Home » 2016 » July » 7 » Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx
5:24 AM
Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx

F. R. nomor yang sekarang ini adalah mendekati 14 Maret 1933. Pada hari itu, maka genap 50 tahun telah lalu, yang Karl Marx menutup matanya buat selama-lamanya.

Marx dan Marxisme!

Mendengar perkataan ini, begitulah dulu pernah saya menulis mendengar perkataan ini, maka tampak sebagai suatu bayangan di penglihatan kita gambarnya berduyun-duyun kaum yang mudlarat dari segala bangsa dan negeri, pucat-muka dan kurus badan, pakaian berkoyak-koyak; tampak pada angan-angan kita dirinya pembela dan kampiun si mudlarat tahadi, seorang ahli-fikir yang ketetapan hatinya dan keinsyafan akan kebiasaannya mengingatkan kita pada pahlawan dari dongeng-dongeng ­kuno Germania yang sakti dan tiada terkalahkan itu, suatu manusia yang “geweldig”, yang dengan sesungguh-sungguhnya bernama “datuk” pergerakan kaum buruh, yakni Heinrich Karl Marx.

Dari muda sampai wafatnjya, manusia yang haibat ini tiada berhenti­-hentinya membela dan memberi penerangan pada si miskin, bagaimana mereka itu sudah menjadi sengsara, dan bagaimana jalannya mereka itu akan mendapat kemenangan: tiada kesal dan capainya ia bekerja dan berusaha untuk pembelaan itu: selagi duduk di atas kursinya, di muka meja-tulisnya, begitulah ia pada 14 Maret 1883, lima puluh tahun yang lalu, melepaskan nafasnya yang penghabisan.

Seolah-olah mendengarkanlah kita di mana-mana negeri suaranya mendengung sebagai guntur, tatkala ia dalam tahun 1847 berseru:

“E, Kaum proletar semua negeri, kumpullah menjadi satu.” Dan sesungguhnya! Riwayat-dunia belum pernah menemui ilmu dari satu manusia, yang begitu cepat masuknya dalam keyakinannya satu golongan di dalam pergaulan-hidup, sebagai ilmunya kampiun kaum buruh ini.

Dari puluhan menjadi ratusan, dari ratusan menjadi ribuan, dari ribuan menjadi laksaan, ketian, jutaan … begitulah jumlah pengikutnya bertambah-­tambah. Sebab, walaupun teori-teorinya sangat sukar dan berat bagi kaum pandai, maka “amat gampanglah teorinya itu dimengerti oleh kaum yang tertindas dan sengsara, yakni kaum melarat-kepandaian yang berkeluh-kesah itu”.

Berlainan dengan sosialis-sosialis lain, yang mengira bahwa cita-cita sosialisme itu dapat tercapai dengan cara pekerjaan-bersama antara buruh dan majikan, berlainan dengan umpamanya: Ferdinand Lassalle, yang teriaknya ada suatu teriak-perdamaian, maka Karl Marx, yang dalam tulisan-tulisannya tidak satu kali memakai kata kasih atau kata cinta, membeberkanlah faham pertentangan-kelas: faham klassenstrijd, faham perlawanan-zonder-damai sampai habis-habisan. Dan bukan itu sahaja!

Ilmu dialektik materialisme, ilmu nilai-kerja, ilmu harga lebih, ilmu historis materialisme, ilmu statika dan dinamikanya kapitalisme, ilmu Verelendung, – semua itu adalah “jasanya” Marx. Dan meskipun musuh­-musuhnya, terutama kaum anarkhis, sama menyangkal jasa-jasanya Marx yang kita sebutkan di atas ini, meskipun lebih dulu, di dalam tahun 1825, Adolphe Blanqui sudah “menjawil-jawil” ilmu historis materialisme itu, meskipun teori harga lebih itu sudah lebih dulu dilahirkan oleh ahli­ahli-fikir sebagai Sismondi dan Thompson, – maka tokh tak dapat disangkal, bahwa dirinya Karl Marx-lah yang lebih mendalamkan dan lebih menjalarkan teori-teori itu, sehingga “kaum melarat-kepandaian yang berkeluh-kesah itu” dengan gampang segera mengertinya.

Mereka dengan gampang mengerti, seolah-olah suatu soal yang “sudah-mustinya-begitu” segala seluk-beluknya harga lebih: bahwa kaum burjuis lekas menjadi kaya karena kaum-proletar-punya tenaga yang tak terbayar. Mereka dengan gampang mengerti seluk-beluknya historis materialisme: bahwa urusan rezekilah yang menentukan segala akal-tikiran dan budi-pekertinya riwayat dan manusia. Mereka dengan gampang mengerti seluk-beluknya dialektika: bahwa perlawanan kelas adalah suatu keharusan riwayat, dan bahwa oleh karenanya, kapitalisme adalah “menggali sendiri liang kuburnya”.

Begitulah teori-teori yang dalam dan berat itu dengan gampang sahaja masuk di dalam keyakinan kaum yang merasakan stelsel yang “diteorikan” itu, yakni di dalam keyakinannya kaum yang perutnya senan­tiasa keroncongan. Sebagai tebaran benih yang ditebarkan oleh angin ke mana-mana dan tumbuh pula di mana ia jatuh, maka benih Marxisme ini berakar dan subur bersulur di mana-mana. Benih yang ditebar-tebar­kan di Eropah itu sebagian telah diterbangkan pula oleh tofan-zaman ke arah khatulistiwa, terus ke Timur, jatuh di kanan kirinya sungai Sindu dan Gangga dan Yang Tse dan Hoang Ho, dan di kepulauan yang bernama kepulauan Indonesia.

Nasionalisme di dunia Timur itu lantas “berkawinlah” dengan Marxisme itu menjadi satu nasionalisme baru, satu ilmu baru, satu iktikat baru,satu senjata perjuangan yangbaru, satu sikap hidup yang baru.

Nasiosionalisme-baru inilah yang kini hidup di kalangan rakyat Marhaen Indonesia.

Karena ini, Marhaen pun, pada hari 14 Maret 1933 itu, wajiblah berseru:

Bahagialah yang wafat 50 tahun berselang!

“Fikiran Rakyat”, 1933

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - I | Views: 98 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Revolusi Indonesia, Di Bawah Bendera Revolusi - I, Nasionalisme Indonesia, Bung Karno | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar