara dan Rakyat, kita tak boleh lupa, bahwa penertiban dan penyehatan alat-alat-kekuasaan Negara itu sendiri adalah syarat mutlak. Kita harus lebih giat dan lebih efektif lagi berusaha untuk. menertibkan dan mengefisiensikan aparatur-aparatur Negara, personil militer dan sipil, baik teknis maupun ideologis, untuk mempertinggi disiplin dan produktivitas kerjanya. “Operasi Sedar” dan “Operasi Efisiensi Kerja” harus kita lancarkan dalam tubuh alat-alat Negara sendiri, tanpa ragu-ragu. Operasi-operasi ini adalah syarat utama untuk tugas keamanan Negara dan Rakyat. Operasi-operasi ini adalah retooling pula.

Ke 3 fasal program Kabinet Kerja adalah tidak dapat dipisah-pisah.

Dan dalam rangka itu tenaga-tenaga A.P.R.I. juga sebanyak mungkin disumbangkan di bidang produksi, distribusi pembangunan dan keseyahteraan Rakyat.

A.P.R.I. bukan tentara yang berdiri terpisah daripada Rakyat. A.P.R.I. adalah sebagian daripada Rakyat. A.P.R.I. tumbuh dari Revolusi sebagai bagian daripada Rakyat yang ber-Revolusi. Persatuan Rakyat dan tentara adalah satu unsur utama daripada hakiki Negara dan Angkatan Perang kita.

Maka di samping keperluan khusus keamanan, terutama di daerah-daerah operasi, wewenang Undang-undang Keadaan Bahaya harus dimanfaatkan pula secara bijaksana untuk menerobos kemacetan atau keseretan berbagai usaha Pemerintah, dalam rangka pelaksanaan Program Pemerintah dalam keseluruhannya.

Saudara-saudara! Dengan programnya yang tampaknya saja amat sederhana, tetapi dengan realitas bahwa ia sebenarnya menghadapi pekerjaan-raksasa dan perjoangan-raksasa yang multi-kompleks sebagai saya uraikan tadi, maka Kabinet Kerja merasa dirinya tak mampu akan mencapai hasil apa-apa, tanpa bantuan daripada Rakyat. Oleh karena itu, maka Kabinet Kerja merasa dirinya beruntung, bahwa UndangUndang Dasar ’45 menentukan, bahwa Republik Indonesia harus mempunyai Dewan Pertimbangan Agung, yang “berkewajiban memberi jawab atas pertanyaan Presiden, dan berhak memajukan usul kepada Pemerintah”. Oleh karena itu pula, maka Presiden telah membentuk satu Dewan Pertimbangan Agung Sementara, dan malahan telah melantiknya pula pada hari kemarin dulu. Presiden telah membentuk Dewan Pertimbangan Agung Sementara ini atas prinsip perlu-mutlaknya bantuan Rakyat buat segala urusan kenegaraan dan kemasyarakatan, dan atas sifat-hakekat kepribadian bangsa Indonesia yang berinti gotong-royong. Bantuan Rakyat dan gotong-royong ini sejauh-mungkin dicorkan oleh Presiden dalam susunan keanggautaan Dewan Pertimbangan Agung Sementara itu: segala aliran-faham, segala golongan, segala corak-fikir yang progresif, dalam rangka Undang-Undang Dasar ’45, dimasukkan dalam Dewan Pertimbangan Agung Sementara itu. Demikian pula dalam Dewan Perancang Nasional yang juga sudah dilantik kemarin dulu, demikian pula Insya Allah dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara nanti, demikian pula Insya Allah dalam Front Nasional yang perlu pula dibangunkan.

Ini adalah untuk menjamin bantuan Rakyat sepenuhnya, dan ini adalah sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia, kataku tadi. Empat belas tahun yang lalu lebih, di zaman Jepang, yaitu sebelum Proklamasi, dalam pidato “Lahirnya Pancasila” sudah saya tandaskan, bahwa kepribadian Bangsa Indonesia ialah gotong-royong. Pancasila adalah penjelmaan kepribadian Bangsa Indonesia itu, dan jika Pancasila itu “diperas”, menjadilah ia Trisila Ketuhanan-Sosio nasionalisme-Sosio demokrasi, dan jika Trisila ini “diperas” lagi, menjadilah ia Ekasila, yaitu Gotong-Royong. Gotong-Royong yang tidak statis seperti “kekeluargaan” saja, tetapi Gotong-Royong yang dinamis, Gotong-Royong yang berkarya hacancut-taliwanda, Gotong-Royong “Ho-lopis-Kuntul-Baris”.

Ya, Ide kegotongroyongan ini dipegang teguh dalam pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara dan Dewan Perancang Nasional, dan akan dipegang teguh pula dalam pembentukan Majelis Permusya-waratan Rakyat Sementara nanti. Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai saudara-saudara ketahui adalah amat-amat penting sekali, oleh karena ia menurut Undang-Undang Dasar ’45 “menetapkan garis-garis besar daripada haluan Negara”. Ia adalah menurut fasal I ayat 2 Undang-Undang Dasar ’45 penjelmaan Kedaulatan Rakyat pengejawantahan daripada Kedaulatan Rakjat, oleh karena fasal 1 ayat 2 itu berbunyi:

“Kedaulatan adalah di tangan Rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”.

Ia terdiri dari anggauta-anggauta D.P.R. ditambah dengan utusan-utusan dari daerah dan golongan. Buat Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, maka anggauta-anggauta D.P.R.-nya adalah D.P.R. yang sekarang, dan anggauta-anggauta-daerah dan anggauta-anggauta-golongannya harus diangkat oleh Presiden. Maka jelas dan teranglah bahwa Presiden dalam pengangkatannya itu harus merealisasikan pengumpulan seluruh tenaga-tenaga-daerah dan seluruh tenaga-tenaga-golongan yang representatif. Ini adalah sesuai dengan prinsip kegotong-royongan, dan saya Insya Allah akan pegang teguh prinsip kegotong-royongan itu. Sudah barang tentu kegotongroyongan dalam melanjutkan dan menyelesaikan Revolusi! Orang-orang yang reaksioner, orang-orang kontra-revolusioner, tidak akan saya angkat jadi anggauta Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara itu!

Ide Front Nasional sebenarnya jugalah ke luar daripada prinsip Gotong-Royong “Ho-lopis-kuntul-baris” itu. Seluruh tenaga Rakyat harus digalang dan dijadikan satu gelombang – tenaga yang maha-syakti, menuju kepada terbangunnya satu masyarakat yang adil dan makmur, – menuju kepada penyelesaian Revolusi. Dan penggalangan itulah tugasnya Front Nasional. Menjadi, Front Nasional itu adalah satu hal yang prinsipiil-fundamentil: sebab pembangunan semesta tak mungkin berhasil tanpa mobilisasi tenaga semesta pula, Revolusi tak mungkin berjalan penuh ke arah tujuannya tanpa ikut-ber-Revolusi seluruh Rakyat. Front Nasional nanti diadakan untuk menggalang seluruh tenaga daripada seluruh Rakyat. Ia harus menggalang seluruh kegotongroyongan Rakyat. Front Nasional itulah dus yang harus menggalang semangat dan tenaga latent di kalangan rakyat, dijadikan satu gelombang “ke-ho-lopis-kuntul-barisan” untuk menjelesaikan Revolusi.

Oleh karena itulah maka terkandung dalam niat Pemerintah untuk membangun-kan Front Nasional itu selekas mungkin, sebagaimana dalam pidato saya di hadapan Konstituante 22 April yang lalu saya telah katakan, bahwa “Pembentukan Front Nasional baru terutama dimaksud-kan untuk mengadakan alat penggerak masyarakat secara demokratis, yang diperlukan pertama-tama di bidang pembangunan”.

Saudara-saudara! Kemarin dulu sayapun telah melantik Bapekan: “Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara”. Tugasnya jelas: “mengawasi Kegiatan Aparatur Negara”. Sebagai saya katakan tadi, kita menjalankan dan akan menjalankan retooling di segala bidang, dan sudah barang tentu terutama sekali retooling di segala aparatur Negara, baik vertikal maupun horizontal. Dan aparatur Negara yang retooled ini harus diawasi dalam pekerjaannya, harus dikontrol, diteliti, diamat-amati, agar supaya terjamin effisiensi kerja yang maximal. Tidak boleh lagi sesuatu aparatur Negara tak lancar karena memang salah organisasinya, dan tidak boleh lagi orang bekerja pada aparatur Negara dengan secara lenggang-kangkung, malas-malasan, ngantuk, atau mementingkan kepentingan sendiri dengan jalan korupsi-waktu atau korupsi-uang. Dalam Revolusi tidak ada tempat bagi orang-orang yang demikian itu!

Telah saya lantik pula Dewan Perancang Nasional, dengan anggautanya yang berasal dari seluruh tanah-air Indonesia antara Sabang dan Merauke, untuk merancangkan pola masyarakat yang adil dan makmur. Garis-garis besar daripada pembuatan pola itu Insya Allah akan saya ucapkan dalam amanat pada pembukaan sidangnya yang pertama. Pokok daripada segala pokok daripada tugas Dewan Perancang Nasional ialah, bahwa ia harus membuat blueprint daripada suatu masyarakat Indonesia yang berkeadilan sosial, suatu masyarakat Indonesia sebagai yang dimaktiudkan oleh mukaddimah Undang-Undang Dasar, dan fasal 33 UndangUndang Dasar, – suatu masyarakat Indonesia yang betul-betul adil dan makmur, betul-betul makmur dan adil pula. Tidak Dewan Perancang Nasional disuruh membuat pola masyarakat Indonesia yang makmur tetapi tidak adil; tidak Dewan Perancang Nasional harus membuat blueprint yang adil tetapi tidak makmur. “Tata-tentrem-kerta-raharja, gemah ripah loh-jinawi, subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku”, itulah harus jelas tampak nanti dalam pola Dewan Perancang Nasional itu!

Dan jikalau nanti pola Dewan Perancang Nasional itu sudah diterima oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, maka jadilah ia Pola Nasional, yang harus kita laksanakan dengan meng-“ho-lopis-kuntul-baris”-kan seluruh tenaga Rakyat, seluruh sarana-sarana Bangsa yang telah retooled, seluruh semangat dan daya-kerja yang berada di antara Sabang dan Merauke. “Lir gabah dèn interi” kita semua harus melaksanakan pola Dewan Perancang Nasional itu. Mendakilah kita sesudah mengalami Purgutorio kini, ke puncaknya Gunung Paradiso yang telah sekian lamanya melambai-lambai.

Saudara-saudara! Saya telah mendekati akhirnya pidato saya ini. Sekarang dengarkanlah dengan saksama apa yang saya katakan ini:

Kita sekarang sudah kembali lagi ke pangkuan Undang-Undang Dasar 1945. Perlu saya tegaskan di sini, bahwa Undang-Undang Dasar 1945 dalam Revolusi kita ini tidak pernah gugur tidak pernah tewas, sehingga berlakunya-kembali Undang-Undang Dasar 1945 itu hanyalah satu pernyataan resmi saja yang bernama “Dekrit Presiden”. Undang-Undang Dasar 1945 tidak pernah mati, melainkan hanya terpaksa berbaring diam di atas ombang-ambingnya gelombang Renville, gelombang Linggajati, gelombang K.M.B., gelombang konstitusi Republik Indonesia Serikat dan konstitusi 1950, gelombang Uni Indonesia-Belanda, – yang semuanya telah hilang amblas berkat semangat kepatriotan Bangsa Indonesia dan tenaga perjoangan Rakyat Indonesia. Demikian pula maka demokrasi-liberal yang dilahirkan sebagai buih daripada gelombang-gelombang kompromis yang jahat itu, dan yang membendung dan mengacau Revolusi Indonesia itu, kini telah ditiup-lenyap oleh semangat kepatriotan dan tenaga perjoangan Rakyat Indonesia itu, dan mulailah kini dikibarkan bendera Demokrasi Terpimpin, milik-asli daripada Bangsa Indonesia.

Saya mengucap syukur kepada Tuhanku, Tuhan seru sekalian alam, bahwa jalannya Revolusi Indonesia demikianlah. Meski tersesat sejurus waktu, akhirnya toh telah kembali lagi kepada relnya yang asli. Telah beberapa kali dalam hidup saya ini saya mengguriskan rintisan sebagai sumbangan kepada perjoangan Rakyat Indonesia, – di zaman kolonial sebelum Perang Dunia yang II, di Pegangsaan Timur, di Bangka, di Jogya, di Jakarta. Kini datanglah saatnya saya memberi kerangka yang tegas kepada semua rintisan-rintisan yang telah saya guriskan itu. Adalah tiga seginya kerangka bagi rintisan-rintisan itu, yang selalu saja kembali dalam renungan saya, tiap kali saya memandang wajah Rakyat-jelata Indonesia, tiap kali saya melihat kecantikan alam tanah-airku, tiap kali saya mengadakan perjalanan mengedari bumi, tiap kali saya menengadahkan muka di waktu malam dan melihat bintang-bintang abadi berkumelip di angkasa-raya.

Apakah tiga segi kerangka itu?

Kesatu: Pembentukan satu Negara Republik Indonesia yang berbentuk Negara Kesatuan dan Negara Kebangsaan yang demokratis, dengan wilayah kekuasaan dari Sabang sampai ke Merauke.

Kedua: Pembentukan satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spirituil dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu.

Ketiga: Pembentukan satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, terutama sekali dengan negara-negara Asia-Afrika, atas dasar hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar bekerja-bersama membentuk satu Dunia Baru yang bersih dari imperialisme dan kolonialisme, menuju kepada Perdamaian Dunia yang sempurna.

Sebutkanlah saya ini seorang pengalamun atau seorang pemimpi, seorang idealis atau seorang “Schwarmer”. Tetapi tiga segi kerangka tadi itu sekarang telah menjadi tantangan yang nyata bagi kita semua, telah menjadi challenge yang rill, yang tak dapat kita hindari lagi. Challenge, kalau benar kita ingin bahagia; challenge, kalau benar kita tidak ingin hancur-binasa di muka bumi ini. Challenge pula, oleh karena kita, mau-tidak-mau, dibawa-ditarik-dihela oleh pergolakan-pergolakan yang sekarang sedang bergelora di seluruh muka bumi, dekat dari sini dan jauh dari sini.

Ada dua macam revolusi hebat sekarang sedang bergolak di muka bumi ini: Pertama revolusi politis-sosial-ekonomis yang menghikmati tiga-perempat dari seluruh umat-manusia, kedua revolusi teknik-peperangan berhubungan dengan persenjataan thermo-nuclear.

Kedua-dua revolusi ini menjadi tantangan dan tanggungan seluruh umat-manusia, termasuk umat Indonesia, – menjadi challenge yang seram, satu todongan yang menanyakan hidup atau mati. Kita tak dapat meloloskan diri kita dari todongan ini, dan umat-manusiapun tak dapat meloloskan dirinya dari todongan atau challenge ini. Mau-tidak-mau kita harus ikut-serta, mau-tidak-mau kita harus ikut bertempur! Dan jika umat-manusia tak bisa menyelesaikan todongannya challenge ini, maka ini berarti hancur-binasanya umat-manusia sendiri.

Ya, mau-tidak-mau kita harus ikut-serta! Dan ikut-serta massal! Dalam abad ke XX ini, dengan iapunya teknik-perhubungan yang tinggi, tiap revolusi adalah revolusi Rakyat, revolusi Massa, bukan sebagai di abad-abad yang lalu, yang revolusi-revolusinya adalah sering sekali revolusinya segundukan manusia-atasan saja, – “the revolution of the ruling few”. Dalam Risalah “Mentjapai Indonesia Merdeka” hampir tigapuluh tahun yang lalu saya sudah berkata: “Tidak ada satu perobahan besar di dalam riwayat-dunia yang akhir-akhir ini, yang lahirnya tidak karena massa actie. Massa-actie adalah senantiasa menjadi penghantar pada saat masjarakat-tua melangkah ke dalam masyarakat yang baru. Massa-actie adalah senantiasa menjadi paraji (bidan) pada saat masyarakat-tua yang hamil itu melahirkan masyarakat yang baru”.

Dan revolusi dalam abad ke XX itu menyangkut dengan sekaligus secara berbareng hampir segala bidang daripada penghidupan dan kehidupan manusia. Ia menyangkut bidang politik, dan berbarengan dengan itu juga menyangkut bidang ekonomi, dan berbarengan dengan itu juga menyangkut bidang sosial, dan berbarengan dengan itu juga menyangkut bidang kebudayaan, dan berbarengan dengan itu juga menyangkut bidang kemiliteran, dan demikian seterusnya. Tidak seperti di abad-abad yang lampau, di mana revolusi-revolusi adalah seringkali revolusi politik tok, atau revolusi ekonomi tok, atau revolusi sosial tok, atau revolusi militer tok, dan karenanya juga dapat dilaksanakan secara bidang-bidang itu tok.

Tetapi revolusi zaman sekarang? Revolusi zaman sekarang adalah revolusi yang multi-kompleks. Ia adalah revolusi yang simultan. Ia adalah revolusi yang sekaligus “memborong” beberapa persoalan. Misalnya Revolusi kita. Revolusi kita ini ya revolusi politik, ya revolusi ekonomi, ya revolusi sosial, ya revolusi kebudayaan, ya revolusi segala macam. Sampai-sampai ia juga revolusi isi-manusia! Pernah saya meminjam perkataan seorang sarjana asing, yang mengatakan bahwa Revolusi Indonesia sekarang ini adalah “a summing-up of many revolutions in one generation”, – atau “the revolution of many generation in one”.

Revolusi yang demikian ini tak dapat diselesaikan dengan cara-cara yang konvensionil. Tak dapat ia diselesaikan dengan cara-cara yang ke luar dari gudang-apeknya liberalisme. Tak dapat ia diselesaikan dengun cara-cara yang tertulis dalam textbooknya kaum sarjana dari zaman baheula. Malah cara-cara yang demikian itu ternyata makin mengkocar-kacirkan dan membencanakan revolusi. Bukan saja di Indonesia orang berpengalaman begitu, tetapi juga pemimpin-pemimpin di negara negara lain mulai sedar akan hal itu. Demokrasi Barat di beberapa negara Asia sekarang sudah dinyatakan mengalami kegagalan. Indonesia hendak menyelesaikan Revolusinya yang multi-kompleks itu dengan sistimnya Demokrasi Terpimpin, demokrasi Indonesia sendiri. Segala penyelèwèngan, segala langkah-salah, segala salah-wisel dari masa sesudah 1950, kitn koreksi dengan Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi 5 Juli 1959, yang memungkinkan juga Demokrasi Terpimpin berjalan.

Terutama kepada pemimpin-pemimpin Bangsa kita, saya tandaskan di sini, bahwa Revolusi kita ini tidak hanya meminta sumbangan-keringat saja yang sebesar-besarnya, atau disiplin yang sekokoh-kokohnya, atau pengorbanan yang seikhlas-ikhlasnya, – yang oleh kita pemimpin-pemimpin selalu kita gembar-gemborkan kepada Rakyat! -, tetapi juga tidak kurang penting ialah kebutuhan untuk menciptakan atau melahirkan fikiran-fikiran-baru dan konsepsi-konsepsi-baru, justru oleh karena Revolusi kita sekarang ini tak dapat diselesaikan dengan mempergunakan textbook-textbook yang telah usang.

Revolusi kita adalah antara lain menentang imperialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya. Imperialisme apapun dan imperialisme manapun, kita kritik, kita tentang, kita gasak, kita hantam. Meskipun demikian, Revolusi kita tidak ditujukan untuk memusuhi sesuatu bangsa yang manapun juga. Kita mengulurkan tangan-persahabatan kepada semua bangsa di dunia ini, untuk memperkokoh kesejahteraan dunia, dan memperkokoh perdamaian dunia.

Teristimewa kepada 2.500.000.000 umat-manusia yang ber-revolusi sekarang ini, tigaperempat lebih dari seluruh penduduk bumi, kita serukan ajakan untuk saling membantu, saling memberi inspirasi, saling kasih-mengasih dalam menggali konsepsi-konsepsi-baru yang dibutuhkan oleh Revolusi-semesta sebagai yang saya terangkan di muka tadi!

Malah untuk menanggulangi revolusi teknik-peperangan yang sekarang ini sedang menghantu di padang persenjataan dan menghintai-hintai laksana syaitan-kebinasaan di cakrawala, bantu-membantu antara 2.500.000.000 umat-manusia itu adalah perlu sekali, bahkan – dasar-dasar daripada ko-eksistensi yang aktif dan kerjasama yang erat antara seluruh umat-manusia yang 3.000.000.000 harus ditanam, terlepas daripada perbedaan-perbedaan di dalam lapangan sistim-sosial dan sistim-politik. Atas dasar ini maka segala percobaan, segala pembikinan, segala pemakaian senjata thermo-nuclear harus distop selekas-lekasnya, dan dilarang sekeras-kerasnya.

Ya, kapankah umat-manusia ini dapat hidup tenteram-sejahtera bersahabat satu sama lain sebagai sama-sama anaknya Adam?

Kapankah umat Indonesia dapat hidup dalam tripokoknya kerangka, yang saban-saban terbayang di angan-angan saya, tiap-tiap kali saya memandang kepada bintang dilangit, – Negara Kesatuan, masyarakat adil dan makmur, persahabatan dengan seluruh bangsa?

Alangkah banyaknya kesulitan yang masih kita hadapi! Tetapi pengalaman yang sudah-sudah membuktikan, bahwa kita selalu “survive”, bahwa dus kita selalu dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang maha besar! Ya, asal kita tetap bersatu, asal kita tetap berjiwa segar, asal kita tetap menjaga jangan sampai perjoangan kita ini dihinggapi oleh penyakit-penyakit yang sesat, asal kita tetap berjalan di atas relnya Proklamasi, – Insya Allah subhanahu wata’ala, kitapun akan atasi segala kesulitan yang akan mengadang, kitapun akan ganyang kesulitan yang akan menghalang!

Dengan tenang dan keteguhan hati kita harus onderkennen kesulitan-kesulitan yang mengadang itu dalam segala kewajarannya sendiri-sendiri. Ada kesulitan yang memang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan kita di masa yang lampau, oleh penyelewengan-penyelewengan, oleh ketololan-ketololan yang kita bikin sendiri. Ada kesulitan yang disebabkan oleh tidak cukupnya modal mental-teknis-materiil dalam menghadapi persoalan-persoalan Revolusi. Dan ada kesulitan yang disebabkan oleh naiknya tingkatan penghidupan oleh kemajuan yang telah kita capai.

Kesulitan golongan yang pertama harus kita atasi dengan koreksi segala kesalahan-kesalahan di zaman yang lampau. Kesulitan golongan kedua harus kita atasi dengan memperhebat usaha pemupukan modal mental-teknis-materiil. Kesulitan golongan ketiga harus kita atasi dengan … mencapai kemajuan yang lebih maju lagi! Ya, kemajuan dalam penghidupan masyarakatpun membawa kesulitan! Sejuta anak bersekolah menjadi 9 juta anak bersekolah, itu mendatangkan persoalan dan kesulitan. Rakyat dulu memakai lampu cempor, sekarang memakai lampu tempel, malahan kadang-kadang memakai lampu stormking, itupun mendatangkan persoalan dan kesulitan. Rakyat dulu berjalan kaki, sekarang naik sepeda dan opelet, itupun mendatangkan persoalan dan kesulitan. Rakyat dulu 70 juta yang naik kereta-api setiap tahun, sekarang 160 juta naik kereta-api setiap tahun, itupun mendatang-kan persoalan dan kesulitan!

Tetapi sebagai saya katakan tadi, dengan jiwa-besar marilah kita ganyang semua persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan itu. Kita bukan bangsa tempe, kita adalah Bangsa yang Besar, dengan Ambisi Yang Besar,

Cita-cita yang Besar, Daya-Kreatif yang Besar, Keuletan yang Besar. Kita sekarang dengan kembali kepada Undang-Undang Dasar ’45 sudah menemukan-kembali Jiwa Revolusi, sudah mencapai suatu momentum mental, yang memungkinkan kita bergerak maju terus dengan cepat untuk mencapai suatu momentum pula di bidang pembangunan semesta untuk merealisasikan cita-cita sosial-ekonomis daripada Revolusi. Hancur-leburlah segala rintangan dan kesulitan oleh Geloranya momentum mental itu!

Sebab oleh tercapainya momentum mental dengan kembali kita kepada Undang-Undang Dasar Proklamasi dan Jiwa Proklamasi itu, maka menghebatlah Semangat Nasional menjadi Kemauan Nasional yang maha-syakti, dan menghebat lagilah Kemauan Nasional itu melahirkan Perbuatan-perbuatan Nasional yang membangun, dan menghancur-leburkan segala rintangan dan segala kesulitan yang menghalangi jalan. Trilogi yang saya dengungkan tigapuluh tahun yang lalu, trilogi nationale geest menghebat menjadi nationale wil, nationale wil menghebat menjadi nationale daad, trilogi itu kini menjelma menjadi kenyataan, oleh tercapainya momentum mental sejak keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

“Sekali lagi saya katakan”, demikianlah penutupan pidato saya di muka Sidang Konstituante 22 April yang lalu, … – dan ini saya katakan untuk zelf-educatie kita sendiri -, kesulitan-kesulitan kita tidak akan lenyap dalam tempo satu malam. Kesulitan-kesulitan kita hanya akan dapat kita atasi dengan keuletan seperti keuletannya orang yang mendaki gunung. Tetapi: Berbahagialah sesuatu bangsa, yang berani menghadapi kenyataan demikian itu! Berani menerima bahwa kesulitan-kesulitannya tidak akan lenyap dalam satu malam, dan berani pula menyingkilkan lengan bajunya untuk memecahkan kesulitan-kesulitan itu dengan segenap tenaganya sendiri dan segenap kecerdasannya sendiri. Sebab bangsa yang demikian itu, – bangsa yang berani menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu memecahkan kesulitan-kesulitan -, bangsa yang demikian itu menjadi bangsa yang gemblèngan. Bangsa yang besar bangsa yang Hanyakrawarti-hambaudenda. Bangsa yang demikian itulah hendaknya bangsa Indonesia!”

Ya, bangsa yang demikian itulah hendaknya bangsa Indonesia!

Maka gelorakanlah semangat nasionalmu!

Gelorakanlah rangsang kemauan nasionalmu!

Gelorakanlah rangsang perbuatan-perbuatan nasionalmu!

Dan, engkau, hai bangsa Indonesia, betul-betul nanti menjadi satu bangsa yang gemblèngan!

Category: Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi | Views: 29 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Revolusi Indonesia, Nasionalisme Indonesia, Bung Karno | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar