Home » 2016 » July » 26 » Pemahaman Sila-sila Dalam Pancasila
1:43 PM
Pemahaman Sila-sila Dalam Pancasila
Penegasan

Sekiranya setelah sampai kepada penjelasan sila ke lima dari pada Pancasila ini, dan masih ada dari kita yang sulit untuk menangkap maksudnya atau masih meragukan kebenaran Pancasila untuk menjadi wadah hidup kita bersama, baiklah saya akan memperjelasnya dengan memberikan contoh nyata dari alam tentang hal tersebut. Pastilah kita semua pernah mendengar kata “senyawa”. Seperti senyawa air, senyawa gula, senyawa garam, senyawa asam dan senyawa-senyawa lainnya. Dalam ilmu kimia, senyawa ini didefinisikan sebagai zat tunggal yang terbentuk dari dua unsur atau lebih yang bergabung secara reaksi kimia. Senyawa air misalnya, ia adalah zat tunggal yang terbentuk dari unsur-unsur yang terdiri dari 2 atom Hidrogen dan 1 atom Oksigen yang kemudian disebut dengan H2O. Atau contoh lain untuk zat tunggal yang mempunyai gabungan unsur yang lebih banyak seperti senyawa gula pasir misalnya, gula pasir ini adalah zat tunggal yang terbentuk dari unsur-unsur yang terdiri dari 12 atom Carbon, 22 atam Hidrogen dan 11 atom Oksigen yang kemudian disebut dengan C12H22O11.

Satu hal yang penting untuk kita cermati adalah dimana kesatuan unsur-unsur tersebut disebut sebagai senyawa yang memiliki makna satu nyawa. Atau mereka juga disebut sebagai zat tunggal meskipun sebenarnya mereka adalah gabungan dari berbagai unsur yang berbeda. Dan yang jauh lebih penting lagi adalah masing-masing unsur dalam senyawa tersebut, mereka sama-sama merdeka. Carbon tetaplah Carbon, Hidrogen tetaplah hidrogen dan Oksigen pun tetaplah Oksigen. Tidak ada unsur yang dihancurkan dan dikalahkan. Setiap unsur tetaplah merdeka sebagai dirinya masing-masing dan secara bersama-sama membentuk sebuah zat tunggal yang mempunyai sifat tersendiri. Dari 2 atom Hidrogen dan 1 atom Oksigen yang bersatu itu, lahirlah sebuah zat tunggal yang membawa sifat baru. Yaitu air dengan segala sifatnya yang lembut dan menyejukan itu. Dari 12 atom Carbon, 22 atom Hidrogen dan 11 atom Oksigen itu lahirlah sebuah zat tunggal yang membawa sifat baru. Yaitu gula pasir dengan sagala sifatnya yang manis dan menyenangkan itu.

Seperti itulah pula Indonesia. Indonesia ini adalah senyawa. Satu nyawa. Kita adalah bangsa tunggal yang terbentuk dari unsur-unsur yang berbeda melalui sebuah proses dinamika perjalanan bangsa. Menjadilah kita sebuah bangsa yang berbhineka tunggal ika. Kita terdiri dari beragam unsur yang berbeda-beda yang setiap unsurnya itu sama-sama merdeka. Tidak ada satupun yang dikalahkan dan dihancurkan. Kita menjadi satu kesatuan tunggal bangsa yang membawa sebuah sifat baru yang kita sebut dengan kepribadian Indonesia, dengan segala sifatnya yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan itu. Kita dihidupi oleh satu nyawa yang kita sebut dengan Pancasila. Dalam Pancasila inilah semua unsur merdeka menjadi dirinya sendiri. Tidak ada yang dikalahkan, tidak ada yang ditinggalkan dan tidak ada yang dihancurkan. Yang Islam merdeka dengan segala keislamannya, yang Hindu merdeka dengan segala kehinduannya, yang Budha merdeka dengan segala kebudhaannya, Yang Kristen merdeka dengan segala kekristenannya, yang Konghucu merdeka dengan segala kekonghucuannya, yang Jawa merdeka dengan segala kejawaannya, yang Sunda merdeka dengan segala kesundaannya, yang Batak merdeka dengan segala kebatakannya dan segala unsur lainnya yang ada di bumi Indonesia ini merdeka dengan segala jati dirinya itu. Ya, inilah Indonesia yang berdiri di atas prinsip kemerdekaan itu. Yang berdiri di atas ajaran Bhineka Tunggal Ika itu. Yang berdiri di atas dasar Pancasila itu. Pancasila itulah nyawa-nya bangsa kita. Tercabutnya Pancasila adalah sama dengan matinya bangsa dan negara Indonesia. Sejarah telah menyatukan dan mempersaudarakan kita yang berbeda suku, agama dan golongannya ini menjadi satu kesatuan bangsa Indonesia. Inilah takdir yang harus kita terima dan inilah fitrah penciptaan kita sebagai sebuah bangsa.

“Bahwa Republik Indonesia membawa ajaran, membawa prinsip, sebagaimana juga, dengarkan perkataanku! Sebagaimana juga Agama membawa ajaran.“  (Bung Karno)

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 149 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar