Home » 2016 » September » 24 » "Laksana Malaikat yang Meneyerbu dari Langit", Jalannya Revolusi Kita!
6:03 PM
"Laksana Malaikat yang Meneyerbu dari Langit", Jalannya Revolusi Kita!

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1960 DI JAKARTA

Saudara-saudara sekalian!

Tiap-tiap 17 Agustus saya berhadapan muka dengan Saudara-saudara yang berada di Jakarta. Tetapi melalui corong radio saya berhadapan suara dengan sekalian Saudara di seluruh tanah-air dan di luar tanah-air. Berhadapan suara dengan seluruh Rakyat Indonesia antara Sabang dan Merauke, dan Rakyat Indonesia di luar-pagar Indonesia, – di perantauan. Dan saya harap, bukan berhadapan suara saja, melainkan juga berhadapan semangat, berhadapan batin. Dan oleh karenanya, mencapai persatuan semangat, persatuan batin.

Persatuan semangat, persatuan batin untuk apa? Persatuan semangat dan persatuan batin untuk mengabdi kepada tanah-air dan bangsa dan Negara. Persatuan semangat dan persatuan batin untuk menyelesaikan Revolusi.

Tahun yang lalu, saya menamakan hari ulang tahun Proklamasi satu hari yang unik. Satu hari yang istimewa, satu hari yang menonjol, satu hari yang luar-biasa. Sebabnya ialah: pada hari itu kita membuka halaman baru dalam sejarah Revolusi kita, dengan menemukan-kembali Revolusi kita. “Rediscovery of our Revolution!” Dan pada hari itu saya sodorkan kepada Rakyat apa yang sekarang termasyhur dengan nama Manifesto Politik. Satu ideologi dalam perjoangan kita, satu ideologi yang tadinya dikabur-kaburkan orang dan malahan dikhianati orang, dikabur-kaburkan agar supaya dilupakan oleh Rakyat, tetapi yang pada hari 17 Agustus tahun yang lalu itu saya tonjolkan kembali di hadapan Rakyat secara gamblang dan secara tegas. Sekarang, Alhamdulillah, Manifesto Politik itu sudah dikenal oleh Rakyat di mana-mana, sudah dibenarkan dan dicintai oleh Rakyat, meski masih ada saja orang-orang tertentu yang masih gelagepan berusaha untuk mengkabur-kaburkannya atau mendêlêp-dêlêpkannya. Tetapi Insya Allah, bukan Manifesto Politik yang akan kelelep, tetapi mereka itu yang akan kelelep samasekali!

Sebetulnya tiap hari 17 Agustus adalah hari istimewa. Pada hari 17 Agustus selalu kita memperingati Proklamasi Nasional. Pada hari 17 Agustus kita memperingati jasa-jasa pejoang kemerdekaan. Pada hari 17 Agustus kita menundukkan kepala memohon berkat-rakhmat Tuhan bagi pahlawan-pahlawan kita yang telah gugur. Pada hari 17 Agustus kita mengadakan introspeksi kepada diri sendiri, sudahkah kita melakukan segala kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan? Pada hari 17 Agustus kita menyelidiki apa yang sudah kita capai, dan apa yang masih harus dikerjakan. Pendek-kata pada hari 17 Agustus kita mengadakan balans daripada kita punya Perjoangan Nasional.

Tetapi 17 Agustus 1959, – tahun yang lalu -, adalah unik, oleh karena kita, di samping segala hal yang saya sebutkan itu, telah (secara Manifesto Politik) menonjolkan ke muka ideologi daripada perjoangan kita dewasa ini.

Dan kita sekarang telah menginjak 17 Agustus 1960. Marilah kita, sebelum saya meneruskan uraian yang lain-lain, secara kilat menengok kembali ke belakang, kepada hal-hal yang telah lalu.

Saudara-saudara tentunya masih ingat kepada analisa saya mengenai babak-babak Revolusi kita ini. Periodisasi yang saya buat ialah :

1945-1950 : periode physical revolution;

1950-1955 : periode survival;

1955-sekarang : periode investment. Investment of human skill. Material investment. Mental investment. Dan belakangan ini saya jelaskan dengan jelas: investment-investment itu semuanya adalah untuk socialist construction, investment-investment itu semuanya adalah untuk realisasi Amanat Penderitaan Rakyat.

Investment-investment itu kita kerjakan antara 1955 sampai sekarang, dan harus kita teruskan lagi! Malahan, telah kita kerjakan pula buat sebagian apa yang dengan tegas saya dengungkan tiga tahun yang lalu: bahwa investment-investment itu hanya dapat kita lakukan dalam satu suasana-politik yang cocok, yang favourable, bagi melakukan investment itu; bahwa alam demokrasi liberal samasekali tak cocok, bahkan jahat, bagi investment itu; bahwa demokrasi liberal dus harus kita bongkar samasekali; bahwa Demokrasi Terpimpin harus kita pancangkan teguh-teguh di atas puing-puingnya demokrasi liberal itu.

Ya!, kalau saya membicarakan tahun-tahun yang akhir ini, saya mendengar dalam telinga saya gemuruh gugurnya batu-batu-lapuk daripada gedung liberalisme di Indonesia, dan saya mendengar irama dentamnya palu-godam pembangunan pandemèn gedung yang baru, yaitu Gedung Rakyat, Gedung Sosialisme Indonesia, yang pandemènnya ialah investment-investment itu tadi. Dan terdengarlah pula jerit-mecicilnya penghuni-penghuni gedung yang lama, yang masih mau mempertahan-kan gedung yang lama itu: dewan-dewan partikelir, P.R.R.I., Permesta, R.P.I., Manguni, Liga ini, Liga itu, surat-kabar ini, surat-kabar itu, risalah ini, risalah itu! Gégérlah jerit-mecicil mereka itu!

Ya! Tanpa tèdèng-aling-aling memang saya akui: kita merombak, tetapi juga kita membangun! Kita membangun, dan untuk itu kita merombak. Kita membongkar, kita mencabut, kita menjebol! Semua itu untuk dapat membangun. Revolusi adalah menjebol dan membangun. Membangun dan menjebol. Revolusi adalah “build tomorrow” and “reject yesterday”. Revolusi adalah “construct tomorrow”, “pull down yesterday”. Saya sendiripun tidak mau dikatakan mandek. Saya ingin tetap seirama dengan gelombangnya Revolusi. Revolusi adalah laksana gelombang samudra yang selalu mengalir, laksana taufan yang selalu meniup. Ingatkah Saudara semboyan Revolusi yang saya berikan tempohari: mandek-amblek, mundur-hancur?

Revolusi Amerika, Revolusi Perancis, Revolusi Rusia, Revolusi Tiongkok, semuanya mempunyai penjebolan dan pembangunannya sendiri-sendiri. Penjebolan-penjebolan dan pembangunan-pembangunan itu adalah ibarat geloranya gelombang-gelombang Lautan yang Besar. Tidak seorangpun dapat menentang gelombang-gelombang itu, sebab menentang gelombang berarti menentang Lautan itu sendiri. Siapa menentang gelombang lautan, (dus menentang Lautan itu sendiri), ia akan lenyap-binasa oleh dahsyatnya tenaga Lautan itu sendiri!

Ya, saya ulangi, saya ingin tetap seirama dengan gelombangnya Revolusi. Karena itu saya tidak menentang gelombang, tetapi sebaliknya saya malahan sebagai Presiden berusaha mengemudikan bahtera Negara sehaluan dengan gelombangnya Revolusi. Dan haluan itu adalah Haluan Negara yang terwedar dalam Manifesto Politik.

Kaum reaksioner yang saya sebut tadi itulah menentang gelombang. Nasib mereka telah tertulis di atas dahi mereka masing-masing. Sekarang mereka masih mencoba segala coba untuk merem Kereta Jagannatnya Revolusi, tetapi nanti mereka akan digilas oleh Kereta Revolusi itu!

Mereka memang orang yang bukan-bukan! Dalam usahanya untuk membelokkan Revolusi ke arah kepentingan mereka, mereka berkata bahwa Revolusi Indonesia gagal. Saudara-saudara masih ingat apa yang dikatakan oleh Kartosuwiryo dulu? Untuk membuat landasan bagi proklamasi daripada iapunya N.I.I. (“Negara Islam Indonesia”), ia lebih dulu mengatakan bahwa Revolusi Indonesia gagal! Nah persis demikian pulalah apa yang diperbuat oleh penjerit-penjerit dan pemecicil-pemecicil model baru ini. Mereka pun mengatakan bahwa Revolusi Indonesia gagal!

Apa yang gagal?!! Revolusi Indonesia tidak gagal, dan tidak akan gagal, selama Rakyat Indonesia setia kepada tujuan Revolusi dan setia kepada Amanat Penderitaan Rakyat. Revolusi Indonesia tidak gagal, karena kita berjoang terus untuk melaksanakan cita-cita Revolusi Agustus ’45, yakni untuk Indonesia yang merdeka-penuh bersih dari imperialisme, – untuk Indonesia yang demokratis bersih dari sisa-sisa feodalisme, – untuk Indonesia bersosialisme Indonesia, bersih dari kapitalisme dan exploitation de l’homme par l’homme”.

Sekali lagi Revolusi Indonesia tidak gagal! Yang gagal adalah orang-orang yang tidak mengenal tujuan Revolusi, orang-orang yang tidak mengenal Amanat Penderitaan Rakyat, bahkan hendak menghalangi pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat. Yang gagal adalah mereka itulah, kaum reaksioner, kaum sinis, kaum over-intellektualis, kaum yang kekayaannya sudah ”binnen”, kaum “vested interest”, kaum yang menjerit-jerit dan matanya mecicil-mecicil karena segala kubu-kubu-kepentingannya dan segala kubu-kubu-pertahanannya satu per satu ambruk dan gugur. Partai-partai mereka yang tidak mempunyai akal wajar dalam masyarakat ambruk dan gugur; persekutuan-persekutuan mereka yang berjiwa reaksioner dan bersekongkol dengan petualang-petualang asing dan P.R.R.I./ Permesta/R.P.I. ambruk dan gugur; N.V. N.V. mereka yang menggendutkan perut mereka dengan menggaruk kekayaan Rakyat, ambruk dan gugur; lembaga-lembaga-pengetahuan dan lembaga-lembaga-persurat-kabaran mereka yang penuh dengan blandisme dan textbook-thinking, ambruk dan gugur; – ambruk dan gugur, runtuh berantakan karena gilasannya Kereta Jagannat Revolusi, gilasan Rakyat yang Revolusioner, gilasan Rakyat yang berjiwa Manifesto Politik dan USDEK.

Hanya bagi mereka yang ingin membangun kapitalisme dan feodalisme di Indonesia-lah, Revolusi adalah gagal! Bagi kita, bagi Rakyat-jelata Indonesia, bagi kita, Revolusi belum selesai, dan oleh karena itu, kita berjalan terus untuk melaksanakan cita-cita Proklamasi. Revolusi kita bisa gagal, kalau kita tidak sungguh-sungguh melaksanakan cita-cita Proklamasi, tidak sungguh-sungguh melaksanakan Manifesto Politik, tidak sungguh-sungguh melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat!

Karena itu sebenarnya adalah amat gila, jika sekarang orang sudah bicara tentang gagal atau tidak gagalnya Revolusi!

Ada yang menjawab: Toh sudah limabelas tahun Revolusi kita ini? Tidakkah limabelas tahun cukup lama untuk membuat pernilaian?

Saudara-saudara! Dalam perjoangan penghidupan sesuatu bangsa, dalam pertumbuhannya dan konsolidasinya, 15 tahun sebenarnya baru merupakan suatu permulaan saja. Sering sudah saya katakan, bahwa Revolusi jangan diukur dengan hari dan dengan tahun. Revolusi harus diukur dengan windu-windu atau dengan penggandaan-penggandaan daripada windu. Limabelas tahun barulah merupakan satu phase pertama, – paling-paling merupakan akhirnya phase pertama, paling-paling “the end of the beginning”, – yang harus disusul dengan phase-phase lain yang tidak kurang hebatnya dan dahsyatnya. Terus-menerus usaha Revolusi itu berjalan, terus-menerus satu phase disusul oleh phase yang lain, sesuai dengan ucapan saya bahwa “for a fighting nation there is no journey’s end”.

Inilah yang tempohari saya namakan dinamikanya Revolusi! Dan bagi siapa yang mengerti jalannya Revolusi, bagi siapa yang ikut-serta dalam maha-arusnya secara aktif, bagi siapa yang secara positif dan konstruktif memberi sumbangan kepadanya, (tidak menentangnya, atau menghambatnya, atau gelagepan memutar-balikkannya, seperti kaum reaksioner itu tadi), bagi mereka yang ikut-serta dalam maha-arus Revolusi itu tadi, maka dinamika Revolusi itu menjadilah satu Romantik yang amat menggiurkan jiwa, – menarik, menggandrungkan, inspirerend, fascinerend. Well, dengan terus-terang saya berkata: saya tergolong dalam golongannya orang-orang yang tergandrung oleh Romantik Revolusi itu, saya inspired olehnya, saya fascinated olehnya, saya habis-habisan tergendam olehnya, – saya tergila-gila, saya kranjingan Romantiknya Revolusi itu! Dan untuk itu saya mengucapkan Alhamdulillah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam!

Ada orang-orang yang tidak mengerti Logika Revolusioner. Itulah orang-orang yang ditengah jalan berkata: Revolusi sudah selesai. Padahal Revolusi belum selesai, dan masih berjalan terus, terus dan sekali lagi terus. Logika Revolusioner ialah, bahwa: sekali kita mencetuskan Revolusi, kita harus meneruskan Revolusi itu sampai segala cita-citanya terlaksana. Ini secara mutlak merupakan Hukum Revolusi, yang tak dapat dielakkan lagi dan tak dapat ditawar-tawar lagi! Karena itu, jangan berkata “Revolusi sudah selesai” padahal Revolusi sedang berjalan, dan jangan mencoba membendung atau menentang atau menghambat sesuatu phase Revolusi padahal phase itu adalah phase-kelanjutan daripada Revolusi!

Ada pula orang-orang yang yah mengerti dan setuju dengan semua phase-phase, tetapi mereka bertanya: “Apakah perlu kita selalu mengkobar-kobarkan saja semangat Revolusi, apakah perlu segala hal kok harus dikerjakan secara revolusioner?” “Apakah tidak bisa dengan cara yang lebih sabar, apakah tidak bisa dengan cara alon-alon asal kelakon?”

Amboi!, “alon-alon asal kelakon”! Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin, kalau kita tidak mau digilas oleh Rakyat! Tahun yang lalu sudah saya tegaskan: janganlah ada di antara kita yang mau mengamendir atau memodulir dasar dan tujuan Revolusi. Sekarang saya menegaskan lagi: janganlah ada di antara kita yang mau mengamendir atau memodulir Semangat Revolusioner! Sekalipun kita sudah 15 tahun dalam Revolusi, ya sekalipun kita nanti sudah 25 tahun atau 35 tahun atau 45 tahun dalam Revolusi, saya berkata: janganlah ada di antara kita yang mau mengamendir atau memodulir Semangat Revolusioner! Sekali lagi saya ulangi apa yang saya katakan tahun yang lalu, bahwa kesadaran sosial daripada Rakyat dimana-mana, di seluruh muka bumi ini, adalah sama, dan amat tinggi sekali. Jangan silap tentang hal itu, jangan selip tentang hal itu! Kesadaran Rakyat inilah yang menuntut, mendesak, bahwa segala keadaan atau perimbangan yang tidak adil harus dirombak dan diganti secara tepat dan cepat, secara lekas, secara revolusioner. Jika tidak dirombak dan diganti secara cepat dan lekas, maka Kesadaran baru ini akan meledak laksana dinamit, meledak laksana Gunung Rakata dalam tahun 1883, dan akan berkobar-kobar menjadi pergolakan yang mahadahsyat, yang malahan dalam abad ke-XX ini mungkin pula mengancam perdamaian dunia dan perimbangan ekwilibrium di seluruh dunia.

Lihat kejadian-kejadian di Asia Timur! Lihat kejadian-kejadian di Amerika Latin! Lihat kejadian-kejadian di Afrika, itu benua yang tadinya orang menyangka bahwa rakyatnya belum mempunyai kesadaran samasekali!

Alangkah mlésétnya sangkaan itu!

Dalam pidato 17 Agustus 1959 itu, saya sudah berkata, bahwa Rakyat di mana-mana ingin membebaskan diri secara revolusioner dari tiap belenggu kolonialisme; bahwa Rakyat di mana-mana ingin secara revolusioner menanamkan dasar-dasar materiil untuk satu kemakmuran yang lebih adil; bahwa Rakyat di mana-mana secara revolusioner ingin melenyapkan segala pertentangan-pertentangan sosial yang disebabkan oleh feodalisme dan kapitalisme; bahwa Rakyat di mana-mana secara revolusioner ingin memperkembangkan kepribadian Nasional; bahwa Rakyat di mana-mana secara revolusioner ingin melenyapkan segala bahaya atau ancaman terhadap perdamaian dunia, – menentang percobaan-percobaan bom atom, menentang pakta-pakta peperangan, menentang Batista, menentang Menderes, menentang Syngman Rhee.

Dunia sekarang ini gudang mesiu revolusioner. Dunia sekarang ini mengandung listrik revolusioner. Dunia sekarang ini “revolutionnair geladen”. Tiga-perempat dari seluruh umat manusia di muka bumi ini, kataku dalam pidato tahun yang lalu, berada dalam alam revolusi. Belum pernah sejarah umat manusia mengalami suatu Revolusi seperti sekarang ini, – mahahebat dan mahadahsyat, mahaluas dan universil, – satu Revolusi Kemanusiaan yang secara serentak-simultan menggelora menggelédék-mengguntur di hampir tiap pelosok dari permukaan bumi.

Dan kita mau uler-kambang-uler-kambangan? Mau “alon-alon asal kelakon”? Mau memetéti perkutut-manggung, sambil minum air téh yang nasgitel, sebagai yang diémat-ématankan oleh itu orang-orang yang mengadakan konkoers-konkoers burung perkutut?

Sadarlah hai kaum yang menderita revolusi-phobi! Kita ini sedang dalam Revolusi, dan bukan satu Revolusi yang kecil-kecilan, melainkan satu Revolusi yang lebih besar daripada Revolusi Amerika dahulu, atau Revolusi Perancis dahulu, atau Revolusi Sovyet sekarang. Setahun yang lalu sudah saya cetuskan bahwa Revolusi kita ini ya Revolusi Nasional, ya Revolusi politik, ya Revolusi sosial, ya Revolusi Kebudayaan, ya Revolusi Kemanusiaan. Revolusi kita kataku adalah satu Revolusi Pancamuka, satu Revolusi multi kompleks, satu Revolusi yang “a summing up of many revolutions in one generation”. Satu tahun yang lalu saya berkata, bahwa dus kita harus bergerak-cepat, harus lari laksana kranjingan, harus revolusioner-dinamis, harus terus-menerus “tanpa ampun” memeras segala akal, segala daya-tempur, segala daya-cipta, – segala atom keringat yang ada dalam tubuh kita ini, agar hasil Revolusi kita itu dapat mengimbangi dinamik kesadaran-sosial yang bergelora dalam kalbunya masyarakat umum.

Apalagi jika kita insyafi, bahwa Revolusi Indonesia ini adalah merupakan bagian daripada Revolusi Besar yang menghikmati ¾ daripada umat manusia itu! Apalagi jika kita melihat, bahwa langit di Timur sudah Bang Wetan, di Barat sudah Bang Kulon, di Utara sudah Bang Lor, bahwa langit-langit di sekitar kita itu semuanya sudah laksana Kobong, maka haramlah bagi kita untuk uler-kambang-uler-kambangan, haram bagi kita untuk “alon-alon asal kelakon”, haram bagi kita untuk memelihara revolusi-phobi!

Lihat dan perhatikan! Suatu Negara yang tidak bertumbuh secara revolusioner, tidak saja akan digilas oleh Rakyatnya sendiri, tetapi juga nanti akan disapu oleh Taufan Revolusi Universil yang merupakan phenomena terpenting daripada dunia dewasa ini. Ini tidak hanya mengenai Indonesia, ini juga tidak hanya mengenai bangsa-bangsa lain yang sedang berada dalam masa peralihan dan pertumbuhan, – ini mengenai segala bangsa. Juga negara-negara dan bangsa-bangsa yang sudah kawakan, juga negara-negara dan bangsa-bangsa yang merasa dirinya sudah “gesettled”, akhirnya nanti digempur oleh Taufan Revolusi Universil itu, jika mereka tidak menyesuaikan dirinya dengan perobahan-perobahan dan pergolakan-pergolakan ke arah pembentukan satu Dunia-Baru, yang tiada kolonialisme di dalamnya, tiada exploitation de l’homme par l’homme, tiada penindasan, tiada penghisapan, tiada diskriminasi warna kulit, tiada dingkik-mendingkik satu sama lain dengan bom atom dan senjata thermonuclear di dalam tangan.

Inilah sebabnya maka saya, yang diserahi tampuk pimpinan perjoangan bangsa Indonesia, tidak jemu-jemu menyeru dan memekik: selesaikan mas’alah nasional kita secara revolusioner, gelorakan terus semangat Revolusioner, jagalah jangan sampai Api Revolusi kita itu padam atau suram walau sedetikpun juga. Hayo kobar-kobarkanlah terus Api Unggun Revolusi itu, buatlah diri kita menjadi sebatang kayu di dalam Api Unggun Revolusi itu!

Saudara-saudara!

Kita sekarang memasuki tahun yang ke – XVI dari Kehidupan Nasional kita. Alangkah banyaknya dan beraneka warnanya pengalaman-pengalaman kita dalam limabelas tahun yang lampau itu. Segala macam “rasa”, segala macam “keberuntungan” sudah kita alami. Kegembiraan, kepedihan, kemajuan-kemajuan, harapan-harapan, kekecewaan-kekecewaan, rasa pahit, rasa getir, rasa manis, rasa cemas, rasa sukses, rasa unggul, rasa babak-bundas, semua sudah kita alami. Dan tiap tanggal 17 Agustus kita membuat satu peninjauan-kembali daripada pengalaman-pengalaman itu. 17 Agustus sekarang inipun satu saat baik untuk membuat balans daripada plus-plusnya dan minus-minusnya tahun yang lalu.

Sebaiknya peninjauan saya itu saya lakukan dengan memakai kacamata:

a) apa yang merupakan pertumbuhan normal dalam Revolusi kita;

b) apa yang merupakan pertumbuhan abnormal-baik dalam Revolusi kita itu, sehingga menjadi satu kebanggaan nasional;

c) apa yang merupakan hal-hal yang kurang memuaskan dalam perjoangan.

Saya tidak akan membuat penggolongan-penggolongan apa yang masuk a, apa yang masuk b, dan apa yang masuk c, tetapi dalam peninjauan kembali saya itu, saya akan memakai kaca-mata itulah.

Pertama saya hendak bicara lagi tentang Manifesto Politik.

Dengan terus-terang harus diakui di sini, bahwa ketegasan kita mengenai ideologi nasional ini agak lambat datangnya, disebabkan oleh hal-hal di dalam negeri, dan hal-hal di luar negeri.

Apa hal-hal yang melambatkan itu?

Di dalam negeri kita terganggu oleh kenyataan bahwa tidak lama sesudah kita mengadakan Proklamasi, timbul dualisme dalam pimpinan bangsa. Pimpinan Revolusi dipisahkan dari pimpinan Pemerintahan. Pimpinan Revolusi malahan dilumpuhkan (di-verlamd-kan) oleh pimpinan Pemerintahan. Ia kadang-kadang dijadikan sekadar “tukang stempel”. Ia sering sekali tabrakan faham dengan pimpinan Pemerintahan. Ia di”trias-politica-kan” bukan saja, tapi dalam bagian eksekutif daripada trias-politica itupun ia sekadar dijadikan semacam Togog. Ini, menurut pentolan-pentolannya sistim itu, dinamakan “hoogste wijsheid” dalam alam demokrasi. Ya!, demokrasinya liberalisme! Demokrasinya Belanda! Demokrasinya negara-negara Barat, yang an sich demokrasi di sana itu adalah anak-kandung dan ibu kandung daripada burgerlijk kapitalisme!

Dan apa akibat daripada dualisme itu? Bukan saja Rakyat menjadi bingung, bukan saja Rakyat kadang-kadang menjadi putus-asa karena tak mengerti mana pimpinan yang harus diikut, – misalnya di satu fihak dikatakan Revolusi belum selesai, di lain fihak dikatakan Revolusi sudah selesai; di satu fihak dikatakan Irian Barat harus diperjoangkan secara machtsaanwending yang revolusioner, di lain fihak dikatakan Irian Barat harus diperjoangkan secara ”perundingan baik-baik” dengan Belanda – , bukan saja dualisme ini membuat Rakyat menjadi bingung, tetapi lebih-lebih lagi keadaan semacam itu makin lama makin membahayakan Revolusi sendiri.

Nah, untuk menyelamatkan Revolusi itulah, maka dualisme ini harus selekas mungkin dihapuskan. Dan untuk menyelamatkan Revolusi itu juga, maka satu ideologi nasional yang membakar menyala-nyala dalam kalbu, perlu sekali ditegaskan. Untuk menyelamatkan Revolusi itulah maka pimpinan Revolusi dan pimpinan Pemerintahan dipersatukan, untuk menyelamatkan Revolusi itulah maka Manifesto Politik dengan intisari USDEK-nya, didengung-dengungkan.

Ada orang menanya: “Kenapa Manifesto Politik?” “Kan kita sudah mempunyai Pancasila?”

Manifesto Politik adalah pemancaran daripada Pancasila! USDEK adalah pemancaran daripada Pancasila. Manifesto Politik, USDEK, dan Pancasila adalah terjalin satu sama lain, – Manifesto Politik, USDEK, dan Pancasila tak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika saya harus mengambil qias agama, – sekadar qias! -, maka saya katakan: Pancasila adalah semacam Qur’annya, dan Manifesto Politik dan USDEK adalah semacam Hadis-shahihnya. (Awas! saya tidak mengatakan bahwa Pancasila adalah Qur’an, dan bahwa Manifesto Politik-USDEK adalah Hadis!), Qur’an dan Hadis-shahih merupakan satu kesatuan, maka Pancasila dan Manifesto Politik dan USDEK pun merupakan satu kesatuan!

Masih saja ada orang yang menanya: “Apakah Pancasila saja tidak cukup?”

Pertanyaan ini sama saja dengan pertanyaan: “Apakah Qur’an saja tidak cukup?”

Qur’an dijelaskan dengan Hadis, Pancasila dijelaskan dengan Manifesto Politik serta intisarinya yang bernama USDEK.

Kecuali daripada itu, sebagai akibat daripada dualisme yang mendatangkan segala macam kompromis dan kelembekan dan kekurangtegasan dan keulerkambangan dan kekhianatan dan ke Togogan itu tadi, maka Pancasila makin lama makin dijadikan perkataan di bibir saja, tanpa isi yang membakar cinta, tanpa arti yang menghidup-hidupkan semangat dan keyakinan, tanpa bezieling yang membakar-menggempa-meledak-ledak dalam kalbu dan dalam jiwa. Ini berarti, bahwa makin lama makin kita merasa kehilangan satu ideologi nasional, atau satu Konsepsi Nasional, yang jelas, tegas. terperinci.

Selama kita masih dalam periode pertempuran, – periodenya physical revolution, maka kurang tegasnya ideologi nasional dan Konsepsi Nasional itu tidak begitu dirasakan. Tetapi sesudah kita memasuki periode melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, maka Konsepsi Nasional itu mutlak diperlukan.

“Tanpa theori revolusioner, tak mungkin ada gerakan revolusioner”, kata seorang pemimpin besar. Tanpa Ideologi Nasional yang terpapar jelas dan Konsepsi Nasional yang tegas, kita kata, tak mungkin sesuatu bangsa memperjoangkan dan membina iapunya Hari Depan yang berencana. Di hadapan Konstituante dulu pernah saya sitirkan: “Een revolutie kan ontketend worden door een stelletje heethoofden, ze kan alleen voleindigd worden door werkelijke revolutionnairen”. “Suatu Revolusi bisa dicetuskan oleh beberapa orang kepala-panas, – ia hanya dapat diselesaikan oleh orang-orang revolusioner yang sejati”. Nah, Revolusi kita itu dulu mungkin, pada permulaannya, ikut-ikut dicetuskan oleh orang-orang yang “kepala-panas”. Sayang sekali ia kemudian zoogenaamd dipimpin oleh orang-orang yang “kepalanya terlalu dingin“, yang saking dinginnya kepala, menjalankan segala macam kompromis dan keulerkambangan! Sekarang, meski agak terlambat, tibalah saatnya yang pimpinan Revolusi itu dilakukan oleh “orang-orang revolusioner yang sejati” dengan berpegangan kepada Proklamasi ’45, kepada Pancasila, kepada Manifesto Politik, kepada USDEK.

Dengan pimpinan “orang-orang revolusioner sejati” itu, maka Semangat Revolusi tetap dikobar-kobarkan, tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik! Dengan pimpinan “orang-orang revolusioner sejati” itu yang berpegangan tanpa pengkhianatan kepada Proklamasi, kepada Pancasila, kepada Manifesto Politik, kepada: USDEK, maka kita selalu merasa hidup dan berjoang dan bertumbuh di atas Rél Revolusi, di atas Rél Ideologi dan Konsepsi Nasional dengan mengerti-jelas dan mencintai mati-matian dan dus memperjoangkan mati-matian segala tujuan Revolusi, – yaitu ya tujuan politik, ya tujuan ekonomi, ya tujuan sosial, ya tujuan kebudayaan, – buat tingkatan yang sekarang, buat tingkatan-depan yang dekat, buat tingkatan-depan yang terakhir, – tingkatan Finale, yang Merdeka-Penuh, Makmur-Penuh, Adil-Penuh, Damai-Penuh, Sejahtera-Penuh, sesuai dengan Amanat Penderitaan Rakyat, dan sesuai dengan ujaran-ujaran nénék-moyang kita: “gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja”!

Camkanlah hai Rakyat Indonesia, camkan dalam dadamu dan dalam fikiranmu: Suatu Revolusi hanya dapat berlangsung dan berakhir secara baik, jika ada:

Satu pimpinan Revolusi yang revolusioner.

Satu Ideologi dan Konsepsi Nasional yang revolusioner, jelas, tegas, terperinci.

Tanpa itu, jangan harap Revolusi bisa berjalan baik. Tanpa itu, Revolusi pasti kandas di tengah jalan. Tanpa itu, malah mungkin Revolusi lantas kembali kepada keadaan-keadaan sebelum Revolusi!

Tahukah Saudara-saudara apa yang dikatakan oleh seorang bangsa asing waktu melihat Revolusi dipimpin oleh orang-orang ahli kompromis? “Do not be afraid of that kind of revolution! It is just the prelude of the pre-revolutionary days!” – “Janganlah takut kepada revolusi semacam itu! Itu hanyalah babak-pertama saja daripada kembali kepada keadaan sebelum revolusi!”

Jangan sampai Revolusi kita ini sekadar merupakan satu permulaan saja daripada perkembalian kepada zaman sebelum Revolusi! Ada orang-orang yang berjiwa kintel, yang menamakan zaman Belanda itu “zaman normal”, Oho! Sebutan “zaman normal” bagi zaman Belanda itu saja sudah menggambarkan satu alam-fikiran yang baginya tak ada kata yang lebih tepat daripada kata kintel!

Tetapi, -Alhamdulillah! Rakyat Indonesia bukan semuanya kwalitet kintel. Kesadaran Revolusi masih hidup segar di dalam kalbu sebagian besar daripada Rakyat Indonesia itu. Sejak tahun yang lalu, kita bukan saja kembali kepada Rél Revolusi, tetapi kitapun telah menetapkan satu Konsepsi Nasional yang bernama Manifesto Politik dengan USDEK-nya.

Dan saya sendiri kini merasa lega, bahwa selanjutnya kita dapat menyeleng-garakan Revolusi kita itu dengan satu pegangan yang terang dan tegas, menyelenggarakan Revolusi kita atas landasan Ideologi dan Konsepsi Nasional yang benar-benar mencerminkan tekad-revolusionernya Rakyat, yaitu Manifesto Politik dan USDEK. Dengan demikian, maka saya dapat memandang dengan kepala tegak kepada semua Pimpinan Politik di semua negeri di luar pagar.

Apalagi karena, sebagai saya katakan barusan, Manifesto Politik-USDEK itu “benar-benar mencerminkan tekad-revolusionernya Rakyat”, Manifesto Politik-USDEK adalah progresif-kiri, Manifesto Politik-USDEK adalah mengabdi kepentingan masyarakat-banyak, Manifesto Politik- USDEK adalah mengabdi kepada penyelenggaraan cita-cita ke-Rakyatan, Manifesto Politik-USDEK mengabdi kepada panggilan abad ke-XX, yang sebagai saya katakan tadi penuh menggeletar dengan aliran listrik!

Yang belakangan inipun membuat hati kita mongkok dan besar. Kita menduduki tempat terhormat dalam Revolusi Universil yang kini bergelora di muka bumi! Kita bahkan menduduki salah satu tempat kepemimpinan dalam Revolusi Universil itu, kita menduduki salahsatu “leading position” dalam “this great Revolution of Mankind”.

Ahli sejarah dan ahli fikir berkata: “The superior peoples are those who understand the times”, “Bangsa unggul adalah bangsa yang mengerti kehendaknya zaman”. Saya bangga, bahwa bangsa Indonesia mengerti kehendaknya zaman. Meski kita belum bisa membanggakan kemajuan teknik, meski kita belum dapat mempertunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia, meski kita belum menduduki satu leading position dalam hal-hal materiil, saya toh bangga bahwa bangsa Indonesia merasa dirinya unggul karena mengerti tuntutan zaman dan mengabdi kepada tuntutan zaman!

Saya tadi mengatakan, bahwa terlambatnya perkembangan Ideologi dan Konsepsi Nasional itu disebabkan oleh faktor-faktor di dalam negeri dan di luar negeri.

Di dalam negeri disebabkan oleh dualisme dan kompromisme, di luar negeri disebabkan oleh apa?

Beberapa tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan kita, maka terjadilah di luar negeri, – kemudian juga meniup di angkasa kita – , apa yang dinamakan “perang dingin”. Perang dingin ini sangat memuncak pada kira-kira tahun 1950, malah hampir-hampir saja memanas menjadi perang panas. Ia amat menghambat pertumbuhan-pertumbuhan progresif di berbagai negara. Tadinya, segera sesudah selesainya Perang Dunia yang ke-II, aliran-aliran progresif di mana-mana mulailah berjalan pesat. Tetapi pada kira-kira tahun 1950, sebagai salah satu penjelmaan daripada perang dingin yang menghebat itu, aliran-aliran progresif mudah sekali dicap “Komunis”. Segala apa saja yang menuju kepada angan-angan baru dicap “Komunis”. Anti kolonialisme – Komunis. Anti exploitation de l’homme par l’homme – Komunis. Anti feodalisme-Komunis. Anti kompromis – Komunis. Konsekwen revolusioner – Komunis. Ini banjak sekali mempengaruhi fikiran orang-orang, terutama sekali fikirannya orang-orang yang memang jiwanya kintel. Dan inipun terus dipergunakun (diambil manfaatnya) oleh orang-orang Indonesia yang memang jiwanya jiwa kapitalis, feodalis, federalis, kompromis, blandis, dan lain-lain sebagainya.

Dus: Orang-orang yang jiwanya negatif menjadilah menderita penyakit “takut kalau-kalau disebut kiri”, “takut kalau-kalau disebut Komunis”. Kiri-phobi dan komunisto-phobi membuat mereka menjadi konservatif dan reaksioner dalam soal-soal politik dan soa1-soal pembangunan sosia1-ekonomis. Dan, orang-orang yang jiwanya memang obyektif ingin menegakkan kapitalisme dan feodalisme, mengucapkan selamat datang kepada peng-capan kiri dan peng-capan Komunis yang dipropagandakan oleh satu fihak daripada perang dingin itu.

Sampai sekarang masih saja ada orang-orang yang tidak bisa berfikir secara bebas apa yang baik bagi Rakyat Indonesia dan apa keinginan Rakjat Indonesia, melainkan à priori telah benci dan menentang segala apa saja yang mereka sangka adalah kiri dan adalah “Komunis”.

Dua sebab subyektif dan obyektif itu membuat beberapa golongan dari Rakyat Indonesia menjadi konservatif dan reaksioner, anti-progresif dan anti revolusioner.

Itulah sebabnya, maka pada sebenarnya, kita dulu itu tidak bisa begitu saja lekas-lekas menjelmakan Manifesto Politik dan USDEK, melainkan harus menebus penjelmaan Manifesto Politik dan USDEK itu lebih dulu dengan darah, dengan harta banyak, dengan korbanan-korbanan yang maha pedih. Lahirnya Manifesto Politik dan USDEK dilambatkan dan dihambat oleh sebab-sebab yang saya sebutkan tadi itu. Pemberontakan P.R.R.I./ Permesta – antara lain – adalah buatan dari sebab-sebab obyektif dan subyektif itu, dan menjadi ajang dari peranan kekuasaan asing, oleh karena kekuasaan asing itu mengetahui bahwa kita ini hendak menjalankan politik-ekonomi yang progresif.

Bagi kita sekarang sudah jelas:

Progresif, itulah mengabdi kepada kepentingan Rakyat banyak.

Konservatif-kompromistis-reaksioner, itulah mengabdi kepada kepentingan segolongan-kecil saja, – atau menjadi kakitangan kepentingan asing.

Sekarang, Saudara-saudara! sekali lagi dan sekali lagi: pelajarilah dengan cermat jiwa dan isi daripada Manifesto Politik itu. Mempelajari adalah syarat mutlak untuk mengerti akan isinya. Dan pengertian itu adalah syarat mutlak pula untuk usaha pelaksanaannya.

Dalam mempelajari dan melaksanakan Manifesto Polilik itu semua tidak boleh setengah-setengah. Aparatur Pemerintah, alat-alat Negara, Departemen-departemen, Universitas-universitas, Rakyat seluruhnya, semua, semua, tidak boleh setengah-setengah. Sebab Manifesto Politik adalah Program Perjoangan Negara, Program Perjoangan Masyarakat, Program Perjoangan Kita Semua. Dan Program Perjoangan Besar tidak bisa menjadi realitet jika dilayani dengan jiwa yang setengah-setengah. Momentum-momentum besar dalam sejarah Dunia adalah justru momentum-momentum, yang di situ manusia bekerja atau berjoang ”seperti bukan manusia lagi”. (Ucapan Mazzini).

Umpama ada waktu, di dalam pidato ini saya sebenarnya ingin sekali memberikan perincian-perincian yang lebih tegas lagi daripada semua elemen-elemen Manifesto Politik itu. Sayang seribu sayang waktunya tidak ada. Terpaksa nanti hanya beberapa hal saja dapat saya tegaskan. Tapi syukur Dewan Pertimbangan Agung dalam sidangnya bulan September tahun yang lalu dengan suara bulat berpendapat bahwa Manifesto Politik itu adalah garis-garis besar daripada haluan Negara, dan telah membuat pula perincian daripada isi Manifesto Politik itu. Malah keputusan dan perincian Dewan Pertimbangan Agung ini telah disetujui pula oleh Kabinet dan Depernas. Baca dan pelajarilah perincian oleh Dewan Pertimbangan Agung itu, yang telah diterbitkan pula oleh Departemen Penerangan.       .....selanjutnya>>>

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 204 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar