Home » 2016 » August » 30 » Genta Suara Republik Indonesia
1:55 PM
Genta Suara Republik Indonesia

<<<sebelumnya.....  Ini semua merupakan satu réntétan, satu rantai yang sambung-menyambung, satu proses konfrontasi. Baru jika kita sudah melampaui proses konfrontasi semacam ini, maka kitapunya Revolusi meningkat kepada tingkat “selfpropelling growth”. Tetapi juga dalam tingkat selfpropelling growth itu kita masih dihadapkan kepada konfrontasi-konfrontasi. Tetapi konfrontasi lain macam! Yaitu konfrontasi terhadap diri kita sendiri. Konfrontasi “positif”. Konfrontasi yang juga dinamakan “tantangan”. Konfrontasi yang dinamakan “challenge-challenge”-nya perjuangan. Konfrontasi terhadap pada persoalan-persoalan pembangunan. Konfrontasi terhadap kita sendiri: bisakah atau tidak kita-ini membangun Sosialisme?

Sekarang tergantung dari kita sendirilah, apakah kita ini sanggup menjalankan konfrontasi-konfrontasi macam baru itu, ataukah tidak?

Sekarang, sebab banyak hal yang sudah, saudara-saudara.

Survival? Sudah!!

Diakui oleh dunia luaran sebagai satu realitas yang nyata, – sebagai satu “living reality”, sebagai satu “established fact” yang tak dapat dibantah dan diabaikan? Sudah!!

Dianggap oleh banyak bangsa New Emerging Forces sebagai “Bangsa Pelopor” dalam Revolusi Umat Manusia? Sudah!!

Sudah! Semuanya sudah! Malahan hal-hal lain daripada Revolusi kita ini sudah dianggap oleh dunia sebagai “living realities” pula, satu realitas yang hidup, bahkan satu contoh yang baik. Demokrasi Terpimpin misalnya tidak lagi dikatakan satu diktator, atau satu “rubber stamp-democracy”, tetapi satu realitas Indonesia yang hidup, dan oleh banyak bangsa dianggap sebagai satu contoh yang baik. Manipol dianggap oleh banyak bangsa progresif sebagai satu contoh yang baik. U.S.D.E.K. dianggap sebagai satu contoh yang baik. Resopim dianggap sebagai satu contoh yang baik. Kepribadian Nasional, yang dulu dianggap sebagai satu kecongkakan nasional, dianggap sebagai satu contoh yang baik. Gotong Royong, Musyawarah, Mufakat, soko-guru-soko-gurunya Revolusi kita, dianggap sebagai satu contoh yang baik.

Gengsi-Revolusi Indonesia di luar negeri membubung setinggi langit!!

Banyak orang di luar negeri sekarang ini menganggap Revolusi Indonesia itu, – sesuai dengan anggapan kita sendiri -, sebagai salah satu Revolusi yang terbesar di kalangan Umat Manusia sepanjang masa, satu Revolusi yang paling modern dalam arti progresivitas yang dinamis dan dialektis, dalam gegap-gempitanya dunia modern zaman sekarang.

Nah, dengan itu semua, cukuplah alasan untuk berbesar hati. Cukuplah alasan untuk tidak mundur setapakpun menghadapi konfrontasi-konfrontasi macam baru yang saya maksudkan tadi. Cukuplah alasan untuk berderap terus ke arah Fajar Sosialisme yang telah menyingsing di cakrawala Indonesia. Ya, kita Insya Allah menang! Menang! Sekali lagi Insya Allah MENANG! Ini bukan kesombongan! Ini bukan zelfgenoeg-zaamheid! Ini bukan kecongkakan, melainkan sekedar kepercayaan kepada diri kita sendiri, sekedar kesadaran tentang potensi-potensi dan kemampuan-kemampuan yang nyata dari bangsa Indonesia sendiri, juga jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan dari bangsa-bangsa yang lain. Dan adakah sesuatu bangsa yang dapat meneruskan Revolusinya dan menyelesaikan Revolusinya, jika ia tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, tidak mempunyai kesadaran tentang kemampuan-kemampuan diri sendiri? Sesuatu bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, tidak dapat berdiri langsung.

“A Nation without faith cannot stand”.

Nah, dengan isi-jiwa yang penuh dengan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri itulah, kita kini memasuki Phase Baru dalam Revolusi kita. Kita kataku, memasuki “selfpropelling growth”. Kita menuju kepada sasaran. Kita menuju kepada Fajar Sosialisme Indonesia. Ini berarti bahwa dengan Sosialisme Indonesia itu, – kerangka ke-II daripada Revolusi Indonesia -, sudah besok pagi atau besok lusa akan tercapai. Tidak! Samasekali tidak! Sosialisme Indonesia baru sedang berfajar! Mataharinya akan terbit menyinari tanah-air kita, bukan besok pagi atau besok lusa, – yakinilah ini! – tetapi sesudah kita berderap secara ulet, membanting tulang setiap hari, memeras tenaga terus-terusan, menjalankan konfrontasi macam baru tanpa putusnya. Pendek-kata kita masih harus terus ber-Revolusi!

Syarat-syarat dan alat-alat untuk melanjutkan Revolusi gaya-baru ini sudah kita adakan.

Apa syarat-syarat dan alat-alat itu?

Di lapangan politik kita sudah menjalankan Demokrasi Terpimpin. MPRS., DPRGR., DPA., rapat-rapat-gabungnn antara Pemerintah dan M.P.N., Depertan, M.P.P.R., KOTOE, KOTI, dan lain sebagainya, – itu semua adalah pengeja-wantahan daripada Demokrasi Terpimpin, sehingga demokrasi Terpimpin itu benar-benar adalah satu “living democracy” dan bukan satu “Rubberstamp-democracy” sebagai yang musuh-musuh kita katakan. Saya tidak mengatakan, bahwa Demokrasi Terpimpin sebagai yang kita jalankan sampai sekarang ini sudah sempurna sebagai alat Revolusi, sudah perfect sebagai alat Revolusi, tetapi tak boleh dibantah bahwa demokrasi parlementer liberal tidak bisa dipakai dalam Revolusi Indonesia yang menuju kepada Sosialisme, dan bahwa qua sistim Demokrasi Terpimpin adalah satu-satunya Demokrasi yang tepat bagi bangsa Indonesia dengan segala kepribadiannya dalam menuju kepada Sosialisme Indonesia. Dan manakala Demokrasi Terpimpin yang kita jalankan sampai sekarang ini belum sempurna, belum perfect, maka kewajiban kita ialah menyempurna-kan Demokrasi Terpimpin itu. Bergandengan dengan usaha penyempurnaan inilah tepatnya anjuran saya untuk selalu “think and rethink”, “shape and reshape”, – think and rethink, shape and reshape, dan tidak ngglenggem saja dalam textbook-thinking, ngglenggem saja dalam menelan segala cekokan dari luar, ngglenggem saja dalam alamnya Hollands denken.

Juga dalam hal perikehidupan politik kita harus ber-“selfpropelling growth”. Pikirkan sendiri, janganlah menjiplak saja; pelajarilah pengalaman sendiri, pelajarilah pengalaman bersama! Mendakilah terus atas pendakian sendiri, majulah terus atas kemajuan sendiri, mekarlah terus atas kemekaran sendiri! Dan mendakilah bersama! Majulah bersama! Mekarlah bersama! Think and rethink, shape and reshape, bukanlah tugas dari Pemimpin Besar Revolusi sendiri saja, tidak!, melainkan adalah tugas kolektif dari semua pemimpin, semua tokoh politik, semua politieke denkers deer natie, bahkan tugas kolektif dari seluruh Rakyat Indonesia.

Kemarin saya katakan di Gedung Pola:

Apa yang saya perbuat tempohari mengenai perikehidupan politik itu? Saya tempohari sebagai Presiden Republik Indonesia sekedar mencetuskan Demokrasi Terpimpin sebagai hasil penggalian daripada kekayaan rakyat Indonesia, yang terpendam selama penjajahan asing beratus-ratus tahun. Tetapi pertumbuhannya selanjutnya ke arah konsolidasi, pertumbuhan, pertumbuhan selanjutnya ke arah perfeksi, hingga menjadi tradisi baru dan alat yang efektif dalam Revolusi Indonesia, itu adalah tugas dari seluruh Rakyat Indonesia sendiri.

Jangan Rakyat Indonesia dan para tokoh-tokoh-politiknya hanya menjadi penonton saja dalam mempertumbuhkan Demokrasi Terpimpin itu, sambil menyerahkan segala sesuatunya kepada Pemimpin Besar Revolusi. Jangan Rakyat Indonesia dan para tokoh-politiknya hanya menunggu “follow-up” nya saja dari mulutnya Pemimpin Besar Revolusi, – menyerahkan segala pemerasan otak kepada Pemimpin Besar Revolusi.

Sungguh, Domokrasi Terpimpin bukan “pemberian” saya, Bukan “pemberian” saya. Demokrasi Terpimpin adalah milik dari Bangsa Indonesia, tidak hanya untuk sekarang, tetapi juga untuk generasi-generasi yang akan datang. Sebab ia adalah hasil penggalian dari bumi sendiri. Karena itu maka kita semua harus memeras otak dan memeras energi untuk menyempurnakan Demokrasi Terpimpin itu sebagai alat Revolusi.

Ingat apa yang saya katakan dalam rapat raksasa Front Nasional di Senayan tempohari? Waktu itu saya berkata: “Jikalau umpamanya sekarang turun satu Malaikat dari langit, dan berkata kepada saya: “Hai Sukarno, akan aku beri kemu’jizatan kepadamu, untuk memberi satu masyarakat adil dan makmur kepada Rakyat Indonesia sebagai hadiah, sebagai “persenan”, sebagai cadeau – maka saya akan menjawab: “Saya tidak mau diberi mu’jizat yang demikian itu, saya menghendaki yang masyarakat adil dan makmur itu adalah hasil perjuangan daripada Rakyat Indonesia sendiri!”

Demikian pula maka saya menghendaki penyempurnaan dari Demokrasi Terpimpin itu sebagai hasil pemikiran kolektif daripada seluruh Rakyat Indonesia.

Alat yang lain untuk menyelesaikan Revolusi kita ialah Kader. Ingat pidato saya 15 tahun yang lalu yang intinya bukan “machines decide everything”, tetapi “cadres decide everything”? Bukan mesin menentukan segala tetapi Kader menentukan segala hal?

Dalam Revolusi yang sudah terutama sekali bersifat Revolusi Pembangunan, – bukan terutama sekali Revolusi yang masih “struggle to survive” -, maka Kader adalah perlu maha-perlu. Bukan puluhan. Bukan ratusan. Bukan ribuan. Tetapi puluhan ribu Kader di segala lapangan. Kader yang mengerti Revolusi. Kader yang mengerti segala landasan-landasan Revolusi. Kader yang merasakan dirinya alat Revolusi. Kader yang mengerti kerangka-kerangka Revolusi. Kader yang gandrung Sosialisme Indonesia. Kader yang berjiwa Manipol-U.S.D.E.K. Kader yang mati-matian. Kader Resopim. Kader yang suka bekerja. Kader yang suka membanting tulang, – Kader Revolusi! – bukan kader yang hanya perténtang-perténténg saja jual bagus.

Alat lain ialah Front Nasional.

Adakah Front Nasional satu alat Revolusi?

Front Nasional adalah satu alat Revolusi, oleh karena Front Nasional harus menampung segala kegiatan politik daripada massa. Baik yang tergabung dalam organisasi-organisasi politik, maupun yang tergabung dalam organisasi-organisasi Karya, agar supaya menjadi satu kegiatan simultan pembantu Revolusi. Iapun harus menyusun Kader-kader baru, menyusun golongan-golongan baru, agar semua funds and forces dapat ikut serta dalam kegiatan politik guna kelancaran Revolusi. Dan ia harus menggembleng semua tenaga politik, semua tenaga Karya, semua tenaga-tenaga lain-lain, agar supaya mereka menjadi satu gelombang yang mahasakti daripada aktivitas Demokrasi Terpimpin meladéni Revolusi.

Front Nasional, pendek-kata, diwajibkan untuk membentuk satu “insan politik baru”, – politiek-wezen yang baru, satu “insan politik” yang selalu mengabdi kepada Revolusi Indonesia, kepada kepribadian Indonesia, kepada alam-fikiran Indonesia, kepada sumber-sumber Indonesia, – satu “insan politik baru” sebagai dimaksud oleh Manipol/U.S.D.E.K. dan Resospim. Seluruh warga Indonesia, seluruh ibu-bapa-putera-puteri Indonesia, althans sebagian besar daripadanya, harus digembléng oleh Front Nasional itu menjadi apa yang saya namakan “patriot komplit”!

Di zaman penjajahan, gerak dalam lapangan politik dianggap tabu, oleh karena dapat merongrong kekuasaan kolonial.

Di zaman demokrasi liberal, gerak dalam lapangan politik sering dianggap kotor, oleh karena “politik” di zaman liberal itu berupa politik rongrong-merongrong, rebut-merebut, jegal-menjegal, fitnah-memfitnah, maki-memaki.

Tetapi di alam Revolusi sekarang ini, di alam Demokrasi Terpimpin, diharap bahwa semua warga menjadi insan politik. Tidak cukup bahwa warga Indonesia hanya mengenal lagu Indonesia Raya saja, atau mampu menyanyikan lagu “Dari Barat sampai ke Timur” saja, atau lagu “Rayuan Pulau Kelapa”.

Memang bagi patriotnya Revolusi, politik bukanlah perebutan kekuasaaan bagi partainya masing-masing. Politik bukanlah persaingan untuk menonjolkan ideologi sendiri-sendiri. Politik bukan penjualan jamu di pasar Tanah Abang atau di Pasar Senen, politik bukan penjualan kecap. Politik ialah mengabdi Revolusi, mempertumbuhkan Manipol, mem-perkembangkan U.S.D.E.K., menghidup-hidupkan Resopim di kalangan Rakyat. Politik ialah menyelamatkan dan menyelesaikan Revolusi Indonesia, menyelamatkan Revolusi Dunia.

Demikianlah tugas Front Nasional. Tugas pokok dari Front Nasional! Tugas-pokok lni harus dikerjakan dengan seluruh kegiatan, seluruh energi Revolusioner yang menyala-nyala. Dan Panca Program Front Nasional saya anggap tidak menyimpang dari tugas-pokok Front Nasional itu, bahkan membantu kepada realisasi tugas-pokok itu, dan memang berada di atas Rilnya Revolusi. Karena itu maka saya menyatakan menerima Panca Program itu, dan mengkomandokan agar supaya Panca Program Front Nasional itu dijalankan oleh seluruh anggota Front Nasional yang 20.000.000, bahkan oleh segenap Bangsa Indonesia dari Barat sampai ke Timur. Saya terima dan komandokan itu, karena kataku tadi, Panca Program adalah berada di atas Rilnya Revolusi, dan – oleh karena penyelenggaraan Panca Program itu adalah satu revolutionnaire gymnastiek yang baik, satu revolutionnaire gymnastiek yang efektif sekali untuk menggémbléng dan menguletkan perjuangan massa, – satu revolutionnaire gymnastiek untuk menempa tenaga massa, mendadar tenaga massa, membajakan kemauan massa, mengapikan semangatnya massa.

Revolusi tidak dapat berjalan tanpa massa yang bersemangat api, tak dapat bernama Revolusi tanpa massa yang bergerak, berusaha, berkemauan laksana baja, berjuang dan sekali lagi berjuang, berjiwa geledek, bernyawa petir, – seperti yang saya katakan dalam pidato Maulid Nabi tempohari. Itulah sebabnya saya tidak mau terima, kalau umpamanya ada malaikat memberikan mu’jizat kepada saya untuk mengcadeaukan, menghadiahkan, memersenkan Masyarakat Adil dan Makmur kepada Rakyat tanpa Rakyat itu sendiri berjuang!

Panca Program Nasional! Apakah Panca Program itu?

Satu: “Mengkonsolidasikan kemenangan-kemenangan di bidang keamanan dan Irian Barat”, ya saya terima!; dua: “Menaggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi dengan mengutama-kan kenaikan produksi”, ya saya terima!; tiga “Meneruskan perjuangan melawan imperialisme dan neokolonialisme dengan memperkuat kegotong-royongan nasional revolusioner”, ya saya terima!; empat: “Meratakan dan mengamalkan indoktrinasi”, ya, saya terima juga!; lima: “Melaksanakan rituling aparatur negara, termasuk bidang pemerintahan dari pusat sampai ke daerah-daerah”, ya! Saya terima juga!

Dan sebagai dalam pidato saya di musyawarah besar Front Nasional tempohari, maka di sinipun saya berkata: “Hayo Front Nasional, jalankan Panca Program itu, saya menyetujuinya, – hayo Rakyat Indonesia, jalankan Panca Program itu, saya menyetujuinya!”

Dengan menjalankan Panca Program itu, engkau maju selangkah lagi di atas Rilnya Revolusi, dan engkau akan bertambah menjadi massa revolusioner yang otot-kawat-balung-wesi!

Sedikit mengenai nomor pertama daripada Panca Program Front Nasional itu. Yaitu yang berbunyi: “Mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan di bidang keamanan dan Irian Barat”.

Punt ini saya ya-kan kataku! Betapa tidak! Musuh-musuh kita masih berat. Musuh-musuh kita masih belum masuk lobang kubur. Ia masih ada, ia masih berdiri, ia masih siap-sedia. Tidak bosan-bosan, – boleh dikatakan sampai mulut saya ini meniren -, saya mencanangkan dari bubungan-bubungan rumah dari puncak-puncaknya pohon, bahwa imperialisme belum mati, bahwa neo-kolonialisme belum mati. Kalau kemenangan-kemenangan kita di bidang keamanan dan Irian Barat tidak kita konsolidasi, maka musuh-musuh kita setiap saat siap-sedia untuk menerkam kembali kemenangan-kemenangan yang telah kita peroleh itu.

Di Irian Barat misalnya, disebar-sebarkan kampanye-bisik-bisik, bahwa katanya “di bawah Republik keadaan adalah mundur dibandingkan dengan di bawah bendera merah-putih-biru”, Mundur? Lho, mundur dalam hal apa? Dan kalau kita sudah menanya secara konkrit demikian itu, yaitu pertanyaan-“mundur dalam hal apa?”-, maka ternyata soalnya ialah: bir kaléngan sekarang di Irian Barat kurang! Wah, wah, wah, wah, wah, demikianlah moral kolonial! mengukur harkat sesuatu bangsa dengan banyaknya bir kaléngan!

Saudara-saudara di Irian Barat!, hai saudara-saudara di Irian Barat! Hai saudara-saudara di Kotabaru, di Sorong, di Merauke, – hai saudara-saudara di léréng Gunung Trikora, Gunung Sukarno, Gunung Sudirman, Gunung Yamin!, – Republik memang tidak pernah menjanjikan bir kalengan kepada Rakyat di Irian Barat! Republik Indonesia menjanjikan dan melaksanakan kemerdekaan, Republik menjanjikan dan medatangkan sinar Terang dan Cahaya! Sinar Terang dan Cahaya, – bersama-sama dengan saudara-saudaramu di lain-lain pulau di Nusantara, – bersamaku, bersamamu, bersama kita, bersama seluruh Rakyat Indonesia!

Dan bagaimana sikap musuh mengenai keamanan yang telah kita capai? Bukan? Irian Barat telah kita capai, keamanan telah kita capai, – dari Triprogram Pemerintah tinggal saja Sandang-Pangan yang masih harus kita capai, – bagaimana sikap musuh mengenai keamanan?

Di bidang inipun mereka tidak jera-jera. Kaum reaksi dan kaum kontra-revolusioner memang ulet. Atau lebih tegas: Kaum reaksi dan kontra-revolusioner memang tambeng! Ada saja caranya mereka mengganggu keamanan! Dari subversi-subversi besar-kecil yang berupa pemberontakan-pemberontakan atau bajinganisme-bajinganisme di lapangan ekonomi, sampai menghasut bakar-bakar mobil, bakar-bakar toko, pecahkan jendela-jendela kaca, – sampai percobaan-percobaan pembunuhan, – sampai kampanye-kampanye-bisik-bisik terhadap dirinya Bung Karno, – ini semua mereka jalankan.

Saking jengkelnya kawan-kawan kita melihat ketambengan kaum reaksi dan kaum kontra-revolusi ini, maka kawan-kawan itu mengusulkan supaya Panglima Tertinggi memaklumkan saja lagi berlakunya “SOB”. Jalankan kembali SOB, Pak. Saya menjawab:

Tidak! Saya sebagai Panglima Tertinggi tidak akan memaklumkan lagi berlakunya SOB, tetapi saya Panglima Tertinggi Insya Allah akan tidak ragu-ragu memberikan komando supaya setiap kontra-revolusi dibekuk batanglehernya!, – dibekuk batang lehernya, sampai patah samasekali!!

Ada lagi satu punt dari Panca Program Front Nasional yang mau saya teropong.

Yaitu punt kedua: “menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi dengan mengutamakan kenaikan produksi”.

Alangkah tepatnya punt ini!

Memang masalah ekonomi meminta perhatian kita sepenuh-penuhnya. Tidakkah sandang-pangan salah satu punt daripada Triprogram Pemerintah? Dan tidakkah “ekonomipun” salah satu “punt” dari Revolusi kita ini?

Sebagai Pemimpin Besar Revolusi saya menarohkan minat yang besar kepada “punt” ekonomi ini. Tetapi terus-terang: Saya bukan ahli ekonomi, saya bukan ahli dalam tekniknya ekonomi, saya bukan ahli dalam teknik perdagangan. Saya revolusioner, dan saya sekadar “ekonomis revolusioner”.

Perasaan dan fikiran saya mengenai persoalan ekonomi adalah sederhana, amat sederhana sekali. Boleh dirumuskan sebagai berikut: “Kalau bangsa-bangsa yang hidup di padang pasir yang kering dan tandus bisa memecahkan persoalan ekonominya, kenapa kita tidak?”

Kenapa kita tidak? Coba fikirkan!

Satu! Kekayaan alam kita, yang sudah digali dan yang belum digali, adalah melimpah-limpah.

Dua! Tenaga-kerjapun melimpah-limpah, di mana kita berjiwa 100.000.000 manusia!

Tiga! Rakyat Indonesia sangat rajin, dan memiliki ketrampilan yang sangat besar; ini diakui oleh semua orang luar negeri.

Empat! Rakyat Indonesia memiliki jiwa Gotong-royong, dan ini dapat dipakai sebagai dasar untuk mengumpulkan segala funds and forces.

Lima! Ambisi daya-cipta Bangsa Indonesia sangat tinggi, – di bidang politik tinggi, di bidang sosial tinggi, di bidang kebudayaan tinggi -, tentunya juga di bidang ekonomi dan perdagangan.

Enam! Tradisi Bangsa Indonesia bukan tradisi “tempe”. Kita di zaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok.

Maka mau apa lagi!, demikianlah kesederhanaan fikiran saya. Jikalau semua sifat-sifat baik dan modal-modal baik yang saya sebutkan tadi itu kita exploatir secara efektif, maka niscaya soal sandang-pangan (meskipun sederhana) adalah satu soal yang mudah dipecahkan di waktu yang pendek. Rakyat padang pasir bisa hidup, – masa kita tidak bisa hidup! Rakyat Mongolia (padang pasir juga) bisa hidup, – masa kita tidak bisa membangun satu masyarakat adil dan makmur, gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, di mana si Dulluh cukup sandang cukup pangan, si Sarinem cukup sandang cukup pangan? Kalau kita tidak bisa menyelenggarakan sandang-pangan di tanah-air kita yang kaya ini, maka sebenarnya kita sendiri yang tolol, kita sendirilah yang maha-tolol!

Malah dalam kesederhanaan fikiran saya itu, saya gembira, bahwa bangsa kita bukanlah satu Bangsa yang “sudah terlanjur salah terbentuk”, bukan satu bangsa yang sudah terlanjur “salah kedadén”, – bukan satu Bangsa yang sukar dirubah lagi susunan masyarakatnya.

Untuk memecahkan persoalan-persoalan ekonomi pada bangsa-bangsa yang sudah “jadi”, apalagi pada bangsa-bangsa yang dinamakan “nations arriveés”, barangkali diperlukan orang-orang yang mahir dalam routine ekonomi, diperlukan pengetahuan ilmu ekonomi yang amat njlimet, diperlukan pengetahuan ekonomi yang amat teknis, amat “ahli”, amat “expert”.

Tetapi Alhamdulillah, saya mengetahui bahwa persoalan ekonomi kita tidak harus dipecahkan secara routine. Persoalan ekonomi kita adalah persoalan ekonominya Revolusi. Kita memang Bangsa dalam Revolusi, dan Revolusi bukan routine, segala persoalan-persoalannya bukan routine, ekonominyapun bukan routine.

Kita adalah satu Bangsa dalam keadaan Revolusi Multicomplex, yang antara lain meliputi revolusi ekonomis. Dus: Masalah ekonomi adalah bagian daripada Revolusi kita itu. Dus: Masalah ekonomi harus kita hantir sebagai bagian daripada Revolusi kita! Dus: Masalah ekonomi harus kita hantir sebagai alat Revolusi. Dus: Masalah ekonomi tak dapat dan tak boleh kita tanggulangi secara routine. Saya kira, ini terang, ini gamblang. Anak kecil bisa mengerti.

Dengan back-ground (latar-belakang) kesederhanaan fikiran itulah, maka tahun yang lalu saya mengatakan bahwa persoalan sandang-pangan bisa kita atasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sekarang sudah satu tahun berlalu. Bagaimana perkataan saya sekarang? Masih saja berkata: Insya Allah, persoalan sandang-pangan akan kita pecahkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dalam pada itu, tetap sebagai tahun yang lalu, saya, mengenai sandang-pangan yang belum bérés ini, berkata: “silahkan, silahkan saudara-saudara marahi saya, silahkan menunjukkan jari kepada saya, silahkan hujankan keberangan saudara kepada saya, – dan saya akan terima semua itu dengan hati yang tenang”.

Apa yang bisa saya katakan, daripada meminta kesabaran saudara lagi sejurus waktu? Saya telah mengeluarkan Deklarasi Ekonomi yang terkenal dengan nama Dekon, dan 14 peraturan Pemerintahpun sudah keluar. Saya sekarang hanya berkata: sabar sejurus waktu lagi, sabar, – wait and see!

Apa itu Dekon sebenarnya?

Dengarkan!

Manakala Manipol menyatakan “stop” kepada penyeléwéngan-penyeléwéngan di bidang politik, maka Dekon menyatakan “stop” kepada penyeléwéngan-penyeléwéngan di bidang ekonomi. Dengan singkat saya bisa berkata, bahwa Dekon adalah Manipolnya Ekonomi.

Dengan adanya Dekon, orang tidak diperkenankan lagi mengkisruhkan dua tahapan Revolusi.

Di satu fihak, tidak dibenarkan pendapat yang menyangkal bahwa hari-depan kita adalah sosialisme. Dus: tidak ditolerir konsepsi-konsepsi, keinginan-keinginan dan tindakan-tindakan yang serba menuju kepada kapitalisme.

Di fihak lain, tidak ditolerir pendapat, bahwa sosialisme bisa diselenggarakan “satu kali pukul”, – yaitu: dari keadaan sekarang een-twee-drie melompat kepada sosialisme, sebagai orang een-twee-drie melompati satu selokan -, tanpa menyelesaikan lebih dahulu perjuangan nasional-demokratis, yaitu tanpa menghabis-habiskan lebih dahulu sisa-sisa imperialisme dan feodalisme.

Dekon mengatakan hal ini dengan jelas dan tegas! Karena itu saya pun sering sekali menandaskan bahwa kita sekarang ini belum, belum, belum, belum berada dalam alam sosialisme.

Dan berhubung keharusan mengutamakan kenaikan produksi, saya tegaskan di sini buat kesekian kali banyaknya pula, bahwa tenaga-tenaga yang paling produktif adalah buruh dan tani. Buruh dan tani adalah soko-guru-soko-gurunya Revolusi! Oleh karena itu maka usaha menaikkan produksi tidak saja harus secara negatif “tidak boleh memusuhi buruh dan tani”, tetapi secara positif harus mengembangkan tenaga-produktif daripada buruh dan tani. Tanpa tenaga buruh dan tani, tidak mungkin menaikkan produksi!

Kecuali itu, kita sekarang juga mempergunakan tenaganya Angkatan Bersenjata untuk menaikkan produksi itu. Angkatan Bersenjata sekarang sedang diperintahkan untuk juga menjalankan apa yang dinamakan “civic missions”. Mengenai Civic Missions ini adalah laporan baik dari Wampa KASAB Jenderal Nasution di tangan saya, tetapi berhubung dengan waktu, tidak dapatlah laporan itu saya bacakan di sini. Laporan itu akan saya lampirkan saja sebagai Lampiran yang menyusul.

Demikian pula laporan yang diberikan kepada saya oleh Menteri Jenderal Sambas.   .....selanjutnya>>>

 

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 240 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Rating: 5.0/1
Total comments: 0
avatar