Home » 2016 » July » 22 » Mohammad Hatta-Stokvis
3:53 PM
Mohammad Hatta-Stokvis

NASIONALIS INDONESIA – SOSIAL-DEMOKRAT

En Weest niet gegriefd dat ik de

waarheid zegge.

Socrates

Tulisan saudara Mohammad Hatta yang kita muat dalam nomor ini, dan yang mengeritik akan sikapnya sosialis-internasional II terhadap pada soal-jajahan, sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam kongresnya di Brussel akhir-akhir ini, – tulisan itu adalah membangunkan kecewanya hati kaum sosialis di sini, terutama tuan (Stokvis). Di dalam “Indische Volk” No. 29, maka sebagai “Leitartikel” adalah termuat jawaban tuan Stokvis itu terhadap pada kritiknya saudara Mohammad Hatta tahadi. Ja­waban ini memang sedari mulanya kita ketahui datangnya. “Betul I.S.D.P. programnya dan kerjanya tidak dibawa-bawa, akan tetapi kita merasa diri begitu keras berhubungan dengan susunan internationale sociaal democratie, yang kita tak boleh tidak, harus juga ikut membantah”, – begitulah tuan Stokvis berkata.

Yang menjadi sebabnya kritik saudara Mohammad Hatta? Pembaca dapat menyaksikan sendiri: tak lain tak bukan, ialah sikap sosialis-inter­nasional II, yang memang pantas menggerakkan hati tiap-tiap nasionalis sejati dan yang memang pantas dikritik sekedarnya, yakni sikap mem­bagikan negeri-negeri jajahan itu dalam empat bahagian:- bahagian negeri jajahan yang harus dimerdekakan ini waktu juga;- bahagian negeri-negeri jajahan yang boleh mendapat hak “menentukan nasib sendiri” ; – bahagian negeri-negeri jajahan yang hanya boleh mendapat “zelfbestuur” sahaja;- dan bahagian negeri-negeri jajahan yang “biadab”, yang masih harus dijajah entah buat berapa lamanya.

Dan sebagai pembaca dapat menyaksikan sendiri, haibatlah kritiknya saudara Mohammad Hatta, haibatlah ia punya serangan. Haibat pula jawabnya dan tangkisannya tuan Stokvis! Kongres di Brussel itu, betul memintakan zelfbestuur sahaja bagi Indonesia, tetapi tidaklah sekali-kali mengambil putusan, bahwa Indonesia harus tak merdeka selama-lamanya.

Kongres ini, kata tuan Stokvis, hanyalah menghitung-hitung apa yang dapat tercapai pada waktu ini sahaja. Dan tentang penuntutannya kaum sosialis supaya Irak dan Syria dimerdekakan: – Irak dan Syria dituntutkan ke­merdekaannya, tidak oleh karena sedikitnya rezeki yang keluar dari negeri itu, Irak dan Syria mereka tuntutkan kemerdekaannya, ialah walaupun Irak banyak hasilnya minyak dan walaupun Syria ada hasilnya dagang, Irak dan Syria inilah memberikan bukti, bahwa kongres itu sama sekali tidak mendasarkan putusan-putusannya atas “platte duitenkwestie” sahaja, tidak mendengarkan “suara keroncongnya perut” sahaja. Daripada dituduh dan dicerca, daripada diserang dan dihina, maka kongres ini lebih pantas dan mendapat pujian, yang ia menuntut­kan kemerdekaannya Irak dan Syria itu, dan yang menuntutkan hak menentukan nasib sendiri bagi Annam dan Korea!

Daripada menuduh dan mencerca sahaja, maka kita, kaum nasional Indonesia, lebih baik mengerti, bahwa kongres itu mengambil sikap yang demikian, ialah oleh karena soal-kemerdekaan itu bagi beberapa negeri jajahan sudah men­jadi problim, sudah menjadi soal yang sukar sekali dicari pemecah­annya; kita lebih baik mengerti, bahwa kaum sosialis itu tidak mau bersikap “agitatie en demonstratie” sahaja, tidak mau “ramai-ramai dan membuat pertunjukan” sahaja, sebagai Liga yang dimasyhurkan itu,­ Liga yang sebenarnya tiada hasil sekecil juapun, tiada “ketentuan” sedikit juapun bagi Indonesia atau lain-lain negeri jajahan. Pendek kata: tuan Stokvis tak mau terima, bahwa kaumnya dihina; tuan Stokvis menolak tiap-tiap “smaad”.

Begitulah kira-kira isinya tangkisan tuan Stokvis sebagai sosialis, sebagai partij-man, sebagai partij-leider, maka tuan Stokvis sudah ada di dalam haknya. Ia sudah ada dalam kewajibannya sendiri. Ia sudah selayaknya mencoba menangkis kritik yang dijatuhkan pada kaum dan fihaknya itu. Di dalam hal ini kitapun menghormati padanya. Memang tuan Stokvis pantas kita hormati. Tetapi marilah kita selidiki lebih jauh, salah-benarnya ia punya bantahan itu adanya!

Sebermula, maka haruslah kita peringatkan, bahwa bukan saudara Mohammad Hatta sahaja yang mengeritik kepada kaum sosialis-internasional itu. Banyak lagi pembela-pembela rakyat jajahan lain yang juga sama kecewa hati dan menyerang akan sikap kaum sosialis tahadi itu. Clemens Dutt, Shapurji Saklatvala, sekretariat Liga sendiri dan lain-lain. Mereka juga sama menuduh, bahwa kaum sosialis itu kini di dalam soal-jajahannya ialah sudah sama sekali “tak mengindahkan lagi akan azasnya hak menentukan nasib sendiri” yakni azasnya national self-determination, sama sekali tak mau mengerti bahwa sikapnya di dalam tempo belakangan ini ialah berarti “sokongan pada kapitalisme dan im­perialisme”, dan sama sekali tak mau insyaf, bahwa pendiriannya yang demikian itu ialah sama dengan “melanjutkan exploitatie dan perhambaannya negeri-negeri jajahan itu untuk keperluannya kekuasaan-kekuasaan imperialis belaka”.

Maka oleh karenanya, hendaklah hilang sangkaan, bahwa hanya kaum Mohammad Hatta c.s. sahajalah yang menyerang akan sikapnya kaum sosialis tentang soal-jajahan itu tahadi. Bukan kaum Hatta sahaja! Tetapi seluruh dunia radikal sama kecewa hati. Seluruh dunia yang oleh kaum sosialis dinamakan dunia “panasan hati” sama menunjukkan, bahwa kaum sosialis itu kini sudah menyabotir keras akan azas-azasnya sendiri, sebagai yang ditentukan di dalam kongresnya di London dalam tahun 1896 dan di Stuttgart dalam tahun 1907. Bukankah di London itu mereka menetapkan “hak self-determination yang sepenuh-penuhnya buat semua bangsa”, dan bukankah di Stuttgart itu mereka dengan sekeras-kerasnya mencela kepada penjajahan kapitalistis-imperialistis “yang menyebabkan penduduk asli daripada negeri-negeri jajahan itu menjadi terjerumus ke dalam perbudakan, ke dalam kerja-paksa atau ke dalam pembinasaan sama sekali”?

Dan marilah mengerti! Hatta tidak menyesalkan, yang kaum sosialis itu menuntut kemerdekaannya Tiongkok, atau kemerdekaannya Mesir, atau kemerdekaannya Irak atau kemerdekaannya Syria; Hatta tidak iri hati. Ia tentu juga memujikan atas penuntutan mereka itu; ia tentu juga ikut syukur akan kemerdekaan tiap-tiap bangsa. Tetapi ia hanya menanya: apa sebab jajahan-jajahan yang lain tidak dituntut juga kemerdekaannya? Apa sebab Indonesia, Philipina, Annam, Korea, dan lain-lain tidak boleh merdeka ini waktu, kalau Irak dan Syria boleh mendapat hak menentukan “nasib sendiri”, kalau Annam dan Korea sudah dianggap masak baginya? Pendek kata: apa sebabnya pembahagian dalam empat golongan itu … kalau tidak sebab-sebab rezeki?

Maka sebagai yang kita ceriterakan di atas, tuan Stokvis melindungi fihaknya dengan jawab, bahwa kaum sosialis tidaklah membuat pembahagian itu oleh karena urusan rezeki, tidaklah membuat perbedaan itu oleh karena “urusan-perut” sahaja. Tidaklah Irak dan Syria dituntut­kan kemerdekaannya, oleh karena dulu kaum geallieerden sudah men­janjikan kemerdekaannya itu padanya.

Dan Annam dan Korea? Annam dan Korea pantas mendapat hak menentukan nasib sendiri, oleh karena penjajahan dua negeri ini ialah belum lama, sehingga soal-kemerdeka­annya belumlah menjadi sukar, belumlah menjadi problim.

Kita mau juga menerima alasan ini; kita mau menghargainya; kita tak akan menyangkal, bahwa tentunya pertimbangan yang demikian itu memang telah diambil. Tetapi kita menanya: adakah benar, adakah bisa jadi, bahwa sama sekali tiada dasar-dasar-kerezekian di dalam hal ini? Adakah bisa jadi bahwa sikap kaum buruh Eropah yang demikian ini tiada economische ondergrond sama sekali? Bukankah sendi-azasnya kaum sosialis sendiri, bukankah faham historis-materialisme sendiri, mengajarkan bahwa tiap-tiap keadaan, tiap-tiap kejadian di dunia ini, baik yang berhubung dengan budi-akal, maupun yang berhubung dengan politik atau agama, dalam hakekatnya ialah berdasar kerezekian adanya? Bukankah historis-materialisme itu sendiri mengajarkan, bahwa “bukan budi-akal manusialah yang menentukan peri-kehidupannya, tetapi sebalik­nya peri-kehidupannyalah yang menentukan budi akalnya”?

Maka dengan tuntutannya historis-materialisme itu, keterangan tuan Stokvis belumlah memuaskan fikiran kita. Dengan tuntutannya historis ­materialisme itu, maka kita, yang memandang perobahan sikap kaum buruh Eropah yang berjuta-juta itu sebagai suatu kejadian besar dalam pergaulan-hidup, yakni sebagai maatschappelijk verschijnsel, haruslah menginjak dunia-keterangan daripada peri-kerezekian itu tahadi. Tegasnya: dengan tuntutannya historis-materialisme itu, maka kita lantas sahaja boleh menentukan, bahwa dasar-kerezekian daripada perobahan sikap itu ada!

Dasar-kerezekian itu a d a ! Dan kita, sebagai manusia yang berbudi-akal, lantas ingin mengudari soal ini lebih jauh. Kita lantas ingin mencari jawabannya pertanyaan: dasar-kerezekian yang bagaimana­kah menjadikan sebabnya sikap buruh di Eropah itu.

Maka kita mengambil contoh; contoh yang memang menjadi perbantahan antara Hatta c.s. dan Stokvis c.s.: kita mengambil Irak dan Syria. Irak banyak minyaknya di Mosul; Syria ada hasilnya dagang. Toch, kaum sosialis menuntutkan kemerdekaannya; toch kaum itu tak memper­dulikan akan “kemanfaatannya” ini.

Tetapi Adakah caranya menghisap minyak Mosul itu banyak faedah bagi kaum buruh Inggeris? Adakah caranya memegang Irak itu suatu berkat baginya? Dan adakah Syria itu begitu besar faedahnya bagi kaum buruh Perancis, sehingga harus digenggam seterus-terusnya dengan tidak menghitung kerugian atau korbanan? Tidak! Sebab penghisapan­nya minyak Irak dan pemegangannya negeri Irak adalah tidak sedikit minta korban harta, tidak sedikit minta korban darah dan jiwa. Seratus­ ribu serdadu kadang-kadang perlu digerakkan di Irak untuk melawan pemberontakan-pemberontakannya penduduk.

Publik Inggeris dan kaum buruh Inggeris merasa kesal dan merasa rugi oleh mahalnya harta yang harus dibuang dan oleh mahalnya darah yang harus ditumpahkan untuk pembeli dan penjagaan mandaat di Irak itu. Maka “publieke opinie di Inggeris lantas menuntut berhentinya Inggeris menjadi “wall” di Messopotamia”, … dan “Mosul betul berisi sumber-sumber minyak yang besar harga; tetapi apakah tidak lebih baik buat Inggeris jikalau ia memenuhi kebutuhan-kebutuhannya di dalam hal ini dengan jalan jual-beli sahaja yang menguntungkan dengan Turki, dan membiarkan Irak menjadi merdeka?” begitulah suaranya publieke opinie di Inggeris itu. Lagi pula: kaum buruh Inggeris insyaf benar artinya Irak sebagai strategisch gebiednya kaum imperialis; mereka insyaf benar akan artinya negeri itu dalam peri-peperangan, – peri-peperangan, yang tokh me­numpahkan kaum buruh punya darah, melayangkan kaum buruh punya jiwa, menyengsarakan kaum buruh punya fihak!

Dan Syria? Syria menguntungkan kepada Perancis; Syria mengambil barang dagangan Perancis seharga f. 55.000.000 setahunnya Tidakkah ini berarti suatu pengorbanan, kalau kaum buruh Eropah menuntut kemerdekaannya Syria. Tidakkah ini sebenarnya suatu alasan buat memegang terus pada Syria itu, buat mengekalkan akan kekuasaannya di Syria itu, kalau kaum buruh Eropah memang cuma menurutkan suara “keroncongan perut” sahaja?

Maka kita menyahut: bukan begitulah harusnya bunyi pertanyaan itu! Bukan begitulah harusnya bunyi kita punya probleem-stelling. Kita harus bertanya: adakah bahaya, bahwa perdagangan dengan Perancis itu akan menjadi padam, kalau Syria menjadi merdeka! Kita harus bertanya: adakah sekedar bahaya bagi kaum buruh Perancis, kalau Syria bebas! Maka dengan tentu kita bisa menjawab: tidak! Sebab kultur Perancis, baik berhubung dengan pendidikan, maupun berhubung dengan ekonomi, – kultur Perancis yang masuknya di Syria telah berabad-abad semenjak zaman kruistochten itu, – kultur Perancis ini adalah begitu menyerapi peri-kehidupan rakyat Syria, sehingga perhubungan perdagangan antara Perancis dan Syria rupa-rupanya tidak akan menjadi terganggu oleh kemerdekaan Syria adanya.

Dan kalau terganggu, kalau 55.000.000 rupiah itu terlepas dari tangannya Perancis, … adakah ini berarti kerugian besar baginya? Adakah ini berarti bencana bagi Perancis, – Perancis yang besarnya negeri, besarnya jumlah rakyat, besarnya rumah­ tangganya ada berlipat-ganda kali Nederland, berlipat-ganda kali negeri-­negeri lain, … Perancis yang di dalam rumah-tangganya tidak sahaja menghitung dengan juta-jutaan, tetapi dengan miliard-miliardan itu?

Pembaca tentu menjawab: tidak …

Membaca bahwa kultur Perancis menyerapi Syria, pembaca janganlah mengira, bahwa tiadalah perjoangan haibat antara imperialis­-imperialis Perancis dan rakyat Syria itu; janganlah mengira, bahwa rakyat Syria itu senang di dalam keadaan sekarang, yakni keadaan tak merdeka. Tidak! Riwayatnya imperialisme Perancis di Syria adalah riwayatnya bedil dan meriam, riwayatnya daging dan darah,- bukan sahaja bedil dan meriam Syria, bukan sahaja daging dan darah Syria, tetapi juga bedil dan meriam Perancis, daging dan darah Perancis. Kita tak heran akan hal ini. Sebab tiap-tiap rakyat yang tidak merdeka, tiap-tiap umat atau natie yang terikat gerak-bangkitnya, walau bagaimanapun juga kulturnya terserapi dengan kulturnya si pengikat, pastilah ingin merdeka, dan pastilah lantas berusaha mengejar kemerdekaan itu!

Maka mahalnya bedil dan meriam Perancis ini, mahalnya daging Perancis yang binasa dan mahalnya darah Perancis yang tumpah, segeralah menggugah­kan juga publieke opinie di negeri Perancis, sebagaimana mahalnya meriam dan mahalnya darah Inggeris pula. “Bukan sahaja kaum anti­ imperialis yang radikal, tetapi kaum konservatif yang sekolot-kolotnya jugalah makin lama makin keras mengeritik akan “avontuur” di Syria ini”, dan diantaranya, senator Victor Berard menyatakan, bahwa “Syria­ merdeka adalah suatu soal keselamatan-kebutuhan dan soal “kehormatan” bagi Perancis sendiri”.

Jadi: kemerdekaan Syria menguntungkan kepada rakyat Perancis, sebagaimana kemerdekaan Irak menguntungkan kepada rakyat Inggeris! Herankah kita sekarang, kalau juga kongres di Brussel itu menuntutkan bebasnya dua negeri ini?

Begitulah bunyinya percobaan kita menerangkan dasar-dasar-kerezekian daripada sikap kaum buruh Eropah itu. Benar salahnya terserah kepada pembaca. Tetapi sekali lagi kita mengulangi, bahwa dasar-dasar ­kerezekian itu a d a, bukan sahaja terhadap Irak-Syria, tetapi juga, terhadap pada negeri jajahan yang lain-lain.

Marilah kita sekarang menyelidiki sikapnya sosialis-internasional terhadap pada Indonesia, – terhadap pada Ibu kita!

Kaum sosialis menuntutkan “zelfbestuur” bagi kita. Apa sebabnya bukan kemerdekaan? Apa sebabnya bukan kebebasan sama sekali, – lepas dari Nederland?

Dan saudara Mohammad Hatta menjawab: oleh karena Indonesia itu menjadi sumber-penghasilan bagi negeri Belanda; – oleh karena negeri Belanda akan kehilangan untung f. 500.000.000. – setiap-tahunnya; – oleh karena pendapatan kaum buruh Belanda akan susut dengan seperempat­nya; – pendek kata: oleh karena kaum buruh Belanda akan rugi.

Memang begitulah sebenarnya; memang begitulah rupanya dasar­dasar-kerezekian daripada sikapnya kaum buruh Belanda itu. Keterangan historis-materialistis yang lain tidaklah ada. Keterangan itu, oleh karenanya, haruslah diakui benarnya oleh tiap-tiap historis-materialis juga. Keterangan tuan Stokvis, bahwa kapital yang diusahakan di sini toch bisa juga “dipindahkan” ke negeri sendiri atau negeri lain, keterang­annya itu belumlah dapat kita terima begitu sahaja. Sebab jikalau kapital itu boleh diusahakan di negeri Belanda, jikalau modal itu, yang sebenarnya ialah modal-kelebihan atau kapital-surplus, boleh di-verwerk­kan di negeri asalnya, maka barangkali Indonesia tidaklah menjadi kapitalistisch-imperialistische kolonie sebagai sekarang.

Jikalau kapital­ surplus itu boleh dikerjakan di negerinya sendiri, maka barangkali ia tak usah mencari tempat-kerja asing, tak usah mencari vreemd beleggingsgebied. Negeri Belanda, yang sesak penduduknya, tetapi tidak mempunyai bekal-bekal atau basis-grondstoffen untuk industri besar, yakni tidak mempunyai banyak arang-batu, tidak mempunyai parit besi, tidak mempunyai kapas dan lain sebagainya, negeri Belanda itu b u t u h akan negeri jajahan untuk tempat pengambilan basis-grondstoffen itu dan untuk tempat berusahanya kapital yang kelebihan itu tahadi. Pun kita tak boleh lupa akan faedahnya Indonesia sebagai pasar-penjualan hasil perusahaan-perusahaan yang sekarang ada di negeri Belanda. Pendek kata, koloniaal politiek itu adalah suatu “Notwendigkeit”, koloniaal politiek itu adalah suatu “keharusan”, sebagai Karl Kautsky mengata­kannya.

Sekali lagi kita ulangi: alasan ruginya kaum buruh Belanda kalau Indonesia merdeka adalah benar. Tetapi kita, – ini hendaklah diperhati­kan oleh tuan Stokvis c.s. kita tidaklah mengatakan, bahwa alasan­ kerezekian itu adalah tertentu hidup dengan bewust (s a d a r) di dalam budi-akalnya kaum buruh Belanda itu. Kita tidaklah mengatakan, bahwa sikapnya kaum sosialis itu ialah timbul daripada “hati yang jelek” atau daripada “fikiran jahat” yang tertentu. Sama sekali tidak! Alasan ­kerezekian itu bisa juga menjalankan pengaruhnya dengan jalan yang onbewust (tak sadar), yakni dengan jalan yang “tidak sengaja dirasakan” atau “tidak sengaja difikirkan”. Tetapi ia, bewust atau onbewust, sengaja dirasa-fikirkan atau tidak sengaja dirasa-fikirkan, senantiasa dan pasti menjalankan pengaruhnya, – senantiasa dan pasti menjalankan tendenznya.

Oleh karena itu, tuan Stokvis janganlah mengira, bahwa kita memandang fihaknya sebagai fihak yang “jelek hati” atau “jahat fikiran”. Kita tidak mempunyai pemandangan yang demikian itu.

Kita mengetahui, bahwa di antara kaum sosialis memang tak sedikit yang “baik hati” tentang soal negeri kita. Kitapun tidak syak-wasangka akan bona­fidenya kebaikan hati itu. Kita percaya akan tulusnya kebaikan hati itu. Tetapi kita tak mau lupa, bahwa rumah-tangga negeri Belanda sekarang ada tergantung kepada penjajahan Indonesia, sehingga economische afhankelijkheid ini, bewust atau onbewust, pasti menjalankan penga­ruhnya atas sikap kaum buruh Belanda … sampai kadang-kadang kaum sosialis itu, sebagai sekarang, melupakan akan azas-azasnya sendiri, cita-citanya sendiri, doctrine-doctrinenya sendiri.

Betul kaum sosialis tidak berkata anti-kemerdekaan Indonesia buat di kemudian hari; betul mereka tidak “ontzeggen” kemerdekaan itu.

Tetapi dengan mengatakan bahwa Indonesia sekarang belum dapat “diberi” kemerdekaan, melainkan nanti sahaja di hari kemudian; dengan mengatakan, bahwa soal-kemerdekaan Indonesia ialah sudah begitu menjadi suatu “problim” sehingga kita hanya boleh mendapat zelfbestuur sahaja, dengan mengambil sikap yang demikian itu, kaum sosialis, walau tidak sengaja, adalah sejajar dengan kaum imperialis, sejajar dengan kaum musuhnya, yang mengatakan bahwa kita ini “belum matang” bagi kemerdekaan, bahwa kita ini masih “onrijp” … Sekarang “belum matang”, baru nanti di hari kemudian menjadi “matang”, – sekarang masih “onrijp”, baru nanti di hari kemudian menjadi “rijp” … dus kaum sosialis itu sekarang mengakui akan adanya “mission sacree” (suruhan suci) daripada penjajahan imperialistis itu, … mission sacree “mendidik” kita, mission sacree “mencerdaskan” kita, mission sacree “mematangkan” kita?

Ini pahit terdengarnya buat kaum sosialis; ini terdengarnya seolah­-olah “smaad”. Tetapi tidak ada faham lain bagi kita; tidak ada pertanyaan lain bagi kita. Dan jikalau kaum sosialis memang ingin melihat Indonesia merdeka, apa sebabnya tidak dituntutkan sekarang juga? Apa sebabnya ragu-ragu akan sikap yang demikian itu?

Takut-takut, bahwa gedung­ kerajaan atau staats-gebouw yang kini berdiri di Indonesia, akan hancur menjadi bagian yang kecil-kecil? Takut-takut kalau rakyat akan men­derita hisapan yang lebih keras lagi daripada hisapannya kolonial imperialisme sekarang?

Takut-takut kalau ekonomi negeri jajahan akan binasa oleh binasanya perusahaan-perusahaan yang kini ada?

Karl Kautsky, jagonya kaum sosialis sendiri sudahlah, pada umumnya, menyangkal keras akan pantasnya ketakutan itu. Ia menyangkal keras, bahwa sesuatu negeri jajahan, kalau dimerdekakan, lantas “jatuh kembali ke dalam biadaban”; ia menyangkal keras akan itu “Ruckfall in die Barbarei”. Ia menyatakan, bahwa kalau staats-gebouw itu benar­-benar hancur menjadi bagian yang kecil-kecil, kehancuran ini belum tentu berarti bencana bagi peri-kehidupan rakyat, bahkan bisa juga berarti bahagia; – menyatakan, bahwa kita tak usah takut akan hisapan yang lebih keras lagi dari hisapannya koloniaal imperialisme itu, oleh karena menurut bukti-buktinya riwayat dulu dan sekarang , sesengsara-sengsaranya rakyat yang merdeka, masih belumlah begitu sengsara sebagai rakyat yang dikuasai oleh koloniaal imperialisme itu, koloniaal imperialisme dan kapitalisme yang “bersenjata dengan kekuasaannya kemajuan”, koloniaal imperialisme dan kapitalisme yang bersenjata “mit der ganzen Macht der Zivilisation”; – dan menyatakan, bahwa kemerdekaan itu tidaklah membinasakan ekonominya perusahaan­-perusahaan itu, oleh karena kemerdekaan negeri jajahan ialah berarti hilangnya kerja-paksa dan hilangnya perbudakan koloniaal imperialisme, sedang kemerdekaan itu tidaklah berarti pula matinya kemajuan-kemajuan kapitalistische techniek, melainkan hanyalah berarti gantinya cara, gantinya metode daripada tehnik itu adanya.

Dengan singkatnya: “Kaum sociaal-democraten di mana-mana adalah wajib menun­tutkan kemerdekaan negeri-negeri jajahan itu”. Dan bukan itu sahaja! Kaum sosial-demokrat haruslah juga menentang keras kepada “tiap-tiap politik kolonial-apa-sahaja yang dapat diadakan”, kalau tidak kepada “tiap-tiap politik kolonial-apa-sahaja yang dapat difikirkan”, – yakni men­jadi “Gegner jeder moglichen, wenn auch nicht jeder denk baren Kolonialpolitik”! !

Begitulah pendapat sosialis Karl Kautsky. Begitulah pendapat partijgenootnya sosialis tuan Stokvis itu. Sayang sekali kita, berhubung dengan kekurangan tempat, tiada kesempatan mengutip semua hal-hal yang ia beberkan. Tetapi kita, sesudahnya menggambarkan alasan-alasan­nya Karl Kautsky itu dengan sesingkat-singkatnya itu,- kita mengulangi pertanyaan kita lagi: apa sebabnya kaum sosialis zaman sekarang, yang toch katanya ingin juga melihat Indonesia merdeka, tak mau menuntut­kan kemerdekaan itu dari sekarang juga? Takut-takut kalau Indonesia akan direbut oleh imperialisme lain? Oh, adakah suatu contoh pen­jadian-merdeka daripada sesuatu rakyat di mana bahaya direbut oleh negeri lain itu tidak ada? Takut-takut akan sukarnya “problim” kemerdekaan itu? Tidaklah problim itu malah makin menjadi problim kalau kita menunda tuntutan-merdeka itu, di mana sekarang modal-modal Amerika, modal-modal Inggeris, modal-modal Jepang, modal-modal lain, makin lama makin banyak yang masuk di Indonesia, – dimana jaringnya sarang labah-labah internasional imperialisme makin lama makin lebih ruwet, makin lama makin lebih menjirat?

Memang, kaum sosialis selamanya terlampau membutakan-mata atas faham “problim” itu tahadi, terlampau blindstaren di atas “problim” itu tahadi bukan sahaja tentang soal-soal jajahan, tetapi juga tentang soal-soal di Eropah sendiri. Mereka punya politik terlampau “menghitung -­hitung”, terlampau opportunistis, terlampau possibilistis, – kadang-kadang hampir sama menghitung-hitungnya dan hampir sama possibilistisnya de­ngan fihak kaum kolot yang mereka musuhi. Mereka, oleh karenanya, tak habis-habisnya membutakan-mata di atas “belum matangnya” negeri Rusia buat cita-citanya, “belum matangnya” hampir semua negeri jajahan buat kemerdekaan. Mereka sering-sering kurang-hati, masuk ke dalam hari kemudian, kurang-hati masuk ke dalam toekomst.

Dengarkanlah bagaimana redakturnya “De Vlam”, surat bulanannya Stenhuis, mencela akan sikapnya kaum sosialis “yang takut akan luput-tangkap” itu: – luput­ tangkap “memang bisa terjadi pada setiap orang yang menangkap; hanya siapa yang tidak menangkap, tidaklah bisa luput-tangkap. Bagi kita, siapa yang berbuat, dan kadang-kadang luput akan apa yang dimaksudkannya, adalah lebih utama daripada orang yang karena takut akan luput-tangkapnya itu, lantas tidak menangkap sama sekali” … “Aileen wie niet grijpt, kunnen geen misgrepen overkomen. Ons is de doener, die ‘t wel eens mis heeft liever als degeen, die uit angst om mis to grijpen, het grijpen zelf maar liever laat”.

Memang sebenarnya! Siapa yang menangkap dan kadang-kadang luput-tangkapnya, adalah lebih utama daripada siapa yang tidak menang­kap sama sekali, oleh karena takut akan luput-tangkapnya itu.

Kaum sosialis zaman sekarang lupa akan moral ini. Mereka, di dalam adatnya terlampau sekali menghitung-hitung, seringlah lantas jatuh ke dalam soal yang kecil-kecil, seringlah jatuh ke dalam details; mereka, oleh opportunismenya dan possibilismenya, seringlah menjadi terbenam di dalam opportunismenya dan possibilismenya itu.

Mereka oleh karenanya sering pula lalu lupa akan soal yang besar, lupa akan “de grote lijn” … Oleh lupanya akan grote lijn dan terlampau menghitung-hitungnya barang yang kecil-kecil; oleh opportunismenya dan possibilismenya, maka kaum sosialis itu senantiasa berselisihan dengan kaum radikal, berselisihan dengan kaum yang terus sahaja disebut kaum “demonstrasi dan agitasi” olehnya, – bukan sahaja kaum komunis atau bolshevis, tetapi juga kaum sosialis yang radikal, juga kaum nasionalis kiri di mana-mana negeri jajahan. Opportunisme dan possibilisme inilah juga yang pada hakekat­nya menggerakkan pena saudara Mohammad Hatta itu … Kita, kaum nasional Indonesia, tidak mengatakan, bahwa kita harus meremehkan kekuatannya musuh; kita tidak mengatakan bahwa kita harus hamuk-­hamukan sahaja, dengan tidak menimbang-nimbang lebih dulu buah­ hasilnya tiap-tiap tindakan kita.

Kita bukan bolshevis, kitapun b u k a n anarchis. Tetapi kita toch harus ingat, bahwa pertama-tama kita harus mengikuti, “grote lijn” itu, pertama-tama kita harus senantiasa insyaf akan maksud pertama-tama daripada kita punya pergerakan, yakni Indo­nesia-Merdeka! Ya, tidak kurang dan tidak lebih Indonesia-Merdeka, dengan jalan yang cepat. Dan bukan sahaja mengejar Indonesia­ Merdeka sambil memperbaiki susunan-susunan pergaulan-hidup kita yang morat-marit itu, tetapi pertama-tama mengejar Indonesia-Merdeka untuk memperbaiki kembali; kita punya pergaulan-hidup itu! Kemerde­kaan inilah yang pertama-tama; kemerdekaan inilah yang primair.

Begitulah pemandangan kita atas perbantahan Mohammad Hatta – Stokvis itu. Tak usah kita katakan, bahwa kita tidak bermusuhan dengan tuan Stokvis atau dengan I.S.D.P., dan t i d a k bermaksud memutuskan persahabatan kita dengan Stokvis c.s. itu. Persahabatan ini kita hargakan besar. Kita hanya bermaksud ikut memikirkan soal perbantahan itu. Dan jikalau di dalam tulisan ini ada beberapa bagian yang tidak nyaman didengarkan oleh Stokvis c.s.; jikalau di dalam tulisan ini kita kerap kali “keras perkataan”, maka itu hanyalah terjadi oleh perbedaan-azas dan oleh perbedaan-pendirian antara kita dan Stokvis c.s. itu sahaja … Perbedaan-azas dan perbedaan-pendirian memang ada di mana-mana. Oleh perbedaan-perbedaan inilah makanya ada bermacam-macam-partai!

Kaum nasional Indonesia berjalan terus; kaum I.S.D.P. hendaklah juga berjalan terus. Begitulah harapan kita…

Dan dengan lebih teguh keyakinan kita, bahwa nasib kita ada di dalam genggaman kita sendiri … ; dengan lebih teguh keinsyafan kita, bahwa kita harus percaya akan kepandaian dan tenaga kita sendiri dengan menolak tiap-tiap politik opportunisme dan tiap-tiap politik possibilisme, yakni tiap-tiap politik yang menghitung-hitung: ini-tidak-bisa dan itu­ tidak-bisa, maka kita bersama Mahatma Gandhi berkata: ”Siapa mau mencari mutiara, haruslah berani selam ke dalam laut yang sedalam-dalamnca; siapa yang dengan kecil-hati berdiri di pinggir sahaja dan takut akan terjun ke dalam air, ia tak akan dapat sesuatu apa !”

“Suluh Indonesia Muda”, 1928

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 140 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar