Home » 2016 » July » 21 » Maka Nation Building Harus Bernilai Nation Character Building
7:03 PM
Maka Nation Building Harus Bernilai Nation Character Building

Susunan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia yang terdiri dari BHINEKA TUNGGL IKA – PANCASILA – UUD 1945 – NKRI, inilah rahasia hidup kita sebagai sebuah bangsa. Susunan tersebut adalah sebuah formula yang merubah paham kemerdekan kita menjadi kemerdekaan nyata. Formula inilah yang kemudian harus kita jadikan pegangan hidup kita dalam menyelenggarakan ‘nation building’ (pembangunan bangsa). Agar menjadi sebuah ‘nation building’ yang berorientasi kepada ‘nation character building’ (pembangunan jiwa bangsa).

“Sesungguhnya, toh bahwa membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa! Bukankah demikian? Sekali lagi, bukankah demikian? Tentu saja keahlian adalah perlu! Tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar, tidak akan dapat mungkin akan tercapai tujuannya. Inilah perlunya, sekali lagi mutlak perlunya, Nation & Character Building!”  (Bung Karno)

Bagaimanakah cara kita menyelenggarakan nation building yang berorientasi kepada nation character building itu? Untuk memudahkan kita dalam memahami hal tersebut, kita dapat memperhatikan alur dibawah ini.

Hal pertama yang harus kita tahu terlebih dulu adalah bahwa membangun jiwa bangsa itu berarti membangun jiwanya seluruh rakyat Indonesia. Karena yang kita maksud dengan jiwa bangsa itu adalah akumulasi (kumpulan) dari jiwa-jiwa rakyat Indonesia. Jiwa rakyat Indonesia ini seumpama lahan subur yang hendak kita tanam padanya benih ajaran kemerdekaan yang merupakan benih dari pohon Negara Indonesia Merdeka. Benih itu bernama Bhineka Tunggal Ika. Dari sinilah nation character building itu harus bermula. Kita harus terlebih dulu memastikan Bhineka Tunggal Ika itu tertanam dengan baik di dalam sanubari bangsa Indonesia. Bhineka Tunggal Ika harus benar-benar dipahami oleh rakyat Indonesia agar darinyalah lahir pemahaman yang sebaik-baiknya akan Pancasila. Tanpa pemahaman yang benar akan arti dari Bhineka Tunggal Ika ini, menjadi mustahil kita berharap adanya pemahaman yang benar juga tentang Pancasila. Dan ketika Pancasila ini telah benar-benar dipahami dengan baik, barulah nation building itu mulai berproses sebagaimana mestinya.

“Ya, masih bertumpuk-tumpuk tugas-tugas yang terletak di hadapan kita. Menggunung pekerjaan yang harus kita selesaikan. Tidak mungkin tugas-tugas itu diselesaikan oleh pemerintah sendiri tanpa ikutsertanya secara aktif membantu dari seluruh kalangan rakyat, dari semua suku, dari semua golongan, dari semua corak partai, dari semua isme yang ada.”  (Bung Karno)

Satu hal yang juga harus kita pahami adalah bahwa proses nation building ini harus melibatkan seluruh rakyat Indonesia. Karena negara kita ini adalah negara kerakyatan, bukan negara kerajaan. Dalam negara kerajaan, dimana kedaulatan berada di tangan raja, rakyat tidak perlu terlibat secara langsung dalam proses nation building itu. Rakyat hanya harus mengikuti saja segala ketetapan dan kebijakan yang ditentukan oleh raja. Hal ini amatlah berbeda dalam tatanan negara kerakyatan yang kedaulatanya justru ada di tangan rakyat. Proses nation building dalam tatanan negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat ini harus sepenuhnya berada dalam pengkawalan rakyat Indonesia. Itulah kenapa Bung Karno menyebut Pancasila jika diperas menjadi satu sila kita akan mendapati “Gotong Royong”. Dan oleh karena itulah nation character building menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Nation character building adalah bagian yang satu dengan nation building.

Dengan pemahaman yang benar tentang Pancasila inilah, seluruh rakyat Indonesia secara bergotong royong terlibat dalam proses nation building. Seluruh rakyat Indonesia akan menyadari sepenuhnya bahwa UUDNI yang akan menjadi pedoman pengelolaan negara itu haruslah ia benar-benar selaras dengan Pancasila. Maka ketika terjadi amandemen terhadap UUDNI yang berjalan menyimpang dari nilai-nilai Pancasila, tidaklah rakyat diam saja seperti yang terjadi sekarang ini. Seperti yang kita tahu, hari ini, UUDNI yang kita punya tidaklah sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Dan satu-satunya alasan hal itu bisa terjadi adalah karena memang kita belum memahami Pancasila dengan baik dan benar. Maka akan sangat sulit bagi kita mengharapkan terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur sebagai mana dicita-citakan oleh Pancasila, selama UUDNI yang menjadi landasan penyelenggaran NKRI ini tidak selaras dengan Pancasila.

“Apa itu Ampera? Kan sudah saya jelaskan beberapa kali Ampera, Ampera, Ampera yaitu tujuan daripada seluruh Revolusi Indonesia, itu Ampera. Dan Ampera itu timbul daripada kalbu rakyat yang berpuluh, puluh, puluh tahun. Ampera yaitu tiga, kataku. Satu, negara kesatuan Republik Indonesia berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke berbentuk republik. Nomor dua, masyarakat yang adil dan makmur di Indonesia ini. Tiga, dunia baru tanpa exploitation de l'homme par l'homme dan exploitation de nation par nation. Itulah Ampera. Amanat Penderitaan Rakyat.”  (Bung Karno)

Ketika UUDNI telah selaras dengan Pancasila, barulah dapat kita sebut: negara berdasarkan pada Pancasila dan barulah dapat kita sebut negara berdasarkan kepada UUD’45, karena UUD’45 inilah UUDNI mula-mula yang sejiwa dengan Pancasila itu. Setelah itu terjadi, maka tungas kita adalah memastikan penyelenggaraan NKRI ini berjalan sesuai dengan UUD’45 itu. Dan barulah kita dapat berharap dengan penuh percaya akan terwujudnya: negara Indonesia yang kuat sentausa, masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, dan dunia baru tanpa exploitation de l'homme par l'homme dan exploitation de nation par nation. Maka benarlah Bung Karno kita mengatakan: “Alangkah sempurnanya ia melukiskan –kita punya rahasia hidup, kita punya pandangan hidup”.

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 172 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar