Home » 2016 » August » 7 » Lahir dan Terbentuknya Nasionalisme (Ajaran Kemerdekaan Kebangsaan) Indonesia
5:56 AM
Lahir dan Terbentuknya Nasionalisme (Ajaran Kemerdekaan Kebangsaan) Indonesia
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS.3:103)

Lahir dan terbentuknya nasionalisme Indonesia hingga mencapai bentuk idealnya tentulah melalui sebuah proses panjang dan penuh dengan dinamika. Nasionalisme Indonesia tidaklah lahir dan terbentuk begitu saja. Ia terbentuk secara bertahap seiring sejalan dengan dinamika yang dialami bangsa ini. Proses terbentuknya sangatlah berkaitan erat dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia itu sendiri. Berkaitan erat dengan pengalaman demi pengalaman dan tempaan demi tempaan yang terjadi terhadap bangsa ini. Yang dari kesemuanya itu dapatlah kemudian kita katakan bahwa proses terbentuknya nasionalisme Indonesia ini adalah juga merupakan proses kejadiannya bangsa Indonesia itu sendiri. Proses penciptaannya bangsa Indonesia itu sendiri. Dan dari itu pula kita akan menjadi mengerti untuk apa bangsa ini lahir dan tercipta.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bangsa Indonesia kini adalah sebuah bangsa yang amat majemuk. Bangsa yang memiliki amat banyak keragaman dan warna. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari beragam agama dan keyakinan, terdiri dari beragam golongan dan pemikiran serta terdiri dari beragam suku dan etnis dan terdiri dari beragam tradisi dan adat istiadat. Tentu keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini tidaklah ada begitu saja. Terdapat banyak sekali hal yang mempengaruhinya. Dan salah satu hal yang sangat mempengaruhi keanekaragaman bangsa Indonesia ini adalah keadaan geografis bangsa Indonesia yang terbagi atas ribuan pulau.

Pada mulanya sekali, menurut keterangan sejarah, perjalanan terbentuknya bangsa Indonesia ini mula-mula diawali dengan adanya migrasi sekelompok manusia dari luar wilayah Indonesia yang datang dan mendiami wilayah negeri ini. Secara perlahan kemudian manusia-manusia awal itu mulailah menyebar dan menempati bebagai wilayah yang ada di kepulauan Indonesia. Keadaan geografis bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau ini membuat mereka kemudian hidup terpisah satu sama lainnya, yang darinya itu kemudian tumbuh terbetuklah berbagai suku-suku, tradisi, budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Lahirlah juga bersamaan dengan itu berbagai agama dan keyakinan yang berbeda-beda di masing-masing daerah yang tumbuh dan terbentuk dari hasil pencarian dan penggalian dari masing-masing kelompok.

Sebelum agama-agama besar sebagaimana yang kita kenal hari ini masuk ke negeri ini, kita tahu bahwa telah terbentuk pula pada masa itu agama-agama asli bangsa Indonesia yang tersebar di berbagai daerah. Diantara yang kita kenal dan tercatat dalam buku-buku sejarah diataranya: Sunda Wiwitan di wilayah Banten, Buhun di daerah Kuningan Jawa Barat, Kejawen di sekitar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, Parmalim agama suku Batak, Kaharingan di sekitar Kalimantan, Tonaas Walian di wilayah Minahasa Sulawesi Utara, Tolottang di sekitar Sulawesi Selatan, Wetu Telu di sekitar wilayah Lombok, dan lain-lain. Fakta-fakta tersebut menjadi sebuah catatan tersediri buat kita, dimana darinya kita tahu bahwa rasa ketuhanan telah tumbuh di dalam diri bangsa ini sejak sangat lama. Dan bahkan dari beberapa catatan kita menemukan bahwa masyarakat Indonesia di masa itu pun telah cukup mengenal akan adanya kekuatan tunggal yang menciptakan dan mengatur kehidupan ini. Kita banyak mendapati berbagai sebutan untuk Tuhan yang mengidentifikasikan bahwa masyarakat Indonesia pada masa itu telah mengenal Tuhan Yang Esa itu. Sang Hyang Kersa (Yang Maha Kuasa), Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Batara Jagad (Tuhan Semesta Alam), Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib), Ranying (Yang Maha Esa), Na Mapadikangu Tau (Pencipta Manusia), Na Mapadikangu Awangu Tana (Pencipta Langit dan Bumi), dan berbagai sebutan Tuhan lainya yang di gunakan masyarakat di masa yang lampau untuk menyebut Tuhan Semesta Alam. Terlepas dari masih banyaknya masyarakat bangsa ini di masa itu yang masih hidup dalam kepercayaan Animisme dan Dinamisme, tapi satu hal yang jelas pasti bagi kita bahwa masyarakat bangsa Indonesia adalah masyarakat yang berketuhanan sejak lama. Mungkin karena hal inilah kita melihat ketika agama-agama dari luar wilayah Indonesia datang ke Indonesia, masyarakat kita nampak tidak sulit untuk menerima agama-agama tersebut. Kita juga melihat bagaimana mudahnya Islam diterima di negeri ini. Islam tumbuh dan berkembang dengan amat cepat sejak awal kedatanganya di negeri ini sampai dengan sekarang ini. Tentu hal itu juga sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat Indonesia yang kental berketuhanan dan memiliki dasar pengertian yang cukup kuat tentang Tuhan Yang Maha Esa.

Di awal-awal abad Masehi mulailah kemudian datang pengaruh-pengaruh agama dari luar wilayah Indonesia yang kemudian memberi warna tersediri atas bangsa ini. Ekspansi yang dilakukan agama-agama besar yang tumbuh di luar Indonesia mulai memasuki wilayah Indonesia satu persatu. Datanglah agama Hindu dan Budha memberi pengaruhnya terhadap bangsa ini, kemudian datanglah juga agama Islam, lalu datanglah juga Kristen yang masing-masing agama tersebut membawa pengaruh dan warna tersendiri di bumi Nusantara ini. Era kedatangan agama-agama ini dikenal juga dengan sebutan Era Kerajaan-kerjaan karena bersamaan dengan itu mulailah tumbuh dan terbentuk berbagai kerajaan di negeri ini. Keberadaan era ini sebenarnya dapat juga kita sebut sebagai bagian dari era imperialisme kuno yang sedang berlangsung di dunia ini saat itu. Imperialisme kuno adalah sebuah bentuk imperialisme yang di dorong oleh penyebaran agama. Dan meskipun imperialisme kuno adalah juga merupakan sebuah bentuk penjajahan, namun keunikan dari imperialisme kuno yang berlangsung di Indonesia ini nyaris tidak terasa dan tidak dianggap sebagai sebuah penjajahan. Hal yang demikian ini terjadi dikarenakan dalam imperialisme kuno ini sasaran utama kedatangan mereka bukanlah untuk merebut kekayaan bangsa Indonesia melain untuk merebut hati dan pikirannya bangsa Indonesia. Mereka ingin menanamkan ajaran dan keyakinan agama mereka di dalam kalbunya bangsa Indonesia. Yang dengannya itu menjadilah kemudian mereka sebagai bagian dari Indonesia dan Indonesia sebagai bagian dari mereka. Mereka lebur, tumbuh, menyatu dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini.

“.…dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan,….”

Tentu saja banyak pengaruh positif yang disebabkan oleh hadirnya berbagai pengaruh agama dari luar Indonesia itu. Namun demikian, di sisi yang lain, keberagaman yang terbentuk dengan hadirnya berbagai pengaruh dari luar itu juga telah membawa bangsa ini ke sebuah era bermusuh-musuhan. Berdirilah pada masa itu kerajaan-kerajaan dengan berbagai corak, baik yang bercorak agama maupun yang bercorak kesukuan. Dan sebagaimana budaya umum umat manusia di zaman itu, kerajaan-kerajaan tersebut pun saling memerangi dan saling takluk-menaklukan satu sama lain. Di era ini dapatlah dikatakan bahwa tidak ada satupun kerajaan yang dapat hidup dan berkembang dengan damai dan aman. Diperangi atau memerangi kerajaan lain sudah merupakan satu kepastian yang harus dilakukan dan diterima cepat atau lambat. Bahkan seperti yang kita tahu, tidak sedikit kerajaan-kerajaan yang lahir dan berdirinya di atas sebab penghacuran dan penaklukan kerajaan lain. Pada masa itu setiap kerajaan memanglah harus senantiasa berpikir untuk dapat menaklukan kerjaan lain dan harus senantiasa berpikir untuk mempertahankan diri dari kemungkinan serangan kerajaan lain. Serangan dapat datang setiap waktu tanpa terduga. Maka kerajaan demi kerajaan pun tumbuh dan tenggelam silih berganti bersama dengan waktu. Nyaris tidak ada satupun kerjaan yang benar-benar dapat bertahan dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Lebih dari 1000 tahun berlangsungnya era kerajaan-kerajaan ini tentulah membawa bentukan dan warna tersendiri terhadap bangsa Indonesia. Kedatangan agama-agama telah menanam berbagai ajaran dan menjadi warna jiwa bagi bangsa ini. Ajaran-ajaran Hindu, Budha, Islam dan juga Kristen telah menjadi bagian dari jiwa dan menjadi bagian dari perbendaharaan hikmah kebijaksanaan bangsa Indonesia.

Ada satu catatan tersendiri yang perlu kita garis bawahi dari era kerajaan-kerajaan yang berlangsung sangat panjang ini. Di dalam rentan waktu yang sangat panjang dari budaya bermusuh-musuhan; budaya saling takluk-menaklukan atar sesama anak bangsa di era kerajaan-kerajaan ini, terdapat satu bagian cerita yang cukup penting dan sangat memberi pengaruh terhadap pembentukan jati diri bangsa. Di zaman kerajaan Majapahit kita mendapati muncul sebuah kesadaran yang unik. Sebuah kesadaran yang berbeda dari yang biasa. Gajah Mada seorang patih ternama di Kerajaan Majapahit mendapatkan sebuah gagasan untuk menyatukan Nusantara. Di sinilah kita melihat mulai muncul kesadaran akan satu kesatuan bangsa. Sang patih berniat untuk menyatukan seluruh kerajaan yang ada di wilayah nusantara menjadi ke dalam satu kerajaan saja. Gagasan Sang Patih untuk menyatukan kerajaan-kerajaan dalam wilayah nusantara ini terinspirasi dari ajaran bhineka tunggal ika yang terdapat di dalam kitab Sutasoma. Ajaran tersebutlah yang menyadarkan sang patih akan ketunggalan dari yang bhineka. Kesatuan dari yang beragam.

Bersumpahlah sang patih untuk menyatukan Nusantara dengan segala ragam perbedaannya itu ke dalam satu kesatuan wilayah dan kekuasaan. Namun memang dapat kita simpulkan bahwa pemahaman Patih Gajah Mada akan Bhineka Tuggal Ika pada masa itu masih belumlah jernih sempurna. Karena ajaran tersebut masih belum mendapat sentuhan ajaran kemerdekaan. Sehingga upaya yang dilakukan oleh Sang Patih dalam menyatukan Nusantara ini pun masih berjalan di dalam cara-cara paksaan melalui jalan perang dan penaklukan. Nusantara benar-benar disatukan oleh Gaja Mada dengan mengandalkan kekuatan militer kerajaan Majapahit pada waktu itu. Dan meskipun boleh dibilang Gajah Mada berhasil menyatukan wilayah Nusantara ini, namun sebagaimana yang kita tahu penyatuan tersebut tidaklah bertahan lama. Selepas wafatnya Sang Patih yang disegani itu, pemberontakan demi pemberontakan pun muncul dan terus bergulir menjadi hal yang tidak dapat dibendung dan kemudian menyebabkan runtuhnya Kerajaan Majapatih itu. Akan tetapi, walau penyatuan Nusantara ini tidaklah berumur panjang, tetaplah penyatuan wilayah yang pernah terjadi di zaman Majapahit itu menjadi sebuah tonggak sejarah yang amat penting artinya bagi pembentukan bangsa Indonesia di kemudian hari. Gajah Mada telah berhasil meninggalkan kesadaran Bhineka Tunggal Ika kepada bangsa Indonesia. Gajah Mada telah berhasil meninggalkan gambaran akan pentingnya kesatuan wilayah dan kesatuan bangsa. Gajah Mada telah berhasil mewariskan wawasan akan negara bangsa kepada generasi setelahnya.

Seiring dengan masuknya para imperialis modern di abad ke 16, maka era imperialisme kuno zaman kerajaan-kerajaan pun secara perlahan mulai tergeser dan tergantikan oleh era imperialisme modern. Imperialisme modern ini memanglah sangat berbeda corak dan warnanya dengan imperialisme kuno. Imperialisme modern ini adalah imperialisme yang dipicu oleh revolusi industri yang terjadi pada masa itu dan didorong oleh kapitalisme. Jika di masa imperialisme kuno itu bentuk penjajahannya nyaris tidak kita sadari sebagai sebuah bentuk penjajahan, di masa imperialisme modern ini, kita bangsa Indonesia benar-benar merasakan pahit dan kejamnya sebuah penjajahan itu. Hal ini karena memang imperialisme modern adalah bentuk imperialisme yang sasaran utamanya adalah merebut kekayaan bangsa Indonesia secara paksa. Mereka datang untuk memperbudak dan mengeksploitasi bangsa Indonesia. Mereka datang dan menodongkan sejata mereka lalu kemudian merampas segala kekayaan yang kita miliki. Mereka sepenuhnya berorientasi kepada kepentingan dan keuntungan mereka sendiri dan sama sekali tidak peduli kepada penderitaan dan kerugian yang di alami bangsa kita.

Lebih dari 350 tahun bangsa Indonesia mengalami penjajahan dari berberbagai bangsa secara silih berganti. Purtugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan Jepang adalah bangsa-bangsa yang pernah menjajah dan mengeruk kekayaan bangsa ini. Diantara bangsa-bangsa penjajah yang pernah bercokol di bumi Indonesia ini, Belanda adalah bangsa yang paling lama mengkoloni bangsa Indonesia dan menghisap sumber daya alam bangsa ini. Penjajahan dari para imperialis modern ini secara perlahan namun pasti mengakhiri era kerajaan-kerjaaan. Kerajaan-kerjaan besar di Indonesia kehilangan eksistensinya seiring semakin eksis dan berkuasanya bangsa penjajah. Akibat dari penjajahan tersebut bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kehilangan kebebasannya untuk mengurus kehidupannya secara mandiri menurut nilai-nilai dan budaya yang dianutnya. Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang diperbudak dan menjadi alat bagi bangsa kolonial untuk memperkaya bangsanya. Penjajahan membuat bangsa ini mengalami kemerosotan bukan saja secara ekonomi tetapi juga mengalami kemerosotan mentalitas. Kemerosotan jiwa bangsa. Kita menjadi bangsa yang kehilangan jati dirinya.

“maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.

Namun meski penjajahan adalah hal yang amat menyusahkan bangsa kita, dibalik penderitaan yang kita alami tersebut terdapat juga hikmah yang amat berpengaruh terhadap pembentukan bangsa kita. Datangnya para imperialis menjajah negeri ini membuat segala hiruk-pikuk takluk menaklukan atar kerajaan yang berlangsung di atas negeri ini menjadi terhenti. Era bermusuh-musuhan itu dapat kita katakan terakhiri oleh datangnya bangsa-bangsa penjajah itu. Hal yang yang juga memberi pengaruh penting terhadap pembentukan bangsa ini adalah keberhasilan Belanda menyatukan bangsa Indonesia dalam satu wilayah jajahan yang pada masa itu disebut dengan Hindia Belanda. Lahirnya Hindia Belanda sebagai kesatuan wilayah jajahan berdampak juga kepada tumbuhnya kesadaran kita akan kesatuan teritorial bangsa kita ini.

Berada dalam satu wilayah jajahan Hindia Belanda itu telah menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan atas bangsa yang tadinya terbagi dan terpecah-pecah ini. Lambat laun rasa senasib dan sepenanggungan ini pun makin mengkristal dan melahirkan semangat, tekad dan kesadaran akan keharusan untuk mengikat diri dalam satu kesatuan bangsa. Perjuangan dan perlawanan untuk mengusir penjajah yang telah sekian lama hanya dilakukan secara lokal kedaerahan, akhirnya berubah menjadi sebuah perjuangan yang bersifat kolektif sebagai satu kesatuan bangsa. Lahirlah kemudian sebuah bentuk perjuangan yang berskala nasional. Sumpah Pemuda yang dihasilkan dari Kongres Pemuda yang diadakan pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 merupakan sebuah pengikat awal rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Inilah untuk pertama kalinya bangsa Indonesia, atas kesadarannya sendiri terikat dan saling terhubung sebagai satu kesatuan bangsa. Para pemuda dari berbagai wilayah Indonesia bersepakat dan bersumpah mengikat diri mereka dalam tanah air yang satu, bangsa yang satu dan bahasa yang satu, Indonesia. Pada momen inilah embrio bangsa Indonesia mulai terbentuk. Dan sejak saat itulah bangsa ini mempunyai kesatuan identitas yang jelas, kesatuan tekad dan kesatuan arah perjuangan. Kesadaran akan Bhineka Tunggal Ika pun mulai tumbuh mengarah ke bentuk idealnya. Inilah nikmat penyelamatan Tuhan terhadap bangsa Indonesia. Perlahan mulailah Tuhan jadikan bangsa ini sebagai sebuah bangsa yang bersaudara. Inilah momen Al-Alaq-nya bangsa Indonesia.

Hikmah penting lainnya yang bangsa Indonesia dapatkan dari pederitaan panjang akibat penjajahan adalah pemahaman yang mendalam tentang arti kemerdekaan. Pahitnya penjajahan telah membuat bangsa Indonesia menyadari dengan baik bahwa penjajahan itu semestinya tidak boleh ada dalam perikehidupannya umat manusia. Penjajahan itu adalah hal yang nyata-nyata tidak berperikemanusiaan dan tidak berperikeadilan. Kesadaran inilah yang kemudian menghantarkan bangsa Indonesia pada sebuah prinsip yang menjadi dasar berpijak revolusi Indonesia: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Tertanam kuat di dalam jiwa bangsa Indonesia akan haknya setiap bangsa untuk merdeka. Bahwa setiap bangsa berhak untuk secara merdeka menentukan arah dan nasib bangsanya sendiri tanpa intervensi dan eksploitasi bangsa lain. Tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang boleh dijajah atau menjajah bangsa lain. Hikmah kemerdekaan inilah yang menjadi nyala api perjuangan yang berkobar-kobar di dalam dada bangsa Indonesia. Keyakinan bahwa kemerdekan adalah haknya setiap bangsa dan haknya setiap manusia membuat perjuangan bangsa Indonesia untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan dan penindasan bangsa lain menjadi sebuah perjuangan suci yang tidak bisa ditawar-tawar. Dengan semangat yang membara dan tekad yang bulat itu akhirnya bangsa Indonesia berhasil mencapai dan memproklamirkan kemerdekaan bangsanya itu pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan hari lahirnya bangsa Indonesia yang bersama dengan kelahirannya itu membawa sebuah ajaran. Ajaran kemerdekaan. Ajaran kemerdekaan inilah yang kemudian menjadi jiwanya bangsa Indonesia. Menjadi kiblatnya bangsa Indonesia dalam menata dan membentuk kehidupan berbangsa dan bernegaranya serta sekaligus menjadi arah dari pada revolusinya bangsa Indonesia. Dengan ajaran kemerdekaan inilah Bhineka Tunggal Ika benar-benar mencapai bentuk sejatinya.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,

Amanat dari pada ajaran kemerdekaan itulah yang telah membawa bangsa Indonesia kepada sejatinya pembentukan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berbhineka tunggal ika. Kehidupan yang berbhineka tunggal ika menjadi bentuk mutlak kehidupan berbangsa dan bernegara yang dikehendaki dan dicita-citakan oleh bangsa ini. Sebuah kehidupan yang menjamin kemerdekaan dan keadilan yang setara bagi setiap orang, suku, agama, ras dan golongan yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Sebuah kehidupan yang mempersatukan dan mempersaudarakan setiap orang terlepas dari apapun suku, agama, ras dan golongannya itu. Dari dan atas dasar itulah lahir dan disusunnya Pancasila untuk menjadi dasar pemersatu bangsa dan menjadi pedomanan penataan kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Pancasila hadir sebagai dasar pemersatu bangsa dan penataan negara karena kenyataan kita sebagai bangsa beragam yang menjunjung tinggi dan menghormati nilai-nilai kemerdekaan. Kita percaya dan sepenuhnya menghormati hak-hak setiap manusia, setiap suku, setiap agama dan setiap kelompok dan golongan untuk merdeka menjalankan keyakinan dan tradisinya di dalam ruang dan lingkaran perikemanusiaan dan perikeadilan.

Pancasila hadir membawa nilai-nilai universal yang merupakan esensi yang sudah dikenal dalam kitab-kitab, hikmah dan kebijaksanaan berbagai agama dan keyakinan. Pancasila berdiri di atas ajaran perikemanusiaan dan perikeadilan dan hadir menjadi dasar-dasar yang menjamin setiap manusia dihormati hak-haknya secara adil dan benar. Pancasila inilah yang kemudian menjadi sentral sekaligus menjadi sumber hukum perikehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Di atas dasar Pancasila inilah Undang-Undang Dasar Negara Indonesia disusun untuk menjadi sebuah panduan penataan dan pengelolaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah Negara Pancasila yang didirikan untuk mewujudkan kehidupan yang berbhineka tunggal ika itu. Sebuah negara yang berkedaulatan rakyat yang dibangun untuk menjadi alat bagi tercapainya revolusinya bangsa Indonesia untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur dan mewujudkan persaudaraan bangsa-bangsa yang berdasarkan pada Kemerdekaan, Perdamaian Abadi dan Keadilan Sosial.

“Bacalah dalam nama Tuhanmu Yang menciptakan”. Dari sejarahlah kita dapat membaca. Dari setiap kisah dan kejadianlah kita memetik hikmah dan pelajaran. Dialah Allah yang telah membentuk dan menciptakan bangsa ini dengan segala keragaman dan warna yang ia punya. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bangsa Indonesia yang tercerai berai dalam segala keberagamannya itu telah Ia satukan. Sumpah pemuda telah membentuk bangsa yang bermusuh-musuhan ini menjadi sebuah bangsa yang bersaudara. Sumpah pemuda menjadi sebuah momen terbentuknya Al-Alaq sebuah bangsa yang bernama Indonesia. “Yang mengajar dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Dia mendidik bangsa ini untuk mengenal sebuah ajaran. Ajaran kemerdekaan. Perikemanusiaan dan perikeadilan. Dia mengajarkan bangsa Indonesia melalui berbagai kalam. Banyak kitab yang telah Ia datangkan, banyak cerita dan kejadian yang telah Ia pertontonkan, banyak pengalaman yang telah Ia berikan kepada bangsa ini agar dari semua itu bangsa ini dapat belajar dan mengenal apa-apa yang tidak diketahuinya. Melalui pengalaman dan kejadian itulah ayat-ayatnya tertanam kuat di dalam jiwa bangsa Indonesia.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 1044 | Added by: Idiway | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar