Home » 2017 » July » 12 » PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA II
4:47 PM
PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA II

Kursus Presiden Soekarno Tentang Pancasila di Istana Negara, Tanggal 16 Juni 1958.

Saudara-saudara sekalian,

Di dalam kursus saya yang pertama sebagai pendahuluan, saya terangkan kepada saudara-saudara bahwa perjuangan rakyat Indonesia untuk menumbangkan imperialisme tidak boleh lain daripada bersifat mempersatukan segenap tenaga-tenaga revolu­sioner yang ada di masyarakat kita. Saya jelaskan pada waktu itu sebabnya. Sebabnya ialah bahwa kita berhadapan dengan imperi­alisme Belanda yang imperialisme Belanda itu berlainan sifat daripada misalnya imperialisme Inggeris. Manakala imperialisme Inggris adalah terutama sekali satu imperialisme perdagangan, – yang saya maksudkan ialah imperialisme Inggris yang datang di India -, maka imperialisme Belanda yang datang di Indonesia, terutama sekali adalah satu imperialisme daripada Finanz-kapital. Finanz-kapital yaitu kapital yang ditanamkan di sesuatu tempat berupa perusahaan-perusahaan.

Oleh karena Finanz-kapital Belanda ini membutuhkan buruh murah, sewa tanah murah, maka akibat daripada Finanz-kapital di Indonesia ialah pauverisering daripada rakyat Indonesia. Dan oleh karena rakyat Indonesia sesudah berjalan-nya Finanz-kapital ini berpuluh-puluh tahun menjadi satu rakyat yang di segala lapangan verpauveriseerd. Tadi saya terangkan kepada saudara-saudara, untuk mencakup begrip “semua rakyat yang verpauveriseerd” ini saya telah mempergunakan istilah marhaen. Saya ulangi: oleh karena akibat daripada Finanz-kapital ini ialah bahwa rakyat In­donesia ini di segala lapangan verpauveriseerd menjadi rakyat marhaen, di segala lapangan, baik lapangan proletar maupun lapangan yang tidak proletar, maka untuk menumbangkan impe­rialisme Belanda itu kita harus memakai jalan lain daripada mi­salnya rakyat India memperjuangkan kemerdekaannya. Rakyat India masih memiliki satu nationale bourgeoisie, bahkan pada pertengahan atau bagian kedua daripada abad ke-19 borjuasi nasional India ini hendak naik benar-benar sehingga nationale bourgeoisie India inilah sebenarnya yang menjadi tenaga motoris daripada gerakan rakyat India menentang imperialisme Inggris itu, berwujud gerakan Swadeshi di lapangan ekonomi dan di lapangan politik gerakan satyagraha.

Kita yang segenap zaman pre- atau pra-imperialis memiliki bibit-bibit nationale bourgeoisie, tetapi yang oleh proses imperi­alis di segala lapangan verpauveriseerd sehingga menjadi rakyat marhaen, kita tak dapat menjalankan cara perjuangan sebagai yang dijalankan oleh rakyat India itu. Maka boodschap kepada kita ialah mempersatukan segenap tenaga revolusioner yang ada di dalam rakyat Indonesia yang verpauveriseerd itu. Baik yang proletar maupun yang bukan proletar. Sehingga boodschap perjuangan kita di Indonesia ialah boodschap persatuan. Hal itu sudah saya terangkan kepada saudara-saudara pada kursus saya yang pertama. Dan memang dengan menyelenggarakan persatuan daripada segenap tenaga revolusioner itulah akhirnya kita pada tanggal 17 Agustus 1945 dapat mengadakan proklamasi kita dan juga dengan persatuan itu kita dapat mempertahankan proklamasi itu. Hanya di waktu-waktu yang sekarang ini persatuan itu terganggu se­hingga sewajibnya kita berikhtiar lagi untuk memperbaiki lagi keretakan-keretakan di dalam tubuhnya bangsa Indonesia itu.

Mempersatukan segenap tenaga revolusioner, – dan arti perkataan revolusioner pun di dalam kursus yang pertama sudah saya jelaskan kepada saudara-saudara -. Saya ulangi dengan singkat: untuk bersifat revolusioner tak perlu dari golongan prole­tar, tak perlu dari golongan demokrasi formil, tak perlu dari golongan sosialis, -sosialis dalam arti yang luas, – revolusioner adalah tiap-tiap orang yang progresif menghantam kepada impe­rialisme. Revolusioner adalah tiap-tiap orang yang hendak meng­akhiri kolonialisme dan hendak mengadakan kemerdekaan nasional. Oleh karena itu adalah progresinya sejarah. Tidak perlu seorang proletar, sebab yang bukan proletar bisa juga revolusioner. Sebaliknya ada contoh proletar tidak revolusioner. Tidak perlu demokrasi formil, sebab orang yang tidak berdemokrasi formil bisa revolusioner. Tidak perlu berangan-angan atau dari golongan sosialis, dalam arti yang luas, sebab ada yang sosialis tetapi tidak revolusioner. Ada yang bukan sosialis tetapi revolusioner, sosialis dalam arti yang luas.

Di dalam kursus saya yang pertama, hal ini tidak saya ke­mukakan kepada saudara-saudara. Tapi sosialis, seperti waktu saya membuat kuliah di Yogyakarta saya terangkan bahwa perkataan sosialisme saya ambil dalam arti nama kumpulan, ver­zamelnaam, dari semua aliran-aliran yang menghendaki masya­rakat sama rasa sama rata. Dus ya sosialis demokrat, ya anarchist, ya komunis, ya utopist sosialis, ya religieus socialist. Semuanya saya cakup dengan satu perkataan: sosialis.

Saudara-saudara, konklusi daripada kursus saya yang perta tadi, sudah saya katakan: boodschap yang diberikan sejarah kepada kita ialah persatuan, mempersatukan segenap tenaga. Bukan saja untuk menumbangkan imperialisme, tetapi juga untuk mempertahankan negara yang kita dirikan dan yang hendak ditum­bangkan kembali oleh imperialisme itu.

Maka berhubung dengan itulah, timbul pertanyaan kepada segenap rakyat Indonesia, tatkala rakyat Indonesia hendak meng­adakan kemerdekaan nasional, apakah negara yang hendak didiri­kan itu harus diberi satu dasar yang di atas dasar itu segenap rakyat Indonesia dipersatupadukan, apa tidak. Dan jawabnya ialah: ya, perlu dasar yang demikian itu, dasar pemersatu daripada segenap rakyat Indonesia. Sehingga sebagai saudara-saudara ketahui, soal dasar ini menjadi pembicaraan di dalam sidang-sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai yang bersidang sebelum kita mengadakan pro­klamasi, jadi pertengahan tahun 1945. Dan di dalam salah satu sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai itulah dianjurkan oleh onder­ getekende untuk memakai Pancasila sebagai dasar negara yang akan kita adakan. Dan kemudian Pancasila ini diterima di dalam Jakarta Charter. Kemudian sesudah kita mengadakan proklamasi diterima oleh sidang daripada pemimpin pertama daripada negara yang telah kita proklamirkan. Dasar negara yang kita butuhkan ialah pertama: harus satu dasar yang dapat mempersatukan. Kedua: satu dasar yang memberi arah bagi perikehidupan negara kita itu. Katakanlah dasar statis, di atas mana kita bisa hidup bersatu dan dasar dinamis ke arah mana kita harus berjalan, juga sebagai negara. Sebab apa yang dinamakan negara saudara­saudara? Negara adalah tak lebih dan tak kurang daripada satu organisasi, satu organisasi kekuasaan, satu machtorganisatie. Ten­tang hal negara ini banyak sekali teori-teori, apa negara itu. Ada teori yang mengatakan negara adalah satu hal sudah semestinya terjadi. Sonder maksud ini atau maksud itu, dengan sendirinya sesuatu bangsa mencapai negara. Teori ini di dalam sejarah manusia nyata telah dibantah. Sebab di dalam sejarah manusia sering sekali tampak bangsa-bangsa atau gerombolan-gerombolan manusia yang berjumlah banyak hidup tanpa negara. Ambillah misalnya kafilah-kafilah di Sentral Afrika. Mereka itu hidup, mencari makan, membuat perumahan, hidup bersuami isteri, tetapi tiada ikatan yang dinamakan negara. Ada juga yang berkata bahwa negara adalah penjelmaan daripada ide yang luhur sekali. Ya, ini masih harus ditanya, ide itu ide apa.

Hegel misalnya, salah seorang ahli falsafah yang besar, berkata: de staat of een staat is de tot werkelijkheid geworden idee. Ya boleh kita terima ini. Tetapi apa yang dinamakan idee, de tot werkelijkheid geworden idee, ide yang terjelma? Ini masih diminta jawaban lagi apa yang dinamakan idee Hegel.

Saya sendiri berpendirian bahwa negara itu tak lain tak bukan ialah sebenarnya satu organisasi. Dan tegasnya satu organisasi ke­kuasaan. Satu machts-organisatie. Kita bisa mengadakan organi­sasi partai. Dan partai itu dipmpin oleh segolongan manusia yang dinamakan dewan pimpinan. Demikian pula kita bisa mengadakan organisasi daripada seluruh manusia di dalam lingkungan bangsa yang bernama negara. Dan negara ini dipimpin oleh segolongan manusia yang dinamakan pemerintah. Pada hakekatnya tiada per­bedaan antara dua hal ini. Partai dengan ia punya dewan pimpinan, negara dengan ia punya pemerintah. Pada hakekatnya partai mem­punyai statuten, negara memakai Undang Undang Dasar. Partai mempunyai peraturan-peraturan rumah tangga, negara mempu­nyai organieke wetten, hukum-hukum organik. Pada hakekat-nya, basically, kata orang Inggris, tidak ada perbedaan di antara dua ini.

Keterangan Karl Marx lebih lanjut lagi daripada ini. Negara adalah satu organisasi kekuasaan, kata Karl Marx, macht-organisa­tie. Bahkan satu machtorganisatie daripada sesuatu kelas untuk mempertahankan dirinya terhadap lain kelas. Karl Marx berkata, bahwa di dalam sejarah dunia ini selalu ada dua kelas yang bertentangan satu sama lain. Di dalam sejarah manusia, selalu ada dua kelas yang bertentangan satu sama lain. Ada kelas feodal yang bertentangan dengan kelas horigen, yaitu rakyat jelata yang ditin­das oleh feodalisme itu. Sekarang ada kelas kapitalis dan kelas proletar. Selalu ada dua kelas. Maka kata Marx, negara adalah satu machts-organisatie di dalam tangannya salah satu kelas ini untuk menindas kelas yang lain. Di dalam zaman feodal negara adalah satu machts-organisatie di dalam tangannya kaum bangsawan untuk menindas kaum horigen. Di dalam zaman kapitalisme negara adalah machts-organisatie di dalam tangannya kaum kapi­talis untuk menindas kaum proletar. Ditindas artinya untuk men­jalankan sesuatu yang cocok dengan kepentingan kelas kapitalis ini, tetapi tidak cocok dengan kepentingan kaum proletar.

Teori ini ditarik terus oleh Marx. dalam arti jikalau nanti ada revolusi, kapitalis ini dengan alat kekuasaannya yang bernama negara, dengan kaum proletar yang karena mereka itu mengorga­nisasikan dirinya dengan semboyannya: “Proletaries aller landen, verenigt U”, mengorganisasikan dirinya, akhirnya dapat merebut negara atau alat kekuasaan yang tadinya di dalam tangan kaum kapitalis ini, -jikalau revolusi demikian itu telah terjadi, maka alat kekuasaan yang tadinya di dalam tangan kaum kapitalis, yaitu negara yang tadinya di dalam tangan kaum kapitalis terebut oleh kelas proletar dan kelas proletarlah yang memegang alat kekuasa­an yang dinamakan negara ini.

Sesudah sesuatu revolusi sosial ini terjadi, alat kekuasaan yang dinamakan negara jatuh di dalam negara kaum proletar. Maka berhubung dengan itulah apa yang dinamakan dictatuur­proletariaat berjalan dan bukan berjalan secara insidentil, tetapi berjalan secara historis, sebab negara adalah pada hakekatnya alat kekuasaan di dalam tangan sesuatu kelas. Tadi di dalam tangan kaum kapitalis, sesudah revolusi proletar di dalam tangan kaum proletar. Dan alat kekuasaan ini dipergunakan oleh kaum proletar untuk menindas kaum kapitalis. Dus, sifat daripada praktik alat kekuasaan yang sekarang ini adalah dictatuur-proletaar.

Nah, saya teruskan uraian mengenai Marx ini. Sesudah demikian bagaimana? Sesudah demikian kelas kapitalis ini karena dialatkuasai oleh dictatuur proletaar ini, makin lama makin lemah, makin lama makin surut, akhirnya hilanglah kelas yang dinamakan kelas kapitalis. Tinggal kelas proletar itu. Dan oleh karena tinggal hanya satu kelas sebenarnya sudah tidak ada kelas lagi. Orang bisa bicara tentang kelas jikalau masih ada perbedaan. Kelas I, kelas 11, kelas 111, kelas VIII, kelas IX, karena ada perbedaan. Kalau tinggal cuma satu, itu bukan kelas lagi. Nah, kalau tinggal proletar saja, rakyat jelata saja, tidak ada kelas kapitalisnya, itulah oleh Marx yang dinamakan satu masyarakat tanpa kelas, satu klasseloze maatschappij. Manusianya tetap ada, bahkan berkembang biak banyak. Tetapi masyarakat itu tidak mempunyai kelas, klasseloos. Dan oleh karena klasseloos, maka masyarakat itu menjadi staat­loos, sebab, – saya ulangi lagi -, menurut teori Karl Marx, negara adalah machts-organisatie di dalam tangan sesuatu kelas.

Jikalau kelas itu juga tidak ada, maka machtsorganisatie se­bagai machts-organisatie tidak ada lagi. Maka menjadi satu masyarakat yang staatloos. Ini saya beri tahu kepada saudara­saudara, agar supaya saudara-saudara mengerti istilah-istilah di dalam ilmu Marxisme; klasseloze maatschappij dan staatloze maatschappij. Dus tidak ada lagi sesuatu golongan yang harus di-onderdruk, yang harus ditindaso Kalau ada dua kelas, ada satu golongan yang berkuasa dan satu golongan yang harus ditindas. Kalau sudah staatloos dan klasseloos, tidak ada lagi golongan yang harus ditindas. Fungsi negara hilang. Fungsi negara sebagai alat kekuasaan hilang. Yang tinggal ialah fungsi administratif daripada manusia-manusia. Ada fungsi opseter, ada fungsi insinyur, ada fungsi guru dan lain-lain sebagainya, tetapi fungsi negara sebagai negara, tidak ada lagi.

Saya beri penjelasan kepada saudara-saudara tentang hal ini untuk mengerti bahwa kita tatkala kita concipieren, membentuk negara kita, sebagai negara kita harus mengerti bahwa negara itu adalah suatu hal yang dinamis. Kalau Marx berkata: ini adalah alat kekuasaan, maka tadi saya berkata: kita dalam mengadakan negara itu harus dapat meletakkan negara itu atas suatu meja yang statis yang dapat mempersatukan segenap elemen di dalam bangsa itu, tetapi juga harus mempunyai tuntutan dinamis ke arah mana kita gerakkan rakyat, bangsa dan negara ini.

Saya beri uraian itu tadi agar saudara-saudara mengerti bahwa bagi Republik Indonesia, kita memerlukan satu dasar yang bisa menjadi dasar statis dan yang bisa menjadi Leitstar dinamis. Leitstar, bintang pimpinan.

Nah, ini yang menjadi pertimbangan daripada pemimpin-­pemimpin kita dalam tahun 1945, dan sebagai tadi saya katakan, sesudah bicara, bicara, akhirnya pada satu hari saya mengusulkan Pancasila, dan Pancasila itu diterima masuk dalam Jakarta Charter, masuk dalam sidang pertama sesudah proklamasi. Jadi kalau saudara ingin mengerti Pancasila, lebih dulu harus mengerti ini: meja statis, Leitstar dinamis.

Kecuali itu kita sekarang lantas masuk kepada persoalan elemen-elemen apa yang harus dimasukkan di dalam meja statis atau Leitstar dinamis ini. Kenapa Pancasila? Mungkin Dasasila, atau Catursila, atau Trisila atau Saptasila. Kenapa justru lima ini? Bukan kok lima jumlahnya, tetapi justru Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat dan Keadilan Sosial. Kenapa tidak tambah lagi, atau dikurangi lagi beberapa. Kenapa justru kok lima macam ini.

Saudara-saudara, jawabannya ialah, kalau kita mencari satu dasar yang statis yang dapat mengumpulkan semua, dan jikalau kita mencari suatu Leitstar dinamis yang dapat menjadi arah perjalanan, kita harus menggali sedalam-dalamnya di dalam jiwa masyarakat kita sendiri. Sudah jelas kalau kita mau mencari satu dasar yang statis, maka dasar yang statis itu harus terdiri daripada elemen-elemen yang ada pada jiwa Indonesia. Kalau kita mau masukkan elemen-elemen yang tidak ada dalam jiwa Indonesia, tak mungkin dijadikan dasar untuk duduk di atasnya.

Misalnya kalau kita ambil elemen-elemen dari alam pikiran Eropa atau alam pikiran Afrika. Itu adalah elemen asing bagi kita, yang tidak in concordantie dengan jiwa kita sendiri, tak akan bisa menjadi dasar yang sehat, apalagi dasar yang harus memper­satukan. Demikian pula elemen-elemen untuk dijadikan Leitstar dinamis harus elemen-elemen yang betul-betul menghikmati jiwa kita. Yang betul-betul, bahasa Inggrisnya appeal kepada jiwa kita. Kalau kita kasih Leitstar yang tidak appeal kepada jiwa kita, oleh karena pada hakekatnya tidak berakar kepada jiwa kita sendiri, ya tidak bisa menjadi Leitstar dinamis yang menarik kepada kita.

Ini adalah satu soal yang susah, saudara-saudara. Apalagi bagi saudara-saudara, pemimpin-pemimpin yang salah satu tugas dari­pada pemimpin itu harus bisa menggerakkan rakyat. Tiap-tiap saudara-saudara yang ada di sini ingin bisa meng-gerakkan rakyat, bisa menarik pengikut-pengikut, tidak pandang saudara dari partai apa, yang duduk di sini, semuanya sebagai pemimpin ingin me­mimpin, ingin mempunyai golongan yang dipimpin yang bisa mengikuti dia, yang bisa diajak berjalan. Untuk memenuhi ini saja sudah susah, saudara-saudara. Banyak pemimpin yang kandas, tidak bisa menggerak-kan rakyat, tidak bisa mendapat pengikut banyak, oleh karena ia tidak bisa mengadakan appeal. Appeal yaitu ajakan, tarikan yang membuat si rakyat itu mengikuti dia, pada panggilannya.

Jikalau saudara baca mengenai hal ini, saya ini sedang me­ngupas hal Leitstar, baca mengenai hal ini, bagaimana cara kita menggerakkan rakyat. Dan bukan saja menggerakkan rakyat, tetapi kadang-kadang minta supaya mau berkorban, mau berjuang, mau membanting tulang, pendek mau menggerakkan kemauan dalam hati rakyat, bukan sekadar satu keinginan, tetapi kemauan untuk berjuang.

Syarat-syaratnya ini apa? Kalau saudara baca kitab-kitab yang ditulis pemimpin-pemimpin yang berpengalaman tentang hal ini, saudara akan melihat bahwa hal ini tidak gampang. Baru sekadar hendak membangunkan di dalam hati rakyat keinginan, itu gam­pang sekali. Keinginan kepada masyarakat yang kenyang makan, keinginan pada satu masyarakat yang manis, tiap-tiap orang bisa. Asal bisa mengiming-imingi (membayang-bayangkan). Tetapi untuk meng-gumpalkan keinginan ini menjadi kemauan, menjadi tekad, bahkan menjadi keredlaan berkorban, that is another matter, lain hal. Kalau saudara baca kitab-kitab yang menganalisa hal ini, maka saudara akan menemui tiga syarat:

Pertama, memang saudara harus bisa menggambarkan, mengiming-iming: Mari kita capai itu! Lihat itu bagus, lihat itu indah, lihat itu lezat. Di situlah kebahagiaan. Pemimpin yang tidak bisa menggambarkan, melukiskan cita-cita, tidak akan mendapat hasil. Itu syarat yang pertama. la harus bisa melukiskan cita-cita.

Di dalam sejarah dunia saudara akan melihat bahwa pemimpin-pemimpin besar yang bisa menggerakkan massa, se­muanya adalah pemimpin-pemimpin yang bisa melukiskan cita­cita. Bukan saja di dalam lapangan politik, tetapi di dalam segala lapangan.

Ambil contoh Nabi-nabi, yaitu pemimpin-pemimpin besar sekali. Semua Nabi-nabi itu pandai benar melukiskan cita-cita. Katakanlah mengiming-iming. Misalnya Nabi Muhammad: Kalau engkau berbuat baik, engkau masuk di sana. Malah digambarkan secara plastis, dilukis betul indahnya sorga, nyamannya sorga, nikmatnya sorga. Bahkan ditulis di dalam firman Allah, Quran sendiri, di sorga itu betapa amannya, indahnya, tidak ada terik matahari, semuanya enak, ada sungai-sungai, dan airnya itu jernih cemerlang, atau air susu, atau air madu, dan berkeliaran bidadari­bidadari di situ. Sehingga betul teriming-iming umat Islam itu ingin masuk di sana dengan melalui jalan kebajikan. Untuk men­capai itu, jalannya ialah kebajikan. Yang ada di dunia ini, bagai­manapun bagusnya kalah indahnya daripada itu.

Ambil Nabi Isa: Kerajaan di dunia ini, bagaimanapun bagus­nya, kalah bagus dengan kerajaan Langit, het Koninkrijk der Hemelen. Kerajaan Langit dilukiskan di dalam ciptaan kita seba­gai lawan daripada kerajaan yang ada di bumi ini.

Ambil pemimpin-pemimpin lain, bukan di lapangan agama, tetapi di lapangan politik, bahkan yang fasis, atau yang sosialis. Fasis, Hitler misalnya. Hitler itu kok bisa sampai mendapat pengikut juta-jutaan dan pengikut yang fanatik-fanatik. Oleh karena ia pandai memasangkan Leitstar-nya.

Hitler berkata: jikalau kau ingin satu kerajaan yang lebih hebat daripada sekarang, jangan kerajaan sekarang ini kau terima. Bongkar! Kita harus meng-adakan kerajaan yang ketiga, das dritte Reich. Reich yang pertama masih kurang baik bagi kita, yaitu zaman Germanentum. Zaman baheula, zaman ceriteranya Nibelungen yang di dalam puisi Jerman digambar-kan sebagai zaman keemasan daripada Germanentum. Dengan pahlawan­-pahlawannya, misalnya Brunhilde, Kriemhilde, Siegfried. Sieg­fried jago yang tidak tedas senjata, kecuali ada satu tempat di punggungnya yang tidak kebal, karena pada waktu ia mandi di air kebal, ada daun jatuh di atas punggung-nya, sehingga bagian daun itu tidak terkena air kebal; yang lain-lain kena air kebal. Zaman itu digambarkan oleh Hitler, belum, kurang besar, kurang bagus. Kerajaan yang kedua, di bawah pimpinan Kaisar Frederick de Grote, zaman itu ya besar, tetapi kurang besar bagi kita. Tidak, kita menghendaki kerajaan yang ketiga, yang di dalam kerajaan ketiga ini, hanya orang-orang yang berambut jagung, mata biru yang akan hidup, tidak dicemarkan dengan darah Yahudi, atau darah Roman dari Selatan. Tetapi hanya orang-orang yang murni Ariers. Kerajaan ketiga inilah, yang di dalamnya tidak ada kemiskinan dan tidak ada kehinaan. Itu kita punya cita-cita. Dengan jalan demikian ia mengiming-iming kepada rakyat Jerman.

Ambil Marx, tadi saya ceriterakan kepada saudara-saudara, ia dapat betul menggambarkan satu, bukan saja klasseloze maat­schappij, tetapi satu staatloze maatschappij, yang di situ tidak ada penindasan. Sebaliknya semua manusia hidup di dalam suasana kekeluargaan. Satu staatloze dan klasseloze dan klasseloze maat­schappij yang hanya ada kebahagiaan dan kesejahteraan.

Demikianlah saudara-saudara maka salah satu syarat untuk bisa menjadi pemimpin ialah harus dapat mengiming-iming, tetapi jangan mengiming-iming barang yang bohong. Itulah salah satu syarat. Perkataan saya saja mengiming-iming, tetapi sebenarnya ialah dapat membentangkan Leitstar kepada rakyat.

Nomor dua, harus bisa memberi kepada rakyat. Demikian-lah, menganalisa hidup, cara bekerjanya pemimpin-pemimpin besar, bisa memberi kepada rakyat rasa mampu mencapai apa yang diinginkan itu. Merasa mampu, membangunkan rasa mampu. Meskipun engkau bisa mengiming-iming, tetapi jikalau engkau tidak bisa mem-bangunkan rasa mampu di dalam rakyat bahwa rakyat bisa mencapai apa yang engkau iming-imingkan, ya, maka di dalam kalbu rakyat akan hanya hidup kepingin, ingin, tetapi belum menggumpal menjadi satu kehendak, kemauan, satu wil. Sebab sebelumnya sudah terhambat oleh rasa, toh tidak mampu. Ibaratnya engkau bisa mengiming-imingi seseorang yang badan­nya lemah. Lihat itu, di puncak pohon itu ada buah merah, buah itu paling enak. Si dahaga kepingin buah itu, tetapi ia merasa dirinya lemah, dus, tinggal kepingin saja, tidak ia mempunyai kehendak, kemauan, wil untuk mencapai buah itu. Atau engkau bisa ambil seorang pemuda, anak orang biasa. Engkau iming­iming dia dengan seorang gadis cantik, entah anak bangsawan tinggi, entah milyuner. Bung lihat, bukan main cantiknya. Tetapi ia tidak mempunyai rasa mampu untuk mengambil hati si gadis itu. Malahan ia merasa dirinya lemah sekali. Aku anak orang miskin. Ia anak orang kaya. Mana bisa kawin sama dia. Tidak akan timbul kehendak, wil untuk mengawini gadis itu. Itu syarat nomor dua.

Syarat nomor tiga, bukan saja menanamkan keyakinan, atau rasa mampu, tetapi menanamkan kemampuan yang sebenar­benarnya. Menanamkan kemauan memberi kepada rakyat de werkelijke kracht, dengan cara mengorganisir rakyat itu. Jadi tadinya sekadar keinginan oleh karena teriming-iming, keinginan ini timbul, naik lagi setingkat menjadi kemauan, oleh karena saudara bisa memberi kepada rakyat itu rasa mampu, krachts­gevoel. Krachtsgevoel ini dinaikkan setingkat lagi rnenjadi de werkilijke kracht, dengan cara mengorganisir rakyat itu. Kalau tiga ini saudara-saudara sudah bisa dijadikan trimurti, artinya diper­satukan di dalam tindakanmu sebagai pemimpin, saudara akan bisa menggerakkan massa. Dus, Leitstar yang dinamis saudara­saudara, harus memberi kemungkinan kepada tiga hal ini. Rakyat tertarik, satu. Rakyat mempunyai rasa, aku atau kita bisa menca­pai, dua. Tiga, bukan saja rasa mampu, tetapi memang mampu untuk mencapai itu. Kalau sekadar dua, dapat mengiming-iming, dapat memberi krachtsgevoel, tetapi saudara tidak bisa memberi tenaga, buah di atas pohon itu tidak bisa terpetik. Saudara bisa berkata, he, buah itu enak betul, kepingin apa tidak? Kepingin. Mau apa tidak? Mau. Tetapi saudara lupa melatih dia untuk manjat pohon itu. Meskipun ia mempunyai kemauan tetapi ia tidak bisa memetik oleh karena baru naik 2, 3 meter sudah jatuh lagi. Tiga syarat ini harus dipenuhi.

Leitstar daripada negara harus bisa realiseren tiga syarat ini. Dus, dasar negara pertama harus bisa menjadi meja statis yang mempersatukan segenap elemen bangsa Indonesia dan dasar negara itu harus bisa merealisir tiga syarat yang saya sebutkan itu agar supaya rakyat dengan alat yang dinamakan negara dapat benar-benar mencapai apa yang dileitstarkan itu. Maka berhubung dengan itu, elemen-elemen daripada dasar ini harus elemen yang tidak asing bagi bangsa Indonesia sendiri. Kalau kita mengambil elemen yang asing, tidak bisa elemen itu menjadi dasar statis. Demikian pula tidak bisa menjadi dasar Leitstar dinamis.

Bangsa atau rakyat adalah satu jiwa. Jangan kira seperti kursi-kursi yang dijajarkan. Bangsa atau rakyat mempunyai jiwa sendiri. Ernest Renan berkata: une nation est une ame, een natie is een ziel. Bangsa itu satu jiwa. Jangan kira bangsa itu adalah jumlah daripada manusia itu dengan manusia itu, seperti kursi-kursi dija­jar. Bcnar bangsa itu terdiri dari manusia-manusia yang berjiwa, malahan apalagi bangsa-bangsa itu terdiri dari manusia-manusia yang berjiwa, tetapi kecuali daripada itu, bangsa itu mempunyai jiwa sendiri pula. Ada misalnya kitab Gustave Le Bon yang mengatakan, bahwa bangsa itu mempunyai jiwa sendiri yang tidak het algemeen totaal daripada si Polan, si Polan dan seterusnya. Mempunyai jiwa sendiri. Satu bangsa adalah satu jiwa.

Nah, oleh karena bangsa atau rakyat adalah satu jiwa, maka kita pada waktu kita memikirkan dasar statis atau dasar dinamis bagi bangsa tidak boleh mencari hal-hal di luar jiwa rakyat itu sendiri. Kalau kita mencari hal-hal di luar jiwa rakyat itu sendiri, kandas. Ya bisa menghikmati satu dua, seratus dua ratus orang, tetapi tidak bisa menghikmati sebagai jiwa tersendiri. Kita harus tinggal di dalam lingkungan dan lingkaran jiwa kita sendiri. Itulah kepribadian. Tiap-tiap bangsa mempunyai kepribadian sendiri, sebagai bangsa. Tidak bisa opleggen dari luar. Itu harus latent telah hidup di dalam jiwa rakyat itu sendiri. Susah mencarinya, mana ini elemen-elemen yang harus nanti total menjadi dasar statis dan total menjadi Leitstar dinamis. Dicari-cari, berkristalisir di dalam lima hal ini: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikema­nusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang, ini yang nyata selalu menjadi isi daripada jiwa bangsa Indonesia. Satu waktu ini lebih timbul, lain waktu itu yang lebih kuat, tetapi selalu schakering itu lima ini.

Ada orang berkata: pada waktu Bung Karno mempropagir-kan Pancasila, pada waktu ia menggali, ia menggalinya kurang dalam. Terang-terangan yang berkata demikian dari pihak Islam. Dan saya tegaskan, saya ini orang Islam, tetapi saya menolak perkataan bahwa pada waktu saya menggali di dalam jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia kurang dalam menggalinya. Sebab dari pihak Islam dikatakan, jikalau Bung Karno menggali dalam sekali, ia akan mendapat dari galiannya itu Islam. Kenapa kok Pancasila? Kalau ia menggali dalam sekali, ia akan mendapat hasil dari penggaliannya itu, Islam. Saya ulangi, saya adalah orang yang cinta kepada agama Islam. Saya beragama Islam. Saya tidak berkata saya ini orang Islam yang sempurna. Tidak. Tetapi saya Islam. Dan saya menolak tuduhan bahwa saya menggali ini kurang dalam. Sebaliknya saya berkata: penggalian saya itu sampai zaman sebelum ada agama Islam. Saya gali sampai zaman Hindu dan pra-Hindu. Masyarakat Indonesia ini boleh saya gambarkan de­ngan saf-safan. Saf ini di atas saf itu, di atas saf itu saf lagi. Saya melihat macam-macam saf. Saf pra-Hindu, yang pada waktu itu kita telah bangsa yang berkultur dan bercita-cita. Berkultur sudah, beragama sudah, hanya agamanya lain dengan agama sekarang, bercita-cita sudah. Jangan kira bahwa kita pada zaman pra-Hindu adalah bangsa yang biadab. Baca kitab misalnya dari Professor Dr. Brandes. Di dalam tulisan itu ia buktikan bahwa Indonesia se­belum kedatangan orang Hindu di sini sudah mahir di dalam sepuluh hal. Apa misalnya? Tanam padi secara sawah sekarang ini, jangan kira itu pembawaan orang Hindu. Tidak. Pra-Hindu. Tatkala Eropa masih hutan belukar, belum ada Germanentum, di sini sudah ada cocok tanam secara sawah. Ini dibuktikan oleh professor Dr. Brandes. Alfabet ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la, ja­ngan kira itu pembawaan orang Hindu. Wayang kulit dibuktikan oleh Professor Brandes bukan pembawaan orang Hindu. Orang Hindu memperkaya wayang kulit, membawa tambahan lakone Lakon terutama sekali Mahabarata dan Ramayana. Tetapi dulu kita sudah punya wayang kulit, tetapi belum dengan Mahabarata dan Ramayananya. Sebagian daripada restan wayang kulit kita dari zaman pra-Hindu, yaitu Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Dawala, Cepot dan lain-lain itu. Itu pra-Hindu. Kita dulu mem­punyai wayang kulit yang menceriterakan kepahlawanan­kepahlawanan kita, sejarah para leluhur. Kemudian datang orang Hindu membawa lakon Mahabarata dan Ramayana. Karena kita ini satu bangsa yang bisa menerima segala hal yang baik, lakon­lakon itu kita masukkan di dalam wayang sebagai perkayaan daripada wayang kulit kita.

Jadi saya menggali itu dalam sekali, sampai ke saf pra-Hindu.  .....selanjutnya>>> 

Category: Kursus Pancasila - Bung Karno | Views: 50 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Pidato Bung Karno, Pancasila, Kursus Pancasila - Bung Karno | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar