Home » 2016 » August » 30 » Genta Suara Republik Indonesia
1:45 PM
Genta Suara Republik Indonesia

<<<sebelumnya.....   Saya sekarang sedang memberikan perhatian penuh kepada suara-suara Rakyat mengenai pelaksanaan daripada Dekon. Sudah sering kali saya katakan, – malahan di Manila pun saya katakan -, bahwa saya ini sekedar peyambung lidahnya Rakyat. Setelah nanti aku yakin seyakin-yakinnya akan suara-sejati dari Rakyat-jelata, maka Insya Allah lidahku sendiri akan menyuarakan suara-hati dari Rakyat-jelata itu.

Aku gembira sekali, bahwa akhir-akhir ini makin santer kehendak untuk membangun ekonomi nasional kita di atas kaki kita sendiri. Inilah yang saya namakan patriotisme ekonomi, dan saya gembira sekali atas hal itu. Sesuatu bangsa hanyalah bisa menjadi kuat, kalau patriotismenya juga meliputi patriotisme ekonomi. Ini memang jalan yang benar ke arah kekuatan bangsa, jalan yang jitu, jalan yang tepat. Dalam Konferensi Rencana Kolombo di Jogyakarta beberapa tahun yang lalu, saya telah katakan kepada utusan-utusan konperensi itu:

“Ekonomi Indonesia akan bersifat Indonesia; sistem politik kami akan bersifat Indonesia; masyarakat kami akan bersifat Indonesia, – dan semuanya itu akan didasarkan kokoh-kuat atas warisan kulturil dan spirituil bangsa kami sendira. Warisan itu dapat dipupuk dengan bantuan dari luar, dari seberang lautan, akan tetapi buah dan bunganya akan memiliki sifat-sifat kami sendiri. Maka janganlah tuan-tuan mengharapkan, bahwa setiap bentuk bantuan yang tuan berikan akan menghasilkan cerminan dari tuan-tuan sendiri”.

Demikianlah patriotisme yang saya lukiskan dalam pidato saya di Konferensi Rencana Kolombo di Jogya. Ya, dunia sekarang memang dunia yang tidak bisa hidup tanpa bantu-membantu, Tetapi kita tidak mau dan tidak akan mengemis bantuan dari siapapun. Kita Bangsa Besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan meminta-minta, apalagi jika bantuan itu diémbél-émbéli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplék tetapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak.

Satu punt lagi, saudara-saudara, dari Panca Program Front Nasional: yaitu punt yang menyebutkan “meneruskan perjuangan melawan imperialisme dan neo-kolonialisme dengan memperkuat kegotong-royongan nasional revolusioner”.

Sebetulnya ini sudah jelas. Hanya hal neo-kolonialisme itu saja nanti perlu saya teropong sedikit. Hal “kegotong-royongan nasional revolusioner” sebetulnya sudah gamblang segamblang-gamblangnya. Namun masih ada saja orang yang kena penyakit phobi, yang pura-pura tidak mengerti akan perlunya kegotong-royongan nasional revolusioner dalam perjuangan anti imperialisme itu. Jelasnya saja, masih ada orang-orang yang menderita Komunisto-phobi. Karena berkomunisto-phobi, maka mereka ber-nasakomo-phobi! Padahal beratus-ratus kali saya telah terangkan, bahwa kegotong-royongan nasional revolusioner tak mungkin terselenggara tanpa berporoskan Nasakom, – Nas – A – Kom, – tiga penggolongan obyektif daripada kesadaran politik Rakyat Indonesia, Pun sering sudah saya terangkan, bahwa anti-nasakom sama dengan anti Undang-Undang-Dasar ’45, sama dengan anti Pancasila, sama dengan anti pemusatan tenaga, sama dengan anti “samenbundeling van alle revolutionnaire krachten”, sama dengan … kepala sinting!

Kita sekarang ini nyata “menang mapan” terhadap kepada imperialisme. Makanya kita menang dalam perjuangan kita melawan imperialisme di beberapa bidang. Misalnya kita menang dalam perjuangan merebut kembali Irian Barat. Di mana letaknya “menang mapan” kita terhadap kepada imperialisme itu?

Imperialisme dunia itu, di satu fihak mempunyai persatuan atau persekutuan tetapi di lain fihak mempunyai juga perpecahan, percekcokan, innerlijke conflicten. Kita, sebaliknya, tidak perlu mempunyai perpecahan, dan kalau ada perpecahan, kita harus “mempersatukan” perpecahan itu. Di sinilah sendinya, maka saya dalam perjuangan melawan imperialisme itu selalu berikhtiar menggembléng kegotong-royongan nasional revolusioner, menggembléng samenbundeling van alle revolutionnair krachten in de natie, menggembléng persatuan revolusioner berporoskan Nasakom, – jangan phobi-phobian, jangan nasionalisto-phobi, jangan Islamo-phobi, jangan komunisto-phobi, jangan nasakom-phobi, jangan tani-phobi, jangan buruh-phobi, jangan rakyat-phobi, jangan lain-lain phobi lagi yang mengakibatkan kekurangkompakan. Sebab kekurangkompakan nasional revolusioner berarti “kalah mapan” terhadap kepada imperialisme, dan ini berarti menangnya imperialisme, dan menangnya imperialisme berarti gagalnya kitapunya Revolusi, dan gagalnya kitapunya Revolusi berarti kita menjadi bangsa témpé. Nauzubillahi minasyaitonirrojim!

Kecuali itu, kesatuan dan persatuan yang saya maksudkan itu adalah satu tuntutan daripada Nation building dan Character building. Dapatkah Nation terbentuk jikalau di kalangan Nation itu sengaja dipupuk phobi-phobian antara kita dengan kita? Saya telah membentuk L.P.K.B., – Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa -, untuk mempercepat Nation building dan Character building itu, dan pimpinannya hari-hari saya serahkan kepada Saudara Wampa Roeslan Abdulgani. Salah satu pesanan saya kepada Saudara Roeslan ialah, untuk memberikan pengertian tentang salahnya phobi-phobian itu.

Sekarang sedikit tentang neo-kolonialisme. Punt Panca Program Front Nasional itu juga menyebutkan “perjuangan menentang neo-kolonialisme”.

Apakah neo-kolonialisme itu? Neo-kolonialisme adalah kolonialisme “model baru”. Di depan hakim kolonial di Bandung, tatkala atas nama bangsa Indonesia aku menelanjangi kolonialisme, aku berkata sebagai berikut:

“Imperialisme bukan saja sistim atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme bisa juga hanya nafsu atau sistim mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain. Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa pengluasan daerah negeri dengan kekerasan senjata sebagai yang diartikan oleh van Kol, – tetapi ia bisa juga berjalan hanya dengan “putar lidah” atau cara “halus-halusan”saja, bisa juga berjalan dengan cara “penetration pacifique”.

Demikian kataku di Bandung. Aku tahu bahwa sekarang ini kaum yang tidak suka Republik berdiri tegak laksana batukarang ditengah-tengah hamuknya pergolakan dunia. Tetapi ini memang sudah logikanya dan dialektikanya sejarah! Aku tahu, bahwa mereka yang tidak suka kepada kita mengadakan bermacam-macam usaha untuk melemahkan kita, mulai dari “penetration pacifique” sampai kepada usaha pengepungan militer terhadap kepada Republik.

Tetapi ini bukan yang pertama kalinya bahwa kita menghadapi cobaan seperti ini. Ketika kita di Jogya, ketika itu wilayah kita ibarat hanya “sedaun kelor”, kitapun digertak, dikepung, digasak, dihujani api, – tetapi kita tidak mau menjual kitapunja kepala, oleh karena kita mau hidup. Apalagi sekarang, di mana wilayah kita bukan sedaun kelor lagi, melainkan utuh dari Sabang sampai Meruke, – apalagi sekarang, – maka yang mengharapkan kita akan menyerah adalah sama dengan orang yang mengharapkan matahari terbit di sebelah Barat

Insya Allah kita selalu akan “survive”! Apa rahasianya survival? Seorang jurnalis wanita yang sudah aku kagumi sejak aku mahasiswa, Anna Louis Strong, pernah menulis: “The first essential to survival is to believe that you can survive”. (Syarat pertama untuk survival ialah kepercayaan bahwa kila bisa survive).

Maka, kepercayaan itu ada pada kita! Insya Allah, kita akan survive! Insya Allah, kita akan terus berdiri. Insya Allah, kita tidak akan tenggelam!

Cukup sekian saja mengenai Panca Program Front Nasional.

Marilah saya sekarang menceritakan sedikit tentang Irian Barat.

Saudara-saudara!

Tepat pada tanggal 1 Mei 1963 Irian Barat masuk kembali dalam wilayah kekuasaan Republik. Dengan demikian, maka Revolusi Nasional kita geografis telah selesai: seluruh tanah-air kita, dari Sabang sampai Merauke, sejak 1 Mei 1963 itu telah bernaung di bawah Sang Saka Merah Putih. Terimakasih saya ucapkan kepada semua pejuang yang telah menyumbang kepada suksesnya perjuangan pembebasan Irian Barat ini – do’a saya, saya panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala semoga Allah memberi tempat yang baik kepada arwah pejuang-pejuang kita yang telah gugur.

Irian Barat! Astaga, saudara-saudara, astaga, keadaan di sana! Apa yang kita warisi dari Belanda di Irian Barat itu, samasekali tidak bisa dipakai sebagai modal untuk membangun Irian Barat. Rakyat di sana oleh Belanda samasekali tidak diajar untuk memprodusir barang-barang yang paling sederhana pun! Misalnya kesed (voetenveger) mereka import dari Nederland, sapu, sapu mereka import dari Nederland, areng, ya masya Allah, areng mereka import dari entah mana lagi. In elk geval, arengpun barang import, bukan bikinan Rakyat Irian Barat sendiri. Apalagi bir kalengan! Itu import besar. Dat hoort er zo bij!

Akan tetapi apa boleh buat! Bagi kita, semua itu malah menjadi satu challenge, satu tantangan! Seperti sudah saya serukan tempohari, dengan pemasukan Irian Barat dalam wilayah kekuasaan Republik, maka Trikora belum selesai! Teruskan Trikora itu! Jangan berhenti Trikora itu! Saya tegaskan di sini, bahwa pembangunan pun termasuk dalam Trikora itu, langsung di bawah saya, sedangkan pimpinan sehari-hari saya serahkan kepada Wampa Urusan Irian Barat Saudara Dr. Subandrio.

Camkan! Pembangunan Irian Barat bukan masuk dalam persoalan lokal Irian Barat saja, bukan sekedar persoalan orang Irian Barat sahaja, melainkan adalah persoalan seluruh Bangsa Indonesia, malahan adalah satu tantangan, satu challenge terhadap kepada Revolusi kita seluruhnya! Pembangunan Irian Barat adalah juga persoalanmu, persoalanku, persoalanmu, persoalanku, persoalan kita semuanya, persoalan seluruh Revolusi Indonesia, – persoalan seluruh Bangsa Indonesia! Hayo kita bangun Irian Barat bersama-sama, hayo kita bercancut-taliwanda bersama-sama membuat Irian Barat itu satu zamrud yang indah dalam sabuk Indonesia yang melingkari katulistiwa ini! – Indonesia, die zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd!

Saudara-saudara! Dalam tahun yang lalu Indonesia beberapa kali berada dalam fokusnya perhatian luar negeri, fokusnya perhatian internasional. Kongres P.A.T.A. terjadi di Indonesia dengan sukses, Konferensi Wartawan A.-A. terjadi di Indonesia, Sidang Komite Eksekutif Konferensi Pengarang A.-A. terjadi di Indonesia, Asian Games terjadi di Indonesia, – tahun muka mungkin Konferensi Buruh A.-A., Konferensi Pengarang A.-A. yang ke-III, Festival Film A.-A., Konferensi A.-A. yang ke-II. Dan Insya Allah bulan November ini nanti – Games of the New Emerging Forces, – Ganefo akan terjadi di Indonesia.

Makin lama makin jelas kedudukan Indonesia dalam Revolution of Mankind ini. Malahan ia ikut berdiri dalam barisan yang depan! Bukan membuntut, tetapi berdiri di barisan yang depan! Hubungan Indonesia dengan dunia internasional tidak semata-mata didasarkan atas keuntungan materiil belaka, tidak, melainkan juga menyangkut hubungan Revolusi Indonesia dengan Revolusi Umat Manusia.

Dalam hubungan ini kita bergabung dalam apa yang saya namakan “New Emerging Forces”, – kita adalah satu anggota yang dinamis dan militan dalam gabungan New Emerging Forces itu. Apa yang saya namakan New Emerging Forces itu? New Emerging Forces adalah satu kekuatan raksasa yang terdiri dari bangsa-bangsa dan golongan-golongan progesif yang hendak membangun satu Dunia Baru yang penuh dengan keadilan dan persahabatan antar-bangsa, satu Dunia Baru yang penuh perdamaian dan kesejahteraan, – satu Dunia Baru tanpa imperialisme dan kolonialisme dan exploitation de l’homme par l’homme et de nation par nation.

New Emerging Forces terdiri dari bangsa-bangsa yang tertindas dan bangsa-bangsa yang progresif. New Emerging Forces terdiri dari bangsa-bangsa Asia, bangsa-bangsa Afrika, bangsa-bangsa Amerika Latin, bangsa-bangsa negara-negara sosialis, golongan-golongan yang progresif dalam negara-negara kapitalis. New Emerging Forces sedikitnya terdiri dari 2.000.000.000 manusia. Tidakkah ia satu tenaga raksasa, asal secara efektif tersusun dan terhimpun? Saya gandrung kepada Konferensi A.A. yang ke-II, saya gandrung kepada Konferensi A.A.A. yang pertama, saya gandrung kepada Konferensi New Emerging Forces yang pertama, di Indonesia!

Ganefo kita adakan, – yaitu Games of the New Emerging Forces.

Insya Allah, marilah kemudian daripada itu kita adakan.

Conefo, Conference of the New Emerging Forces! Di Indonesia saudara-saudara.

Conefo di Indonesia, tidaklah dengan itu Indonesia akan makin tampak lagi berdiri paling depan di dalam barisan daripada New Emerging Forces ini?

Biar kekuatan Umat Progresif lekas terhimpun! Biar Old Established Forces menjadi gemetar! Biar Old Established Order lekas ambruk samasekali!

Ada orang yang berkata: buat apa toh ambil pusing Old Established Order itu. Wat kan you die Old Established Order schelen! mBok biar dia hidup! Leven en laten leven!! Live and let live!!

Tolol orang ini! Dia tidak tahu bahwa keselamatan dunia selalu terancam oleh Old Established Order itu. Dia tidak tahu bahwa keselamatan bangsanya sendiri selalu terancam oleh Old Established Order itu. Dia apakah juga tidak tahu, bahwa bangsanya sendiri 350 tahun terjajah, 350 tahun terkungkung dan terhina, 350 tahun tertindas dan terhisap, 350 tahun diingkel-ingkel menjadi satu bangsa lung-lit oleh Old Established Order itu?

O, ya, tentu melawan Old Established Order adalah membawa bahaya, menghimpun New Emerging Forces-pun adalah membawa bahaya. Tetapi di manakah ada satu perjuangan, yang benar-benar perjuangan, tidak membawa bahaya? Na kita-ini satu bangsa yang berjuang apa tidak? Kita-ini satu “fighting nation” apa tidak? Kita-ini satu bangsa tempe, ataukah satu Bangsa Banteng? Kalau kita satu bangsa yang berjuang, kalau kita satu fighting nation, kalau kita satu Bangsa Banteng, dan bukan satu bangsa tempe, – marilah kita berani nyrempet-nyrempet bahaya, berani ber-Vivere Pericoloso! Asal jangan kita Vivere Pericoloso terhadap kepada Tuhan! Hiduplah ber-vivere pericoloso di atas jalan yang dikehendaki oleh Tuhan dan diridhoi oleh Tuhan!

Kecuali satu kewajiban melawan ketamaan-ketamaannya dan segala kejahatannya Old Established Order itu, maka penentangan itu adalah satu “tindakan” sejarah. Revolusi Indonesia adalah satu “tindakan sejarah”, Revlusi Umat Manusiapun adalah satu “tindakan sejarah”. Di Manila saya berkata: “One cannot escape History”, – tidak bisa kita menghindarkan diri dari sejarah. Tidak ada seorang-pun dapat mengelakkan Revolusi Indonesia, tidak ada seorang Malaikatpun dari langit dapat mengelakkan Revolusi Umat Manusia yang maha-dahsyat ini. Dalam menjalankan kodrat sejarah itu, kita harus berkonsultasi dengan kawan, tetapi sebaliknya: kita harus berkonfrontasi dengan lawan. Konsultasi dan konfrontasi adalah pada hakekatnya dialektika jalannya manusia atau bangsa dalam sejarah yang juga selalu berjalan, menurut hukum panta rei.

Dalam hubungan ini baiklah saya uraikan perjuangan kita menentang Malaysia.

Mengapa kita menentang Malaysia?, Apakah kita menghalangi sesuatu daerah menggabungkan diri kepada daerah lain? Apakah kita takut pada kekuatan rakyat Malaysia yang hanya berjumlah 10.000.000 itu?

Pertanyaan ini saya ajukan, oleh karena sebagian dari dunia luaran masih saja belum mengerti duduknya perkara, atau tidak mau mengerti duduknya perkara. Masih saja saya disebut “trouble-maker”, malah masih saja ada orang yang menyebutkan saya ini “expansionist”.

Saudara-saudara! Pada permulaan pidato saya, dan pada tiap-tiap pidato 17 Agustus, saya selalu mengatakan bahwa Revolusi kita ini banyak musuhnya, – baik musuh dari dalam, maupun musuh dari luar. Malah tahun yang lalu saya mengatakan, bahwa tiap Revolusi mempunyai musuh. Ingat perkataan saya tentang garis antara kawan dan lawan? Kawan harus dirangkul, tetapi lawan harus dihantam. Hantam sampai dia hancur lebur. Apalagi buat kita!

Sebab kita-ini sungguh-sungguh ber-Revolusi. Revolusi kataku selalu, adalah satu “kiprah penjebolan dan pembangunan, satu kiprah simultan yang destruktif dan konstruktif. Di satu pihak membina, di lain pihak mengantam, menggempur, membinasakan”.

Ya, kalau kita-ini umpamanya tidak ber-Revolusi betul-betulan, cuma Revolusi main-mainan, – barangkali tidak kita harus “kiprah dua jurusan” itu. Barangkali tidak kita-ini selalu harus menghantam, menggempur, membinasakan saja, di samping membangun. Barangkali kita tidak mempunyai musuh, barangkali kita tidak mempunyai lawan. Kalau kita-ini umpamanya mau menjadi satu bangsa satelit, atau satu negara satelit, – yaitu satu bangsa bébék atau satu negara bébék -, yang selalu wék wék wék membébék saja -, barangkali kita tidak mempunyai musuh. Tetapi, – kita tidak mau menjadi satu bangsa satelit, tidak mau menjadi satu bangsa bébék, tidak mau menjadi satu bangsa kambing. Kita mau menjadi satu Bangsa Besar yang bebas-merdeka, berdaulat penuh, bermasyarakat adil dan makmur, –

satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati Hambaudenda, gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, otot- kawat-balung-wesi, ora tedas tapak paluné pandé, ora tedas sisané gurindo!

Kita satu bangsa yang benar-benar ber-Revolusi, – karena itu maka kita kena hukumnya Revolusi, yaitu mempunyai kawan dan mempunyai lawan. Kalau kita bangsa satelit, kalau kita berjiwa budak, kalau kita berjiwa kambing, kalau kita berjiwa bébék, – yah, niscaya kita tidak mempunyai lawan, niscaya kita tidak akan dirongrong, niscaya kita tidak akan disubversi, tetapi sebaliknya, kita akan diinjak-injak sebagai sedia kala, diingkel-ingkel sebagai sedia kala, disumbat dan ditaléni hidung kita sebagai sedia kala, didikté, disuruh nurut saja seperti sedia kala.

Tetapi, sekali lagi saya katakan, kita ini bukan bangsa model begitu! Karena itu kita dirongrong, karena itu kita disubversi, karena itu kita dihintai, karena itu kita digerogoti dengan segala macam jalan.

Masih segar dalam ingatan kita subversi-subversi dari luar di waktu pemberontakan P.R.R.I. dan Permesta. Mereka beroperasi dari pangkalan-pangkalan di luar negeri di sekeliling kita! Ada yang dari Malaya, ada yang dari Singapore, ada yang dari Taiwan, ada yang dari Korea Selatan, ada yang dari basis asing di Philipina! Pendek-kata, seluruh pangkalan asing di sekitar Indonesia dipakai sebagai pangkalan-pangkalan subversi terhadap Indonesia, Apakah, dengan fakta-fakta yang demikian itu, tidak beralasan, jika kita waspada terhadap penggabungan-penggabungan beberapa negeri sekeliling kita, apalagi jika kita tahu bahwa penggabungan-penggabungan itu adalah proyek asing, artinya: pada asalnya bukan proyek dari rakyat negeri-negeri itu sendiri?

Malahan, apalagi jika daerah-daerah yang akan digabung itu mempunyai tapal-batas-darat-bersama dengan Indonesia? Apalagi jikalau suara Indonesia tidak digubris, – dianggap … hm hm, seolah-olah Indonesia tidak mempunyai hak untuk menilai sesuatu kejadian yang akan terjadi di muka pintu-rumahnya sendiri? Dikatakan kepada kita: “Hands off Malaysia!”, dan selanjutnya Basta! Lho, seolah-olah-kita-ini anak-kecil, seolah-olah kita-ini anak yang masih umbelen!

Memang tadinya kita tahan saja segala perasaan di dalam kitapunya dada. Tetapi akhirnya uneg-uneg kita, kita tidak tahan lagi. Tetapi akhirnya kita mengambil sikap yang tegas dan jelas yaitu: Kita tidak mau menjadi penonton saja daripada segala perubahan-perubahan statusquo di sekitar kita. Kita tidak mau bersikap pasif sebagai satu bangsa yang duduk tenguk-tenguk memeluk sikut melihat kejadian di sebelah pagar.

Kita merasa tanggungjawab atas keselamatan kita sendiri. Dan untuk mempertahankan keselamatan kita itu, untuk mempertahankan integritas kita itu, kita tidak akan segan mengambil risiko apapun juga. Kita tidak akan takut bledék, tidak akan takut petir. Gunung jugrug akan kita tandangi, segara asat akan kita ladeni!

Tetapi Indonesia tidak tidak-mengutamakan penyelesaian secara damai. Indonesia tidak emoh kepada perundingan. Apalagi persoalan ini adalah persoalan antara tetangga dengan tetangga. Apalagi persoalan ini adalah persoalan “bangsa Melayu” dengan “bangsa Melayu” sendiri. Karena itu saya tempohari pergi ke Tokyo. Karena itu saya tempohari juga pergi ke Manila. Karena itu di Tokyo saya mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Tengku Abdulrakhman Putra, dan di Manila saya mengadakan perundingan dengan Presiden Macapagal dan Perdana Menteri Tengku Abdulrakhman Putra. Malah saya kirim Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio ke Manila lebih dulu, untuk mengadakan pembicaraan antara tiga menteri luar negeri kita, di kota itu. Semua itu satu bukti, bahwa Indonesia mengutamakan jalan damai, mengutamakan perundingan, untuk mempertahankan kepentingannya.

Saudara-saudara sudah mengetahui hasil K.T.T. Manila. Mengenai persoalan Malaysia, hasilnya adalah sebagai berikut:

Satu. Malaysia tidak akan dibentuk, sebelum hak penentuan nasib sendiri dari Rakyat Kalimantan Utara (Sabah dan Serawak) dilaksanakan.

Dua. Sekjen P.B.B. mengambil tindakan baru dalam penentuan hak self-determination ini sesuai dengan resolusi P.B.B. 1541 pasal 9.

Tiga. Hasil dari pemilihan yang sudah (yaitu yang diadakan oleh Inggeris tempohari) menjadi bahan-pertimbangan, sesudah mendapat penyelidikan yang saksama oleh Sekretaris – Jenderal P.B.B. mengenai segala segi.

Empat. Tawanan-tawanan, dan penduduk Sabah/Sarawak yang mengungsi ke daerah luar Kalimantan Utara harus diberi hak pula untuk mengeluarkan suara dalam penentuan selfdetermination ini.

Lima. P.B.B. akan mengirimkan team-team-pekerja untuk melaksanakan self-determination ini, sedangkan Indonesia, Malaya, dan Philipina diperbolehkan mengirim peninjau-peninjau ke Kalimantan Utara pada waktu berjalannya hak self-determination itu.

Demikianlah lima pokok hasil K.T.T. Manila mengenai Malaysia.

Apapun juga akan terjadi di Kalimantan Utara nanti, dua hal menjadilah jelas:

1. Indonesia tidak lagi diperlakukan sebagai bangsa Togog yang hanya boleh menonton saja perubahan-perubahan statusquo di daerah sekitarnya, khususnya jika perubahan itu menyangkut keselamatannya;

2. Indonesia diakui mempunyai hak dan kewajiban utama untuk menjaga keselamatan dan perdamaian di daerah itu, bersama-sama dengan negara-negara-tetangganya Philipina dan Malaya.

Demikianlah hasil K.T.T. Manila mengenai pembentukan Malaysia itu. Alhamdulillah, Indonesia ternyata bukan negeri-témpé yang mudah ditémpékan orang!

Bagaimana hasil K.T.T. itu mengenai “Maphilindo”? Sebagai berikut, saudara-saudara:

Dibentuklah “Musyawarah Maphilindo”, di mana Kepala-pemerintahan, atau para Menteri, atau para petugas lainnya, dari ketiga Negara ini akan bertemu secara berkala untuk membicarakan kepentingan bersama dalam rangkaian prinsip-prinsip Bandung dan Asia-Afrika,- khususnya untuk memperhebat perjuangan menentang imperialisme dan kolonialisme.

Musyawarah Maphilindo tidak berarti bahwa Indonesia meninggalkan politiknya yang bebas dan aktif, sekali lagi saya katakan Musyawarah Maphilindo, – samasekali tidak! – malahan sebaliknya, Musyawarah Maphilindo dianggap sebagai sesuatu kekuatan daripada New Emerging Forces!

Berkat do’a saudara-saudara, K.T.T. Manila itu bolehlah dikatakan satu sukses bagi perjuangan yang progresif!

Saudara-saudara!

Sebagaimana tiap-tiap Revolusi besar, maka sejarah Revolusi Indonesia menggambar-kanlah gelombang pasang-surut dan pasang-naik yang maha-dahsyat. Kadang-kadang gelombang Revolusi itu adalah gelombang yang mengerikan, gelombang yang “nggegirisi”, – gelombang yang meminta korbanan-korbanan yang amat pedih, penggempaan semangat yang tiada tara, penggolakan tekad yang menyala-nyala, penguletan jiwa yang melebihi uletnya baja. Jika saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi meminta pengabdian kepada tanah-air dan pengorbanan-pengorbanan yang tak putus-putusnya kepada saudara-saudara, itu karena diharuskan oleh jalannya Sejarah.

Terutama sekali sejarahnya Abad ke XX.

Sejarah yang pernah saya namakan sejarah “bangkitnya budi-nurani manusia”, sejarah yang oleh Mao Tse Tung dinamakan “Sejarah meniupnya angin Timur”.

Sejarah Manusia dalam abad ke XX. Dalam abad ke XX ini Indonesia naik, Asia naik, Afrika naik, Amerika Latin naik, negara-negara sosialis naik. Ada yang menamakan abad ke XX ini Asian Century, yaitu abadnya Asia. Ada yang menamakannya African Century, ada yang menamakannya Latin American Century, ada yang menamakannya Socialist century. Semuanya adalah benar. Malah kita menamakannya juga “the Century of the New Emerging Forces”. Dan – terutama sekali bagi kita – ya bagi kita -, abad ini adalah abad kita. Abad yang kita naik. Abad yang kita merdeka. Abad yang kita ber-Revolusi. Abad yang kita kembali lagi menjadi satu Bangsa otot-kawat-balung-wesi.

Itu semuanya adalah Sejarah. Tetapi Sejarah adalah buatan manusia. Kita tidak bisa menghindari Sejarah, tetapi Sejarah itu adalah buatan kita juga. Kita tidak bisa menghindari badan kita, tetapi badan kita itupun adalah buatan kita sendiri.

Karena itu, hai Bangsa Indonesia, bangkitlah terus, berjuanglah terus, gemblénglah dirimu terus-menerus.

Fajar telah menyingsing. Matahari akan terbit.

Gemblénglah dirimu terus-menerus, dadarlah tubuhmu terus-menerus, agar supaya tubuh-mu itu nanti tahan menerima sinarnya Sang Surya yang Maha-sakti!

Dalam pidato Tahun Kemenangan sudah saya jelaskan, bahwa kemenangan kita tahun yang lalu itu barulah “permulaan Kemenangan”. Apa gunanja satu permulaan kalau tidak dilanjutkan? Bahkan sebenarnya, “Kemenangan terakhir” pun tidak ada! Juga jikalau kita sudah memasuki tamansarinya masyarakat adil dan makmur, kita masih harus melanjutkan perjuangan. Sebab yang adil masih harus diusahakan menjadi lebih adil, yang makmur masih harus diperjuangkan menjadi lebih makmur! Lebih adil, lebih makmur, lebih luhur, lebih indah, lebih bahagia, – tiada hentinya rantai perjuangan sesuatu bangsa yang benar-benar Bangsa yang berjuang! Dan hanya Bangsa yang berjuanglah, bisa menjadi bangsa yang Besar. Apalagi Revolusi kita-ini selalu minta lebih-ini lebih-itu saja. Revolusi kita adalah satu “revolution of rising demands”, malah juga boleh disebut “revolution of exploding demands”. Tuntutan-tuntutannya Revolusi kita selalu bertambah, tuntutan-tuntutannya Revolusi kita selalu meledak! Karena itu berjuanglah terus hai Bangsa Indonesia! Terus-menerus tanpa berhenti, sebagai satu Gerojogan yang maha-sakti! Sang surya akan terbit, sambutlah Sang Surya itu sebagai satu bangsa yang Berjuang!!

Terimakasih!

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 210 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar