Home » 2016 » July » 20 » Mengenal Empat Pilar Kebangsaan
9:42 AM
Mengenal Empat Pilar Kebangsaan

Monas harus melambangkan revolusi kita, mencerminkan kepribadian Indonesia, menggambarkan dinamik Indonesia, mencerminkan cita-cita Indonesia, melambangkan api yang berkobar di dalam dada kita, dan harus tahan 1000 tahun. Monas harus menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia: Jiwanya, hatinya, rohnya, kalbunya, harus menjulang tinggi ke langit laksana TUNAS sekarang ini. Bahkan sepuluh kali, seratus kali, seribu kali tingginya kita punya kehendak, kita punya cita-cita kita punya tekad untuk meneruskan revolusi ini.”  (Bung Karno)

Dari keterangan-keterangan sebelumnya, kita tahu bahwa apa yang dijelaskan oleh alinea ke 4 Deklarasi Kemerdekaan itu tentang penyelenggaraan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia yang wujudkan melalui penyelenggaraan Negara Republik Indonesia dengan susunannya itu. Jadi, ada dua hal besar yang dibahas di dalam itu. Yaitu tentang kebangsaan dan tentang kenegaraan. Dan dari apa yang juga telah dijelaskan sebelumnya kita tahu bahwa penyelenggaraan NRI itu harus diselenggarakan dalam susunan: Bhineka Tunggal Ika – Pancasila – UUD’45 – NKRI, sebagaimana yang telah dilukiskan dengan sempurna oleh lambang negara Garuda Pancasila. Penyelenggaraan NRI dalam susunan yang demikian itulah yang disebut dengan penyelenggaraan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu. Itulah pengejawantahan dari Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia. Dimana kita dapati posisi penyelenggaraan NRI adalah penopang dari terwujudnya Kemerekaan Kebangsaan Indonesia. Maka dari itu menjadi penting pula bagi kita untuk memahami Monumen Nasional yang memang dibangun untuk melukiskan tentang bangsa Indonesia bersama paham Kemerdekaan Kebangsaannya. Agar tidak menjadi sia-sialah Monas itu dibangun sebagai tugu pengingat tentang bangsa. Dan untuk lebih jelasnya mari kita lihat gambar di bawah ini.

“Tetapi saya tambah, bukan saja one cannot escape history, tetapi saya tambah, never leave history, janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah! Jangan sekali-kali meninggal-kan sejarah! Jangan meninggalkan sejarahmu yang sudah, hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan lantas engkau menjadi bingung, dan perjuanganmu paling-paling hanya akan berupa amuk, amuk belaka! Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.”  (Bung Karno)


Museum Sejarah Nasional

Tentu bukan tanpa sebab Meseum Sejarah Nasional itu ditempatkan pada bagian yang paling dasar Monas. Bahkan sebagaimana yang kita tahu, ia berada di bawah permukaan tanah. Hal ini memang dimaksudkan untuk memberi gambaran betapa penyelenggaran kehidupan berbangsa dan bernegara kita harus mengakar kuat pada sejarah bangsa. Kita benar-benar tidak boleh meyimpang dari sejarah. Karena jika demikian kita akan bingung, akan kehilangan arah dan tidak akan melangkah kepada sasaran-tujuan dari cita-cita bangsa Indonesia. Karena itulah Bung Karno begitu kerasnya memperingatkan kita untuk tidak sekali-kali meninggalkan sejarah.

Jika kita berkunjung ke dalam Museum Sejarah Nasional kita itu, kita akan mendapati gambaran ringkas dan padat tentang sejarah yang telah melahirkan bangsa Indonesia ini. Terdapat diorama-diorama yang disusun dengan apik dari mulai zaman purba, zaman kerajaan-kerajaan, zaman penjajahan, sampai dengan kita lahir sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Dari semua itu akan kita lihat bagaimana bangsa Indonesia ini diperjalankan dan dibentuk oleh sejarahnya dari sebuah bangsa yang hanya membawa satu warna di zaman purba, menjadi bangsa yang amat beragam warnanya. Dan kita juga akan melihat pula bagaimana sejarah membentuk kita dari bangsa yang tidak mengenal ajaran kemerdekaan, dimana pada masa itu kita saling memerangi satu sama lain, sampai akhirnya kita diperkenalkan dengan ajaran kemerdekaan yang membuat kita paham dan dengan sadar mengikat diri sebagai satu kesatuan bangsa. Indonesia.

Sumpah Pemuda dan Pancasila adalah bukti tak terbantahkan betapa kuatnya kita memahami ajaran kemerdekaan itu. Tidaklah mungkin para pemuda Indonesia pada masa yang lalu, berani menyatakan sumpahnya untuk menjadi satu kesatuan bangsa Indonesia jika mereka tidak memahami ajaran kemerdekaan—Bhineka  Tunggal Ika. Sumpah pemuda adalah cerminan nyata dari ajaran kemerdekaan itu. Demikian pula dengan Pancasila. Tidak mungkin Pancasila itu lahir jika bangsa Indonesia tidak mengenal betul ajaran kemerdekaan itu—Bhineka Tunggal Ika. Pancasila lahir dari kesadaran yang tinggi bahwa sekalipun kita berbeda-beda, tapi adalah hak setiap orang dan setiap golongan untuk merdeka. Kemerdekaan semua buat semua.


Ruang Kemerdekaan 

Persis di atas Museum Sejarah Nasional itulah di tempatkan sebuah ruang yang disebut dengan Ruang Kemerdekaan. Agar dengannya kita ingat dengan kuat bahwa ajaran kemerdekaan itulah warisan terbesar dari sejarah panjang kehidupan bangsa Indonesia. Itulah mutiara yang tak ternilai harganya bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Berpegang kepada ajaran kemerdekaan itulah yang disebut dengan berpijak kokoh pada sejarah. Maka jika kita sedikit saja melupakan ajaran kemerdekaan kita itu, melupakan Bhineka Tunggal Ika, melupakan Pancasila, maka telah menyimpanglah kita dari jalannya sejarah bangsa Indonesia.

Jika kita berkunjung ke Ruang Kemerdekaan ini, kita akan mendapati sebuah kubus besar persis di tengah-tengah dari Ruang Kemerdekan tersebut, yang di sisi depan dari kubus besar itu terdapat sebuah pintu yang tersimpan di dalamnya sebuah kotak kaca bercahaya yang berisi teks asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dan di ketiga sisi lainnya, kita akan mendapati lambang negara Garuda Pancasila di sisi kiri, peta wilayah negara Indonesia di sisi kanan dan naskah Proklamasi di sisi belakang. Berdiri di sana kita dapat mengerti bahwa kita berdiri di dalam sebuah ruang yang menggambarkan alam kemerdekaan bangsa Indonesia. Ruang kemerdekaan itu seolah-olah menjelaskan kepada kita bahwa bangsa ini, adalah sebuah bangsa yang oleh Proklamasi Kemerdekaannya itu telah dihantarkan menjadi satu kesatuan bangsa yang merdeka, dari Sabang sampai Merauke dan dijaga serta diselenggarakan kemerdekaannya itu melalui penyelenggaraan NKRI yang berlandaskan pada Pancasila agar benar-benar terwujud kehidupan yang berbhineka tunggal ika.


Tugu Monas

Dari Ruang Kemerdekaan itulah kemudian kita di hadapkan dengan dua pilihan, pilihan untuk menuju Pelataran Bawah Monas atau menuju Pelataran Atas Monas. Tugu Monas itu sendiri, yang berbentuk pilar panjang itu, adalah sebuah jalan untuk menuju ke Pelataran Atas Monas. Di dalam pilar panjang tersebut terdapat sebuah lift yang bergerak persis di poros dari Tugus Monas tersebut yang menjadi satu-satunya jalan untuk membawa kita dari areal Ruang Kemerdekaan menuju Pelataran Atas Monas yang tepat berada di bawah naungan Lidah Api Monas. Namun di sisi areal dari Ruang Kemerdekaan tersebut juga terdapat tangga panjang dengan puluhan anak tangganya yang dapat membawa kita ke Pelataran Bawah Monas.

Buat kita yang pernah berkunjung ke sana, kita akan dapat merasakan bahwa gerak menuju ke Pelataran Bawah Monas tersebut adalah gerak menyimpang yang seolah-olah lari dari Paham Kemerdekaan Kebangsaan kita. Kita juga dapat merasakan bahwa gerak menuju ke Pelataran Atas Monas sebagai gambaran dari sebuah gerakan yang mengakar persis kepada sejarah dan berpangkal kepada Paham Kemerdekaan Kebangsaan kita. Lift yang berada di dalam poros Tugu Monas tersebut terletak persis di tengah atas dari Museum Sejarah Nasional kita dan persis berada di bawah kubus besar dari Ruang Kemerdekaan. Jika kita menggunakan lift tersebut menuju Pelataran Atas Monas, kita akan berjalan menembus persis bagian tengah dari kubus besar kemerdekaan dan dihantaran ke Palataran Atas Monas.

Dari semua itu kita akan dapat mengerti bahwa kemerdekaan bagi kita bukan hanya sebuah slogan atau paham kosong tanpa rahmat di dalamnya. Kemerdekaan bagi kita haruslah menjadi realita yang dapat dinikmati dan dirasakan bersama oleh segenap bangsa Indonesia dan bahkan seyogianya ia juga menjadi rahmat bagi umat manusia. Dan dari itu pula kita menjadi mengerti bahwa pilar panjang Tugu Monas tersebut adalah sebuah penggambaran dari penyelenggaraan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia yang diselenggarakan melalui penyelenggaran NKRI. Mengerti pula kita bahwa tangga panjang menuju Pelataran Bawah Monas itu adalah penggambaran dari tidak terselenggarakannya Kemerdekaan Kebangsaan kita atau penggambaran dari penyelenggaraan NKRI yang menyimpang dari paham Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia.


Pelataran Bawah Monas

Untuk sampai ke Pelataran Bawah Monas ini kita tidak harus masuk ke dalam lift yang bergerak di poros Tugu Monas itu. Kita cukup berjalan kaki menapaki beberapa puluh anak tangga untuk sampai di sana. Ini sebenarnya adalah perjalan yang pendek namun juga melelahkan. Sementara jika kita hendak menuju ke Pelataran Atas Monas, kita harus menempuh jalan yang jauh lebih panjang dari itu. Tapi sebenarnya jalan yang panjang ini tidak semelelahkan jalan pendek ke Pelataran Bawah Monas tadi. Keberadaan Pelataran Bawah Monas yang berada di luar cawan ini, dimana cawan adalah penggambaran dari rahim Ibu Pertiwi, keberadaannya untuk menggambarkan suatu kondisi ketika kita mengabaikan paham Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia atau menyelenggarakan NKRI secara menyimpang dari paham kemerdekaan tersebut. Sementara gerak lurus lift yang berada di poros Tugu Monas itu dapatlah kita sebut sebagai jalan lurusnya bangsa Indonesia. Inilah penyelenggaraaan NKRI atau penyelenggaraan Paham Kemerdekaan Indonesia yang sebenar-benarnya. Dan hasilnya pun akan jauh berbeda. Di Pelataran Bawah Monas ini kita mendapati keadaan yang tidak terlindungi dari terik panas matahari dan guyuran hujan yang datang. Di sana kita juga hanya akan mendapati pemandangan yang sangat terbatas dan tidak mengesankan. Jauh berbeda kondisinya jika kita berada di Pelataran Atas Monas.


Pelataran Atas Monas

Dihanntarkan dengan lift yang berada di areal Ruang Kemerdekaan yang akan bergerak lurus membawa kita menembus bagian tengah kubus besar kemerdekaan dan sampailah kita di Pelataran Atas Monas. Perjalanan yang kita tempuh pun sebenarnya cukup mengasyikan karena hanya dalam berberapa saat saja kita akan tiba di Pelataran Atas Monas tersebut. Dan, jika kita sudah berada di sana, kita benar-benar dapat menikmati pemandangan yang amat luas dan kita dapat melihat keindahan ibu kota Indonesia itu. Bahkan di dalam ruang tersebut disediakan pula beberapa teropong yang membuat kita memiliki daya pengelihatan yang berlipat untuk menikmatai pemandangan yang ada. Inilah gambaran dari suksesnya penyelenggaraan NKRI atau suksesnya penyelenggaraan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia. Dan kenyataan lift tersebut sebagai satu-satunya jalan menuju ke Pelataran Atas Monas itu, memberi gambaran yang tegas bahwa satu-satunya jalan untuk menghatarkan rakyat Indonesia kepada kemerdekaan yang sebenar-benarnya hanya melalui penyelenggaraan NKRI itu. Tidak ada jalan lain. Padanyalah nasib bangsa ini bergantung. Yang melalui penyelenggaraannya itu rakyat Indonesia dihantarkan menjadi “Suatu masyarakat yang benar-benar membuat Bangsa Indonesia ini suatu bangsa yang terdiri daripada ratusan juta “Insan Al-Kamil” yang hidup bahagia dibawah kolong langit buatan Allah SWT.”  (Bung Karno)


Lidah Api Monas

Berada di ruang Pelataran Atas Monas itu, berarti kita tepat berada di bawah naungan Lidah Api Monas. Inilah sebuah gambaran Paham Kemerdekaan Kebangsaan yang telah menjadi Realita Kemerdekaan Kebangsaan. Inlah gambaran dari telah selesainya revolusi Indonesia. Telah terwujudnya Ampera. Terwujudnya NKRI yang kuat dan sentausa, terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur dan juga terwujudnya dunia baru tanpa exploitation de l'homme par l'homme dan exploitation de nation par nation. Ajaran Kemerdekaan Indonesia akan menjadi mercu suar bagi dunia. Dunia akan melihat dengan kagum kepada bangsa Indonesia. Sebuah bangsa yang damai, adil, makmur sentausa. Sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja’. Telah sampailah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia pada puncak ketinggian yang cahayanya akan menyinari dan menjadi rahmat bagi bangsa-bangsa dan bagi umat manusia.

“Karena itulah maka sebagai salah satu mercusuar daripada universal revolution of man ini, Indonesia mempunyai universal voice – mempunyai suara sejagad, Indonesia didengarkan, dilihat, diperhatikan, sering-sering dikagumi oleh orang di lima benua dan tujuh samudera! Inilah kemercusuaran kita, berkat perjuangan kita berdasarkan Proklamasi Kemerdekaan dan Deklarasi Kemerdekaan kita itu.” (Bung Karno)

Mari sekarang kita berfokus kepada Tugu Monas. Dimana sangatlah umum bagi kita menyebut Monumen Nasional ini dengan sebutan Tugu Monas. Seolah-olah di sanalah memang titik tekan dari pesan yang hendak disampaikan dengan berdirinya Monas ini. Seperti yang kita tahu bahwa Tugu Monas itu adalah sebuah tugu yang berbentuk pilar panjang yang menopang langsung Lidah Api Monas itu. Dan sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa hakekat dari Tugu Monas ini adalah penggambaran tentang penyelenggaraan NKRI. Dari inilah kita mendapatkan sebuah pengertian atau sebuah kalimat bahwa “Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia di topang langsung oleh penyelenggaraan NKRI”. Dan kalimat itu ada tersirat di aline 4 Deklarasi Kemerdekaan kita. Maka darinya, dalam konteks kebangsaan atau kemerdekaan kebangsaan, dapatlah NKRI ini kita sebut sebagai pilar bangsa. Penyebuatan NKRI sebagai pilar yang menopang bangsa atau kebangsaan Indonesia tentu tidaklah keliru dan bahkan dilukiskan itu dengan jelas oleh Monumen Nasional kita. Dan jika demikian, sebenarnya istilah 4 Pilar Kebangsaan yang dilahirkan oleh Bapak Taufik Kiemas pada saat beliau menjabat sebagai ketua MPR, sebenarnya adalah sebuah istilah yang sangat tepat. Bahkan memang demikianlah adanya sebagaimana yang digambarkan oleh Monumen Nasional kita. Karena, jika penyelenggaraan NKRI adalah sebuah pilar yang menopang kebangasan Indonesia, itu artinya Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD’45 pun adalah juga Pilar Kebangsaan Indonesia. Karena sebagaimana telah kita pahami, bahwa susunan dari pada NRI yang berkedaulat rakyat itu adalah BTI – PANCASILA – UUD’45 – NKRI.

"Beliau (Bpk. Taufik Kiemas) menginspirasi dan mengingatkan kita untuk kembali kepada nilai 4 pilar kebangsaan, mengenai pancasila yang beliau selalu sampaikan dimana mana," (Presiden Joko Widodo di acara Haul ke 3 Bpk. Taufik Kiemas di kediaman ibu Megawati Soekarno Putri)

Jika kita mengerti, keberadaan prasa ‘Empat Pilar Kebangsaan’ ini adalah sangat penting atinya bagi bangsa Indonesia. Karena ia membawa pemahaman yang kuat kepada kita bahwa penyelenggaraan dari pada Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu haruslah ditopang oleh satu kesatuan pilar yang 4 itu. Keempat pilar ini harus benar-benar kokoh menopang kehidupan berbangsa kita untuk dapat terwujudnya Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia dengan sebenar-benarnya. Sebab jika salah satu pilar saja dari yang empat itu bermasalah, tentu akan menjadi goyang pula kehidupan kebangsaan kita. Dan disamping itu, Empat Pilar Kebangsaan ini, keberadaannya akan dapat menjadi pemasti terjaganya keselarasan tiap-tiap pilar tersebut. NKRI harus dipastikan selaras dengan UUD’45, UUD’45 harus dipastikan selaras dengan Pancasila dan Pancasila harus dipastikan selaras dengan Bhineka Tunggal Ika. Alangkah kuatnya paham kebangsaan kita terjaga dan terkawal penyelenggaraannya melalui pakem 4 Pilar Kebangsaan ini.

Jadi, menurut hemat saya, 4 Pilar Kebangsaan ini adalah tafsir yang akurat tentang kedudukan susunan dari Kemerdekaan Kebangsaan kita. Adapun mengenai adanya pendapat sebagai orang yang mengatakan tidak tepat jika Pancasila disebut sebagai pilar, tentu itu menjadi benar jika kita melihatnya dalam konteks negara. Dalam konteks negara memang Pancasila itu adalah dasar, sebagai mana dapat kita lihat pada keterangan-keterangan sebelumnya. Tapi, jika kita berbicara dalam konteks kebangsaan, justu harus kita sebut Pancasila itu sebagai Pilar Kebangsaan. Karena ini lebih memberi pengertian yang kuat kepada kita tentang kebangsaan kita itu. Kita menjadi tahu persis dimana posisi dari BTI – PANCASILA – UUD’45 – NKRI dalam paham kebangsaan kita. Sementara jika kita pandang Pancasila sebagai dasar Kebangsaan kita, meskipun itu adalah benar, tapi menjadi tidak jelas buat kita dimana posisi BTI, UUD’45 dan NKRI itu. Ini hanya akan membuat rakyat Indonesia hanya berfokus kepada Pancasila tanpa pernah tahu bahwa kuatnya kebangsaan Indonesia itu haruslah ditopang oleh keempatnya bersama-sama dengan sempurna. Akhirnya rakyat hanya dapat diam saja ketika amanden UUDNI berjalan meyimpang dari dari Pancasila. Dan akhirnya rakyatpun hanya tahunya rusuh dan bingung ketika mendapati kekacauan dalam penyelenggaraan NKRI tanpa tahu dimana sebenarnya letak salahnya.

Semoga saja pada akhirnya prasa ‘4 Pilar Kebangsaan Indonesia’ itu dapat dikembalikan dan ditetapkan sebagai bagian dari wawasan kebangsaan Indonesia. Agar denganya itu rakyat dapat sama-sama mengkawal penyelenggaraan Kemerdekan Kebangsaan Indonesia dengan sebaik-baiknya. Agar BTI – PANCASILA – UUD’45 – NKRI dapat menjadi satu kesatuan yang menopang kebangsaan Indonesia dengan penuh keselarasan. Sebab, sebagaimana dalam Catur Murti kita mengenal adanya keharusan keselaraan antara Pikiran – Perasaan – Perkataan – Perbuatan untuk dapat terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan, demikianlah pula kita berharap adanya keselarasan antara BTI – PANCASILA – UUD’45 – NKRI itu agar terwujudnya kehidupan kebangsaan yang damai dan sejahtera.

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 374 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar