Home » 2016 » August » 1 » Pemahaman Sila-sila Dalam Pancasila
1:30 PM
Pemahaman Sila-sila Dalam Pancasila

Penghantar

“Saya beri uraian itu tadi agar saudara-saudara mengerti bahwa bagi Republik Indonesia, kita memerlukan satu dasar yang bisa menjadi dasar statis dan yang bisa menjadi Leitstar dinamis. Leitstar, bintang pimpinan.”  (Bung Karno)

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang sila-sila pada Pancasila, baik kiranya jika terlebih dulu kita tahu bahwa sebagai dasar negara ada dua peran utama dari pada Pancasila ini. Dimana Bung Karno menyebut peran utama Pancasila bagi Negara Indonesia adalah sebagai dasar statis dan sebagai Leitstar dimamis. Sebagai dasar statis Pancasila berfungsi menjadi wadah yang mempersatukan keberagaman bangsa. Dan sebagai leitstar dinamis Pancasila berfungsi sebagai pedoman yang menjadi dasar berpijak dan memberi panduan bagi kita dalam menata dan mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga harus dalam dua kerangka besar itu pulalah sila demi sila dalam Pancasila itu kita pahami dan kenali.

Karena kedua peran besarnya bagi bangsa dan negara itulah Pancasila hadir menjadi sentral bagi kita untuk membangun rumah besar bangsa Indonesia ini dan untuk menata kehidupan di dalamnya. Dan tentu, sebaik-baiknya rumah untuk menjadi tempat bernaung dan menjalani hidup bagi anak-anak bangsa ini adalah rumah yang paling sesuai dengan jiwa dan perasaan bangsa Indonesia itu sendiri. Agar menjadi cendrung dan damailah hati bangsa Indonesia ini kepadanya. Sama halnya kita tidak bisa menempatkan anak-anak burung untuk tinggal dan hidup di dalam sarang kelinci dan juga tidak bisa menempatkan anak-anak kelinci untuk tinggal dan hidup di dalam sarang burung, demikian pula halnya kita tidak bisa tidak mempertimbangan jiwa dan perasaan bangsa ini ketika kita bermaksud membangun rumah untuk menjadi sebaik-baiknya tempat bernaung dan berkehidupan bagi anak-anak bangsa. Sebab pastilah tidak cenderung dan damai hati seseorang jika harus hidup dan tumbuh di dalam sebuah rumah yang tidak sesuai dengan keadaan hati dan jiwanya. Pancasila inilah dasar-dasar yang dimaksudkan untuk memberi bentuk yang ideal dan mewujudkan suasana terbaik bagi rumah besar bangsa Indonesia ini.

Aku menggali di dalam buminya rakyat Indonesia, dan aku melihat di dalam kalbunya bangsa Indonesia itu ada hidup lima perasaan. Lima perasaan ini dapat dipakai sebagai mempersatu daripada bangsa Indonesia yang 80 juta ini. Dan tekanan kata memang kuletak-kan kepada daya pemersatu daripada Pancasila itu.  (Bung Karno)

Karena itulah Bung Karno ketika memformulasikan dasar-dasar bagi bangsa ini harus menggalinya langsung dari buminya rakyat Indonesia dan melihat langsung ke dalam kalbunya bangsa Indonesia. Yang dari itulah kemudian Bung Karno mendapati dan menemukan lima perasaan yang bersemayam dengan begitu amat kuat di dalam jiwanya bangsa Indonesia dan memformulasikan lima perasaan itu menjadi dasar-dasar yang hari ini kita kenal dengan nama Pancasila.

Satu hal yang perlu kita tahu berkenaan dengan perasaan adalah bahwa perasaan merupakan sesuatu yang bersifat universal. Perasan mempunyai bahasa yang sama bagi setiap jiwa manusia. Sedih, senang, suka, duka, gembira, damai, rindu, haru, syahdu, marah, benci dan berbagai perasaan lainya adalah sesuatu yang bersifat universal bagi jiwa manusia. Perbedaan kemudian menjadi ada dan nampak dalam cara setiap orang mengekspresikan perasaan-perasaan tersebut. Demikian pula halnya dengan lima perasaan yang Bung Karno temukan dan lihat di dalam kalbunya bangsa Indonesia itu.

Rasa ketuhanan, rasa kemanusian, rasa kebangsaan, rasa kemufakatan dan rasa kesejahteraan adalah hal universal yang ada di dalam kalbunya bangsa Indonesia sejak lama. Hanya saja cara masing-masing rakyat Indonesia dalam mengekspresikan perasaan-perasaan tersebut pada realita berkehidupan berbeda-beda dan mempunyai beragam cara adanya. Rasa ketuhanan misalnya. Rasa ketuhanan ini sesungguhnya merupakan perasaan yang telah lama ada di dalam diri rakyat Indonesia. Bahkan sebelum masuknya agama-agama besar seperti Hindu dan yang lainnya itu, masyarakat Indonesia telah menjadi suatu masyarakat yang mengenal Tuhan Yang Esa itu. Hanya saja masing-masing kelompok dari pada rakyat Indonesia dalam mengekspresikan rasa ketuhanan yang ada padanya ini memiliki beragam cara dan bentuk yang berbeda-beda. Lantaran itulah kemudian kita mendapati terdapatnya beragam agama yang pada masing-masingnya mempunyai tradisi dan cara-cara peribadatan yang berbeda-beda.

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 260 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pancasila, Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar