Home » 2016 » July » 30 » Pemahaman Sila-sila Dalam Pancasila
1:37 PM
Pemahaman Sila-sila Dalam Pancasila
Sila 2 - Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  (QS. Ar-Rum [30]:30)

Manusia adalah mahluk yang terhubung secara sadar dengan segala sesuatu. Cara kita terhubung dengan segala sesuatu amat berbeda dengan mahluk lainnya. Kita terhubung dengan segala sesuatunya dengan pikiran sadar kita dan bukan hanya secara naluriah saja. Hubungan kita dengan segala sesuatu tidaklah statis dan baku. Ia terus berubah dan berkembang seiring perkembangan hikmah kebijaksanaan yang kita miliki. Karena itulah manusia menjadi satu-satunya mahluk yang mempunyai peradaban. Sejauh ini kita tidak pernah mendengar ada peradaban malaikat, peradaban jin, peradaban binatang atau mahluk Tuhan lainnya selain manusia.

Secara sederhana peradaban ini dapat kita pahami sebagai seperangkat cara, aturan, tradisi dan budaya manusia dalam berhubungan dan berinteraksi dengan segala sesuatu. Hanya manusialah satu-satunya mahluk yang mempunyai adab yang dinamis prihal hubungannya dengan segala sesuatu itu. Setiap interaksi manusia dengan segala sesuatu harus diatur sedemikian rupa agar menjadi sebuah interaksi yang bernilai positif. Interaksi dengan Tuhan, dengan tumbuhan, dengan hewan, dengan alam, dengan diri sendiri, dengan pemimpin, dengan keluarga, dengan teman, dengan anak, dengan istri, dengan suami, dengan tetangga dan bahkan interaksi dengan seorang musuhpun haruslah mempunyai adabnya tersendiri. Ya, itulah manusia. Segala hal dalam urusan hidupanya haruslah beradab.

Lalu dimanakah ukuranya suatu perbuatan atau suatu tidakan dapat disebut beradab atau tidak beradab? Letak ukurannya adalah pada kata adil. Kata adil dan beradab ini, dalam peradaban manusia memang haruslah selalu bergandengan. Sesuatu hanya dapat disebut beradab jika adil adanya. Dan segala sesuatu yang menyangkut keadilan ini haruslah diterjemahkan dalam adab-adab agar dapat disebut beradab. Haruslah keadilan itu ditransformasikan menjadi sebuah tata cara berkehidupan. Haruslah ia disyariatkan. Haruslah ia dibangun menjadi sebuah sistem berkehidupannya umat manusia. Beradab inilah apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Inilah yang menjadi misi kedatangan Rasulullah Muhammad saw. itu. Hadirnya agama dan para nabi adalah untuk menata setiap interaksi umat manusia dengan segala sesuatu di sekelilingnya berjalan secara adil dan beradab. Inilah juga yang Bung Karno lihat ketika ia mensuarakan bahwa negeri ini akanlah ia menjadi: “Suatu masyarakat yang benar-benar membuat Bangsa Indonesia ini suatu bangsa yang terdiri daripada ratusan juta “Insan Al-Kamil” yang hidup bahagia dibawah kolong langit buatan Allah SWT.”

Menjajah, merampok, memperbudak, membunuh, menumpahkan darah, mencuri, menipu, memfitnah, memperkosa, menyakiti, menghina, berdusta, berkhianat, tidak memikul amanat, bersaksi palsu, merusak alam, mencemari lingkungan dan berbagai perbuatan serupa itu lainnya adalah tindakan-tindakan yang setiap manusia, selama masih ada kemanusiaan di dalam dirinya, pastilah akan sepakat bahwa semua perbuatan-perbuatan tersebut adalah hal-hal yang tidak beradab. Setiap manusia pastilah tahu dan setuju akan hal itu. Ini adalah bukti bahwa sesungguhnya ada rasa kemanusiaan yang sama di dalam diri setiap manusia. Ini adalah bukti bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama dan diciptakan dalam fitrah diri yang sama.

Jadi karena sebab manusia itu haruslah hidup secara adil dan beradab, maka menjadi haruslah pula ada sebuah dasar yang bekenaan dengan itu bagi bangsa Indonesia untuk membangun negaranya. Karena itulah hadir sila Kemanusiaan yang adil dan beradab ini menjadi salah satu sila dalam Pancasila. Sila ini harus ada untuk memastikan kehidupan berbangsa kita berjalan dan berlangsung di dalam interaksi yang berkeadailan dan mempunyai adab-adab. Di atas dasar sila inilah kita mengatur dan memutuskan segala kebijakan kehidupan berbangsa dan bernegara kita itu. Karena hanya dengan cara demikian itulah manusia akan dapat mencapai keselamatan, kedamaian dan kesejahteraannya. Inilah fungsi sila Kemanusiaan yang adil dan beradab itu dalam perannya sebagai leitstar dinamis

Adapun dalam perannya sebagai dasar statis, sila kedua dalam Pancasila ini berfungsi untuk menjadi landasan pemersatu bangsa atas segala ragam perbedaan pandangan yang ada tentang kebenaran. Kenapa kemanusiaan yang pada akhirnya harus kita jadikan ukuran untuk menentukan kebenaran, hal ini karena memang kemanusiaan itulah fitrahnya manusia; yang menjadi ukuran benar dan mulianya manusia. Sebagai mana hewan yang harus hidup menurut kehewanannya dan sebagaimana malaikat yang harus hidup menurut kemalaikatannya, demikian juga dengan manusia. Manusia harus hidup menurut kemanusiaannya dan hanya akan dipandang benar hidupnya menurut ukuran itu. Kita tidak bisa hidup menurut cara hewan demikian juga hewan tidak bisa hidup menurut cara manusia. Jika hewan harus hidup menurut cara-cara manusia, menjadi salah dan akan menjadi berantakanlah dunianya itu. Bayangkan jika harimau tidak boleh lagi memangsa rusa lantaran itu tidak berkeadilan. Bayangkan jika elang tidak lagi boleh memangsa kelinci karena itu dipandang sebuah dosa. Dan bayangkan jika semua hewan itu haruslah hidup secara adil, tidak boleh saling menyakiti dan tidak boleh saling mencurangi, tentulah pasti akan rusak dan hancur dunia hewan itu. Kerena perbedaan antara manusia dan hewan itulah maka tempat hidunya manusia dan hewan pun menjadi harus dipisahkan dan dibedakan. Cara-cara berperilaku kehewanan itu hanya boleh terjadi di alam liar sana saja. Tidak boleh cara-cara seperti itu masuk kedalam tatanan peradaban umat manusia. Jika ada manusia yang menggunakan cara-cara demikian itu, maka baiknya ia dikirim ke hutan agar tidak merusak tatanan kehidupan manusia.

Kita tahu ada begitu banyak isme-isme yang lahir dan berkembang di atas dunia ini termasuk juga di negeri tercinta Indonesia ini. Ada liberalisme, individualisme, sosialisme, komunisme, marxisme, pluralisme, humanisme, sufisme, universalisme, kosmopolitanisme, egalitarianisme dan berbagai isme-isme lainya yang kesemuanya tentu saja mengklaim dirinya membawa kebenaran. Yang mana tentu saja jika segala keragaman dan perbedaan itu salah-salah disikapi dan diperlakukan pastilah juga akan membawa perselisihan, perumusuhan dan peperangan. Kita tentu ingat bahwa di dalam sejarah bangsa kita ini, kita pun pernah berada di dalam kekacauan hebat akibat pertentang tiga isme besar dalam bangsa ini. Islamisme, nasionalisme dan komunisme. Bung Karno sangat paham sekali bahwa kekacauan besar yang terjadi akibat pertentang ketiga kubu isme-isme besar itu hanyalah lantaran sebab kegagalan kita untuk menemukan yang kemanusiaan yang tunggal dalam isme-isme yang bhineka itu. Yang mana sebenarnya jika ditarik kepada tataran yang universal, semua itu hanyalah ekspresi yang berbeda-beda dari sebuah rasa yang sama. Rasa kemanusiaan.

“Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” (Imam Ali bin Abi Tholib)

Jadi sebenarnya jika saja kita memahami Bhineka Tunggal Ika dengan baik, dan memahami sila Kemanusiaan yang adil dan beradab dengan benar, semestinya hal yang demikian itu tidaklah boleh terjadi. Tidak perduli berapapun banyak isme-isme yang ada, haruslah selalu ia dikembalikan kepada ukuran yang sama. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Selama ia menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, selama ia berdiri di atas keadilan dan selama ia beradab, apapun namanya dapatlah ia kita terima di bumi Indonesia ini. Tapi ketika ia menyimpang dari dasar kemanusiaan yang adil dan beradab itu, maka menjadi haruslah ia untuk ditolak. Satu hal yang perlu kita mengerti dengan baik adalah bahwa seberapapun banyaknya golongan yang ada di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita ini, tidaklah itu akan pernah menjadi masalah buat kita ketika kita sama-sama sepakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Semua aman, semua damai dan semua sejahtera.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.  (QS. An-Nisa [4]:1)

Di dalam nama-Nya lah kita harus saling meminta satu sama lain; menurut ajaran-Nya lah kita harus saling berhubungan satu sama lain; dan di atas dasar nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab inilah kita harus membangun interaksi berkehidupan kita. Pola yang demikian ini pun dapat kita temukan di dalam Piagam Madinah. Ada banyak agama, keyakinan dan aliran di dalam tatanan Madinah pada masa itu. Bahkan di dalamnya pun kita temukan ada orang-orang pagan. Para penyembah berhala yang tidak mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, benar-benarlah bukan sebuah masalah sekalipun ada orang-orang pagan dalam tatanan Madinah itu. Karena yang paling penting dan paling utama adalah di atas dasar apa tatanan itu berdiri. Selama semua urusan dijalankan di atas dasar nilai-nilai kemanusian yang adil dan beradab semua akan baik-baik saja. Semua akan aman dan sentausa. Maka janganlah heran jika di dalam Pancasila bahkan seorang atheis-pun bisa di terima untuk menjadi bagian dari bangsa ini sebagaimana orang-orang pagan diterima menjadi ummat Madinah. Satu-satu orang yang tidak bisa diterima adalah manusia-manusia jahat yang tidak berdab.

“Bahwa Republik Indonesia membawa ajaran, membawa prinsip, sebagaimana juga, dengarkan perkataanku! Sebagaimana juga Agama membawa ajaran.“  (Bung Karno)

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 179 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar