Home » 2016 » August » 30 » Genta Suara Republik Indonesia
1:59 PM
Genta Suara Republik Indonesia

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1963 DI JAKARTA

Saudara-saudara sekalian!

Sebagaimana biasa, maka pada tiap-tiap hari 17 Agustus saya berdiri di hadapan saudara-saudara sekalian. Ini kali di Stadion-Utama Gelora Bung Karno, sedang dahulu selalu di muka Istana Merdeka. Tetapi pada pokoknya : berhadapan dengan Rakyat Indonesia, – muka dengan muka, wajah dengan wajah, jiwa dengan jiwa, semangat dengan semangat, tekad dengan tekad – Rakyat Indonesia, baik yang terkumpul di stadion ini, maupun di seluruh Nusantara melalui radio dan televisi, maupun yang di luar negeri melalui radio dan televisi pula. Dan sayapun sadar, bahwa saya pada tiap hari 17 Agustus itu berhadapan pula dengan dunia luar yang bukan Indonesia, baik sebagai kawan berhadapan dengan kawan, maupun sebagai lawan berhadapan dengan lawan. Dengan kawan-kawan itu saya laksana bermusyawarah atau berkonsultasi antara Ego dengan Alter Ego, – dengan lawan-lawan itu saya tanpa tédéng aling-aling laksana berkonfrontsi “ini dadaku mana dadamu!”. Sebab di sini saya berdiri tidak sebagai Sukarno-pribadi, tetapi sebagai Sukarno penyambung lidah Rakyat Indonesia, – sebagai Sukarno Penyambung Lidah Revolusi Indonesia!

Saya berdiri di sini sebagai warganegara Indonesia, sebagai patriot Indonesia, sebagai alat Revolusi Indonesia, sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, – sebagai Pengemban Utama daripada Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia.

Kita semua yang berdiri dan duduk di sini harus merasakan diri kita sebagai pengemban Amanat Penderitaan Rakyat! Saya bertanya, sudahkah engkau semua, hai saudara-saudara!, engkau … engkau … engkau … engkau, sudahkah engkau semua benar-benar mengerti dirimu sebagai Pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, benar-benar menyadari dirimu sebagai pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, benar-benar menginsyafi dirimu sebagai Pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, benar-benar merasakan dirimu, sampai ketulang-tulang-sungsummu, sebagai Pengemban Amanat Penderitaan Rakyat? Amanat Penderitaan Rakyat, yang menjadi tujuan perjuangan kita, – sumber kekuatan dan sumber keridlaan-berkorban daaripada perjuangan kita yang maha dahsyat ini? Sekali lagi engkau semua, – engkau semua dari Sabang sampai Merauke! -, sudahkah engkau semua benar-benar sadar akan hal itu?

“Dari Sabang sampai Merauke”, – empat perkataan ini bukanlah sekedar satu rangkaian kata ilmu bumi. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekedar menggambarkan satu geographisch begrip. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekadar satu “geographical entity”. Ia adalah merupakan satu kesatuan kebangsaan. Ia adalah satu “national entity”. Ia adalah pula satu kesatuan kenegaraan, satu “state entity” yang bulat-kuat. Ia adalah satu kesatuan tekad, satu kesatuan ideologis, satu “ideological entity” yang amat dinamis. Ia adalah satu kesatuan cita-cita sosial yang hidup laksana api unggun, – satu entity of social-consciousness like a burning fire. Dan sebagai yang sudah saya katakan dalam pidato-pidato saya yang lalu, social consciousness kita ini adalah bagian daripada social consciousness of man. Revolusi Indonesia adalah kataku tempohari congruent dengan the social conscience of man!

Kesadaran sosial dari Rakyat Indonesia itulah pokok-hakekat daripada Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia. Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia itu adalah dus bagian daripada social consciousness of mankind. Dus amanat Penderitaan Rakyat Indonesia adalah bagian daripada Amanat Penderitaan Rakyat daripada seluruh kemanusiaan!

Dus Amanat Penderitaan Rakyat kita bukanlah sekadar satu pengertian atau tuntutan nasional belaka. Amanat Penderitaan Rakyat kita bukan sekedar satu “hal Indonesia”. Amanat Penderitaan Rakyat kita menjalin kepada Amanat Penderitaan Umat Manusia, Amanat Penderitaan Umat Manusia menjalin kepada Amanat Penderitaan Rakyat kita. Revolusi Indonesia menjalin kepada Revolusi Umat Manusia, Revolusi Umat Manusia menjalin kepada Revolusi Indonesia. Pernah saya gambarkan hal ini dengan kata-kata: “there is an essential humanity in the Indonesian Revolution”. Pernah pula saya katakan bahwa Revolusi Indonesia mempunyai suara yang “mengumandang sejagad”, yakni bahwa Revolusi Indonesia mempunyai “universal voice”.

Pantaslah bahwa Revolusi Indonesia yang demikian itu, bukanlah satu revolusi kecil-kecilan. Pantaslah bahwa Revolusi Indonesia adalah satu Revolusi yang “multy-complex”. Pantaslah bahwa Revolusi Indonesia dinamakan kumpulan daripada beberapa revolusi dalam satu generasi, – dinamakan “a summing up of many revolutions in one generation”. Pantaslah bahwa ada orang yang menamakan Revolusi Indonesia itu seperti pemandangan-alam dalam sebuah kékér, – “a telescoped revolution”.

Coba perhatikan pula: Revolusi Indonesia bukan hanya menuntut sandang-pangan! Kalau ia hanya menuntut sandang-pangan saja, maka ia bukan Revolusi Multicomplex, bukan “many revolutions in one generation”, bukan telescoped revolution”. Bukan! Revolusi Indonesia menuntut banyak hal-hal lain. Ia meliputi seluruh aspirasi kemanusiaan. Ia adalah congruent dengan the social conscience of man. Karena itu maka ia “telescoped”. Karena itu maka ia “a summing up of many revolutions in one generation”.

Coba bandingkan.

Golongan Negro di Amerika sekarang sedang dalam Revolusi, – Revolusinya Social Conscience of Man. Adakah mereka menuntut sandang-pangan? Tidak! Mereka menuntut perlakuan sebagai Manusia yang Sama, perlakuan yang “congruent dengan social conscience of Man”.

Maka dari itu, saudara-saudara!, janganlah sekali-kali lupa bahwa cita-cita kita ini adalah luhur. Cita-cita luhur yang memang cita-citanya seluruh Kemanusiaan, cita-cita luhur yang mengumandang di dalam kalbunya seluruh Kemanusiaan!

Di sinilah letaknya sumber semangat kita! Di sinilah letaknya sumber simpati seluruh New Emerging Forces kepada kita. Di sinilah letaknya sumber ridho Tuhan kepada kita, – Ridho Tuhan yang selalu menolong kepada kita kalau kita hendak dibinasakan musuh, Ridho Tuhan yang selalu menolong kepada kita kalau kita hendak ditumpas oleh lawan. Ridho Tuhan yang membuat kita tetap tegak meski dihujani api dan gélédek dan guntur dalam aksi-aksi-militer yang maha dahsyat, Ridho Tuhan yang membuat kita tetap jaya meski hendak di odél-odél oleh pemberontakan-pemberontakan seperti D.I.-T.I.I., P.R.R.I. dan Permesta, Ridho Tuhan yang membuat kita tetap berdiri meski digerogoti oleh segala macam subvesi, Ridho Tuhan yang membuat kita tidak rubuh meski tiap-tiap kali musuh kita mengatakan bahwa kita sebentar lagi pasti mengalami keruntuhan ekonomi, yaitu pasti mengalami satu “economic collapse”. Secara kebatinan saya berkata: “Kita tidak akan runtuh, kita tidak akan binasa, kita tidak akan tumpes, karena do’a seluruh Kemanusiaan mendukung kepada kita!”

All the Social Conscience of Man prays for our Victory!

Karena itu, hai seluruh bangsa Indonesia, tetap tegakkanlah kepalamu! Jangan mundur, jangan berhenti, tetap derapkanlah kakimu di muka bumi! Jikalau ada kalanya saudara-saudara hampir berputus asa, jikalau ada kalanya saudara-saudara kurang mengertinya jalannya Revolusi kita yang memang kadang-kadang seperti bahtera di lautan badai yang mengamuk ini, – kembalilah kepada sumber Amanat Penderitaan Rakyat kita yang congruent dengan Social Conscience of Man itu. Kembalilah kepada sumber itu, sebab di sanalah saudara akan menemukan kembali Rilnya Revolusi!

Saudara-saudara! Barangkali di antara saudara-saudara ada yang berfikir: “Bung Karno ini kali kok lain pembukaan pidatonya daripada pidato-pidato 17 Agustus yang sudah-sudah!” Benar demikian, saudara-saudara! Pembukaan pidatoku sekarang ini memang lain daripada pembukaan pidatoku yang sudah-sudah. Tahun yang lalu, misalnya, saya buka pidatoku dengan pembukaan yang mengungkapkan tabir yang menutupi jiwaku dalam mempersiapkan pidato yang kemudian saya namakan “Tahun Kemenangan” itu. Dalam kata pembukaan pidato “Tahun Kemenangan” itu saya berkata:

“Saya menulis pidato ini sebagaimana biasa dengan perasaan cinta yang meluap-luap terhadap tanah-air dan bangsa, tetapi ini kali dengan perasaan terharu yang lebih daripada biasa terhadap kepada keuletan Bangsa Indonesia, dan kekaguman yang amat tinggi terhadap kemampuan Bangsa Indonesia. Dengan terus-terang saya katakan di sini, bahwa beberapa kali saya harus ganti kertas, oleh karena air-mataku kadang-kadang tak dapat ditahan lagi. Tak dapat ditahan lagi, oleh rasa gembira pada diri sendiri, dan rasa terimakasih kepada seluruh Bangsa Indonesia yang telah menunjukkan keuletan yang sedemikian itu, dan rasa Syukur Alhamdulillah kepada Tuhan Yang Maha Adil, yang telah mengkurniai perjuangan yang ulet itu dengan pahala yang maha-tinggi. Dengan penuh rasa haru, tetapi pula dengan penuh keyakinan, saya menamakan dalam pidato ini, tahun 1962 sebagai Tahun Kemenangan. Dan dengan menamakan tahun 1962 ini Tahun Kemenangan, maka sekaligus saudara-saudara dapat mengerti apa sebab saya terharu, dan sekaligus pula dapat menangkap nada dari isi pidato ini”.

Demikianlah sebagian daripada kata-pembukaan pidato Tahun yang lalu.

Memang, – Allahu Akbar! – tiap-tiap kali kita mendekati 17 Agustus, tiap kali saya mempersiapkan sesuatu pidato 17 Agustus, saya selalu merasa jiwaku ini laksana dalam pintu-gerbangnya peletusan, – pintu-gerbangnya peledakan!

Hendak meledak, meraung, menangis, membahak, menjanji, oleh karena jiwa saya laksana tergempa oleh emosi-emosi yang maha-dahsyat, – emosi cinta dan emosi terharu terhadap tanah-air dan bangsa, emosi penuh dengan idealismenya Revolusi yang seirama dengan Revolusinya Kemanusiaan. Maka segenap fikiran saya, segenap pemasakan yang keluar dari otak saya, segenap isi pidato yang keluar dari geraknya tangan saya itu, sebagian besar, atau kadang-kadang seluruhnya, samasekali didasarkan atas perasaan-perasaan atau emosi itu, didasarkan atas dasar perasaan cinta-keranjingan atau haru-tersedu-sedu terhadap tanah-air dan bangsa, emosi yang menggempa karena idealismenya Revolusi yang menyakar bintang-bintang di langit, malahan mungkin menyakar lebih tinggi lagi daripada bintang-bintang di langit raya!

Ya! Sudah barang tentu Menteri Pertama selalu memberi bahan. Ketua M.P.R.S. selalu memberi bahan. Wakil-wakil Menteri Pertama memberi bahan. Semua menteri-menteri memberi bahan dalam berkas laporannya yang penuh angka-angka, penuh dengan fakta-fakta, penuh dengan pemandangan-pemandangan dan usul-usul, penuh dengan statistik-statistik yang menunjukkan kemajuan atau kemunduran dalam berbagai bidang. Bahan-bahan itu amat berguna, dan mutlak-perlu untuk mengetahui progresnya kitapunya usaha.

Dan saudara-saudarapun melihat bahwa saya di sana-sini mempergunakan bahan-bahan itu dalam penyusunan pidato-pidato 17 Agustus.

Apalagi jikalau saya berpidato sebagai perdana menteri! Maka bahan-bahan itu menjadi landasan-mutlak bagi saya jika saya memberikan amanat sebagai Presiden/Perdana Menteri, ataupun sebagai Presiden/Panglima Tertinggi. Jikalau saya berpidato amanat sebagai Presiden/Perdana Menteri kepada D.P.R.G.R. misalnya, atau sebagai Presiden/Mandataris memberi progress-report kepada M.P.R.S, atau sebagai Presiden/Panglima Tertinggi kepada perwira-perwira pada Hari Angkatan Bersenjata, maka bahan-bahan itu mutlak parlu. D.P.R.G.R., M.P.R.S., – lembaga-lembaga sejenis itu adalah lembaga-lembaga tertinggi daripada ketatanegaraan kita, dan saya berbicara kepada lembaga-lembaga itu dalam kapasitas Presiden/Perdana Menteri atau Presiden/Mandataris.

Tetapi seperti sekarang ini, pada hari ini, di stadion ini, saya berbicara langsung kepada rakyat, – rakyat seluruh Indonesia, – bahkan juga langsung kepada seluruh dunia, dari timur sampai ke Barat, dari Utara sampai ke Selatan. Saya sekarang tidak terutama sekali berbicara sebagai Presiden/Mandataris, tidak sebagai Presiden/ Perdana Menteri, tidak sebagai Presiden/ Panglima Tertinggi, – saya berbicara di sini sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, – saya berbicara di sini sebagai Presiden/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia!

M.P.R.S adalah Lembaga Negara, D.P.R.G.R. adalah Lembaga Negara, D.P.A. – Dewan Pertimbangan Agung, – adalah Lembaga Negara, tetapi kamu, kamu, kamu, kamu yang berada di sini, kamu di seluruh Nusantara, kamu di perantauan luar negeri, kamu adalah Lembaga Revolusi! Lembaga Revolusi!

Bagi saya, maka pertemuan dengan rakyat pada tiap-tiap 17 Agustusan itu adalah penting-maha-penting, bukan hanya karena pertemuan itu merupakan satu puncak acara, bukan hanya karena 17 Agustus adalah hari keramat, bukan hanya karena 17 Agustus selalu membangkitkan semangat baru, tekad baru, kekuatan baru, inspirasi baru, – tetapi oleh karena menurut rasa hati saya pertemuan 17 Agustus itu adalah pertemuan antara Pemimpin Besar Revolusi dan Lembaga Tertinggi daripada Revolusi.

Dalam tiap pertemuan 17 Agustus, dalam tiap pertemuan dengan Lembaga Tertinggi Revolusi sebagai sekarang ini, saya seperti mengadakan satu dialoog. Satu dialoog dengan siapa? Satu dialoog dengan Rakyat, satu pembicaraan-langsung-timbal-balik antara saya dan Rakyat, antara Ego-ku dan Alter-Ego-ku. Satu pembicaraan-langsung-timbal-balik antara Sukarno-manusia dan Sukarno-Rakyat, satu pembicaraan-langsung-timbal-balik antara kawan-seperjuangan dan kawan-seperjuangan. Satu pembicaraan-timbal-balik antara dua kawan yang sebenarnya Satu!

Itulah sebabnya maka saya, tiap kali saya mempersiapkan pidato 17 Agustus, – di Jogya-kah, di Jakarta-kah, di Bogor-kah, di Tampak Siring-kah -, lantas menjadi seperti dalam keadaan keranjingan. Segala yang gaib dalam tubuh saya lantas meluap-luap! Fikiran meluap-luap, rasa meluap-luap, saraf meluap-luap, emosi meluap-luap. Seluruh alam halus di dalam tubuh saya ini lantas seperti menggetar dan berkobar dan menggempa, dan bagiku, api lantas seperti masih kurang panas, samudera lantas seperti masih kurang dalam, bintang di langit lantas seperti masih kurang tinggi!

Sebab pidato 17 Agustus bagiku haruslah menjadi satu dialoog dengan kamu. Pidato 17 Agustus harus benar-benar menjadi penyambung lidahmu, hai saudara-saudara di gubug-gubug, hai saudara-saudara di béngkél-béngkél, hai saudara-saudara di sawah-sawah dan di ladang-ladang, hai saudara-saudara yang lidahmu tidak bisa berbicara sendiri. Pidato 17 Agustus sebagai dialoognya Pemimpin Besar Revolusi dengan Revolusi, – Revolusimu, Revolusiku -, tidak boleh sekadar dialoog kosong, tetapi harus pula pertumbuhan fikiran-fikiran-baru dan konsepsi-konsepsi-baru yang benar-benar dapat memberikan bimbingan kepada realistisnya aspirasi-aspirasi daripada Rakyat. Pidato 17 Agustus harus pula tidak segan mengoyag-oyag orang yang alpa, menjewer orang yang bersalah kecil, menempiling orang yang bersalah besaran, menghantam, menendang orang yang bersalah besar. Petunjuk, nasehat, koreksi, retooling, anjuran, konsepsi, zelfkritiek, penerangan, pembakaran semangat, penggarisan strategi, penetapan taktik, pendorongan dan sekali lagi pendorongan, – semua itu harus meluap-luap dalam dialoog yang saya adakan dengan Rakyat pada tiap-tiap tanggal 17 Agustus.

Dan – tambahan pula harus mengadakan stock-opname daripada keadaan Revolusi pula! Dan – peneropongan daripada kelanjutannya Revolusi, yaitu prognose daripada Revolusi! Mengertikah saudara-saudara, bahwa lantas saya menjadi seperti keranjingan?

Satu hal adalah paling penting dikatakan. Satu hal adalah nyata. Yaitu, bahwa jalan yang kita tempuh dalam Revolusi ini adalah jalan yang benar : Strategi dan taktik kita dalam Revolusi ini adalah tepat, – karena ia menjamin kemenangan terakhir daripada perjuangan rakyat Indonesia. Strategi dan taktik yang tepat, karena menggerakkan seluruh funds and forces yang ada pada bangsa Indonesia, tanpa perkecualian, tanpa diskriminasi, kecuali tentunya tenaga-tenaga anti-progresif dan anti-revolusioner, tenaga-tenaga kontra-revolusioner.

Nah, semua ini harus saya tumplekkan dalam dialoog ini, dialoog yang juga didengarkan oleh seluruh dunia. Saya harus memformulirkan segala fikiran kita itu, mengkristalisir segala fikiran kita itu, mengkondensir segala fikiran kita itu. Dan – harus juga mengformulir perasaaan, mengkristalisir perasaan, mengkondensir perasaan. Sebab Revolusi mengandung perasaan! Sekali lagi saya katakan, Revolusi mengandung perasaan! Revolusi mengandung emosi! Revolusi mengandung kegandrungan kepada bintang di langit! Revolusi mengandung inspirasi. “Revolusi adalah inspirasinya sejarah laksana taufan”, demikianlah pernah dikatakan oleh Trotzky. “Revolutie is Razende inspiratie van de geschiedenis”.

Ya!, saya tahu bahwa saya sering dicemooh orang yang tidak senang kepada saya bahwa saya adalah katanya “manusia-perasaan”, – gevoelsmens -, bahwa saya di dalam politik terlalu bersifat “manusia-seni”, – terlalu bersifat artis. Alangkah senangnya saya dengan cemoohan itu? Saya mengucap syukur alhamdulillah ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa saya dilahirkan dengan sifat-sifat gevoelsmens dan artis, dan saya bangga bahwa Bangsa Indonesia-pun adalah satu “bangsa-perasaan” (satu gevoelsvolk) dan “Bangsa Artis”, – satu artistenvolk.

Apa sebab? Oleh karena sifat-sifat tersebut adalah sangat penting dalam suatu Revolusi, tidak terutama sekali dalam mencetuskan Revolusi, tetapi sangat penting dalam membimbing Revolusi, dalam memberikan konsepsi-konsepsi kepada Revolusi, dalam memberi Revolusi itu satu Kumandang Sejagad, memberi Revolusi itu satu “Universal Voice”, mengisi Revolusi itu dengan “essential humanity”- pendek-kata dalam menyelesaikan Revolusi itu dan mengiramakan Revolusi itu dengan the social conscience of Man. Revolusi adalah perombakan dan pembangunan. Pembangunan meminta daya-cipta, pembangunan meminta satu jiwa arsiték! Dan salah satu unsur jiwa arsiték adalah jiwa perasaan dan jiwa artis! Malahan ada orang berkata: “The art to guide a revolution is to find inspiration in everything, – everything you see, everything you feel”. Dapatkah orang find inspiration in everything, kalau orang itu tidak sedikit gevoels-mens, tidak sedikit artis?

Revolusi Indonesia bukan hanya mengejar keunggulan materi, bukan hanya mengabdi kepada pemuasan benda saja. Dan Revolusi Umat Manusiapun bukan hanya mengejar keunggulan materi atau hanya mengabdi kepada pemuasan benda saja. Tidak, Revolusi Indonesia dan Revolusi Umat Manusia adalah lebih tinggi daripada itu! Revolusi Indonesia dicetuskan untuk menuntut pemuasan daripada Rasa Bangsa Indonesia, – Rasa Keadilan di segala lapangan, Rasa Ke-Insanan, Rasa “dignity of Man”, – dan Revolusi Umat Manusiapun mengarahkan diri kepada Rasa-Rasa itu.

Karena itulah maka tak mungkin orang-orang ber-Revolusi tanpa rasa.

Ya, ini adalah satu dialoog. Dan karena ini satu dialoog, satu pembicaraan dari hati kehati antara kamu dengan aku, antara aku dengan kamu, maka saya bertanya kepadamu: sudahkah tepat, bahwa kamu tempohari menetapkan aku menjadi Presiden Republik Indonesia seumur hidup? Saya menyampaikan terimakasih kepadamu atas penetapan itu, tetapi saya masih menanya: sudahkah tepat penetapanmu itu? Engkau yang harus menjawab, sebab aku sendiri tidak bisa menilai, apakah keputusan itu tepat. Aku sendiri tidak bisa menilai kwalitas pekerjaanku sendiri selama ini. Aku hanya dapat mengatakan, bahwa aku selalu cinta kepada Tanah-air dan Bangsa, bahwa aku telah mengabdikan jiwa-ragaku kepada Tanah-Air dan Bangsa itu berpuluh-puluh tahun lamanya, bahwa akupun bermaksud jika diizinkan oleh Tuhan untuk mengabdi kepada Tanah-Air dan Bangsa itu sampai kepada saat Tuhan memanggil aku pulang kembali ke tempat asal. Kwalitas daripada pekerjaanku selama ini, aku tidak dapat menilail sendiri. Engkau yang harus menilai. Sejarah, sejarah nanti akan menilai, sejarah nasional dan sejarah internasional.

Tetapi, bagaimanapun juga, – keputusan saudara-saudara itu menentukan, bahwa selama saya masih hidup dan dapat bekerja, kedudukan dan tugas Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain. Dan karena Revolusi masih lama berjalan terus, maka ini berarti bahwa tidak ada harapan bagi saya untuk mengurangi aktivitas sedikitpun, atau mengaso sedikitpun, meski usia bertambah tinggi tiap hari, tenaga bertambah kurang tiap tahun. Tetapi dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa saya terima keputusan saudara-saudara itu, dan semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan dan kemampuan kepadaku untuk memenuhi kepercayaan yang saudara-saudara letakkan di pundak saya yang dhaif ini.

Sekarang, marilah saya teruskan dialoog saya dengan saudara-saudara, dalam kwalitas Pemimpin Besar Revolusi, dan tidak terutama sekali dalam kwalitas Perdana Menteri atau Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.

Saya mau mengadakan “pandangan dari udara” dengan saudara-saudara mengenai Revolusi kita ini. Dan apa yang saya lihat? Saya melihat bahwa Revolusi kita sekarang ini sudah menginjak kepada satu Phase Baru. Revolusi kita sekarang sudah mencapai kemajuan demikian rupa, sehingga boleh saya katakan sudah menuju kepada sasaran. Dulu ’kan belum! Dulu sebenarnya kita ini harus terus-terusan berjuang saja mempertahankan hidup. Dulu sebenarnya kita ini masih harus terus-menerus “fight to survive”. Sudah nyata antara tahun 1945 dan 1950! Dalam periode yang dulu saya namakan periode “revolusi physik” itu kita “fight to survive”, “babak-bundas, dédél-duél”. Dalam periode 1950-1955 pun kita “fight to survive”. Ingat R.M.S., D.I./T.I.I. Dalam periode 1955-1960 yang dulu saya namakan periode investment, kita, sambil menginvest, masih saja “fight to survive”. Ingat P.R.R.I., ingat Permesta, ingat D.I./T.I.I. lagi. Dan ingat penyeléwéngan-penyeléwéngan lain dari Revolusi. Ingat hebatnya subversi dari luar negeri. Maka sebenarnya saya harus membuat pemeriodean Revolusi kita sebagai berikut:

1945-1950 ………. periode survival ke-I;

1950-1962 ………. periode survival ke-II.

Dalam akhir periode survival ke-II ini malahan kita membebani diri kita sendiri dengan perjuangan membebaskan Irian Barat, yang membawa kita “at the brink of war”, artinya yang hampir-hampir saja mencemplungkan kita ke dalam satu peperangan yang maha dahsyat.

Tetapi ini pun belum begitu membahayakan kita, sehingga kita boleh memakai perkataan “survive”. P.R.R.I. belum begitu membahayakan, Permesta belum begitu membayakan kita, D.I./T.I.I. belum begitu membahayakan kita, hampir pecahnya peperangan dengan Belanda belum begitu membahayakan kita. Semua itu bisa kita ganyang, meski tentunya dengan tidak secara menyanyi di bawah sinarnya bulan-purnama. Bahasa Inggrisnya, saudara-saudara, we could take it all, we can take it all, and if need be, we shall take it all again.

Tetapi yang paling berbahaya bagi Revolusi kita dalam periode ini ialah kompromis-kompromis yang telah kita jalankan. Saudara-saudara masih ingat dari pidato saya beberapa tahun yang lalu, bahwa dalam K.M.B. dan dalam periode sesudah K.M.B. kita menjalankan kompromis. Dan kompromis-kompromis ini yang lahir dalam K.M.B. dan sesudah K.M.B. itulah yang amat membahayakan kepada Revolusi.

Ya benar, memang ada kalanya sesuatu Revolusi Besar harus menelan suatu kompromis, – tetapi kompromis, yang kelak dalam perjuangan selanjutnya dapat dan harus dikoreksi kembali, dihapus kembali, kata orang Jawa “dilepéh” kembali. Setiap Revolusi yang Besar memang kadang-kadang mengalami keharusan kompromis yang demikian itu.

Tetapi apa sebabnya kita hampir-hampir saja tenggelam sendiri, hampir saja binasa sendiri karena kompromis-kompromis itu, sehingga kemudian saya memakai perkataan “survive”?

Bukan oleh karena kompromis yang kita adakan itu adalah kompromis politis. Bukan pula oleh karena kita mengadakan kompromis ekonomis. Bukan! Kompromis politis dan kompromi ekonomi, dengan taktik perjuangan yang jitu, dapat diatasi dan dilenyapkan dalam waktu yang pendek. Tetapi celakanya ialah, bahwa kita pada waktu itu mengadakan kompromis dalam hal yang lebih fundamentil. Kita mengadakan kompromis mental. Ha itu yang celaka saudara-saudara. Kita mengira bahwa kita dapat melaksanakan dan menyelesaikan Revolusi Indonesia dengan Hollands denken, melaksanakan dan menyelesaikan Revolusi dengan alam-berfikir cekokan Belanda. Kita memakai sistim liberal, kita memakai demokrasi parlementer untuk melancarkan Revolusi. Kita ngglenggem dan menganggut-anggutkan kitapunya kepala, kalau orang berkata bahwa partijensysteem adalah perlu untuk menjalankan demokrasi. Kita menerima multiparty system sebagai satu kesenangan. Kita malahan sampai menganggap partai-kecil-kecil, partai-gurem partai-gurem, sebagai “Mouth-pieces of democracy”, – corong-corongnya demokrasi, katanya.

Semua itu, katanya, “demi Revolusi”. Semua itu, katanya, “untuk kepentingan Revolusi”.

Revolusi apa! Ya, Revolusi apa? Revolusinya kaum yang keblinger oleh buku-bukunya Thorbecke dan Kranenburg dan van Kan dan entah siapa lagi!

Mereka ini, mereka yang saya namakan keblinger ini, mungkin sekali gagah-berani dalam mengusir secara phisik kaum kolonialis, tetapi mereka adalah penuh dengan minderwaardigheids-complexen dalam menghadapi konfrontasi mental dengan dunia Barat atau dengan dunia imperialis-kolonialis. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita hampir-hampir saja ikut keblinger. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita hampir-hampir saja kehilangan Revolusi. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita hampir-hampir saja musnah samasekali sebagai Revolusi dari muka bumi. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita disebutkan oleh seorang penulis Belanda “een revolutie op drift”, – satu revolusi kléyar-kléyor, satu revolusi tanpa arah.

Oleh kompromis mental itulah kita lantas mengalami segala macam gangguan dalam periode 1950-1962. Kompromis politik yang tadinya mungkin dapat diatasi dengan taktik yang jitu, menjadilah satu celaka, menjadilah fatal, karena berlandaskan kompromis mental. Kompromis finansiil-ekonomis menjadi satu celaka yang fatal, karena berlandaskan kompromis mental, Divide et impera Belanda dapat berjalan terus, karena kompromis politik itu berlandasan kompromis mental; penggarukan Finansiil-ekonomis kekayaan Indonesia oleh Belanda berjalan terus, karena kompromis finansiil-ekonomis itu berlandaskan kompromis mental.

Coba saudara-saudara, tahukah saudara-saudara, bahwa misalnya keuntungan bersih yang dibuat oleh Belanda dari Indonesia antara tahun 1952 da tahun 1956 adalah melebihi banyaknya keuntungan bersih dalam empat tahun sebelum perang?

Ini celakanya kompromis mental, saudara-saudara.

Tetapi Alhamdulillah: Tuhan menolong!

Lalu kita bangkit! Lalu kita menggelédékkan kitapunya “stop!” kepada segala penyeléwéngan mental itu! Lalu kita suruh buang, buang, buang jauh-jauh segala alam-fikiran liberalisme. Lalu kita dengungkan semboyan-baru yaitu Demokrasi Terpimpin. Lalu kita kocok habis-habisan multiparti sistem. Lalu kita canangkan Manifesto Politik. Lalu kita telorkan pemerasan Manipol yaitu U.S.D.E.K. Lalu kita camkan kepada rakyat perlunya “Revolusi – Sosialisme – Pemimpin Nasional yang satu”, yaitu Resopim. Lalu…. lalu…. lalu…. Alhamdulillah, …. ya lalu kita bisa mencapai Tahun Kemenangan! ….

Penemuan-kembali Revolusi kita itu adalah salah satu Rahmat Tuhan yang besar kepada kita, mungkin salah satu Rahmat Tuhan yang terbesar kepada kita. Coba bayangkan: jikalau kita umpamanya tidak menemukan kembali jiwa Revolusi kita itu, jikalau kita umpamanya masih saja hidup dalam alam kompromis mental, jikalau umpamanya kita masih saja dihinggapi oleh mentale minderwaardigheids-complexen seperti dalam periode yang lalu, – tidak berani mencipta sendiri, tidak berani mengkonsepsi sendiri, tidak berani melepéhkan kembali segala cekokan-cekokan Belanda dan cekokan Barat, – bagaimana kiranya keadaan kita sekarang ini? Barangkali kita makin lama makin jauh “op drift”, makin lama makin kléyar-kléyor, makin lama makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi ke dalam lumpurnya muara “exploitation de l’homme par l’homme” en “exploitation de l’homme par nation”. Dan sejarah akan menulis: di sana, antara benua Asia dan benua Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu Bangsa yang mula-mula mencoba untuk hidup-kembali sebagai Bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa,- “een natie van koelies, en een koelie onder de naties”.

Maha-Besarlah Tuhan yang membuat kita sadar-kembali, sebelum kasip!

Sekarang Roda Revolusi sudah berputar kembali atas dasar Hukum-Hukum klassik daripada semua Revolusi. Apa Hukum-Hukum klasik daripada Semua Revolusi itu?

Satu: Tiada Revolusi jikalau ia tidak menjalankan konfrontasi terus-menerus, – confrontation de tous les jours.

Dua: Tiada Revolusi jikalau ia tidak berupa satu disiplin yang hidup, disiplin di bawah satu pimpinan.

Revolusi Indonesia sekarang sudah menjalankan dua hal itu: Konfrontasi terus-menerus, disiplin di bawah satu pimpinan. Tetapi lebih pula daripada itu! Revolusi Indonesia ya menjalankan Konfrontasi terus-menerus, ya menjalankan disiplin di bawah satu pimpinan nasional, ya mempunyai ideologi nasional-progresif yang kuat dan gamblang, ya berpegang teguh kepada kepribadian nasional. Ia minum dari sumber, sumber Indonesia sendiri. Ia minum dari sumber sendiri, tidak minum air import dari luaran! Justru inilah yang membuat Revolusi Indonesia itu satu Revolusi yang unik, satu Revolusi yang dikagumi oleh seluruh bangsa yang progresif, satu Revolusi yang dipandang tinggi oleh semua anggota daripada New Emerging Forces. Bahkan di kalangan Old Established Forces-pun banyak orang yang mulai “memandang” kepada Revolusi Indonesia itu, dan mengakui Revolusi Indonesia itu sebagai satu Kenyataan yang amat kuat, satu “living reality yang tak dapat diabaikan”.

Saudara-saudara!

Tadi saya katakan, bahwa Revolusi Indonesia kini sudah menginjak pada suatu Phase Baru, dan bahwa ia sudah mulai “menuju kepada sasarannya”.

Tahun yang lalu, dalam pidato “Tahun Kemenangan”, sudah saya singgung bahwa “Revolusi Indonesia sudah menaik kepada tingkat “self-propelling growth”: kita maju atas dasar kemajuan, kita mekar atas dasar kemekaran”.

Ya, Revolusi kita sekarang ini tidak lagi dalam keadaan defensif, yaitu tidak lagi hanya repot mempertahankan diri saja terhadap kepada serangannya Kontra-revolusi, serangannya subversi asing, atau serangannya fihak liberal. Revolusi kita sekarang ini sudah tidak lagi hanya “fight to survive”. Revolusi kita sekarang ini sudah berjuang untuk mencapai kemajuan-kemajuan secara positif, kemajuan-kemajuan yang bisa menjadi modal dan batu loncatan untuk kemajuan-kemajuan bagi hari yang berikut. Inilah arti “selfpropelling growth”. Inilah arti “selfgenerating growth”. Inilah arti maju atas dasar kemajuan. Inilah arti mekar atas dasar kemekaran.

Landasan-landasan Revolusi, – jaitu a. konfrontasi terus-menerus, b. disiplin di bawah satu pimpinan, c. ideologi nasional-progresif, d. kepribadian nasional, – landasan-landasan itu tidak perlu kita perjuangkan lagi. Landasan-landasan itu sudah berada mendukung tubuh kita, landasan-landasan itu sudah menjadi milik perjuangan kita. Di atas landasan-landasan itu kita berjalan, di atas landasan-landasan itu kita bisa berderap ke muka secara positif menuju kepada sasaran Revolusi yang sesungguhnya: yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Tidak lagi seperti dulu, waktu kita tidak berderap maju, melainkan hari-hari kita cuma mengobat-abitkan saja pedang ke sekeliling kita saja secara defensif, untuk mempertahankan diri kita terhadap serangan musuh. Tidak lagi seperti dulu, tatkala kitapunya kegiatan sehari-hari melulu hanyalah “fight a life-and-death struggle”, – “to survive”!

To survive! Physically and mentally! To survive! Agar tetap hidup! Secara badaniah dan mental!

Sekarang “struggle to survive” itu sudah lampau. Sekarang kita sudah masuk phase baru. Revolusi kita sudah masuk phase baru. Kita masih dalam Revolusi itu, hanya saja Revolusi-nya sudah berada dalam phase baru. Kalau Revolusi sudah keluar dari periode survival, itu tidak berarti bahwa kita keluar dari Revolusi. Tidak! Kita keluar dari sesuatu periode Revolusi, tetapi kita tidak keluar dari Revolusi. Sebagaimana tertulis di atas pintu Museum Mexico City bahwa “History is a continuity” (sejarah adalah satu kelanjutan), maka kita juga berkata bahwa “Revolution is a continuity”, – Revolusi adalah satu kelanjutan.

Orang tidak bisa meninggalkan Sejarah; Orang juga tidak bisa meninggalkan Revolusi. You cannot leave History; You also cannot leave a Revolution!

Nah, saudara-saudara, engkau tetap dalam Revolusi! Merasakah engkau, bahwa engkau tetap dalam Revolusi?

Misalnya, unsur pertama dari Revolusi ialah Konfrontasi terus-menerus, kataku. Merasakah engkau Konfrontasi terus-menerus itu? Dan ikut sertakah engkau dalam konfrontasi terus-menerus itu?

Revolusi adalah satu rentetan-panjang dari satu konfrontasi ke lain konfrontasi. Konfrontasi yang satu selesai, konfrontasi yang lain muncul hendak menerkam. Satu selesai, satu lagi muncul! Malahan kadang-kadang konfrontasi-konfrontasi itu datangnya secara simultan, secara berbarengan, secara “mengkeroyok”, – dari muka, dari belakang, dari kiri, dari kanan, dari bawah, dari atas. Itulah hamuk-tabula-rasanya konfrontasi dalam sesuatu Revolusi! Aku menanya, sudahkah engkau merasakan hal itu, dan ikut serta menghadapi semua konfrontasi itu?

Barangkali lantas kau menanya: Konfrontasi-konfrontasi apa?

Coba saya perincikan sedikit:

Konfrontasi terhadap segala rintangan-rintangan yang menghalang-halangi jalannya Revolusi, sampai kepada konfrontsi terhadap kepada bom dan meriam dan dinamit.

Konfrontasi terhadap kontra-revolusi.

Konfrontasi terhadap kapada subversi, baik dari dalam, maupun dari luar.

Konfrontasi terhadap kepada apa yang dinamakan “vested interests”, yaitu golongan-golongan yang tidak menghendaki perubahan-perubahan, karena merasa terancam perutnja yang gendut.

Konfrontasi dalam menyusun konsepsi-konsepsi baru, yaitu merubah konservatisme mental.

Konfrontasi dalam memperjuangkan konsepsi-konsepsi baru itu dalam masyarakat sendiri, dan dalam dunia internasional.    .......selanjutnya>>>

 

Category: Di Bawah Bendera Revolusi - II | Views: 445 | Added by: nasionalisme[dot]id | Tags: Di Bawah Bendera Revolusi II | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar