Home » 2016 » July » 24 » Pemahaman Sila-sila Dalam Pancasila
1:44 PM
Pemahaman Sila-sila Dalam Pancasila
Pancasila dan Ketakwaan

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (QS. Al-Fath [48]:26)

Benar sekali memang bahwa kalimat takwa dapatlah menciptakan ketenangan. Karena dalam kalimat takwa kita tahu dan sadar adanya kepastian jaminan dari Allah SWT. Allah menjamin mendatangkan berkah dari langit dan bumi bagi penduduk negeri-negeri yang bertakwa. Lalu apakah yang dimaksud dengan kalimat takwa itu. Kalimat takwa itu adalah pernyataan tekad dan sikap untuk hanya mentaati Allah saja. Untuk hanya hidup menurut ajaran-Nya saja. Kalimat takwa ini tercermin nyata dalam kalimat “la illaha illallah” . ‘La illaha’ yang berarti tiada Tuhan; tiada sembahan; tiada yang ditaati dan dipatuhi, serta illallah yang berarti kecuali Allah saja. Semua janji Allah, rahmat-Nya dan jaminan dari-Nya bersentral di sana. Tiadalah kita dapat menemukan keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan di luar dari nama-Nya. Di luar dari ajaran-Nya itu.

Mari kita perhatikan apakah jalan Pancasila ini adalah jalan yang layak untuk kita sebut sebagai sebuah jalan ketakwaan? Perhatian penjelasan sila demi sila dalam Pancasila yang telah diterangkan sebelumnya itu. Adakah sedikit saja kita menemukan bahwa Pancasila ini bertentangan dengan ajaran Tuhan? Adakah sedikit saja kita menemukan bahwa Pancasila ini berisi ajakan untuk mengikari Tuhan semesta alam? Adakah sedikit saja kita dapati bahwa Pancasila ini tidak menghormati perikemanusiaan dan perikeadilan? Adakah sedikit saja kita temui bahwa Pancasila ini meninggalkan seruan untuk persatuan dan persaudaraan? Adakah sedikit saja kita melihat bahwa Pancasila ini mengajak kepada kejahatan dan kezaliman? Adakah sedikit saja kita menyaksikan bahwa Pancasila ini menjadi jalan yang akan membawa kerusakan? Tidaklah akan kita temukan hal-hal yang demikian itu sedikitpun pada Pancasila itu! Siapapun boleh untuk meneliti dan mengkaji sekali lagi dan lagi. Dan siapapun yang ragu hendaklah ia mendatangkan sebuah bukti bahwa Pancasila ini bukanlah jalan yang menyeru kepada ketakwaan.

Maka jika tidak ada keraguan padanya itu, adakah jalan lain yang harus kita pilih untuk menata dan mengelola negeri ini agar menjadi sebuah negeri yang diridhoi? Haruskah kita terus bertahan dengan sebuah budaya yang terus menerus membuat kita bersengketa? Haruskah kita tetap bertegar hati untuk berselisih dan saling memerangi? Haruskah kita tetap melanjutkan berabad-abad lagi untuk saling mempertumpahkan darah tanpa henti? Haruskah kita mempertahankan ego dan kesombongan kita untuk terus enggan menjadi saudara hanya karena kita berbeda-beda? Jika tidak kepada-Nya saja kita berserah diri dan mentaati, kepada ajaran yang mana lagi kita akan mengikuti?

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.  (QS. Al-A’raf [7]:96)

Perhatikan lagi dan lagi ayat tersebut di atas agar menjadi tahu dan mengerti kita bahwa satu-satunya jaminan kemakmuran dan kesejateraan sebuah negeri adalah ketakwaan penduduknya. Semogalah kita menjadi sebuah negeri yang benar-benar mengerti jalan ketakwaan bagi negerinya. Semoga kita juga menyadari bahwa zaman sudahlah berganti. Bukanlah lagi saatnya kini bagi manusia untuk mengambil jalan takluk-menaklukan. Ini adalah era dan zamannya persaudaraan global umat manusia. Ini adalah era dan zamannya kemerdekaan bangsa-bangsa. Ini adalah era dan zamannya hidup berbhineka tunggal ika. Benar-benar tidak melihatkah kita betapa zaman sudah berubah? Tidakkah kita melihat seberapa besar kekuatan senjata pemusnah masal yang manusia punya hari ini? Lihatlah betapa modernisasi telah menyebabkan kita mampu menciptakan sejata pemusnah masal yang tiada terkira dasyatnya itu.

Kita adalah saksi seberapa dasyatnya bom atom di Hirosima. Dan bom atom di Hirosima itu adalah sebuah teknologi yang tercipta 70 tahun yang lalu. Selama masa 70 tahun itu, pernahkah terbayangkan seberapa dasyat senjata pemusnah yang manusia punya hari ini. Jika dulu manusia telah mampu merekayasa atom untuk menjadi sejata pemusnah yang sedemikian dasyatnya itu, kini manusia telah menemukan kekuatan yang jauh berkali-kali lipatnya dari kekuatan atom itu. Manusia telah menemukan apa yang disebut dengan ’anti materi’ yang tak terbayangkan kekuatannya itu. Sadarilah dengan sebaik-baiknya bahwa manusia benar-benar mampu menghancurkan bumi dengan segala peradabannya ini sehancur-hancurnya. Haruskah kita tetap mempertahankan ego, kesombongan dan keserakahan kita dan membiarkan seluruh peradaban ini hancur sehancur-hancurnya? Adakah boleh kita mengaku sebagai hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang itu, sementara kita terus saja ngotot ingin berperang dan menjadi satu-satunya pemenang. Adakah boleh kita mengaku sebagai haba-hamba Tuhan yang Maha Suci lagi Maha Bijaksana itu, sementara kita tetap saja menginginkan menjadi tuan atas manusia lainnya? Tidak sudikah kiranya kita memandang sama setiap manusia sebagaimana Tuhanpun memandang sama?

“Hai ummat manusia! Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah satu. Ingatlah! Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang lain Arab; tidak pula ada kelebihan bagi orang selain Arab atas orang Arab; tidak juga ada kelebihan orang yang berkulit merah atas orang kulit hitam; dan tidak pula orang kulit hitam atas orang kulit merah, melainkan lantaran takwa. Sebab sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling bertakwa kepada Allah.”  (HR Baihaqi)

Hendaklah kita memperhatikan juga bagaimana modernisasi ini telah merubah tatanan kehidupan manusia. Lihatlah teknologi transportasi dan komunikasi yang telah berkembang sangat cepat dan tiada dapatlah kita menahannya. Teknologi telah membuat kita terhubung sedemikian rupa dengan berbagai manusia di berbagai belahan dunia dengan kecepatan yang tak terbayangkan sebelumnya. Teknologi telah membuat kita terhubung dengan berbagai manusia dengan berbagai latar belakang dan budaya nyaris tanpa batas. Masih dapatkah dengan keadaan yang demikian itu kita terus saja meributkan segala perbedaan? Coba perhatikan sekeliling anda. Lihatlah baju yang anda pakai itu, jam tangan yang anda gunakan itu, sepatu, celana, meja, televisi, komputer, sikat gigi, sabun, odol, meja, kursi, piring, gelas sampai dengan tusuk gigi yang anda gunakan itu. Tidakkah anda menyadari siapakah yang telah membuat semua itu untuk anda? Ya, semua telah dibuat oleh orang lain untuk anda. Kita benar-benar saling membutuhkan dan saling bergantung satu sama lainnya. Pernahkah anda bertanya, Yahudikah atau Nasranikah yang telah membuat baju anda itu? Pernahkah anda bertanya Hindu atau Budha-kah yang telah membuat sabun mandi anda itu? Pernahkah anda bertanya Jawakah atau Sundakah yang telah membuat sepatu anda itu? Sungguh tiadalah penting apapun perbedaan suku, ras, golongan dan agama yang kita punya. Satu-satunya yang penting buat kita adalah membangun perikehidupan yang berdiri di atas dasar perikemanusiaan dan perikeadilan. 

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.  (QS. Al-Maidah [5]:68)

Lihatlah ayat tersebut di atas. Dapatkah kita melihat ada kebenaran yang sama di dalam kitab-kitab itu? Adakah kita percaya bahwa di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an itu sama-sama ada kalimat takwa? Tentu saja ada kalimat takwa itu di dalam Taurat, di dalam Injil dan sebagaimana juga di dalam Al-Qur’an itu. Tidak usahlah kita meributkan dan membangga-bangakan kitab yang kita punya itu. Percuma dan sia-sia sajalah jika kita hanya membangga-banggakannya tanpa niat dan upaya untuk menegakkan ajaran-ajarannya. Bahkan tiadalah Allah memandang kita beragama barang sedikitpun sebelum kita meneggakkan ajaran-ajarannya itu.

Lalu bagaimanakah cara kita menegakkan kitab-kitab itu? Jika kita sama-sama membaca kitab yang kita punya, dan memeriksanya dengan teliti, akanlah kita dapati bahwa yang Allah kehendaki adalah ditegakkannya NERACA KEADILAN! Keadilan yang berlaku sama bagi seluruh umat manusia. Semoga kita termasuk orang-orang yang percaya bahwa Neraca Keadilan itu pulalah yang hendak ditegakkan oleh Pancasila itu!

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.  (QS. Al-Baqarah [2]:62)

Perhatikan juga ayat tersebut di atas dan janganlah kita terus saja membolak-balikan logika dan menyangkal bahwa Allah menghagai setiap amal kebaikan yang dilakukan manusia dari agama manapun ia berasal. Janganlah karena kesombongan kita kemudian kita memandang bahwa kitalah satu-satunya umat yang dipandang Tuhan. Ketahuilah orang-orang Yahudi dan nasrasi pun menganggap bahwa mereka itulah kekasih-kekasihnya Tuhan. Orang-orang Hindu, Budha dan Konghucupun demikian pula. Jadi, tidak usah lagi membuat keributan yang tiada akhirnya hanya untuk aku-mengaku sebagai kekasihnya Tuhan. Tujukanlah saja amal kebaikan kita masing-masing sebagai bukti bahwa kita mencitai-Nya. Berhentilah kita untuk saling mengkafirkan. Dan tentang segala beda cara ibadah kita, cara kita berdoa dan memuja-Nya, serta segala artibut keagamaan kita itu, biarlah Tuhan saja yang menilai dan menghakiminya. Biarlah di dunia ini kita hanya mengukur kebenaran dan kemuliaan seseorang dari amal perbuatannya saja. Dari kebermanfaatan dan kontribusinya bagi kemaslahatan kehidupan umat manusia.

Sungguh kita dapat menemukan seribu bahkan sejuta perbedaan dari tiap-tiap agama untuk menjadi alasan kita berselisih dan bertengkar. Namun di atas dasar semangat berbhineka tunggal ika, marilah kita mencari sedapat mungkin persamaan yang dengannya kita dapat bersatu dan membangun hidup bersama. Di bawah ini adalah berberapa contoh ajaran yang senada dan sejiwa dari berbagai kitab agama-agama yang ada di bumi Indonesia: Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu:

Jika seseorang menghargai hidupnya sendiri, ia harus menjaganya baik-baik dan hidup secara lurus. Dan oleh karena tidak ada yang lebih berharga bagi hidup manusia dari pada hidupnya sendiri, maka ia pun harus menghargai dan menghormati hidup orang lain seperti hidupnya sendiri.
(Samyutta Nikaya I, 75)

Seorang yang berperi Cinta Kasih ingin dapat tegak, maka ia berusaha agar orang lain pun tegak; ia ingin maju, maka ia berusaha agar orang lain pun maju.
(Lun Gi VI : 20)

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS Al-Maidah [5]: 8)

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
(Matius 22:39)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS. Al-Hujurat [49]:13)

Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa dan ambillah keputusan dengan satu pikiran. Seperti orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya, hendaklah kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu.
(Reg Weda X 191.2)

Wahai umat manusia! Bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatukan para Dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan diantara kamu.
(Atharwa Weda 111.30.4)

Semua orang takut hukuman, semua orang mencintai kehidupan. Setelah membandingkan orang lain dengan dirinya sendiri, hendaknya seseorang tidak membunuh atau mengakibatkan pembunuhan. 
(Dhammapada 130)

Aku satukan pikiran dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan diantara kamu. Aku bimbing mereka yang berbuat salah munuju jalan yang benar.
(Atharwaweda 111.8.5)

Wahai umat manusia! Pikirkanlah bersama. Bermusyawarahlah bersama, satukan hati dan pikiranmu satu dengan yang lain. Aku anugrahkan pikiran dan idea yang sama dan fasilitas yang sama pula untuk kerukunan hidupmu.
(Reg weda X 191.3)

Wahai umat manusia! Milikilah perhatian yang sama, tumbuhkan saling pengertian diantara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan.
(Reg Weda X 191.4)

Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.
(1 Petrus 1:22)

Bagaikan seorang ibu yang melindungi anaknya yang tunggal, sekalipun mengorbankan kehidupannya; demikian juga seharusnya seseorang memelihara cinta kasih yang tidak terbatas itu kepada semua mahluk. 
(Digha Nikaya I, 73 – Karaniyametta Sutta)

Oleh karena itu, Kami tetapkan bagi Bani Israil, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.
(QS. Al Maidah: 32)

Jauhilah yang jahat, lakukanlah yang baik, usahakanlah perdamaian dengan sekuat tenaga.
(Mazmur 34:15)

Di Empat Penjuru Lautan, semuanya saudara.
(Lun Gi: XII:5)

Tahukah kita salah satu alasan Bung Karno membangun Masjid Istiqlal? Dimaksudkan jugalah oleh Bung Karno Masjid Istiqlal itu agar menjadi lambang kemerdekaan beragama. Itulah lambang Indonesia dilihat dari sudut pandang agama. Agar menjadi mengerti kiranya kita bahwa bangsa dan negara ini adalah tempat kita untuk bersama-sama bersujud kepada Allah Tuhan semesta alam. Melalui kehidupan berbangsa dan bernegara inilah kita hendak memuliakan dan mengagungkan-Nya. Melalui kehidupan berbangsa dan bernegara inilah kita hendak mewujudkan ketakwaan kita kepada-Nya. Kita ingin menegakkan Neraca Keadilan-Nya. Menegakkan ajaran kemerdekaan. Karena itulah ia diberi nama Masjid Istiqlal. Masjid Merdeka. Bangsa dan negara Indonesia ini adalah seumpama sebuah masjid besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebuah masjid yang didirikan di atas dasar takwa.

Kita tentu tahu siapa Bung karno itu. Ia bukanlah orang sembarangan. Tak terkira jasa atas negeri tercinta ini. Dan pemahaman beliau tentang Islam dan agama tiadalah kita dapat menandinginya. Beliau pun pernah mendapat 26 gelar Doctor Honoris Causa berbagai bidang ilmu dari berbagai belahan dunia. ’Gelar Doctor Honoris Causa Ilmu Filsafat dari Al Azhar University Kairo’, ‘gelar Doctor Ilmu Ushuluddin (asas berdirinya agama) dari IAIN Jakarta’ dan ‘gelar Doctor Honoris Causa Filsafat Ilmu Tauhid dari Universitas Muhammadiyah, Jakarta’ adalah tiga gelar yang cukup menjadi bukti bahwa Bung Karno sangat memahami agama dan sangat memahami Islam dengan baik. Baliau adalah orang yang sangat mencintai Islam dan lebih-lebihlah dari kita cintanya kepada Islam itu. Maka hendaklah kita tidak ragu kita bahwa sejak hari pertama negara ini didirikan oleh Bung Karno dan para pendiri bangsa lainnya yang juga sebagian besar sangat memahami Islam, di dirikanlah ia di atas dasar takwa.

“Dan ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka seolah-olah gunung itu naungan awan dan mereka sangka bahwa gunung itu akan jatuh menimpa mereka, (Kami berfirman kepada mereka): "Terimalah dengan bersungguh-sungguh yang telah Kami berikan kepada kamu dan ingatlah (amalkanlah) apa yang terkandung di dalamnya, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa"  (QS. Al-A’raf [7]:171)

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 240 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar