Home » 2016 » August » 7 » Esensi Agama Allah Itu Adalah Kemerdekaan
8:53 AM
Esensi Agama Allah Itu Adalah Kemerdekaan
Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal hanya kepada-Nyalah segala apa yang di langit dan di bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.  (QS.3:83)


Kemerdekaan tiap-tiap sesuatu adalah dengan menjadi dirinya sendiri. Menjadi diri sendiri adalah berarti hidup menurut fitrah penciptaannya. Dan hidup menurut fitrah penciptaan itu adalah bentuk nyata dari berserah diri kepada Allah itu. Dengan cara seperti itulah setiap ciptaan mencapai kemerdekaannya. Mencapai kesejatian dan kemuliaannya. Matahari mencapai kesejatian dan kemuliaannya dengan menjadi sebagaimana harusnya matahari. Bersinar di sepanjang waktu, beredar pada garis edar yang telah ditetapkan dan menghabiskan energi yang dimilikinya untuk menjadi berkah bagi kehidupan, dengan cara seperti itulah matahari menjadi merdeka. Air mencapai kesejatian dan kemuliaannya dengan menjadi sebagaimana harusnya air. Mengalir segala penjuru bumi, menjalani siklusnya turun naik antara langit dan bumi dan membawa nutrisi bagi keberlangsungan mahluk di bumi, dengan cara itulah air menjadi merdeka. Pohon mencapai kesejatian dan kemuliaannya dengan menjadi sebagaimana harusnya pohon. Tumbuh membesar menjadi atap bumi, memproduksi oksigen untuk menjaga kehidupan mahluk di bumi dan memberi bunga, buah dan dirinya untuk menjadi manfaat bagi setiap mahluk di bumi, dengan cara itulah pohon menjadi merdeka. Dengan hidup selaras dengan fitrah penciptaan diri mereka masing-masing itulah setiap mahluk berserah diri kepada Allah Tuhan Langit dan Bumi. Dengan cara demikian itulah tiap-tiap mahluk bertasbih memuji Ilahi Rabbi. Maha Benarlah Allah atas firman-Nya yang menerangkan kepada kita bahwa: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”  (QS. Al-Isra [17]:44)

Diantara seluruh mahluk yang ada di bumi ini, manusia adalah satu-satunya mahluk yang mempunyai kebebasan untuk memilih. Memilih untuk bertasbih atau tidak bertasbih. Memilih untuk hidup menurut ketetapan Ilahi atau memilih menghianati. Memilih untuk hidup berserah diri atau hidup mengingkari. Tapi apapun pilihan manusia, sungguh sebenarnya tidaklah sedikitpun mengurangi kuasa dan kebesaran Allah. Kuasanya mutlak meliputi seluruh langit dan bumi. Tiada sanggup manusia untuk lari dari keharusnya untuk berserah diri. Satu-satunya pilihan bagi manusia adalah berserah diri dengan suka atau berserah diri dengan terpaksa. Karena tidak ada satupun manusia yang bisa lolos dari hukum dan penghakiman-Nya. Satu yang harus kita tahu dengan pasti bahwa sungguh tiada sedikitpun kepentingan Allah dari adanya keharusan berserah diri bagi manusia itu. Keharusan manusia untuk mentaati dan berserah diri kepada ketentuan-Nya adalah benar-benar untuk kepentingan manusia itu sendiri. Setiap pilihan yang manusia ambil secara pasti akan ada konsekwensi yang tidak bisa dihindari. Di sinilah manusia harus berpikir dengan teliti dan bijaksana dalam menganalisa. Yang jika kita membaca realita yang ada, sungguh kita akan benar-benar tahu bahwa tidak ada pilihan yang kita punya selain dari mentaati ketetapan-ketetapan-Nya. Bukankah telah begitu banyak kisah yang kita punya, yang darinya kita tahu bagaimana nasib dari orang-orang yang durhaka? Maka adakah agama lain selain agama Allah yang harus kita terima? Adakah jalan lain yang harus kita cari selain dari berserah diri? Maka jika memang kita semua mencari keselamatan, mencari kedamaian dan mencari kesejahteraan satu-satunya cara adalah Al-Islam. Agama Kemerdekaan.

Maka marilah kita sama-sama membaca. Agar darinya kita sama-sama mengerti dimanakah keselamatan, keadamaian dan kesejahteraan itu berada. Dan agar menjadi yakinlah kemudian kita bahwa semua itu ada dalam perserahan diri setiap mahluk-Nya. Semua itu ada dan menjadi nyata ketika setiap mahluk mengambil tempatnya masing-masing dalam sepenuh taat. Bayangkan apa jadinya jika matahari berhenti bersinar, bayangkan jika air berhenti mengalir, bayangkan jika bumi berhenti berputar, bayangkan jika pohon berhenti berbuah, bayangkan jika burung berhenti bekicau dan bayangkan jika manusia menjadi durhaka. Tentu hancurlah langit dan bumi ini. Kita tidaklah perlu sangsi dengan ketaatan setiap mahluk di luar manusia. Satu-satu yang perlu kita perhatikan adalah diri kita sendiri. Satu-satunya yang harus dipertanyakan adalah sudah seberapa baikkah manusia berserah diri? Di sinilah kita harus benar-benar mampu untuk saling menghormati hak setiap mahluk dan setiap diri manusia. Setiap manusia harus diberi ruang untuk hidup merdeka menjadi dirinya sendiri. Merdeka tentu tidaklah dalam arti bebas melakukan apapun sesuka hati. Tapi merdeka itu adalah hidup menurut fitah diri. Tidak boleh ada seorangpun yang dilanggar hak-haknya. Setiap orang harus mendapat keadilan yang setara sebagai manusia. Itulah ajaran kemerdekaan itu. Itulah ajaran yang menjadi dasar lahirnya revolusi Indonesia yang berdiri tegak di atas peryataan: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.  (QS. Al-Maidah [5]:32)

Mari kita perhatikan kalimat berikut ini: “bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” Itu adalah hukum yang Allah tetapkan sejak zaman Nabi Adam as. Dari hukum itu kita tahu bahwa setiap manusia mempunyai hak yang sama. Tanpa terkecuali. Setiap manusia harus diperlakukan secara adil dan tidak boleh ada satupun manusia yang dizalimi. Dari itu pula kita menjadi paham bahwa seluruh manusia ini sesunguhnya adalah satu kesatuan umat. Satu kesatuan umat yang setiap orang mempunyai hak yang setara untuk diperlakukan dengan adil. Jadi dari itu semua, telah cukup jenihkah hati kita untuk dapat melihat, kehidupan seperti apakah yang Tuhan Mau? Dunia seperti apakah yang Allah inginkan? Mari kita lihat kutipan dari pidato Bung Karno di hadapan duta bangsa-bangsa di Majelis PBB tahun 1960 berikut ini:

“Kami berusaha membangun suatu dunia yang sehat dan aman. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia di mana kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya yang penuh.”

Inilah cita-citanya bangsa Indonesia. Inilah alasan lahirnya bangsa Indonesia dan berdirinya negara Indonesia. Hanya saja banyak dari kita yang sudah jauh dalam abai dan lupa akan hal itu. Tidakah kita melihat itu sebagai sebauh cita-cita yang suci? Tidakkah kita melihat itu sebagai sesuatu yang Allah kehendaki? Dan tidakkah kita melihat itu sebagai hal yang sangat islami? Janganlah kita tegar hati dan mengingkari itu sebagai sebuah cita-cita dari pada Al-Islam. Bukankah Islam itu berarti aman dan selamat? Bukankah Islam itu berarti rukun dan damai? Bukankah Islam itu berarti adil, makmur dan sejahtera? Ya, itulah Al-Islam! Ya, dari karakternyalah kita mengenal. Dari sifatnyalah kita menjadi tahu. Dan memang sudah semestinyalah kita mengenal tiap-tiap sesuatu dari karakter dan sifatnya.

Bayangkan jika seandainya kepada anda diberikan sebutir jeruk. Jeruk yang diberikan kepada anda itu sebenarnya hanyalah replika jeruk yang terbuat dari streofoam yang dibentuk dan diwarnai sedemikian rupa hingga benar-benar persis seperti jeruk asli. Darimanakah kemudian anda akan tahu apakah itu jerus asli atau bukan? Tentu saja dari karakter dan sifatnyalah anda akan tahu. Anda tidak akan pernah tertipu jika anda mengenal dengan baik karakter dan sifat jeruk itu. Hanya orang-orang bodohlah yang akan tertipu. Satu permisalan lagi akan saya berikan agar kita mengerti dan paham. Bayangkan seandainya saya punya sebuah tongkat sakti. Dan dengan tongkat itu saya dapat memindahkan ruh seseorang ke tubuh orang lain. Bayangkan jika kemudian saya memindahkan ruhnya si Udin ke dalam badannya si Andi dan memindahkan ruhnya si Andi ke badannya si Udin, yang mana dua orang ini adalah orang yang sudah kita kenal dengan baik, akan dapat tahukah kita mana yang sebenarnya si Udin dan mana yang sebenarnya si Andi? Tentu saja kita dapat mengenali siapa dan siapa dari sifat dan karakternya. Setiap kita mungkin telah ratusan kali menerima telepon dari seseorang. Saat kita berkomunikasi dengan seseorang melalui telepon itu, tidaklah sedikitpun kita melihat wajah dan rupanya. Tapi meskipun begitu kita tetaplah dapat yakin dan tahu kepada siapakah kita sedang berbicara. Bukankah seorang yang buta matanya pun dapat mengenali sehabat dan kerabatnya?

Ya, dari sifat dan karakternyalah kita mengenal. Kita menganal Allah dari sifat dan karakter-Nya. Kita mengenal para nabi dari sifat dan karakternya. Kita mengenal para malaikat dari sifat dan karakternya. Kita menganal kebenaran dari sifat dan karakternya. Kita mengenal tiap-tiap benda dari sifat dan karakternya. Kita juga akan mengenal Islam dari sifat dan karakternya. Mereka yang mengenal Islam tentulah tidak akan tertipu ketika sekelompok orang berdiri membawa bendera dan segala artibut Islam yang kemudian dengan penuh arogan berkata: kami datang membawa dan untuk menegakkan Islam. Kita tentu tidak akan begitu saja mengakuinya sebelum kita meneliti sifat dan karakternya. Karena mereka yang membawa dan menegaku Islam akanlah kita melihat mereka membawa jalan yang menyelamatkan. Akanlah kita melihat mereka menegakakan perdamaian dan persaudaraan. Akanlah kita melihat mereka memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umat. Akanlah kita melihat mereka menyeru kepada ketaat dan ketakwaan kepada Tuhan semesta alam.

Sebagian kita mungkin tahu bahwa sampai hari ini bangsa Yahudi itu masihlah menunggu Mesias sang juru selamat yang diramalkan kedatanganya oleh pada nabi. Ribuan tahun mereka menunggu dan masih saja menunggu sampai dengan sekarang ini. Lantaran sebab apakah kiranya ketika Nabi Isa As datang kepada mereka mereka menolak dan berusaha membunuhnya? Padahal Nabi Isa As adalah Mesias yang dijanjikan itu. Lantaran sebab apakah ketika Nabi Muhammad saw. datang di tengah-tengah mereka mereka mengusir dan mengingkarinya? Padahal Nabi Muhammad saw. itu adalah sang juru selamat yang telah dinubuatkan dalam kitab-kitab mereka? Semua itu terjadi adalah lantaran sebab mereka telah lupa dengan ajaran-ajaran kitab suci mereka. Lantaran mereka telah menutup hati dari ajaran-ajaran Ilahi. Lantaran mereka telah lupa dengan sifat dan karakter para nabi. Dan bahkan jika mungkin Allah kirimkan sekali lagi seorang nabi kepada mereka, tidaklah juga mereka akan mengenalinya.

Semua yang telah dijelaskan di atas dimaksudkan agar kita benar-benar mengenali kebenaran dengan hati. Sehingga kita tahu mana yang harus kita bela dan kita ikuti dan mana yang harus kita tolak dan kita ingkari. Dan kembali kepada esensi ajaran Allah yang menjadi tema kita, bahwa sekali lagi kita harus sadari bahwa kemerdekaan sempurna itu adalah ketika setiap mahluk bersedia berserah diri. Ketika setiap kita menerima hidup sesuai fitrah penciptan diri. Karenanya haruslah kita membangun sebuah tatanan hidup yang benar-benar mampu memastikan setiap manusia diperlakukan secara adil dan tidak ada satupun yang dibiarkan terzalimi. Dan hendaklah kita tahu bahwa untuk maksud itulah bangsa ini lahir dan negara ini berdiri. Kita terlahir sebagai bangsa yang membawa revolusi yang suci dari Ilahi Rabbi. Kita hendak membangun sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak ada satupun orang yang tidak dihormati hak-haknya di negeri ini. Kita hendak membangun kehidupan yang setiap bangsa berhak untuk merdeka menjalankan kehidupan bangsanya tanpa ekploitasi. Kita hendak menghapuskan segala bentuk penjajahan dan segala bentuk ekploitasi manusia atas manusia bangsa atas bangsa di atas bumi ini.

Itulah revolusi kita yang tidak boleh kita lupa dan sudah semestinyalah kita bela. Janganlah lagi kita merasa bahwa suku, ras, golongan ataupun agama kita yang lebih tinggi. Hendaklah kita menerima untuk menjadi setara di dalam perikemanusiaan dan perikeadilan. Hendaklah kita menjunjung tinggi kebersamaan dan persaudaraan. Sebab tiadalah Tuhanpun mengukur kita dari segala atribut yang kita punya. Satu-satunya yang menjadi kemuliaan seorang manusia adalah ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Siapapun yang membawa kebenaran dan memelihara kehidupan sesama sungguh dialah orang yang tinggi derajatnya di mata Tuhan. Janganlah kita takut untuk bersaudara kepada mereka yang tidak seagama. Karena Nabi Muhammad saw. yang menjadi tauladan kitapun merangkul mereka yang tidak seagama sebagai satu kesatuan umat yang bersaudara. Tidaklah boleh sekalipun kita lupa apa yang hendak di bangun Nabi Muhammad saw. di Madinah itu. Dan telitilah sekali lagi dan lagi dengan kebijaksanaan hati, bahwa negeri ini telah dipilih untuk menegakkan kembali Piagam Madinah Yang telah lama tertunda penggenapannya itu.

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.   (QS. Al-Hajj [22]:67)

Category: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Views: 151 | Added by: PuteraGaruda | Tags: Islam dan Nasionalisme Indonesia | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar