Home » 2016 » September » 24 » "Laksana Malaikat yang Meneyerbu dari Langit", Jalannya Revolusi Kita!
4:07 PM
"Laksana Malaikat yang Meneyerbu dari Langit", Jalannya Revolusi Kita!

<<<sebelumnya.....     Saudara-saudara! Sekarang bagian kedua daripada Program Kabinet Kerja: Hal Keamanan.

Dalam Pidato 17 Agustus tahun yang lalu, saya berkata: “Program Pemerintah adalah untuk melaksanakan keamanan Negara terhadap gerombolan-gerombolan pemberontak dalam 2 á 3 tahun. Tetapi mengingat sifat gerilya dan anti-gerilya yang berkembang sejak perang dunia yang lalu, maka konsolidasi dan stabilisasi teritorial sepenuhnya bagi keamanan Rakyat yang merata, mungkin masih memerlukan waktu yang lebih lama”.

Demikianlah kataku tahun yang lalu.

Bagaimanakah keadaan sekarang?

Pengacau yang pokok terhadap keamanan Republik Indonesia masihlah tetap gerombolan D.I.T.I.I., P.R.R.I.-Permesta, dan R.M.S., beserta aksi-aksi subversifnya yang mereka jalankan bersama dengan subversif asing.

Saya peringatkan kembali bahwa sebab-sebab yang pokok dari pengacauan itu ialah pertentangan-pertentangan dan petualangan-petualangan di bidang politik-psychologis, dengan membawakan pula kesulitan-kesulitan Negara di bidang sosial-ekonomis dan militer. Di samping itu saya peringatkan pula, bahwa selama Belanda masih bercokol di Irian Barat, maka selama itu, sengketa ini akan tetap merupakan sumber pengacauan terhadap Republik. Demikian pula maka perang dingin antara blok Barat dan blok Timur akan tetap mengganggu keamanan Indonesia.

Dan selalu harus diinsyafi, bahwa soal keamanan bukanlah soal bagi tentara saja, bukan soal bagi tentara saja, bukan soal bagi polisi saja, melainkan satu soal Rakyat seluruhnya. Oleh karena itu maka dalam Manifesto Politik telah ditegaskan, bahwa Rakyat diikutsertakan dalam penyelenggaraan keamanan, dengan mengintensifkan organisasi-organisasi keamanan Rakyat, dengan wajib-latih bagi pemuda dan veteran, dengan milisi darurat di seluruh Indonesia. Ya, soal seluruh Rakyat seumumnya! Malah sebagai tadi saya katakan, soal keamanan ini adalah jalin-menjalin dengan bidang politik-psychologis, bidang sosial-ekonomis, bidang subversi asing. Karena itu maka dalam suksesnya pelaksanaan Manifesto Politik di segala bidang terletaklah pula suksesnya pemulihan keamanan. Dalam suksesnya USDEK, terletaklah pula suksesnya pemulihan keamanan.

Mengenai keamanan dalam arti khusus, maka kita harus:

Pertama: Melakukan operasi-operasi tempur yang semakin hebat dan semakin sempurna, untuk dengan pukulan-pukulan yang dahsyat menggempur menghancurkan gerombolan-gerombolan pengacau tadi.

Kedua: Melakukan operasi-operasi teritorial yang semakin hebat dan semakin sempurna pula, untuk memisahkan gerombolan dari dukungan masyarakat dan mengembalikan serta menegakkan-kembali kewibawaan Ncgara, baik strukturil menegakkan kembali alat-alat pemerintahan dari atas sampai ke bawah, maupun idiil meng-USDEK-kan seluruh masyarakat, berbarengan dengan rehabilitasi sosial-ekonomis.

Ketiga: – inipun mutlak perlu – : mengintensifkan operasi-operasi mental, dan khusus penertiban dan penyehatan alat-alat Negara sipil dan mlliter, baik teknis maupun ideologis, sebagai yang telah ditentukan dalam Manifesto Politik.

Keempat: Dengan makin hebatnya dan makin sempurnanya operasi-operasi ke I, ke II, dan ke III tadi, maka akan lebih banyak pula jumlah gerombolan yang “kembali ke pangkuan Republik” sebagaimana dimungkinkan dan disyaratkan dalam Manifesto Politik.

Kelima: Semua usaha-usaha yang saya sebutkan itu harus dirampungkan (dibulatkan) dengan tindakan-tindakan follow-up, sebagai operasi-operasi lanjutan untuk rehabilitasi daerah dan pembangunan di daerah, sehingga tercapailah konsolidasi dan stabilisasi teritorial guna mencapai normalisasi dan pengakhiran Keadaan Bahaya.

Bagaimana hasil usaha kita dalam tahun yang lalu? Dalam satu tahun yang lalu, maka luas daerah yang dikuasai dahulunya oleh gerombolan-gerombolan, terutama di luar Jawa, telah banyak berkurang. Terutama sekali di Sumatera Utara, di Sumatera Tengah, di Kalimantan Selatan, di Sulawesi Selatan, dan di Sulawesi Utara. Jumlah gerombolan yang dieliminir (ditewaskan) dalam pertempuran-pertempuran adalah ± 11.000 orang, dan jumlah yang kembali ke pangkuan Republik adalah ± 18.000 orang. Kegiatan subversif mereka sebagian besar telah dipatahkan. Subversif “Manguni” telah dipatahkan, subversif “Kobra” telah digulung. Akan tetapi perlu tetap diingat, bahwa selama masih ada P.R.R.I., selama masih ada Permesta, selama masih ada D.I.-T.I.I., dan lain sebagainya, selama itu, akan masih tetap ada subversifnya dan perang-urat-sarafnya, untuk merusak kita dari dalam dan dari belakang.

Dengan hasil-hasil tersebut, saya mengucapkan penghargaan dan terimakasih kepada alat-alat-Negara, dan Rakyat yang telah ikut membantu usaha-usaha keamanan itu di berbagai bidang dan di berbagai daerah. Penghargaan dan terimakasih saya itu adalah sungguh-sungguh! Sebab saya mengetahui betapa banyaknya kesulitan-kesulitan yang telah diderita oleh alat-alat-Negara dan Rakyat: kesulitan-kesulitan yang berupa penderitaan pribadi yang pedih-pedih; kesulitan-kesulitan materiil-personil-finansiil; kesulitan-kesulitan keluarga yang terpisah berbulan-bulan; kesulitan-kesulitan perasramaan; kesulitan-kesulitan sosial; kesulitan-kesulitan kekurangan ini kekurangan itu sehari-hari dan seribu-satu kesulitan-kesulitan lagi. Bahkan prajurit-prajurit kita sejak saat Proklamasi limabelas tahun yang lalu sampai sekarang masih belum pernah mengenal istirahat yang sebenarnya sedikitpun, karena panggilan tugas yang terus-menerus dan tiada berhenti!

Namun, ya namun!, kita belum boleh puas dengan hasil-hasil yang telah tercapai. Kita masih perlu mengerahkan segenap urat-urat dan segenap otot-otot lagi, kita masih perlu lebih giat dan lebih hebat memaksimumkan semua usaha, agar dalam waktu dua tahun lagi Insya Allah tercapailah keamanan di seluruh wilayah Republik.

Ya! kita harus terus membantras pengacau-pengacau itu! Mereka sekarang melansir apa yang mereka menamakan “perdamaian nasional”, sebagai yang dikemukakan oleh kaki-tangan-kaki-tangan mereka Sam Karundeng, Daniel Maukar, Sukanda Bratamenggala, dan lain-lain lagi. Saya tandaskan di sini sekali lagi dengan suara yang setandas-tandasnya, sesuai dengan isi Manifesto Politik bab keamanan:

Tiada kompromis dengan D.I.-T.I.I.!

Tiada kompromis dengan P.R.R.I.-Permesta!

Tiada kompromis dengan R.M.S.!

Terhadap yang tetap membangkang, akan kita teruskan operasi-operasi militer dan polisionil yang semakin hebat lagi!

Terhadap yang tetap membangkang, penggempuran akan berjalan terus!

Tetapi terhadap yang insyaf kembali, terhadap yang benar-benar menyerah tanpa syarat, terhadap yang ingin kembali ke pangkuan Republik dengan cara yang benar-benar ikhlas dan bukan untuk belakangan menggarong Republik lagi, terhadap mereka itu diadakan “politik pintu terbuka”. Mereka akan diterima dengan baik, dan akan diperlakukan dengan wajar. Setiap jalan yang mempercapat keamanan dan mengurangi korban-korbun, harus kita pergunakan!

Saudara-saudara! Sekarang bagian ketiga daripada program Kabinet Kerja: Perjoangan Anti-imperialisme, perjoangan Irian Barat.

Perjoangan menentang imperialisme adalah salah satu jiwa pokok daripada Revolusi kita, dan malahan juga daripada pergerakan Nasional sebelum kita mengadakan Proklamasi. Salah satu unsur daripada Amanat Penderitaan Rakyat, – penderitaan yang telah berpuluh-puluh tahun, dan tidak hanya 15 tahun saja – salah satu unsur itu ialah justru mengnyahkan imperialisme dari seluruh wilayah tanah-air Indonesia. Maka sudah barang tentu, juga sesudah kita memiliki Republik ini, perjoangan di dalam negeri melawan imperialisme berjalan terus. Tetapi dalam hubungan kita dengan dunia luarpun perjoangan ini kita teruskan.

Dalam hubungan Republik dengan dunia luarpun, tetap kita memegang teguh kepada jiwa-pokok Revolusi, yaitu menghimpun segala kekuatan Nasional dan Internasional untuk menentang, dan akhirnya membasmi menyapu bersih imperialisme dan kolonialisme itu di manapun juga dan dalam bentuk apapun juga. Secara khusus kita meletakkan titikberat kepada perjoangan memerdekakan Irian Barat, karena di Irian Barat imperialisme-kolonialisme menancap di tubuh darah-daging kita sendiri.

Alhamdulillah, di luar negeri itu perjoangan ini berjalan sengit! Telah saya katakan sejak tahun yang lalu, bahwa ¾ umat manusia kini berada dalam Revolusi, antara lain Revolusi menentang penjajahan. Jiwa revolusioner merasa berhati-besar melihat Revolusi mondial itu. Jiwa revolusioner berhati-besar melihat perjoangan menentang penjajahan berhasil baik di beberapa negeri. Di Tunis, di Konakry, di Bukarest dan di Budapest saya tempohari dengan semangat mengatakan, bahwa Afrika kini adalah laksana kancah yang berkobar menyala-nyala, – bahwa “Africa is ablaze like a burning fire”! Mesiu telah meledak di sana, kena cetusan “Semangat Bandung”! Sekarang saya mengulangi lagi salam dan do’a selamat saya atas nama bangsa Indonesia kepada para pemimpin dan bangsa-bangsa Afrika yang baru saja hidup-kembali ke dalam alam Kemerdekaan. Salam-kemerdekaan dan salam revolusioner kepadamu, hai Saudara-saudara di Afrika! Salam hangat dan do’a selamat kepada Kamerun, kepada Togo, kepada Federasi Mali, kepada Konggo, kepada Somali, kepada Malagasi, kepada Pantai Gading! Dan saya yakin: tidak lama lagipun kepada bangsa-bangsa Afrika yang lain, yang juga pasti menang, pasti menang, dalam perjoangan kemerdekaannya. Dan saya yakin pula, bahwa seperti juga Bangsa Indonesia, dengan segala keteguhan, dengan segala ketabahan hati, dengan segala kebulatan tekad untuk meneruskan perjoangan mati-matian, Saudara-saudara kita di Afrika itu akhirnya akan dapat mematahkan segala rintangan, menghancur-leburkan segala halangan, baik dari dalam maupun dari luar. Berjoanglah terus, hai Saudara-saudara di Afrika, kemenanganmu pasti nanti datang! Kami di Indonesia sendiri masih mengalami berbagai kesulitan, tetapi secara sederhana kami bersedia memberi bantuan sedapat mungkin bilamana dibutuhkan. Saudara-saudara tidak berdiri sendiri dalam perjoangan Saudara-saudara menentang imperialisme dan kolonialisme! Kemenangan Saudara-saudara adalah kemenangan kami, kemenangan kami adalah kemenangan Saudara-saudara!

Dan bukan hanya untuk menghimpun segala kekuatan Nasional dan Internasional menentang imperialisme dan kolonialisme sajalah politik luar negeri kita itu. Politik luar negeri kita, juga kita tujukan kepada persahabatan dengan semua bangsa, sesuai dengan ajaran Pancasila. Ia kita tujukan kepada menyumbang kepada terwujudnya perdamaian dunia, sesuai pula dengan ajaran Pancasila. Ia, sebagai semua orang telah mengetahui, berwujud satu politik luar negeri yang di luar negeri orang manakan ”independent policy” atau ”policy of non-alignment”. Kadang-kadang orang di luar negeri menamakannya juga ”policy of neutralism”, – satu politik yang netral. Sebutan yang belakangan itu adalah sebutan yang salah dan melését, samasekali. Sebab kita tidak netral, kita tidak penonton-kosong daripada kejadian-kejadian di dunia ini, kita tidak tanpa prinsipe, kita tidak tanpa pendirian. Kita menjalankan politik bebas itu tidak sekadar secara ”cuci tangan”, tidak sekadar secara defensif, tidak sekadar secara apologetis. Kita aktif, kita berprinsipe, kita berpendirian! Prinsipe kita ialah terang Pancasila, pendirian kita ialah aktif menuju kepada perdamaian dan kesejahteraan dunia, aktif menuju kepada persahabatan segala bangsa, aktif menuju kepada lenyapnya exploitation de l’homme par l’homme, aktif menentang dan menghantam segala macam imperialisme dan kolonialisme di manapun ia berada.

Pendirian kita yang ”bebas dan aktif” itu, secara aktif pula setapak demi setapak harus dicerminkan dalam hubungan ekonomi dengan luar negeri, agar supaya tidak berat-sebelah ke Barat atau ke Timur. Manakala pada saat sekarang ini keberatsebelahan itu nampaknya masih ada, maka usaha kita ialah untuk menghilangkan keberatsebelahan itu. Hanya jikalau kita tidak berat-sebelah, maka kita benar-benar boleh menuliskan Pancasila di atas dada kita, dan kita dipercaya orang dalam usaha kita mendamaikan dunia. Hanya jikalau kita benar-benar tidak ”pilih kasih”, maka kita bisa menghindarkan yang tanah-air kita yang cantik-molek, kaya raya, strategis ini, dijadikan padang perebutan pengaruh politik internasionalm dijadikan arena perang-dingin dan mungkin arena perang-panas dari dunia luaran!

Sampai-sampai dalam hal memperjoangkan bebasnya Irian Barat-pun kita menjalankan Pancasila! Bertahun-tahun lamanya kita sesuai dengan Pancasila itu menjalankan politik “ajakan manis” kepada Belanda. Bertahun-tahun lamanya kita mencoba meyakinkan Belanda bahwa tuntutan kita adalah adil. Bertahun-tahun lamanya kita mencoba mempengaruhi public opinion di negeri Belanda, dan juga public opinion di dunia, untuk memberi desakan kepada Belanda. Sebenarnya sedari tadinya kita harus sudah mengerti bahwa politik “ajakan manis” itu niscaya tidak akan berhasil. Juga dalam pergerakan nasional kita dahulu, dalam mana pemimpin-pemimpin kita dua puluh tahun lamanya menjalankan politik mohon-mohonan, rekés-rekésan, yakin-yakinan, cooperatie-cooperatiean dengan Belanda, terbuktilah bahwa “politik ajakan manis” itu tidak diréwés. Baru sesudah kita mendengungkan politik non-cooperation, baru sesudah kita memformulir dengan tegas bahwa politik kita harus berupa ”’machtsvorming dan machtsaanwending”, baru sesudah kita menyemboyankan dengan cara yang menyundul-langit bahwa kita harus menuju kepada Indonesia Merdeka 100% lepas dari Belanda dengan menggerakkan revolusionnaire massa-actie yang tidak nyembah-nyembah dan tidak bercooperatie-cooperatiean dengan Belanda, baru sesudah pergerakan nasional kita itu benar-benar berdiri atas dasar belangentegenstellingen dan machtstegenstellingen dengan Belanda, – baru sesudah itulah matahari-kejayaan kita mulai menyingsing.

Dan juga pengalaman kita sesudah Proklamasi, antara 1945-1950, yaitu pengalaman kita dalam physical revolution, bahwa dengan fihak Belanda tak dapat dicapai kata-sepakat atas dasar “give and take”, sebenarnyapun harus telah memberi pengajaran kepada kita bahwa kita harus menempuh jalan lain dalam usaha mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Tetapi tidak. “Jalan lain” itu tidak segera kita ambil! Penyakit tidak mempunyai konsepsi yang tepat dan tegas, juga merajalela di antara kita bertahun-tahun lagi mengenai persoalan Irian Barat ini, sebagaimana penyakit ini juga menjadi kanker dalam tubuh-fikiran kita bertahun-tahun sesudah physical revolution di bidang lain-lain.

Tetapi akhirnya, eindelijk, e-i-n-d-e-l-i-j-k, beberapa tahun yang lalu merantak-rantaklah fajar menyingsing dalam politik-Irian Barat kita itu. Eindelijk, beberapa tahun yang lalu kita merobah sifat perjoangan kita, dari “mengajak Belanda secara manis” untuk mengembalikan Irian Barat kepada kita, menjadi satu politik konfrontasi antara segala kekuatan nasional kita terhadap Belanda dalam mas’alah Irian Barat.

Saat itulah saat lahirnya istilah “jalan lain” dalam politik-Irian Barat kita. Saat itu saatnya kita menemukan-kembali kesadaran, bahwa perjoangan nasional adalah soal kekuatan, soal “machtsvorming en machtsaanwending”, soal perjoangan, dan bukan soal pengemisan. Saat itu adalah saat “rediscovery of our struggle”, yang kemudian disusul samasekali oleh “rediscovery of our Revolution”. Ya!, kita sekarang tidak mau lagi meminta-minta berunding dengan Belanda mengenal Irian Barat, kita akan terus menjalankan politik “jalan lain” itu sampai Irian Barat masuk kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik. “Man bettelt nicht um ein Recht, um ein Recht kämpft Man!”, – “Hak tak dapat diperoleh dengan mengemis, hak hanya dapat diperoleh dengan perjoangan!”, – demikianlah ajaran yang kita dapat dari alam perjoangan.

Saya mengucap banyak terimakasih kepada Dewan Pertimbangan Agung, bahwa Dewan ini pada tanggal 21 Juli beberapa pekan yang lalu telah mengusulkan kepada Pemerintah tentang “Kebijaksanaan Politik Pembebasan Irian Barat”. Usul Dewan Pertimbangan Agung itu amat berharga sekali, lebih-lebih lagi oleh karena usul Dewan Pertimbangan Agung pun berdiri di atas prinsipe konfrontasi segenap kekuatan Nasional kita terhadap fihak imperialis-kolonialis Belanda, konfrontasi antara nationale macht kita terhadap imperialistis-koloniale macht Belanda. Maka Pemerintah akan memberikan perhatian sepenuhnya kepada usul Dewan Pertimbangan Agung itu.

Di dalam pidato 17 Agustus tahun yang lalu saya berkata: “Khusus mengenai perjoangan Irian Barat, saya menyatakan di sini bahwa benar Pemerintah tidak akan memasukkan soal Irian Barat itu ke P.B.B. tahun ini. Tetapi ini tidak berarti bahwa Pemerintah kendor dalam perjoangannya mengenai Irian Barat. Tidak! Samasekali tidak! Sebaliknya! Pemerintah memperhebat perjoangan Irian Barat itu di lapangan lain daripada P.B.B. Pemerintah memperhebat perjoangannya itu di lapangan ekonomi. Pemerintah mengakui bahwa perjoangan Irian Barat harus dilakukan di segala lapangan, ya di dalam negeri ya di luar negeri, tetapi buat tahun ini Pemerintah mengkonsentrir perjoangannya melawan Belanda itu di lapangan ekonomi. Ingatlah kepada pemindahan pasar ke Bremen, Ingatlah kepada keputusan kita untuk tidak mengakui ada hak eigendom Belanda lagi (sekarang semua hak-hak agraris Belanda dihapuskan), ingatlah kepada ucapan saya bahwa jika Belanda tetap membandel dalam persoalan Irian Barat, maka akan habis-tamatlah samasekali riwayat semua modal Belanda di bumi Indonesia. Coba lihat nanti, fihak Belanda dan konco-konconya imperialis tentu akan gégér-marah oleh keputusan-keputusan kita ini, dan kegegeran mereka itupun harus dan akan kita layani di dunia Internasional. Pemerintah berpendapat lebih baik mengkonsentrir enersinya di luar negeri pada pelayanan kegégéran inilah, dan tidak memecah-mecah enersinya itu antara pelayanan kegégéran ini + perjoangan di P.B.B. Dan bagi P.B.B. sendiripun, sikap kita sekarang ini (untuk tidak memasukkan Irian Barat dalam acara P.B.B.), harus diberi arti yang langsung mengenai P.B.B. Saya harap P.B.B. dengan sikap kita sekarang ini mengerti, bagaimana perasaan kita terhadap P.B.B.!”

Demikian tahun yang lalu. Bagaimana tahun yang sekarang? Tahun yang sekarang, kita tetap mengambil “jalan lain” itu, malahan memperkuat, memperhebat, memperdahsyat “jalan lain” itu. Dewan Pertimbangan Agung sendiri dalam salah satu kalimat penjelasan usulnya itu menulis: (boleh saya ungkap sedikit): “Berdasarkan pengalaman-pengalamnn politik pembebasan Irian Barat dari Kabinet-Kabinet yang lalu, di samping kenyataan sikap kepalabatu kolonialis Belanda yang makin memperkuat pendudukan militernya di Irian Barat, dan berhubung dengan penemuan kembali Revolusi Indonesia pada garis U.U.D. ’45, maka adalah satu keharusan, bahwa Kabinet Kerja melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara revolusioner menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia“.

Ya!, pengalaman-pengalaman Kabinet-kabinet yang lalu sudah jelas. Ya!, kolonialis Belanda makin bersikap kepalabatu! Ya!, Belanda malahan mengirim Karel Doorman ke Irian Barat. Tetapi juga ya!, kita sekarang sudah benar-benar menemu-kembali perjoangan kita dan menemu-kembali Revolusi! Karena itu, ya!, benar sekali anjuran Dewan Pertimbangan Agung supaya kita melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara Revolusioner, menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia! Belanda makin berkepalabatu.

Belanda malahan mengirimkan Karel Doorman-nya. Satu negara rentenier kecil yang sebenarnya sudah jatuh seperti Nederland itu, yang masih bernafsu kolonialisme, sekarang mencoba mengirimkan deurwaardernya, yang bemama Karel Doorman!

Sekarang dengarkan Saudara-saudara! Dalam keadaan yang demikian itu, tidak ada gunanya lagi hubungan diplomatik dengan negeri Belanda. Tadi pagi telah saya perintahkan Departemen Luar Negeri memutuskan hubungan diplomatik dengan negeri Belanda.

Itu negatifnya! Positifnya kita mempertinggi kekuatan Nasional kita yang kita harus konfrontir dengan kekuatan imperialis Belanda itu. Sekali lagi dengan tegas saya katakan di sini, bahwa kekuatan Nasional itulah yang menentukan, kekuatan Nasional yang berupa satu totalitas daripada semua tenaga politik, ekonomis, sosial, sipil, militer dalam bangsa dan Negara yang dalam ketotalannya kita konfrontir dengan kekuatan imperialis Belanda! Sebab di dalam konfrontasi itulah nanti akan ternyata siapa yang kuat, siapa yang menang!

Dalam mempertinggi kekuatan Nasional itu, Front Nasional menduduki salah satu tempat yang penting. Dalam usul Dewan Pertimbangan Agung tadi itu antara lain diusulkan: (saya ungkapkan lagi sedikit): “menggalang persatuan rakyat revolusioner berupa Front Nasional anti imperialis di bawah pimpinan Bung Karno, sebagai landasan untuk membangkitkan aksi-aksi massa”.

Dan di dalam Manifesto Politik tempohari saya berkata: “Ide Front Nasional sebenarnya keluar daripada prinsip Gotong Royong “Ho-lopis Kuntul-baris”. Seluruh tenaga Rakyat harus digalang dan dijadikan satu gelombang-tenaga yang mahasyakti, menuju kepada terbangunnya satu masyarakat adil dan makmur, – menuju kepada penyelesaian Revolusi. Dan penggalangan itulah tugasnya Front Nasional. Menjadi Front Nasional itu adalah satu hal yang prinsipiil-fundamentil: sebab pembangunan semesta tak mungkin berhasil tanpa mobilisasi tenaga semesta pula. Revolusi tak mungkin berjalan penuh tanpa ikut-ber-Revolusinya seluruh Rakyat. Front Nasional nanti diadakan untuk menggalang seluruh tenaga daripada seluruh Rakyat. Ia harus menggalang seluruh kegotongroyongan Rakyat. Front Nasional itulah dus yang harus menggalang semangat dan tenaga latent dikalangan Rakyat, dijadikan satu gelombang “ke-ho-lopis-kuntul-barisan” untuk menyelesai-kan Revolusi”.

Saya mengulangi bagian pidato Manifesto Politik yang mengenai penggalangan tenaga dan semangat massa Rakyat ini in extense (dengan lengkap), oleh karena masih banyak orang-orang dalam kalangan aparatur Negara, orang-orang kwalitas ndoro-ndoro dan juragan-juragan, wanita-wanita yang kwalitet dén-ajeng dén-ajeng dan dén-ayu dén-ayu -, yang tidak mengerti artinya tenaga massa dan semangat massa, bahkan menderita penyakit massa-phobi dan Rakyat-phobi, yaitu takut kepada massa dan takut kepada Rakyat. Jiwa ndoro dan jiwa dén-ayu itu harus kita cuci samasekali dan harus kita kikis samasekali, agar supaya Revolusi dapat berjalan benar-benar sebagai Revolusi Rakyat, dan oleh karenanya berjalan seefisien-efisiennya pula!

Sebagai di muka telah saya katakan, beberapa hari yang lalu sudah selesai saya bentuk pucuk pimpinan daripada Front Nasional itu. Tinggal sebentar lagi benar-benar kita menggerakkan Front Nasional itu: Ho-lopis-kuntul-baris!, – menuju pembangunan semesta, menuju pembebasan Irian Barat, menuju lenyapnya imperialisme dari bumi Indonesia, menuju kemerdekaan penuh, menuju sosialisme Indonesia, menuju pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat!

Saudara-saudara!

Lambat-laun datanglah saatnya saya harus mengakhiri pidato saya ini. Tetapi saya tidak mau mengakhirinya, sebelum saya menandaskan beberapa hal kepada Saudara-saudara.

Banyak telah kita kerjakan dalam tahun yang lalu. Kita telah meretool badan legislatif dan membentuk D.P.R.G.R. Kita sedang meretool dunia-kepartaian, dan telah memerintahkan pembubaran partai-partai yang anti-revolusioner. Kita telah mempersiapkan Landreform, salah satu bagian mutlak daripada Revolusi. Kita telah menyusun Majelis Permusyawaratan Rakyat. Kita telah menyusun pimpinannya Front Nasional. Kita telah memecahkan sedikit persoalan Sandang-Pangan. Kita telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda. Kita telah membasmi sebagian yang lumayan daripada gerombolan-gerombolan pengacau. Kita telah membangun Bank Pembangunan, sedang membangun Bank Koperasi, Tani dan Nelayan, sedang membangun Bank-bank Pembangunan Daerah. Kita telah mulai membangun beberapa industri-dasar, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Pendek-kata: kita telah ini, kita telah itu! Tetapi sekali-kali janganlah menjadi puas karena kita telah-ini telah-itu. Banyak sekali hal-hal investment yang masih harus kita kerjakan. Misalnya belum semua warganegara bisa membaca dan menulis, meski jumlah yang melek-huruf sekarang sudah lebih dari 60%, padahal di masa penjajahan hanya 6%.

Dapatkah sosialisme diselenggarakan oleh bangsa yang buta-huruf? Saya komandokan sekarang, supaya buta-huruf itu habis samasekali pada akhir tahun 1964! Dan saya komandokan kepada semua sekolah-sekolah dan Universitas-universitas, supaya semua murid mahasiswa di-USDEK-kan dan di-Manipol-kan!

Sekali lagi saya tandaskan di sini, bahwa masih banyak sekali hal-hal investment yang masih harus kita kerjakan. Dan percayalah: bulan purnama masih beratus-ratus kali lagi harus bersinar, tahun masih harus berkali-kali lagi berganti tahun, sebelum kita boleh berkata bahwa sebagian besar karya investment telah kinarya. Masih lama lagi kita harus membanting-tulang, masih lama lagi kita harus memeras keringat, masih lama lagi kita harus berjoang habis-habisan, kalau perlu berjoang mati-matian. Apa yang sudah kita kerjakan itu barulah sekadar pucuk dari permulaan saja, sekadar “the beginning of the beginning”, paling-paling “the end of the beginning”! Tetapi masih tetap the beginning, masih tetap permulaan! Ya tentu, kita bangga telah mempunyai Manifesto Politik.

Tetapi Manifesto Politik hanyalah satu Manifesto, satu pernyataan, satu Konsepsi, satu ideologi, – katakanlah satu pembakar semangat. Sebagai pembakar semangat ia boleh ditempatkan dalam trilogi kita yang termasyhur: semangat nasional – kemauan nasional – perbuatan nasional, sehingga trilogi itu menjadi caturlogi yang berbunyi:

Semangat nasional

Konsepsi nasional

Kemauan nasional

Perbuatan nasional

Tetapi program atau pernyataan, konsepsi atau ideologi, – yang menentukan ialah pelaksanaannya. Mengenai pelaksanaan ini, Dewan Pertimbangan Agung dengan tepat berkata: “Walaupun Manifesto Politik adalah sangat penting karena telah menjawab persoalan-persoalan pokok Revolusi, dan telah mengemukakan usaha-usaha-pokok untuk menyelesaikan Revolusi Indonesia, tetapi realisasinya sangat tergantung pada orang-orang yang diberi tugas untuk melaksanakannya”.

Benar sekali: tergantung pada orang-orang yang harus melaksanakan! Khususnya orang-orang yang diberi tugas, umumnya orang-orang 90.000.000 jiwa yang bernama Rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. “Ten slotte beslist de mens”, inilah sitat dari Fritz Sternberg yang saya gemar sekali mensitirkannya. “Pada akhirnya, manusialah yang menentukan”.

Oleh karena itulah maka orang-orang yang diberi tugas tapi tidak berhati-penuh atau tidak becus untuk melaksanakan Manifesto Politik-USDEK, harus diretool! Tetapi Saudara-saudara juga, Saudara-saudara dari kalangan Rakyat, Saudara-saudara pun tak luput dari memikul kewajiban! Saudara-saudara yang sudah sadar, harus aktif menyumbangkan tenaga kepada realisasi Manipol-USDEK itu. Saudara-saudara yang belum sadar, yang tidak mengerti sedikitpun tentang Manipol-USDEK, apalagi pelaksanaan Manipol-USDEK, Saudara-saudara yang demikian itu harus diindoktrinasi, harus disadarkan, harus dikocok-dihoyag-hoyag, ditempa, di-gemblèng, sampai betul-betul mereka menjadi sadar, dan menjadi orang-orang yang menyumbang secara aktif, menyumbang secara dinamis-revolusioner!

Hari ini adalah hari memperingati Proklamasi. Pantas kita bangga atas Proklamasi itu. Pantas kita merasa mongkok kitapunya hati kalau ingat kepada 17 Agustus 1945 oleh karena kita pada hari itu menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa kita bukan bangsa budak yang berjiwa tempe yang mau terus ditindas dan dihisap beratus-ratus tahun, melainkan bangsa jantan yang berjiwa banténg. Pantas kita bangga atas Proklamasi itu, karena kita telah menjadi pengambil inisiatif (initiatiefnemer) daripada pernyataan-pernyataan kemerdekaan di lain-lain negeri di Asia, seperti di India, di Pakistan, di Burma, di Vietnam, di Philipina dan lain-lain, yang semuanya menyatakan kemerdekaannya sesudah Proklamasi kitn itu.

Namun demikian, janganlah sekali-kali kita hanya bangga saja, janganlah sekali-kali kita hanya mengagul-agulkan kejantanan kita saja! Sepertinya juga dengan halnya konferensi Asia-Afrika lima tahun yang lalu. Benar kita salah-satu initiatiefnemer dari konferensi itu, benar kita motor daripada Konferensi itu, benar Konferensi itu diadakan di kota Bandung kota Indonesia, tetapi jangan sekali-kali kita selalu menonjol-nonjolkan “Bandung” itu seolah-olah kita ingin melanggengkan jasa. Tidak! Kita bangsa Indonesia, kita pemimpin-pemimpin Indonesia, tidak boleh berhenti, tidak boleh duduk diam bersenyum-simpul di atas damparnya kemasyhuran dan damparnya jasa-jasa di masa yang lampau. Kita tidak boleh “teren op oud roem”, tidak boleh hidup dari kemasyhuran yang liwat, oleh karena jika kita “teren op oud roem”, kita nanti akan menjadi satu bangsa yang “ngglenggem”, satu bangsa yang gila-kemuktian, satu bangsa yang berkarat.

Janganlah kita “ngglenggem” atas kemasyhurannya Proklamasi ’45! Dinamikanya Revolusi menuntut, bahwa kemasyhuran dan jasa-jasa yang lampau itu hanyalah merupakan pancatan-pancatan pertama saja dan batu-loncatan-batu-loncatan-pertama saja daripada jasa-jasa dan kemusyhuran-kemasyhuran yang baru. Jasa-jasa baru itu kita butuhkan demi kemajuan nasional, demi progresnya Revolusi, tetapi juga untuk menambah kepercayaan kepada diri sendiri. Selanjutnya terserahlah kepada Sejarah nanti, menonjolkan atau tidak, jasa-jasa atau kemasyhuran-kemasyhuran itu!

Terus-terang saja, saya persoonlijkpun berfalsafah demikian! Siang dan malam kegandrungan saya hanyalah ingin mengabdi kepada Tuhan, mengabdi kepada tanah-air dan bangsa, menyumbang kepada Revolusi, menyumbang kepada pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat. Dicacimaki musuh saya tidak ambil perduli, diagul-agulkan kawan saya tidak membusungkan dada. Saya berjalan terus dengan tenang jika diserang musuh dari kiri dan dari kanan, saya berjalan terus tanpa meminta sanjungan kawan. Saya menolak orang spesial membuat biografi (riwayat-hidup) dari saya, saya menolak orang membuat patung Sukarno atau monumen Sukarno.

Oleh tindakan-tindakan saya di waktu yang akhir-akhir ini, ada orang yang mengatakan bahwa saya telah melakukan satu “coup d’état”. Apakah benar saya melakukan “coup d’état”? Ambui, saya dikatakan melakukan “coup d’état”! Siapa orang-orang yang mengatakan demikian itu? Orang-orang yang mengatakan saya melakukan “coup d’état” itu adalah orang-orang yang menentang Konsepsi Presiden dan menentang Manifesto Politik, atau dalam kata-kata “menerima” Manifesto Politik itu, tetapi dalam perbuatannya menentang. Orang-orang yang demikian itu sekadar berlagak!, – berlagak revolusioner, dan berlagak membela demokrasi. Mereka berlagak revolusioner, karena mereka hanya menyebut kata “Revolusi”, tetapi menentang Revolusi-Komplit yang kita lakukan, yaitu Revolusi penuh dari atas dan dari bawah, sebagai yang kita lakukan sekarang ini. Dari atas, dengan adanya retooling terhadap aparat dan sistim; dari bawah, karena retooling aparat dan sistim itu dilakukan sesuai dengan desakan Rakyat dan didukung pula oleh Rakyat. Kalau hanya dari atas saja, maka itu bukan revolusinya massa, dus bukan Revolusi; kalau hanya dari bawah saja, maka itu adalah semacam rebelli.

Mereka berlagak membela demokrasi, oleh karena yang mereka bela itu sebenarnya adalah bukan … demokrasi, melainkan sistim liberalisme semata-mata. Mereka berlagak membela demokrasi, oleh karena sebagai yang saya katakan di Tokyo tempohari, justru di kalangan mereka itulah banyak simpatisan-simpatisan dan makelar-makelar-gelap daripada D.I.-T.I.I., P.R.R.I.-Permesta, yang malahan selalu mendurhakai demokrasi, dan selalu mencoba untuk mengadakan “coup d’état” dengan kekerasan senjata. Mereka berlagak membela demokrasi, oleh karena mereka tak pernah dengan terang-terangan menghukum atau mengutuk perbuatan-perbuatan itu yang menyalahi demokrasi.

Dan sekarang mereka mengatakan bahwa saya melakukan coup d’état”? Mereka, yang selalu hendak mencoba mengadakan coup d’état? Mereka, yang selalu menghambat dan merem Revolusi? Mereka, yang berkata bahwa Revolusi sudah selesai, dus tidak boleh ada Revolusi lagi? Saya kok ingat kepada cerita pencuri yang berteriak “maling! Maling! Bangunlah, ada maling!” Alangkah bedanya dengan mereka itu pendapat Mahkamah Agung Republik Indonesia, yang misalnya berkata bahwa Penpres No. 7/1959 (mengenai kepartaian) adalah syah karena “dalam keadaan yang bersifat memaksa ini, maka Kepala Negara berwenang mengambil tindakan yang menyimpang dari segala peraturan yang ada, termasuk juga Undang-Undang Dasar”.

Sekali lagi saya bertanya: siapa yang melakukan coup d’état, – sayakah, atau mereka? Sejarah akan menjawab, bahkan Rakyat sekarang telah menjawab, bahwa saya tidak melakukan coup d’état dengan tindakan-tindakan saya yang akhir-akhir ini. Sejarah dan Rakyat itu akan menjawab, bahwa saya bersama dengan kawan-kawan revolusioner malahan telah melakukan penyelamatan daripada Negara, penyelamatan daripada Revolusi. Zonder tindakan-tindakan kami-bersama itu, zonder pembasmian free-fight-liberalism, zonder mengadakan demokrasi terpimpin, zonder pembubaran Konstituante, zonder dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali kepada U.U.D, ’45, zonder pembubaran D.P.R.-liberal, zonder pembentukan D.P.R.G.R., zonder Manifesto Politik dan USDEK, zonder Pen. Pres. No, 7 yang menyederhana-kan kepartaian, zonder penggempuran habis-habisan kepada kaum pemberontak serta makelar-makelar-gelapnya kaum pemberontak, maka Negara kita sudah lama akan pecah, sudah lama akan berantakan, sudah lama Revolusi akan kandas, Apa yang kami-bersama telah perbuat, bukanlah perebutan kekuasaan, bukanlah coup d’état, melainkan penyelamatan Negara dan penyelamatan Revolusi: Apa yang kami bersama telah perbuat bukanlah coup d’état, melainkan sauvetage d’état, sauvetage de la Revolution!

Saya ulangi lagi: Insya Allah saya berjalan terus. Insya Allah kita-semua berjalan terus tanpa membusungkan dada atas jasa-jasa yang lalu, sekadar sebagai memenuhi kewajiban kita dalam Revolusi, meratakan jalan bagi lanjutnya Revolusi itu, meratakan jalan dan ikut menarik Kereta, agar supaya Kereta itu akhirnya mencapai apa yang menjadi tujuan Revolusi dan kewajiban Revolusi, yaitu (saya mengambil perincian Dewan Pertimbangan Agung):

“Membentuk satu Republik Kesatuan yang demokratis, di mana Irian Barat juga termasuk di dalamnya, di mana Kedaulatan ada di tangan Rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, di mana hak-hak-azasi dan hak-hak-warganegara dijunjung tinggi, dan membentuk masyarakat adil dan makmur, cinta damai, dan bersahabat dengan semua negara di dunia, guna membentuk satu Dunia yang Baru”.

Ya!, Saudara-saudara!, panjanglah definisi daripada tujuan dan kewajiban Revolusi kita itu! Revolusi kita memang bukan Revolusi témpé! Revolusi kita, demikian kataku di muka, adalah Revolusi Besar yang lebih Besar daripada revolusi-revolusi lain di lain negeri. Dasar dan jiwanyapun lebih besar daripada dasar dan jiwa revolusi di lain-lain negeri itu. Pancasila adalah lebih memenuhi kebutuhan manusia dan lebih menyelamatkan manusia, daripada Declaration of Independencenya Amerika, atau Manifesto Komunis. Pancasila adalah satu “pengangkatan ke taraf yang lebih tinggi”, satu “hogere optrekking”, daripada Declaration of Independence dan Manifesto Komunis.

Apa yang ditulis dalam Declaration of Independence, dan apa yang ditulis dalam Manifesto Komunis? Declaration of Independence menuntut “life, liberty, and the pursuit of happiness”, yaitu “hak hidup, hak kebebasan, dan hak mengejar kebahagiaan” bagi semua manusia, padahal pursuit of happiness (pengejaran kebahagiaan) belum berarti reality of happiness (kenyataan kebahagiaan), – dan Manifesto Komunis menulis, bahwa jikalau kaum proletar di seluruh dunia bersatu-padu dan menghancurkan kapitalisme, mereka “tak akan kehilangan barang lain daripada rantai-belenggunya sendiri”, dan “sebaliknya akan memperoleh satu dunia yang baru”.

Kita bangsa Indonesia melihat apa yang terjadi di bawah kolong langit ini dengan Declaration of Independence saja, atau Manifesto Komunis saja. Kita bangsa Indonesia melihat bahwa Declaration of Independence itu tidak mengandung keadilan sosial atas sosialisme, dan kita melihat bahwa Manifesto Komunis itu masih harus disublimir (dipertinggi jiwanya) dengan Ketuhanan Yang Maha-Esa. Duaratus tahun yang lalu, hampir, Declaration of Independence itu dicetuskan oleh penanya Thomas Jefferson, seratus tahun yang lalu, hampir, Manifesto Komunis dicetuskan oleh genialitasnya Karl Marx dan Friedrich Engels. Kedua-duanya adalah umat progresif bagi zamannya masing-masing. Kedua-duanya adalah amat berharga bagi pembebasan nasional di zaman itu, atau pembebasan proletar di zaman itu. Tetapi kita sekarang sudah berada di bagian kedua dari abad ke-XX. Dengan Declaration of Independence saja dan Manifesto Komunis saja, maka kenyataannya sekarang ialah, bahwa dunia-manusia sekarang ini terpecah-belah menjadi dua blok yang hintai-menghintai satu-samalain, “lir angkasa kang hangemu dahana”, sebagai juga digambarkan oleh Bertrand Russell tempo hari.

Karena itulah, maka kita bangsa Indonesia merasa bangga mempunyai Pancasila, dan menganjurkan Pancasila itu pada semua bangsa. Pancasila adalah satu dasar yang universil, satu dasar yang dapat dipakai oleh semua bangsa, satu dasar yang dapat menjamin kesejahteraan-dunia, perdamaian-dunia, persaudaraan-dunia. Pancasila, tidak salah lagi, adalah satu hogere optrekking daripada Declaration of Independence dan Manifesto Komunis. Dan Manifesto Politik Republik Indonesia dan USDEK adalah refleksi daripada Pancasila itu, sehingga benarlah konklusi Dewan Pertimbangan Agung, bahwa Revolusi Indonesia “bukanlah Revolusi borjuis model tahun 1789 di Perancis, dan bukan pula Revolusi proletar model tahun 1917 di Rusia”. Revolusi Indonesia adalah satu Revolusi yang dasar dan tujuannya “kongruèn dengan Social Conscience of Man“, kongruèn dengan Budi Nurani Manusia, sebagai kukatakan setahun yang lalu.

Dan kamu, hai bangsa Indonesia yang sedang dalam Revolusi, kamu yang sedang bekerja keras dan membanting-tulang dibèngkèl-bèngkèl dan diladang-ladang, kamu yang sedang bertempur dan menderita segala kekurangan, kamu yang sedang ditinggalkan suami atau kehilangan suami, kamu hai bangsa Indonesia tua-muda laki-perempuan dari Sabang sampai Merauke, tidakkah kamu – kendati segala kesulitan dan penderitaan itu – merasa hatimu mongkok bahwa Revolusimu adalah mengambil inspirasinya dari Pancasila, bahkan mendasarkan diri kepada Pancasila itu, sehingga sebagai kukatakan tadi Revolusimu itu adalah lebih besar dan lebih luas dan lebih benar daripada revolusi-revolusi bangsa lain, Revolusi Manusia, Revolusi Sejati, yang hendak mendatangkan satu Dunia Baru yang benar-benar berisikan kebahagiaan jasmaniah dan rokhaniah dan Tuhaniah bagi Umat Indonesia, bahkan juga bagi Umat Manusia di seluruh muka bumi?

Sekarang Revolusi kita sudah 15 tahun usianya. Banyak kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, banyak penyeléwéngan dan pendurhakaan yang kita derita, tetapi koreksipun kemudian kita adakan. Banyak jasa-jasa yang telah kita kerjakan, dan program Revolusipun kini terpapar dalam Manifesto Politik dan USDEK, tetapi jasa-jasa itu sebagai kukatakan tadi adalah sekadar batu-loncatan saja kepada jasa-jasa yang masih harus berdentam-dentam kita usulkan. Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang “ngglenggem?” Bangsa yang tidak bergerak, tetapi adem-anteng ”teren op oud roem?” Bangsa yang zelfgenoegzaam? Bangsa yang anglér memetèti burung perkutut dan minum tèh nasgitel? Bangsa yang demikian itu pasti nanti hancur lebur terhimpit dalam desak-mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut-rebutan hidup!, – “verpletterd in het gedrang van mensen en volken, die vechten om het bestaan“, sebagai yang dikatakan oleh pemuda-pemuda kita 40 tahun yang lalu.

Ya!, kalau mau hancur lebur, buat apa mengadakan Proklamasi! Kalau mau hancur lebur, buat apa mengadakan Revolusi! Kalau mau hancur lebur, buat apa tidak tunduk saja kepada D.I.-T.I.I., dan kepada P.R.R.I. dan Permesta! Kalau mau hancur lebur, buat apa tidak nurut saja kepada kehendaknya makelar-gelap-makelar-gelap dari mereka itu, yang mau meneruskan sistim bejat liberalisme etc. etc. dalam Negara kita ini?

Saudara-saudara menjawab: “Tidak! Kita tidak mau hancur lebur! Malah kita mau dengan cepat melaksanakan USDEK!”

Benar!, Saudara-saudara, benar! Tetapi Saudara-saudara tahu siapa tidak mau hancur lebur, harus berjoang mati-matian, atau harus membanting-tulang habis-habisan! Karena itu, janganlah setengah-setengah, berjoang membanting-tulanglah seperti “bukan manusia lagi” kata Mazzini, – berjoanglah mati-matian dan membanting-tulanglah habis-habisan seolah-olah kita ini malaekat-malaekat yang menyerbu dari langit!

Bahagialah Dr. Cipto Mangunkusumo dan Dr. Setiabudi, pejoang-pejoang kemerdekaan Indonesia yang sudah mangkat, yang pada waktu berjoangnya bersemboyan dan memesan:

“Serahkanlah jiwa-ragamu mutlak! Sekali lagi serahkanlah jiwa-ragamu mutlak! Sebab Tuhan benci kepada orang yang setengah-setengah!”

“Men moet zich geheel geven: geheel! De hemel verwerpt het gesjacher met meer of minder!”

Ya! Hayo!, marilah kita serahkan jiwa-raga kita mutlak!

Moga-moga Tuhan meridloi kita, karena kita tidak setengah-setengah!

Terimakasih!

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 297 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar