Home » 2017 » December » 16 » JADILAH ALAT SEJARAH
3:25 PM
JADILAH ALAT SEJARAH

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1953 DI JAKARTA

Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat!
Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya!
Seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke!


Terlebih dahulu saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas pidato saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, yang tadi saya dengarkan dengan penuh minat. Pidato saudara Ketua itu berisi banyak sekali petunjuk-petunjuk dan anjuran-anjuran yang amat berharga bagi kita dalam menempuh masa yang mengandung banyak kesukaran ini. Dengan itu, ia memberi keyakinan kepada kita, bahwa betapapun besarnya kesukaran-kesukaran yang kita hadapi itu, Insya Allah kita akan dapat mengatasinya di masa yang akan datang. Keyakinan yang demikian itu pantas kita hidupkan dalam kalbu kita, pada hari bersejarah seperti sekarang ini.

Ya, hari sekarang ini adalah hari yang bersejarah: Kemerdekaan kita sekarang berusia delapan tahun; ia sekarang berusia satu windu, satu hitungan waktu yang besar artinya dalam pengertian jiwa Indonesia.

Banyak masih cacatnya, banyak masih kekurangan-kekurangannya, tetapi ia telah berusia satu windu! Pantas kita menundukkan kepala kita dalam rasa terima kasih kepada Tuhan, yang telah melindungi kemerdekaan kita itu sampai saat sekarang, satu windu lamanya. Tidakkah pernah ada bangsa-bangsa lain, karena kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan sendiri, mengalami kemerdekaan hanya buat waktu yang tidak lama saja? Pernah fihak kolonial “meramalkan”, bahwa Republik kita ini tidak akan tahan 8 minggu lamanya. Tetapi sekarang ternyata bukan delapan minggu, bukan delapan bulan, tetapi delapan tahun telah usianya! Dan jikalau diberkati Tuhan, bukan delapan tahun saja nanti usianya, tetapi delapan puluh tahun, delapan ratus tahun, dan demikian seterusnya.

Memang satu windu dalam sejarah hanyalah satu hari, dalam samuderanya Tawarich hanya lah satu riakan-ombak. Karena itu, di samping mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, marilah kita juga memohon kepada-Nya melindungi republik kita ini buat seterus-terusnya!

Dan marilah kita mengambil juga pengajaran dari masa sewindu yang lampau itu! Di dalam perikehidupan manusia, windu-pertama adalah masa yang amat penting pula. Boleh dikatakan, bahwa seluruh hidup seseorang manusia selanjutnya banyak tergantung dari masa “windu-pertama” itu. Demikianlah kenyataannya, dan demikian pulalah ujar ilmu paedagogi. Didikan yang baik dalam windu-pertama akan menumbuhkan manusia yang baik, didikan yang tidak baik dalam windu-pertama akan menumbuhkan manusia yang tidak baik. Dalam kehidupan manusia seterusnya, maka perbandingan antara baik dan buruk dalam windu pertama inilah memainkan peranan yang amat penting. Di dalam perikehidupan kita sebagai bangsa, kitapun dalam windu-pertamanya kemerdekaan kita itu, mengalami kelananya “baik” dan “buruk”, kelananya “plus” dan “min”, kelananya “tenaga-membangun” dan “tenaga-membinasa”, – kadang-kadang berganti-ganti, kadang-kadang campur-aduk berbarengan laksana hamuknya elemen-elemen di dalam putaran angin-puyuh. Dan saya kira, kelana ini akan berjalan terus, oleh karena Hidup memang pada hakekatnya adalah kelana-hebat antara baik dan buruk, antara plus dan min, antara tenaga-membangun dan tenaga-membinasa. Apalagi bagi perikehidupan sesuatu bangsa, yang sendiri telah terdiri dari ratusan, ribuan, milliunan, unsur-unsur yang baik dan yang buruk!

Tidakkah seorang pemimpin bangsa pernah berbicara tentang “the dancing star of freedom”, – “bintang kemerdekaan yang berkelana”?

Bagi kita soalnya ialah: mana yang nanti lebih kuat, – mana yang nanti kita bikin lebih kuat, – yang baikkah, atau yang buruk? Yang pluskah atau yang min? Yang membangunkah atau yang membinasa? Manakala yang baik kita bikin lebih kuat, kita akan selamat. Manakala yang buruk kita bikin kuat, kita akan binasa. Marilah yang baik kita bikin lebih kuat, sebab kita tidak mau binasa!

Marilah kita kenangkan kembali hari-hari dan bulan-bulan pertama daripada Revolusi kita. Pada waktu permulaan Revolusi kita itu, terasalah dengan amat mendalam adanya hubungan jiwa yang erat antara segenap bangsa kita: antara pemimpin dan pemimpin, antara pemimpin dan rakyat, antara rakyat dan rakyat. Hubungan jiwa itu adalah laksana semen yang menyatukan berjuta-juta pasir menjadi satu benteng beton yang maha-kokoh. Benteng beton ini telah bertahan menggagalkan hantaman-hantaman palu-godamnya musuh. Bahkan musuh sendiri pecah kepalanya terbentur beton yang maha-kuat itu! Sampai sekarang, masih terasa berdebur-debur darah kita dengan kebanggaan, kalau kita ingatkan kembali perbuatan-perbuatan kepahlawanan, perbuatan-perbuatan herois, yang telah diperlihatkan oleh rakyat kita di waktu itu beserta pemimpin-pemimpinnya. Satu tekad membakar hati setiap orang pada waktu itu, satu tekad, yaitu tekad: Merdeka! Tetap Merdeka! Merdeka buat selama-lamanya! Padahal di muka terlihat bahaya, di belakang terlihat bahaya, di kanan dan kiri terlihat bahaya, tetapi tidak seorangpun gentar, tidak seorangpun mundur selangkah atau berkisar sejari!

Ingatkah kita kepada hari 19 September 1945. Ratusan ribu rakyat berkumpul di lapangan Ikada di muka di sini, mempertahankan proklamasi, meskipun bayonet-bayonet Jepang tak bisa dibilang banyaknya, puluhan mitraliur dan puluhan tank Jepang hendak menghalang-halanginya.

Ingatkah kita kepada hari 5 Oktober 1945. Dekrit pembentukan Angkatan Perang, sebagai alat mempertahankan kemerdekaan dengan tenaga physik yang minta kerelaan tertumpahnya darah dan pecatnya nyawa, disambut oleh ratusan ribu pemuda-pemuda kita dengan kegembiraan yang tak kecampuran bimbang, kegembiraan yang tak kecampuran perpecahan, sebagai akibat mempersoalkan sistim pertahanan atas dasar macam-macam teori yang beraneka warna. Waktu itu hanya ada satu teori, dan teori itu adalah amat sederhana, yaitu bagaimana menghimpun kekuatan rakyat menjadi satu kekuatan physik yang rela bertempur, rela menderita, rela berkorban, rela mati entah di mana dan entah kapan.

Ingat kita pada hari 10 Nopember 1945. Hari Pahlawan mengkilat pada 10 Nopember 1945 itu, hari yang di Surabaya menggegar pernyataan: ya, kalau kedaulatan kita dilanggar, kita tak mementingkan nama nasionalis atau nama alim ulama, kita tak mengkhususkan kita ini pemuda atau kita orang tua, – kita semua sedia mempertahankan bersama kedaulatan kita itu dengan badan kita dan darah kita dan jiwa kita sekalipun!

Lihat saudara-saudara, – tiga puncak kejadian dalam tahun kemerdekaan kita yang pertama itu. 19 September ’45, 5 Oktober ’45, 10 Nopember ’45, ketiga-tiganya gilang-gemilang! Gilang-gemilang karena memancarkan kemurnian dan keikhlasan, keutuhan kemauan, keutuhan jiwa dari seluruh bangsa kita. Sesudah tahun 1945 silam datanglah tahun 1946, dan tahun 1947, dan tahun 1948, dan tahun 1949. Datanglah apa yang dinamakan “Zaman Jogya”. Sebagai satu keseluruhan, Zaman Jogya ini tampak gilang-gemilang: kegemilang-gemilangannya satu bangsa yang mengadakan perlawanan herois terhadap usaha-usaha pembinasaan yang negatif dari luar:”usaha Belanda untuk meremukredamkan Republik, dengan aksi militernya yang kesatu dan kedua, blokade ekonominya yang hendak mencekek samasekali, politik federalnya yang hendak mengepung kita secara politis, “kinepung wakul binoyo mangap”. Tetapi jika dipilah-pilah secara kasar-kasaran saja, maka setiap orang dengan mudah dapat melihat, bahwa Zaman Jogya itu merupakan satu rangkaian peristiwa-peristiwa yang silih berganti melukiskan timbul-tenggelamnya keutuhan jiwa kita. Ya benar, Syukur Alhamdulillah Tuhan Yang Maha Asih di waktu itu selalu menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh untuk menyelamatkan keutuhan jiwa kita, tetapi tak dapat diungkiri bahwa di Zaman Jogya itu jiwa kita tidak lagi sebegitu utuh seperti di tahun 1945: Telah ada saat-saat “peraneka-warnaan” di Zaman Jogya itu, – tetapi ini adalah normal; ada saat-saat “perpisahan-perpisahan”, – dan ini adalah kurang baik; tetapi ada pula saat-saat persengketaan-persengketaan sengit dan pertentangan-pertentangan tajam yang sampai kepada kollisi (pertaberakan), – dan ini adalah membahayakan.

Kita masih ingat kepada suasana hangat pada waktu menghadapi Linggajati dalam tahun 1947 dan Renville dalam tahun 1948. Dalam alam demokrasi, itu masih belum terlalu luar-biasa. Tetapi peristiwa yang sudah membahayakan ialah peristiwa yang biasa disebut “Peristiwa 3 Juli”. Peristiwa ini adalah satu contoh daripada satu diferensiasi (pemisah-misahan) yang telah menjadi-jadi ke arah perpecahan yang membahayakan. Sebabnya tidak lain, ialah karena perbedaan-perbedaan pandangan dalam mengejar tujuan kita yang sama itu, terlalu dipertajam. Dipertajam dengan cara lebih daripada ukuran sewajarnya di dalam alam demokrasi, yang memang menjunjung tinggi azas kemerdekaan berfikir, kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan bicara. Memang peraneka-warnaan pandangan pada waktu menghadapi sesuatu masalah besar adalah tanda adanya hidup. Memang peraneka-warnaan pandangan di alam manusia adalah tanda adanya dinamik berfikir, bunga rampainya demokrasi, polycolornya pekerti insani.

Tetapi manakala peraneka-warnaan pandangan itu menjadi-jadi, meruncing-runcing, mentajam-tajam, mengekses menjadi potensi-potensi bahan-ledak, bahkan meledak menjadi ledakan-ledakan yang hantam-menghantam satu sama lain, maka ia bukan lagi suatu tanda pertumbuhan atau satu tanda demokrasi yang sehat, melainkan menjadilah ia sudah gejala-gejala desintegrasi, gejala-gejala kebengkahan dan kerongkatan, gejala-gejala daripada mungkin menyusulnya nanti keguguran dan keruntuhan.

Ya, Peristiwa 3 Juli adalah menyedihkan, tetapi lebih menyedihkan lagi adalah apa yang dinamakan “Peristiwa Madiun”. Dalam peristiwa ini darah mengalir terus, saudara membunuh saudara. Potensi Nasional hampir hancur samasekali oleh karenanya. Kontan tiga bulan sesudah pecahnya Peristiwa Madiun itu, mulailah Belanda dengan aksi militernya yang kedua!

Dus: di Zaman Jogya kita telah menemukan pengalaman-pengalaman yang merupakan kesedihan-kesedihan nasional. Kesedihan-kesedihan nasional itu mengajar kita kepada, supaya di kemudian hari kita lebih waspada di dalam menghadapi berkembangnya perbedaan-perbedaan pandangan dalam masyarakat kita. Bagaimanapun, persatuan nasional harus dijaga. Diferensiasi adalah memang tanda hidup dan tanda tumbuh, tetapi antagonisme yang dipertajam akan membawa kehancuran. Harap ini selalu kita camkan di dalam kalbu.

Tetapi sebagai satu keseluruhan, kukatakan tadi, Zaman Jogya adalah masih gilang-gemilang. Kukatakan tadi pula apa sebabnya: sebab negatif yang datang dari luar, yaitu agresi ekonomis, politis dan militer dari fihak Belanda. Tetapi ada pula sebab-sebab positif yang datang dari dalam: Yaitu bakat persatuan, bakat “gotong-royong” yang memang telah bersulur-akar dalam jiwa Indonesia, ketambahan lagi daya-penyatu yang datang dari azas Pancasila.

Ya, tidakkah sebenarnya pertentangan-pertentangan itu dapat terlalu meruncing dan terlalu menajam karena kelengahan kita sendiri? Kelengahan, bahwa Revolusi kita ini ialah Revolusi Nasional. Revolusi yang syarat mutlak untuk berhasil ialah anti-imperialis yang ada dalam bangsa itu? Socio-historis pertentangan memang selalu ada, tetapi dalam suatu Revolusi Nasional adalah satu kesalahan besar terlalu meruncing-runcingkan dan mempertajam-tajamkan pertentangan itu. Inilah yang kita lengahkan. Di dalam kita mencari jalan yang hendak kita tempuh, kita menjadi kabur-mata di dalam melihat inti-persoalan itu, karena mata kita telah diselimuti oleh nafsu-nafsu “ingin menang” bagi golongan-sendiri, “ingin menang” bagi faham sendiri, bahkan “ingin menang” bagi kepentingan diri sendiri. Akibatnya ialah, bahwa kita kadang-kadang terlalu jauh menyimpang dari dasar-asli yang kita semuanja, ya, dari golongan apapun, berdiri di atasnya pada saat memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Augustus ’45.

Terlalu jauh menyimpang dari dasar Pancasila, yang telah memungkinkan terpadunya segenap kekuatan-kekuatan bangsa menjadi satu Kekuatan Revolusi Nasional. Tetapi sebagai kukatakan tadi, syukurlah kepada Tuhan, bahwa pada saat-saat yang gelap itu kita selalu diingatkan kembali kepada dasar-asli Pancasila itu. Dengan demikian, hamuknya nafsu pertentangan dapat diredakan. Dengan demikian, kehancuran nasional dapat dihindarkan.

Juli 1947 terjadi “Peristiwa 3 Juli”, 17 Augustus 1947 kita semua telah membaharui tekad Pancasila. September 1948 terjadi “Peristiwa Madiun”, permulaan 1949 di Jawa Timur ditumpeslah satu usaha untuk mengadakan pemerintahan sendiri dan mulailah di seluruh wilayah Republik satu perjoangan gerilya dan total melawan agresi Belanda di bawah panji-panjinya Pancasila. Di sini kita melihat makna yang sangat dalam daripada Pancasila itu. Bangsa Indonesia harus bersyukur bahwa sejak permulaan Revolusinya ia sudah mempunyai satu mimbar-bersama untuk berpijak. Di atas persada Pancasila itu segala pertentangan menjadi reda. Dari dalamnya membual satu sumber kekuatan regenerasi, kekuatan bertumbuh-kembali, daripada persatuan dan kekuatan nasional kita.

Dengan adanya sumber ini, ternyata kita mampu melintasi lautan kesulitan dan kesukaran sebagai akibat pertentangan-pertentangan dari dalam yang kulukiskan tadi, dan hantaman-hantaman dari luar yang berupa blokade, pengepungan politik, pemfitnahan internasional, hujan apinya meriam, bom dan dinamit. Ternyata kita dengan adanya sumber itu mampu mengarungi lautan kesedihan sampai kita mencapai pangkalan yang kesatu: pengakuan kedaulatan kita pada tanggal 27 Desember 1949.

27 Desember 1949 Zaman Jogya berakhir. Datanglah zaman Jakarta lagi, – 1950. Hilanglah buat sebagian baji-baji dari luar yang selama ini selalu mencoba memecah-belahkan antara pemimpin dan pemimpin, pemimpin dan rakyat, rakyat dan rakyat, daerah dan daerah. Perpisahan antara kaum federal dan kaum Republik yang dibuat-buat oleh fihak politik Belanda itu, tersapu musnahlah samasekali oleh persatuan bangsa. Susunan federasi yang dibuat-buat oleh fihak Belanda dengan ongkos miliunan-miliunan, sekali lagi miliunan gulden itu, ludes-lenyaplah diganti oleh susunan Kesatuan kembali, delapan bulan sesudah politieke-machtnya Belanda ditarik kembali. Susunan federasi itu ternyata tidak dapat bertahan, karena tidak berkumandang di dalam lubuk hatinya Rakyat. Semangat Kesatuan Indonesia-lah dan Tenaga Kesatuan Indonesia-lah yang meniupnya habis laksana taufan, Semangat Kesatuan Indonesia-lah yang menang dalam perjoangan raksasa yang bersejarah ini. Lihatlah, betapa besar maha-potensinya apa yang dinamakan “Nasional” itu! Nationale Geest, Nationale Wil, Nationale Daad! Nationale Geest menang! Nationale Wil menang! Nationale Daad menang! Menang, sekali lagi menang! – Asal saja ia benar-benar Nasional, benar-benar meliputi sekujur tubuh bangsa kita yang 80.000.000, benar-benar meliputi sekujur tubuhnya natie dari Sabang sampai ke Merauke, dan tidak terpecah-belah atau hanya mengenai segolongan dari bangsa kita saja! Lihat! Sekali lagi, betapa besar kuasanya maha-potensi Nasional itu dalam menghantam-hancur segala potensi-potensi-kolonial lain-lain yang masih hendak beroperasi terus di halaman tanah-air kita: Bukan saja susunan federasi terhantam hancur-lebur oleh Semangat Nasional dan Tenaga Nasional itu, – tetapi agresi banditisme Westerling-pun olehnya terhantam hancur-lebur, coup d’etatnya Sultan Abdul Hamid-pun terhantam hancur-lebur, pemberontakan Andi Azis-pun terhantam hancur-lebur, bahkan Kontra-Revolusinya Soumokil-pun terhantam hancur-lebur! Karena itu, saudara-saudara, buat sekali dan seterusnya, – berpeganglah teguh kepada dasar Nasional itu, seperti dulu kamu berpegang teguh kepadanya di saat Proklamasi pada tanggal 17 Augustus 1945!

Sepantasnyalah dan sebenarnyalah kita bersyukur kepada Tuhan bahwa Ia telah memberi kepada kita pengalaman-pengalaman baik tentang kenasionalan itu, dan laksana mekarlah hati kita dengan rasa kebanggaan, kalau kita mengenangkan buah-buah-baik dari kenasionalan itu!

Tetapi … sayang seribu sayang, rasa bangga itu masih kecampuran rasa sedih, kalau melihat bahwa belum semua sisa-sisa nafsu-salah telah tersapu bersih, melainkan masih ada saja sisa nafsu-salah yang berkloget-kloget hendak muncul kembali, mencoba-coba hendak menggerogoti keselamatan Negara kita ini dari dalam. Apakah sisa-sisa nafsu-salah itu? Tak lain tak bukan ialah adanya gerombolan-gerombolan yang mengacau Negara dan masyarakat kita.

Ada gerombolan-gerombolan-bersenjata yang laksana rayap hendak melapukkan tiang-tiangnya Negara sendiri. Ada gerombolan Darul Islam Kartosuwiryo dan T.I.I. – nya, ada malahan yang memakai pimpinan orang-orang Belanda, ada gerombolan Bambu Runcing, ada gerombolan Kahar Muzakkar. Ada gerombolan Merapi-Merbabu-Complex. Ada pula gerombolan-gerombolan yang bersifat banditisme semata-mata. Tetapi juga ada gerombolan-gerombolan yang zogenaamd “berideologi” pun adalah terdiri dari orang-orang yang fikirannya sudah liar dan kacau samasekali, orang-orang yang sebagai kukatakan dalam pidato 17 Augustus tahun yang lalu adalah laksana vliegwiel-vliegwiel yang terlepas dari mesinnya Revolusi, vliegwiel-vliegwiel yang melesat beterbangan membabi-buta ke kanan dan ke kiri.

Mereka menjadi orang-orang yang fikirannya sudah keblinger samasekali, – mereka tidak berdiri lagi di atas sesuatu daratan yang pantas dinamakan daratan idiil. Mereka menjadilah orang-orang yang mengira bahwa pengacauan yang mereka lakukan itu adalah pengabdian kepada rakyat. Penggedoran-penggedoran harta benda rakyat miskin dilihatnya sebagai pengabdian kepada rakyat. Pembakaran-pembakaran rumah rakyat yang mereka lakukan, dilihatnya sebagai pengabdian kepada rakyat.

Penganiayaan dan pembunuhan kejam terhadap rakyat yang tidak berdosa, dilihatnya sebagai pengabdian kepada rakyat. Penggulingan-penggulingan keretaapi yang berisi penumpang-penumpang rakyat perempuan, kanak-kanak dilihatnya sebagai pengabdian kepada rakyat. Nyata mereka telah tidak dapat membedakan lagi antara cita-cita yang tinggi dan nafsu yang rendah. Tidak dapat membedakan lagi antara baik dan jahat. Tidak dapat berfikir lagi dalam istilah-istilah perjoangan kita yang luhur-luhur dan suci-suci, sebagai sediakala.

Telah berulang-ulang kita mengajak mereka kembali kepada kehidupan normal sebagai orang-orang Indonesia yang se-Bangsa, se-Tanahair, se-Negara. Tetapi rupanya jiwanya sudah tak dapat diajak bicara samasekali. Jiwanya sudah keblinger, sudah beku samasekali. Rupanya telah menjadi kehendak Tuhan, bahwa ketenteraman dan ketertiban masih harus kita beli dengan darah dan penderitaan kita sendiri, – demikian kukatakan dalam pidato 17 Augustus tahun yang lalu.

Sekarang saya berseru kepada segenap alat-alat kekuasaan Negara dan segenap rakyat Indonesia untuk berlipat-lipat ganda lebih bergiat lagi membasmi semua pengacauan-pengacauan masyarakat dan Negara itu, sampai keamanan terjamin lagi. Kita harus bertindak tegas! Hayo!

Lipatgandakan usahamu! Basmilah pengacauan itu! Tentara dan polisi harus dibantu oleh rakyat, rakyat harus membantu tentara dan polisi sehebat-hebatnya. Rakyat harus mengerti, bahwa gerombolan-gerombolan itu adalah musuh masyarakat, musuh Negara Republik Indonesia. Negara lain dalam Negara Republik Indonesia tidak ada, negara lain selainnya Republik Indonesia tidak ada, negara lain selainnya Republik Indonesia adalah pendurhaka Proklamasi 17 Augustus ’45.

Sekali lagi, hai tentara dan polisi dan rakyat, perlipatgandakanlah usahamu membasmi pengacauan-pengacauan itu! Segala jalan harus dilalui. Kalau kata-kata saja tak dapat menyehatkan jiwa yang keblinger, – apa boleh buat, suruhlah senjata berbicara satu bahasa yang lebih hebat lagi!

Dalam pada itu, kepada pemimpin-pemimpin rakyat dan Negara saya merasa perlu menyampaikan beberapa kata-kata. Soal keamanan bukanlah soal yang sederhana. Soal keamanan adalah satu soal yang berjalin-jalin, satu soal yang complex. Ia adalah satu soal yang mengenai seluruh latarannya masyarakat kita dalam Revolusi dan sesudah Revolusi, satu masyarakat yang “belang-bentong” penuh dengan kekurangan-kekurangan beraneka-warna. Ia adalah seperti itu syaitan di dalam dongeng, yang mempunyai bukan saja beberapa bapa, tetapi juga beberapa ibu. Ia tak dapat kita bunuh, kalau kita tidak membunuh pula semua bapa-bapanya dan semua ibu-ibunya. Karena itu, manakala saya memerintahkan kepada alat-alat kekuasaan Negara untuk dengan bantuan rakyat mempergunakan pedang dan bedil, mortir dan meriam seperlunya, maka kepada pemimpin-pemimpin rakyat dan Negara saya meminta diperhatikan beberapa hal yang amat penting.

Saudara-saudara, pada zaman yang dinamakan “zaman pembangunan” ini rakyat masih merasakan seribu-satu kekurangan. Tetapi satu kekurangan adalah teramat dirasakan, yaitu kekurangan Kekuasaan Pemerintah, kekurangan Gezag, kekurangan “Kawibawan”, Gezag. Di dalam pidato saya tahun yang lalu saya sudah menyentil hal ini dengan tegas dan tandas.

Malah pada waktu itu saya mengatakan, bahwa kita ini bukan saja sedang mengalami krisis moril, krisis politik, krisis cara meninjau soal-soal, krisis dalam alat-alat kekuasaan Negara, tetapi juga mengalami krisis Kekuasaan Pemerintah, krisis “Kawibawan” Kekuasaan Pemerintah, Krisis Kawibawan Kekuasaan Pemerintah, – Krisis Gezag. Di dalam tiap-tiap Negara dan tiap-tiap masyarakat yang di dalamnya ada Krisis Gezag, terjadilah kekacauan dan pengacauan. Di dalam tiap-tiap masyarakat yang gezagnya tidak ber-“Kawibawan”, dan gezag yang tidak ber-kawibawan” adalah sebenarnya gezag yang menderita Krisis Gezag – , selalu bangkitlah anasir-anasir yang bertindak menurut ubalnya nafsu-nafsu sendiri, anasir-anasir yang a-sosial, yang menipu, mencuri, merampok, menculik, membunuh, dan menjalankan lain-lain kejahatan lagi.

Maka anasir-anasir a-sosial ini lantas “menular” kepada orang-orang yang baik, menulari kepada segenap masyarakat di kanan dan kirinya, menulari si Jujur dan si Tulus, sehingga terjadilah daerah itu satu suasana kedudukan jiwa umum yang abnormal, satu kegemaran merayah dan menjarah, satu “mentaliteit” – “mentaliteit van het bendewezen”, “mentaliteit brandalan”, – sebagai yang saya sebutkan dalam pidato saya 17 Augustus tahun yang lalu.

Mentaliteit yang demikian inilah yang telah berada dalam beberapa daerah tanah-air kita. Benar, pada permulaannya di daerah-daerah itu sekedar adalah golongan-golongan yang berideologi anti-politik-Negara, sekedar adalah “isme-isme” yang beroperasi, tetapi tindakan-tindakan mereka yang menamakan dirinya ber-isme itu, yaitu tindakan merayah, menjarah, menggedor, menculik, membunuh, telah menularilah jiwanya orang-orang di kanan dan di kirinya, sehingga akhirnya menjadikanlah tumbuhnya satu “mentaliteit brandalan” itu tadi. Dan dapatlah menulari jiwanya orang-orang di kanan dan kirinya itu ialah antara lain-lain karena ketidak-adaan Kawibawan Gezag. Ketidak-adaan “Keangkeran Gezag”.

Dengan lain kata: karena adanya Krisis Gezag. Karena adanya Gezagsvacuum. Gezags-vacuum selalu menjadi tempat-permainannya bangsat-bangsat. “Vacuums are the playground of bandits”. Janganlah tidak melihat sebab yang satu ini. Janganlah seperti bunyi peribahasa Rus: “Ia pergi ke circus, tetapi tidak melihat gajah”. Lihatlah gajah ini, yang berupa Krisis Gezag, Gezagsvacuum itu! Gezagsvacuum itulah salah satu ibunya ketidak-amanan itu!

Ya, Krisis Gezag dan Gezagsvacuum. Mengertilah pula hal ini benar-benar! Pemerintah memang ada. Pemerintah Pusat ada. Pemerintah Daerah ada. Tetapi Kawibawan Pemerintahlah yang tidak ada. Dengan adanya Pemerintah, belum berarti bahwa dus tidak ada gezagsvacuum. Dengan adanya Pemerintah, mungkin sekali toh ada Gezagsvacuum.

Karena itu, maka tiap-tiap anggauta dari tiap-tiap alat-pemerintah harus bertindak – bersikap – berkelakuan (baik di dalam maupun di luar dinas) sedemikian rupa, hingga dapat benar-benar menjunjung tinggi Gezagnya, Gezag terhadap umum. Sebab, di negeri kita ini, dengan masyarakatnya dan rakyat-jelatanya yang masih tulen berjiwa ke-Timuran, Kekuasaan Pemerintah bukan saja bersinar melalui saluran zahir, tetapi juga saluran batin. Zahir melalui kekuatan-kekuatan jasmanilah yang riil, seperti tentara, polisi, pamong-praja, justisi. Batin melalui keunggulan-keunggulan akhlak dan keluhuran-keluhuran pekerti. Zahir dus melalui “reeele physieke kracht”, batin melalui “zedelijk, geestelijk, verstandelijk overwicht”. Semua orang yang mengemban Kekuasaan Pemerintah semua “gezagsdragers”, – apa ia bernama lurah, apa wedana, apa bupati, apa gubernur, apa menteri, apa presiden, apa perwira, apa prajurit, apa agen polisi, apa komisaris, – semua harus mampu menyinarkan dua sinar Kawibawan itu. Dua-dua sinar ini harus senantiasa nampak berdampingan, dua-dua sinar itu harus selalu terasa di kalangan masyarakat!

Jika pada suatu waktu salah satu dari padanya suram, atau kedua-duanya suram, atau kedua-duanya padam samasekali, maka timbullah satu keadaan “kegoyangan” dalam masyarakat, timbullah satu keadaan “labiliteit”, yang mengakibatkan kaburnya cara berfikir tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang baik dan apa yang tidak baik, apa yang dilarang-oleh-hukum-dan-adat dan apa yang tidak dilarang oleh-hukum-adat. Maka akhirnya timbullah gangguan-gangguan keamanan dan ketertiban yang makin lama makin menular-nular, dan makin lama makin menjalar. Akhirnya timbullah apa yang kita namakan mentaliteit bendewezen atau mentaliteit brandalan itu tadi!

Menjadi dus: Soal pembersihan pengacauan yang kita hadapi sekarang ini adalah buat sebagian juga soal pembersihan diri kita sendiri! Rakyat-jelata kita, juga di daerah-daerah yang kacau, di mana sedikit banyak orang-orang desa bergabung kepada gerombolan-gerombolan pengacau, pada hakekatnya, pada asalnya, tetap tidak buruk tabiatnya. Andaikata rakyat-jelata buruk, maka tentunya dari zaman dulu-dulu mula bendewezen itu sudah merana-rana. Tetapi tidak! Bendewezen hanya merana di daerah-daerah dan di periode-periode yang Gezag tidak mempunyai Kawibawan! Di zaman kolonialpun di desa aman-tertib kalau di desa itu ada Kawibawan Gezag, dan keadaan kacau dan terganggu, kalau tidak ada Kawibawan Gezag.Maka dari itu jelaslah bahwa Kawibawan Gezag itulah satu soal yang samasekali lepas dari soal kolonial atau tidak kolonial, demokratis atau tidak demokratis, nasional atau tidak nasional. Kawibawan Gezag tidak ada sangkut-pautnya samasekali dengan sesuatu sistim politik. Kawibawan Gezag adalah semata-mata soal “zahir” dan “batin” sebagai yang saya sebutkan tadi. Ia adalah soal teknik dan kwaliteit, soal berani bertindak keras kalau perlu, tetapi selalu adil, – soal “ambtelijke organisatie” yang tepat, soal “ambtelijke verhoudingen” yang sehat, soal “penentuan tugas” yang tidak bersimpang-siur, soal keahlian atau vakbekwaamheid, soal controle, soal verantwoording, soal budi-pekerti, soal kelakuan, soal akhlak, soal persoonlijkheid.  .....selanjutnya>>>

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 38 | Added by: GitaMerdeka | Tags: Pidato Bung Karno, Di Bawah Bendera Revolusi - II, Nasionalisme Indonesia, Bung Karno | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar